• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Dalam masyarakat, ada banyak standar kesuksesan yang kita pasang dalam perjalanan hidup ini. Ada yang berlari untuk mewujudkannya sendiri, ada juga yang menggantungkannya di pundak anak bernama harapan jadi 'orang'. Apakah jika harapan itu tidak terwujud, anak itu bukanlah 'orang'?

Meskipun sinonim kata orang adalah manusia, sayangnya definisi jadi 'orang' tidak mengacu pada perihal tentang manusia itu, ke-manusiaan-an, ataupun manusiawi. Kata 'jadi orang' yang sering dilontarkan mengarah pada hal materiel yang terlihat dan dapat diukur. Iya, begitulah cara kompleks manusia mempertahankan diri. Jika dibandingkan dengan makhluk hidup lain, kita semua memang memiliki insting ini. Menjadikan ini sebagai landasan kita bekerja mengumpulkan uang, untuk memenuhi kebutuhan agar bisa tetap hidup, sampai batas itu maka memang sesuai dengan naluriah manusia. Makhluk hidup lain juga berburu dan mempertahankan diri. Lalu ada adu kekuatan, perebutan kekuasaan, claim kepemilikan, mirip seperti yang terjadi di hutan rimba. Bedanya, selain kemampuan diatas kita juga diberi banyak kelebihan lain. Ada akal pikiran, ada hati nurani. Sifat-sifat Tuhan juga ditiupkan agar manusia mampu menjadi pemimpin di muka bumi.

Photo by Leah Kelley in Pexels

Maka, hanya mengutamakan pertahanan diri dengan upaya mengumpulkan uang, dan mengglorifikasi pencapaiannya sebagai kesuksesan, merupakan hal yang keliru. Kita hanya butuh uang untuk hidup, tidak hidup untuk uang.


Perjalanan Kita

Sebenarnya, dengan anugerah yang diberikan pada manusia, kita diciptakan untuk selalu mendekat pada kebenaran dan kebaikan. Hebatnya, akal pikiran kita masing-masing memiliki definisi mana yang benar dan baik itu. Tapi, akan terus ada hati nurani yang tahu. inilah yang kemudian menuntun kita pada kebahagiaan.

Sederhananya seperti itu. Nyatanya, hidup manusia jauh dari kata sederhana.

Selain mempertahankan diri, kita juga didesak dengan keinginan berkuasa, adu kekuatan, serta arahan hati nurani untuk mencapai kebahagiaan, semua berebut tempat mana yang paling besar kita beri porsinya. Inilah buah kebijaksanaan, hal yang hanya dimiliki manusia, jika mampu memberi porsi yang tepat pada masing-masing aspek. Jika hanya terbiasa mengisi aspek, kita akan tumbuh mengisi kebutuhan aspek itu yang semakin besar pula porsinya. Sudah lebih dari cukup untuk hidup, ingin lebih, ditumpuk terus, tidak segan merusak, tumpuk lagi, tambah kuasa lagi, begitu seterusnya semakin jauh dari kenyang. Demikian kita membangun hidup masing-masing. 

Perjalanan kita sejak lahir jelas tidaklah sama. Kita yang terlahir dengan suatu garis pembeda digabung dengan kita yang dibentuk oleh sekitar, bisa kegembiaraan juga kepedihan, menyatu dalam memori kenangan. Semua itulah yang menggiring kita pada apa yang kita putuskan, apa yang kita ucapkan, juga apa yang kita lakukan. Kecenderungan dan kebiasaan kita.  

Ada yang lahir dan dibesarkan dengan nyaman, ada yang dari lahir saja sudah kepayahan. Ada yang di usia belia sudah tidak perlu mempertahankan insting melindungi diri, karena sudah serba cukup apapun yang diinginkan, ada yang hingga tua tetap berjuang menyambung hidup hari demi hari.

Di zaman sekarang, banyak yang semakin kaya dengan memanfaatkan digitalisasi misalkan, ada juga yang masih berkutat mencari apa yang menjadi bakat diri. Ada yang tidak peduli dengan unsur lain, asal bisa terus memberi porsi pertahanan diri dan kekuasaan, ada juga yang mesti terseok karena punya pembagian porsi. Dalam perjalanan yang mungkin terlihat di garis awal yang sama, pilihan dan lingkungan juga mempengaruhi. Mungkin saja masih muda, sudah kaya bergelimang harta, kerjanya beberapa jam aja, naik daun karena ada kejadian istimewa, ambil kesempatan, lalu jadilah kata orang kesuksesan. Tapi ada juga yang lebih tua, masih mengumpulkkan biaya, kerjanya dari pagi hingga senja, rumah mobil belum ada yang punya, katanya masih belum sukses.

Tepat tidak sih kalau seperti itu?

Photo by Daisy Anderson in Pexels

Sukses itu definisi bahasanya berhasil. Lalu kenapa kedua tokoh tadi berbeda hasilnya? Aspek mana yang membuat satu sukses satu tidak? Apakah hasilnya harus selalu memiliki kecukupan untuk mempertahankan diri sedangkan ada banyak aspek lain yang dilimpahkan pada kita sebagai manusia?


Apa Sukses Untukmu

Maksudnya kita semua bukan hanya berasal dari start point yang berbeda, tapi juga  punya jalan yang berbeda, punya goal juga yang berbeda, jadi jangan sampai menyamaratakan dan membuat definisi umum tentang keberhasilan. Kita punya alur, jalan hidup sendiri-sendiri, kecepatan sendiri-sendiri, dan tujuan yang gak sama. 

Tidak perlu terlalu fokus ke angka, hidup kita lebih daripada itu saja. Tidak bisa juga memaksakan hanya satu aspek yang ditekuni, padahal banyaknya aspeklah yang mengistimewakan kita sebagai manusia. 

Bisa jadi ada yang tidak/ sedikit menghasilkan uang, tapi tetap bisa memberi nilai menebar manfaat, tetap memegang nilai keyakinan. Mungkin tidak terlihat sukses, tapi sudah bisa hidup tidak menyusahkan, malah menyenangkan bagi banyak orang. Atau memang hari ini berhasil melakukan yang diinginkan, besok tidak terwujud, hari ini sukses menahan diri, kemarin sudah kelepasan.

Bahkan melakukan kebiasaan lebih baik dari hari ke hari juga sudah keberhasilan. Melawan kantuk untuk bangun lebih pagi melakukan hal baik juga sudah berhasil. Tidak mengeluh dengan apa yang disajikan dan memilih bersyukur juga keberhasilan. Memilih untuk diam padahal bisa saja berbicara tapi tahu bahwa lebih banyak mudharat-nya, juga berhasil. Banyak keberhasilan yang sebenarnya bisa kita lakukan dan mungkin sudah kita lakukan tapi kurang kita perhatikan. Selama mengarah pada esensi menuju kebenaran dan kebaikan, rasanya bisa kita anggap keberhasilan.


Akhirnya semua kembali pada kesadaran titik mula kita, kemampuan, dan batas cukupnya. Hingga berujung yang terpenting pada apa yang kita lakukan pada waktu yang diberikan dan bagaimana kita mempertanggung jawabkannya. Untuk kembali ke hakikat kita manusia, tanpa berlomba-lomba tentang siapa yang paling banyak mencapai apa. 

#HidupCukup


Salam, Nasha.



Pesona Solo, bukan hanya perkara nyamannya sebagai tempat tinggal seperti yang aku ungkapkan pada tulisan ini namun juga untuk pilihan tempat wisata yang bervariasi. Di Kota Solo sendiri ada banyak pilihan tempat wisata yang bisa kita kunjungi. Untuk destinasi alam terdekat, kita bisa berkendara sekitar 1-2 jam untuk sampai di lokasi, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Tawangmangu ini berada di lereng Gunung Lawu, jadi udaranya jauh lebih sejuk daripada Solo dan cocok untuk ganti suasana kota ke pedesaan. Bahkan saking dinginnya, tidak sulit untuk menjumpai kabut di Tawangmangu!

Untuk pilihan wisata, sebenarnya ada belasan destinasi yang bisa kita tuju, namun karena preferensi dan karena aku berkunjung bersama anak-anak, pilihan wisata jadi lebih terbatas. Aku mencoret destinasi berupa candi, aku juga gak memilih tempat wisata yang sulit dijangkau misalkan air terjun.

Nah, berikut rekomendasi untuk liburan keluarga yang aku rangkum dalam perjalanan satu hari tanpa bermalam.


Lawu Park



Ini tempat wisata yang cukup lengkap menurutku, karena bisa masuk areanya aja atau bisa coba berbagai wahana yang disediakan. Masuk kesini langsung bayar tiket masuk yang dihitung per orang, dengan anak dibawah lima tahun gak dihitung. Bayarnya Rp20.000 saat weekday, dan Rp25.0000 saat weekend. Dengan tiket itu kita bisa trekking, sambil lihat hewan-hewan peternakan dan berbagai jenis bunga yang ada di sana, lalu masuk ke area snow world. Area terbuka yang didesain seperti area bersalju, dengan salju buatan yang turun sekitar 15-30 menit sekali. Lumayan bikin bocah kegirangan.  

Kegiatan lainnya juga bisa dinikmati dengan biaya tambahan antara lain:
 
- Foto dengan satwa

Ada ular juga burung hantu. Boleh sambil menggendong, memegang, dengan diawasi oleh petugasnya. Tambahan bayar Rp10.000

- Petting

Memberi makan satwa, bisa kelinci juga domba. Bayar Rp10.000 untuk makanannya berupa potongan wortel dan masuk ke arenanya.


- Flying Fox

Ini agak mengejutkan buatku karena balita ternyata boleh aja ikut. Bayarnya Rp30.000, dengan keamanan standar dan alur yang lumayan panjang, melintasi area Lawu Park itu sendiri, jadi lumayan tinggi. Worth to try sih ini. 


- Berkuda

Ini opsi yang bisa dinikmati orang tuanya juga, naik ke punggung kuda. Rp50.000 bayar per satu ekor kuda, bisa berdua buat orang tua dan anak. Gak bisa mengendarai kuda juga gapapa kok, tenang aja karena kudanya cuma jalan didampingi petugas juga. Perjalanannya gak begitu jauh, mungkin sekitar 15-30 menit pulang pergi. Naik ke arah bukit untuk melihat perkebunan disekitar area. Buat sekali sih ok, tapi kalau berulang mungkin aku nggak sih


- Mobil offroad

Akhirnya nyobain ini setelah maju mundur perlu gak ya, pertimbangan utama jelas dua anak balita ini. Mau ngapain diajakin off road. Tapi sebagai orang dewasa kita juga sekali-sekali perlu menantang diri buat coba yang belum pernah dilakukan, kan? Memberanikan diri buat nyoba, apalagi pas rada ramean. Kita senang, anaknya juga bisa enjoy ternyata. Bayarnya Rp350.000 dengan perjalanan yang lumayan jauh sampai ke Magetan, Jawa Timur sana. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati sejuknya udara pegunungan dan pemandangan yang memanjakan mata. Sampa di area 'perhutanannya' kita gak perlu ragu juga, karena ini area yang emang disedikan untuk off road dengn pengemudi yang udah terlatih juga. Lumayan sensasinya buat pemula. Sama kaya berkuda, buatku ini lumayan nambah pengalaman dan seru-seruan, tapi gak perlu berulang juga.


Selain wahana diatas, kayanya ada wahana 3D Show dan Human Claw Machine, ituloh permainan capit manusia dimana anak bisa digantung dengan tali lalu bisa mengambil berbagai jajanan yang ada dibawahnya. 

Gak cuma wahana dan area, Lawu Park sekarang juga ada penginapannya. Desainnya lumayan menarik, harganya juga terjangkau, mulai dari Rp300.000 udah sekalian dapat tiket masuk area Lawu Park, bisa langsung meluncur aja ke akun instagramnya @the_lawupark

Mengunjungi area Lawu Park ini bisa menghabiskan beberapa jam sendiri, bisa dari pagi sampai siang. Makan siang juga bisa disini dengan adanya tempat-tempat makan yang beragam. Nah, yang paling penting saat berkunjung ke sini adalah pakai jaket! Karena dingin banget, apalagi di area off road Magetan situ. Kunjungan sebelumnya aku gak merasa dingin, jadi aku putuskan pakai baju biasa aja. Eh ternyata cuacanya emang lagi dingin, cukup berangin, jadi kedinginan pas sampai di puncaknya off road itu, deh.

Bukan hanya Lawu Pak, ada juga beberapa destinasi lain yang serupa, seperti Tawangmangu Wonder Park dan juga Bukit Sekipan. Keduanya aku belum pernah masuki, tapi dari informasi yang aku dapat, Wonder Park juga bisa jadi spot foto, bisa berkuda juga, tapi ada sedikit pilihan wahana daripada Lawu Park. Kalau Bukit Sekipan, kayanya lebih dengan adanya wahana air, tapi aku pribadi kurang suka dengan miniatur ikon dunia makanya aku skip dulu. Gak tau kedepannya mungkin mau coba kapan-kapan.

Selesai dari tempat pertama, bisa salah satu dari ketiga pilihan tempat yang hampir serupa itu, kita bisa lanjut ke tempat kedua.

Rumah Atsiri

Kalau tempat ini gak ada yang serupa, maka destinasi kedua harus disini, Rumah Atsiri, hasil restorasi dari pabrik citronella Indonesia Bulgaria.  Untuk masuk ke areanya, kita perlu bayar Rp50.000 untuk satu orang, dimana tiket tersebut bisa digunakan untuk masuk lagi ke zona aktifitas di dalamnya, makan, ataupun berbelanja. Aku pernah cobain makan di sini sekali, lumayan sih tapi aku pribadi gak merasa perlu mengulang. Kalau untuk belanja barangnya, jelas rekomendasi adalah produk atsirinya, ada macam-macam, mulai dari essential oil, body wash, hand wash, body lotion, soap bar, hand sanitizer, dan masih banyak lagi. Serta ada juga berbagai olahan cemilan, pernak-pernik, pakaian, juga tanaman.

Selain menikmati keindahan taman bunganya, ada berbagai kegiatan juga yang bisa kita lakukan, bisa masuk ke museum atsiri untuk melihat proses pembuatan dan sejarah minyak atsiri, atau bisa juga ikut
workshop yang diadakan. Bisa pembuatan soap bar, aromatic slime, hand soap, parfume, cleansing oil, dll dengan jadwal yang disesuaikan. Mungkin info kelas lokakarya ini bisa dilihat di situs resminya rumahatsiri.com . Terakhir kita bisa belanja di toko aromatiknya, ada cemilan, pernak-pernik, dan tentunya segala olahan minyak atsiri. Lengkap deh!

Gak mau masuk kemana-mana dan mau menikmati alam di areanya aja juga bisa. Karena ada taman yang cukup luas buat kita jalan-jalan sekedar ganti suasana sambil mensyukuri keindahan. Bukan hanya buat berwisata, Rumah Atsiri juga punya penginapan yang diberi nama Atsiri Glamping "Aromatic Wellness" yang difasilitasi dengan berbagai perlengkapan untuk aktifitas refreshing. Seperti peralatan yoga, pemandu buat belajar segala hal aromatik, makan seharian, juga yoga dan pijat.  Menarik banget sih ini.



Itinerary

Dari Kota Solo, kita bisa berangkat dari pagi mungkin sekitar jam 7. Sarapan sekalian di jalan bisa di Sarea olo nya aja, Soto Seger Boyolali boleh tuh. Jalan deh ke Tawangmangu, tergantung kecepatan dan padatnya jalanan, terus ke atas sampai di Lawu Park, sekitar jam 9. Masuk, bayar tiket, dan nikmati wahana sesuai yang diinginkan. Bisa makan di sana, atau cemilin pisang molennya, enak! Rp15.000 dapat 1 kotak isi 10 molen. Adonannya enak, manisnya pas, ada banyak variasi isinya, dimakan anget-anget pas cuaca dingin, pas! 

Di sini juga ada mushola kalau mau zuhuran dulu, terus lanjut makan siang bisa di area Lawu Park juga atau di luar. Makanan yang banyak ditawarkan sekitar Tawangmangu ini adalah sate. Ada sate daging sapi, kambing, ayam, bahkan kelinci dan landak. Udah kenyang? Yuk, lanjut ke destinasi selanjutnya, Taman Atsiri, sampai sana sekitar jam 2 atau jam 3 siang, cukup berkeliling sampai tutupnya jam 5 sore. Di sini juga disediakan mushola. Selesai berkeliling, bisa belanja berbagai produknya deh buat dibawa pulang. 

Sehari ke Tawangmangu gini, dijamin bisa menghilangkan penat dan menyegarkan pikiran!


Salam, Nasha

Dalam artikel sebelumnya yang aku tulis di Kumparan ini, flexing dibahas dari segi bahasa dan juga kesehatan jiwa secara umum. Namun pada tulisan ini, kita bisa menikmati sedikit cerita dan merefleksikan diri dengan fenomena flexing yang terjadi di tengah-tengah kita.

Photo by RODNAE Productions in Pexels

Singkatnya, penggunaan kata flexing mengacu pada kata pamer dalam bahasa Indonesia, serta show off setelah ditranslasi ke bahasa Inggris. Digunakan sejak dulu untuk perilaku yang memperlihatkan secara berlebihan apa yang didapatkan, dimiliki, juga kemewahan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Dari pamer, berganti jadi show off, lalu kini menjadi flexing, maknanya sama aja. Jika pamer dan show off memang berasal dari bahasa Inggris, kata flexing merupakan bahasa slang Amerika yang populer sejak 1990-an, dan semakin merebak karena disebut dalam beberapa lirik lagu. Akhirnya kata flexing mendapat makna metafora yang disingkat sebagai pamer. Salah satu yang mendefinisikannya adalah Cambridge Dictionary yang mengartikan sebagai bentuk kesenangan seseorang dengan apa yang ia punya, namun dengan cara yang mengganggu orang lain. Ini menarik buatku, karena batasan mengekspresikan kesenangan atau kebanggan dengan terganggunya orang lain bukanlah garis yang jelas dan pakem di tiap orang. 


Ilmu Kejiwaan

Dalam beberapa penelitian yang dilakukan oleh ahli kejiwaan manusia, flexing sering dikaitkan dengan narsisme. Perilaku menyukai diri secara berlebihan yang mendorong seseorang untuk tidak mempedulikan apapun kecuali dirinya sendiri. Namun, penelitian lebih lanjut membagi narsisme atas dua jenis yakni Vulnerable Narcissism dan Grandiose Narcissism. Grandiose Narcissism mengarah pada perilaku yang disebabkan oleh perasaan tidak realistis yang menganggap diri lebih tinggi dari orang lain. Namun, Vulnerable Narcissism adalah perilaku menutupi kondisi diri yang sebenarnya merasa tidak aman dan takut ditolak. Perbedaan mendasar keduanya adalah dari respon terhadap komentar atau kritikan orang lain. Grandiose Narcissism tidak akan terpengaruh dengan apa kata orang lain, karena sangat mempercayai kesuperioran dirinya, namun Vulnerable Narcissism sangat sensitif pada komentar orang sehingga dapat menimbulkan kecemasan bahkan sikap agresif.

Photo by Ari Roberts in Pexels

Nah, flexing berkaitan dengan Vulnerable Narcissism ini. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa flexing dilakukan untuk mengisi kekosongan dalam diri, biasanya rasa aman. Perasaan tidak aman, rendahnya kepercayaan diri, ingin menciptakan image, dan mendapatkan validasi sosial; menggiring seseorang untuk melakukan flexing. Sayangnya, rasa insecure dalam diri yang dicoba tutupi dengan flexing itu akan membuat orang lain tidak nyaman, akibatnya meningkatkan lagi rasa insecure tersebut, flexing lagi, orang menjauh lagi, insecure lagi, dan seterusnya. Begitulah lingkaran setannya.

Dari berbagai penelitian dan bagaimana alur perilaku tersebut, serta fenomena yang terjadi sekarang, kita sebenarnya bisa belajar banyak hal.


Pelajaran saat Flexing

Karena flexing adalah perilaku akibat, kita bisa belajar untuk mencari penyebab dan menyelesaikan persoalan dari akarnya. Kebanyakan flexing, membutuhkan validasi dari orang lain, haus perhatian, mungkin karena ada kekosongan dalam diri yang berusaha kita isi. Padahal seharusnya kekosongan itu tidak perlu kita tutupi, anggap sebagai jeda untuk kita melihat lebih dalam ke diri kita sendiri.

Mungkin bisa kita mulai dengan bertanya, bertanya pada diri kita sendiri. Oh kenapa ya aku flexing begini? Apa yang ingin aku dapatkan? Jika jawabannya ada di orang lain, tanyakan lagi kenapa aku perlu hal itu dari orang lain? 

Misalkan, aku memperlihatkan berlebihan tentang barang mewah yang aku baru beli. Barang baru, harganya mahal, gak semua orang mampu. Posting di sosial media aja deh, gampang kan. Lalu, tanya ke aku, kenapa aku perlu memperlihatkan itu? Oh, aku perlu validasi dari orang lain bahwa hidupku sukses, aku menghasilkan banyak uang. Gali lagi, kenapa ya ak perlu orang lain untuk menganggap aku sukses? Dari sini jadi banyak hal yang bisa kita dapatkan, oh waktu kecil aku gak dibeliin barang begini. Oh aku sering mendengar orang sekitar memuja barang mewah dan mengglorifikasi tumpukan materi. Oh ternyata aku gak mengganggap hidupku sendiri berhasil, sehingga aku perlu diyakinkan oleh pandangan orang lain bahwa hidupku sukses. Banyak, ada banyak sekali yang bisa kita dapatkan kalau saja kita berani bicara dengan diri sendiri. 

Kalaupun udah dapat jawaban dan ternyata emang itu yang kamu inginkan, ya udah go on. Emang lagi low self esteem nih jadi perlu validasi dari orang lain. Ya kadang bisa aja kita dititik itu. Atau emang lagi mengasihani aku di masa lalu, makanya mau pamer ke orang-orang. Bisa aja, karena tiap kita punya cerita lalu masing-masing. Setelah disadari kalau mau melakukan ya silahkan, tapi ingat, kekosongan itu mau ditutupi kaya gimanapun akan tetap kosong, sampai kita berani menghadapi lalu mengisinya.


Di zaman sosial media seperti sekarang, emang susah untuk gak memperlihatkan apa yang kita senangi juga apa yang kita banggakan. Cepat dan mudah. Hitungan detik bahkan tanpa kita sempat berpikir. Mungkin itu kenapa penerapan
mindfullness jadi semakin disuarakan. Supaya kecepatan jari tidak mengalahkan pikiran. Ini tidak berarti bahwa memamerkan apa yang kita sukai jadi diartikan buruk, namun kita perlu lebih sadar melakukannya. Untuk mengapresiasi diri sendiri, untuk berterima kasih pada orang lain, untuk bahan obrolan, atau menjadikan social media home sebagai wall of fame ya gak ada yang larang, asal lakukan dengan kesadaran penuh dan siap dengan segala resikonya. 

Bukan hanya itu, lingkaran flexing ini mendorong pada perilaku konsumtif, memenuhi apa yang kita pikir orang harapkan dari kita. Kadang dengan jalan yang udah terlalu maksa. Saking fokusnya sama keiginan untuk perform excellent kita jadi lupa sama orang lain, mengikis empati, dan menurunkan kualitas silaturahmi.


Menyaksikan Flexing

Mengambil contoh dari hasil karya seni zaman dulu, orang yang pamer digambarkan mengenakan pakaian mewah, aksesoris serba terlalu, dan dengan gelagat tubuh yang berlebihan. Disambut degan orang-orang yang memandang kagum di depan tapi bicara buruk di belakang. Efek negatif kayanya lebih banyak dari efek positifnya.

Tapi yang mengherankan, kenapa ada banyak penonton untuk aksi pamer kemewahan?

Aku cari jawaban tapi tak kutemukan. Bisa jadi ini bermula dari artis idola, yang secara income memang jauh di atas rata-rata. Bisa jadi melihat hidup mewah mereka, kita jadi sedikit lari dari kenyataan hidup yang nggak seindah angan. Atau sekedar untuk bahan obrolan, bisa jadi gunjingan juga, dengan orang lain. Gak ada yang penting efeknya. 

Kadang mungkin kita bisa aja flexing, apalagi saat melihat positngan mewah seseorang, rasanya ingin memamerkan kemewahan yang kita banggakan juga. Flexing orang lain memicu flexing kita juga. Tapi sebelum melakukannya, tahan dulu, terus tanya ke diri sendiri, "buat apa sih?" Kalau emang dia butuh validasi, ya udah biarin aja kenapa harus terganggu? Tapi, kalau emang kita punya tujuan yang mau dicapai dengan memposting sesuatu, go ahead. Sadari dulu niatnya. Jangan juga gara-gara takut dianggap flexing atau dikomen sama orang, kita jadi mengurungkan niat buat update sesuatu yang sebenarnya baik. 

Ini juga sikap yang perlu kita latih, untuk bersikap bodo amat. Bodo amat dengan orang yang flexing, bodo amat kalau orang bisa punya barang mewah tertentu, bodo amat kalau hidup orang terlihat lebih baik dari pada kita. Instead of care too much on others, start care so much on your self.

Karena flexing bukan hanya tentang pamer harta, bisa juga pamer perkara lainnya. Bisa pamer kemesraan, pamer kebaikan, orang punya kuasa ke akunnya untuk memamerkan apapun yang dia suka. Begitu juga dengan kita, kita punya kuasa untuk merespon bagaimana atas segala yang kita lihat itu. Bisa dengan melihat hanya yang memiliki dampak positif, bisa dengan menjadikan tontonan itu motivasi pendorong, bisa juga dengan menjadikan bahan refleksi. Kalau cuma untuk banding-bandingkan, lalu jadi merasa rendah diri dan gak bersyukur ya mending gak usah dilihat. Filter apa yang kita konsumsi, karena itu membentuk diri kita ini.

Harus sering-sering ingat tentang hakikat diri kita dan hidup kita sendiri. Aksesoris apapun, komentar bagaimanapun, gak mendefinisikan kita, gak mengurangi ataupun menambah nilai kita sebenarnya kan. Aku adalah aku seutuhnya, tanpa embel-embel, aku ya tetap aku. Segala benda bahkan peran yang melekat padaku, sebatas bagian dari perjalanan hidupku.

Setelah memiliki pilihan lebih baik dengan sekolah yang menyediakan kurikulum internasional, seperti sudah dijelaskan pada postingan ini, langkah terakhir adalah bersiap untuk memasuki dunia kerja. Lepas landas menjadi pribadi mandiri yang siap berkontribusi pada masyarakat luas.

Cepatnya arus informasi dan data yang terjadi dekade terakhir adalah akibat dari globalisasi. Bukan hanya informasi dan data yang hanya berjarak ketukan jari, namun juga pertukaran pandangan, pola pikir, kemampuan, keterampilan, bahkan tenaga kerja. Pada tahun 2022 saja, dari dataindonesia, ada lebih dari 111ribu tenaga kerja asing yang memasuki bursa kerja di Indonesia. Banyaknya proyek investasi asing merupakan alasan utamanya. Sampai sini tentu kita paham, bahwa persaingan untuk memasuki dunia kerja semakin meluas. Bukan hanya teman sekelas, namun juga tenaga kerja dari berbagai belahan dunia. Apa daya tawar yang kita punya hingga bisa mengungguli mereka?

Selain banyaknya tenaga kerja asing, data hingga 2020 ada lebih dari 25ribu perusahaan asing di Indonesia. Dengan banyaknya jumlah perusahaan tersebut, harusnya banyak juga tenaga kerja yang bisa diserap, jika saja tenaga kerja Indonesia memang memenuhi kriteria dan kualifikasi mereka.

Pertanyaannya kualifikasi apa yang secara umum dibutuhkan dalam dunia kerja yang semakin mengglobal ini? Bukan hanya untuk kita memiliki kompetensi bekerja di perusahaan asing, namun juga pada perusahaan nasional yang bertujuan global. Bukan hanya untuk kita bisa bekerja disini, namun juga untuk berkiprah di kancah internasional.


Kompetensi Global

Bukan hanya kita sebagai tenaga kerja, namun lebih luas lagi karena apa yang terjadi kini memang menuntut kita lebih sadar bahwa mobilitas dan migrasi adalah hal yang semakin mudah, kemajuan teknologi hampir mustahil untuk diikuti saking cepatnya, berbagai isu seperti krisis iklim dan kesetaraan gender yang tidak bisa diselesaikan hanya didalam negeri, serta pertukaran informasi dari seluruh dunia yang terjadi hanya dalam hitungan detik. Kompetensi global sendiri memiliki banyak definisi, namun singkatnya adalah gabungan berbagai aspek dalam diri seseorang yang menjadikannya siap untuk terliubat dalam berbagai penyelesaian masyarakat dunia. Kompetensi ini terlihat dari keterampilan dan sikap yang bernilai untuk menghadapi dunia yang beragam dan semakin cepat berkembang. 
Photo by Pexels

Melansir laman OECD diterangkan bahwa kompetensi global adalah kombinasi dari ilmu pengetahuan, keahlian, sikap, dan nilai-nilai yang sesuai dengan isu global dan situasi lintas budaya. Keempat aspek inilah yang menurut OECD menjadi kunci seseorang dapat dikatakan siap untuk menghadapi kondisi globalisasi. Individu dengan kompetensi global diharapkan dapat merumuskan permasalahan global, memahami berbagai sudut pandang berbeda dari seluruh dunia, mampu berinteraksi antar lintas budaya, serta dapat bertindak untuk kepentingan bersama dan pengembangan yang berkelanjutan. 

Dalam perkembangan sekarang, menurut AsiaSociety anak mudah dituntut untuk belajar dengan lebih berdaya, relevan, dan terarah secara mandiri agar bisa berkompetisi dan berkolaborasi di masa depan. Organisasi ini mengembangkan empat aspek dominan untuk memiliki kompetensi global, yaitu melihat kondisi global, memperhatikan perspektif dari berbagai sisi, mengkomunikasikan ide, dan melakukan tindakan. Keempat dimensi ini akan mendorong seseorang utnuk belajar berbagai bidang, bukan hanya didalam kelas namun juga diluar sekolah. 

Penelitian yang dirangkum dalam jurnal oleh Wisconsin dan Delaware pada 2019 di Amerika, mencari tahu tentang konsep kompetensi global yang ternyata memiliki hubungan yang cukup erat dengan kompetensi liberal arts. Dari sini mereka meneliti berbagai perusahaan dan melakukan survey mengenai apa yang dibutuhkan dari para tenaga kerja. Hasilnya didapatkanlah kompetensi global yang dibagi atas tiga kelompok sederhana yakni ilmu pengetahuan, sikap, dan kemampuan. Ketiga aspek ini harus berkesinambungan dalam diri seseorang untuk menjadi solusi dalam berbagai situasi global. Mereka menemukan fakta bahwa hal yang paling diinginkan dari seorang tenaga kerja adalah kemampuan komunikasi, kemampuan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang muncul, dan kemampuan untuk dapat bekerja sama. Selanjutnya, pengetahuan multikultural dan multinasional. Jadi, sangat penting unuk lebih dulu memiliki karakter tahan banting dengan beragam situasi, barulah memahami berbagai pengetahuan dunia. Karena diatas pengetahuan yang cemerlang, seorang pekerja perlu merasa nyaman dan mampu atas  kondisi yang dinamis dan berbagai perubahan yang mungkin terjadi di dalam perusahaan. 

Berbagai penelitian dan teori tersebut, mengantarkan kita pada kesimpulan mengenai aspek apa saja yang penting utnuk menghadapi dunia kerja yang semakin mengglobal ini.


Bagaimana Melakukannya?

Setelah memahami apa itu kompetensi global dan apa saja dimensinya, kita bisa beralih pada bagaimana langkah melakukannya untuk memiliki kompetensi global ini.

    1. Mengenal diri sendiri
Mulai dari tahu kelebihan dan kekurangan, minat dan bakat sendiri, bisa dari kebiasaan harian, bidang apa yang disuka, bidang apa yang dikuasai, atau juga bisa dilakukan dengan mengikuti berbagai tes yang sekarang mudah sekali dijangkau. Langkah ini penting agar kita mampu mengerjakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh nantinya. Jika tidak sampai ke level passionate setidaknya mampu bertanggung jawab pada hal yang dipilih. Situasi di dunia kerja yang penuh tekanan tidak sampai membuat kita stress sehingga berkinerja buruk. Kondisi yang dinamis juga tidak membuat kita kabur sehingga merepotkan orang lain. 

    2. Memiliki mental pelajar
Pada usia dan fase apapun, kita perlu terus belajar, jangan berhenti melatih diri, menyesuaikan dan terus menambah kemampuan. Mental pelajar agar mau terus belajar, terus mencoba, terus menambah pengalaman, mengasah kemampuan, dan menjadi lebih baik. Belajar dan berlatih ini bisa dilakukan dari mana saja, institusi formal ataupun non formal. 

    3. Meningkatkan kemampuan komunikasi
Kemampuan komunikasi bukan hanya berati mempelajari bahasa asing, namun juga belajar kebudayaan negara mereka dengan kebiasaannya. Hal apa yang menjadi hal baik dan hal kurang baik saat berhubungan dengan orang dengan budaya yang berbeda. Tidak sampai disitu, kemapuan komunikai perlu terus ditingkatkan dengan softskill profesional. Bisa dilatih dengan mulai terbuka menjalin koneksi dengan berbagai orang dari berbagai belahan dunia.

    4. Kemampuan personal
Kemampuan personal berkaitan dengan kehalian yang meningkatkan kualitas diri secara keseluruhan. Seperti ketenangan dan kebijaksanaan mental untuk menghadapi berbagai situasi. Kita juga perlu kuat memegang nilai yang diyakini sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan di masa datang. Dunia yang lebih baik tercipta dari banyaknya kolaborasi sehingga kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain merupakan hal esensial. 
Photo by Pexels

    5. Memilihi dukungan yang tepat 
Lingkungan adalah salah satu faktor yang menentukan bagaimana kompetensi kita kedepannya. Memilih lingkungan supportif yang mendukung pengembangan diri merupakan langkah penting yang perlu diambil. Lingkungan pertemanan dan sekolah yang sesuai untuk untuk mendukung kompetensi global. Sekolah yang menawarkan kurikulum internasional tentu memiliki akses yang lebih banyak pada lingkungan internasional yang bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan kompetensi global. Untuk peserta didik tingkat lanjut, pendidikan internasional bisa didapatkan melau kuliah di negara maju seperti Amerika. Sayangnya, tidak mudah untuk bisa sekolah di negara dengan predikat sistem pendidikan terbaik dunia tersebut. Jarak tempuh yang jauh dan biaya yang tinggi merupakan dua dari beberapa kendala yang mungkin dihadapi.

Sampoerna University

 







Pilihan terbaik lainnya adalah sekolah di Indonesia tetapi dengan sistem pendidikan Amerika!

Sampoerna University merupakan lembaga pendidikan tinggi swasta sekarang menjalin kerja sama dengan University of Arizona untuk menghasilkan lulusan Indonesia berstandar Amerika. Melalui program gelar ganda yan ditawarkan, alumni akan mendapatkan dua gelar sekaligus. gelar sarjana (S1) dari Sampoerna University dan bachelor degree dari University of Arizona. Gelar ini bisa didapatkan hanya dengan berkuliah penuh di Indonesia.

Kedua kampus ini tidak perlu diragukan kualitasnya. SU sudah mengantongi akreditasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Program pendidikannya juga merupakan hasil kerja sama dengan lembaga mitra SU di Amerika, yang telah diakui secara internasional. Dua tahun studi di SU bisa mendapatkan kredit akademik dari Broward College yang dapat digunakan untuk transfer pendidikan empat tahun di Amerika dan banyak negara lainnya. University of Arizona adalah universitas terkemuka di Amerika dengan lembaga penelitian yang diakui dunia. Menduduki peringkat 46 sebagai kampus terbaik berdasarkan Council of World University Ranking pada 2020-2021. Kedua institusi ini bekerja sama untuk menghasilkan lulusan berstandar global.

Tanpa perlu jauh pindah ke Amerika dan tetap mendapat benefitnya, kita bisa menghemat biaya hingg 75% dari seharusnya.Tidak hanya itu, ada berbagai beasiswa yang ditawarkan bahkan hingga potongan 100% dalam waktu empat tahun! Semua informasinya tersedia lengkap dalam website Sampoerna University, silahkan langsung kunjungi.


 

Pendidikan jalur formal yang bisa dengan mudah kita akses adalah sekolah. Indonesia sendiri menerapkan program wajib belajar dengan sekolah nasional tanpa biaya. Upaya ini adalah salah satu bentuk perwujudan dari pentingnya pendidikan bagi kehidupan. Anak-anak, sekarang sejak berusia tujuh tahun diwajibkan untuk mengikuti program pendidikan formal di sekolah dengan harapan pendidikan dapat menjadi bekal mereka kelak saat terjun ke masyarakat.

Menurut GlobalPartnership pendidikan secara luas akan berpengaruh pada kondisi sosial dan ekonomi kedepannya. Dari berbagai penelitian tersebut, untuk meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa, diperlukan peningkatan pendidikan. Pendidikan akan memperbesar pintu peluang anak agar bisa lebih berkembang nantinya.

Pentingnya pendidikan ini harus kita sadari agar tidak lagi ada pemahaman bahwa sekolah sebatas kewajiban yang diiyakan, namun sebagai kebutuhan untuk bekal kehidupan. Sekolah bukan hanya untuk mengisi kegiatan dalam rentang usia anak sebelum bekerja, bukan pula sebatas perkara angka dan nilai. Di sekolah lah, anak sepatutnya belajar dan berlatih sebelum benar-benar siap lepas landas dan mandiri bertanggung jawab pada hidupnya kelak.

Persiapan itu sudah dimulai sejak mempertimbangkan pilihan sekolah usia dini hingga jenjang tertinggi, universitas. Sekolah yang seperti apa yang sesuai dengan nilai dan visi keluarga, dan pendidikan apa yang bisa membantu mencapai tujuan jangka panjang. Berkontribusi pada masyarakat luas, leluasa memilih dengan meningkatnya sumber daya yang dimiliki, dan memperbaiki kualitas hidup diri sendiri dan orang lain.

Pendidikan di Indonesia

Pertanyaannya, apakah cukup dengan kurikulum Indonesia saat ini bisa mencapai tujuan tinggi yang kita miliki? Faktanya, menurut World Population Review Indonesia menempati peringkat 54 dari daftar 78 negara yang disurvey berdasarkan kriteria seputar pendidikan seperti perkembangan sistem pendidikan publik, pilihan untuk melanjutkan pendidikan, juga tersedianya pendidikan berkualitas tinggi. Amerika Serikat menempati peringkat pertama dengan banyaknya tersedia pendidikan yang berkembang di sana.

 

 Dari data tersebut, bisa kita simpulkan bahwa untuk bersaing secara global, yang mana sangat diperlukan dalam dunia tanpa batas kini, pendidikan Indonesia belum mumpuni. Sistem pendidikan dan kurikulum kita belum dapat memenuhi kebutuhan anak dengan tujuan global. Hal yang wajar jika kita lihat sejarah ke belakang, saat Amerika Serikat mendirikan universitas pertamanya pada tahun 1636, wilayah Indonesia masih berbentuk kerajaan dan sangat jauh dari kata merdeka.

Tidak apa, itulah gunanya kita dan anak-anak kita belajar jauh pada mereka. Untuk mengejar ketertinggalan waktu, akses informasi yang sangat cepat dan mudahnya mobilitas manusia kini, bisa dimanfaatkan untuk akselerasi laju perkembangan Indonesia, melalui pendidikan berkualitas tinggi. Dari laman upGrad Abroad, disebutkan bahwa Amerika memiliki lebih dari dua juta program pendidikan yang terhubung dalam lebih dari tiga ribu universitas, yang bisa diraih oleh penduduk dari belahan dunia manapun, termasuk Indonesia.


Kurikulum Internasional

Jika berpindah tempat dari Indonesia ke Amerika terasa sangat jauh, maka ada alternatif lain yang bisa kita pilih untuk tetap mendapatkan kualitas pendidikan terbaik di dunia tersebut. Pilihannya adalah memilih institusi pendidikan di Indonesia yang menerapkan kurikulum internasional. Bisa disebut juga dengan sekolah internasional, yaitu satuan pendidikan yang dikelola oleh Lembaga Pendidikan Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Asing. 

Photo by Pexels

Di Indonesia setidaknya ada lima kurikulum internasional yang sudah tersebar di sekolah-sekolah berbagai jenjang antara lain Kurikulum Montessori, Kurikulum Internasional Cambridge, International Baccalaureate, International Primary Curriculum, dan Singaporean Primary School Curriculum; dimana kurikulum Cambridge adalah kurikulum internasional paling banyak yang diaplikasikan pada sekolah internasional di Indonesia. 

Hingga kini, ada lebih dari seratus sekolah internasional di Indonesia yang mayoritas berada di Jakarta dan tersebar di kota besar lainnya. peningkatan jumlah sekolah dan menanjaknya minat masyarakat terhadap sekolah dengan kurikulum internasional, menandakan bahwa kurikulum internasional mampu menjawab kebutuhan masyarakat atas pendidikan berkualitas lebih baik.

 

Proses belajar sesuai kebutuhan

 Umumnya, sekolah internasional tidak terpaku pada nilai ujian anak, namun pada banyak hal terkait dari potensi masing-masing siswa. Fokusnya seperti pada bidang minat akademik anak, pembentukan karakter anak yang percaya diri dan memiliki leadership skill, hingga ketahanan anak dalam memproses tanggung jawabnya. Semua hal itu dilihat dan dijadikan bahan evaluasi dalam rentang waktu tertentu. 

Setiap anak memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Begitu juga dengan kemampuan, minat, dan keterampilan mereka. Menyamaratakan apa yang mereka dapatkan di sekolah dan menuntut mereka mendapatkan hasil terbaik di setiap aspek, adalah hal keliru. Namun sayangnya, sistem pendidikan kita masih ada di zona itu. 

Penawaran terbaik dari kurikulum internasional adalah kesempatan bagi anak mempelajari bidang yang ia minati, dan mendapat dukungan untuk memaksimalkan potensi diri. Sekolah yang belasan tahun itu semoga bisa menjadi pengalaman menyenangkan bagi anak dan memberi dampak besar bagi kehidupan mereka. 

 

Standar Komunikasi dan Jaringan Internasional

Sebagai upaya mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke dunia global, bahasa pengantar yang digunakan tentu saja adalah bahasa internasional yang digunakan hampir di seluruh dunia, bahasa inggris. Dengan membiasakan diri bertutur kata asing, anak diharapkan memiliki kemampuan bahasa inggris bukan hanya untuk berbicara sehari-hari namun juga untuk berkomunikasi secara profesional. Berlatih untuk tampil dimuka umum, hingga membiasakan kerja sama dan memimipin rekan dengan standar internasional. Communication skill yang perlu dilatih sekarang untuk dimanfaatkan pada fase mendatang.

Photo by Pexels


Sekolah internasional berkemungkinan lebih besar memiliki murid warga negara asing daripada sekolah nasional. Bisa jadi karena bahasa pengantar, bisa jadi karena kecocokan kurikulum, atau langkah lanjutan dari pendidikan anak itu sendiri. Sehingga, lebih besar pula kemungkinan interaksi dengan peserta didik dari negara lain. Ini hal yang menguntungkan, untuk belajar banyak tentang keberagaman. 

Lingkungan begini akan membuka pikiran dan memperluas pandangan tentang banyaknya perbedaan di muka bumi. Selain itu, peserta didik juga akan belajar banyak tentang kebiasaan dan kebudayaan lain, pikirannya akan jauh melampaui kelas atau lingkungan hidup sekitar saja. Memiliki teman dari berbagai negara adalah hal baik untuk memperluas koneksi yang bisa membuka berbagai kesempatan nantinya. 

 

Pengakuan Internasional

 Lulusan sekolah internasional bisa mendapatkan sertifikasi yang diakui secara global. Untuk kurikulum cambridge misalkan, saat ini sebagai kurikulum paling banyak dipakai diseluruh dunia, mengantongi pengakuan dan berbagai kemudahan untuk melanjutkan studi ataupun berkecimpung di dunia pekerjaan. Berhubung kurikulum ini sudah diakui kualitasnya di seluruh dunia. Lulusan kurikulum cambridge dinilai memiliki kualifikasi terbaik yang siap memberi kontribusi. Apalagi jika institusi pendidikan yang dimasuki memiliki program kerja sama khusus dengan universitas dunia, pengakuan yang didapat jadi berkali lipat.

 

Memiliki Kapasitas Lebih Tinggi

 Dengan segala keunggulan yang disebutkan sebelumnya, lulusan kurikulum internasional keluar dengan kompetensi bekerja yang lebih memadai. Segala bekal yang disiapkan selama proses pendidikan, hendaknya membuat lulusan kurikulum internasional lebih percaya diri untuk terjun ke masyarakat dan mampu membawa perubahan pada bidang yang ia sudah tentukan. Keuntungan yang tidak hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri, namun juga orang sekitar.

 

Sampoerna University




Belajar di Indonesia, dengan standar Arizona

Satu-satunya universitas di Indonesia yang menawarkan pengalaman pendidikan tinggi ala Amerika, Sampoerna University. 

Hingga kini, ada 67 universitas di Amerika yang bekerja sama dengan Sampoerna University (SU) agar para peserta didik SU bisa langsung transfer untuk melanjutkan studi di universitas pilihan mereka di Amerika. Secara eksklusif, SU bekerja sama dengan University of Arizona dalam menciptakan program gelar ganda yang memungkinkan mahasiswanya untuk berkuliah di Jakarta secara penuh namun lulus dengan dua gelar sekaligus , gelar sarjana AS terakreditasi dari University of Arizona dan gelar sarjana (S1) dari Sampoerna University. 

University of Arizona sendiri merupakan universitas terkemuka di Amerika yang menempati peringkat 46 di dunia menurut Council of World University Rankings pada 2020-2021. Sejak didirikan pada tahun 1885 silam, ada lebih dari 300.000 alumninya yang tersebar diseluruh dunia dengan berbagai bidang unggulan. 

Selain sistem pendidikan internasional, hal menarik dari Sampoerna University ini adalah alumninya yang siap bekerja secara profesional, terbukti dengan 94% lulusan SU bekerja dalam kurun waktu tiga bulan. Program pendidikannya mampu meningkatkan kredensial dan kemampuan mahasiswa untuk berkarir di kancah nasional maupun internasional. Dengan lebih dari 70% pengajar memiliki gelar Doktor, tentu kemampuan akademisnya tidak perlu lagi diragukan. 

Nah, dengan semua benefit itu, biaya yang ditawarkan Sampoerna University jauh lebih rendah daripada studi langsung ke Amerika. Penghematan yang bisa kita lakukan mencapai 75% dari estimasi pengeluaran pendidikan internasional dengan keuntungan serupa. Tertarik? Info lebih lanjut bisa langsung meluncur ke website SampoernaUniversity ini ya! 

Dalam kelompok pertemanan yang aku punya, aku termasuk yang awal-awal menikah. Aku yang diam-diam lalu tiba-tiba ngasih kabar lagi dekat eh gak berapa lama udah ada seragam dan undangan nikah. Waw! Dengan riwayat hubungan asmaraku emang jadinya gak ada yang bayangin aku akan menikah sebelum dua lima. Aku juga gak kebayang sih sesungguhnya. Gak heran, dari aku pertama ketemu suami sampai nikah aja rentang waktunya gak sampai dua tahun. Cuplikannya bisa baca disini. Jadi wajar kalau ada aja pertanyaan gimana kok bisa aku akhirnya yakin memutuskan menikah? Apa aku sebucin itu? 😂

Akhirnya pertanyaan-pertanyaan nada serupa bikin aku mikir, eh iya, kenapa ya?

Pernikahan di masa kita sekarang sepertinya gak sama dengan pernikahan zaman orang tua kita dulu misalkan. Kenal sendiri atau dikenalkan, tahu bibit, bebet, bobot dengan jelas, bisa langsung gas. Dulu juga gak ada panduan pasti gimana memilih the one and only yang akan kita nikahi. Sekarang, ada banyak panduan gimana memilih pasangan hinga meyakinkan diri untuk menikahi orang tersebut. Bisa tuker CV juga. Kepo-in sosmed-nya. Bisa saling kasih pertanyaan untuk dijawab dan jadi bahan pembicaraan di pertemuan selanjutnya. Banyak hal yang akhirnya disadari sekarang perlu banget diobrolin sebelum nikah, bahkan ada yang mengaturnya dalam perjanjian pra-nikah.

Waktu itu, ilmu aku belum sampai sana :')

Photo by Emir Kaan Okutan in Pexels

Pertanyaan Sebelum Nikah

Soal obrolan dan list pertanyaan sebelum nikah ini, belakangan emang lumayan banyak dibicarakan. Beda dengan saat aku nikah beberapa tahun lalu, entah emang baru ramai sekarang atau emang aksesku aja yang belum sampai kesana. 

Mencoba cari dengan keyword question before married, ada banyak sekali artikel yang memuat daftar pertanyaan sebelum nikah bahkan di BetterTopics ada 300 pertanyaan! Maaf, aku sih udah mundur duluan lihat angkanya. Tapi laman lain seperti Brides hanya mencantumkan 12 pertanyaan esensial juga OprahDaily dengan 25 pertanyaan pokok. Pertanyaan itu berisi tentang pandangan pasangan kita terhadap sesatu, biasanya terdiri atas topik keluarga, hubungan sebelumnya, gaya hidup, pekerjaan, kondisi kesehatan, rencana masa depan, dll. Hal-hal yang dianggap perlu untuk masing-masing pasangan. Ada yang mencantumkan pilihan politik juga, dimana itu gak masalah kalau menurut kamu emang penting. Tapi kalau nggak, ya bisa diskip aja. 

Daftar pertanyaan ini dianggap penting karena menurut konselor pernikahan disini, banyak pasangan yang melewatkan membicarakan hal-hal yang sebenarnya penting. Obrolan yang bisa mengurangi konflik di masa depan serta sebagai salah satu alternatif untuk mempersiapkan solusi jika ada (pasti ada sih kalau udah nikah tuh) kondisi menantang kedepannya. Masuk akal sih, setidaknya dengan mengetahui sudut pandang pasangan kita jadi bisa lebih saling memahami, jadi mengerti oh kenapa dia begini, apa yang mau dia capai, apa yang dia inginkan, bisa jadi jembatan untuk sama-sama mendukung impian masing-masing juga. Para expert juga menyarankan obrolan ini dimulai sejak awal kita menjalin hubungan dengan orang lain, bukan saat kita sudah mulai membicarakan pernikahan dengan alasan excitement menjelang nikah akan mempengaruhi bagaimana kita menilai pasangan sebenarnya. 

Photo by Katerina Holmes in Pexels

Memang bukan hal yang mudah untuk membicarakan topik berat. Ada topik yang bikin kita terpaksa mengenang masa lalu yang kita gak mau lagi ingat, menghadapi perasaan dalam yang selama ini kita hindari, atau isu-isu yang ada di diri kita yang mungkin belum kita sadari tanpa diobrolin. Bisa jadi juga topik yang susah buat dipikirin, yang jadinya dihindari aja. Buatku, soal uang misalkan. Dulu males banget bahas, sekarang ya harus. Syukur sejauh ini banyak yang sepemikiran aja. Karena satu hal yang pasti, isu itu akan tetap ada disana. Kita bisa pilih untuk membicarakannya sekarang, atau nanti saat tiba-tiba muncul dalam pernikahan (dimana persoalan akan lebih banyak lagi).

Membicarakan hal-hal ini bukan berarti kita mencari kebenaran, melihat siapa yang paling benar, dan gak berarti juga kita jadi setuju sama semua hal dari pasangan. Sama sekali bukan. Apalagi dengan kemungkinan jawaban sekarang, belum tentu juga akan berwujud gitu nantinya. Bukan hanya soal gak jujur atau terbuka, tapi kita semua kan berproses, kondisi juga pengaruh ke gimana sikap kita nantinya. Nah, obrolan ini tuh dimaksudkan untuk membuka pikiran, membuka jalan diskusi, gimana nih sebaiknya kedepannya, dengan pandangan masing-masing jalan tengahnya yang mana ya. Gimana aku bisa bantu kamu, gimana kita bisa saling support, gimana kita gak menghalangi satu sama lain. Dibicarakan supaya kita bisa bekerja sama mencapai visi keluarga kita. 


Bagaimana Jika Tidak

Aku adalah golongan yang nggak punya daftar pertanyaan sebelum nikah itu. Bukan karena menganggap itu gak penting, tapi simply karena gak tau aja. Kalau tau ada beginian sih, sebagai orang teoritis bakal aku kerjain ya. Emang belum mateng sih masanya itu kayanya, lol. Jangankan daftar pertanyaan, apa yang akan terjadi dan apa yang akan aku hadapi setelah pernikahan aja aku gak kebayang. Apalagi dengan perubahan arah hidupku sekarang, gak kepikiran sama sekali. Makanya waktu ditanya sama teman-teman aku rada e.. ee... apa ya...

But calm, kita bisa tetap bertanya kok walaupun setelah menikah. Jawabannya mungkin akan berbeda dan berkembang dengan bedanya kondisi dulu dan sekarang. Menarik banget sih ini buat jadi bahan obrolan, buat bisa lebih mengenal lagi, dan untuk mengonfirmasi kesimpulan yang selama ini kita pikir itu bener gak sih. Seru kan mendalami karakter seseorang apalagi pasangan sendiri!  
Photo by EKATERINA BOLOVTSOVA in Pexels

Balik lagi, setelah dipikir-pikir, mungkin sekarang aku bisa menjawab, selain dengan list pertanyaan itu ada cara lain dimana kita juga bisa tahu isi pikiran pasangan. 

-  Melihat

Sepertinya ini cara yang paling banyak aku praktikkan sejak sebelum nikah. Tanpa perlu ditanyakan pun ada beberapa hal yang bisa aku simpulkan sendiri dari apa yang aku lihat. Actions speak louder than words katanya. 

Saat bertemu keluarganya, aku tau bagaimana posisi dia di keluarga, kenapa dia memiliki karakter tertentu, apa yang aku bayangkan dengan sifat dia yang seperti itu. Aku tau banyak hal dari kondisi keluarga dan dari bagaimana dia memperlakukan keluarganya. Karena keluarga adalah lingkungan terdekat dan lingkungan pertama yang membentuk kepribadian seseorang, jadi sangat penting untuk mengenal keluarga pasangan. 

Selain keluarga, aku juga menyimak gimana dia memperlakukan orang lain. Teman-temannya, bagaimana dia berteman, gimana dia berinteraksi dengan lawan jenis, sejauh mana dia mementingkan pertemanan, dan apa prioritas hubungannya. Aku juga melihat bagaimana dia bersikap dengan orang asing, bagaimana dia menempatkan diri dengan orang-orang yang gak begitu dia sukai. Sampai ke gimana dia bekerja dan berinteraksi dengan rekan kerja. Kayanya kami gak pernah terang-terangan membicarakan ini, tapi aku jadi tau batasan mana yang dia harap aku miliki, dan batasan mana yang dia tahu wajar, khususnya dalam hubungan dengan lawan jenis, isu yang rentan dalam pernikahan. Walaupun dengan rasa penasaran yang aku punya, tetap ada aja sih pertanyaan yang muncul dan akan aku ajukan.

Bukan hanya melihat hubungan dia dengan orang lain, tapi bagaimana dia bersikap atau menghadapi sesuatu. Kalau ada apa-apa tuh kan bisa terlihat dia orang yang cepat bereaksi atau bisa kalem dulu. Orang yang merespon dengan perasaan atau pikiran. Emosinya gimana, karena ini juga penting. Setelah nikah itu akan ada aja persoalan, kalau nggak sama-sama paham kondisi emosional masing-masing ya bisa beradu tuh. 

Walaupun ya kadang udah banyak tanda yang terlihat tapi bisa aja terbutakan saking cintanya lol. Pantes ada istilah cinta itu buta. Jangan sampai ya, pakai perasaan tentu aja boleh tapi logika tetap harus jalan. Ada red flag yang muncul, coba dipikir ulang. Bener gak nih sanggup kalau dia begini terus, jangan mikir kemungkinan baiknya dia akan memperbaiki diri dulu deh. Karena berubah itu gak bisa cuma karena cinta sama kamu, gak bisa instant juga abis nikah terus berubah baik, perlu waktu yang panjang dan proses yang bertahap. Sanggup gak dengan segala konsekuensinya. Jawabannya hanya kamu yang tahu.

Photo by Helena Lopes in Pexels

- Bertanya

Gak semua yang kita lihat itu benar, sama dengan gak semua jawaban yang kita dapat saat bertanya itu benar dan bakal terbukti di masa akan datang, maka untuk menambah persentase keyakinan kita juga lakukan keduanya.

Bertanya itu cara paling jelas untuk kita dapat jawaban. Jelas langsung dari sumbernya, tanpa asumsi, tanpa prasangka. Mengurangi overthinking berlebihan. Tanya dengan detail. Namun, bertanya juga ada caranya sekalipun ke pasangan sendiri. Tahu kapan harus bertanya, kapan harus berhenti. Tahu bagaimana caranya untuk membuka tanpa menekan, tanpa terasa seperti menginterogasi. Tips-nya sih share dulu apa goal dari pertanyaan itu, kalau udah sama-sama setuju bisa lebih terbuka menjawab karena tahu tujuannya apa.

Sebelum nikah, aku emang gak punya daftar pertanyaan seperti artikel-artikel di atas, tapi aku tetap bertanya apa yang kepikiran penting buatku. Hal yang terjadi dimasa lalu, hal yang aku mau kedepannya, hal yang pasangan harapkan. Karena buatku yang pernah terjadi dan yang kita mau terjadi itu saling berhubungan. Berhubung aku emang dulu belum kepikiran banyak hal, jadinya aku gak bertanya banyak hal juga. Syukurnya sekarang banyak hal itu bisa dibicarakan dan didiskusikan. 

Saat bertanya, aku pribadi sebenarnya adalah orang yang penasaran dan mau tau apapun dengan detail. Aku mau informasi yang sampai ke aku itu runut, jelas, dan bisa aku bayangkan bagaimana kejadiannya. Maka, bumbu obrolan dan informasi pelengkap adalah hal yang penting buatku. Nah, suamiku kebalikannya. Dia yang penting tahu point inti lalu yasudah. Jarang sekali, dia bertanya kelanjutan rinci dari apa yang aku sampaikan, sebaliknya aku akan mengulang dan merinci lagi apa yang dia ceritakan sampai jelas terbayang. Nah, kadang aku bisa tanya sampai jelas, kadang harus merelakan berlalu tergantung situasi saat itu. Apalagi volume standar suara kami yang juga berbeda, satu dua kali dia ngomong kalau aku masih belum dengar juga, yang ketiga tinggal dijawab "ooh ya" kadang tanpa tahu omongannya apa, lol.

Photo by Ketut Subiyanto in Pexels


Apa yang penting buatku belum tentu penting buat suamiku. Begitu juga sebaliknya. Tapi karena kita punya goal yang sama ya gapapa saling menjelaskan aja, saling memberi ketenangan. Apalagi buat pasangan lain, ada yang menganggap suatu topik itu bisa diperdebatkan, ada juga yang gak mau diganggu gugat keyakinannya soal sesuatu. Maka sebelum buru-buru bicarain nikah dan acara pernikahan (yang memakan waktu dan tenaga itu), coba lihat dulu gimana hubungan yang dijalani ini.

- Mendengar

Satu hal lagi yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan dari pihak lain. Cari tahu sebanyak-banyaknya gimana pandangan orang tentang dia. Bisa dari keluarga, dari teman, atau dari rekan kerjanya. Tapi plis, jangan kaya interogasi ya. Obrolan biasa aja. Kaya kebiasaan dia, sehari-hari tu ngapain aja gimana dia, atau buruk-buruknya sekalian deh. Bukan langsung kesimpulan menurut pandangan orang itu si dia ini orangnya gimana, tapi cerita soal kejadian aja. Apa yang dia lakukan di kejadian itu, gimana responnya, nah berdasarkan cerita itulah kita sendiri yang akan menilai dia ini orangnya gimana sih.

Aku gak pernah kepikiran dengan sengaja mencari tahu tentang suamiku dari orang lain. Tapi aku pernah obrolin tentang dia, atau ada yang tiba-tiba ceritain, yang ternyata jadi bahan juga untuk aku menyimpulkan sesuatu. Oh pantesan dia begini. Oh ternyata dia pernah begitu. 

- Menyerahkan

Dari aku yang gak paham-paham amat soal pernikahan apalagi ditanyai soal wejangan, utamanya adalah gimana kita menyerahkan pada Sang Pemilik Kekuasaan.

Aku gak pernah punya target, gak pernah merumuskan kriteria tertentu, tapi aku diberi seseorang yang wah ternyata emang yang begini yang aku butuhkan. Seiring tahunan pernikahan, banyak yang aku sadari belakangan. Oh, pantes aku bisa cepet klik ya sama dia, ternyata emang kita punya kesamaan disitu. Oh aku tuh orangnya begini, pantesan dikasih dia yang begitu. Dia bisa mentolerir kekuranganku, begitu juga aku bisa berdamai dengan kurangnya dia. Bagi sebagian orang mungkin kekuranganku/ kekurangan suamiku adalah hal yang bakal jadi masalah, begitu juga sebaliknya, ada kebiasaan orang lain yang gak bisa aku terima tapi diterima aja sama pasangannya. 

Photo by Thirdman in Pexels

Jadi emang balik lagi ke diri kita dan pasangan masing-masing. Tahu dulu kita tipe orang yang bagaimana, kira-kira butuh yang seperti apa. Hal-hal dasar hingga remeh apa yang bisa kita terima dan gak bisa kita tolerir. Pingin jalani hubungan yang seperti apa, dan dengan orang yang bagaimana kita mau menjalani hari-hari. Lalu berserah deh, serahkan seutuhnya benar-benar ya udah. Tapi ingat, berserah bukan berarti pasrah ya, tetap mengusahakan sebelum pernikahan dan selama pernikahan itu. Pernikahan adalah perjalanan yang sangat panjang, harus diusahakan!



Salam, Nasha

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Juni 2026 (1)
      • Menerapkan Unbothered Energy dalam Kehidupan Sehar...
    • ►  Mei 2026 (1)
    • ►  April 2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes