Jarak: Menyadari The Family (Team) that Build Me

Secara umum mungkin aku sama aja kaya banyak anak lain yang puluhan tahun tinggal dengan orang tua, punya keinginan kuat buat merantau, belum sadar 'enaknya' tinggal dengan orang tua. Tulisan ini mungkin kelak bisa jadi pengingat buatku, tentang kehangatan yang aku dambakan tapi tidak ingin aku usahakan. Tentang keluarga, sekeliling orang yang (syukurlah) sudah membentuk aku.



Jadi bisa dibilang, aku menikmati tinggal di kelilingi keluarga, tapi masih penasaran pingin jauh, pingin mandiri. Belum paham lah apa sih perks of living around family. mana paham anak usia belasan atau awal dua puluhan betapa berharganya hidup dekat dengan keluarga. Kita emang perlu ngerasain jauh dulu baru tau berharganya kedekatan.


Akhirnya setelah lulus kuliah aku bisa 'melepaskan' diri dengan bekerja di ibu kota. Akhirnya aku 'lepas' dari orang tua ke kota impian tujuan utama untuk perantauan, meski belakangan baru aku sadari bukan kota impian (buatku).

Lalu, aku berpindah dari satu kota ke kota lainnya, yang bukan ibu kota, dengan judul membangun kehidupan bersama suami dan anak-anak. Pandemi membuat kita semakin berjarak, kampung terasa lebih jauh. dengan dua bocah ini, kerepotan bepergian tentu lebih terasa, apalagi jika harus transit pesawat, belum pengkali-lipatan biayanya. Fiuuh.


Nah, tahun ini kami bertekad pulang. Dan, Alhamdulillah dimudahkan semua urusan, keinginan kami terwujud. Aku pulang dengan dua anak. Wah beda ya rasanya.


Dengan kondisi ku sekarang, dengan fokus yang aku pilih, apa-apa yang aku pelajari, pandanganku terhadap banyak hal juga jadi berubah. Karena dalam proses aku mendidik anak-anak, aku pun juga belajar, banyak tentang hubungan manusia. Ini yang kayanya sedikit banyak mengubah pandangan aku ke keluargaku. Bertemu dengan mereka satu persatu, bukan hanya orang tua ku ya tapi seluruh keluarga besar, nenek kakek, om tante, saudara-sadara semua di tempat kami tumbuh bersama.


Aku melihat mereka dengan cara yang berbeda, bukan hanya melihat tapi juga gimana aku menerima mereka, gimana aku mengartikan love language mereka, aku pelan-pelan melihat dengan lebih luas dan lebih dalam. oh, ternyata ini keluarga yang membentuk aku, ini orang-orang yang dulu membesarkan aku. Aku gak tinggal hanya dengan kedua orang tua ya, aku tinggal dengan seluruh keluarga besar, pernah dalam satu rumah. Hal yang dulu aku gak suka. tapi sekarang bisa aku terima dan lihat dengan perspektif berbeda. Lebih melegakan rasanya.


Apa yang orang istilahkan dengan inner child, aku berusaha menerima, berdamai dengan itu. Aku pernah menjadi anak-anak, anggota keluarga ku itu pernah lebih muda, lebih tidak bijaksana, lebih sedikit taunya. Kami semua berproses. Tolong jangan bayangkan aku kenapa-kenapa dengan masa anak-anakku, karena sungguh bukan apa-apa, kita semua punya masa lalu dan kita semua berproses. Sama halnya dengan setiap proses, ada yang nyaman dan ada yang tidak. Kita hanya perlu mengakui dan menerima itu sebagai bagian dari diri kita, bagian yang tidak terpisah dari diri kita tapi juga terpisah dengan keadaan kita sekarang. Melihat proses itu, perjalanan kami semua, oh ternyata kita sudah berproses banyak ya, sudah berjalan jauh ya.


Hal lain yang aku juga mulai pahami bahwa perbedaan-perbedaan antara aku dengan mereka juga berdasar dari latar belakang, kondisi, dan pemahaman yang berbeda, dan itu gapapa. Karena kita kan gak pernah tau mana yang lebih baik, kita hanya memilih yang lebih sesuai dengan kita, pilihan yang lebih kita sukai, kita yang memilih. Aku yang kemudian juga memilih hal-hal apa yang bisa aku teruskan dan hal-hal mana yang aku terima aja sebagai bagian dari keluargaku.


Dari kunjungan kemarin juga aku menyadari kalau keluarga memanglah rumah paling aman, meski kamu tidak lagi seperti dulu, meski kamu sempat meninggalkan luka tanpa mengucapkan maaf, mereka akan tetap menerima. Kamu tidak perlu menjadi siapa-siapa. Hanya menjadi dirimu apa adanya. Ada yang berubah menjadi lebih baik, yang berproses menjadi lebih bijaksana, yang tumbuh dewasa, atau yang sama saja, tidak apa. Kita tetap keluarga. Your existence matters.


Pikiranku juga sempat jauh membayangkan sampai ke masa tua. Meski sempat kewalahan dengan pikiran sendiri, aku sampai pada pemikiran ntah bagaimana jadinya masa tua kita nanti, tapi mempersiapkannya dengan merawat diri dari kini adalah hal yang harus kita upayakan. Merawat raga, merawat pikiran, serta merawat hubungan. 


Akhirnya, aku berterima kasih pada jarak, jarak yang memberikan jawaban, menghadiahi pelajaran, jarak yang menggeser pandangan, yang membuatku menyadari banyak hal. Tentang rasa sayang yang aku miliki dan aku terima, tentang hal-hal menyenangkan yang aku punya, tapi dulu aku abaikan, tidak aku sadari, tentang pelajaran-pelajaran kebijaksaan sebagai bekal untukku melanjutkan kehidupan.

Jarak yang melahirkan rindu sehingga waktu bertemu sangat aku tunggu-tunggu.

0 Comentarios

Mau nanya atau sharing, bisa disini!