• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Sebagai salah satu barang untuk memudahkan hidup dan menunjang penampilan, kita sering kali punya banyak pertimbangan dalam memilih tas. Buatku, pertimbangannya tidak termasuk merk atau model tertentu, tapi kualitas dan ketahanannya. Aku lebih memilih tas dengan model yang longlasting dan bahan yang kuat sehingga bisa digunakan dalam waktu yang lama. Sejauh ini, pilihan terbaik adalah yang berbahan kulit asli, tentu setelah mempertimbangkan berbagai kelebihan dan kekurangan serta pro dan kontranya. Untuk mendapatkannya, tidak perlu cari jauh-jauh, karena produsen lokal pun sudah banyak mengeluarkan produk tas dari bahan kulit asli.  


Kenapa Kulit Asli?

Pertanyaan mendasar mungkin adalah kenapa. Kenapa kulit asli? Kenapa bukan kulit sintetis aja. Kembali lagi ini ke pertimbangan awal kita memilih tas, dengan kekurangan dan kelebihan dari masing-masing bahan.

Kulit asli di sini maksudnya adalah bahan tas yang berasal dari kulit sapi, (mungkin ada juga yang kambing ataupun domba) yang sudah melalui berbagai proses sehingga bisa digunakan untuk tas. Nah, dalam pemilihan bagian kulit yang digunakan, bahan kulit tersebut biasanya dibedakan atas full grain leather, top grain leather, dan genuine leather. Singkatnya, klasifikasi ini berdasarkan dari bagian teratas ke bawah bahan. Di mana, bagian paling atas (full grain leather) adalah bagian terbaik yang memiliki serat kulit yang lengkap dan penuh.  Ketahanannya pun yang terbaik, dibanding bagian yang lebih bawah. 

Di pasaran, bahan yang paling mudah kita temui adalah genuine leather, bagian terbawah dari kulit, yang sebenarnya sudah tidak mengandung serat kulit sama sekali dan perlu lebih banyak proses agar bisa siap digunakan sebagai material bahan. Kelebihannya tentu harganya yang lebih terjangkau. Apalagi, mayoritas masyarakat tidak terlalu paham persoalan ini (termasuk saya), sehingga akhinya hanya memilih kulit asli yang sesuai dengan budget saja.

Nah, kenapa bersikeras dengan kulit asli meski hanya pada level terbawahnya? Kembali pada pertimbangan awal. Meskipun genuine leather, kualitasnya tetap lebih baik dibanding kulit sintetis. Kulit asli memiliki keunggulan utama yaitu ketahanan dan kekuatan. Ini penting untuk mereka yang memprioritaskan kualitas. Tampilannya pun lebih elegan dan timeless serta lebih nyaman di kulit. Kekurangannya, tas kulit asli lebih berat dibanding tas sintetis (yang umumnya terbuat dari campuran plastik) dan butuh perawatan esktra (seperti tempat penyimpanan dan pembersihan berkala).


Pro Kontra Dampaknya


Kontra terhadap bahan kulit asli kebanyakan berhubungan dengan isu kesejahteraan hewan dan lingkungan. Tidak bisa ditampik bahwa industri peternakan adalah penyumbang emisi terbesar secara global. Setidaknya, peternakan sapi menyumbang sekitar 14.5% emisi gas rumah kaca dunia (data FAO 2013, meski masih ada kajian ulang mengenai ketepatan angkanya). Lalu, tidak semua produsen peduli dengan proses yang dilalui agar kulit sapi tersebut bisa digunakan sebagai material tas. Tidak sedikit yang menggunakan zat kimia berbahaya yang mencemari lingkungan. 

Hewan yang hidup dalam peternakan itu pun, tidak semuanya diperlakukan dengan layak. Secara umum, banyak yang menyoroti kesejateraan hewan ternak ini. termasuk sapi yang kulitnya digunakan sebagai material tas. Apalagi jika material tersebut berasal dari hewan eksotis seperti buaya atau ular; atau hewan-hewan lain yang dilindungi. Ini jelas ilegal.

Namun, faktor-faktor itu masih bisa dijawab dengan praktik produksi yang terstandardisasi. Kulit sapi yang digunakan adalah produk sampingan, yang memang berasal dari sapi potong di mana jika tidak dimanfaatkan justru bisa menjadi limbah. Peternakan sapi pun sudah banyak yang bisa memiliki sertfikasi sebagai bukti kegiatan ternaknya telah memenuhi standar kelayakan yang ditentukan. Begitu pula, sudah banyak produsen tas yang berkomitmen untuk menjaga lingkungan dengan menggunakan bahan nabati dalam pemrosesan kulit sehingga menjadi bahan kulit yang biodegradable. Terakhir, dengan rentang waktu pemakaian yang jauh lebih panjang, bahan kulit asli jelas menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibanding kulit sintetis dengan masa pakai yang relatif singkat. 

Sebagai konsumen, kitalah yang perlu bijak memilih, termasuk produsen mana yang paling sesuai dengan prinsip yang kita yakini. Memang seharusnya ada peran pemerintah dalam meregulasi praktik prduksi agar lebih ramah lingkungan, tapi jika pun masih belum ada, setidaknya kita bisa lebih banyak berusaha. Lebih banyak mencari tahu dan lebih panjang mempertimbangkan.


Pilihan Produsen Lokal Tas Kulit Asli

Memilih produsen lokal sebenarnya bukan hanya karena ini adalah upaya kita mendukung sesama warga, tapi karena kualitas produk yang mereka hasilkan juga sama baiknya. Dengan harga yang lebih terjangkau (salah satunya karena rantai distribusi yang lebih pendek), berbagai tas dari produsen lokal ini bisa banget jadi pilihan!


Rounn

Didirikan sejak tahun 2014, Rounn diciptakan untuk menjawab permintaan masyarakat akan produk yang classy dan unik. Dengan bahan kulit asli dan perhatian pada detail, Rounn diperuntukkan bagi mereka yang mencari produk eksklusif dan otentik. Tas-tas Rounn bisa digunakan dalam berbagai kesempatan baik itu formal ataupun harian.

Shopee Mall Rounn Official


Kenes Leather
Lahir di Jogja sebagai bentuk perwujudan dari produk kulit yang fungsional dan bernilai
estetika tinggi, Kenes mengusung desain yang elegan dan timeless. Semua produknya dikerjakan oleh pengrajin berpengalaman yang mengutamakan detail, kualitas bahan, serta kerapihan jahitan. Dengan begitu, diharapkan produknya dapat bertahan lama bagi pelanggannya.


Shopee Mall Kenes Leather Official Shop

Papillon

Papillon sudah menghadirkan produk kulit asli sejak tahun 1973 dari Bandung. Dengan keteguhan akan produk handmade kulit asli berkualitas, Papillon terus berinovasi dalam menciptakan produk yang menonjol dan terlihat mewah. Melalui sistem quality control yang ketat, produk Papillon terbukti dapat bertahan selama lebih dari sepuluh tahun.

Shopee Tas Papillon Leather

Reven Leather

Dari Malang, ada tas kulit asli brand Reven, yang menambahkan unsur kebanggaan selain kualitas dan keawetan pada produknya. Dengan kulit sapi lokal  yang diolah kreatif oleh pengharjin lokal pula, produk Raven siap menjadi pilihan tas yang bisa menambah kebanggaan pemakainya. 

Shopee Mall Reven & Alona Official Shop


Garut Kulit

Dimulai dari usaha pembuatan jaket sejak 2012, usaha Garut Kulit kini sudah merambah ke berbagai produk kulit asli lain, salah satunya tas. Hingga pada 2015 berhasil mengekspor produk, lalu pada 2016 sudah terdaftar merk di HAKI, dan sejak 2018 produk Garutkulit sudah dikirimkan ke berbagai negara antara lain Amerika. Australia, serta Hong Kong.

Shopee Mall Garut Kulit Official


Sendy Leather

Sendy Leather hadir sebagai produsen untuk memenuhi keinginan ibu-ibu dengan selera terkini dan mengutamakan kualitas, daya tahan, serta fungsional. Kulit yang digunakan oleh Sendy ini adalah kulit sapi asli dengan kualitas full grain dari sapi lokal java box. Selain itu, Sendy Leather juga memberikan garansi purna jual selama setahun penuh yang meliputi garansi jahiran, hardware, hingga ritsleting.

Shopee Mall Sendy Leather


Nah, itu dia pertimbangan dalam memilih tas kulit asli dan rekomendasi brand lokalnya. Ingat, beli jika butuh, beli sesuai kebutuhan. Mau tidak berarti perlu. Mampu tidak berarti harus. 



Salam, Nasha

Daripada tulisan tentang apa saja yang ingin aku dapatkan di tahun ini, aku akan mengawali dengan kilas balik apa saja yang sudah aku terima di tahun sebelumnya, 2025. Ini sebagai upaya kecilku untuk menggeser fokus dari mengejar apa yang harus dicapai, ke sadar pada apa yang sudah aku punya. Pelan-pelan menjadi diri yang lebih sadar, lebih mudah merasa cukup, dan lebih banyak bersyukurnya.




2025 di Negeri Ini

Aku tidak memungkiri gejolak di tahun 2025 yang makin terasa hadeeh, bahkan dengan meme Hidup cuma sekali, tapi terlahir WNI. Iya, aku gak bisa menceritakan hidupku tanpa menyinggung status sebagai warga negara. Karena diakui atau tidak, kehidupan kita memang dipengaruhi dengan keadaan negara. Keadaan negara tentu banyak dipengaruhi oleh para penyelenggaranya alias pemerintah (perlu jeda sebentar nih, kalau udah nyebut kata ini.)

Aku gak terlalu ingat apa aja yang terjadi di awal tahun, kecuali dimulainya MBG :)
Iya, program ambisius untuk mengenyangkan banyak warga itu. Program yang uangnya didapat dari pengalihan anggaran sektor-sektor lain, seperti kesehatan dan pendidikan itu. Udah, ya. Segera lanjut ke idul fitri, di mana aku mudik.

Setelah merantau cukup jauh begini, aku baru merasakan susahnya mudik. Jelas, yang paling susah adalah mengumpulkan uangnya. Baru paham gimana perjuangannya orang yang merantau dan memutuskan rutin mudik tuh. Tiket domestik kita tuh emang gak main-main mahalnya. Mau nyalahin, tapi udah banyak banget kesalahannya. Jadi, aku pilih banyak-banyak berdoa aja :)

Setelah lebaran, ada lebaran lagi. Aku kilas balik seingatku sebagai warga yang pasti hidupnya terdampak aja ya. Lalu, sampailah kita di Agustus, dengan simbol pink-hijau. Dari sini, aku dapat pemahaman baru, betapa mudahnya kita terpecah dengan konflik horizontal. Gak fokus sama topik utamanya. Protes ke pemerintah itu bisa banget bergeser fokusnya ke kritik sesama warga, gara-gara simbol pink-nya lah, omongannya kasar lah, statement yang gak selaras lah, latar belakang pendidikan lah. Kenapa, sih? Tuh, tokoh publik yang harusnya bertanggung jawab aja statement-nya banyakan omong kosong, pendidikannya pun, udahlah rendah gak jelas pula.

Terakhir, ada bencana Sumatera. Mungkin gak sih gak marah sama keadaan ini? Rumah orang tuaku gak terdampak langsung,  tapi dua minggu air gak nyala. Tiap hujan deras, ada banget kekhawatirannya. Nggak, ini bukan bencana alam, ini kejahatan. Sumatera Barat itu sering gempa, sering longsor, dari dulu. Kita gak ribut, gak mempermasalahkan jalan buka tutup atau terputus sama sekali.  Tapi kali ini dampaknya terlalu besar, penanganannya terlalu lambat, dan penyebabnya jelas, keserakahan dan ketidakadilan. Gimana gak marah?

Kayanya kuartal terakhir tahun lalu itu rasanya capek banget. Tiap hari ada aja berita negatif. Sedih, iya. Kecewa, iya. Marah, jangan ditanya. Pinginnya cepat-cepat ganti tahun aja, berharap semua akan dimulai dari awal dari hal-hal baik. Padahal, ya enggak. Pergantian tahun kan persoalan angka aja, kita tetap melanjutkan hidup dengan status dan keadaan saat ini.


2025-ku

Aku menghabiskan tahun ini di perantauan, di pulau yang berbeda dengan orang tua dan mertua serta seluruh sahabat-sahabatku. Gimana ya rasanya?

Awalnya jelas sulit dan banyak penyesuaian yang aku lakukan. Gak ada yang bantu urusan rumah tangga (biasanya ada, tapi pas di sini kok rada drama jadi ya udah skip dulu), terus jauh dari mertua (yang biasanya siap sedia dengan bawaan lauk, makanan, dan bala bantuan), jauh juga ari orang tua (yang biasanya meski jauh, bisa aja tiba-tiba datang), dan bada di kota yang aku gak tahu sama sekali sebelumnya. Aku cuma pernah berkunjung ke Kalimantan, itupun ke kota besar. Saat ini aku tinggal di Kabupaten, dengan segala keterbatasannya itu. Wah!

Tapi, aku bertahan! Yeay! Ternyata, aku baik-baik aja. Alhamdulillah, semua bisa dijalani. Aku dan suami makin mengandalkan satu sama lain. Aku jadi punya kontrol penuh ke anak-anakku. Kami punya kesempatan yang lebih besar untuk bisa bekerja sama. Kami pun secara gak langsung belajar hidup lebih sadar, lebih sederhana. Punya pov tentang cara hidup yang somehow lebih slow.  Kenal dengan orang dari berbagai latar, paham dengan perbedaan, dan sadar kalau yang kita punya itu ya yang ada sekarang ini aja. Selagi aku tulis dan pikir begini, wah, hebat juga ya pemberian Allah atas hidupku.

Terus, di tahun ini bukuku akhirnya terbit! Judulnya, HIDUP KITA YANG BAIK-BAIK SAJA. Ada versi cetak dan digitalnya!

Aku gak mau merendah lagi, aku mau berbangga hati! Aku nulis buku ini gak gampang, butuh waktu lama dan tenaga yang gak sedikit. Aku meluangkan waktu dan energiku untuk mengolah pengetahuan, pengalaman, juga perasaanku untuk buku ini. Bahkan aku menghadiahi pembeli dengan kartu yang bisa ditanam, jurnal elektronik, serta wallpaper. Aku semua yang bikin. Aku harus menghargai diriku dan apa yang aku kerjakan. Aku bangga sama aku.

Aku juga terus melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan. Bahkan, udah memaksakan diri untuk disiplin ngonten! Wah, challenging sih jujur. Tapi, terlalu banyak batas idealis yang aku punya sehingga growth-nya susah signifikan. Terus, ada prioritas lain juga yang bikin aku gak bisa fokus ke sana doang. Ya udah, gak apa-apa. Selama aku memutuskan dengan sadar. Toh, niat awalnya emang buat sharing hal (yang menurutku) baik.

Terakhir, sebagai pribadi, aku juga terus berbenah. Aku gak mau claim aku sudah berubah, sudah belajar, sudah memperbaiki. Gak bener begitu juga. Tapi, aku berusaha untuk memanfaatkan apa yang aku punya untuk melakukan apa yang aku bisa. Urusan lainnya, aku serahkan pada Sang Maha Punya. 

Dan, selamat memasuki 2026 dengan sadar ya, semua!



Salam, Nasha

Kota Padang memiliki banyak pilihan sekolah untuk anak-anak, terutama usia 6 tahun ke atas. Pilihan SD tersebar di seluruh kecamatan, baik SD Negeri maupun SD Swasta. Untuk SD Swasta pun, ada beragam kategori yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga. Ada sekolah umum, sekolah internasional, sekolah Islam terpadu, hingga sekolah Kristen. Dari ratusan SD yang ada tersebut, beberapa di antaranya telah menunjukkan komitmen yang baik pada kualitas pendidikan mereka, yang dibuktikan dengan raihan akreditasi A.

Daftar SD Swasta di Kota Padang dengan Akreditasi A bisa dilihat di bawah ini lengkap dengan perbandingan antara jumlah guru dan tenaga pendidik dengan jumlah siswanya, untuk memperkirakan kapasitas sekolah dan pengajarnya. Beberapa juga dilengkapi dengan biaya yang dibutuhkan untuk pendaftarannya, kontak sekolah, serta pilihan TK di yayasan yang sama. Urutan tidak mencerminkan kualitas, ya. Nah, semoga bermanfaat!



SD Islam Al Azhar 32

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 39 : 704

Pendaftaran Rp 350.000

Uang Mahar Rp 13.500.000 - Rp 15.000.000 (TK Al Azhar - Non TK Al Azhar)

SPP Bulanan :

Rp 1.225.000 (Kelas Reguler)

Rp 1.325.000 (Kelas Bilingual / Tahfidz)

Uang Komite Sekolah Rp 250.000/ tahun

Uang Mahar TPQ Rp 300.000

Uang Buku dan Seragam : TBA

https://pmb.sdia32padang.sch.id/


SD Telkom

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 49 : 689

Uang Pendaftaran Rp 250.000

Dana Sarana dan Prasarana Rp 10.500.000 - Rp 11.500.000 (Kelas Reguler - Kelas Internasional)

SPP Rp 900.000 - Rp 1.100.000 (Kelas Reguler - Kelas Internasional)

Uang Pendidikan Rp 1.000.000/ tahun

Uang Seragam Rp 1.300.000 - Rp 1.400.000 (Laki-laki - Perempuan)

Extra Fooding (Makan Siang dan Snack) Rp 400.000 untuk 22 Hari

https://sdtelkom-pdg.sch.id/faq/


SD IT Adzkia 3

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 23 : 326

Uang Pendaftaran Rp 200.000 - Rp 300.000 (Internal - Eksternal)

Uang Pembangunan Rp 9.000.000

Uang PBM 1 Tahun Rp 1.750.000

Uang Komite Rp 300.000

Uang Bulanan Minimal Rp 1.300.000

Titipan Dana Rp 2.000.000 *dikembalikan saat siswa tamat

Uang Seragam Sekolah TBA

https://spmb.adzkiasumbar.or.id/index.php?page=biaya


SD Budi Mulia

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 36 : 586

Uang Pembangunan Rp 4.500.000

SPP + Konsumsi + Transportasi Rp 1.050.000

*Siswa yang tidak menggunakan transportasi sekolah Rp 700.000/ bulan

Administrasi Rp 150.000

6285263461868 (Bapak Sarli)


SD Kartika I- 10

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 28 : 390

Uang Pendaftaran Rp 150.000

Uang Pembangunan Rp 700.000 - Rp 800.000 (TNI - Umum)

Uang SPP Bulan Juli Rp 230.000 - Rp 240.000 (TNI - Umum)

Uang Kegiatan Siswa 1 Tahun Rp 400.000

Uang Seragam Perlengkapan Siswa Rp 1.745.000


SD Kartika I- 11

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 34 : 628

Uang Pendaftaran Rp 150.000

Uang Pembangunan Rp 700.000 - Rp 800.000 (TNI - Umum)

Uang SPP Bulan Juli Rp 335.000 - Rp 350.000 (TNI - Umum)

Uang Kegiatan Siswa 1 Tahun Rp 550.000

Uang Seragam Perlengkapan Siswa Rp 1.785.000


SD Yos Sudarso

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 11 : 115

Uang Muka Rp 1.000.000 - Rp 2.000.000


SD Setia

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 13 : 162

Biaya Formulir Rp 100.000

Uang Muka Rp 1.000.000 - Rp 2.000.000

SPP Bulanan Rp 275.000


SD IT Buah Hati

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 31 : 326

+62852 6350 1258

Uang Pendaftaran Rp 300.000

Uang Pembangunan Rp 4.700.000

SPP Rp 500.000

Uang Kegiatan Rp 500.000

Uang POMG Rp 10.000

Uang Seragam Rp 1.000.000 - Rp 1.190.000 (Laki-laki - Perempuan) 


SD Baiturrahmah

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 13  : 51

081216397587

Uang Pendaftaran Rp 150.000

Uang Masuk Rp 4.500.000

SPP Rp 630.000


SD RK II Fransiskus

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 18 : 282

Uang Muka Rp 3.500.000 - Rp 4.500.000


SD IT Cendekia Andalas

(0751) 811738

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 35 : 503


SD Pertiwi 2

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 31 : 485


SD Agnes

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 26 : 298

082379605822


SD Kristen  Kalam Kudus

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 13 : 172

082172783941


SD Dedikasi Edukasi Kualiva (DEK)

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 20 : 266


SD YARI School

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 17 : 254


SD Sabbihisma I

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 33 : 388


SD Tirtonadi

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 16 : 185


SD Kartika I-12

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 14 : 65


SD IT Arafah

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 13 : 117

wa.me/6282169405993


SD Pembangunan Lab UNP

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 28 : 391


SD Kemala Bhayangkari 01

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 12 : 94


SD IT Al Amin 

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 11 : 98


Kali ini aku mau cerita tentang hidupku yang berpindah-pindah dengan segala drama dan keseruan di dalamnya, sebagai peringatan setahunku tinggal di rumah yang sekarang. Banyak hal yang aku pelajari, yang aku pikir gak akan aku dapatkan kalau aku gak pindah-pindah begini. Bingungnya ada, capeknya juga ada banget. Tapi, seru, senang, dan leganya juga ada. Dan yang terpenting, kami tumbuh bersama sebagai keluarga!



Ke Ibu Kota

Aku lahir dan tumbuh besar di Tanah Minangkabau, sampai aku dianggap cukup dewasa dan diperbolehkan merantau. Ke mana lagi, kalau bukan ke Ibukota? Tempat pembangunan dipusatkan, segala kesempatan dan peluang tersebar di sana. Meski sudah sering bolak bali ke sini, aku tidak pernah benar-benar menyukai kota ini. Kesenjangannya terlalu terasa, begitu keluhanku selalu pada orang tua ketika melihat gedung-gedung mewah berdampingan dengan gelandangan yang untuk makan saja tidak ada biaya.

Mau bagaimana lagi? Ini pilihan terbaik yang aku punya. Menemukan peluang bersama dengan jutaan pencari kerja lainnya. Berdesakan, memasukkan lamaran, hingga aku sampai di satu perusahaan. Besar dan cukup terkenal. Jangankan orang lain, aku sendiri tidak menyangka bisa menjadi bagian di dalamnya.

Pelan-pelan aku berdamai dengan kerusuhan pikiranku sendiri. Aku juga berdamai dengan segala kemacetan dan kebisingan yang mengelilingi dalam perjalanan pulang pergi yang sungguh melelahkan. Syukurnya, jam kerjaku tidak normal. Aku berangkat pada siang, dan pulang tengah malam; setidaknya saat itu sebagian warga sedang melepas lelah di peraduan. 

Di kota serba ada ini, aku belajar tentang kemandirian sekaligus kemurahan. Kekuatan untuk hanya mengandalkan diri sendiri sekaligus kelapangan untuk bisa membantu orang lain. Aku lebih mudah berempati, karena tampaknya tidak ada yang tidak kesusahan di sini. Semua atau sebagian besar warga sedang berjuang sekadar untuk bertahan. Di sisi lain, aku juga paham pentingnya mengatur batasan, sebab tidak semua orang hadir dengan maksud baik, dan tidak semua orang pula bisa aku beri bantuan. Selain itu, aku jug belajar tentang makna bekerja keras. Benar-benar keras hingga kadang melupakan jati diri kita sebagai manusia.  

Beberapa tahun aku bertahan di sana. Belajar, bekerja, berteman, bersenang-senang, hingga menikah dan berumah tangga. Aku jadi punya banyak pemahaman tentang hidup modern dan dewasa, suka tidak suka. 


Berpindah ke "Jawa"

Fase hidup selanjutnya membawaku ke tengah Pulau Jawa, tempat tinggalnya orang-orang bersuku Jawa. Meski tidak asing dengan suku ini berkat garis keturunan ayahku, tetap saja aku tidak terbiasa. Apalagi di fase ini, aku benar-benar menjadi orang yang tidak hanya bertanggung jawab pada diriku sendiri tapi juga pada makhluk titipan Tuhan yang butuh begitu banyak pertolongan.

Di sinilah aku merasa hidup mendorongku makin dewasa. Aku kini mengurus keluargaku, dengan keputusan-keputusan yang bergantung pada pertimbanganku, dengan aku yang tidak bisa lagi bersandar atau menyerahkan urusan-urusan pada orang tua. Kini aku dan suamilah orang dewasanya. Ada banyak perasaan yang datang silih berganti. Kadang bingung, kadang sepi, kadang asing, kadang riang, dan tidak disangka cukup sering adalah hangat. 

Mudah sekali menemukan orang asing yang tersenyum di sini. Hanya dengan melakukan eye contact, kebanyakan akan tersenyum bahkan kadang mengangguk. Bukan melirik sinis seperti yang biasa aku terima di ibukota. Tidak jarang bahkan aku diajak bicara. Benar-benar definisi memanusiakan manusia. 

Di tempat di mana keramahan dan kehangatan mudah didapatkan dan pertolongan dengan cuma-cuma diberikan ini, aku yang terbiasa hidup hanya untuk diri sendiri, pelan-pelan belajar lebih peduli. Aku tahu rasanya disapa, diberi senyuman, diberi bantuan. Aku pernah mendapatkan sapaan dan senyuman tepat ketika air mataku nyaris muncul ke permukaan. Di hari yang berat, ternyata hal sederhana seperti itu bisa mencerahkan harimu. Maka, aku pun ingin melakukan hal serupa. Menjadi orang yang lebih hangat, lebih peduli, lebih ramah dari sebelumnya. Lebih baik sebagai manusia.  

Dalam fase yanng tidak mudah ini, di tempat yanng hangat ini, pelan-pelan aku mulai menerima keadaanku sendiri. Aku mulai berdamai bahkan menata kehidupanku kini. Aku menentukan apa saja yang ingin aku lakukan, apa hal-hal yang aku senangi, bagaimana rutinitas yang aku inginkan. Aku mengatur jadwal harian agar bisa memiliki waktu untuk mengurus diriku dulu, aku berkarya sesuai dengan apa yang aku senangi, aku juga bersosialisasi dengan orang-orang sekitarku, aku berusaha menikmati peranku dengan perspektif yang baru.

Di tengah perjalananku itu, aku didiagnosis skoliosis.

Kejutan- kejutan dalam hidup, yang ada-ada saja dan tidak begitu mengenakkan awalnya; telah mengantarkanku pada hal-hal yang aku syukuri hari ini. Kabar skoliosis yang baru aku ketahui saat itu, membuatku rutin berolahraga. Meski awalnya sangat terpaksa, karena aku tidak suka olahraga. Namun, lama-kelamaan aku bisa menikmatinya, bahkan menjadi kebutuhanku hingga saat ini. Mungkin itu adalah jalan untukku kembali menerima dan mencintai apa adanya diriku.

Tidak berhenti di situ, tidak berapa lama setelah aku muali berdamai dengan kondisi tulang punggungku, aku dihadapkan pada rasa sakit di gigi. Dari yang aku pikir hanya berlubang biasa ternyata perlu pencabutan gigi bungsu dan perawatan saluran akar. Seakan masih belum cukup, aku pun diharuskan membuat gigi tiruan. Iya, umur dua puluhan aku sudah pakai gigi palsu :)

Aku tidak akan menampik kalau beban terberat dari rangkaian pengobatan itu adalah biayanya. Aku tidak punya asuransi yang bisa menanggung keluhanku saat itu. Di hari ketika aku menangis sendirian membayangkan uang yang harus aku relakan, di saat itulah Allah memberikan jawaban. Langsung, tidak berlama-lama. Kembali aku diyakinkan bahwa Tuhan tidak mungkin menempatkan kita di suatu keadaan tanpa memberikan jalan penyelesaiannya. 

Ini rincian perawatan apa saja yang aku lakukan pada gigiku saat itu.


Sampai ke Kalimantan

Ketika aku mulai cukup menikmati dan settle dengan kehidupanku di Jawa itu, Tuhan memberikan pembaharuan lagi. Pagi itu, tiba-tiba aku dikenalkan dengan sebuah kota yang namanya tidak pernah terlintas dalam kepala. Di tengah Indonesia, di salah satu kabupaten di tengahnya. Kabar itu jelas saja mengejutkan kami semua. Tapi, yang lebih mengejutkan, kami bersama-sama nekat berangkat, langsung berpindah tempat.

Aku ingat kedatangan kami tengah malam di kota asing ini. Tentu lebih kecil dari tempat lain yang pernah aku tinggali. Jalan lintasnya lebih banyak gelap daripada terang. Oh, seingatku memang tidak ada lampu jalannya. Sebagian besar dikelilingi oleh perkebunan, tentu saja tanpa penerangan. Pusat kotanya, cukup terang tapi tidak gemerlapan dan jangan dibandingkan dengan kota-kotaku sebelumnya. 

Ini penyesuaian yang butuh usaha lebih untukku. Karena semuanya memang berbeda, tampak nyata. Bangunannya, jalanannya, fasilitasnya; tidak ada yang sama. Sulit menemukan sekolah jika hanya mengandalkan internet atau Google review. Hanya ada satu rumah sakit di sini. Jalanan utama hanya bisa dilalui dua mobil di satu ruasnya, yang artinya kalau ruas kiri dipakai parkir berarti hanya tersisa satu ruas lagi. Rasa makanannya juga cukup asing di lidahku, tapi syukurlah aku pemakan segala. 

Semua perbedaan itu masih bisa aku hadapi. Aku benar-benar berusaha untuk melihat hal-hal baik di sini. Hari yang lebih simple, lokasi yang berdekatan, tidak adanya kemacetan, dan orang-orang yang baik. Hanya saja, jaraknya cukup jauh dengan sanak keluarga. Perlu dua kali penerbangan bagiku untuk pulang ke orang tua, itupun hanya ada satu penerbangan sehari kalau tidak cancel. Kalau ke mertua, bisa satu kali penerbangan tapi jadwalnya hanya tiga kali seminggu. Harga tiket mudikku? Saat aku banding-bandingkan hampir sama dengan dari Jakarta ke Korea :)

Maka, di sinilah kami, mengandalkan satu sama lain. Tanpa bisa pulang dan tanpa ada kunjungan ketika rindu. Kalau sebelumnya, aku bisa ke mertua setidaknya dalam sekali sebulan dan dikunjungi orang tua seminimalnya sekali dalam satu tahun dan bahkan didatangi teman-temanku juga; di sini kami hanya punya kami. Hanya tetangga dan rekan seperjuangan, hanya orang-orang yang aku temui di berbagai kesempatan, hanya mereka-mereka yang bersimpangan jalan. Terlepas dari itu, hanya ada kami yang saling mengandalkan.

Begitulah, sekilas cerita dariku di tempat-tempat yang aku tinggali. Aku percaya tidak ada hal yang sia-sia, termasuk dalam hal penempatanku ini. Mungkin orang belajar dan berjuang dengan menetap, mungkin jalanku belajar dan berjuang justru dengan berpindah-pindah begini. Semacam petualangan bagiku untuk mengenal dan memahami tempat-tempat baru!



Salam, Nasha

Kasus-kasus hangat yang terjadi belakangan membuatku cukup banyak berpikir tentang kecenderungan kita sebagai masyarakat luas. Ketika ada hal yang salah, kekeliruan, tindakan menyimpang; yang tidak mempengaruhi kita secara langsung, kita biasanya memilih diam. Mulai dari teman sekolah yang diolok-olok, pelecehan ringan di tempat kerja, bahkan perselingkuhan. Ada banyak alasannya, padahal hal-hal ini sebenarnya bisa dicegah atau setidaknya ditekan andai saja kita berani bersuara. Miris memang, ketika kita dikenal sebagai warga dengan tingkat kolektivisme tinggi tapi pada hal-hal tertentu mayoritas kita memilih diam.



Pengalaman yang Mungkin Pernah Kita Alami

Aku pernah di-bully, pernah banget. Sedih, iya. Kesal, iya. Tapi, perasaan itu tidak semembekas ketika aku menjadi saksi dari tindakan perundungan.

Kejadian ini sudah lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika aku masih sekolah. Seorang teman dirundung oleh seorang guru. Iya, guru. Dia sedang mengajar di kelas, ketika berkomentar merendahkan begitu. Guru. Di kelas. Merundung. Tiga kata yang seharusnya tidak pernah ada dalam satu sambungan kalimat. Kepalaku mendidih. Rasanya ingin kuludahi saja wajahnya. Tapi, tidak ada satupun dari kami yang merespons kejadian itu. Semua hanya terdiam. Temanku itu sempat menjawab, terdengar datar seperti ia biasanya. Sungguh, aku tidak tahu apa yang ia rasakan, karena sampai sekarang aku tidak pernah berani menanyakan. Sampai sekarang, aku menyesal. Sangat menyesal. Kenapa aku tidak bisa membelanya? Kenapa tidak bisa aku menunjukkan keberpihakanku, sih?!

Tahun-tahun berikutnya, kejadian serupa masih aku temui, meski rasanya tidak semembekas sebelumnya. Subjek dan objek yang sama. Pengajar kepada murid. Bahkan beberapa di antara murid ikut tertawa, padahal setelah aku pikir-pikir sekarang, ini bisa disebut pelecehan. Saat itu, kami hanya bisa misuh-misuh dan ngamuk di belakang. Tidak ada yang berani melawan otoritas tertinggi di kelas, begitulah kira-kira pikir kami saat itu.

Belakangan, seiring dengan meningkatnya kasus perundungan di Indonesia dan maraknya media sosial; aku baru menyadari apa yang aku alami dan saksikan dulu itu termasuk bullying, perundungan. Mungkin teman-temanku yang menjadi saksi, yang menjadi korban; juga baru menyadari hal itu. Mungkin kamu juga pernah mengalami hal serupa? Kejadian yang rasanya tidak tepat, candaan yang rasanya tidak lucu bahkan tidak nyaman untuk didengarkan, tindakan yang tampaknya justru menyakitkan; tapi selama ini kamu diam. Simply, karena tidak tahu kalau itu salah.


Meningkatnya Kesadaran Kita 

Untuk perundungan sendiri, kesadaran akan kejadian itu baru meningkat sekitar tahun 2021 di mana laporan kasus bullying meningkat hingga tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan partisipasi di media sosial juga mendorong percepatan informasi akan hal ini, sehingga edukasi yang disampaikan baik oleh lembaga resmi maupun perseorangan menjadi lebih cepat tersampaikan.

Sayangnya, mengubah bentuk pemahaman menjadi tindakan nyata tidak semudah itu. Banyak orang yang kini sudah tahu, sudah paham; tapi belum berani melakukan apa-apa. Mungkin karena masih diliputi keraguan, belum terlalu paham caranya, atau karena belum terbiasa menyaksikan atau melakukannya. Padahal, diam bisa memelihara tindakan keliru.

Jika kita coba telaah faktor penyebabnya, ada beberapa teori yang bisa menjabarkan hal ini. Beberapa di antaranya memang terjadi di seluruh dunia, tapi sebagiannya karena budaya hidup kita.

Dalam psikologi, dikenal fenomena bystander effect, di mana seseoang cenderung tidak melakukan tindakan apa-apa ketika ada banyak saksi lainnya. Dorongan berupa, "Ah, udahlah. Ada dia, biar dia aja yang bertindak." Bayangkan, semua yang ada di sana berpikiran serupa. Akhirya  tidak ada yang melakukan apa-apa. 

Dengan banyaknya orang yang melihat, juga ada semacam pengaruh sosial yang membuat kita mempertimbangkan dulu reaksi orang lain. Kalau orang lain diam, kita cenderung akan ikut diam. Belum lagi, terpengaruh karena tidak ingin terlihat aneh, menonjol, ataupun takut salah intervensi. Hal-hal ini disinyalir menjadi faktor yang menyebabkan banyak saksi memilih diam, meski tahu ada tindakan keliru di depan matanya.

Cara kita hidup bermasyarakat juga ikut berperan. Seperti yang tadi disebutkan, tentang kolektivisme. Kecenderungan ini seperti pisau bermata dua. Kita memang lebih mudah bekerja sama, tapi di sisi lain kita pun jadi lebih sulit untuk melakukan tindakan yang berbeda. Kita menjaga keharmonisan sampai sulit melakukan konfrontasi spontan. Kita memilih diam untuk tetap damai daripada melakuan sesuatu yang dapat menimbulkan konflik terbuka.

Selain itu, kita juga punya kepedulian yang cukup tinggi terhadap label sosial, "apa kata orang?" Ini membuat kita lama mempertimbangkan sebelum memutuskan sesuatu. Menimbang apakah kita sanggup menghadapi reaksi setelahnya, baik itu dianggap ikut campur, dikomentari negatif, dianggap sok pahlawan, dikucilkan, dan seterusnya. 

Belum lagi dengan ketidakpastian sistem saat ini. Berapa banyak pengaduan yang ujungnya malah disuruh damai saja? Berapa banyak laporan yang berakhir makin merugikan korban?

Sampai sini, aku cukup paham kenapa kebanyakan kita diam melihat penyimpangan. Tapi, sekali lagi, ini bukan pembenaran. 


Mengubah Kesadaran Menjadi Tindakan

Penjelasan tentang faktor-faktor penyebab tadi hanya sebagai jembatan untuk memahami kalau apa yang terjadi selama ini cukup bisa dimengerti. Apalagi, kita belum terlalu aware dengan isu-isu tersebut. Tidak tahu, kalau mengolok-olok itu adalah tindakan salah. Tidak tahu kalau kita boleh melawan jika menyaksikan kejadian demikian, meskipun pelaku adalah orang yang statusnya di atas kita (dalam kasusku, guru). Tapi, aku tekankan. Ini bukan alasan ke depan. Kita udah paham. Kita udah sadar. Ketidaknyaanan yang selama ini kita rasakan itu, benar. Maka, sudah sepatutnya kita bertindak. Tidak ada lagi pembenaran dalam diam. 

Dengan kesadaran, diam kita justru menjadi senjata yang menyuburkan tindakan salah. 

Dengan kita diam, pelaku merasa apa yang ia lakukan itu tidak salah, bisa diterima, sehingga dia akan terus melakukannya. Mungkin saja dia sebenarnya tahu kalau tindakannya salah, tapi karena tidak adanya teguran, tidak ada konsekuensi, maka ia tidak akan merasa bersalah. Di sini, diam kita menjadi reinforcement pasif. Pola yang sama akan terus berulang. Makin lama, batas antara benar-salah, baik-buruk, jadi semakin samar. Hal yang sebenarnya salah dan buruk bisa saja dianggap benar dan baik, karena tidak ada yang mempermasalahkannya. 

Ini tidak hanya soal perundungan di sekolah, tapi juga setelah kita dewasa ini. Di tempat kerja, misalkan. Pelecehan seksual terutama pada perempuan masih sering terjadi. Jika ada yang protes, dianggap baper atau terlalu sensitif. Kalau ada yang menegur, dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi. Begitu juga dengan perselingkuhan, yang jelas-jelas salah. Jangan sampai hal-hal ini menjadi penyimpangan yang tidak lagi terasa menyimpang saking didiamkannya.

Lagipula, coba bayangkan sebagai korban. Sudahlah disakiti, tidak ada yang membela, mau bersuara juga tidak bisa. Beban yang ia tanggung makin berat karena merasa sendiri, tidak ada yang peduli, tidak ada yang menganggap apa yang ia alami sebagai hal penting. Mungkin ia juga jadi punya kepercayaan sabar bahwa justru dialah yang salah, ia yang terlalu sensitif, ia yang lemah, ia yang kurang sabar. Sedih, kan?

Jujur, menulis ini pun menakutkan untukku. Bagaimana kalau ada kejadian serupa yang aku saksikan? Bagaimana kalau keberanianku diuji supaya aku benar tidak lagi diam? Tapi, aku didorong dengan keinginan menjadikan lingkungan yang lebih baik untuk anak-anakku. Aku tidak ingin mereka tumbuh dalam lingkungan yang menormalisasi penyimpangan. Aku ingin mereka tumbuh berani menegakkan kebenaran. Setidaknya, kali ini, aku ingin menjadi jelas di pihak mana kakiku aku injakkan.



Salam, Nasha

Tiga dekade sudah berlalu sejak kehadiranku di muka bumi ini. Usia dengan pertumbuhan yang sudah sempurna, otak yanng sudah berada pada ukuran paling besarnya. Jelas, aku sudah dewasa. Sepanjang perjalanan itu, ada banyak hal yang berubah dariku. Mulai dari di mana aku tinggal, peran yang aku emban, mimpi-mimpiku, serta bagaimana jalan pikiranku. Aku senang, setidaknya itu menandakan kalau aku berkembang. Perubahan adalah tanda kita mengalami pertumbuhan, kan? Tidak memenuhi standar orang pada umumnya tidak apa, aku hanya akan fokus pada kesadaran aku ada di mana dan hendak menuju ke mana. 



Ternyata emang gak semua hal perlu kita ikuti

Orang mungkin mengenal istilah joy of missing out sebagai counter dari fear of missing out; bahwa gak semua yang lagi tren, viral, hype; terutama di media sosial, perlu diikuti. Tertinggal dari tren ternyata hal yang cukup baik, bahkan bisa jadi menyenangkan. Dalam kehidupan nyata, prinsip ini juga bisa kita terapkan, dengan lebih luas, dengan lebih dalam. Dalm memberlakukan standar orang misalkan. 

Aku cukup yakin, sebagian besar kita hidup di tengah ekspektasi. Bahkan sejak bayi. Aku tidak bicara soal kurva tumbuh kembang yang jelas ada sumber ilmiahnya, tapi standar-standar lain yang diciptakan dalam masyarakat, kemampuan berbicara dan berjalan, contohnya. "Kok, umur segini belum bisa begini, sih?" Selain dikaitkan dengan usia, kadang juga dihubungkan dengan perkembangan anak-anak tetangga. "Eh, si itu umur segitu udah bisa ini itu, tuh."

Padahal, menurut dokter yang merawatnya, perkembangannya masih sesuai. Tidak ada masalah, tapi tetap saja dibanding-bandingkan. Apa begitu sulit dipahami, setiap anak berbeda-beda perkembangannya? Setiap kita, setiap individu itu juga berbeda-beda proses dan jalannya?

Tidak berhenti di situ, perbandingan dan standar tak kasat mata akan terus membayangi kita hingga dewasa, atau mungkin hingga nanti tua. Ada ekspektasi tentang apa yang harusnya dilakukan atau dicapai setiap pertambahan usia. Mulai dari umur patut untuk masuk sekolah, dengan perdebatan yang melibatkan bukan hanya orang tua tapi seluruh keluarga bahkan juga tetangga untuk usia enam atau tujuh mendaftarkannya. Lalu, lulus usia berapa, masuk jurusan apa, lulus lagi mau bekerja di mana?

Semuanya memiliki standar yang entah dari mana asalnya. Seperti prosedur yang mengatur hidup dari sekolah, bekerja, menikah, memiliki anak. Diberlakukan pada semua orang. 

Membayangkan begini saja sudah lelah rasanya, apalagi benar-benar menjalaninya. Itulah kenapa, bisa terlepas dari standar yang ditentukan itu akan terasa menyenangkan. Melegakan rasanya bisa tidak terikat dengan ekspektasi orang tentang bagaimana hidup harusnya dijalankan. Memiliki standar dan definisi sendiri, bagaimana hidup yang layak dijalani. Karena pada akhirnya, orang hanya akan berbicara, sedangkan kita yang bertanggung jawab atas segala konsekuensinya.

Jadi, dalam perjalanan panjang ini, aku pelan-pelan sudah berdamai dengan ke mana hidup telah membawaku. Setiap hari aku memilih diriku sendiri. Setiap pilihan yang muncul, aku berusaha untuk lebih mendengarkan diriku daripada menjawab pikiran tentang apa kata orang. Aku menentukan pilihan sesuai dengan apa yang mau aku tanggung. Aku tidak lagi mau memusingkan standar apa yang orang-orang taruh padaku. Ternyata, rasanya jauh lebih ringan, lebih lapang, lebih damai. 


Hidup Itu Mengerjakan bukan Mendapatkan

Sejak kecil, kita, aku, diajarkan untuk melakukan ini itu agar bisa mencapai ini itu, menjadi ini itu. Fokusnya selalu pada nilai, peringkat, hasil. Jarang, bahkan seingatku tidak ada, yang membicarakan prosesnya. Bagaimana aku melakukannya, apakah sudah sesuai dengan nilai dan etika, apakah aku melukai orang dalam prosesnya. Tidak ada yang peduli.

Mungkin itu kenapa, ketika dewasa, seringnya kita merasa begitu tertekan. Seperti tergesa-gesa untuk menggapai ini itu. Kecewa saat sudah mengusahakan tapi tidak menghasilkan juga. Perasaan-perasaan yang memberatkan kita karena fokusnya di mendapatkan, mengumpulkan apa-apa saja yang bisa dianggap keberhasilan, mewujudkan apa yang digambarkan orang -orang tentang kesuksesan.

Padahal, sudah terang diulang-ulang, hasil tidak pernah kita yang tentukan. Rencana selalu bersama dengan kejutan yang tak terduga. Tiba-tiba hidup membelokkan kita ke arah yang berbeda. Biasaaa. Memang begitulah hidup ketika dewasa. 

Kalau sebelumnya aku menyebutkan tentang melepaskan bagaimana standar yang orang tentukan tentang hidup, kali ini kita bisa fokus pada hidup sendiri. Bukan pada apa yang akan kita dapatkan, tapi lebih fokus pada apa yang kita lakukan. Dengan apa yang lau punya saat ini, aku bisa melakukan apa saja. Dengan tubuh, waktu, ruang, kesempatan; yang ada padaku hari ini, apa yang bisa aku lakukan secara optimal? Jawabannya tentu berbeda dari masing-masing kita, tergantung keadaannya. Tapi fokusnya sama, lakukan yang terbaik yang kita bisa.

Tentu, kita mendapati ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Banyak sekali pilihannya. Coba kerucutkan dengan hal-hal yang dapat mendekatkan kita pada tujuan, apapun itu. Sesuaikan saja dengan definisi hidup yang sudah kita tentukan sebelumnya. Fokus saja di sana, meski kelihatannya bukan pencapaian, meski kelihatannya tidak menghasilkan, tidak apa-apa. Tugas kita hanya berusaha.

Mungkin akan ada bias ketika memilih cara seperti ini, antar damai dengan hari yang dijalani atau tidak terpacu untuk meraih ini itu. Menurutku, kita bisa ada di antaranya. Merasa terpacu pun tetap bisa damai. Keduanya bisa beriringan. Hari ini aku menulis, berbayar atau tidak, yang penting aku lakukan. Hari ini aku bekerja, entah dihargai atau tidak, aku lakukan dengan kemampuanku secara optimal. Kalau aku merasa apa yang aku lakukan tidak sepadan, aku usahakan hakku dengan cara yang sudah ditentukan. 

Dalam jangka panjang, aku berusaha untuk tidak fokus lagi dalam mengumpulkan pencapaian, tapi mengumpulkan hal-hal baik yang aku lakukan. Aku sudah melakukan ini, aku sudah melakukan itu. Aku berupaya untuk mengupayakan yang terbaik yang aku bisa dengan apa yang aku punya. Aku akan bertanggung jawab dengan waktu dan anugerah yang telah diberikan padaku.

Tentu aku paham, dunia dewasa tidak sesederhana itu. Ada banyak sekali tuntutan dan tekanan, tapi lagi-lagi, seringnya itu pilihan kita apakah tekanan itu benar menekan kita atau tidak. Mungkin segala kegundahan yang kita rasakan ini adalah pertanda bahwa semua itu sudah melampaui kemampuan kita, mengendalikan apa yang tidak kita bisa. Mungkin pertanda kalau kita sudah mengambil pekerjaan Tuhan dalam menentukan apa yang harusnya kita dapatkan. Mungkin sudah saatnya kita kembali pada jati diri kita yang tidak berdaya. Lakukan, lalu serahkan. Kerjakan semaksimalnya, serahkan hasilnya. 



Salam, Nasha

Tahun ini, Indonesia ternyata sudah berusia 80 tahun. Cukup tua di Asia Tenggara, meski masih jauh dari usia negara-negara lain di dunia. Kenyataannya, ada banyak hal yang terjadi pada perayaan tahun ini. Ada yang serius dengan harapannya pada ibu pertiwi dan ada pula yang nyeleneh menyampaikan pandangannya. Tidak hanya perayaan, sepanjang bulan ini juga ada kejadian yang melegakan dada, banyak pula yang menyesakkan. Semua turut serta mewarnai perayaan kemerdekaan Indonesia. 



Indonesia, Tanah Tercinta

Tidak hanya luas, Indonesia memiliki pesona yang sulit ditandingi. Tidak perlu diragukan tentang kekayaan alam yang ada. Tanahnya yang kaya dengan pemandangan luar biasa. Ke mana mata ingin melihat, di situ kita bisa mengucap syukur atas keindahannya. Gunung dan perbukitan menjulang dengan gagahnya, hamparan hutan rimbun menyegarkan, lautan mengelilingi dengan magisnya. Semua karunia yang mudah kita dapatkan dengan berada di Indonesia. 

Setidaknya saya sudah menginjakkan kaki di empat pulau besar di Indonesia, bahkan sudah tinggal di tiga di antaranya. Kekayaan alam dan pemandangan fantastis memang tidak perlu diragukan. Lebih dari itu, saya juga mendapati bahwa setiap daerah memiliki keistimewaannya masing-masing, yang menambah kaya negeri kita. Dari sebuah tanah yang penuh aroma rempah, kita dapat mengenal kehidupan yang lekat dengan tradisi. Dari wilayah yang lebih padat, kita mengenal tentang kemajuan peradaban serta keanekaragaman masyarakat yang bisa saling peduli. Serta dari bumi yang dikelilingi hutan dan perkebunan, kita dapat merasakan bahwa hidup ini adalah soal ketenangan. 

Belum lagi perihal sajian makanan. Keunikan rasa tiap daerah adalah kemakmuran yang mustahil diabaikan. Ada masyarakat yang menyukai sajian penuh bumbu dan rasa yang kuat, ada yang memilih paduan rasa lebih sederhana dengan penambahan sedikit gula, ada pula yang berhasil memadukan preferensi keduanya. Ada yang masih mempertahankan proses pengolahan dari nenek moyang, ada pula yang berhasil menyulap sajian internasional dengan kearifan lokal. Semua menawarkan kenikmatan yang sayang sekali untuk dilewatkan. 

Hal tidak kalah penting yang menambah kecintaan saya adalah warganya. Mudah sekali menemukan orang asing yang bersedia menyapa bahkan membantu. Di sinilah, ita bisa mendapati sapaan tulus menghangatkan hati bahkan tidak mustahil bisa menyelamatkan hari. Gotong royong adalah semangat yang sudah mendarah daging, kebersamaan menjadi dasar utamanya. Dari tetangga hingga pedagang, dari kerabat dekat hingga orang yang baru pertama ditemui, semua menghadirkan pengalaman manusiawi yang membuat hidup terasa lebih berarti dan ringan dijalani.

Kehangatan ini berpadu dengan nikmatnya sajian dan indahnya pesona alam, bagaimana mungkin tidak jatuh cinta? Sayangnya tidak sedikit catatan yang mencederai rasa cinta saya itu. 



Indonesia di Tengah Harapan dan Tantangan

Dengan seluruh keistimewaan itu, tidak salah jika kita berharap bisa hidup sejahtera di tanah Indonesia. Apalagi sudah 80 tahun merdeka, paling lama se-Asia Tenggara, jika mengecualikan Thailand yang tidak pernah dijajah sebelumnya. Apalagi kita punya cita-cita besar menjadi bangsa emas 20 tahun dari sekarang. Namun kenyataannya, makin hari hidup tidak terasa makin mudah, malah makin susah. Bukan hanya faktor ekonomi, tapi juga aspek lain yang membuat bertahan hidup makin terasa menantang.

Setidaknya sebulan ke belakang, ada banyak sekali topik negatif yang menjadi bahan perbincangan. Mulai dari berita korupsi yang seakan tidak ada habisnya, kualitas pendidikan yang seperti jalan di tempat, meningkatnya harga kebutuhan pokok, hingga isu lingkungan yang tak tampak ada jalan penyelesaian. Dinamika politik para pejabat dan kebijakan publik pun kerap menimbulkan pro kontra yang membuat gaduh ruang media sosial. 

Apa yang diributkan hingga memicu aksi demo sebenarnya bukan hanya karena satu dua persoalan angka, tapi lebih pada menumpuknya persoalan yang sudah ada, ketidakjelasan prioritas pengurus negara, dan cara komunikasi yang buruk. Secara berkala, ditemukan kasus korupsi dengan nilai yang bisa membiayai banyak hal urgen di negeri ini, kesehatan dan pendidikan salah duanya. Sedangkan dana tersebut malah dialihkan demi kesejahteraan segelintir pihak saja. Ketimpangan yang terjadi antara rakyat dan wakilnya inilah yang paling membuat frustasi. Di satu sisi, warga sulit mendapatkan sumber penghasilan, begitu mendapatkan pun harus dipotong untuk dana kebersamaan. Ternyata bukannya digunakan untuk pembangunan malah digunakan untuk kemakmuran sebagian pengelolanya. Bagaimana warga tidak murka?

Saya sampai tidak habis pikir, bagaimana orang bisa se-serakah itu? Sudah tampak memiliki segala, tapi masih mengambil milik orang lain juga. Mungkin ini yang disebut, orang haus minum air laut, tidak akan pernah tercukupi.

Padahal ada banyak masalah lain yang lebih mendesak untuk diperhatikan. Lingkungan. kesehatan, dan pendidikan. Di saat negara lain berlomba-lomba untuk mencapai zero carbon, kita masih sibuk memerdebatkan izin tambang baru. Di tengah kota dan negara dunia yang sibuk mengelola sampah dan membuat kebijakan mencapai tingkat kebersihn tinggi, kita masih berkutat dengan penuhnya tempat pembuangan akhir hingga menjadi wilayah berpenyakit bagi warga sekitar.

Penyakit dan kesehatan juga menjadi persoalan serius, apalagi dengan ditemukannya kasus luar biasa dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin dan lingkungan yang bersih. Dari tahun ke tahun, kasus berbagai jenis penyakit menunjukkan penyelesaian yang tidak sampai ke akar. Sebagian besar karena adanya gap antara pencegahan dengan pengobatan, khususnya pada kesadaran masyarakat sendiri dan lingkungan yang mereka tinggali. Ketersediaan air bersih dan rumah layak huni adalah aspek wajib yang harus dipenuhi. 

Ironi kesehatan lainnya adalah hak udara bersih yang masih perlu diperjuangkan secara mandiri. Bukan hanya alat penjernih udara yang harus diusahakan sendiri, tapi juga kebijakan yang mendukungnya. Perokok aktif masih berkeliaran mengembuskan asapnya di mana saja, tanpa perlindungan pasti pada orang-orang di sekitarnya. Bahkan banyak orang yang sungkan untuk menegur mereka, untuk mendapatkan haknya berupa udara bersih. Makanan instan dalam kemasan pun masih merajalela di media hingga warung-warung warga, menjadi pilihan mudah dan murah untuk dinikmati. Gaya hidup sehat yang digaungkan akun-akun pribadi di media sosial ternyata tidak seiring dengan apa yang dikerjakan oleh penggerak kehidupan massal di atas sana. Hal ini memperlihatkan lemahnya sistem kita dan kesadaran dalam.

Pendidikan pun menghadapi tantangan serupa. Akses untuk pendidikan tidak bisa ditembus semua orang, apalagi jika tinggal jauh dari perkotaan. Fasilitas seadanya dengan kualitas yang tidak sama. Di sisi lain, sekolah negeri yang ditujukan untuk meringankan beban warga ternyata tidak optimal berfungsi, sehingga banyak orang yang memilih beralih pada swasta. Dengan biaya yang lebih tinggi, tapi lebih bisa diharapkan. Hal yang paling menyedihkan dari proses persiapan generasi ini adalah pada tingkat literasi yang jauh dari harapan. Di tengah dunia yang sibuk berinovasi, kita masih berjuang untuk sekadar meningkatkan fokus agar bisa membaca dari awal sampai akhir tulisan.

Pada akhirnya, dengan kekayaan alam yang berlimpah kita miliki, potensi untuk menjadi negara maju sangatlah besar. Namun dengan kondisi berbagai aspek penopang berupa lingkungan, kesehatan, serta pendidikan saat ini, jelas perjalanan kita tidak sebentar. Perbaikan perlu dilakukan di semua lini, dari atas hingga ke bawah. Dari niat kebersamaan hingga integritas dalam melaksanakan. Harapan akan terus ada, untuk kejayaan Indonesia.



Salam, Nasha.


"Libur t'lah tiba! Libur t'lah tiba! Hore!"

Mungkin begitu penggalan lirik yang disenandungkan anak-anak kita saat ini. Akhir Juni memang biasanya menjadi awal musim liburan sekolah dalam rangka kenaikan kelas di Indonesia. Minggu ini, hampir semua anak sudah memulai liburan mereka. Menyenangkan, sih, benar. Namun, ada tambahan pikiran bagi orang tua terkait dengan kegiatan anak selama liburan ini. Apalagi jika tidak ada rencana pergi berlibur, maka orang tua perlu memutar otak, anak-anak mau ngapain ya di rumah? Masa mau screen time terus? Nah, berikut beberapa ide kegiatan di rumah yang simple dan bisa dipraktikkan. Tetap menyenangkan dan bermanfaat bagi anak!

Ide Kegiatan Anak selama Libur Sekolah

Sebenarnya momen libur sekolah ini cukup menjadi momen pengingat bagi orang tua, saya khususnya, bahwa anak terus bertumbuh semakin besar. Wah sekarang dia sudah masuk TK. Wah sekaang dia sudah masuk SD. Wah, dia sudah kelas segini. Mengharukan melihat ia berkembang jauh dari bocah yang mungkin menangis ketika diantar ke sekolah hingga sekarang sudah memiliki banyak teman atau bahkan justru merindukan sekolahnya. Dengan menyisakan perasaan yang muncul ketika hari perpisahan anak di sekolah itu, kerumitan untuk menyiapkan kegiatan libur sekolah mereka di rumah akan terasa lebih mudah. Menyadari bahwa waktu kebersamaan kita bersama mereka semakin berkurang. 

Nah, berhubung anak saya memang masih tergolong anak-anak (dibawah 10 tahun), bukan pre-teen apalagi remaja, maka ide kegiatan di bawah ini diperuntukkan bagi anak-anak dalam golongan usia tersebut, ya! Kegiatan lainnya bisa tetap menyesuaikan.

  • Olahraga Bersama
Anak membutuhkan setidaknya 60 menit aktivitas fisik untuk kesehatan dan pertumbuhannya. Upayakan anak memiliki ruang agar kebutuhan mereka itu terpenuhi. Mulai dari rumah, kita bangun bersama kebiasaan sehat anak. Ajak mereka memulai hari dengan peregangan ringan, dan permainan fisik atau olahraga kompetitif seperti bermain bola sebagai kegiatan keluarga yang menyenangkan.
  • Mengolah Makanan
Ajak anak untuk memasak menu kesukaan mereka. Aktivitas bisa dimulai dari berbelanja, menyiapkan bahan, dan memasaknya. Biasanya mengolah menu cemilan akan lebih menyenangkan bagi anak. Biarkan mereka yang menimbang, mencicipi, membentuk, bahkan menggunakan alat tertentu. Hasilnya tidak perlu sempurna, yang penting prosesnya menyenangkan. 
  • Membuat Jadwal Aktivitas Bersama
Daripada pusing sendirian, ajak saja anak untuk memikirkannya sekalian. Biarkan mereka berpikir, membayangkan, memberikan ide, memutuskan ingin melakukan apa. Beri juga mereka kesempatan untuk menyiapkannya. Pajang hasilnya, berupa jadwal itu, di tempat yang mudah terlihat. Ini bisa menjadi ruang diskusi yan sehat dalam keluarga sekalugus memupuk kepercayaan diri anak.
  • Berkebun
Aktivitas sederhana seperti menyiram tanaman saja dapat menjadi ruang belajar bagi anak. Saat liburan, beri mereka tanggung jawab untuk menyirami tanaman secara berkala. Selain itu, ajak mereka bereksperimen dengan menanam benih tumbuhan, menyiraminya, dan menyaksikan bagaimana tumbuhan itu berkembang. Mulai saja dari yang paling sederhana, seperti biji kacang hijau di kapas. 
  • Bermain harta karun
Ada harinya kita harus benar-benar masuk ke dunia anak dan melupakan jarak diantaranya. Coba dengan permainan harta karun dengan menyembunyikan suatu benda lalu buat peta dan teka-teki untuk menemukannya. Siapkan pula hadiah jika anak berhasil menemukannya. Pencarian ini bisa dilakukan bergantian, dengan anak yang mencari lalu anak yang menyembunyikan. 
  • Menyusun Puzzle
Menyusun puzzle ternyata bisa menjadi kegiatan yang seru dan menantang bagi kita yang sudah terbiasa serba instant ini. Harus diam mencari potongan mana yang diinginkan dan harus teliti dalam menemukan posisi yang paling cocok. Bahkan sering kali anak-anak melakukannya dengan lebih baik. Jumlah puzzle-nya bisa disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak, ya!
  • Membuat buku cerita

Anak yang sudah terbiasa dengan buku, baik dibacakan cerita maupun membaca buku cerita sendiri, akan mampu menciptakan cerita mereka sendiri. Kali ini, daripada sekadar mendengar mereka menceritakan imajinasinya, ajak mereka untuk menuliskan kisah tersebut. Biarkan mereka menggambar, mewarnai, serta menuliskan potongan cerita-cerita tersebut.

  • Jurnal Harian
Hal seru lain yang bisa kita biasakan sejak libur sekolah ini adalah membuat jurnal harian. Sediakan waktu khusus untuk bersama-sama menuliskan apa yang kita pikirkan atau rasakan pada hari ini. Biarkan mereka untuk menulis ataupun menggambar. Sesekali bisa beri anak prompt untuk dijawab, seperti apa kegiatan yang paling menyenangkan, apa kebaikan yang ia terima, bagaimana ia bersyukur akan hari ini, dsb.

  • Misi Kebaikan Harian

Menindak lanjuti jurnal harian yang telah kita tulis bersama, tambahkan misi kebaikan harian yang perlu anak penuhi. Berupa tindakan baik atau hal-hal sederhana yang bisa mereka lakukan sehari-hari. Bisa berupa membantu pekerjaan rumah (di luar hal yang menjadi tanggung jawab mereka), tersenyum dan menyapa orang lain, menghibur orang lain dengan cerita, bermain bersama, berbagi cemilan dengan saudara, berterima kasih, bertanggung jawab dan meminta maaf atas kesalahan, dan lain-lain.

  • Percobaan STEAM Sederhana

Ternyata ada banyak hal sederhana yang bisa menjadi ruang bagi anak belajar bahkan video tutorialnya bisa ditemukan dengan mudah. Seperti membuat pelangi di gelas, gunung meletus mini, eksperimen dengan telur dan air garam, membangun menara dari stik, membuat mobil dari tutup botol dan balon, berkreasi dengan kardus bekas, dll. 

Baca Juga: Belajar Al Quran Mudah dari Rumah, Pilihan Kelas Mengaji Online untuk Anak

Sebenarnya, anak tidak mengharapkan liburan bermewahan ke mana-mana, mereka hanya berharap bisa menghabiskan liburan melakukan hal yang tidak biasa mereka lakukan. Bermain seharian sepuasnya, misalkan. Bermain bersama ayah dan ibu, tanpa harus diburu-buru dengan jadwal sekolah atau pekerjaan. Melakukan aktivitas bersama-sama. Memang kadang tidak mudah untuk menyesuaikan jadwal kegiatan kita dengan jadwal anak, namun saat kita sudah berupaya setidaknya ada sedikit jalan yang akan terbuka. Setidaknya, anak bisa merasakan bahwa kita sudah berupaya. Menjadikan momen yang singkat, menit-menit bersama di sela-sela aktivitas kita, menjadi memori menyenangkan bagi mereka.



Salam, Nasha

Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Cara Mengajarkan Sex Education pada Anak dengan Standar WHO & UNESCO

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (2)
    • ▼  Februari 2026 (1)
      • Memilih Tas dari Kulit Asli Buatan Lokal Negeri Se...
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Cara Mengajarkan Sex Education pada Anak dengan Standar WHO & UNESCO

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes