• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Sebagai anak perempuan pertama dari suku bergaris keturunan matrilineal, menjadi perempuan kuat dan bisa segalanya sudah menjadi pesan turun temurun yang aku dapatkan. Sejak kecil, aku dituntut untuk bisa ini itu, dilarang begini begitu, banyak sekali. Aku bahkan tidak bisa benar-benar mencerna apa-apa karena semua sudah ada instruksi detailnya. Hingga dewasa, berkelindan antara patokan usia, garis hidup, nasihat; semuanya memenuhi ruang kepala. Namun belum lama ini, Tuhan memberiku kesempatan untuk benar-benar belajar dan mencoba. Memahami diri sendiri, arti perempuan, dominasi energi feminine-nya, keistimewaannya. Perlahan, aku pun belajar untuk membebaskan dari apa-apa yang tidak lagi selaras dan memberi arti.




Sekilas tentang Energi Feminine

Sebelum bicara lebih dalam, kita perlu memahami dulu apa sebenarnya energi feminine. Istilah yang, aku yakin, sudah tidak asing lagi. Mungkin selama ini, kita hanya mengenal bahwa kalau laki-laki itu maskulin sedangkan feminine itu perempuan; yang kemudian sering dikaitkan dengan sifat lemah, lembut, tidak berdaya, sensitif, dst. Pemahaman ini memang tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Sederhananya, energi feminine berhubungan dengan rasa, kreativitas, serta penerimaan (receiving). Artinya energi ini mencakup kemampuan kita untuk menerima, merasakan, berintuisi, serta terhubung secara emosional. Sebaliknya, energi maskulin menyangkut logika, tindakan nyata, serta pencapaian dan perlindungan. 

Setiap kita, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kedua energi tersebut. Perempuan juga memiliki sisi maskulin, begitu pula laki-laki juga memiliki sisi feminine. Hanya saja, umumnya, energi feminine laki-laki tidak sebanyak energi feminine pada perempuan. Padahal, ini bukan soal gender, ini soal kualitas batin yang dimiliki masing-masing manusia. 

Sejak awal teori ini dikemukakan, Carl Jung sudah menegaskan pentingnya kita untuk mengintegrasikan keduanya, bukan memilih salah satu.


Tuntutan dan Tekanan pada Perempuan

Sayangnya, kehidupan nyata kita tidak seideal itu. Perempuan, entah bagaimana, membawa daftar panjang tuntutan yang harus dipenuhi. Bahkan, melebihi laki-laki. Harus rajin sekolah sekaligus membantu pekerjaan di rumah. Harus bersikap lembut sekaligus kuat melakukan semuanya. Harus bisa mandiri tapi tetap harus diam dan patuh. Harus hebat tapi tidak boleh melebihi laki-laki.

Pola ini berlangsung sejak si perempuan hadir ke muka bumi.  Termasuk aku, yang sejauh aku bisa mengingat, aku diharuskan untuk rajin belajar dan tetap membantu pekerjaan rumah. Sedangkan saudara laki-lakiku dimaklumi ketika ia hanya bermain, ia pun tidak diajarkan berkontribusi di rumah. Padahal kami sama-sama seorang murid, sama-sama penghuni rumah, kenapa tuntutannya bisa berbeda? Sayangnya, pola ini tidak hanya terjadi di keluargaku, tapi menjadi pola umum yang diteruskan antar generasi. Laki-laki dibiarkan hidup sesukanya, sedangkan perempuan memiliki instruksi khusus harus melakukan apa. Tanpa disadari, pola ini membentuk aku serta perempuan pada umumnya untuk menjadi serba bisa. Harus bergerak, melayani, melakukan sesuatu hanya agar dianggap berharga. 

Hingga ketika dewasa, perempuan terbiasa melakukan segalanya. Berpikir, mengambil keputusan, mengendalikan, dan terus berada dalam mode bertahan. Menekan sisi feminine dalam diri, mengabaikan perasaan dan intuisi. Tidak bisa diam, sulit menerima, dan tentu saja ujungnya sering stres dan kelelahan. Jelas ini karena bertentangan dengan energi feminine yang sebenarnya mendominasi perempuan.

Maka, setelah meyadari semua ini, aku memilih berhenti. Tidak lagi ingin meneruskan apa yang sejak kecil ditanamkan. Mendengarkan diriku sendiri dan berani menerima apa yang memang layak aku dapatkan.


Merangkul Kembali Feminine di Dalam Diri

Perjalananku mendalami soal energi feminine ini diawali dengan niat untuk memperbaiki hubungan pernikahanku.

Bukan karena ada masalah besar, bahkan mungkin tampak tidak ada masalah; tapi entah mengapa seperti ada ganjalan yang aku tidak mengerti apa. Aku merasa senang dan bersyukur tapi juga merasa ada yang kurang. Aku merasa bebas menjadi diriku, melakukan hal-hal baik yang aku suka, tapi juga merasa ada tuntutan yang tidak pernah bisa aku penuhi. Awalnya aku pikir ini karena suami, harusnya ia bisa berlaku lebih baik, harusnya dia coba untuk belajar memperbaiki diri; tapi pelan-pelan aku menyadari bahwa aku tidak bisa mengubah seseorang, meski itu suamiku sendiri. 

Dari yang awalnya selalu berharap lebih, terus menuntut lebih, hingga akhirnya kelelahan sendiri; pelan-pelan aku melihat ke dalam diriku sendiri. Bukan sekadar memaksanya untuk diam dan bersyukur, tapi benar-benar memahami apa yang terjadi. Salah satunya dengan mengikuti kelas online Love and Relationship dari @qintariditha. 

Itulah titik life changing untukku. 

Menyadari bahwa selama ini yang aku lakukan, yang aku pahami, dan yang dibiasakan oleh banyak perempuan di sekitar, justru menekan sisi feminine dalam diri, bertentangan dengan fitrah sejati. Itulah sebabnya aku tidak bisa benar-benar berbahagia, karena ada sisi dari diriku yang terus menerus ditekan. Terlalu banyak yang aku genggam dan coba kendalikan, padahal harusnya aku lebih banyak menerima dan melepaskan.

Kita tidak bisa melihat hidup hanya sebagai hitam putih. Tidak bisa laki-laki itu maskulin dan perempuan itu feminine. Sekali lagi, keduanya harus diintegrasikan. Sebagai perempuan, kita bisa kok menjadi pemikir, mengorganisir, dan mengambil keputusan logis; meskipun didominasi oleh perasaan dan intuisi. Karena tetap ada sisi maskulin di dalam diri kita. Apa yang keliru adalah menganggap bahwa kita seharusnya melakukan semua itu sendiri sepanjang hari. 

Sebagai perempuan, apalagi istri, tentu kita boleh percaya pada suami, pada visinya, pada keputusannya, pada apa yang akan ia lakukan untuk kita dan keluarga kecil ini. Sebagai istri dan ibu, kita juga boleh memikirkan dan memperhatikan diri sendiri, fokus pada apa yang kita inginkan, tidak melulu tentang anak atau pasangan.

Jujur, ini perjalanan yang cukup panjang karena mengubah pemahaman-pemahaman yan secara tidak sadar sudah tertanam di kepala. Tapi, sungguh sangat layak. Bukan sekadar untuk pernikahan, jauh dari itu, untuk diriku sendiri.

Jika bisa disingkat sesingkat-singkatnya, beberapa hal yang aku ubah dan biasakan untuk memulihkan energi feminine di dalam diriku adalah:

    - Fokus pada diri sendiri.

    Aku penting, aku dicintai, Orang yang aku nikahi adalah orang yang ingin aku berbahagia.

Itu mantra dasar yang harus kita ingat. Sehingga kita bisa fokus merawat diri dan memperhatikan kebutuhan sendiri tanpa terus merasa bersalah dan tidak layak. Sebab, ketika kita memenuhi kebutuhan dan merawat diri, barulah energi feminine kita bsisa terbebas sehingga bisa pula kita memperhatikan kebutuhan orang lain, merawat mereka, sampai menebarkan cinta kasih di dunia.

    - Belajar untuk menerima

Terdengar sepele, kan? Tapi banyak dari kita yang tidak bisa melakukannya. Simply, karena tidak biasa. Tahunya hanya memberi, selalu menganggap memberi itu lebih baik, bahkan jika itu mengorbankan diri sendiri, bahkan jika itu berarti memelihara amarah di dalam dada. Padahal, dengan keterampilan menerima yang tepat, kita bisa menjadi pribadi yang lebih mudah bersyukur, apresiatif pada hal-hal kecil dan sederhana. 

    - Berkomunikasi sesuai jati diri

Perkara komunikasi tampaknya selalu diulang dalam pembahasan apapun, termasuk soal merstorasi energi kali ini. Dalam hal ini, beranilah untuk terbuka dan jujur atas apa yang dirasa. Jangan mengabaikan perasaan diri sendiri dan berpura-pura. Coba untuk berbicara dalam bahasa rasa, sebagai perempuan. Coba pada diri sendiri untuk seterusnya pada orang lain. 

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita lakukan pelan-pelan untuk mulai mengembalikan energi feminine ini. Tapi menurutku, yang terpenting adalah mengubah pemahaman tentang diri kita sendiri, tentang perempuan dan laki-laki, tentang energi yang mendominasi masing-masing diri. Pahami dan terima, jangan mengabaikan dan melawan. Meski tidak semua keadaan bisa ideal sesuai dengan apa yang kita kehendaki, setidaknya kita tahu apa yang menjadi dasar, kita pun bisa mencoba untuk mengatur strategi agar tidak perlu diri sendiri yang dikorbankan.



Salam, Nasha

Tampaknya, kebanyakan buku self improvement mengkhususkan pembahasan pada topik-topik yang spesifik, lengkap dengan kiat-kiat yang praktis. Berbeda dengan buku "Hidup Kita yang Baik-Baik Saja" ini. Membahas tentang hidup secara keseluruhan, seperti obrolan dengan sesama teman. Tentang hal-hal yang dirasakan dan dipikirkan; khususnya bagi mereka yang memasuki fase dewasa dengan beragam kondisinya. Bahasanya sederhana, tidak terlalu berat dan mendalam, namun harapannya bisa mengubah sedikit sudut pandang pembaca tentang hidup itu sendiri. Dari perubahan perspektif, ke perubahan reaksi, cara bersikap, hingga cara hidup tersebut dijalani. 

 

Informasi Pembelian:
Melalui Whatsapp (harga dasar buku)*
Melalui Shopee (harga menyesuaikan biaya admin)*
Ebook di Google Play Book atau Gramedia Digital (klik aja)
*akan ada bonus digital yang bisa diakses di QR pembatas buku!

Sedikit dari Balik Lembaran

Izinkan aku kembali pada momen ketika aku memutuskan untuk menulis buku solo pertamaku ini. 

Aku mencintai dunia kepenulisan sejak kecil. Mulai dari membaca yang selalu aku klaim sebagai hobi dalam biodata. Entah kenapa, mengingat tidak ada yang serupa di dalam keluarga ataupun lingkungan sekitarku.  Mungkin karena aku suka kabur sejenak ke "dunia imajinasi" yang diciptakan penulisnya.  penulisnya. Mungkin karena aku suka keheningan dan fokus yang ada dalam rentangku membaca. Mungkin karena aku suka saja, tidak ada alasan. Sejalan dengan itu, aku juga suka menulis. Aku cukup rutin membeli notebook atau diary sejak kecil, untuk menceritakan apa saja tentang hariku. Apa yang terjadi, apa yang aku rasakan, siapa yang menggangguku, apa yang aku rencakan dalam pikiran; semuanya. Kegiatan, yang sayangnya tidak aku seriusi itu, kadang intens kulakukan, kadang tidak sama sekali; tergantung rutinitas lain.

Hingga aku memasuki dunia blogging, setelah ramai yang melakukannya. Aku pun ikut serta, menulis di laman sendiri sampai mencoba mengirim tulisan di media. Seiring dengan perubahan aktivitasku, aku mulai menemukan ritme dalam menulis rutin. Hingga, aku memberanikan diri ikut lomba-lomba serta terlibat dalam beberapa antologi. Dari situlah aku mengumpulkan keberanian untuk menulis buku.

Aku hanya perlu menulis puluhan kali lebih banyak dari yang biasa aku lakukan, lalu dikumpulkan menjadi satu buku.

Begitulah pikiran naifku saat itu. Sampai aku menyadari, ternyata menulis buku tidak semudah itu. Prosesnya menguras energiku. Bukan hanya soal referensi yang harus aku kumpulkan atau otak yag harus kuat aku peras, melainkan soal kondisi batin yang harus sering-sering dikuatkan. Tidak mungkin hanya melibatkan pikiran. Jelas aku harus mengajak serta perasaan; dan inilah yang membuat prosesnya jadi cukup melelahkan.

Maka, ketika akhirnya aku selesai menulis lalu membaca - mengedit - membaca lagi - mengedit lagi, selesai dilakukan; aku sungguh lega. Di titik itu, aku sudah berpasrah tentang pembaca. Aku hanya melakukan bagianku, menulis dengan niat dan cara terbaik yang aku bisa kala itu. Semoga bisa menggerakkan bahkan mengubah hidup seseorang bahkan banyak orang.


Perjalanan Panjang yang Dituliskan

Buku ini tidak lahir dalam semalam. Ia tidak lahir ketika aku mulai menuliskan rangkaian kata hingga menjadi satu paragraf dan halaman. Jauh sebelum itu. Dari puluhan tahun ketika aku masih menjadi anak-anak yang masih takut melangkah di dunia, ketika apa kata orang sekitar menjadi identitas yang aku kenakan, ketika aku yang tenggelam dalam lamunan dan pertanyaan tentang kehidupan. Maka, membacanya akan menjadi perjalanan yang tidak singkat ketika kita berupaya untuk benar-benar berjeda dari rutinitas untuk menelaah bagaimana hidup kita sebenarnya.

Pelan-pelan kita akan memulai dari titik keberadaan kita masing-masing. Berhenti untuk mengamati sekeliling, menyadari di mana kita berada saat ini. Mungkin titik ini tidak tidak pernah benar-benar kita bayangkan sebelumnya. Dengan segala hambatan dan rintangan yang ternyata berhasil kita lalui. Puji syukur, kita berhasil bertahan, meski berulang kali rasanya kita ingin menyerah. Kita mulai perjalanan dengan rasa syukur. 

Ketika kecil dulu, rasanya bersyukur itu mudah sekali dilakukan. Sama ketika menjawab pertanyaan apa kamu bahagia. Namun ketika dewasa, syukur dan bahagia seolah menjadi hal yang berbeda. Di tengah aktivitas dan kejadian-kejadian dalam hidup, bersyukur seolah menjadi paksaan. Tidak lagi tulus karena benar-benar merasa bersyukur dan menikmati anugerah kehidupan. Sama seperti bahagia, makin dewasa makin banyak indikator penentunya. Padahal, setelah benar-benar dirasakan; memang ada banyak hal membahagiakan yang bisa disyukuri. Aku gak akan menyebut kesehatan, keluarga, dan hal-hal yang mungkin terlihat sama dari hari ke hari; karena mungkin kamu sudah menduganya. Tapi, aku bersyukur hari ini hujan, yang meski tidak bisa mengeringkan jemuran, membuat cuaca menjadi lebih nyaman. Aku tidur siang tanpa perlu bantuan mesin pendingin. Aku tidak kelaparan meski sedang berpuasa. Aku bisa berkendara dengan aman walaupun banyak genangan air di jalanan. Aku berbalas pesan ringan dengan suami di tengah-tengah hari. Aku tertawa karena obrolan sahabat-sahabatku yang tinggal jauh dariku. Aku masih punya saldo untuk membayar ongkos self care-ku. Aku bisa menyelesaikan target mingguanku dan bahkan menulis saat ini.

Setidaknya dari hal-hal remeh itu saja dulu. Sebab katanya, kita tidak perlu hal-hal besar untuk bertahan. Begitu juga, sebenarnya kita juga tidak perlu hal-hal fantastis untuk bisa bahagia. Ini yang aku ingin ajak ke banyak orang, terutama membiasakan ke diriku sendiri. Ada banyak anugerah di setiap adegan kehidupan kita. Walaupun mungkin saat ini kita lihat hidup kita biasa, tidak semegah yang ditampilkan orang, tidak seindah yang pernah kita bayangkan; tidak apa-apa. Hidup kita masih berjalan. 

Tenang, itu hanya permulaan. Aku tidak membahas tentang syukur bahkan tidak memaksa kamu melakukannya. Seperti yang aku sampaikan di awal, kehidupan dewasa ini, entah bagaimana, memang sulit, bahkan sekadar untuk bersyukur. Pelan-pelan saja.

Selanjutnya, aku juga juga akan membicarakan tentang pengalaman dan orang-orang yang, sadar tidak sadar, telah membentuk siapa kita saat ini. Aku yang tidak percaya diri karena sering dikritik, aku yang enggan menginisiasi karena takut dimarahi, atau aku yang kuat karena dianugerahi banyak dukungan. Tidak hanya tentang aku, ada juga tentang teman-temanku, kisah-kisah yang pernah aku terima, maupun orang-orang yang terlibat dalam penelitian. Aku harap, salah satu dari mereka cukup mewakili apa yang kini kamu rasa. Sehingga, kita bisa lanjut ke topik berikutnya.

Topik selanjutnya yang aku maksud antara lain berupa aspek-aspek yang ada di kehidupan dewasa. Hubungan, salah satunya. Baik itu romansa berpasangan, persahabatan, bahkan lingkungan pekerjaan. Aku mencoba untuk membicarakan cara mana,  yang sejauh ini, terbukti cukup tepat dilakukan; agar semakin ringan kita dalam menjalin hubungan. Tentu saja, aku juga membahas masalah uang. Hal yang, setelah dewasa ini baru aku sadari, menjadi salah satu faktor penentu bagaimana hidup kita akan berjalan.

Pada akhirnya, kita akan menutup buku ini dengan pembahasan tentang hidup yang kita jalani saat ini. Hidup yang bisa kita tata berulang kali, yang bisa kita rancang sekaligus kita pasrahkan, yang bisa saja berubah jika kita mulai dengan mengubah sudut pandang. Mungkin di bagian ini, seperti aku, kamu akan menyadari, kalau ada banyak sekali hal di dunia ini. Sedangkan, energi dan waktu kita terbatas. Sehingga pelan-pelan, kita akan belajar memilah dan melepaskan. Mudah dikatakan, tapi tidak mudah untuk dilakukan. Tidak apa-apa. Hidup kita masih berjalan dan baik-baik saja.



Salam, Nasha


Ada satu suasana yang rasanya hanya muncul di Bulan Ramadan, tepatnya ketika adzan magrib berkumandang. Meja makan jadi lebih ramai, bukan hanya dengan makanan, melainkan dengan orang-orang yang mengitarinya. Entah yang memang satu rumah tapi jarang makan bersama, ataupun yang jarang berkumpul tetapi, untuk kali ini, makan di meja yang sama. Ramadan seolah punya cara tersendiri menyatukan kita kembali. Mungkin itulah yang tanpa kita sadari, adalah hal yang paling kita nanti ketika Ramadan. Selain karena banyaknya kebaikan yang menyertainya, ramadan juga menjadi momen kita kembali mengukuhkan silaturahmi, mempererat tali ukhuwah, kembali menjadi manusia yang saling peduli. Dan ketika lebaran tiba, kita pun lebih berusaha. Menembus padatnya jalanan, merelakan tabungan, hanya agar bisa merasakan suasana hangat bersama orang-orang yang kita cintai. 




Silaturahmi dan Ukhuwah

Sebelum bicara lebih jauh tentang istimewanya hubungan kita selama bulan suci, aku ingin meluruskan mengenai istilah ukhuwah, silaturahmi sekaligus silaturahim, yang selama ini kita pahami. Kata-kata ini sering muncul bersamaan hingga kadang dipahami berarti sama, padahal memiliki makna yang cukup berbeda.

Ukhuwah sendiri secara harfiah diartikan sebagai persaudaraan, yang mencakup saudara sesama muslim, saudara satu bangsa, hingga saudara sesama manusia. Kita berada dalam satu lingkaran ukhuwah yang sama, termasuk orang yang berdiri satu shaf dengan kita saat sholat serta asing yang kita temui di jalan.

Nah, sedangkan silaturahmi dan silaturahim ini tampaknya ada perbedaan makna dari asal katanya. Kalau di KBBI, hanya ditemukan silaturahmi yang artinya tali persahabatan atau persaudaraan. Sedangkan, jika ditelisik dari asalnya, yakni Bahasa Arab, kata awalnya adalah silaturahim yang merujuk pada kata shilah dan rahim. Shilah berarti tali/ menyambung/ hubungan dan rahim yang berarti rahim perempuan, merujuk pada saudara, keluarga. Namun, ada pula yang mendefinisikan silaturahmi sebagai upaya menyambung hubungan persaudaraan atas dasar kasih sayang, karena mengartikan rahim sebagai kasih sayang.

Singkatnya, ukhuwah adalah hubungan persaudaraan secara luas sedangkan silaturahim/ silaturahmi bisa kita anggap sebagai upaya dalam menjalin hubungan baik dengan keluarga ataupun kerabat yang lebih dekat.

Keduanya saling menghidupi.

Dengan ukhuwah, harusnya, kita memiliki perasaan bahwa kita semua sama. Saling menghargai, saling bergantung, kadang ditolong kadang menolong. Sedangkan silaturahmi, membuat kita berupaya untuk menjaga hubungan dengan orang-orang terkasih yang telah hadir di hidup kita. 

Dan pada bulan ramadan, hal-hal ini menjadi lebih istimewa. 

Mulai dari padatnya agenda berbuka bersama. Padahal di bulan-bulan biasa kita terus menunda-nunda, tapi saat ramadan, tiba-tiba semua pertemuan terasa sama mendesaknya. Kita sempatkan hadir dalam semua pertemuan. Di waktu yang sempit setelah magrib, kita usahakan bertukar cerita. Silaturahmi yang awalnya renggang diserbu aktivitas, mendadak hidup dan berdenyut kencang.

Lalu, kini semakin ramai budaya bertukar hadiah, lengkap dengan pesan singkat di dalamnya. Seolah memberi tanda semacam, aku mengingatmu. Hadiah kecil itu bisa menjadi permulaan dari obrolan tentang kabar yang sudah setahun tidak terdengar. 

Masih ada rutinitas ibadah ke masjid yang bisa menjadi ajang pertemuan tidak sengaja banyak orang. Mungkin tetangga yang selama ini jarang keluar rumah, mungkin rekan yang tidak diketahui ternyata tinggal berdekatan, atau orang-orang asing yang mulai kita kenal karena sering berjumpa ketika adzan berkumandang.

Aku merasa ramadan istimewa dengan cara-cara yang jarang kita sadari. 

Mungkin karena selama ramadan, kita memiliki rutinitas yang hampir bersamaan. Setidaknya, kita sahur dan berbuka. Setidaknya, pada subuh, magrib, dan isya. Setidaknya, pada sore yang sesak berebut makanan berbuka. Meski ada hariny kita melakukannya sendiri, kita tahu ada jutaan orang lain yang juga melakukan hal sama. Lapar yanng sama, penantian yang sama, kegembiaraan berbuka yang sama. Barangkali, kesadaran itu bisa membuat kita merasa tidak terlalu sendiri. Barangkali, perasaan itu pula yang menambah suka cita kita dan kerinduan kita akan ramadan. 


Suka Cita yang Berlanjut dalam Mudik Lebaran

Seakan tidak ingin menyudahinya begitu saja, kita pun ingin merayakan apa yang kita usahakan selama sebulan itu dengan lebaran. Kita tidak merayakannya sendirian. Meski hari-hari harus jauh dari keluarga besar, di momen lebaran, kita hanya ingin pulang. Berkumpul bersama, benar-benar berkumpul. 

Jujur, aku bukan orang yang suka keramaian. Aku diklasifikasikan sebagai introvert, mereka yang kehabisan energi ketika berkumpul. Tetapi, merantau mengubah pandanganku. Apalagi sejak titik perantauanku semakin jauh, kemungkinan bertemu semakin kecil, frekuensi berjumpa semakin sedikit. Tidak apa aku kelelahan, tidak apa jika ada saudara yang asal bicara, tidak apa aku repot dengan persiapan atau perjalanannya; aku tetap ingin berkumpul bersama. 

Rasanya mengharukan. Karena, ini bukan lagi soal kerinduan, melainkan anggaran, perhitungan, pertimbangan, pengorbanan, dan tentu saja menguras tabungan. Ini bukan keputusan mudah. Bahkan kami sempat memikirkan opsi menunda pulang, karena angkanya tampak terlalu besar. Namun, Allah Maha Kaya. Ia yang memiliki segala. Ia yang Maha Membukakan Jalan.

Kami pun bisa pulang. Terbang menyeberangi dua daratan. Lelah di perjalanan. Jenuh di waktu tunggu. Letih berdesakan. Semua terbayar lunas. Kami keluar di pintu kedatangan, menghirup udara yang terasa berbeda, mendegar bahasa yang akrab di telinga, memandangi hal-hal kecil yang sudah aku hafal di luar kepala. Ada wajah-wajah yang hangat menyambut, wajah mereka yang biasanya hanya ada di layar kaca. Kini tangan itu bisa kugenggam, kukecup. Kini tubuh itu bisa kuciumi, kupeluk erat. Kini tidak ada jarak yang membentang di antara kami. Untuk momen itu, aku hanya ingin waktu membeku.



Salam, Nasha

Sebagai salah satu barang untuk memudahkan hidup dan menunjang penampilan, kita sering kali punya banyak pertimbangan dalam memilih tas. Buatku, pertimbangannya tidak termasuk merk atau model tertentu, tapi kualitas dan ketahanannya. Aku lebih memilih tas dengan model yang longlasting dan bahan yang kuat sehingga bisa digunakan dalam waktu yang lama. Sejauh ini, pilihan terbaik adalah yang berbahan kulit asli, tentu setelah mempertimbangkan berbagai kelebihan dan kekurangan serta pro dan kontranya. Untuk mendapatkannya, tidak perlu cari jauh-jauh, karena produsen lokal pun sudah banyak mengeluarkan produk tas dari bahan kulit asli.  


Kenapa Kulit Asli?

Pertanyaan mendasar mungkin adalah kenapa. Kenapa kulit asli? Kenapa bukan kulit sintetis aja. Kembali lagi ini ke pertimbangan awal kita memilih tas, dengan kekurangan dan kelebihan dari masing-masing bahan.

Kulit asli di sini maksudnya adalah bahan tas yang berasal dari kulit sapi, (mungkin ada juga yang kambing ataupun domba) yang sudah melalui berbagai proses sehingga bisa digunakan untuk tas. Nah, dalam pemilihan bagian kulit yang digunakan, bahan kulit tersebut biasanya dibedakan atas full grain leather, top grain leather, dan genuine leather. Singkatnya, klasifikasi ini berdasarkan dari bagian teratas ke bawah bahan. Di mana, bagian paling atas (full grain leather) adalah bagian terbaik yang memiliki serat kulit yang lengkap dan penuh.  Ketahanannya pun yang terbaik, dibanding bagian yang lebih bawah. 

Di pasaran, bahan yang paling mudah kita temui adalah genuine leather, bagian terbawah dari kulit, yang sebenarnya sudah tidak mengandung serat kulit sama sekali dan perlu lebih banyak proses agar bisa siap digunakan sebagai material bahan. Kelebihannya tentu harganya yang lebih terjangkau. Apalagi, mayoritas masyarakat tidak terlalu paham persoalan ini (termasuk saya), sehingga akhinya hanya memilih kulit asli yang sesuai dengan budget saja.

Nah, kenapa bersikeras dengan kulit asli meski hanya pada level terbawahnya? Kembali pada pertimbangan awal. Meskipun genuine leather, kualitasnya tetap lebih baik dibanding kulit sintetis. Kulit asli memiliki keunggulan utama yaitu ketahanan dan kekuatan. Ini penting untuk mereka yang memprioritaskan kualitas. Tampilannya pun lebih elegan dan timeless serta lebih nyaman di kulit. Kekurangannya, tas kulit asli lebih berat dibanding tas sintetis (yang umumnya terbuat dari campuran plastik) dan butuh perawatan esktra (seperti tempat penyimpanan dan pembersihan berkala).


Pro Kontra Dampaknya


Kontra terhadap bahan kulit asli kebanyakan berhubungan dengan isu kesejahteraan hewan dan lingkungan. Tidak bisa ditampik bahwa industri peternakan adalah penyumbang emisi terbesar secara global. Setidaknya, peternakan sapi menyumbang sekitar 14.5% emisi gas rumah kaca dunia (data FAO 2013, meski masih ada kajian ulang mengenai ketepatan angkanya). Lalu, tidak semua produsen peduli dengan proses yang dilalui agar kulit sapi tersebut bisa digunakan sebagai material tas. Tidak sedikit yang menggunakan zat kimia berbahaya yang mencemari lingkungan. 

Hewan yang hidup dalam peternakan itu pun, tidak semuanya diperlakukan dengan layak. Secara umum, banyak yang menyoroti kesejateraan hewan ternak ini. termasuk sapi yang kulitnya digunakan sebagai material tas. Apalagi jika material tersebut berasal dari hewan eksotis seperti buaya atau ular; atau hewan-hewan lain yang dilindungi. Ini jelas ilegal.

Namun, faktor-faktor itu masih bisa dijawab dengan praktik produksi yang terstandardisasi. Kulit sapi yang digunakan adalah produk sampingan, yang memang berasal dari sapi potong di mana jika tidak dimanfaatkan justru bisa menjadi limbah. Peternakan sapi pun sudah banyak yang bisa memiliki sertfikasi sebagai bukti kegiatan ternaknya telah memenuhi standar kelayakan yang ditentukan. Begitu pula, sudah banyak produsen tas yang berkomitmen untuk menjaga lingkungan dengan menggunakan bahan nabati dalam pemrosesan kulit sehingga menjadi bahan kulit yang biodegradable. Terakhir, dengan rentang waktu pemakaian yang jauh lebih panjang, bahan kulit asli jelas menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibanding kulit sintetis dengan masa pakai yang relatif singkat. 

Sebagai konsumen, kitalah yang perlu bijak memilih, termasuk produsen mana yang paling sesuai dengan prinsip yang kita yakini. Memang seharusnya ada peran pemerintah dalam meregulasi praktik prduksi agar lebih ramah lingkungan, tapi jika pun masih belum ada, setidaknya kita bisa lebih banyak berusaha. Lebih banyak mencari tahu dan lebih panjang mempertimbangkan.


Pilihan Produsen Lokal Tas Kulit Asli

Memilih produsen lokal sebenarnya bukan hanya karena ini adalah upaya kita mendukung sesama warga, tapi karena kualitas produk yang mereka hasilkan juga sama baiknya. Dengan harga yang lebih terjangkau (salah satunya karena rantai distribusi yang lebih pendek), berbagai tas dari produsen lokal ini bisa banget jadi pilihan!


Rounn

Didirikan sejak tahun 2014, Rounn diciptakan untuk menjawab permintaan masyarakat akan produk yang classy dan unik. Dengan bahan kulit asli dan perhatian pada detail, Rounn diperuntukkan bagi mereka yang mencari produk eksklusif dan otentik. Tas-tas Rounn bisa digunakan dalam berbagai kesempatan baik itu formal ataupun harian.

Shopee Mall Rounn Official


Kenes Leather
Lahir di Jogja sebagai bentuk perwujudan dari produk kulit yang fungsional dan bernilai
estetika tinggi, Kenes mengusung desain yang elegan dan timeless. Semua produknya dikerjakan oleh pengrajin berpengalaman yang mengutamakan detail, kualitas bahan, serta kerapihan jahitan. Dengan begitu, diharapkan produknya dapat bertahan lama bagi pelanggannya.


Shopee Mall Kenes Leather Official Shop

Papillon

Papillon sudah menghadirkan produk kulit asli sejak tahun 1973 dari Bandung. Dengan keteguhan akan produk handmade kulit asli berkualitas, Papillon terus berinovasi dalam menciptakan produk yang menonjol dan terlihat mewah. Melalui sistem quality control yang ketat, produk Papillon terbukti dapat bertahan selama lebih dari sepuluh tahun.

Shopee Tas Papillon Leather

Reven Leather

Dari Malang, ada tas kulit asli brand Reven, yang menambahkan unsur kebanggaan selain kualitas dan keawetan pada produknya. Dengan kulit sapi lokal  yang diolah kreatif oleh pengharjin lokal pula, produk Raven siap menjadi pilihan tas yang bisa menambah kebanggaan pemakainya. 

Shopee Mall Reven & Alona Official Shop


Garut Kulit

Dimulai dari usaha pembuatan jaket sejak 2012, usaha Garut Kulit kini sudah merambah ke berbagai produk kulit asli lain, salah satunya tas. Hingga pada 2015 berhasil mengekspor produk, lalu pada 2016 sudah terdaftar merk di HAKI, dan sejak 2018 produk Garutkulit sudah dikirimkan ke berbagai negara antara lain Amerika. Australia, serta Hong Kong.

Shopee Mall Garut Kulit Official


Sendy Leather

Sendy Leather hadir sebagai produsen untuk memenuhi keinginan ibu-ibu dengan selera terkini dan mengutamakan kualitas, daya tahan, serta fungsional. Kulit yang digunakan oleh Sendy ini adalah kulit sapi asli dengan kualitas full grain dari sapi lokal java box. Selain itu, Sendy Leather juga memberikan garansi purna jual selama setahun penuh yang meliputi garansi jahiran, hardware, hingga ritsleting.

Shopee Mall Sendy Leather


Nah, itu dia pertimbangan dalam memilih tas kulit asli dan rekomendasi brand lokalnya. Ingat, beli jika butuh, beli sesuai kebutuhan. Mau tidak berarti perlu. Mampu tidak berarti harus. 



Salam, Nasha

Daripada tulisan tentang apa saja yang ingin aku dapatkan di tahun ini, aku akan mengawali dengan kilas balik apa saja yang sudah aku terima di tahun sebelumnya, 2025. Ini sebagai upaya kecilku untuk menggeser fokus dari mengejar apa yang harus dicapai, ke sadar pada apa yang sudah aku punya. Pelan-pelan menjadi diri yang lebih sadar, lebih mudah merasa cukup, dan lebih banyak bersyukurnya.




2025 di Negeri Ini

Aku tidak memungkiri gejolak di tahun 2025 yang makin terasa hadeeh, bahkan dengan meme Hidup cuma sekali, tapi terlahir WNI. Iya, aku gak bisa menceritakan hidupku tanpa menyinggung status sebagai warga negara. Karena diakui atau tidak, kehidupan kita memang dipengaruhi dengan keadaan negara. Keadaan negara tentu banyak dipengaruhi oleh para penyelenggaranya alias pemerintah (perlu jeda sebentar nih, kalau udah nyebut kata ini.)

Aku gak terlalu ingat apa aja yang terjadi di awal tahun, kecuali dimulainya MBG :)
Iya, program ambisius untuk mengenyangkan banyak warga itu. Program yang uangnya didapat dari pengalihan anggaran sektor-sektor lain, seperti kesehatan dan pendidikan itu. Udah, ya. Segera lanjut ke idul fitri, di mana aku mudik.

Setelah merantau cukup jauh begini, aku baru merasakan susahnya mudik. Jelas, yang paling susah adalah mengumpulkan uangnya. Baru paham gimana perjuangannya orang yang merantau dan memutuskan rutin mudik tuh. Tiket domestik kita tuh emang gak main-main mahalnya. Mau nyalahin, tapi udah banyak banget kesalahannya. Jadi, aku pilih banyak-banyak berdoa aja :)

Setelah lebaran, ada lebaran lagi. Aku kilas balik seingatku sebagai warga yang pasti hidupnya terdampak aja ya. Lalu, sampailah kita di Agustus, dengan simbol pink-hijau. Dari sini, aku dapat pemahaman baru, betapa mudahnya kita terpecah dengan konflik horizontal. Gak fokus sama topik utamanya. Protes ke pemerintah itu bisa banget bergeser fokusnya ke kritik sesama warga, gara-gara simbol pink-nya lah, omongannya kasar lah, statement yang gak selaras lah, latar belakang pendidikan lah. Kenapa, sih? Tuh, tokoh publik yang harusnya bertanggung jawab aja statement-nya banyakan omong kosong, pendidikannya pun, udahlah rendah gak jelas pula.

Terakhir, ada bencana Sumatera. Mungkin gak sih gak marah sama keadaan ini? Rumah orang tuaku gak terdampak langsung,  tapi dua minggu air gak nyala. Tiap hujan deras, ada banget kekhawatirannya. Nggak, ini bukan bencana alam, ini kejahatan. Sumatera Barat itu sering gempa, sering longsor, dari dulu. Kita gak ribut, gak mempermasalahkan jalan buka tutup atau terputus sama sekali.  Tapi kali ini dampaknya terlalu besar, penanganannya terlalu lambat, dan penyebabnya jelas, keserakahan dan ketidakadilan. Gimana gak marah?

Kayanya kuartal terakhir tahun lalu itu rasanya capek banget. Tiap hari ada aja berita negatif. Sedih, iya. Kecewa, iya. Marah, jangan ditanya. Pinginnya cepat-cepat ganti tahun aja, berharap semua akan dimulai dari awal dari hal-hal baik. Padahal, ya enggak. Pergantian tahun kan persoalan angka aja, kita tetap melanjutkan hidup dengan status dan keadaan saat ini.


2025-ku

Aku menghabiskan tahun ini di perantauan, di pulau yang berbeda dengan orang tua dan mertua serta seluruh sahabat-sahabatku. Gimana ya rasanya?

Awalnya jelas sulit dan banyak penyesuaian yang aku lakukan. Gak ada yang bantu urusan rumah tangga (biasanya ada, tapi pas di sini kok rada drama jadi ya udah skip dulu), terus jauh dari mertua (yang biasanya siap sedia dengan bawaan lauk, makanan, dan bala bantuan), jauh juga ari orang tua (yang biasanya meski jauh, bisa aja tiba-tiba datang), dan bada di kota yang aku gak tahu sama sekali sebelumnya. Aku cuma pernah berkunjung ke Kalimantan, itupun ke kota besar. Saat ini aku tinggal di Kabupaten, dengan segala keterbatasannya itu. Wah!

Tapi, aku bertahan! Yeay! Ternyata, aku baik-baik aja. Alhamdulillah, semua bisa dijalani. Aku dan suami makin mengandalkan satu sama lain. Aku jadi punya kontrol penuh ke anak-anakku. Kami punya kesempatan yang lebih besar untuk bisa bekerja sama. Kami pun secara gak langsung belajar hidup lebih sadar, lebih sederhana. Punya pov tentang cara hidup yang somehow lebih slow.  Kenal dengan orang dari berbagai latar, paham dengan perbedaan, dan sadar kalau yang kita punya itu ya yang ada sekarang ini aja. Selagi aku tulis dan pikir begini, wah, hebat juga ya pemberian Allah atas hidupku.

Terus, di tahun ini bukuku akhirnya terbit! Judulnya, HIDUP KITA YANG BAIK-BAIK SAJA. Ada versi cetak dan digitalnya!

Aku gak mau merendah lagi, aku mau berbangga hati! Aku nulis buku ini gak gampang, butuh waktu lama dan tenaga yang gak sedikit. Aku meluangkan waktu dan energiku untuk mengolah pengetahuan, pengalaman, juga perasaanku untuk buku ini. Bahkan aku menghadiahi pembeli dengan kartu yang bisa ditanam, jurnal elektronik, serta wallpaper. Aku semua yang bikin. Aku harus menghargai diriku dan apa yang aku kerjakan. Aku bangga sama aku.

Aku juga terus melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan. Bahkan, udah memaksakan diri untuk disiplin ngonten! Wah, challenging sih jujur. Tapi, terlalu banyak batas idealis yang aku punya sehingga growth-nya susah signifikan. Terus, ada prioritas lain juga yang bikin aku gak bisa fokus ke sana doang. Ya udah, gak apa-apa. Selama aku memutuskan dengan sadar. Toh, niat awalnya emang buat sharing hal (yang menurutku) baik.

Terakhir, sebagai pribadi, aku juga terus berbenah. Aku gak mau claim aku sudah berubah, sudah belajar, sudah memperbaiki. Gak bener begitu juga. Tapi, aku berusaha untuk memanfaatkan apa yang aku punya untuk melakukan apa yang aku bisa. Urusan lainnya, aku serahkan pada Sang Maha Punya. 

Dan, selamat memasuki 2026 dengan sadar ya, semua!



Salam, Nasha

Kota Padang memiliki banyak pilihan sekolah untuk anak-anak, terutama usia 6 tahun ke atas. Pilihan SD tersebar di seluruh kecamatan, baik SD Negeri maupun SD Swasta. Untuk SD Swasta pun, ada beragam kategori yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga. Ada sekolah umum, sekolah internasional, sekolah Islam terpadu, hingga sekolah Kristen. Dari ratusan SD yang ada tersebut, beberapa di antaranya telah menunjukkan komitmen yang baik pada kualitas pendidikan mereka, yang dibuktikan dengan raihan akreditasi A.

Daftar SD Swasta di Kota Padang dengan Akreditasi A bisa dilihat di bawah ini lengkap dengan perbandingan antara jumlah guru dan tenaga pendidik dengan jumlah siswanya, untuk memperkirakan kapasitas sekolah dan pengajarnya. Beberapa juga dilengkapi dengan biaya yang dibutuhkan untuk pendaftarannya, kontak sekolah, serta pilihan TK di yayasan yang sama. Urutan tidak mencerminkan kualitas, ya. Nah, semoga bermanfaat!



SD Islam Al Azhar 32

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 39 : 704

Pendaftaran Rp 350.000

Uang Mahar Rp 13.500.000 - Rp 15.000.000 (TK Al Azhar - Non TK Al Azhar)

SPP Bulanan :

Rp 1.225.000 (Kelas Reguler)

Rp 1.325.000 (Kelas Bilingual / Tahfidz)

Uang Komite Sekolah Rp 250.000/ tahun

Uang Mahar TPQ Rp 300.000

Uang Buku dan Seragam : TBA

https://pmb.sdia32padang.sch.id/


SD Telkom

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 49 : 689

Uang Pendaftaran Rp 250.000

Dana Sarana dan Prasarana Rp 10.500.000 - Rp 11.500.000 (Kelas Reguler - Kelas Internasional)

SPP Rp 900.000 - Rp 1.100.000 (Kelas Reguler - Kelas Internasional)

Uang Pendidikan Rp 1.000.000/ tahun

Uang Seragam Rp 1.300.000 - Rp 1.400.000 (Laki-laki - Perempuan)

Extra Fooding (Makan Siang dan Snack) Rp 400.000 untuk 22 Hari

https://sdtelkom-pdg.sch.id/faq/


SD IT Adzkia 3

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 23 : 326

Uang Pendaftaran Rp 200.000 - Rp 300.000 (Internal - Eksternal)

Uang Pembangunan Rp 9.000.000

Uang PBM 1 Tahun Rp 1.750.000

Uang Komite Rp 300.000

Uang Bulanan Minimal Rp 1.300.000

Titipan Dana Rp 2.000.000 *dikembalikan saat siswa tamat

Uang Seragam Sekolah TBA

https://spmb.adzkiasumbar.or.id/index.php?page=biaya


SD Budi Mulia

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 36 : 586

Uang Pembangunan Rp 4.500.000

SPP + Konsumsi + Transportasi Rp 1.050.000

*Siswa yang tidak menggunakan transportasi sekolah Rp 700.000/ bulan

Administrasi Rp 150.000

6285263461868 (Bapak Sarli)


SD Kartika I- 10

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 28 : 390

Uang Pendaftaran Rp 150.000

Uang Pembangunan Rp 700.000 - Rp 800.000 (TNI - Umum)

Uang SPP Bulan Juli Rp 230.000 - Rp 240.000 (TNI - Umum)

Uang Kegiatan Siswa 1 Tahun Rp 400.000

Uang Seragam Perlengkapan Siswa Rp 1.745.000


SD Kartika I- 11

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 34 : 628

Uang Pendaftaran Rp 150.000

Uang Pembangunan Rp 700.000 - Rp 800.000 (TNI - Umum)

Uang SPP Bulan Juli Rp 335.000 - Rp 350.000 (TNI - Umum)

Uang Kegiatan Siswa 1 Tahun Rp 550.000

Uang Seragam Perlengkapan Siswa Rp 1.785.000


SD Yos Sudarso

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 11 : 115

Uang Muka Rp 1.000.000 - Rp 2.000.000


SD Setia

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 13 : 162

Biaya Formulir Rp 100.000

Uang Muka Rp 1.000.000 - Rp 2.000.000

SPP Bulanan Rp 275.000


SD IT Buah Hati

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 31 : 326

+62852 6350 1258

Uang Pendaftaran Rp 300.000

Uang Pembangunan Rp 4.700.000

SPP Rp 500.000

Uang Kegiatan Rp 500.000

Uang POMG Rp 10.000

Uang Seragam Rp 1.000.000 - Rp 1.190.000 (Laki-laki - Perempuan) 


SD Baiturrahmah

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 13  : 51

081216397587

Uang Pendaftaran Rp 150.000

Uang Masuk Rp 4.500.000

SPP Rp 630.000


SD RK II Fransiskus

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 18 : 282

Uang Muka Rp 3.500.000 - Rp 4.500.000


SD IT Cendekia Andalas

(0751) 811738

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 35 : 503


SD Pertiwi 2

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 31 : 485


SD Agnes

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 26 : 298

082379605822


SD Kristen  Kalam Kudus

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 13 : 172

082172783941


SD Dedikasi Edukasi Kualiva (DEK)

Ada TK. Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 20 : 266


SD YARI School

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 17 : 254


SD Sabbihisma I

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 33 : 388


SD Tirtonadi

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 16 : 185


SD Kartika I-12

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 14 : 65


SD IT Arafah

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 13 : 117

wa.me/6282169405993


SD Pembangunan Lab UNP

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 28 : 391


SD Kemala Bhayangkari 01

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 12 : 94


SD IT Al Amin 

Guru + Tenaga Pendidik : Murid = 11 : 98


Kali ini aku mau cerita tentang hidupku yang berpindah-pindah dengan segala drama dan keseruan di dalamnya, sebagai peringatan setahunku tinggal di rumah yang sekarang. Banyak hal yang aku pelajari, yang aku pikir gak akan aku dapatkan kalau aku gak pindah-pindah begini. Bingungnya ada, capeknya juga ada banget. Tapi, seru, senang, dan leganya juga ada. Dan yang terpenting, kami tumbuh bersama sebagai keluarga!



Ke Ibu Kota

Aku lahir dan tumbuh besar di Tanah Minangkabau, sampai aku dianggap cukup dewasa dan diperbolehkan merantau. Ke mana lagi, kalau bukan ke Ibukota? Tempat pembangunan dipusatkan, segala kesempatan dan peluang tersebar di sana. Meski sudah sering bolak bali ke sini, aku tidak pernah benar-benar menyukai kota ini. Kesenjangannya terlalu terasa, begitu keluhanku selalu pada orang tua ketika melihat gedung-gedung mewah berdampingan dengan gelandangan yang untuk makan saja tidak ada biaya.

Mau bagaimana lagi? Ini pilihan terbaik yang aku punya. Menemukan peluang bersama dengan jutaan pencari kerja lainnya. Berdesakan, memasukkan lamaran, hingga aku sampai di satu perusahaan. Besar dan cukup terkenal. Jangankan orang lain, aku sendiri tidak menyangka bisa menjadi bagian di dalamnya.

Pelan-pelan aku berdamai dengan kerusuhan pikiranku sendiri. Aku juga berdamai dengan segala kemacetan dan kebisingan yang mengelilingi dalam perjalanan pulang pergi yang sungguh melelahkan. Syukurnya, jam kerjaku tidak normal. Aku berangkat pada siang, dan pulang tengah malam; setidaknya saat itu sebagian warga sedang melepas lelah di peraduan. 

Di kota serba ada ini, aku belajar tentang kemandirian sekaligus kemurahan. Kekuatan untuk hanya mengandalkan diri sendiri sekaligus kelapangan untuk bisa membantu orang lain. Aku lebih mudah berempati, karena tampaknya tidak ada yang tidak kesusahan di sini. Semua atau sebagian besar warga sedang berjuang sekadar untuk bertahan. Di sisi lain, aku juga paham pentingnya mengatur batasan, sebab tidak semua orang hadir dengan maksud baik, dan tidak semua orang pula bisa aku beri bantuan. Selain itu, aku jug belajar tentang makna bekerja keras. Benar-benar keras hingga kadang melupakan jati diri kita sebagai manusia.  

Beberapa tahun aku bertahan di sana. Belajar, bekerja, berteman, bersenang-senang, hingga menikah dan berumah tangga. Aku jadi punya banyak pemahaman tentang hidup modern dan dewasa, suka tidak suka. 


Berpindah ke "Jawa"

Fase hidup selanjutnya membawaku ke tengah Pulau Jawa, tempat tinggalnya orang-orang bersuku Jawa. Meski tidak asing dengan suku ini berkat garis keturunan ayahku, tetap saja aku tidak terbiasa. Apalagi di fase ini, aku benar-benar menjadi orang yang tidak hanya bertanggung jawab pada diriku sendiri tapi juga pada makhluk titipan Tuhan yang butuh begitu banyak pertolongan.

Di sinilah aku merasa hidup mendorongku makin dewasa. Aku kini mengurus keluargaku, dengan keputusan-keputusan yang bergantung pada pertimbanganku, dengan aku yang tidak bisa lagi bersandar atau menyerahkan urusan-urusan pada orang tua. Kini aku dan suamilah orang dewasanya. Ada banyak perasaan yang datang silih berganti. Kadang bingung, kadang sepi, kadang asing, kadang riang, dan tidak disangka cukup sering adalah hangat. 

Mudah sekali menemukan orang asing yang tersenyum di sini. Hanya dengan melakukan eye contact, kebanyakan akan tersenyum bahkan kadang mengangguk. Bukan melirik sinis seperti yang biasa aku terima di ibukota. Tidak jarang bahkan aku diajak bicara. Benar-benar definisi memanusiakan manusia. 

Di tempat di mana keramahan dan kehangatan mudah didapatkan dan pertolongan dengan cuma-cuma diberikan ini, aku yang terbiasa hidup hanya untuk diri sendiri, pelan-pelan belajar lebih peduli. Aku tahu rasanya disapa, diberi senyuman, diberi bantuan. Aku pernah mendapatkan sapaan dan senyuman tepat ketika air mataku nyaris muncul ke permukaan. Di hari yang berat, ternyata hal sederhana seperti itu bisa mencerahkan harimu. Maka, aku pun ingin melakukan hal serupa. Menjadi orang yang lebih hangat, lebih peduli, lebih ramah dari sebelumnya. Lebih baik sebagai manusia.  

Dalam fase yanng tidak mudah ini, di tempat yanng hangat ini, pelan-pelan aku mulai menerima keadaanku sendiri. Aku mulai berdamai bahkan menata kehidupanku kini. Aku menentukan apa saja yang ingin aku lakukan, apa hal-hal yang aku senangi, bagaimana rutinitas yang aku inginkan. Aku mengatur jadwal harian agar bisa memiliki waktu untuk mengurus diriku dulu, aku berkarya sesuai dengan apa yang aku senangi, aku juga bersosialisasi dengan orang-orang sekitarku, aku berusaha menikmati peranku dengan perspektif yang baru.

Di tengah perjalananku itu, aku didiagnosis skoliosis.

Kejutan- kejutan dalam hidup, yang ada-ada saja dan tidak begitu mengenakkan awalnya; telah mengantarkanku pada hal-hal yang aku syukuri hari ini. Kabar skoliosis yang baru aku ketahui saat itu, membuatku rutin berolahraga. Meski awalnya sangat terpaksa, karena aku tidak suka olahraga. Namun, lama-kelamaan aku bisa menikmatinya, bahkan menjadi kebutuhanku hingga saat ini. Mungkin itu adalah jalan untukku kembali menerima dan mencintai apa adanya diriku.

Tidak berhenti di situ, tidak berapa lama setelah aku muali berdamai dengan kondisi tulang punggungku, aku dihadapkan pada rasa sakit di gigi. Dari yang aku pikir hanya berlubang biasa ternyata perlu pencabutan gigi bungsu dan perawatan saluran akar. Seakan masih belum cukup, aku pun diharuskan membuat gigi tiruan. Iya, umur dua puluhan aku sudah pakai gigi palsu :)

Aku tidak akan menampik kalau beban terberat dari rangkaian pengobatan itu adalah biayanya. Aku tidak punya asuransi yang bisa menanggung keluhanku saat itu. Di hari ketika aku menangis sendirian membayangkan uang yang harus aku relakan, di saat itulah Allah memberikan jawaban. Langsung, tidak berlama-lama. Kembali aku diyakinkan bahwa Tuhan tidak mungkin menempatkan kita di suatu keadaan tanpa memberikan jalan penyelesaiannya. 

Ini rincian perawatan apa saja yang aku lakukan pada gigiku saat itu.


Sampai ke Kalimantan

Ketika aku mulai cukup menikmati dan settle dengan kehidupanku di Jawa itu, Tuhan memberikan pembaharuan lagi. Pagi itu, tiba-tiba aku dikenalkan dengan sebuah kota yang namanya tidak pernah terlintas dalam kepala. Di tengah Indonesia, di salah satu kabupaten di tengahnya. Kabar itu jelas saja mengejutkan kami semua. Tapi, yang lebih mengejutkan, kami bersama-sama nekat berangkat, langsung berpindah tempat.

Aku ingat kedatangan kami tengah malam di kota asing ini. Tentu lebih kecil dari tempat lain yang pernah aku tinggali. Jalan lintasnya lebih banyak gelap daripada terang. Oh, seingatku memang tidak ada lampu jalannya. Sebagian besar dikelilingi oleh perkebunan, tentu saja tanpa penerangan. Pusat kotanya, cukup terang tapi tidak gemerlapan dan jangan dibandingkan dengan kota-kotaku sebelumnya. 

Ini penyesuaian yang butuh usaha lebih untukku. Karena semuanya memang berbeda, tampak nyata. Bangunannya, jalanannya, fasilitasnya; tidak ada yang sama. Sulit menemukan sekolah jika hanya mengandalkan internet atau Google review. Hanya ada satu rumah sakit di sini. Jalanan utama hanya bisa dilalui dua mobil di satu ruasnya, yang artinya kalau ruas kiri dipakai parkir berarti hanya tersisa satu ruas lagi. Rasa makanannya juga cukup asing di lidahku, tapi syukurlah aku pemakan segala. 

Semua perbedaan itu masih bisa aku hadapi. Aku benar-benar berusaha untuk melihat hal-hal baik di sini. Hari yang lebih simple, lokasi yang berdekatan, tidak adanya kemacetan, dan orang-orang yang baik. Hanya saja, jaraknya cukup jauh dengan sanak keluarga. Perlu dua kali penerbangan bagiku untuk pulang ke orang tua, itupun hanya ada satu penerbangan sehari kalau tidak cancel. Kalau ke mertua, bisa satu kali penerbangan tapi jadwalnya hanya tiga kali seminggu. Harga tiket mudikku? Saat aku banding-bandingkan hampir sama dengan dari Jakarta ke Korea :)

Maka, di sinilah kami, mengandalkan satu sama lain. Tanpa bisa pulang dan tanpa ada kunjungan ketika rindu. Kalau sebelumnya, aku bisa ke mertua setidaknya dalam sekali sebulan dan dikunjungi orang tua seminimalnya sekali dalam satu tahun dan bahkan didatangi teman-temanku juga; di sini kami hanya punya kami. Hanya tetangga dan rekan seperjuangan, hanya orang-orang yang aku temui di berbagai kesempatan, hanya mereka-mereka yang bersimpangan jalan. Terlepas dari itu, hanya ada kami yang saling mengandalkan.

Begitulah, sekilas cerita dariku di tempat-tempat yang aku tinggali. Aku percaya tidak ada hal yang sia-sia, termasuk dalam hal penempatanku ini. Mungkin orang belajar dan berjuang dengan menetap, mungkin jalanku belajar dan berjuang justru dengan berpindah-pindah begini. Semacam petualangan bagiku untuk mengenal dan memahami tempat-tempat baru!



Salam, Nasha

Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (5)
    • ▼  Mei 2026 (1)
      • Perempuan dengan Energi Feminine, Bukan Kelemahan ...
    • ►  April 2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes