Istilah unbothered energy ini tampaknya cukup populer di media sosial, meski sejauh aku mencari belum ada literatur resmi yang membahasnya. Teori-teori yang mendekati itu mungkin ada, tapi tidak menggunakan istilah unbothered energy secara harfiah. Tentu aku tertarik dengan istilah ini, menjelaskan soal keadaan, khususnya batin, seseorang yang tidak mudah terganggu dengan hal-hl di luar dirinya. Mereka yang memiliki energi ini hadir dengan tenang, minim drama, tidak reaktif, tidak haus validasi, cenderung damai.
Teori Ketenangan Jiwa
Belakangan, minat masyarakat terhdap isu kesehatan mental terus berkembang, baik melalui buku-buku self improvement, kelas-kelas mental health, maupun bersiliwerannya praktisi-praktisi kesehatan jiwa. Ada banyak teori yang berkembang di dalamnya.
Jika dilihat datanya, lonjakan ini dimulai saat pandemi covid-19 yang memicu tingginya angka stres dan kecemasan global, sehingga banyak orang mencari cara untuk bertahan (coping mechanism), di antaranya melalui praktik kesehatan jiwa. Seiring berjalannya waktu, metode itu tidak lagi digunakan untuk mengobati saja, tapi juga untuk mencegah, bahkan untuk meningkatkan kualitas hidup. Makin hari kita makin sadar, sebenarnya yang paling kita inginkan itu adalah hidup yang damai, jiwa yang tenang; apalagi di tengah hidup yang makin padat, sibuk, dan buru-buru.
Dari sanalah teori mindfulness, stoikisme, hingga istilah unbothered energy ini terus berkembang. Ditambah dengan generasi sekarang lebih berpikiran terbuka untuk isu kesehatan mental dan kejiwaan. Konsul ke psikolog, terapi, meditasi, healing; tidak lagi dianggap sebagai hal yang aneh, bahkan sudah jadi bagian dari gaya hidup kini.
Unbothered energy sendiri, bisa dibilang sebagai manifestasi yang nyata dari praktik-praktik tersebut. Hidup yang berkesadaran pada mindfulness, lalu fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan pada stoikisme. Hidup selaras dengan ketenangan. Karena unbothered energy ini bukan sikap acuh tak acuh, melainkan sikap diri yang mampu memilah mana yang layak mendapatkan energi dan pikiran kita dan mana yang tidak. Ini adalah kondisi diri di mana seseorang sudah memiliki fondasi emosional yang kuat sehingga tidak mudah terganggu akan hal-hal di luar diri, hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan, hal-hal yang menurutnya tidak layak mendapatkan perhatiannya. Sebut saja komentar negatif orang lain, drama emosional orang di sekitarnya, rumor, dll.
Memiliki energi ini artinya kita sadar betul bahwa kapasitas mental kita terbatas, begitu pula waktu dan tenaga yang kita miliki; maka hanya salurkan ke yang pantas. Semacam bisa mengambil jeda sebelum merespons/ bereaksi. Stimulus - PAUSE - Reaksi.
Di dunia dengan informasi yang membanjiri setiap hari begini, menurutku memiliki unbothered energy bisa menjadi semacam superpower agar bisa tetap waras di tengah kegilaan yang merajalela. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana caranya?
Mengusahakan Unbothered Energy
Tahu, mengerti, tidak berarti bisa apalagi mahir, ya. Memahami konsep yang tampak sepele dan sederhana, tentu jauh berbeda dengan mampraktikkannya. Gak apa-apa, kita masih bisa terus mencoba. Kalau dari apa yang aku pahami, konsep untuk kita bisa sampai ke unbotherd energy ini sebenarnya cuma satu, yaitu JEDA. Berhenti sejenak. Ada apa-apa, coba berhenti dulu. Tenangkan diri dulu, jangan langsung bereaksi, tidak usah buru-buru merespons.
Dalam Islam, berabad-abad yang lalu, Rasulullah SAW sudah mencontohkan untuk diam, istighfar, maupun mengubah posisi diri dari berdiri ke duduk dan dari duduk ke berabring. Ini memberi otak kita jeda beberapa detik yang bisa menyelamatkan dari tindakan agresif. Secara medis, mengubah posisi tersebut dapat membantu menurunkan tekanan darah, menenangkan saraf simpatik (mode fight or flight), mengalihkan fungsi otak amigdala (bagian otak emosional) ke prefrontal cortex (bagian otak logis),
Ini mengingatkanku pada konsep 90 seconds rule Dr. Jill Taylor, seorang neuroanatom yang mengungkapkan bahwa gelombang kimiawi yang mengalir saat kita merasakan emosi/ amarah sebenarnya hanya bertahan 90 detik di dalam tubuh kita. Kalau kita tidak melakukan apa-apa, gelombang tersebut akan mereda dengan sendirinya, termasuk berbagai gejala yang mengikuti seperti keringat dingin, jantung berdebar, dsb. Jika leih dari itu, berarti pikiran kita sendirilah yang memperpanjangnya. Setiap pemikiran/ pengulangan kejadian di pikiran, gelombang kimiawi itu akan muncul lagi, perasaan yang 'harusnya' reda itu akan hadir kembali. Begitu terus berulangkali, hingga rasanya perasaan tesebut bertahan lama bahkan berhari-hari.
Maka, ketika ada stimulus dari luar, yang memicu emosi kuat di dalam diri kita, cobalah untuk berhenti. Aku berulang kali menyebut dalam hati, unbothered, unbothered, unbothered. Tarik napas, jangan terganggu. Kadang sambil istighfar dan memejamkan mata.
Lalu, pelan-pelan memilah dan menentukan, apa yang bisa aku kendalikan dan mana yang tidak. Sering kali, apa yang membuat emosi itu justru berasal dari luar dan tidak bisa aku kendalikan. Bagiku, ini cukup sulit jika berhubungan dengan orang terdekat. Bagaimana caranya berlepas diri dari apa yang terjadi dengan orang sekitar kita? Padahal, sedekat apapun hubungan kita dengan seseorang, emosi memang tidak sepatutnya saling mengikat. Aku tidak perlu merasa marah ketika suamiku merasa marah. Aku tidak perlu ikut lemas ketika anakku lesu karena kurang sehat. Mereka bisa dan boleh merasa apa saja, begitu pun aku. Emosiku adalah milikku, begitupun mereka.
Aku juga belajar membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum merespons. Ketika ada kejadian yang menyulut emosi, aku berlatih (berjuang, berusaha) untuk menarik napas dulu mungkin 2 atau 3 kali sebelum bereaksi. Memperhitungkan, kira-kira respons mana yang paling bijak, yang paling sesuai dengan tujuan akhirku. Kadang, tidak merespons atau respons seadanya (iyain aja) justru menjadi pilihan paling bijak dalam beberapa situasi. Aku belajar menerima kalau tidak semua hal harus kita menangkan, ini hidup bukan kompetisi. Choose yout battle.
Terakhir, mungkin yang paing sering terlupa adalah melakukan tindakan pencegahan, dalam hal ini adalah membangun batasan. Mengikuti isu kesehatan mental sekaligus mempelajari kondisi mental sendiri pelan-pelan juga akan menuntun kita pada upaya untuk membangun batasan ini. Keterbatasan kita perlu dioptimalkan di dunia yang tidak terbatas ini. Waktu, energi, dan perhatian kita, perlu dialokasikan dengan tepat agar yang benar-benar pentinglah yang mendapatkannya.
Urutkan prioritas, dari yang sangat penting hingga yang ternyata tidak begitu penting atau bahkan tidak penting sama sekali. Tidak semua hal layak kita pikirkan, kita perhatikan, kita beri respons. Tidak semua orang layak mendapat atensi kita. Bahkan tidak ada hal yang pantas kita pikirkan sepanjang hari sampai mengorbankan diri sendiri. Hanya diri sendirilah yang patut kita pedulikan. Pilih pertarunganmu sendiri, mana yang menekanmu dan mana yang akan memaksamu tumbuh. Mana yang lebih kau pedulikan, dirimu sendiri atau apa kata orang. Jadi, beranilah memperjuangkan diri sendiri, berani berkata tidak pada hal-hal yang dirasa merugikan. Jangan mudah merasa terganggu, terutama pada hal-hal remeh yang memang tidak bisa kita kendalikan.
Claim that unbothered energy of yours.
Salam, Nasha










