Ada satu suasana yang rasanya hanya muncul di Bulan Ramadan, tepatnya ketika adzan magrib berkumandang. Meja makan jadi lebih ramai, bukan hanya dengan makanan, melainkan dengan orang-orang yang mengitarinya. Entah yang memang satu rumah tapi jarang makan bersama, ataupun yang jarang berkumpul tetapi, untuk kali ini, makan di meja yang sama. Ramadan seolah punya cara tersendiri menyatukan kita kembali. Mungkin itulah yang tanpa kita sadari, adalah hal yang paling kita nanti ketika Ramadan. Selain karena banyaknya kebaikan yang menyertainya, ramadan juga menjadi momen kita kembali mengukuhkan silaturahmi, mempererat tali ukhuwah, kembali menjadi manusia yang saling peduli. Dan ketika lebaran tiba, kita pun lebih berusaha. Menembus padatnya jalanan, merelakan tabungan, hanya agar bisa merasakan suasana hangat bersama orang-orang yang kita cintai.
Silaturahmi dan Ukhuwah
Sebelum bicara lebih jauh tentang istimewanya hubungan kita selama bulan suci, aku ingin meluruskan mengenai istilah ukhuwah, silaturahmi sekaligus silaturahim, yang selama ini kita pahami. Kata-kata ini sering muncul bersamaan hingga kadang dipahami berarti sama, padahal memiliki makna yang cukup berbeda.
Ukhuwah sendiri secara harfiah diartikan sebagai persaudaraan, yang mencakup saudara sesama muslim, saudara satu bangsa, hingga saudara sesama manusia. Kita berada dalam satu lingkaran ukhuwah yang sama, termasuk orang yang berdiri satu shaf dengan kita saat sholat serta asing yang kita temui di jalan.
Nah, sedangkan silaturahmi dan silaturahim ini tampaknya ada perbedaan makna dari asal katanya. Kalau di KBBI, hanya ditemukan silaturahmi yang artinya tali persahabatan atau persaudaraan. Sedangkan, jika ditelisik dari asalnya, yakni Bahasa Arab, kata awalnya adalah silaturahim yang merujuk pada kata shilah dan rahim. Shilah berarti tali/ menyambung/ hubungan dan rahim yang berarti rahim perempuan, merujuk pada saudara, keluarga. Namun, ada pula yang mendefinisikan silaturahmi sebagai upaya menyambung hubungan persaudaraan atas dasar kasih sayang, karena mengartikan rahim sebagai kasih sayang.
Singkatnya, ukhuwah adalah hubungan persaudaraan secara luas sedangkan silaturahim/ silaturahmi bisa kita anggap sebagai upaya dalam menjalin hubungan baik dengan keluarga ataupun kerabat yang lebih dekat.
Keduanya saling menghidupi.
Dengan ukhuwah, harusnya, kita memiliki perasaan bahwa kita semua sama. Saling menghargai, saling bergantung, kadang ditolong kadang menolong. Sedangkan silaturahmi, membuat kita berupaya untuk menjaga hubungan dengan orang-orang terkasih yang telah hadir di hidup kita.
Dan pada bulan ramadan, hal-hal ini menjadi lebih istimewa.
Mulai dari padatnya agenda berbuka bersama. Padahal di bulan-bulan biasa kita terus menunda-nunda, tapi saat ramadan, tiba-tiba semua pertemuan terasa sama mendesaknya. Kita sempatkan hadir dalam semua pertemuan. Di waktu yang sempit setelah magrib, kita usahakan bertukar cerita. Silaturahmi yang awalnya renggang diserbu aktivitas, mendadak hidup dan berdenyut kencang.
Lalu, kini semakin ramai budaya bertukar hadiah, lengkap dengan pesan singkat di dalamnya. Seolah memberi tanda semacam, aku mengingatmu. Hadiah kecil itu bisa menjadi permulaan dari obrolan tentang kabar yang sudah setahun tidak terdengar.
Masih ada rutinitas ibadah ke masjid yang bisa menjadi ajang pertemuan tidak sengaja banyak orang. Mungkin tetangga yang selama ini jarang keluar rumah, mungkin rekan yang tidak diketahui ternyata tinggal berdekatan, atau orang-orang asing yang mulai kita kenal karena sering berjumpa ketika adzan berkumandang.
Aku merasa ramadan istimewa dengan cara-cara yang jarang kita sadari.
Mungkin karena selama ramadan, kita memiliki rutinitas yang hampir bersamaan. Setidaknya, kita sahur dan berbuka. Setidaknya, pada subuh, magrib, dan isya. Setidaknya, pada sore yang sesak berebut makanan berbuka. Meski ada hariny kita melakukannya sendiri, kita tahu ada jutaan orang lain yang juga melakukan hal sama. Lapar yanng sama, penantian yang sama, kegembiaraan berbuka yang sama. Barangkali, kesadaran itu bisa membuat kita merasa tidak terlalu sendiri. Barangkali, perasaan itu pula yang menambah suka cita kita dan kerinduan kita akan ramadan.
Suka Cita yang Berlanjut dalam Mudik Lebaran
Seakan tidak ingin menyudahinya begitu saja, kita pun ingin merayakan apa yang kita usahakan selama sebulan itu dengan lebaran. Kita tidak merayakannya sendirian. Meski hari-hari harus jauh dari keluarga besar, di momen lebaran, kita hanya ingin pulang. Berkumpul bersama, benar-benar berkumpul.
Jujur, aku bukan orang yang suka keramaian. Aku diklasifikasikan sebagai introvert, mereka yang kehabisan energi ketika berkumpul. Tetapi, merantau mengubah pandanganku. Apalagi sejak titik perantauanku semakin jauh, kemungkinan bertemu semakin kecil, frekuensi berjumpa semakin sedikit. Tidak apa aku kelelahan, tidak apa jika ada saudara yang asal bicara, tidak apa aku repot dengan persiapan atau perjalanannya; aku tetap ingin berkumpul bersama.
Rasanya mengharukan. Karena, ini bukan lagi soal kerinduan, melainkan anggaran, perhitungan, pertimbangan, pengorbanan, dan tentu saja menguras tabungan. Ini bukan keputusan mudah. Bahkan kami sempat memikirkan opsi menunda pulang, karena angkanya tampak terlalu besar. Namun, Allah Maha Kaya. Ia yang memiliki segala. Ia yang Maha Membukakan Jalan.
Kami pun bisa pulang. Terbang menyeberangi dua daratan. Lelah di perjalanan. Jenuh di waktu tunggu. Letih berdesakan. Semua terbayar lunas. Kami keluar di pintu kedatangan, menghirup udara yang terasa berbeda, mendegar bahasa yang akrab di telinga, memandangi hal-hal kecil yang sudah aku hafal di luar kepala. Ada wajah-wajah yang hangat menyambut, wajah mereka yang biasanya hanya ada di layar kaca. Kini tangan itu bisa kugenggam, kukecup. Kini tubuh itu bisa kuciumi, kupeluk erat. Kini tidak ada jarak yang membentang di antara kami. Untuk momen itu, aku hanya ingin waktu membeku.
Salam, Nasha

