• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Tampaknya, kebanyakan buku self improvement mengkhususkan pembahasan pada topik-topik yang spesifik, lengkap dengan kiat-kiat yang praktis. Berbeda dengan buku "Hidup Kita yang Baik-Baik Saja" ini. Membahas tentang hidup secara keseluruhan, seperti obrolan dengan sesama teman. Tentang hal-hal yang dirasakan dan dipikirkan; khususnya bagi mereka yang memasuki fase dewasa dengan beragam kondisinya. Bahasanya sederhana, tidak terlalu berat dan mendalam, namun harapannya bisa mengubah sedikit sudut pandang pembaca tentang hidup itu sendiri. Dari perubahan perspektif, ke perubahan reaksi, cara bersikap, hingga cara hidup tersebut dijalani. 

 

Informasi Pembelian:
Melalui Whatsapp (harga dasar buku)*
Melalui Shopee (harga menyesuaikan biaya admin)*
Ebook di Google Play Book atau Gramedia Digital (klik aja)
*akan ada bonus digital yang bisa diakses di QR pembatas buku!

Sedikit dari Balik Lembaran

Izinkan aku kembali pada momen ketika aku memutuskan untuk menulis buku solo pertamaku ini. 

Aku mencintai dunia kepenulisan sejak kecil. Mulai dari membaca yang selalu aku klaim sebagai hobi dalam biodata. Entah kenapa, mengingat tidak ada yang serupa di dalam keluarga ataupun lingkungan sekitarku.  Mungkin karena aku suka kabur sejenak ke "dunia imajinasi" yang diciptakan penulisnya.  penulisnya. Mungkin karena aku suka keheningan dan fokus yang ada dalam rentangku membaca. Mungkin karena aku suka saja, tidak ada alasan. Sejalan dengan itu, aku juga suka menulis. Aku cukup rutin membeli notebook atau diary sejak kecil, untuk menceritakan apa saja tentang hariku. Apa yang terjadi, apa yang aku rasakan, siapa yang menggangguku, apa yang aku rencakan dalam pikiran; semuanya. Kegiatan, yang sayangnya tidak aku seriusi itu, kadang intens kulakukan, kadang tidak sama sekali; tergantung rutinitas lain.

Hingga aku memasuki dunia blogging, setelah ramai yang melakukannya. Aku pun ikut serta, menulis di laman sendiri sampai mencoba mengirim tulisan di media. Seiring dengan perubahan aktivitasku, aku mulai menemukan ritme dalam menulis rutin. Hingga, aku memberanikan diri ikut lomba-lomba serta terlibat dalam beberapa antologi. Dari situlah aku mengumpulkan keberanian untuk menulis buku.

Aku hanya perlu menulis puluhan kali lebih banyak dari yang biasa aku lakukan, lalu dikumpulkan menjadi satu buku.

Begitulah pikiran naifku saat itu. Sampai aku menyadari, ternyata menulis buku tidak semudah itu. Prosesnya menguras energiku. Bukan hanya soal referensi yang harus aku kumpulkan atau otak yag harus kuat aku peras, melainkan soal kondisi batin yang harus sering-sering dikuatkan. Tidak mungkin hanya melibatkan pikiran. Jelas aku harus mengajak serta perasaan; dan inilah yang membuat prosesnya jadi cukup melelahkan.

Maka, ketika akhirnya aku selesai menulis lalu membaca - mengedit - membaca lagi - mengedit lagi, selesai dilakukan; aku sungguh lega. Di titik itu, aku sudah berpasrah tentang pembaca. Aku hanya melakukan bagianku, menulis dengan niat dan cara terbaik yang aku bisa kala itu. Semoga bisa menggerakkan bahkan mengubah hidup seseorang bahkan banyak orang.


Perjalanan Panjang yang Dituliskan

Buku ini tidak lahir dalam semalam. Ia tidak lahir ketika aku mulai menuliskan rangkaian kata hingga menjadi satu paragraf dan halaman. Jauh sebelum itu. Dari puluhan tahun ketika aku masih menjadi anak-anak yang masih takut melangkah di dunia, ketika apa kata orang sekitar menjadi identitas yang aku kenakan, ketika aku yang tenggelam dalam lamunan dan pertanyaan tentang kehidupan. Maka, membacanya akan menjadi perjalanan yang tidak singkat ketika kita berupaya untuk benar-benar berjeda dari rutinitas untuk menelaah bagaimana hidup kita sebenarnya.

Pelan-pelan kita akan memulai dari titik keberadaan kita masing-masing. Berhenti untuk mengamati sekeliling, menyadari di mana kita berada saat ini. Mungkin titik ini tidak tidak pernah benar-benar kita bayangkan sebelumnya. Dengan segala hambatan dan rintangan yang ternyata berhasil kita lalui. Puji syukur, kita berhasil bertahan, meski berulang kali rasanya kita ingin menyerah. Kita mulai perjalanan dengan rasa syukur. 

Ketika kecil dulu, rasanya bersyukur itu mudah sekali dilakukan. Sama ketika menjawab pertanyaan apa kamu bahagia. Namun ketika dewasa, syukur dan bahagia seolah menjadi hal yang berbeda. Di tengah aktivitas dan kejadian-kejadian dalam hidup, bersyukur seolah menjadi paksaan. Tidak lagi tulus karena benar-benar merasa bersyukur dan menikmati anugerah kehidupan. Sama seperti bahagia, makin dewasa makin banyak indikator penentunya. Padahal, setelah benar-benar dirasakan; memang ada banyak hal membahagiakan yang bisa disyukuri. Aku gak akan menyebut kesehatan, keluarga, dan hal-hal yang mungkin terlihat sama dari hari ke hari; karena mungkin kamu sudah menduganya. Tapi, aku bersyukur hari ini hujan, yang meski tidak bisa mengeringkan jemuran, membuat cuaca menjadi lebih nyaman. Aku tidur siang tanpa perlu bantuan mesin pendingin. Aku tidak kelaparan meski sedang berpuasa. Aku bisa berkendara dengan aman walaupun banyak genangan air di jalanan. Aku berbalas pesan ringan dengan suami di tengah-tengah hari. Aku tertawa karena obrolan sahabat-sahabatku yang tinggal jauh dariku. Aku masih punya saldo untuk membayar ongkos self care-ku. Aku bisa menyelesaikan target mingguanku dan bahkan menulis saat ini.

Setidaknya dari hal-hal remeh itu saja dulu. Sebab katanya, kita tidak perlu hal-hal besar untuk bertahan. Begitu juga, sebenarnya kita juga tidak perlu hal-hal fantastis untuk bisa bahagia. Ini yang aku ingin ajak ke banyak orang, terutama membiasakan ke diriku sendiri. Ada banyak anugerah di setiap adegan kehidupan kita. Walaupun mungkin saat ini kita lihat hidup kita biasa, tidak semegah yang ditampilkan orang, tidak seindah yang pernah kita bayangkan; tidak apa-apa. Hidup kita masih berjalan. 

Tenang, itu hanya permulaan. Aku tidak membahas tentang syukur bahkan tidak memaksa kamu melakukannya. Seperti yang aku sampaikan di awal, kehidupan dewasa ini, entah bagaimana, memang sulit, bahkan sekadar untuk bersyukur. Pelan-pelan saja.

Selanjutnya, aku juga juga akan membicarakan tentang pengalaman dan orang-orang yang, sadar tidak sadar, telah membentuk siapa kita saat ini. Aku yang tidak percaya diri karena sering dikritik, aku yang enggan menginisiasi karena takut dimarahi, atau aku yang kuat karena dianugerahi banyak dukungan. Tidak hanya tentang aku, ada juga tentang teman-temanku, kisah-kisah yang pernah aku terima, maupun orang-orang yang terlibat dalam penelitian. Aku harap, salah satu dari mereka cukup mewakili apa yang kini kamu rasa. Sehingga, kita bisa lanjut ke topik berikutnya.

Topik selanjutnya yang aku maksud antara lain berupa aspek-aspek yang ada di kehidupan dewasa. Hubungan, salah satunya. Baik itu romansa berpasangan, persahabatan, bahkan lingkungan pekerjaan. Aku mencoba untuk membicarakan cara mana,  yang sejauh ini, terbukti cukup tepat dilakukan; agar semakin ringan kita dalam menjalin hubungan. Tentu saja, aku juga membahas masalah uang. Hal yang, setelah dewasa ini baru aku sadari, menjadi salah satu faktor penentu bagaimana hidup kita akan berjalan.

Pada akhirnya, kita akan menutup buku ini dengan pembahasan tentang hidup yang kita jalani saat ini. Hidup yang bisa kita tata berulang kali, yang bisa kita rancang sekaligus kita pasrahkan, yang bisa saja berubah jika kita mulai dengan mengubah sudut pandang. Mungkin di bagian ini, seperti aku, kamu akan menyadari, kalau ada banyak sekali hal di dunia ini. Sedangkan, energi dan waktu kita terbatas. Sehingga pelan-pelan, kita akan belajar memilah dan melepaskan. Mudah dikatakan, tapi tidak mudah untuk dilakukan. Tidak apa-apa. Hidup kita masih berjalan dan baik-baik saja.



Salam, Nasha


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  April 2026 (1)
      • Hidup Kita yang Baik-Baik Saja, Buku Refleksi untu...
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes