Tampaknya, kebanyakan buku self improvement mengkhususkan pembahasan pada topik-topik yang spesifik, lengkap dengan kiat-kiat yang praktis. Berbeda dengan buku "Hidup Kita yang Baik-Baik Saja" ini. Membahas tentang hidup secara keseluruhan, seperti obrolan dengan sesama teman. Tentang hal-hal yang dirasakan dan dipikirkan; khususnya bagi mereka yang memasuki fase dewasa dengan beragam kondisinya. Bahasanya sederhana, tidak terlalu berat dan mendalam, namun harapannya bisa mengubah sedikit sudut pandang pembaca tentang hidup itu sendiri. Dari perubahan perspektif, ke perubahan reaksi, cara bersikap, hingga cara hidup tersebut dijalani.
Melalui Whatsapp (harga dasar buku)*
Melalui Shopee (harga menyesuaikan biaya admin)*
Ebook di Google Play Book atau Gramedia Digital (klik aja)
Sedikit dari Balik Lembaran
Izinkan aku kembali pada momen ketika aku memutuskan untuk menulis buku solo pertamaku ini.
Aku mencintai dunia kepenulisan sejak kecil. Mulai dari membaca yang selalu aku klaim sebagai hobi dalam biodata. Entah kenapa, mengingat tidak ada yang serupa di dalam keluarga ataupun lingkungan sekitarku. Mungkin karena aku suka kabur sejenak ke "dunia imajinasi" yang diciptakan penulisnya. penulisnya. Mungkin karena aku suka keheningan dan fokus yang ada dalam rentangku membaca. Mungkin karena aku suka saja, tidak ada alasan. Sejalan dengan itu, aku juga suka menulis. Aku cukup rutin membeli notebook atau diary sejak kecil, untuk menceritakan apa saja tentang hariku. Apa yang terjadi, apa yang aku rasakan, siapa yang menggangguku, apa yang aku rencakan dalam pikiran; semuanya. Kegiatan, yang sayangnya tidak aku seriusi itu, kadang intens kulakukan, kadang tidak sama sekali; tergantung rutinitas lain.
Hingga aku memasuki dunia blogging, setelah ramai yang melakukannya. Aku pun ikut serta, menulis di laman sendiri sampai mencoba mengirim tulisan di media. Seiring dengan perubahan aktivitasku, aku mulai menemukan ritme dalam menulis rutin. Hingga, aku memberanikan diri ikut lomba-lomba serta terlibat dalam beberapa antologi. Dari situlah aku mengumpulkan keberanian untuk menulis buku.
Aku hanya perlu menulis puluhan kali lebih banyak dari yang biasa aku lakukan, lalu dikumpulkan menjadi satu buku.
Begitulah pikiran naifku saat itu. Sampai aku menyadari, ternyata menulis buku tidak semudah itu. Prosesnya menguras energiku. Bukan hanya soal referensi yang harus aku kumpulkan atau otak yag harus kuat aku peras, melainkan soal kondisi batin yang harus sering-sering dikuatkan. Tidak mungkin hanya melibatkan pikiran. Jelas aku harus mengajak serta perasaan; dan inilah yang membuat prosesnya jadi cukup melelahkan.
Maka, ketika akhirnya aku selesai menulis lalu membaca - mengedit - membaca lagi - mengedit lagi, selesai dilakukan; aku sungguh lega. Di titik itu, aku sudah berpasrah tentang pembaca. Aku hanya melakukan bagianku, menulis dengan niat dan cara terbaik yang aku bisa kala itu. Semoga bisa menggerakkan bahkan mengubah hidup seseorang bahkan banyak orang.
Perjalanan Panjang yang Dituliskan
Buku ini tidak lahir dalam semalam. Ia tidak lahir ketika aku mulai menuliskan rangkaian kata hingga menjadi satu paragraf dan halaman. Jauh sebelum itu. Dari puluhan tahun ketika aku masih menjadi anak-anak yang masih takut melangkah di dunia, ketika apa kata orang sekitar menjadi identitas yang aku kenakan, ketika aku yang tenggelam dalam lamunan dan pertanyaan tentang kehidupan. Maka, membacanya akan menjadi perjalanan yang tidak singkat ketika kita berupaya untuk benar-benar berjeda dari rutinitas untuk menelaah bagaimana hidup kita sebenarnya.
Pelan-pelan kita akan memulai dari titik keberadaan kita masing-masing. Berhenti untuk mengamati sekeliling, menyadari di mana kita berada saat ini. Mungkin titik ini tidak tidak pernah benar-benar kita bayangkan sebelumnya. Dengan segala hambatan dan rintangan yang ternyata berhasil kita lalui. Puji syukur, kita berhasil bertahan, meski berulang kali rasanya kita ingin menyerah. Kita mulai perjalanan dengan rasa syukur.
Ketika kecil dulu, rasanya bersyukur itu mudah sekali dilakukan. Sama ketika menjawab pertanyaan apa kamu bahagia. Namun ketika dewasa, syukur dan bahagia seolah menjadi hal yang berbeda. Di tengah aktivitas dan kejadian-kejadian dalam hidup, bersyukur seolah menjadi paksaan. Tidak lagi tulus karena benar-benar merasa bersyukur dan menikmati anugerah kehidupan. Sama seperti bahagia, makin dewasa makin banyak indikator penentunya. Padahal, setelah benar-benar dirasakan; memang ada banyak hal membahagiakan yang bisa disyukuri. Aku gak akan menyebut kesehatan, keluarga, dan hal-hal yang mungkin terlihat sama dari hari ke hari; karena mungkin kamu sudah menduganya. Tapi, aku bersyukur hari ini hujan, yang meski tidak bisa mengeringkan jemuran, membuat cuaca menjadi lebih nyaman. Aku tidur siang tanpa perlu bantuan mesin pendingin. Aku tidak kelaparan meski sedang berpuasa. Aku bisa berkendara dengan aman walaupun banyak genangan air di jalanan. Aku berbalas pesan ringan dengan suami di tengah-tengah hari. Aku tertawa karena obrolan sahabat-sahabatku yang tinggal jauh dariku. Aku masih punya saldo untuk membayar ongkos self care-ku. Aku bisa menyelesaikan target mingguanku dan bahkan menulis saat ini.
Setidaknya dari hal-hal remeh itu saja dulu. Sebab katanya, kita tidak perlu hal-hal besar untuk bertahan. Begitu juga, sebenarnya kita juga tidak perlu hal-hal fantastis untuk bisa bahagia. Ini yang aku ingin ajak ke banyak orang, terutama membiasakan ke diriku sendiri. Ada banyak anugerah di setiap adegan kehidupan kita. Walaupun mungkin saat ini kita lihat hidup kita biasa, tidak semegah yang ditampilkan orang, tidak seindah yang pernah kita bayangkan; tidak apa-apa. Hidup kita masih berjalan.
Tenang, itu hanya permulaan. Aku tidak membahas tentang syukur bahkan tidak memaksa kamu melakukannya. Seperti yang aku sampaikan di awal, kehidupan dewasa ini, entah bagaimana, memang sulit, bahkan sekadar untuk bersyukur. Pelan-pelan saja.
Selanjutnya, aku juga juga akan membicarakan tentang pengalaman dan orang-orang yang, sadar tidak sadar, telah membentuk siapa kita saat ini. Aku yang tidak percaya diri karena sering dikritik, aku yang enggan menginisiasi karena takut dimarahi, atau aku yang kuat karena dianugerahi banyak dukungan. Tidak hanya tentang aku, ada juga tentang teman-temanku, kisah-kisah yang pernah aku terima, maupun orang-orang yang terlibat dalam penelitian. Aku harap, salah satu dari mereka cukup mewakili apa yang kini kamu rasa. Sehingga, kita bisa lanjut ke topik berikutnya.
Topik selanjutnya yang aku maksud antara lain berupa aspek-aspek yang ada di kehidupan dewasa. Hubungan, salah satunya. Baik itu romansa berpasangan, persahabatan, bahkan lingkungan pekerjaan. Aku mencoba untuk membicarakan cara mana, yang sejauh ini, terbukti cukup tepat dilakukan; agar semakin ringan kita dalam menjalin hubungan. Tentu saja, aku juga membahas masalah uang. Hal yang, setelah dewasa ini baru aku sadari, menjadi salah satu faktor penentu bagaimana hidup kita akan berjalan.
Pada akhirnya, kita akan menutup buku ini dengan pembahasan tentang hidup yang kita jalani saat ini. Hidup yang bisa kita tata berulang kali, yang bisa kita rancang sekaligus kita pasrahkan, yang bisa saja berubah jika kita mulai dengan mengubah sudut pandang. Mungkin di bagian ini, seperti aku, kamu akan menyadari, kalau ada banyak sekali hal di dunia ini. Sedangkan, energi dan waktu kita terbatas. Sehingga pelan-pelan, kita akan belajar memilah dan melepaskan. Mudah dikatakan, tapi tidak mudah untuk dilakukan. Tidak apa-apa. Hidup kita masih berjalan dan baik-baik saja.
Salam, Nasha




0 Comentarios
Mau nanya atau sharing, bisa disini!