Sebagai anak perempuan pertama dari suku bergaris keturunan matrilineal, menjadi perempuan kuat dan bisa segalanya sudah menjadi pesan turun temurun yang aku dapatkan. Sejak kecil, aku dituntut untuk bisa ini itu, dilarang begini begitu, banyak sekali. Aku bahkan tidak bisa benar-benar mencerna apa-apa karena semua sudah ada instruksi detailnya. Hingga dewasa, berkelindan antara patokan usia, garis hidup, nasihat; semuanya memenuhi ruang kepala. Namun belum lama ini, Tuhan memberiku kesempatan untuk benar-benar belajar dan mencoba. Memahami diri sendiri, arti perempuan, dominasi energi feminine-nya, keistimewaannya. Perlahan, aku pun belajar untuk membebaskan dari apa-apa yang tidak lagi selaras dan memberi arti.
Sekilas tentang Energi Feminine
Sebelum bicara lebih dalam, kita perlu memahami dulu apa sebenarnya energi feminine. Istilah yang, aku yakin, sudah tidak asing lagi. Mungkin selama ini, kita hanya mengenal bahwa kalau laki-laki itu maskulin sedangkan feminine itu perempuan; yang kemudian sering dikaitkan dengan sifat lemah, lembut, tidak berdaya, sensitif, dst. Pemahaman ini memang tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Sederhananya, energi feminine berhubungan dengan rasa, kreativitas, serta penerimaan (receiving). Artinya energi ini mencakup kemampuan kita untuk menerima, merasakan, berintuisi, serta terhubung secara emosional. Sebaliknya, energi maskulin menyangkut logika, tindakan nyata, serta pencapaian dan perlindungan.
Setiap kita, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kedua energi tersebut. Perempuan juga memiliki sisi maskulin, begitu pula laki-laki juga memiliki sisi feminine. Hanya saja, umumnya, energi feminine laki-laki tidak sebanyak energi feminine pada perempuan. Padahal, ini bukan soal gender, ini soal kualitas batin yang dimiliki masing-masing manusia.
Sejak awal teori ini dikemukakan, Carl Jung sudah menegaskan pentingnya kita untuk mengintegrasikan keduanya, bukan memilih salah satu.
Tuntutan dan Tekanan pada Perempuan
Sayangnya, kehidupan nyata kita tidak seideal itu. Perempuan, entah bagaimana, membawa daftar panjang tuntutan yang harus dipenuhi. Bahkan, melebihi laki-laki. Harus rajin sekolah sekaligus membantu pekerjaan di rumah. Harus bersikap lembut sekaligus kuat melakukan semuanya. Harus bisa mandiri tapi tetap harus diam dan patuh. Harus hebat tapi tidak boleh melebihi laki-laki.
Pola ini berlangsung sejak si perempuan hadir ke muka bumi. Termasuk aku, yang sejauh aku bisa mengingat, aku diharuskan untuk rajin belajar dan tetap membantu pekerjaan rumah. Sedangkan saudara laki-lakiku dimaklumi ketika ia hanya bermain, ia pun tidak diajarkan berkontribusi di rumah. Padahal kami sama-sama seorang murid, sama-sama penghuni rumah, kenapa tuntutannya bisa berbeda? Sayangnya, pola ini tidak hanya terjadi di keluargaku, tapi menjadi pola umum yang diteruskan antar generasi. Laki-laki dibiarkan hidup sesukanya, sedangkan perempuan memiliki instruksi khusus harus melakukan apa. Tanpa disadari, pola ini membentuk aku serta perempuan pada umumnya untuk menjadi serba bisa. Harus bergerak, melayani, melakukan sesuatu hanya agar dianggap berharga.
Hingga ketika dewasa, perempuan terbiasa melakukan segalanya. Berpikir, mengambil keputusan, mengendalikan, dan terus berada dalam mode bertahan. Menekan sisi feminine dalam diri, mengabaikan perasaan dan intuisi. Tidak bisa diam, sulit menerima, dan tentu saja ujungnya sering stres dan kelelahan. Jelas ini karena bertentangan dengan energi feminine yang sebenarnya mendominasi perempuan.
Maka, setelah meyadari semua ini, aku memilih berhenti. Tidak lagi ingin meneruskan apa yang sejak kecil ditanamkan. Mendengarkan diriku sendiri dan berani menerima apa yang memang layak aku dapatkan.
Merangkul Kembali Feminine di Dalam Diri
Perjalananku mendalami soal energi feminine ini diawali dengan niat untuk memperbaiki hubungan pernikahanku.
Bukan karena ada masalah besar, bahkan mungkin tampak tidak ada masalah; tapi entah mengapa seperti ada ganjalan yang aku tidak mengerti apa. Aku merasa senang dan bersyukur tapi juga merasa ada yang kurang. Aku merasa bebas menjadi diriku, melakukan hal-hal baik yang aku suka, tapi juga merasa ada tuntutan yang tidak pernah bisa aku penuhi. Awalnya aku pikir ini karena suami, harusnya ia bisa berlaku lebih baik, harusnya dia coba untuk belajar memperbaiki diri; tapi pelan-pelan aku menyadari bahwa aku tidak bisa mengubah seseorang, meski itu suamiku sendiri.
Dari yang awalnya selalu berharap lebih, terus menuntut lebih, hingga akhirnya kelelahan sendiri; pelan-pelan aku melihat ke dalam diriku sendiri. Bukan sekadar memaksanya untuk diam dan bersyukur, tapi benar-benar memahami apa yang terjadi. Salah satunya dengan mengikuti kelas online Love and Relationship dari @qintariditha.
Itulah titik life changing untukku.
Menyadari bahwa selama ini yang aku lakukan, yang aku pahami, dan yang dibiasakan oleh banyak perempuan di sekitar, justru menekan sisi feminine dalam diri, bertentangan dengan fitrah sejati. Itulah sebabnya aku tidak bisa benar-benar berbahagia, karena ada sisi dari diriku yang terus menerus ditekan. Terlalu banyak yang aku genggam dan coba kendalikan, padahal harusnya aku lebih banyak menerima dan melepaskan.
Kita tidak bisa melihat hidup hanya sebagai hitam putih. Tidak bisa laki-laki itu maskulin dan perempuan itu feminine. Sekali lagi, keduanya harus diintegrasikan. Sebagai perempuan, kita bisa kok menjadi pemikir, mengorganisir, dan mengambil keputusan logis; meskipun didominasi oleh perasaan dan intuisi. Karena tetap ada sisi maskulin di dalam diri kita. Apa yang keliru adalah menganggap bahwa kita seharusnya melakukan semua itu sendiri sepanjang hari.
Sebagai perempuan, apalagi istri, tentu kita boleh percaya pada suami, pada visinya, pada keputusannya, pada apa yang akan ia lakukan untuk kita dan keluarga kecil ini. Sebagai istri dan ibu, kita juga boleh memikirkan dan memperhatikan diri sendiri, fokus pada apa yang kita inginkan, tidak melulu tentang anak atau pasangan.
Jujur, ini perjalanan yang cukup panjang karena mengubah pemahaman-pemahaman yan secara tidak sadar sudah tertanam di kepala. Tapi, sungguh sangat layak. Bukan sekadar untuk pernikahan, jauh dari itu, untuk diriku sendiri.
Jika bisa disingkat sesingkat-singkatnya, beberapa hal yang aku ubah dan biasakan untuk memulihkan energi feminine di dalam diriku adalah:
- Fokus pada diri sendiri.
Aku penting, aku dicintai, Orang yang aku nikahi adalah orang yang ingin aku berbahagia.
Itu mantra dasar yang harus kita ingat. Sehingga kita bisa fokus merawat diri dan memperhatikan kebutuhan sendiri tanpa terus merasa bersalah dan tidak layak. Sebab, ketika kita memenuhi kebutuhan dan merawat diri, barulah energi feminine kita bsisa terbebas sehingga bisa pula kita memperhatikan kebutuhan orang lain, merawat mereka, sampai menebarkan cinta kasih di dunia.
- Belajar untuk menerima
Terdengar sepele, kan? Tapi banyak dari kita yang tidak bisa melakukannya. Simply, karena tidak biasa. Tahunya hanya memberi, selalu menganggap memberi itu lebih baik, bahkan jika itu mengorbankan diri sendiri, bahkan jika itu berarti memelihara amarah di dalam dada. Padahal, dengan keterampilan menerima yang tepat, kita bisa menjadi pribadi yang lebih mudah bersyukur, apresiatif pada hal-hal kecil dan sederhana.
- Berkomunikasi sesuai jati diri
Perkara komunikasi tampaknya selalu diulang dalam pembahasan apapun, termasuk soal merstorasi energi kali ini. Dalam hal ini, beranilah untuk terbuka dan jujur atas apa yang dirasa. Jangan mengabaikan perasaan diri sendiri dan berpura-pura. Coba untuk berbicara dalam bahasa rasa, sebagai perempuan. Coba pada diri sendiri untuk seterusnya pada orang lain.
Sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita lakukan pelan-pelan untuk mulai mengembalikan energi feminine ini. Tapi menurutku, yang terpenting adalah mengubah pemahaman tentang diri kita sendiri, tentang perempuan dan laki-laki, tentang energi yang mendominasi masing-masing diri. Pahami dan terima, jangan mengabaikan dan melawan. Meski tidak semua keadaan bisa ideal sesuai dengan apa yang kita kehendaki, setidaknya kita tahu apa yang menjadi dasar, kita pun bisa mencoba untuk mengatur strategi agar tidak perlu diri sendiri yang dikorbankan.
Salam, Nasha


