Drama Love is for Suckers, Bikin Ingat Pengalaman Kerja di Belakang Layar

Aku memutuskan menonton drama ini awalnya karena pemeran utamanya, Choi Si Won dan Lee Da Hee. Bukan penggemar keduanya juga sih, tapi pernah lihat mereka di variety show Running Man  dan wah.. lucu ya kedua orang ini. Totalitas buat menghiburnya, tipe yang gak jaim gitu sih menurutku. Terus lihat Lee Dahee ini juga di drama Beautiful Inside jadi second lead bareng Ahn Jae Hyun, wah mayan juga nih. Apalagi Love is for Suckers ini diusung dengan genre romcom. Fix mesti nonton!

Sejak tayang perdana,  bela-belain aku ongoing di prime video. Drama ini dibuka dengan adegan interaksi lumayan kocak antara Lee De Hee yang berperan sebagai Gu Yeo Reum bekerja sebagai produser TV dan Choi Siwon yang berperan sebagai Park Jae Hoon adalah dokter di klinik kecantikan. Mereka temenan sejak kuliah dan sekarang jadi tetangga satu atap, Yeo Reum di lantai bawah, Jae Hoon di lantai atas. 


Garis besar ceritanya sih tentang hubungan kedua orang ini ya, dengan tokoh-tokoh lain sebagai pendukungnya. Konfliknya dimulai sejak Yeo Reum jadi produser acara kencan sensasional berjudul Kingdom of Love dan Jae Hoon jadi salah satu talentnya. Hubungan mereka ini bikin gregetan karena maju mundur dan ada aja halangannya.  Aku gak bakal bahas sinopsisnya gimana, tapi nonton ini bikin aku kilas balik ke masa dulu pernah jadi kreatif TV ;)


Pekerjaan Keren yang Jadi Dambaan

Aku inget di episode-episode awal digambarkan gimana kerja di TV tuh, sampai asisten produsernya Yeo Reum udah siapin surat resign. Awalnya Yeo Reum ini jadi produser acara masak yang ratingnya rendah, akibatnya diremehkan orang lain sampai ke budget yang dipotong. Kerja yang begitu, ujung-ujungnya gak kelihatan hasilnya, padahal acara rating rendah bukan berarti kerjanya kurang keras kan. Paham banget aku bagian ini nih.

Disitu Yeo Reum ini cuma ngomong, jadi produser dan kru acara TV tuh emang kelihatan keren ya diluar, kerja idaman banget rasanya dulu sebelum masuk, bisa bikin tayangan keren, bisa menghibur orang lain. Pas udah masuk, kok kayanya berat banget, dikritik, hubungan berantakan, berasa bangga dapat predikat produser tapi kerja kaya buruh juga, lelah ya. Tapi kita perlu bertanggung jawab sama kesempatan ini, bayangin diri kita dulu dan orang-orang yangpingin ada di posisi kita sekarang ini.  Bahkan penonton yang meskipun cuma 1% itu jumlahnya ratusan ribu, dan kita bakal bekerja keras buat ratusan ribu orang yang udah nonton itu.  Somehow ini keren sih, sayang aku gak dengernya beberapa tahun lalu LOL.


Ujung-ujungnya tentang Rating

Yeo Reum disini digambarkan sebagai sebagai sosok orang yang punya punya nilai dan prinsip di tayangan yang dia bikin. Jadi dia emang gak mikir dan gak ngejar adegan yang bakal bikin rating melesat naik. Tayangannya aman, dirasa bermanfaat, dan gak menyinggung orang lain. Tapi disisi lain dia juga punya tanggung jawab dengan hasil akhir tayangan, rating. Selalu dipertanyakan dengan tayangan yang segitu-gitu aja, apalagi punya rekan seangkatan yang punya acara dengan rating tertinggi. Tekanan banget kan jadinya?

Ini bikin aku inget balik kalau aku dulu juga kaya pingin kaya Yeo Reum, bisa kasih tayangan yang bermanfaat, punya nilai, bisa mempengaruhi sekaligus menghibur penonton. Tapi kenyataannya gak bisa selalu gitu, kita pinginnya menyampaikan tayangan begitu tapi tayangan yang 'bagus' aja tuh  punya rating yang lempeng-lempeng aja. Rating yang lempeng itu besar resikonya bungkus. Karena gak datengin duit, nutupin biaya produksinya gimana. Yaudah bye. Karena sejauh ini, ternyata yang masyarakat kebanyakan mau (berdasarkan rating) bukan yang lempeng aja tapi yang bisa bikin heboh yang bisa dibicarain dengan menggebu. Paham dong arahnya kemana nih?

Disini juga dikasih lihat kok, buat sampai tayangan jadi punya rating setinggi itu dan heboh dibicarakan masyarakat tuh, adegan apa yang perlu dibuat. Apa yang perlu diusahakan, apa yang perlu ditampilkan, apa yang akan dikorbankan, gimana ngejarnya. Bertentangan dengan nilai yang diyakini pun ya mau gimana, balik lagi yang penting kan rating.


Perkara Sepele yang Viral Bisa Jadi Masalah Juga

Bener kata pepatah, semakin tinggi pohonnya maka semakin kencang juga anginnya. Makin tenar program makin heboh juga apapun yang berkaitan sama program itu. Apapun yang nampak di layar yang jadi tontonan orang udah jadi konsumsi publik ya emang mau gak mau siap gak siap bertanggung jawab sama rentetan hal yang muncul mengikutinya. Hal sepele bisa jadi viral bisa jadi masalah juga.

Selain itu, penonton gak bisa dikontrol mau berpendapat dan ngomen seperti apa. Contohnya jadi talent, ya resikonya batas privasi jadi semakin sempit. Resiko menyebalkannya orang yang cuma nonton beberapa puluh menit itu jadi merasa punya hak untuk menghakimi hidup kita. Bisa-bisa aja mereka ngomong yang mereka gak pikirin dulu, padahal efeknya bisa bahaya. Aku dulu juga pernah kesal sama komenan penonton,padahal programku dulu biasa aja, tapi tetep ada kejadian gak terduga. Kesal sih tapi ya gimana, emang kita yang memilih buat menampilkan itu kan. Emang tanggung jawabnya sebesar itu ya.


Proses Editing

Alur kerja produksi itu kalau dipersingkat jadi perencanaan mau bikin tayangan gimana, alur ceriita, perlengkapannya apa, dst. Lalu laksanakan syuting. Baru deh editing, proses akhir untuk menentukan program seperti yang akan ditayangkan. Mana yang ditampilkan, mana yang dibuang, mana yang perlu diedit. Aku baru sadar juga di proses akhir ini emang kita bisa mengubah cerita yang direncanakan, yang sebenarnya terjadi, jadi apa yang kita mau perlihatkan. Itulah proses kunci yang nantinya bisa membentuk perspektif penonton. Ini tanggung jawab besar media.

Ada adegan dimana Yeo Reum ini ngalami kejadian sangat memalukan, menyedihkan juga sih. Berasa pingin hilang, atau pingin diedit aja deh. Sayangnya hidup sebenarnya gak bisa diedit, mau gak mau enak gak enak harus dijalani, dihadapi, maju terus. Lagipula, edit tayangan itu bukan perkara gampang loh. Bener kalau dibilang, buat tayangan 1 atau 2 jam perlu editing berhari-hari. Programku dulu tayang cuma setengah jam tapi editing buat itu paling gak dua hari. 


Menurunkan Kualitas Hubungan Sosial

Disini digambarkan gimana dilemanya Yeo Reum antara urusan kerjaannya dan hubungannya sama Jae Hoon ini, apalagi ini program realitas kencan dimana para peserta berpasangan kan, mana acaranya tenar pula. Penonton jadi merasa punya hak buat memasang-masangkan peserta itu kan. Apa-apa jadi konsumsi publik dan bisa menghebohkan. Mau mentingin kerja, tapi kok ya hati gak terima. Mau ngutamain asmara tapi jadi ada masalah di kerjaan. Walaupun gak sampai bermasalah, seengaknya jadi bahan pembicaraan kan. Aku gak sampe sebegini drama nya sih, tapi pernah ngalami juga gak bisa terang-terangan berhubungan personal sama pihak partner program sendiri. Ya karena terlalu risky aja.

Diperlihatkan juga gimana hubungan sosial pertemanan perlu ada adaptasi karena kesibukan kerja. Sibuk itu emang berlaku buat semua kerjaan sih ya, tapi kerja di media itu jam kerjanya rada gak normal, maka kalau teman-teman kantoran bisa ngumpul di jam pulang atau hari libur ya kita yang dimedia besar kemungkinan lebih sulit. Karena TV kan nyala 24 jam ya, jadi ada aja tuh yang kerja selama tayang itu kan. kalau pas kita kerjanya di jam malam atau weekend yaudah siap aja untuk penurunan jumlah teman atau ketinggalan acara.


Feature. Kang Chae Ri

Awalnya emang rada ngeselin ini sosok Kang Chae Ri, tipe orang dingin yang gak punya temen tapi karir cemerlang. Gak peduli dengahn hal lain selain apa yang dia mau harus tercapai. Emang rada beda sama Yeo Reum yang cenderung hangat dan mengutamakan orang lain. Tapi buatku Chae Ri, yang diperankan oleh Cho Soo Hyang, ini punya pesonanya sendiri, Penampilannya, pembawaan dirinya, menonjol. Cara dia mengambil keputusan, menanggapi dan menghadapi sesuatu, mentalnya, yang gak gampang terpengaruh, kuat dengan apa yang dia yakini, menunjukkan perhatian meski dengan cara yang beda dan dingin, cukup menarik sih. 

Tapi dari kedua orang ini sih aku diingatkan lagi tentang kehangatan yang menjalar. Yeo Reum itu dibesarkan dalam keluarga yang hangat, dia bisa aja tiba-tiba merengek ke orang tuanya kalau ada apa-apa. Dia punya keluarga dan teman yang hadir disekeliling dia, yang mendukungnya. Sedangkan Chae Ri udah harus berdiri sendiri, bahkan emang harus bersikap dingin dan kuat biar bisa bertahan dengan drama hidupnya yang hadeuh itu.  


OVERALL aku enjoy gak enjoy dengan drama nya. Karena bikin aku sedikit bisa refleksi kerjaan dulu, jadi inget oh iya juga ya. Tampilan dan akting pemainnya ok. Tapi buat alur ceritanya biasa aja sih, buat hiburan lewat gitu aja. Slow pace juga sih menurutku. Komedinya juga gak yang nagih, dan gak banyak juga menurutku, gak berkesan amat juga. Sebenernya gak ada yang ngiket buat nonton terus gitu sampai tamat, berasa pingin nyerah apalagi kalau ada tayangan lain yang lebih baik. Sayang aja sih.


Salam, Nasha


0 Comentarios

Mau nanya atau sharing, bisa disini!