Bahas Kesehatan Mental Lewat Seri Daily Dose of Sunshine, Penjelasan Lengkap!

Pertama, kisah ini diceritakan melalui perspektif seorang perawat, berbeda dari biasanya yang melalui perspektif dokter. Kedua, latar belakangnya dikhususkan pada poli kesehatan jiwa, bukan tentang kehidupan di RS pada umumnya saja. Ketiga, temanya adalah hal penting yang masih sering kita abaikan, kesehatan mental. Tiga alasan ini saja sudah cukup untuk saya mulai menyaksikan Daily Dose of Sunshine. Setelah ditonton, ternyata ada lebih banyak lagi alasan untuk merekomendasikannya!

 

Singkatnya, serial ini berkisah pada kehidupan di sekitar Jung Da Eun, perawat poli penyakit dalam yang baru saja pindah ke poli kesehatan jiwa. Kepindahan Da Eun ini atas rekomendasi kepala perawatnya, karena ia dinilai terlalu baik dan peduli [ada pasien sehingga lalai pada berbagai tetek bengek pekerjaan lainnya. Di sini, ia bekerja satu tim dengan beberapa perawat lainnya dan beberapa dokter kejiawaan atau psikiater. Ada beberapa sub tema penyakit mental yang diangkat disini, dan inilah yang membuat kita cukup banyak belajar. Bukan hanya jenis penyakit mental saja, tapi juga bagaimana kita juga perlu aware dengan kondisi mental sendiri hingga bagaimana menghadapi orang dengan penyakit mental. 

Tontonan sebanyak dua belas episode ini semoga bisa cukup membuka mata kita bahwa penyakit mental, apapun itu jenisnya, adalah penyakit. Sama dengan berbagai jenis penyakit fisik lainnya, perlu diobati, diberi penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing pasien oleh tenaga profesional. Siapapun bisa sakit, begitu juga siapa saja bisa memiliki penyakit mental, tenaga medis poli kesehatan jiwa sekalipun. Tidak peduli usia, penyakit bisa datang kapan saja, kita bisa terkena penyakit mental diusia berapapun. 

Hanya karena lukanya, sakitnya tidak tampak, penyakit mental sering dianggap tidak ada, padahal penyakit ini menyumbang angka yang cukup besar dalam berakhirnya hidup seseorang. Maka, beri perhatian yang sama pada penyakit mental. Lihat dengan kaca mata yang sama, siapapun yang sehat ada kalanya bisa terkena penyakit. Saat itulah, kita perlu berobat. Tidak perlu ragu, takut, mempertanyakan sebab, apalagi tidak terima dengan kondisi diri, segera upayakan penanganan. Begitu pula dengan kita yang tidak merasakan, jangan melihat penyakit mental dengan tatapan istimewa, lihat pasien dengan biasa, dukung, temani, beri bantuan, dan berlaku lebih baik. Bukankah begitu yang biasa kita lakukan pada orang sakit?


Situasi-situasi yang Menyakitkan Mental

Ada beberapa penyakit mental yang dikenalkan dalam drama ini, antara lain bipolar, gangguan kecemasan (anxiety disorder), serangan panik (panick attack), OCD (Obsessive Compulsive Disorder), delusi, demensia palsu (pseudodementia),  skizofrenia, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), BPD (Borderline Personality Disorder), serta depresi. Semuanya dijahit menjadi satu kesatuan cerita yang layak disaksikan, dengan latar belakang kisah masing-masing penderita dan orang di sekitarnya. 

Beberapa hal yang bisa menjadi catatan kita dalam menjalin hubungan yang sehat dengan diri sndiri dan orang lain adalah:

  • Anak Impian

Episode pertama dibuka dengan cerita tentang perempuan yang hidup memiliki segalanya. Pendidikan, karir, finansial, juga romansa yang banyak membuat orang iri. Setelah berbagai pemeriksaan, diketahui bahwa ia mengidap bipolar. Ada kalanya ia sangat energik dan bersemangat atas semua hal, namun tiba-tiba berada pada fase depresi. Disinyalir, ini berkaitan erat dengan rendahnya harga diri yang pasien miliki. Perasaan yang muncul karena merasa tidak punya kontrol pada apapun.

Perumpamaan Da Eun tentang itik yang dipoles menjadi angsa sangat mengena. Di sini, sang ibu memilihkan apapun yang terbaik untuk putrinya, bahkan pada pilihan buah untuk ia sukai. Semua orang iri pada kehidupannya yang mulus dan tampak tanpa cela. Sayang, ia bahkan tidak bisa memesan kopinya sendiri, saking terbiasanya didikte dan tidak pernahnya ia memutuskan sesuatu. 

Mungkin kita tidak asing pada perlakuan ibu tahu yang terbaik untukmu ini. Menganggap dengan memudahkan hidup anak, selalu ada untuk mereka, menjadikannya sosok yang diimpikan banyak orang, akan membuatnya bahagia. Padahal, bukankah bahagia berarti bisa bebas melakukan apa yang diinginkan?



  • Ibu yang Cukup Baik

Seorang ibu datang untuk memeriksakan anaknya yang menjadi korban perundungan di sekolah. Ternyata, anaknya baik-baik saja. Ibunyalah yang menanggung rasa bersalah hingga menderita pseudodementia. Ia mulai melupakan hal-hal kecil, bahkan tentang bullying yang anaknya alami. 

Mungkin perasaan ini banyak dimiliki oleh ibu bekerja yang terus berupaya untuk menyeimbangkan perannya sebagai ibu di rumah dan sebagai pekerja di kantor. Merasa tidak cukup baik karena harus 'meninggalkan' anak, sedangkan merasa perlu bekerja, apapun alasannya. Saat anak terkena masalah, bukan hanya lingkungan sekitar, si ibu inilah yang paling menyalahkan dirinya sendiri. Saya sempat mempertanyakan, dengan kejadian serupa saat anak bermasalah di sekolah, pernahkan ayah yang disalahkan?

Bukan untuk melempar siapa yang salah, tapi beban yang ditanggung dengan peran sebagai orang tua saja cukup berat. Apa salahnya untuk kita saling membantu meringankan beban orang lain? Untuk menjadi anggota keluarga yang saling menolong, menjadi rekan wali murid yang saling memudahkan, dan untuk menjadi manusia yang bisa menahan diri sebelum berkomentar menyalahkan.

  • Kurang Berusaha

Sepertinya kisah tentang Kim Seo Wan ini mengambil porsi yang paling banyak dibandingkan pasien lainnya. Ia muncul sejak episode awal sebagai pasien yang tampak baik-baik saja, beraktivitas normal layaknya orang sehat, namun ia mengalami delusi yang membuatnya merasa hidup di alam fantasi. Ia terjebak dalam dunia game yang ia mainkan. Sampai sini sudahkah kita men-judge dengan "nah itulah makanya.." atas apa yang ia lakukan?  

Ia telah mengikuti tujuh kali ujian pegawai negeri, dengan kegagalan hanya karena kesalahan di dua atau satu soal. Kesalahan yang membuat gregetan dan membuat ingin mencoba lagi karena merasa sudah sangat dekat. Mau menyerah rasanya tanggung sudah berjuang sejauh ini, tapi mau berjuang terus rasanya sangat melelahkan. Setelah melakukan segala hal yang ia bisa dengan apa yang ia punya, orang tidak pernah melihat apa yang ia upayakan selama tujuh tahun kebelakang, yang tampak hanya seorang pemuda yang kurang berusaha. Cukup akrab dengan situasi itu, dimana kita hanya foksu melihat hasil tanpa melihat usaha? Menyaksikannya saja, saya sendiri sudah lemas duluan.

  • Rekan Kerja yang 'Harusnya' Manusiawi

Dinamika kehidupan kantor juga diceritakan di sini, khususnya pada tekanan yang diberikan oleh sesama pekerja. Pasien Kim Sung Sik menderita anxiety karena terus ditekan dan diperlakukan dengan kasar oleh atasannya. Kekerasan verbal dan non verbal yang ia terus terima membuatnya selalu gelisah, tidak bisa konsentrasi, dan sulit beraktivitas. Gangguan kecemasan yang ia alami membuatnya merasa seakan berada di dalam kotak transparan dimana semua orang lain akan menghakiminya. Menakutkan, kan?

Song Yu Chan, sahabat Da Eun juga mengalami gangguan mental karena pekerjaan. Dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang cemerlang, ia berhasil menjadi yang terbaik di kantor. Semua orang ingin pekerjaannya. Tapi, beban yang ditimpakan padanya tidak sebanding dengan tubuhnya sendiri. Ia kewalahan, sering merasa sesak,  hingga didiagnosis mengalami gangguan panik.

Tampaknya, lingkungan kerja yang sehat bisa mencegah itu semua. Beban pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas karyawan dan rekan pekerja yang menyadari bahwa kita sama-sama hanya pekerja. Perusahaan yang dibela dan terus dikejar hingga menyakiti orang itu, akan tetap bisa berjalan tanpa kita di dalamnya. Sedangkan diri kita yang terabaikan, bisa mengalami kerusakan tanpa dipedulikan perusahaan. Seperti Yu Chan, mungkin salah satu caranya adalah dengan berani membangun batasan. Membatasi berapa lama kita bekerja, berani menolak permohonan bantuan diluar kemampuan kita, hingga membela diri saat diperlakukan semena-mena. Betapapun berharganya pekerjaan, lebih berharga keselamatan kita.


  • Berandai-andai dan Menyalahkan Diri Sendiri

Akhir mngejutkan dari Kim Seo Wan membuat siapa saja berduka, termasuk perawat yang bertanggung jawab, Jung Da Eun. Bagaimana tidak, Seo Wan dipulangkan ke rumah karena ketahuan oleh Da Eun telah berpura-pura sakit. Lalu, Da Eun adalah orang terakhir yang dihubungi oleh Seo Wan karena ia ingin minum teh bersama. Sayangnya permintaan itu tidak bisa diluluskan langsung oleh Da Eun.

Duka yang mendalam, kesedihan yang tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, dan rasa bersalah atas kematian orang yang dekat dengannya, membuat Da Eun mengalami amnesia disosiatif yang berujung depresi. Ini serupa dengan kasus yang sedang dibahas di RS yaitu PTSD, dimana kematian seseorang karena upayanya sendiri rata-rata akan mempengaruhi hidup 5-10 orang di sekitar, salah satunya Choi Jun Gi. Rasa bersalah mengahantuinya dengan bayangan seandainya saja ia melakukan hal yang berbeda.

Kenyataannya, pada banyak hal yang telah terjadi, hal-hal malang yang menimpa orang terdekat, kita sering melakukan hal yang sama. Menyalahkan diri kita dan melakukan perandaian. Padahal, seburuk apapun kejadian, hal itu sudah terjadi, tidak bisa kita cegah lagi. Perandaian hanya akan membuat kita semakin tenggelam dalam rasa bersalah dan keterpurukan. Kebiasaan yang mendatangkan penyakit. Bukan hanya dalam bentuk PTSD akibat kematian, namun bisa juga krisis seperti Ibu Kim Yeo Jin ataupun Perawat Park Soo Yeon, yang sering menyalahkan diri mereka karena menjadi ibu pekerja. Meski sudah memberi semaksimal yang bisa, kita cenderung hanya melihat bagian kurangnya, lalu menyalahkan diri sendiri.

  • Siapa Saja Bisa Sakit

Apa yang menimpa Jung Da Eun sebagai perawat poli kesehatan jiwa adalah hal yang cukup penting disorot. Bagaimana seorang tenaga kesehatan yang sudah paham dan akrab dengan segala hal tentang penyakit kejiwaan, juga mengalami sakit kejiwaan, bahkan hingga dirawat di unit tertutup. Ternyata tahu lebih banyak tidak serta merta membuat kita lebih kebal. Sering membersamai pasien, tidak membuat kita jadi mati rasa. Kita tetap manusia yang kadang bisa tetap tenang, kadang bersedih, kadang juga kewalahan, merasa lemah tak berdaya. Tidak apa.

Seperti Song Yu Chan dan Dong Go Yun yang mengatasi penyakit mereka dengan cara masing-masing, kita juga diajak untuk lebih peka terhadap diri sendiri. Yu Chan kembali bekerja namun tidak lagi memaksakan diri seperti sebelumnya. Go Yun dan Da Eun bersama-sama memulai olahraga pagi untuk rutinitas yang lebih sehat. Kita yang paling tahu apa yang bisa men-trigger kambuhnya kondisi diri tertentu, hindari semampunya, hadapi jika perlu, tapi pelan-pelan jangan memaksakan, karena kita yang paling tahu. Kesadaran bahwa siapa saja bisa sakit, dalam hal ini sakit mental, akan membuat kita lebih berhati-hati menjaga kesehatan mental kita. 

  • Berani Melepaskan

Adegan Deul Re yang diminta untuk melepaskan diri dari ibunya merupakan adegan yang cukup mengena menurut saya. Karena dalam situasi tersebut, ibunya benar-benar tidak menunjukkan perannya sebagai ibu atau bahkan sebagai orang yang normal, kita seringkali tetap berkilah dengan bantulah, dia kan keluarga, padahal keluarga terdekatnya saja sudah menyerah juga.

Mungkin pengambilan kasus seekstrem ini disengaja agar pesannya bisa kita dapat. Bahwa kita bisa saja menyerah pada orang lain, bahkan orang tua sekalipun. Tidak ada keharusan sekalipun dia keluarga atau orang terdekat, sekalipun semua orang menyuruh melakukan sebaliknya. Jika pada akhirnya ia menjadi penyakit atau racun dari hidup sendiri, lebih baik lepaskan. Ini berlaku untuk siapa dan apa saja. Kita berhak untuk melepaskan diri dari apa yang menyakiti, kita berhak untuk memperjuangkan yang terbaik untuk diri sendiri.


Baca Lanjutannya, Teruntuk Caregiver dan Kita Semua dari Review Daily Dose of Sunshine



Salam, Nasha


1 Comentarios

  1. Penasaran sama alur ceritanya, thank you kak ulasannya. Jadi pengen nontoon...

    BalasHapus

Mau nanya atau sharing, bisa disini!