Daripada tulisan tentang apa saja yang ingin aku dapatkan di tahun ini, aku akan mengawali dengan kilas balik apa saja yang sudah aku terima di tahun sebelumnya, 2025. Ini sebagai upaya kecilku untuk menggeser fokus dari mengejar apa yang harus dicapai, ke sadar pada apa yang sudah aku punya. Pelan-pelan menjadi diri yang lebih sadar, lebih mudah merasa cukup, dan lebih banyak bersyukurnya.
2025 di Negeri Ini
Aku tidak memungkiri gejolak di tahun 2025 yang makin terasa hadeeh, bahkan dengan meme Hidup cuma sekali, tapi terlahir WNI. Iya, aku gak bisa menceritakan hidupku tanpa menyinggung status sebagai warga negara. Karena diakui atau tidak, kehidupan kita memang dipengaruhi dengan keadaan negara. Keadaan negara tentu banyak dipengaruhi oleh para penyelenggaranya alias pemerintah (perlu jeda sebentar nih, kalau udah nyebut kata ini.)
Setelah merantau cukup jauh begini, aku baru merasakan susahnya mudik. Jelas, yang paling susah adalah mengumpulkan uangnya. Baru paham gimana perjuangannya orang yang merantau dan memutuskan rutin mudik tuh. Tiket domestik kita tuh emang gak main-main mahalnya. Mau nyalahin, tapi udah banyak banget kesalahannya. Jadi, aku pilih banyak-banyak berdoa aja :)
Setelah lebaran, ada lebaran lagi. Aku kilas balik seingatku sebagai warga yang pasti hidupnya terdampak aja ya. Lalu, sampailah kita di Agustus, dengan simbol pink-hijau. Dari sini, aku dapat pemahaman baru, betapa mudahnya kita terpecah dengan konflik horizontal. Gak fokus sama topik utamanya. Protes ke pemerintah itu bisa banget bergeser fokusnya ke kritik sesama warga, gara-gara simbol pink-nya lah, omongannya kasar lah, statement yang gak selaras lah, latar belakang pendidikan lah. Kenapa, sih? Tuh, tokoh publik yang harusnya bertanggung jawab aja statement-nya banyakan omong kosong, pendidikannya pun, udahlah rendah gak jelas pula.
Terakhir, ada bencana Sumatera. Mungkin gak sih gak marah sama keadaan ini? Rumah orang tuaku gak terdampak langsung, tapi dua minggu air gak nyala. Tiap hujan deras, ada banget kekhawatirannya. Nggak, ini bukan bencana alam, ini kejahatan. Sumatera Barat itu sering gempa, sering longsor, dari dulu. Kita gak ribut, gak mempermasalahkan jalan buka tutup atau terputus sama sekali. Tapi kali ini dampaknya terlalu besar, penanganannya terlalu lambat, dan penyebabnya jelas, keserakahan dan ketidakadilan. Gimana gak marah?
Kayanya kuartal terakhir tahun lalu itu rasanya capek banget. Tiap hari ada aja berita negatif. Sedih, iya. Kecewa, iya. Marah, jangan ditanya. Pinginnya cepat-cepat ganti tahun aja, berharap semua akan dimulai dari awal dari hal-hal baik. Padahal, ya enggak. Pergantian tahun kan persoalan angka aja, kita tetap melanjutkan hidup dengan status dan keadaan saat ini.
2025-ku
Aku menghabiskan tahun ini di perantauan, di pulau yang berbeda dengan orang tua dan mertua serta seluruh sahabat-sahabatku. Gimana ya rasanya?
Awalnya jelas sulit dan banyak penyesuaian yang aku lakukan. Gak ada yang bantu urusan rumah tangga (biasanya ada, tapi pas di sini kok rada drama jadi ya udah skip dulu), terus jauh dari mertua (yang biasanya siap sedia dengan bawaan lauk, makanan, dan bala bantuan), jauh juga ari orang tua (yang biasanya meski jauh, bisa aja tiba-tiba datang), dan bada di kota yang aku gak tahu sama sekali sebelumnya. Aku cuma pernah berkunjung ke Kalimantan, itupun ke kota besar. Saat ini aku tinggal di Kabupaten, dengan segala keterbatasannya itu. Wah!
Tapi, aku bertahan! Yeay! Ternyata, aku baik-baik aja. Alhamdulillah, semua bisa dijalani. Aku dan suami makin mengandalkan satu sama lain. Aku jadi punya kontrol penuh ke anak-anakku. Kami punya kesempatan yang lebih besar untuk bisa bekerja sama. Kami pun secara gak langsung belajar hidup lebih sadar, lebih sederhana. Punya pov tentang cara hidup yang somehow lebih slow. Kenal dengan orang dari berbagai latar, paham dengan perbedaan, dan sadar kalau yang kita punya itu ya yang ada sekarang ini aja. Selagi aku tulis dan pikir begini, wah, hebat juga ya pemberian Allah atas hidupku.
Terus, di tahun ini bukuku akhirnya terbit! Judulnya, HIDUP KITA YANG BAIK-BAIK SAJA. Ada versi cetak dan digitalnya!
Aku gak mau merendah lagi, aku mau berbangga hati! Aku nulis buku ini gak gampang, butuh waktu lama dan tenaga yang gak sedikit. Aku meluangkan waktu dan energiku untuk mengolah pengetahuan, pengalaman, juga perasaanku untuk buku ini. Bahkan aku menghadiahi pembeli dengan kartu yang bisa ditanam, jurnal elektronik, serta wallpaper. Aku semua yang bikin. Aku harus menghargai diriku dan apa yang aku kerjakan. Aku bangga sama aku.
Aku juga terus melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan. Bahkan, udah memaksakan diri untuk disiplin ngonten! Wah, challenging sih jujur. Tapi, terlalu banyak batas idealis yang aku punya sehingga growth-nya susah signifikan. Terus, ada prioritas lain juga yang bikin aku gak bisa fokus ke sana doang. Ya udah, gak apa-apa. Selama aku memutuskan dengan sadar. Toh, niat awalnya emang buat sharing hal (yang menurutku) baik.
Terakhir, sebagai pribadi, aku juga terus berbenah. Aku gak mau claim aku sudah berubah, sudah belajar, sudah memperbaiki. Gak bener begitu juga. Tapi, aku berusaha untuk memanfaatkan apa yang aku punya untuk melakukan apa yang aku bisa. Urusan lainnya, aku serahkan pada Sang Maha Punya.
Dan, selamat memasuki 2026 dengan sadar ya, semua!


