Tuhan Ada di Hatimu, Buku Pengingat Sang Rahmatan Lil Alamin

Buku Tuhan ada di Hatimu ini aku punya buat persiapan Ramadhan tahun lalu, dan sayangnya baru selesai aku baca menjelang ramadhan tahun ini. Tiga tahun setelah cetakan pertamanya dirilis. Penulisnya Husein Ja'Far Al-Hadar, akrab disapa Habib Husein. Kebanyakan dari kita mungkin udah mengenal beliau, tahu sosoknya, paham pemikirannya, dan kesan apa yang ingin ia tampilkan mengenai Islam sesungguhnya. Buku ini juga sedikit banyak merupakan hasil pemikirannya tentang bagaimana kita sebagai penduduk Indonesia seharusnya memandang Islam, memiliki pemikiran dan bersikap selayaknya Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Sebenarnya ini buku yang menarik, pesan yang disampaikan juga sangat baik, hanya kurang mengikat atau emang daya bacaku aja yang rendah. Maka butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, lalu memberanikan diri untuk menuliskannya, maafkan. Maju mundur bahas karena ini juga soal agama, yang ilmuku masih jauh dari cukup. Tapi karena ada banyak point penting dan pelajaran yang diingatkan penulis untuk pembaca, serta bisa dinikmati oleh semua orang, jadi aku akan coba rangkum insight yang aku dapatkan disini.





Hati yang Terus Beribadah Kepada-Nya


Dari titik semua bermula dan di titik semua kembali, di hati. Mengingatkan kita pada hati yang dianugerahkan pada kita, untuk selalu mengaitkan apapun kepada Sang Pencipta.

Untuk sampai ke sini, rasanya kita perlu menyadari bahwa kita memiliki banyak keterbatasan, banyak sekali. Kita punya akal pikiran, tapi masih tidak sanggup menafsirkan banyak hal. Memang akal kita tidak mampu menjangkaunya. Di sinilah kita menggunakan hati, keyakinan saja, bahwa banyak hal yang terjadi di dunia yang luas ini, tidak mungkin tanpa ada yang mengaturnya. Tidak perlu bisa kita lihat saat ini, tapi yakinnya kita ada di dalam hati. Seperti Nabi Ibrahim yang bergerak melakukan penyembelihan atas putra yang sangat disayanginya, Ismail. 
Ini juga penting sebagai pengingat buatku sebagai orang tua, untuk mendahulukan taat dulu baru logika pada anak. Kenapa melakukan ini? Ya, karena Allah memerintahkan begini. Nanti, bisa nanti-nanti setelah cukup logikanya, bisa kita tambahkan sejarahnya, alasannya, manfatnya.
Untuk perkara ibadah, kita mungkin saja tahu tentang konsep ini, bahwa Tuhan selalu melihat apapun yang kita kerjakan, dan apapun yang kita lakukan jika berlandaskan niat kepadaNya, maka itu bisa dinilai sebagai ibadah yang diganjar dengan amal kebaikan. Belajar adalah ibadah, perjalanan menuntut ilmu itu sajadahnya, mencari nafkah juga adalah ibadah, bahkan memindahkan batu di jalanan atau tersenyum saja juga adalah ibadah. Kita terlalu fokus dengan 'ritual' ibadah sampai lupa esensi ibadah sesungguhnya, bagaimana cerminan keseluruhan yang kita lakukan sebagai ibadah. Ini yang coba diingatkan kembali oleh Habib Husein, bahkan judulnya juga menjelaskan bahwa Tidak di Ka'bah, di Vatikan, atau di Tembok Ratapan, Tuhan Ada di Hatimu.

Satu kalimat menarik yang aku ambil dari buku ini adalah Masjid bisa dirobohkan, Ka'bah bisa sepi, tapi hati manusia yang beriman akan abadi dalam ketaatan dan kecintaan pada-Nya. Indah ya. 

Cukup banyak contoh ritual ibadah yang terus dilakukan tapi gak sampai masuk ke hati. Naudzubillah ya. Karena harusnya ibadah yang benar akan banyak mempengaruhi bagaimana seseorang hidup, bagaimana dia bersikap juga bagaimana dia memperlakukan orang lain. Aku pernah belajar tentang banyak karakter yang ditanamkan hanya dari ibadah sholat. Bagaimana sholat yang hanya empat rakaat tidak sampai sepuluh menit itu bisa melatih kita untuk bersikap jujur sampai peduli. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang kita baca dalam sholat, atau berapa rakaat yang kita kerjakan, namun urusan kita hanya pada Allah untuk mempertanggung jawabkan itu. Kita benar melakukan empat rakaat tanpa dikurangi, karena sadar Allah menyaksikan, harusnya begitulah kita hidup. Kita memilih untuk berbuat baik karena tahu Allah yang melihat, kita mengurungkan niat untuk hal yang tidak baik karena tahu Allah sedang mengawasi. 

Disini juga dibahas belakangan jadi ada banyak perkara dunia yang tiba-diba diharamkan karena mendapati banyak pelaku yang menggunakannya untuk merusak. Fokusnya malah ke alat, bukan ke pelaku. Padahal setiap alat bisa digunakan untuk yang baik ataupun tidak baik, tergantung bagaimana orang tersebut menggunakannya. Ini melegakan sebenarnya, karena kita bisa saja melakukan hal yang 'katanya' banyak mudharat tapi ternyata bisa kok kita lakukan untuk hal yang bermanfaat bahkan jadi ibadah. Dalam kasus tertentu, ibadah sendiri juga bisa menjadi mudharat. Memang akhirnya semua kembali pada niat. 


Photo by Ida Rizkha in Pexels


Menjadi Cerminan Islam


Akhirnya, apa yang ada di hati, ibadah yang kita lakoni, akan tercermin dari akhlak kita sehari-hari.

Kita diingatkan kembali tentang esensi hadirnya Islam di muka bumi, sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam. Islam yang kehadirannya bisa sebagai wujud perdamaian dan kasih sayang untuk manusia dan seluruh alam. Sudah sejauh mana perilaku kita berlandas pada kasih sayang terhadap manusia dan seluruh alam?

Sejak Nabi Muhammad mengenalkan Islam, Islam tidak dikoar-koarkan dalam bentuk ucapan tapi lebih pada apa yang Rasulullah lakukan, Beliau menjadi cerminan Islam sebagai Rahmat bagi Semesta Alam. Akhlaknya yang menjadi teladan. Kelembutannya yang mampu meluluhkan kerasnya hati. Tutur katanya yng mampu menembus dinding pertahanan diri. Memang, islam itu bukan tentang jumlah sholat tapi juga banyak manfaat yang bisa kita beri, bukan tentang kehebatan saja tapi juga tentang kehangatan.

Jadi kalau memang kita ingin memperjuangkan Islam, hal utama yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki akhlak. Misi Nabi sendiri adalah untuk menegakkan akhlak yang mulia, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak." Kita yang hidup berabad jauhnya dari beliau saja bisa merasakan kemuliaan akhlaknya, bagaimana Rasulullah menyayangi dan memberi kedamaian di hati kita. Dalam Al-Quran juga berulang kali disebutkan tentang meneladani akhlak Rasulullah yang sangat agung itu. Sehingga aneh rasanya untuk orang yang mengaku membela Islam tapi tidak mencerminkan yang dicontohkan Nabi. Mungkin terlalu jauh untuk kita hidup sehari-hari jika bicara dakwah hingga perang, tapi kita bisa mulai dengan kebiasaan harian, dengan sikap toleransi, saling membantu, menghindari suudzon, membuang sampah di tempatnya, dan berbagai sikap yang berdasarkan pada kasih sayang dan kebaikan. 

Dalam tulisannya ini, Habib Husein juga banyak menyinggung tentang menyampaikan kebaikan yang sayangnya dilakukan dengan cara yang tidak baik, sehingga sulit untuk diterima. Padahal berbagai kisah Nabi menyebarkan agama sudah sering kita dengar, tapi kenapa ya sulit sekali menjalankan misi dengan damai. Jika memang tujuannya adalah Islam, harusnya bisa melakukan dengan kasih sayang bukan paksaan apalagi yang merusak hingga menyakiti. 

Perbedaan itu bukan hal besar yang perlu kita persoalkan. Karena memang sudah ada sejak dahulu. Gejolak politik langsung muncul di zaman khalifah. Dulu ada apa-apa, orang bisa langsung bertanya pada Rasulullah, wafatnya beliau membuat umat terbagi untuk 'mempercayakan' jawaban pada siapa, hingga muncul berbagai paham perbedaan. Tidak apa, selagi pegangannya tetaplah Al-Quran dan Hadits Rasul. Itu hal biasa sejak berabad lalu, apalagi di zaman kita yang sudah sangat jauh jaraknya. Kalau mau mempersoalkan, coba tanyakan lagi pada diri sendiri, kita sedang memperjuangkan kebenaran atau ego diri dan kelompok pribadi?

Jika saja kita kembali berorientasi pada kasih sayang, maka perbedaan bisa dilihat sebagai suatu keindahan. Perbedaan akan terus ada, karena Allah ciptakan kita memang tidak sama, kita lahir dari orang tua yang berbeda, pada masa dan kondisi yang berbeda, di lingkungan yang berbeda, dibesarkan dengan cara yang berbeda, otomatis kita tumbuh dengan pola pikir dan cara pertahanan diri yang berbeda. Bisa jad semua benar, bisa jadi juga semua salah. Bisa jadi cara tertentu tepat di masa lalu, tidak lagi tepat di masa ini. Rasanya jika kita memang memiliki hati yang terpaut pada Allah dan berorientasi pada rahmatan lil alamin, cara yang dikembangkan akal kita pun akan mengarah pada hal yang benar dan membawa kebaikan, kan.


Overall, ini buku ringan yang menyejukkan, bagus untuk bacaan santai penyejuk hati dan pikiran. Seperti sedang mengobrol dengan teman, lalu diingatkan tentang baiknya bagaimana melihat berbagai persoalan. Lumayan untuk menyambut Ramadhan, supaya kalau rasa-rasanya mulai melenceng kita bisa kembali lagi menautkan hati hanya kepada-Nya dan menjurus pada moto rahmatan lil alamin.



Salam, Nasha

0 Comentarios

Mau nanya atau sharing, bisa disini!