Pro Kontra Selebrasi Wisuda Sejak TK

Mendekati tahun ajaran baru, kembali ramai diperbincangkan mengenai wisuda anak sekolah yang dimulai sejak TK. Ada prosesi mengenakan pakaian layaknya wisuda universitas lengkap dengan toganya. Ada berbagai macam pendapat terkait hal ini. 

Jika dilihat lebih luas, diskusi ini bermula dari keluhan orang tua murid yang harus mencari dana tambahan untuk acara wisuda anak, apalagi saat dilihat acaranya tidak dapat dikatakan penting. ternyata banyak orang tua serta murid sekolah yang setuju dengan pendapat tersebut. Serta ada tambahan pendapat, bahwa wisuda jadi tidak sesakral dulu, saat jenjang pendidikan benar-benar telah rampung dilaksanakan. Sebaliknya, banyak yang menyayangkan protes ini dengan alasan sebagai ajang bersenang-senang anak dan bagian dari kenangan mereka kelak. Tidak lupa, ada juga yang mengganggap ini bukan topik penting untuk dibahas. Kita coba telaan satu persatu.

 

Makna Filosofis Wisuda

Kata wisuda jika kita lihat di KBBI berarti peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat. Sedangkan toga didefinisikan sebagai baju panjang (jubah) hitam, lengannya lebar sebagai pakaian jabatan bagi guru besar, hakim, sarjana, dan sebagainya yang dipakainya pada saat tertentu. Sejauh ini, definisi kata wisuda sangat luas sehingga tidak masalah digunakan diluar konteks universitas. Hanya saja, pakaian yang dikenakan ternyata diperuntukkan untuk jabatan tertentu. Ditambah dengan adanya makna filosofis dari pakaian tersebut.

Untuk diketahui, melansir amanat, warna hitam dipilih karena melambangkan keagungan. Bentuk persegi empat pada topi melambangkan sudut pandang, agar setelah lulus mahasiswa diharapkan mampu memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang. Lalu, prosesi pemindahan tali toga dari kiri ke kanan melambangkan harapan agar setelah banyak menerima ilmu dari otak kiri mahasiswa mampu memanfaatkannya dengan otak kanan yang bekerja lebih inovatif dalam masyarakat. Jangankan anak TK, para sarjana juga belum tentu semua paham mengenai makna filosofis ini. 

Argumen ksakralan dan makna filosofis ini tidak bisa disamaratakan karena sifatnya subjektif perorangan. Ada yang beranggapan bahwa ini bisa jadi momentum bagi mereka yang tidak berkesempatan menempuh pendidikan hingga sarjana, ada juga yang menyatakan bahwa wisuda harusnya jadi momen berharga karena panjangnya perjalanan sekolah yang harus ditempuh terlebih dahulu. Keduanya bisa benar, bisa juga mengandung kekeliruan. Bagaimana murid menghargai perjuangan itu sifatnya personal. Menjadi sarjana memang melegakan. Dinilai matang siap berdaya untuk masyarakat. Kelulusan sekolah apapun bentuknya juga merupakan pencapaian yang boleh saja dirayakan. Bagaimanapun, prosesi yang melibatkan setidaknya sekolah, orang tua, dan murid ini perlu disadari bersama mulai dari tujuan hingga dampaknya. 


Tambahan Biaya

Ini adalah alasan utama banyaknya protes terkait kegiatan wisuda sekolah. Apalagi bagi orang tua yang memilii anak lebih dari satu, tentu akan lebih memberatkan. Padahal dana tersebut bisa digunakan untuk persiapan masuk sekolah jenjang berikutnya. Tidak mudah juga untuk serta merta tidak ikutan karena terkendala biaya. Ada perasaan janggal saat anak-anak lain riang mengikuti sedangkan anak sendiri tidak bisa ikut. Ini dikembalikan pada masing-masing orang tua dan kesepakatan dengan pihak sekolah.

Salah satu solusi untuk meringankan biaya mungkin dengan mengangsurnya. Kita semua tahu, pengeluaran wali murid akan jauh meningkat memasuki tahun ajaran baru, sehingga jika orang tau dan sekolah sepakat untuk mengadakan acara berikut tambahan biayanya, bisa dipersiapkan jauh-jauh hari mungkin sejak satu semester sebelumnya. Informasi rinci dan tambahan biayanya diinformasikan pihak sekolah pada orang tua lalu tambahan biaya tersebut bisa diangsur pembayarannya setiap bulan, sesuai kesepakatan. Selain itu, menerapkan sistem pembayaran minimal juga bisa dilakukan. Ini memberi kesempatan pada mereka yang memiliki dana lebih untuk mensubsidi mereka yang pas-pasan. Semua murid bisa bersenang-senang bersama. Namun, jika orang tua tetap tidak setuju ya tidak boleh dipaksakan juga. Segala konsekuensi ada di masing-masing pihak berkepentingan.

Ilustrasi Anak Wisuda

Perlu diketahui bahwa apapun bentu tambahan kegiatan akan menimbulkan tambahan biaya. Acara selebrasi apapun namanya kelak, akan membutuhkan tambahan dana dan tenaga untuk menyelenggarakannya. Jika sepakat untuk mengadakannya, maka hal pertama yang perlu dibicarakan adalah skala kegiatannya dan biaya yang disanggupi oleh pemilik dana, kemungkinan besar orang tua. Bentuk kegiatan juga sangat variatif, mungkin mayoritas seputar pementasan seni namun seharusnya ini bisa dibicarakan lebih lanjut, mengusahakan dampak baik yang lebih banyak dan luas. Dengan semakin terasanya krisis iklim, mungkin aksi peduli lingkungan bisa menjadi opsi. Dana dan tenaga disalurkan untuk kegiatan lingkungan, perawatan hewan dan tumbuhanm ataupun kegiatan sosial untuk orang-orang yang membutuhkan. Sepertinya nilai sosial dan lingkungan adalah isu yang semakin urgen belakangan.

Jika dirasa selebrasi atau acara yang disepakati tidak ada manfaatnya, tidak apa juga jika tidak dilakukan. Tidak perlu ada paksaan, tidak perlu juga merasa tidak enakan karena kita masing-masing punya nilai yang kita junjung tinggi. Berpegang pada nilai itu, hal-hal lain bisa dikesampingkan. Perdebatan seperti ini sebenarnya perdebatan yang tidak ada ujung karena semua bisa tegak berdiri pada alasan masing-masing dan tetap tidak salah. Namun, perdebatan ini bisa menjadi jalur diskusi yang sehat bagi kita dalam menentukan langkah terbaik apa yang diinginkan bersama. Supaya kita bisa melihat lebih luas, supaya kita bisa lebih peduli. 



Salam, Nasha


0 Comentarios

Mau nanya atau sharing, bisa disini!