Orang Tua Perlu Pertimbangan Ini untuk Menentukan Usia Tepat Anak Mulai Sekolah

Sejak diberlakukannya ketetapan usia masuk sekolah untuk calon peserta didik baru dalam Permendikbud No. 1 Tahun 2021, anak bisa masuk SD harus berusia 7 tahun atau minimal 6 tahun per 1 Juli. Ini cukup berbeda dengan apa yang generasi kita alami, dimana usia rata-rata masuk SD adalah enam tahun, bahkan ada juga yang dibawah lima tahun. Perubahan pada batas usia minimal ini tidak dilakukan sembarangan melainkan dengan banyak pertimbangan khususnya penyesuaian dengan perkembangan anak-anak yang akan menjalani sekolah tersebut. Kemampuan anak yang diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan kegiatan sekolah dinilai rata-rata ada pada anak tujuh tahun. 



Pertimbangan Mulai Sekolah

Mungkin ada sebagian dari kita yang mulai memasukkan anak sekolah dengan alasan lingkungan sekitar, seperti sudah banyaknya anak sebaya anak yang bersekolah hingga anak juga meminta atau karena rasa-rasanya sudah bosan anak dirumah atau perkara agar anak cepat pandai. Segera mengikutsertakan mereka dalam kelompok bermain, lalu terus naik hingga masuk SD. Perlu diketahui, peraturan pemerintah tersebut ditujukan bagi jenjang pendidikan sekolah dasar, dimana ada hak dan kewajiban didalamnya, bukan sekedar kegiatan bersosialisasi. Pertimbangan-pertimbangan tersebut dirangkum dalam Kompas sebagai berikut:

- Segi Psikologis

Untuk bisa mengikuti pelajaran dengan baik di sekolah, dibutuhkan daya konsentrasi yang tinggi dari anak. Kemampuan fokus anak akan membaik seiring pertambahan usianya, dan anak usia tujuh tahun dianggap memiliki konsentrasi yang sesuai dengan kegiatan jenjang SD, sehingga bisa lebih tenang mengikuti pelajaran serta bisa memilah mana hal yang perlu diperhatikan dan mana yang tidak. Mereka juga dinilai memiliki daya juang yang cukup baik dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi di sekolah. 

Pada umumnya, sebelum tujuh tahun anak masih berada di tahap pematangan kemampuan motorik. Bisa jadi ia mampu secara intelejensi, namun kebutuhan motoriknya jadi kurang terpenuhi akibat pembatasan gerak. Mereka yang masih masanya aktif bergerak dituntut untuk lebih tenang dalam berkegiatan di jenjang SD.

- Kemandiran

Dalam kegiatan belajar SD, anak diharapkan sudah lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada orang lain. Menyelesaikan persoalan harian yang dihadapi sendiri, juga paham akan hak dan kewajibannya selama bersekolah. Rata-rata anak memiliki kemampuan untuk bisa mandiri ini pada usia tujuh tahun, mereka bisa bertanggung jawab pada diri sendiri. Dibawah itu, biasanya anak masih membutuhkan dampingan orang tua terus-menerus, yang resikonya justru bisa menghambat proses perkembangan mereka. 

- Kecerdasan

Kegiatan pendidikan di SD tentu berbeda dengan jenjang sebelumnya yaitu TK ataupun PAUD yang utamanya adalah anak bermain. Dalam pelajaran SD, ada lebih banyak materi yang perlu dipelajari oleh anak, apalagi anak juga sudah diharapkan mampu berprestasi. Kemampuan untuk anak bisa memahami materi SD ini rata-rata ada pada anak usia tujuh tahun. Dibawah itu, perlu catatan khusus dari profesional terkait, baik pada anak yang memiliki kecerdasan atau bakat istimewa dan anak yang dinilai siap secara psikis. 

Aspek-aspek tersebut memang tidak bisa dinilai hanya berdasarkan usia, karena pada dasarnya setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda. Usia tujuh tahun dianggap sebagi usia rata-rata kemampuan anak yang sesuai dengan kondisi pembelajaran di SD. Tahap perkembangan yang dimaksud oleh Psikolog Rose Mini pada Maret 2022 lalu seperti diungkap Detik antara lain:

- Aspek Fisik

Kemampuan motorik kasar dan halus yang sudah matang agar bisa lebih tenang mengikuti kegiatan di SD. Sebelum itu, anak perlu kesempatan untuk bisa mengeksplorasi tubuh dan lingkungannya dalam berbagai aktivitas gerak fisik, untuk menyalurkan energinya, untuk mematangkan kemampuan motorik kasar juga halus. Setelah mencapai kematangan aspek motorik, anak lebih siap untuk belajar dengan tenang di bangku SD.

- Bahasa

Sebelum mulai masuk SD, pastikan anak bisa berkomunikasi dengan baik. Penilaian objektif bahwa anak mampu berbicara dan mendengarkan. Kegiatan tersebut bisa dimulai dari perkenalan diri, menjawab pertanyaan, bercerita, juga bernyanyi. Tidak hanya bagi orang tua atau orang terdekat, anak juga diharapkan mampu berkomunikasi dengan baik pada orang lain.

- Kognitif

Kemampuan anak tidak bisa langsung ditujukan pada calistung, karena ada banyak kemampuan kognisi lainnya yang perlu diasah sebelum sekolah. Seperti pengenalan warna, bentuk, simbol-simbol, juga benda disekitar. Apakah anak sudah mampu membedakan benda-benda, ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam mengingat dan memahami hal-hal lebih kompleks lainnya saat SD nanti.

- Sosial Emosional

Sebagai manusia yang perlahan dilepas untuk bisa menyesuaikan diri dengan tanggung jawab, penting bagi anak untuk memiliki kemampuan sosial emosional yang baik. Apakah anak sudah mampu berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku, dapat interaktif beraktivitas dengan orang lain, menghargai perbedaan, serta membantu orang lain. Dengan kematangan sosial emosional, seseorang harusnya mampu melakukan hal tersebut, dan kemampuan ini menyesuaikan dengan perkembangan tiap anak, yang bisa dinilai juga dari rata-rata usia anak. 

- Kemandirian

Sebelum masuk SD, setidaknya anak perlu melakukan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan dirinya. Mulai dari sadar dengan rutinitas harian yang ia miliki, mampu mulai dari makan sendiri, pakai baju sendiri, ke toilet sendiri, dsb. Karena di SD diharapkan aak tidak lagi butuh pendampingan guru, seperti yang dilakukan oleh guru TK. Guru SD lebih fokus pad apelajaran dan penilaian kemampuan siswa.

Resiko Usia Tidak Tepat Sekolah

Dari beberapa aspek tersebut dan pemahaman bagaimana kondisi yang akan anak hadapi di SD nanti, kita sebagai orang tua bisa memperkirakan apakah anak sudah mampu atau belum. Jika anak belum siap, kita bisa terus melatih kemampuan mereka dengan stimulasi yang tepat. Tentunya dikemas dalam kegiatan bermain hingga usia anak sudah mencapai usia ideal masuk sekolah. Namun, jika anak yang nyatanya belum siap tetapi malah dipaksakan mengikuti kegiatan yang belum kapasitasnya, ada beberapa resiko yang bisa terjadi seperti

- Anak kesulitan beradaptasi dengan lingkungan juga kegiatannya

- Sulit memahami pelajaran yang diberikan

- Merasa tidak nyaman bersekolah yang bisa mempengaruhi kegiatan anak lainnya


Kesimpulan

Penting untuk kita ketahui bahwa pendidikan jenjang SD adalah tahap awal pendidikan yang serius bagi anak. Setidaknya mereka akan bersekolah selama dua belas tahun. Belum ditambahkan dengan masa kuliah nanti. Mereka punya tanggung jawab dalam menyelesaikan kegiatan tersebut, ada hak dan kewajiban yang mengikutinya, berbeda dengan saat TK. Anak hanya datang lalu melakukan kegiatan bersama yang didampingi oleh guru. Anak juga masih diberi kebebasan tanpa konsekuensi dalam mengikuti kegiatan di TK. Di SD sudah mulai adanya tuntutan tertentu terhadap anak, untuk anak menyelesaikan materi pelajaran bahkan hingga dibawa pulang, kemampuan mereka terus dinilai. Anak dalam tahap ini diharapkan mampu menyesuaikan diri dan melakukan banyak kegiatan, kadang yang menyenangkan kadang juga kurang mereka sukai tapi tetap perlu dilakukan. Sehingga penting untuk menyesuaikan kematangan anak dengan kondisi tersebut.

Kematangan ini tidak serta merta didapakan, namun rata-rata sudah dimiliki oleh anak usia tujuh tahun atau minimal enam tahun. Anak perlu kesempatan, waktu dan ruang bagi mereka menggerakkan tubuh, mengeksplorasi sekitar, mencoba melakukan hal-hal baru. Termasuk kesempatan untuk menentang, mencoba hal yang berkebalikan dengan yang kita katakan, kadang bahkan hal yang menyalahi norma. Hal yang masih bisa dimaklumi dalam usia anak dibawah tujuh tahun yang memang sedang masa uji coba. Stimulasi, arahan, dan pendampingan perlu terus kita lakukan agar anak benar-benar siap memulai pendidikan mereka nantinya. 

Sehingga sangat disayangkan jika anak tidak memiliki kesempatan bertumbuh yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Waktu yang seharusnya anak gunakan untuk mengembangkan diri melalui bermain harus dialihkan pada kegiatan panjang di sekolah. Anak yang belum siap memikul tanggung jawab, dituntut untuk bisa memahami dan menyelesaikan persoalan di sekolah. Efeknya mungkin tidak langsung terlihat, mungkin juga tidak ada dampak yang berarti, namun bukankah kewajiban kita sebagai orang tua untuk memfasilitasi mereka sesuai perkembangan bukan mengejar mereka sesuai timeline kita?



Salam, Nasha

0 Comentarios

Mau nanya atau sharing, bisa disini!