Dari Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan; Begini Cerita Pindahan dan Pelajaranku

Kali ini aku mau cerita tentang hidupku yang berpindah-pindah dengan segala drama dan keseruan di dalamnya, sebagai peringatan setahunku tinggal di rumah yang sekarang. Banyak hal yang aku pelajari, yang aku pikir gak akan aku dapatkan kalau aku gak pindah-pindah begini. Bingungnya ada, capeknya juga ada banget. Tapi, seru, senang, dan leganya juga ada. Dan yang terpenting, kami tumbuh bersama sebagai keluarga!



Ke Ibu Kota

Aku lahir dan tumbuh besar di Tanah Minangkabau, sampai aku dianggap cukup dewasa dan diperbolehkan merantau. Ke mana lagi, kalau bukan ke Ibukota? Tempat pembangunan dipusatkan, segala kesempatan dan peluang tersebar di sana. Meski sudah sering bolak bali ke sini, aku tidak pernah benar-benar menyukai kota ini. Kesenjangannya terlalu terasa, begitu keluhanku selalu pada orang tua ketika melihat gedung-gedung mewah berdampingan dengan gelandangan yang untuk makan saja tidak ada biaya.

Mau bagaimana lagi? Ini pilihan terbaik yang aku punya. Menemukan peluang bersama dengan jutaan pencari kerja lainnya. Berdesakan, memasukkan lamaran, hingga aku sampai di satu perusahaan. Besar dan cukup terkenal. Jangankan orang lain, aku sendiri tidak menyangka bisa menjadi bagian di dalamnya.

Pelan-pelan aku berdamai dengan kerusuhan pikiranku sendiri. Aku juga berdamai dengan segala kemacetan dan kebisingan yang mengelilingi dalam perjalanan pulang pergi yang sungguh melelahkan. Syukurnya, jam kerjaku tidak normal. Aku berangkat pada siang, dan pulang tengah malam; setidaknya saat itu sebagian warga sedang melepas lelah di peraduan. 

Di kota serba ada ini, aku belajar tentang kemandirian sekaligus kemurahan. Kekuatan untuk hanya mengandalkan diri sendiri sekaligus kelapangan untuk bisa membantu orang lain. Aku lebih mudah berempati, karena tampaknya tidak ada yang tidak kesusahan di sini. Semua atau sebagian besar warga sedang berjuang sekadar untuk bertahan. Di sisi lain, aku juga paham pentingnya mengatur batasan, sebab tidak semua orang hadir dengan maksud baik, dan tidak semua orang pula bisa aku beri bantuan. Selain itu, aku jug belajar tentang makna bekerja keras. Benar-benar keras hingga kadang melupakan jati diri kita sebagai manusia.  

Beberapa tahun aku bertahan di sana. Belajar, bekerja, berteman, bersenang-senang, hingga menikah dan berumah tangga. Aku jadi punya banyak pemahaman tentang hidup modern dan dewasa, suka tidak suka. 


Berpindah ke "Jawa"

Fase hidup selanjutnya membawaku ke tengah Pulau Jawa, tempat tinggalnya orang-orang bersuku Jawa. Meski tidak asing dengan suku ini berkat garis keturunan ayahku, tetap saja aku tidak terbiasa. Apalagi di fase ini, aku benar-benar menjadi orang yang tidak hanya bertanggung jawab pada diriku sendiri tapi juga pada makhluk titipan Tuhan yang butuh begitu banyak pertolongan.

Di sinilah aku merasa hidup mendorongku makin dewasa. Aku kini mengurus keluargaku, dengan keputusan-keputusan yang bergantung pada pertimbanganku, dengan aku yang tidak bisa lagi bersandar atau menyerahkan urusan-urusan pada orang tua. Kini aku dan suamilah orang dewasanya. Ada banyak perasaan yang datang silih berganti. Kadang bingung, kadang sepi, kadang asing, kadang riang, dan tidak disangka cukup sering adalah hangat. 

Mudah sekali menemukan orang asing yang tersenyum di sini. Hanya dengan melakukan eye contact, kebanyakan akan tersenyum bahkan kadang mengangguk. Bukan melirik sinis seperti yang biasa aku terima di ibukota. Tidak jarang bahkan aku diajak bicara. Benar-benar definisi memanusiakan manusia. 

Di tempat di mana keramahan dan kehangatan mudah didapatkan dan pertolongan dengan cuma-cuma diberikan ini, aku yang terbiasa hidup hanya untuk diri sendiri, pelan-pelan belajar lebih peduli. Aku tahu rasanya disapa, diberi senyuman, diberi bantuan. Aku pernah mendapatkan sapaan dan senyuman tepat ketika air mataku nyaris muncul ke permukaan. Di hari yang berat, ternyata hal sederhana seperti itu bisa mencerahkan harimu. Maka, aku pun ingin melakukan hal serupa. Menjadi orang yang lebih hangat, lebih peduli, lebih ramah dari sebelumnya. Lebih baik sebagai manusia.  

Dalam fase yanng tidak mudah ini, di tempat yanng hangat ini, pelan-pelan aku mulai menerima keadaanku sendiri. Aku mulai berdamai bahkan menata kehidupanku kini. Aku menentukan apa saja yang ingin aku lakukan, apa hal-hal yang aku senangi, bagaimana rutinitas yang aku inginkan. Aku mengatur jadwal harian agar bisa memiliki waktu untuk mengurus diriku dulu, aku berkarya sesuai dengan apa yang aku senangi, aku juga bersosialisasi dengan orang-orang sekitarku, aku berusaha menikmati peranku dengan perspektif yang baru.

Di tengah perjalananku itu, aku didiagnosis skoliosis.

Kejutan- kejutan dalam hidup, yang ada-ada saja dan tidak begitu mengenakkan awalnya; telah mengantarkanku pada hal-hal yang aku syukuri hari ini. Kabar skoliosis yang baru aku ketahui saat itu, membuatku rutin berolahraga. Meski awalnya sangat terpaksa, karena aku tidak suka olahraga. Namun, lama-kelamaan aku bisa menikmatinya, bahkan menjadi kebutuhanku hingga saat ini. Mungkin itu adalah jalan untukku kembali menerima dan mencintai apa adanya diriku.

Tidak berhenti di situ, tidak berapa lama setelah aku muali berdamai dengan kondisi tulang punggungku, aku dihadapkan pada rasa sakit di gigi. Dari yang aku pikir hanya berlubang biasa ternyata perlu pencabutan gigi bungsu dan perawatan saluran akar. Seakan masih belum cukup, aku pun diharuskan membuat gigi tiruan. Iya, umur dua puluhan aku sudah pakai gigi palsu :)

Aku tidak akan menampik kalau beban terberat dari rangkaian pengobatan itu adalah biayanya. Aku tidak punya asuransi yang bisa menanggung keluhanku saat itu. Di hari ketika aku menangis sendirian membayangkan uang yang harus aku relakan, di saat itulah Allah memberikan jawaban. Langsung, tidak berlama-lama. Kembali aku diyakinkan bahwa Tuhan tidak mungkin menempatkan kita di suatu keadaan tanpa memberikan jalan penyelesaiannya. 

Ini rincian perawatan apa saja yang aku lakukan pada gigiku saat itu.


Sampai ke Kalimantan

Ketika aku mulai cukup menikmati dan settle dengan kehidupanku di Jawa itu, Tuhan memberikan pembaharuan lagi. Pagi itu, tiba-tiba aku dikenalkan dengan sebuah kota yang namanya tidak pernah terlintas dalam kepala. Di tengah Indonesia, di salah satu kabupaten di tengahnya. Kabar itu jelas saja mengejutkan kami semua. Tapi, yang lebih mengejutkan, kami bersama-sama nekat berangkat, langsung berpindah tempat.

Aku ingat kedatangan kami tengah malam di kota asing ini. Tentu lebih kecil dari tempat lain yang pernah aku tinggali. Jalan lintasnya lebih banyak gelap daripada terang. Oh, seingatku memang tidak ada lampu jalannya. Sebagian besar dikelilingi oleh perkebunan, tentu saja tanpa penerangan. Pusat kotanya, cukup terang tapi tidak gemerlapan dan jangan dibandingkan dengan kota-kotaku sebelumnya. 

Ini penyesuaian yang butuh usaha lebih untukku. Karena semuanya memang berbeda, tampak nyata. Bangunannya, jalanannya, fasilitasnya; tidak ada yang sama. Sulit menemukan sekolah jika hanya mengandalkan internet atau Google review. Hanya ada satu rumah sakit di sini. Jalanan utama hanya bisa dilalui dua mobil di satu ruasnya, yang artinya kalau ruas kiri dipakai parkir berarti hanya tersisa satu ruas lagi. Rasa makanannya juga cukup asing di lidahku, tapi syukurlah aku pemakan segala. 

Semua perbedaan itu masih bisa aku hadapi. Aku benar-benar berusaha untuk melihat hal-hal baik di sini. Hari yang lebih simple, lokasi yang berdekatan, tidak adanya kemacetan, dan orang-orang yang baik. Hanya saja, jaraknya cukup jauh dengan sanak keluarga. Perlu dua kali penerbangan bagiku untuk pulang ke orang tua, itupun hanya ada satu penerbangan sehari kalau tidak cancel. Kalau ke mertua, bisa satu kali penerbangan tapi jadwalnya hanya tiga kali seminggu. Harga tiket mudikku? Saat aku banding-bandingkan hampir sama dengan dari Jakarta ke Korea :)

Maka, di sinilah kami, mengandalkan satu sama lain. Tanpa bisa pulang dan tanpa ada kunjungan ketika rindu. Kalau sebelumnya, aku bisa ke mertua setidaknya dalam sekali sebulan dan dikunjungi orang tua seminimalnya sekali dalam satu tahun dan bahkan didatangi teman-temanku juga; di sini kami hanya punya kami. Hanya tetangga dan rekan seperjuangan, hanya orang-orang yang aku temui di berbagai kesempatan, hanya mereka-mereka yang bersimpangan jalan. Terlepas dari itu, hanya ada kami yang saling mengandalkan.

Begitulah, sekilas cerita dariku di tempat-tempat yang aku tinggali. Aku percaya tidak ada hal yang sia-sia, termasuk dalam hal penempatanku ini. Mungkin orang belajar dan berjuang dengan menetap, mungkin jalanku belajar dan berjuang justru dengan berpindah-pindah begini. Semacam petualangan bagiku untuk mengenal dan memahami tempat-tempat baru!



Salam, Nasha

0 Comentarios

Mau nanya atau sharing, bisa disini!