Jawaban buat Komen, "Dulu Gak Perlu Begitu, Sehat-sehat Aja, tuh!"

"Loh, dulu gak begini baik-baik aja kok!"

"Ada-ada aja ya zaman sekarang, segala dilarang"

"Kamu dulu gak begitu, sampai sekarang sehat aja kan!"

Pernah denger gak? Atau bisa jadi kalimat-kalimat serupa Aku pertama kali dapat komentar seperti ini saat masa MPASI anakku. Padahal aku gak ikut tren yang aneh-aneh, hanya kasih makanan lengkap di enam bulan, makan yang perlu dan punya gizi, serta minimalkan garam dan gula. Misalkan pemberian teh, kerupuk, madu, yang bukan makanan bayi dan gak ada juga perlunya dimasukin ke badan anak, apalagi di bawah satu tahun. Air putih aja dibatasi kok, supaya perut mereka yang kecil itu gak penuh. Jus juga belum dibolehkan. Lagipula kebutuhan cairannya bisa dipenuhi dari ASI. Apalagi air-air lain yang gak tau tujuannya apa.

Makin berkembangnya ilmu, makin banyak hal yang kita dulu gak tahu sekarang jadi tahu. Sekarang ada batasan jelas tentang penggunaan gula dan garam dimana dulu penggunaan gula dan garam adalah hal lumrah tanpa takaran berdasar usia. Ada lagi perkara mulai memberi makanan pada bayi, sekarang kan jelas saat anak berusia enam bulan (atau rekomendasi dokter anaknya langsung), langsung menu lengkap dalam tekstur lunak, bukan hanya satu jenis makanan. 

Gak cuma soal MPASI anak, komentar tentang gaya hidup orang dewasa sekarang juga ada. Belakangan, semakin banyak pola makan yang bisa dipraktikkan, kalori dihitunglah, kandungan nutrisinya disesuaikan, ada dietitian dan nutritionis perorangan, sampai proses cari tahu asal bahan makanannya. Dengan beragamnya pola makan sekarang, perlunya aturan dan batasan konsumsi, juga jenis olahraga yang perlu dilakukan, semua dalam kebutuhan yang perlu diukur; emang rasanya pingin ikutan ngomen, "dulu gak seribet sekarang tapi bisa sehat-sehat aja tuh." atau "dulu mana ada kelas olahraga macem-macem kaya sekarang, tapi tetap bugar kok."

Photo by Alex Green in Pexels

Kenapa ya bisa gitu?


1. Lingkungannya Udah Beda

Populasi manusia aja udah meningkat drastis! Hanya dalam satu dekade, ada penambahan hampir satu miliar orang di bumi. 2010 ada 6.97miliar manusia, sedangkan 2020 ada 7.82miliar manusia. Tidak sampai dua tahun berselang, populasi manusia menembus delapan miliar. Sedangkan bumi tetap hanya satu, sumber daya bukannya bertambah malah terus berkurang. 

Banyaknya aktivitas manusia yang menghasilkan berbagai limbah dan menyebarkan polutan yang ada di udara, air, dan dalam tanah berpengaruh pada kualitasnya yang berujung juga berpengaruh pada apa yang kita konsumsi. Aktivitas-aktivitas manusia yang masih jauh dari kata ramah bumi ini meningkatkan zat berbahaya yang menurunkan kualitas lingkungan yang kita huni. Dengan banyaknya zat berbahaya tersebut di air, udara, dan tanah di sekeliling kita, tubuh menjadi lebih mudah terpapar. Polutan pun terus berkembang pesat dalam lingkungan yang tidak bersih dan bertambah banyak seiring dengan penumpukan sampah dan limbah dari kegiatan makhluk di sekitarnya. Dengan rendahnya kualitas lingkungan saat ini, kalau masih menggunakan perlindungan yang sama untuk tubuh, udah jelas kita yang hidup di masa ini akan lebih mudah terserang penyakit. 


2. Pola Hidup yang Berbeda

Cerita-cerita dengan orang-orang tua dulu mengantarkan kita ke kesimpulan kalau hidup sekarang jauh lebih mudah dengan segala fasilitas yang ada, serta perkembangan infrastruktur dan teknologi. Untuk perkara makan aja, ada banyak sekali pilihan. Mulai dari pilihan banyaknya menu makanan yang ditawarkan dan bisa kita dapatkan hanya dengan gerakan jari. Kebutuhan lain bisa kita dapatkan dengan hanya menunggu di rumah. Bukan kemudahan yang bisa dinikmati puluhan tahun silam. Kabar buruknya, kita terbiasa dengan kemudahan yang tidak menggerakkan tubuh. Transportasi dengan mesin yang kita gunakan sekarang pun, membuat kaki kita tidak seaktif para tetua yang perlu banyak sekali gerakan kaki untuk sampai di suatu tempat. Padahal tubuh kita memang diciptakan untuk bergerak. 

Disisi lain, jenis pekerjaan dulu dengan sekarang pun jauh berbeda. Dulu, orang bekerja dengan banyak menggunakan fisik, langsung di alam dengan oksigen yang berasal dari pohon di sekelilingnya. Berbeda dengan kita yang mayoritas bekerja di ruang tertutup dengan oksigen berputar-putar dalam ruangan setidaknya delapan jam kebelakang. Aktifitas standar yang mereka kerjakan sudah memenuhi kebutuhan gerak tubuh tanpa perlu mendaftar di kelas olahraga tertentu.


3. Pengolahan Makanan

Dulu bahan makanan yang didapat hari ini atau kemarin diolah untuk dimakan hari ini. Berbeda dengan sekarang. Pengolahan makanan saat ini sudah menggunakan teknologi mutakhir sehingga makanan yang kita makan hari ini bisa jadi adalah olahan dari tahun lalu. Bisa kita makan? Tentu bisa. Tapi, apakah sama?

Lagi-lagi kemudahan akses dan meningkatnya konsumerisme menyebabkan kita bisa melakukan pembelian atas apa saja. Makanan olahan dari waktu-waktu lalu, makanan yang datang dari belahan dunia lain, juga berbagai makanan yang sekedar ingin kita coba makan atau disebut cemilan. Makan bukan lagi perkara kebutuhan lapar untuk mengisi tenaga, tapi ada di level yang berbeda, sebagai pengalaman salah satunya. Berbagai alat juga terus dikembangkan agar makanan bisa didapatkan dengan cara yang mudah dan murah.  

Pola makan sekarang jadi terlihat berbelit karena makin banyak yang kembali teringat bahwa makan, sejatinya adalah untuk mengisi nutrisi tubuh, namun tidak ingin kembali ke masa silam yang dianggap merepotkan. Jadi, banyak ilmu yang juga berkembang untuk mendapatkan nutrisi lengkap sekaligus kemudahan praktiknya. Ditambah pula dengan isu lingkungan, yang menjadi pertimbangan tambahan apa yang baik kita konsumsi untuk diri dan baik juga untuk bumi.

Photo by Kamaji Ogino in Pexels

4. Tingkat Stress yang Tinggi

Beragam keperluan dari tiap manusi yang semakin banyak membuat waktu kita sudah habis terpakai. Transportasi boleh jadi jauh lebih maju, namun masih banyak orang menghabiskan berjam-jam perjalanan. Berdesak-desakan di transportasi umum atau melewati jalanan yang macet dan penuh sesak dengan transportasi pribadi, bisa meningkatkan stres. Dalam artikel halodoc ini dijelaskan bahwa ada berbagai reaksi kimia di otak yang dipicu oleh kemacetan, sehingga kemacetan memang berbanding lurus dengan tingkat stress.

Itu baru perjalanan. Belum gaya hidup. Maraknya sosial media salah satunya. Akses yang sangat mudah untuk kita membandingkan hidup dengan orang lain. Melihat kecemerlangan hidup yang ditampilkan di sosial media, lalu membandingkan dengan pencapaian diri kita sendiri. Secara tidak langsung, kita memberi beban tambahan yang menekan diri kita sendiri.

Disamping itu, kemudahan komunikasi juga membuat batasan peran yang kita jalani semakin kabur. Dulu, pegawai hanya bekerja di kantor pada jam kerja. Sampai di rumah yang dihadapi adalah perkara rumah, bisa jadi anak atau istirahat sambil menonton televisi. Privilese orang dulu, bahasa karyawan kantoran sekarang. Di masa ini, atasan bisa dengan mudah menjangkau bawahan, klien bisa tiba-tiba minta revisi di malam hari. Aktifnya grup pekerjaan dan kirim pesan yang sangat instant membuat pikiran kita terus dalam mode kerja meski di waktu istirahat. Sedang menemani anak bermain tetapi pikiran tentang presentasi esok hari. Apalagi dengan berlakunya WFH atau WFA. Bukan hanya tempat, namun jam kerja juga turut jadi fleksibel. Sudah tidak asing kan saat cuti tapi harus was-was ditanyai pekerjaan? Saat liburan harus bawa laptop karena bisa jadi ada revisi laporan? Waktu dimana harusnya tubuh bisa beristirahat tapi tetap dipakai bekerja begini, menjadi pemicu stress yang mempertaruhkan kesehatan.


5. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Hal pasti yang tidak kalah penting, jumlah sekolah dan lembaga penelitian terus bertambah. Ada semakin banyak ketidaktahuan di masa lalu yang sudah bisa diketahui jawabannya kini. Penelitian terus dilakukan sehingga melahirkan banyak temuan. Ilmu-ilmu itu melahirkan banyak cabang keilmuan lain dengan ahli-ahli yang mempelajari dengan semakin rinci.

Jika bicara penyakit, bisa jadi penyakitnya sudah ada sejak dahulu, namun baru diketahui belakangan karena perkembangan ilmu pengetahuan. Dulu ada orang yang sakit parah, hanya ada beberapa diagnosa, sekarang ada banyak pemeriksaan yang lebih detail hingga diketahui jenis penyakitnya. Nama penyakit yang jarang, terdengar sulit, ini dianggap adalah kondisi yang hanya terjadi pada saat ini. Padahal, mungkin saja itu karena baru diketahuinya jenis penyakit tersebut. Beda kan, sehat-sehat saja dengan tidak ketahuan sakitnya apa.

Berbagai temuan juga menambah batasan-batasan kita pada hal tertentu. Misalkan pengaruh suatu zat pada kondisi tertentu. Dulunya bahan itu bisa dikonsumsi ternyata setelah dilakukan penelitian diketahui bahwa bahan itu berbahaya. Atau adanya senyawa yang baru diketahui sekarang ternyata kurang cocok pada tingkatan usia tertentu, atau memiliki batas wajar konsumsi. Tidak lupa, semua hal saat ini lebih mudah didata. Fasilitas kesehatan sudah jauh bertambah dari waktu ke waktu, laporannya bisa langsung di-update hingga ke pusat saat itu juga



Salam, Nasha


Artikel dengan ide serupa pernah dipublish pada laman kumparan ini.


Referensi:

https://www.kait8.com/story/14706033/are-more-kids-sick-today-than-in-years-past/

https://www.inirumahpintar.com/2017/08/mengapa-orang-dulu-jarang-sakit-ini-rahasianya.html


0 Comentarios

Mau nanya atau sharing, bisa disini!