Pengalaman Pedih bernama Nursing Strike, Saat Anak Tidak Mau Menyusu

Sejak masih dirumah sakit, setelah proses melahirkan aku ceritain disini ya dr.Enny udah ngasih PR sebelum pulang agar bisa menyusui nyaman tanpa kesakitan. Begitu juga dengan dokter anaknya dan para bidan. Setiap hari bolak balik menanyakan perihal menyusui ini.


Meskipun gak langsung ‘kelihatan’ keluar, tp dari kondisi bayi dan penurunan BB lahir yg cuma 5%, maka proses menyusui dianggap lancar. Dan karena ini anak kedua, sayapun jg lebih yakin dan merasa mampu. Tidak pernah terbayang akan ada masalah menyusui ini. Saya menikmati proses menyusui sebagai ibu anak dua baru ini. Bulan pertama kenaikan BB luar biasa. Guna2 tidak seperti anak usia 1 bulan pada umumnya, apalagi BB lahirnya juga diatas rata-rata. Wah, bahagia sekali ibu rasanya.


sumber gambar Pixabay

Sampai pada malam itu, dini hari sekitar pukul dua, ia terbangun dari tidurnya. Refleks saya tentu menyusui. Tapi ia menolak. Saya gendong beragam posisi, ia masih menangis kencang sekali. Akhirnya ia tertidur lelah di tangan ayahnya. Saya sangat takut. Saya takut pada anak saya sendiri. Saya takut dengan tangisannya. Jeritan tangisnya merobek hati saya.


Hari selanjutnya, masih sama. Ia bisa tiba-tiba menangis kencang, tidak mau tidur, menolak menyusu, diubah posisi gendong juga tak mempan, cek suhu pakaian juga tak pengaruh. Ia hanya menangis kencang. Hingga terdiam dengan sendirinya karena ketiduran. Itu terjadi bisa 1-2x sehari dan berlangsung selama beberapa hari, sampai saya mulai mencari pertolongan ke luar.


Kemana? Google

:)

Kemana lagi seorang ibu-ibu abad 21 berkelana kalau bukan di Google?

Keyword yang pertama saya coba adalah anak tidak mau tidur. Karena saat itu, ia menangis di tengah-tengah tidur. Dan tidak selalu menolak menyusu. Jadi saat itu saya mempertanyakan kenapa tidurnya. Saya pun mendapati banyak sekali penyebab. Ntah kondisi badan, kondisi luar, ketidaknyamanan setelah keluar dari rahim, serta tidak kenyang. Nah, disitu saya mukai sadar, oh iya beberapa hari belakangan juga ia menyusu sebentar-sebentar ya. Paling lima menit. Dan jaraknya juga lama. Badannya saat digendong kok juga terasa lebih enteng ya. Apa mungkin dia menangis karena kelaparan. Tapi kenapa disusui tidak mau. Lalu, saya mencari dengan kata kunci, anak menolak menyusu, dan berkenalanlah saya dengan istilah ‘nursing strike’ atau anak menolak menyusu.


sumber gambar Pixabay


Waw! Ternyata banyak sekali drama menyusui ini ya. Karena pada Guna1 tidak ada masalah menyusuinya, saya benar-benar tercengang dengan segala kondisi dan masalah saat menyusui ini.

Dari pencarian saya tentang nursing strike itu, saya dapati penyebabnya bisa setidaknya kita bagi jadi dua hal yakni faktor fisik dan faktor psikologi.

Faktor fisik ini biasanya karena anak sedang sakit, ntah badannya terasa tidak nyaman dengan posisi tertentu, ntah sedang flu, dsb. 

Nah kalau faktor psikis ini jauh lebih beragam, namun berkaitan dengan psikologi anak. Ntah dia merasa takut, tidak nyaman, sedang kesal, stress, atau ntahlah apapun hanya Tuhan yang mengerti :’)


Dan NS karena psikis ini biasanya berlangsung lebih lama dari faktor fisik. Duh.


Apa saja yg bisa bikin anak tidak nyaman ini juga ternyata ada banyaak sekali. Bisa hanya karena ibu berganti pengharum sehingga anak merasa asing, bisa karena perubahan lingkungan seperti pindah rumah, adanya penghuni baru, ataupun pergantian pengasuh mereka, atau yg kelihatan sangat sepele seperti kecenderungan arah menggendong. Dari banyak hal yang saya baca itu, solusinya ya kira-kira begini, temui penyebab, atasi masalah, dan anakpun menyusu kembali seperti sedia kali. Iyah, simpel gitu aja.


Tapi perjalanan saya menemui penyebab dan mengatasinya jauh dari kata simpel, wahai ayahibu sekalian. Ya namanya juga hidup, praktik sama teori bisa bagai langit dan bumi gitu..


Di proses inilah saya mengalami yang namanya jungkir balik menyusui karena saya secara harfiah memang jungkir balik untuk memposisikan diri agar ia menyusu. Karena pada awalnya ia hanya menyusu dalam keadaan mengantuk dan dalam posisi tidur. 


Jadi saya berjaga di sekitar dia, saat dia kelihatan akan bangun saya langsung menyodorkan payudara agar ia langsung menyusu. Karena kalau sudah bangun, kepalanya tegak dengan mata terbuka, ya sudah ia tidak akan mau lagi menyusu. Hilang kesempatan untuk menyusuinya saat itu. Tunggu lagi saat ia mengantuk, setengah teler berikutnya. Tentunya dengan tahapan rewel-rewel mengantuk, gendong, menyusu (sebentar), gendong lg, baru tertidur :’)


Berhari-hari seperti itu? Rasanya? Wah.. kalau tidak punya harapan, dan keyakinan, mungkin bisa disebut frustasi.


Ibu sih gitu aja usahanya!


Wah, saya konsul laktasi juga loh. Sarannya? Terus susui :’)

Karena intinya ya itu. Lalu, perhatikan pelekatan (yg saya rasa sudah sesuai, apalagi ini anak kedua)

Tapi konselor juga mengingatkan, ada faktor lain yg tidak tampak tapi sangat berpengaruh. Iya, faktor psikologi. Emosi. Emosi anak. Emosi ibu. Bersatu padu menjadi satu. Ibu tertekan? Anak tau. Ibu stress? Anak merasakan. Ibu tidak nyaman? Apalagi anak. Masih jetlag loh ini. Baru mendarat dari alam rahim ke dunia yg begitu luas, terang, berisik, dan mengejutkan ini :”


Imunisasi ke dokter anak. Loh, kenaikan BB nya kok cuma segini. Lalu, karena melihat Guna2 baik-baik saja, cerah ceria tidak tampak terjadi apa-apa, DSA nya pun berkesimpulan anaknya baik-baik saja, sehat, berarti ada masalah di ibu-nya, jd beliau menganggap saya kurang makan. Faktornya di ibunya nih. Bukan bawaan anak. Toh, bulan pertamanya sukses.

Ok, jd tugas ibu berikutnya ganti pola makan alias makan banyak kalori. Hewani dulu baru nabati. Lauk dulu baru sayuran. Tambah tuh nasinya. Sering-seringlah makannya. Ibu yg biasa makan cuma 2x mesti jadi 4x. Ketemu nasi lagi nasi lagi. Oh, hello you again. Gapapah, demi kamu mah. Tiap kesempatan makan ya makan. Padahal nemu jeda aja udah sulit :’) Kan kita punya anak sudah dua, lagi manja-manjanya pula. Iya gapapa :’)


Nah, udah kelar dong!

Belum ya, sabar lagi :’)


sumber gambar Pixabay


Hari-hari awal selalu terasa berat. Sepertinya tidak ada hari tanpa air mata. Tidak sanggup. Sungguh. Rasanya ingin menyerah menyusui, menyerah menunaikan kewajiban memberikan ASI. Ingin mengalihkan tanggung jawab. Namun ‘syukurnya’ saya bukan orang yg pemberani, mengambil keputusan dan segera bertindak. ‘Syukurnya’. Saya hanya meratapi, sambil tetap berupaya.

Saya sangat ingat saat itu, di malam idul adha saya tertunduk sembari menggendong Guna2. Segala pikiran buruk berkelabat. Segala emosi memuncah. Akhirnya dengan segala yg saya miliki, saya memohon. Menangis memohon mengungkapkan ketidakberdayaan. Ya Allah, sungguh saya tidak sanggup.


Setelah itu, ntah keadaan yg memang berubah atau hati saya yg membaik, semua terasa lebih mudah, lebih lancar. Guna2 masih belum mau menyusu seperti sebeumnya, tapi berangsur lebih baik. Ia mau menyusu dengan posisi-posisi tertentu dalam mood yg baik. Saya pun sedikit lebih bisa memahami apa yg ia inginkan, bagaimana ia mau menyusu. Meskipun masih pada posisi tidur, setidaknya tidak harus dalam keadaan sangat mengantuk. Setidaknya, tidak ada lagi jeritan menangis yang diasumsikan karena ia kelaparan itu. 


Perlahan, saya coba menyusui dengan menggendongnya dalam posisi duduk sepeti saat ia bayi. Mau.


Perlahan, durasi menyusunya terus bertambah cukup lama hingga ia bisa tertidur saat menyusu. Bahkan pegal tangan yg saya rasakan karena menggendongnya sambil menyusui, adalah hal yg saya syukuri. Lelahnya kaki ikut menanggung berat badannya tidak pernah saya keluhkan.


Perlahan terasa ia sepeti bayi pada umumnya. Begitu perlahan. Berproses. Berubah sedikit demi sedikit. 


And it takes months. Iya, perlahan yang saya maksud itu hitungan bulan :’)



Baca Juga: Menyapih Minim Drama: How to & Tips Menyapih dengan Cinta

Baca Juga: Dukungan untuk Perempuan Pasca Persalinan, dari Birthcare Center di Netflix



Salam, Nasha

11 Comentarios

  1. Momm anak saya juga lg nursing strike, juga anak ke2.. skrg usia 3bulan
    Saya skrg jg frustasi dan mau menyerah tp saya gamau kasi anak sufor
    Feeling saya krna kelelahan perjalann jauhh
    Saya jg hrus menyusui saat dia ngantuk momm ya Allaah gmn ini mommm saya tkut bb nya turuunnnnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mom, maaf banget baru respon. sekarang gimana mom menyusuinya? emang frustasi bget mom, syukurnya waktu itu lingkungan gak ada yg ngomen, udah sufor-in aja jd saya masih bisa kuat. bb nya gak turun sih mom, tp naiknya gak sesuai seharusnya, cape banget. terus konsul laktasi aja mom, mereka bakal kuatin mental kita jg

      Hapus
    2. Sudah agak lumayan tp masih ad rewelnyaa maunya digendong terus dan disusuin smbil gendong… kira2 brpa bulan yaa bgni terus kak???😫 saya punya toddler jg soalny usia 23bln … kdg ngerasa drained dan mau nyerah kakkk
      Jd sbnrny nursing strike ini krna sayanya ga tenang ya kak? Bonding ke anak yg sperti apa kaak yg hrus dialkukan utk cpt mengakhiri ini ya? Lalu apakh ad pengaruh krna ada toddler?? Kasih tipsss kakkk
      Dsni tdk ad konsultasi laktasi kakk
      Dmna saya bsa baca utk pengethuan laktasi ya kakk?

      Hapus
    3. oalah hampir sama kak, saya dulu sambil gendong berdiri jg nyusuinya pas dia ngantuk2nya, atau pas sebelum bangun ya posisi di kasur menyesuaikan posisi tidur dia. kl diingat2 lg duh frustasi bget :"
      bisa jadi gt kak, tp pastikan jg kondisi bayinya misalkan lg sakit, atau ada perubahan pad ibu sesimpel bau yg berbeda dr ganti sabun jg bisa. kl semua udah dicheck, mungkin ada faktor psikologisnya. nah, sama kak saya jg dulu ada toddler 2thn kemungkinan besar krn mentalnya belum siap sm si adik dan repot bget urus berdua gitu.
      saya gak tau pastinya kak, tp berangsur2 kak dr kekeuhnya kita buat nyusui, kita belajar buat lebih tenang, sering interaksi sm dia, full perhatian pas sm dia, skin to skin, berdoa2 terus, pelan2 insyaAllah anaknya mau lagi. walaupun BBnya yg jd pr, krn seingt saya beberapa kali kontrol itu sampai ditegur sm dsa nya.
      pastikan jg makan makanan bergizi tinggi ya kak, kebutuhan kalorinya penuhi (naik 25% dr biasa) spy sedikit yg masuk ke anak itu emng bernutrisi.
      coba reach AIMI kak, biasanya ada ditiap kota, atau ada konsultasi online jg. di klinik ibu anak gt jg biasanya ada kak. semangat :'')

      Hapus
    4. Jazakillah khyar ya mom Nasha… semua yg kk bls really means alot walaupun tdk prnh jmpa tp saya merasa dekat dan dpt teman sharing.. insya Allah saya ikhtiarkan apa2 yg sudh kk jawab… trimksih bnyak atas smua balasannya ya kakkk…smaga kk , anak2 dan sluruh klrga di rahmati Allah, sehat, dan dijauhkan dri hal2 buruk aamiin

      Hapus
    5. alhamdulillah. aamiinn, doa yg sama buat kk sekeluarga ya. semoga fase nursing strikenya segera berlalu aamiin

      Hapus
  2. Momm jd proses kembli menyusui normal brpa bulan?? Lalu apakah BB turun?? Share ya mmaamm

    BalasHapus
  3. Jd mengatasinya diperbanyak pendekatan k bayinya atau perbaiki makanann ya kak?? Apa asi ny ga enak ya bagi bayi saya???

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai kak, gak ada asi yg gak enak sm bayi. mereka gak membedakan rasa seperti orang dewasa, tp hebatnya mereka bisa menrasakan kenyamana, kl kita nyaman menyusui bakal nular ke anak. itu knp kita harus jaga ttap tenang. perbaiki makan kita dgan yg bergizi sesuai kebutuhan kalori penting, menjaga bonding dgan bayi jg penting

      Hapus
  4. Hai mba nasha, saya pikir saya sendirian mengalami nursing strike. Tulisan mba nasha memberikan semangat untuk saya untuk tetap berusaha menyusui. Ini sudah jalan 1 bulan lebih debay menyusu sedikit jarang dan sering marah. Yg masih jadi pr saya adalah mengembalikan ketenangan. Seperti yg mba nasha ceritakan, debay paling mengerti suasana hati mommy nya. Bagaimana cara agar diri ini tetap tenang sementara lingkungan sekitar menurut sayabkrg mendukung. Seperti misalnya, si kakak yg bikin ulah, pwkerjaan rumah yg tdk selesai selesai..dsb. sungguh mengembalikan ketenangan diri bagi saya sedang terasa sangat sukit. Blm lagi pikiran2 yg berkelana memikirkan hal buruk yg blm tntu terjadi. Mungkin mba nasha punya tips?

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mba, peluk jauh ya mba, semoga senantiasa diberi kekuatan.
      Saya gak punya tips khusus mba krn waktu itu jg pandemi, tp apa yg menguatkan saya dr hari ke hari itu ya nangis pas sholat. Nangis aja udah tanpa doa tanpa ngomong apa2. Setidaknya saya bisa bertahan hari itu, besok diulang lg, besok dicari cara lain lg. jadi gak mikir panjang2, yg penting hari itu aja dulu.
      Mungkin sekarang bisa dicoba konsul ke psikolog mba, 1-2 jam yg diluangkan buat diri sendiri itu mungkin rasanya susah dan kelamaan ya krn kita mikirnya udah ke bayi terus, tapi itu bakal membantu banyak, ibarat mundur satu langkah untuk lari puluhan langkah.
      sama terus komunikasi sm orang yg mba percaya, entah itu suami, ortu, ataipun sahabat, yg paham apa yg sdng mba perjuangkan, yg tau karakter mba gimana.

      Hapus

Mau nanya atau sharing, bisa disini!