• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Dengan menurunnya grafik kasus covid19 mungkin sebagian orang udah mulai berani gak maskeran lagi yaa. Aku sih, meski mulai sedikit santai, tapi tentu masih parnoan. Dan yaudahlah maskeran juga gak semenyusahkan itu.


Berhubung aku pingin maskeran tapi tetap kelihatan ok, aku paling suka model masker yang KF94 ini. Apalagi ni diklaim lebih efektif daripada masker medis biasa atau masker kain ya. Biasanya masker KF94 ini disandingkan dengan masker KN95. Untuk modelnya aku prefer si KF94 ini sih.

Sebelumnya, KF94 ini artinya Korean Filter, yang artinya masker ini dibuat dengan standar Korea dengan tingkat filtrasi atau penyaringan masker hingga 94%.

Semakin beragamnya jenis masker yang beredar, semakin bingung kan mau pilih masker yang merk apa. Buatku pertimbangannya antara lain:

- Termasuk masker medis atau tidak karena aku tetap prefer masker KF94 yang medis atau surgical mask

- Ada tidaknya izin edar, ini wajib ya supaya aman dipake.

- Merknya baru-baru ada ini atau udah lama, terus review-reviewnya gimana

- Harga, masuk akal apa nggak. Kalau yang terlalu murah juga kan bikin curiga kok bisa murah banget gitu, aman gak ya. Tapi yang mahal juga jadi bikin penasaran, eh kok berani sih naro harga setinggi itu emang kelebihannya apa banget?

Baru deh setelah dicoba ketahuan nyaman nggaknya, cukup lembut gak, ketebalannya pas gak, diwajah pas gak, pas nafas bikin sesak gak. Loh, kok jadi banyak.

Nah, dengan beragam peritmbangan diatas, ini beberapa rekomendasi masker medis KF94 yang aku golongkan sebagai masker kelas menengah dengan harga satuannya dibawah lima ribu!



Onemed

Ini masker medis KF94 pertama yang aku beli. Harga box nya sekitar 50rb, dengan variasi warna hitam, putih, abu-abu, hijau tua, pink, biru muda, dan cream. Ini merk dagang yang somehow cukup familiar di aku, ternyata emang bikinan pabrik alat-alat kesehatan dari Surbaya sejak 2002.

Masker ini tergolong terjangkau ya, karena jadinya cuma2rb per item dengan warna yang variatif. Maskernya gak terlalu tebal juga gak terlalu tipis, terus cukup lembut juga, dan dipake lumayan nyaman. Aku kurang sreg nya cuma dibagian pinggirannya kalau kelamaan pake.

Softies

Masker ini keluaran merk besar Softex, yang udah ada sejak 50 tahunan yang lalu, meskipun bikin masker ini kayanya mulai pas pandemi. Terus pas aku cek range harganya juga masuk akal, akhirnya aku memutuskan coba juga.

Dan emang bener, maskernya lumayan banget, dengan harga sekitar 60rb per box isi 20pcs. Bahannya lebih lembut dari OneMed, ketebalannya sih sama ya. Tapi variasi warnanya gak sebanyak OneMed, cuma ada warna putih, hitam, pink, biru muda (edisi Japanese), dan hijau (edisi Ramadhan)

BAGUS

Pertama kali tau ada masker merk Bagus ini karena dikasih, waktu itu yang masker medis biasa. Dan itu nyaman banget,lembut  dengan tali karet yang lebih lebar jadi gak nyakitin telinga. Lalu, pas mulai banyak yang produksi modelan KF94 ini, aku jadi cobain juga deh. 

Aku beli 1 box isi 20pcs dengan harga sekitar 60rb. Sayang pilihan warnanya cuma hitam, putih, pink.. Seller yang sedia merk ini juga gak sebanyak merk-merk sebelumnya, gak tau kenapa. Untuk dipake, maskernya juga nyaman, lembut, karet telinganya lebih besar dibanding masker merk lain, jadi emang lebih nyaman di telinga. Tapi, maskernya sendiri lebih lembut Softies ya menurutku. 

Fivecare

Aku tergoda beli ini pure karena variasi warnanya dan harga yang terjangkau. Gak tau merknya, dan gak tau juga ini perusahaan apa, karena aku cari infonya kok susah ketemu ya. Tapi tenang, masker ini udah ada ijin edar kok. Aman ya.

Kayanya ini yang paling mahal diantara yang lain, harganya sekitar 70rb per box dengan variasi warna terbanyak yaitu 14! Waw! Ada hitam, putih, merah, lilac, abu-abu, kuning, pink, coklat, orange, biru muda, cream, hijau, mint, tosca. Kalau dari tampilannya sih, masker ini somehow lebih tegap gitu ya, Lah dikata baris berbaris. Bahannya juga pas dipegang lebih terasa tebal, jadi lebih yakin safe aja gitu, tapi gak sesak kok, tetap nyaman. Dan gak bikin gatel juga pinggirannya.

Kalau prefensi aku sih ke Softies ya, meskipun beda-beda tipis sama yang lain, tapi ini yang paling lembut. Nah, suamiku sih lebih suka Fivecare. Aku bisa tergoda juga sih, dengan lucu-lucunya warna yang ditawarkan itu. Jadi semua kembali ke selera masing-masing ya. Yang penting jangan lupakan yang penting, keamanan.

Selain masker 'menengah' diatas, aku juga penasaran nih sama masker-masker muahal. Setau aku masker beredar yang paling mahal itu merk 3M ya. Tapi belum pernah beli, karena selain mahal aku gak merasa pantas pake itu. Bukan nakes, bukan garda terdepan, siapalah aku pake 3M sagala. 

Tapi ada satu nih yang mencuri perhatian aku dengan harganya yang mayan bikin terkejut tapi peruntukannya umum. Apalagi variasi warnanya banyak buanget. Gemes!



Pokana

Aku tau merknya ini dari popok bocah ya. Cuma tau kalau popoknya ada yang reguler (harga masuk akal) dan ada yang premium (masuk ke top list popok termahal). Nah, kemaren setelah memberanikan diri ikut acara nikahan, aku kepingin cobain masker Pokana ini. Ada yang sachetan isi 2pcs dan yang box isi 12pcs. Kalau dihitung satuannya bisa lebih dari 10ribu.

Warnanya ada buanyak banget ternyata. Dan lucu semua, aku gemash! Karena arah warna bajuku ke gold dan light brown gitu aku belinya warna nude brown. Lucu deh. Dan emang ya ada harga ada rupa. Aku pake seharian tuh nyaman banget, gak masalah, gak sesak sama sekali. Berdesakan dengan kerumunan juga tetap ok. Bahannya lembut, ketebalannya pas, diwajah pas, dan nyaman banget! Pingin nyoba yang special edition warna gradasi itu, tapi belum menemukan alasan penguatnya selain karena lucu doang, jadi ya ntar-ntar deh! ;D


Salam, Nasha.


Gak bisa move on kalau cuma bahas bukunya doang. Jadi ini satu postingan tentang kebudayaan mereka yang aku tangkep, dari buku Bringing Up Bebe, dan gara-gara barengan sama nonton serial Emily in Paris. Jadi aku (merasa) makin nyambung sama kebiasaan dan kebudayaan Prancis ini. Coba kita lihat ada apa aja ya.

bringing up bebe

Pertama, mereka sepertinya gak terlalu meromantisasikan hubungan pernikahan (pun peran menjadi ibu). Karena itu hanya satu bagian dari diri kita, salah satu peran, it's not define who you are. Seorang istri, seorang ibu, ya sama aja perlakuannya dengan wanita pada umumnya. Inget kan, Sylvie boss-nya Savouir yang terlihat indepeden kemana-mana itu ternyata juga adalah seorang istri! Mau dia istri apa bukan, itu gak ada hubungannya sama kerjaannya kan.


Kedua, menjadi istri, ataupun ibu, gak bikin perempuan Prancis jadi kehilangan diri mereka sendiri. Makanya abis lahiran mereka akan buru-buru me'normal'kan kembali bentuk badan mereka. Bahkan perempuan Prancis tidak akan terlihat hamil jika dilihat dari belakang.


Ketiga, termupeng, perempuan Prancis berhak atas waktunya (dan didukung untuk itu). Mau balik kerja, silahkan. Mau santai-santai liburan saat weekend silahkan. Mau having adult time, party, juga silahkan. Semua sudah sepaham dengan kebutuhan itu, dan mendukungnya. Bye nyinyiran tetangga! Mulai dari pemerintah dengan menyediakan tenaga pengasuh ataupun tempat penitipan anak yang bersubsidi dan bisa diandalkan. Fasilitas kesehatan yang memadai untuk lahiran dengan aman selamat, bukan ideal seperti yang kebanyakan kita pahami sebagai normal-sakit ya. Lalu kunjungan setelah lahiran, bahkan juga dari psikolog, yang menandakan aware-nya mereka dengan kesehatan mental ibu pasca lahiran. Juga masa cuti yang lebih lama dan juga ada cuti berbayar.

Re-edukasi after birth nya, yang tidak hanya fokus ke bayi namun juga ke ibu dan ayah. Jadi pembahasannya bukan hanya tentang bagaimana merawat bayi ya, tapi juga bagaimana mengembalikan tubuh ibu dan bagaimana mengembalikan keseimbangan hubungan suami-istri antara ibu dan ayah. Keren ya! Hal yang sangat penting namun sering kita lewatkan. Ya gimana mau ngasuh anak kalau ayah dan ibu gak 'terisi' satu sama lain?!


buku parenting terbaik


Keempat. Walaupun mereka terlihat 'acuh' dengan peran ibu atau istri ini, tapi mereka memahami apa yang benar-benar penting. Bagi orang Prancis, priotitasnya adalah diri sendiri, pasangan, lalu anak. Mereka tidak akan 'sok-sok' mengorbankan waktu sendiri, waktu pasangan, dengan dalih 'demi anak' padahal yang anak dapat kemudian hanyalah orang tua yang stres, banyak mengeluh, dan mudah marah. Mereka paham, untuk mendapatkan ketenangan saat menghadapi anak, mereka harus mengisi dulu  kebutuhan diri sendiri (call it me-time, couple-time, social-time) Hal yang di kita kayanya masih tabu ya, coba ngacung dulu yang jalan sendiri atau berdua suami tapi malah kepikiran anak dan merasa bersalah? Padahal beberapa jam tanpa anak itu akan mengisi energi positif kita untuk bersama anak setelahnya loh. Coba!


Kelima. Suami-istri bekerja sama dalam pengasuhan, bukan sekedar retorika. Perempuan Prancis lebih tenang karena mereka memahami ini dengan sedikit berbeda. Bekerja sama gak berarti apa yang bisa dilakukan ibu juga bisa dilakukan ayah. Kadang mereka menertawakan 'ketidakmampuan' suami, tanpa mengeluhkan, namun menyadari bahwa beberapa pekerjaan memang lebih baik saat dilakukan oleh istri. Mereka mengakui kehebatan diri mereka sendiri. Namun, di sisi lain mereka juga tidak lupa mengapresiasi, mereka 'saling' mengapresiasi, saling berterima kasih. Fokus atas usaha apa yang telah dilakukan, bukan pada kekurangan atas hasilnya.


Keenam. Secara umum, Prancis mengajarkan anak dengan terbuka, apa adanya. Mereka jujur mengatakan kalau mereka tidak mungkin mengasuh, melayani anak terus menerus, maka anak juga diasuh orang lain. Mereka butuh adult time, sehingga anak punya jam tidur lebih dulu daripada orang tua. Orang tua tidak melulu melayani anak, sehingga anak punya aturan, punya batasan. Dan anak diminta berperilaku sesuai di masyarakat, sebagai anggota masyarakat, sehingga yang paling awal mereka diajarkan untuk memberi salam.

Di Prancis, kisah-kisah juga apa adanya. Tidak melulu, tentang yang baik akan beruntung dan yang jahat akan celaka, lalu happy ending untuk semua. Mereka menggambarkan realita. Karena hidup ya emang gitu. Dalam hidup, si baik dan si jahat gak jelas, kita semua pernah melakukan hal baik, tapi kadang juga nggak baik. Dan itu gak serta merta bikin kita jadi si baik lalu mendapat keuntungan kan. Kadang malah setelah berbuat baik, kita dapat celaka, atau setelah berbuat tidak baik malah kita dapat untung. Dan gak semua perbuatan bisa dikategorikan baik dan tidak baik. Kontekstual. Ada cerita tentang kisah anak dari buku ini, yang juga nyambung dengan adegan Emily nonton film Prancis bareng Luc.


Ketujuh. Gimana Prancis memperlakukan manusia pekerja dengan lebih 'manusia'. Di Prancis, seperti yang dijelaskan di buku, waktu libur Prancis lebih lama daripada Amerika, dan mereka juga punya cuti hamil yang dibayar. Jadi emang lebih memungkinkan bagi ibu untuk kembali bekerja di Prancis dengan tenang.

Di Emily, juga digambarkan gimana orang Prancis hidup, yang benar-benar hidup bukan sekedar hidup untuk bekerja. Mereka menghargai hubungan diatas keuangan, dilarang bekerja saat weekend, tidak membicarakan bisnis saat pesta. Jadi gak ada ceritanya tuh cuti tapi masih ngecek kerjaan.



Jadi, itu beberapa hal yang bisa diambil dari kebiasaan orang Prancis yang bisa kita pelajari ya. Meskipun tetap aja Prancis gak terlepas dari banyak kekurangan. Namun, hal-hal diatas rasanya perlu kita catat daripada melulu belajar ke Amiriki. Ups! Ingat, ambil yang baik buang yang buruk. Semangat belajar!


Salam, Nasha.

Aku punya buku ini tuh udah mayan lama (abis beli si Danish Way ini), tapi gak tau ya awal-awalnya itu susah banget bacanya. Ntah emang minat bacaku aja yang merosot apa bukunya kurang menarik aja buatku. Tapi, karena udah bertekad gak bakal beli buku sebelum buku yang ada dibacain, termasuk ini, jadi 'terpaksa' dibaca. Lama-lama dibaca, eh, menarik ya! Berasa dibawa jalan-jalan ke Prancis!


rekomendasi buku parenting


Penulis buku ini adalah orang Amerika yang tinggal di Prancis. Bukunya tentang gimana dia hidup di Prancis sebagai warga negara Amerika, mostly tentang pengasuhan. Karena penulis ini dari hamil udah tinggal di sana. Dan dari buku ini aku berkesimpulan kalau kecenderungan kita tuh ke Amerika ya, jadi tiap penulisnya bandingin antara gimana Amerika dan Prancis aku bisa relate. Yok kita telaah step by step nya.

Hamil

Di Prancis ibu hamil tidak dicecoki dengan berbagai informasi ilmiah yang tidak terlalu perlu, karena menurut mereka yang diperlukan ibu hamil adalah ketnangan. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh perempuan hamil untuk diri mereka sendiri. Selain itu, di Prancis hamil gak menjadikan perempuan bebas semaunya makan tanpa merasa bersalah dengan alasan demi bayi. Bahkan menurut mereka, ngidam adalah dorongan yang harus dikalahkan.

Melahirkan

Gak bisa dipungkiri, kalau kita masih menganggap lahiran 'normal' adalah metode yang paling didambakan. Bahkan kita repot-repot untuk tau si A lahiran normal apa cesar.

Di Prancis, mereka gak pernah mempermasalahkan melahirkan dengan cara apa, yang penting sehat selamat. Bahkan mereka pingin yang praktis aja kalau bisa tanpa rasa sakit, tanpa mempedulikan embel-embel merasakan sakit untuk menjadi ibu seutuhnya.

Setelah melahirkan

Di Prancis, standar perawatan di RS pasca melahirkan adalah enam hari, beda dengan kita yang hanya 3 hari, bahkan ada yang hanya 1 hari. Lalu, mereka akan merawat anak sama seperti yang kita lakukan. Kayanya cuma beda di fasilitas dari pemerintah nya aja ;))

Namun, Prancis mendukung ibu untuk kembali ke dunia mereka. Perempuan Prancis akan kembali memiliki badan ideal tidak lama setelah melahirkan. Mereka juga bisa kembali mendapat waktunya sendiri, waktu pasangan, ataupun waktu berkegiatan di luar dunia anak. Dukungan itu ada dari berbagai pihak, dari tetangga, dari orang tua, dan tentunya dari pemerintah. Hal yang lumrah di Prancis untuk meninggalkan anak saat weekend kepada kakek-nenek nya agar orang tua bisa punya adult time berkualitas. Atau penitipan anak bersubsidi yang bakal jadi rebutan, dan gak akan ada komentar negatif yang men-judge hal ini.

Selain itu, mereka juga paham pentingnya mengembalikan couple time antara ibu dan ayah yang berkurang saat punya bayi. Bagi mereka pasangan adalah prioritas. Karena memang benar, pasangan adalah orang yang kita pilih, yang akan kita habiskan waktu dengannya, jadi pinginnya ya rukun kan. Pemahaman ini bukan sekedar pemikiran, tapi jelas dukungan nyata nya. Bahkan treatment klinis pasca lahiran untuk perineum atau menghilangkan tonjolan perut aja disubsidi loh oleh pemerintah. 


review buku parenting


Pola Pengasuhan

- Tidur Malam

Hal paling utama yang 'dikejar' oleh orang tua Prancis untuk mengembalikan hidup mereka adalah menerapkan waktu tidur untuk anak. Mungkin kita paham ya, kalau punya bayi berarti begadang. Orang Prancis juga paham ini, tapi mereka juga paham kalau mereka butuh waktu tidur berkualitas tanpa diganggu, tanpa begadang, untuk menjalani peran mereka sebagai orang tua keeseokan harinya.

Biasanya, sleep training udah dimulai dari bayi 6 minggu! Wow! *aku melirik ke bocah 1 tahunan yang masih suka kebangun malam*

Gimana tuh caranya? Mereka sounding dari awal. Mereka membiarkan anak tertidur dan terbangun menangis beberapa saat, lalu menghampiri hanya satu kali. Lalu, biarkan mereka tidur sampai pagi. Terdengar mudah bukan?

Tapi gimana caranya orang tua tega anak nangis-nangis tengah malam? Bahkan si penulis saat pertama kali nyoba, mmbiarkan anaknya menangis sekitar 12 menit, tentu juga sambil menangis di kamarnya.

Padahal bukan hanya kita, anak juga butuh tidur nyenyak sepanjang malam loh. Mereka perlu istirahat yang tenang, mereka perlu belajar waktu malam adalah waktu tidur, bukan setiap saat dengan susu. Pencernaan mereka juga butuh istirahat.


- Menu Makanan

Di Prancis jarang restoran menyediakan kids menu, apalagi yang isinya cuma kentang goreng dan beberapa potong nugget. Anak-anak diharapkan bisa makan makanan yang sama dengan orang dewasa. Apa yang terhidang di meja itulah yang perlu mereka cicipi. Iya, cicipi dulu. Anak-anak Prancis diajarkan untuk menghormati makanan, dengan mencicipi semuanya. Gapapa gak habis, yang penting cobain dulu. Semuanya. Ini juga mengurangi resiko mereka tumbuh jadi picky eater nantinya.

Selain itu, mereka juga punya waktu makan yang teratur, dan gak boleh makan diluar jam itu. Sarapan, makan siang, cemilan, makan malam. Karena udah terbiasa, gak ada ceritanya makan sambil main di jam bebas, bahkan meskipun cuma chips. Makan ya berarti duduk bersama di meja makan, cicipi makanannya, tanpa melakukan hal lain. Sehingga, apa yang masuk ke badan anak juga jadi lebih terukur, dan lebih bisa dikontrol oleh orang tua atau pengasuhnya. Ya tentu usahakan yang sehat terus ya!


- Membangun Batasan

Istilah Prancisnya cadre atau bingkai. Ada hal-hal yang gak boleh dilanggar, tapi didalamnya ada kebebasan. Seperti batasan harus masuk kamar pada jam tertentu, tapi ada kebebasan boleh melakukan apapun sampai mengantuk dan tidur dengan sendirinya.

Di Prancis, orang tau dituntut untuk menjadi percaya diri dengan otoritas yang dimiliki. Bukan kita yang patuh pada permintaan anak, tapi anak yang patuh dengan aturan yang kita buat, kita sepakati. Dan memang hidup kaya gitu kan, selalu ada aturan, selalu ada batasan, bukan hanya tentang baik buruk tapi ya emang harus berjalan kaya gitu aja.

Menurut mereka, anak-anak perlu diberi batasan agar mereka juga belajar mengontrol diri mereka sendiri, mengendalikan keinginannya. Lagi pula dengan batasan yang jelas anak cenderung lebih tenang, karena tidak kewalahan dengan banyaknya opsi, mereka tidak kebingungan dengan adanya gambaran apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.

Praktiknya, tiap rumah punya aturan dasar sendiri. Dan harus disounding berulang-ulang agar anak paham. Ingatkan mereka terus apa yang tidak boleh dan apa yang boleh. Kenapa tidak boleh. Sebagai orang tua kita perlu seimbang antara 'tegas' bersikap dan 'merespon' tindakan anak.


- Ajari anak menunggu

Hampir sama dengan prinsip tidak melulu melayani anak. Di Prancis, anak secara tidak langsung diberi tau bahwa orang tua memiliki dunia mereka sendiri, terlepas dari anak. Begitupun sebaliknya. Anak juga memiliki hidupnya sendiri. Sehingga keputusan-keputusan pengasuhan akan mengacu ke hal itu. Salah satunya adalah mengajari anak menunggu.

Anak tidak harus segera mendapat apa yang ia inginkan. Anak tidak harus langsung diberi perhatian saat ia meminta. Kalimat seperti, tunggu ibu sedang berbicara dengan ayah. Tunggu, ibu selesaikan ini dulu baru membantumu. 

Karena anak-anak perlu belajar, menjadi manusia, menjadi bagian dari masyarakat, mereka gak akan selalu mendapat yang mereka inginkan saat itu juga. Serta tidak semua perhatian harus ditujukan untuk mereka.

Mungkin ini terdengar tega, tapi ingat, kalau Prancis memperlakukan anak dengan lebih bijaksana dan dewasa. Mereka menghargai anak-anak dengan menganggap bahwa anak memiliki kemampuan, kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk mengerti, kemampuan untuk 'bergabung'.


- Menghargai Anak

Sejalan dengan mengajari anak menunggu, begitulah cara orang Prancis menghargai anak. Mereka menganggap anak adalah bagian dari masyarakat. Semua dimulai dengan kewajiban menyapa. Datang ke rumah orang lain, anak harus menyapa. Meninggalkan rumah orang, anak harus pamit. Begitu juga kalau ada yang bertamu, anak harus menyambut. Agar mereka memahami 'kehadiran' diri mereka sendiri, dan menghargai kehadiran orang lain.

Satu hal lagi yang diingatkan dari buku ini adalah gimana anak perlu punya wilayahnya sendiri, dunia sendiri, gak perlu direcoki dengan berbagai mainan, jangan tiba-tiba datang saat anak lagi asyik main sendiri, dan biarkan mereka mencoba, melakukan sendiri. Respon dengan apa adanya, puji secukupnya. Ilmiahnya, anak akan merasa bahagia saat merasa mampu melakukan sesuatu sendiri.


Mungkin keseluruhan pola pengasuhan Prancis ini mengacu pada pemahaman bahwa mereka menganggap anak-anak bukan sekedar anak-anak. Anak-anak juga adalah bagian dari masyarakat, yang perlu memahami tentang pusat perhatian bukan di diri mereka sendiri, tentang kehadiran orang lain yang perlu di'notice' dengan sapaan, tentang batasan dan aturan yang berlaku secara umum dalam hidup, tentang kerja keras yang tidak selalu perlu dihadiahi pujian, tentang apa yang dilakukan kadang tidak cukup membuat orang lain bangga dan itu hal biasa, tentang wilayah masing-masing pribadi yang perlu dihargai.


Salam, Nasha.

Akhirnya jadi bagian aktif dari pandemi :')


Mau ceritain dengan detail juga ya hampir sama lah dengan yang dirasakan jutaan orang lainnya yang kena omicron ini ya. Gejalanya mirip banget sama flu biasa. Di aku ya seputar demam, perut gak enak, nafsu makan tentu aja berkurang, badan menggigil. batuk, tenggorokan gatel, ada ingusnya kadang-kadang, terus badan lemes. (Loh, pas ditulis kok jadi banyak). Kalau dihitung hampir seminggu deh aku kaya gitu, gak sekaligus loh ya. Gantian gitu keluhannya.


Gimana pun orang bilang ini gejala ringan ya namanya sakit tetep ajalah gak nyaman. Apalagi yang sakit serumah dan ada anak-anak. Pegang badan anak yang rada anget gitu aja langsung auto stress, belum ditambah sama gak nafsu makan. Kombo.


Tapi pada akhirnya pas gejala awal yang kaya flu doang itu dan aku memilih buat udahlah swab aja biar jelas, aku jadi tau kalau aku emang tenang dengan kejelasan. Ada satu hal nih yang masih ganjel di aku, kemaren sebelum aku bergejala kan aku kunjungan ke rumah orang tua. Nah, disitu baru tau kalau mereka ada keluhan 'masuk angin' dimana keluhannya ya sama aja kaya aku ternyata, jadi ya step awalnya kita ke dokter dulu dong. Cuma dari dokter itu diagnosisnya radang tenggorokan aja sama asam lambung. Udah, dikasih obat gitu. Jadi aku bener-bener gak mikir ke si covid ini.

Udahlah kan berobat. Aku balik ke rumah dengan harapan orang tua sembuh.


Baru deh besoknya loh kok aku mulai mengigil, kok kerongkonganku gak enak. Masih belum curiga nih, oh emang kecapean aja karena kebetulan juga aku kurang tidur banget beberapa hari belakangan. Tapi karena aku jarang banget 'masuk angin' gini jadi aku beneran lemes dan gak nyaman lah sama badanku sendiri. Dingin, kerongkongan gatel, idung rada-rada, badan bawaan pingin tidur, pegel, mana ternyata haid juga. Sudalah.


Lalu, kok ya 2 hari masih gini-gini aja, sampelah anak-anak ikutan demam. Waduh! Nah, suamiku mulai curiga jangan-jangan covid nih. Awalnya dia yang semangat pingin swab biar jelas, tapi lalu ragu gak paham juga kenapa ^^"

Trus ya aku mulai kepikiran kan, karena awalnya gak kepikiran ke sana sama sekali, langsung aku bersikeras hari itu juga mau swab sesuai rencana awal. Sampe mikir, kalau dia gak mau aku aja udah mau pake taxi apa gimana pokoknya aku mau swab biar jelas. Pokoknya aku mau kejelasan. Aku harus tau dengan jelas dengan buktinya, baru bhisa menyimpulkan, baru bisa mujur step-step apa yang akan aku lakukan. Pokoknya aku mau swab hari itu! Tsah gaya. Tapi tanpa aku perlu sok-sok an menjelaskan gitu, suamiku langsung tercerahkan dengan sendirinya. Swab ajalah yuk katanya. Lah..


Langsung lah kita berangkat ke RS yang ada drive thru test nya dan keluar hasil same day, terjelaskanlah kalau kami berdua positif. Langsung lapor sana-sini. Tapi sayangnya gak berbuah perhatian dari KemKes :') 

Mungkin usaha ku masih kurang, yasudahlah, mandiri aja semua semoga ada terus rejekinya aamiin


Kalau step singkat yang perlu dilakukan menurutku antara lain:

- Gejala ringan kaya gimana pun, misalkan demam batuk flu atas nama gak sehat silahkan langsung menjauh dari khalayak ramai. We never know.

- Harusnya step awal itu ya ke dokter, tapi kalau berasa miriip banget gejalanya dengan varian Covid bisa ditambahkan untuk swab ya. Ini bisa gratis kalau dilakukan melalui Puskesmas (tapi biasanya ada antrian yang mana wajar mengingat quota gratisan itu)

- Setelah tau hasilnya gimana, tetap isolasi aja sih, mau Covid ataupun nggak (cuma flu batuk demam biasa) jangan sampai menularkan ke orang lain kan

- Kalau emang positif Covid, ya karena ini pandemi dan ada ketentuannya jadi ikutin aja, gak sesusah nakes yang mesti APD-an ribet setiap hari itu kok

- Lapor ke lingkungan, lapor ke Puskesmas terdekat, hubungi Satgas Covid-KemKes bisa via WA 081110500567 (yang aku gak direspon) atau gercep telfon ke 1500567 *yang nggak aku lakukan)

- Kalau akhirnya ngurus mandiri, ya aku sih minum multivitamin (disarankan dengan kandungan Vitamin C, Vitamin B, Vitamin D, Vitamin E, Zinc), terus obat-obatan sesuai keluhan aja.

- Tingkatkan, lipat gandakan makanan penuh gizi karena harus support badan yang lagi berjuang lawan si virus-virus ini.

- Ya apalagi yang melengkapi semua step yang bisa kita lakukan kalau bukan doa, berserah, bersilaturahmi minta doa, dsb :')

Sekarang di apps PeduliLindungi statusku udah Green, yang berarti boleh ke temat umum yeay tapi ya mau ke mana juga..


Karena ternyata setelah positif gini pun, aku tetap pakai masker, tetap keluar cuma seperlunya, tetap kalau habis dari luar langsung bersih-bersih, gak ada yang berubah. Satu hal yang aku sadari juga, aku beradaptasi kaya gitu bukan cuma supaya gak positif, tapi mostly karena aku tenangnya dengan begitu. 


Ada circle dekat ku yang lumayan bodo amat dengan prokes, aku kadang merasa (mudah-mudahan ke insecure an ku doang) dicibir malah karena duh lebay ya. Si itu gak prokes aman-aman aja. Alah itu virus mah gak ada.


Aku paham ada segala macam teori tentang virus ini, yang mana gak bisa juga 100% aku sangkal. Tapi, pada hal ini aku percaya dengan ketentuan umum tentang langkah-langkah apa yang harus aku lakukan dengan situasi ini (yang mana juga tidak merugikan aku sama sekali), dan kalau aku gak melakukannya dengan sengaja atau lalai aja, aku jadi gelisah. Pikiranku bisa kemana-mana. Makanya yaudah aku melakukan itu untuk ketenangan diriku sendiri.

Sehat-sehat ajalah ya kita semua dan semoga segera berlalu pandemi ini yaa.


Salam, Nasha.

Karena dua kejadian itulah, maka 2021 aku nobatkan sebagai "Year of Love".


Di tahun itu aku sadar kalau selama ini udah kurang sayang sama diri sendiri, gak pehatiin badan gimana, gak gubris pas ada keluhan, maksain badan melakukan apa yang aku mau terus, boro-boro perhatiin apa yang masuk ke badan, ya intinya gak peduli lah sama tubuh sendiri. Emang ya kita itu butuh trigger dulu baru sadar.


Sekarang sejak tobat gini, mau workout gak beban karena ngerasa penyakitan, tapi dinikmati aja karena sejatinya emang badan kita perlu olahraga perlu gerak. Mulai menyudahi makan tengah malam karena pencernaan juga butuh istirahat. Makan apa-apa tuh ya lebih sadar aja mana yang tepat buat badanku dan mana yang enak buat lidahku doang. Mulai skincare-an juga (di umur segini!) dan ternyata seru ya. Aku gak ngerasa repot sama sekali punya rutinitas pagi dan malam dengan diriku sendiri gini. Girang malah!


Sejalan dengan sayang sama diri sendiri, aku juga melihat makin luas ke luar. Ke orang-orang yang aku sayang, yang sayang sama aku. Oh ternyata aku diberkahi ya dengan dikelilingi orang-orang ini. Aku juga belajar untuk bilang i love you, or simply buat mereka tau your existance matters, dan berterima kasih untuk hal-hal sederhana, yang dulu aku jarang banget untuk ungkapkan.

Foto Pemandangan

Lebih luas lagi, aku juga mulai melihat posisi kita sebagai manusia di bumi ini gimana. Salah satu efek keseringan nonton Our Planet juga kali ya.


Ini tuh berkesinambungan banget lah untuk membentuk aku sekarang, antara mulai sadar dengan self love, mulai melihat/ peduli ke luar, jadinya sedikit banyak mempengaruhi nilai-nilai penting yang aku percayai dan yang kemudian aku ingin bagikan, tanamkan (khusunya ke anak-anakku)


Sampai akhirnya sedih dan miris juga sebenarnya sama ke'serakah'an kita sebagai manusia. Efeknya tuh udah nyata banget sekarang, beda dengan campaign yang aku ikut-ikutan sepuluh tahun lalu, yang sebatas kurangi kertas, kurangi listrik, kurangi plastik. Sekarang geraknya harus lebih besar, tuntutannya ya emang ke pemerintah, atau ke kita semua secara bersama-sama. Udah gak bisa ditunda lagi untuk kita gerak bareng, mulai dari apapun yang bisa sekarang. Gak belanja pake plastik, kurangi sampah (makanan sisa, pembalut, popok sekali pakai, apapun yang sekali pakai), tanam pohon, hemat listrik, hemat air, kurangi limbah rumah tangga juga, pakai barang ramah lingkungan, dst. Kalau kita lihat secara keseluruhan, melestarikan alam itu untuk kepentingan kita juga loh sebagai penghuninya untuk jangka waktu yang lama.

Bunga Warna Warni

Bumi ini sangat luas kok, bisa banget untuk kita pakai bersama makhluk lain tanpa mengganggu tanpa merusak hidup mereka, asal kita merasa cukup #HidupCukup


Indah kan kalau kita semua bisa hidup berdampingan dalam damai :')


Dulu aku mah liat binatang bawaannya pingin dimatiin diusir aja cepet, sekarang jadi sadar kalau mereka tuh sama kaya kita, sama-sama hidup, sama-sama butuh makan, sama-sama butuh tempat tinggal. Kita aja yang serakah, perlu rumah yang guede, perlu rumah kadang gak cuma satu, makenya cuma kadang-kadang, tebangin lahan untuk ini itu berbagai keperluan, padahal lahan itu dulunya rumah binatang dan tumbuhan itu loh. Semuanya dijadiin bangunan, trus gak kepikiran kan mereka tinggal dimana. Boleh sih alih fungsi lahan gitu untuk kebutuhan kita, tapi ya secukupnya dan sadar juga tentang hal ini jadi kita jangan semena-mena.


Akhirnya sekarang tuh lihat binatang bawaannya gak kesal lagi, kadang kasihan malah, kalaupun mereka ada gak buru-buru diusir apalagi dibunuh, tapi yaudah berusaha aja biar bisa hidup berdampingan. Ya misalkan kalau tikus mau makan ya gak dendam lagi, makan aja yang di tempat sampah di luar, jangan yang di meja makan. Gak buru-buru langsung cari racun tikus juga, tapi ya tetep tutup segala lubang yang bikin dia masuk rumah. Lebah kalau mau di pohon juga gapapa, asal jangan bikin sarang di bawah meja juga. Ada lalat di dalam juga ya diusir ajalah gak usah langsung dimatiin juga. Iya, mau berdampingan tetep aja ada syaratnya, dasar aku :')



Terus juga jadi memperbaiki pola konsumtif aku, ke-impulsif-an sama hal-hal yang gak terlalu penting, kaya aku dulu terganggu banget sama yang gak seragam, sama yang udah butek, dan gampang tergiur aja sama tren, yang estetik-estetik gitu. Sekarang mah lebih woles, lebih sadar, kalau barang yang aku dapet ini punya perjalanan panjang, dan kalau dibuang juga lebih panjang lagi perjalanannya. Perlahan sadar diri kalau apa-apa gak mesti estetik, apalagi dengan motivasi cuma supaya kelihatan cakep di sosmed. Bukan berarti gak peduli penampilan, kerapian ya, tapi sadar aja gak semua harus diikutin, gak semua harus dibeli. Dan gak terganggu juga dengan ke tidak estetik an menurut standar sosial itu.

Selain itu juga, karena kita yang punya dan pake barang, kita juga yang tau kategori dan jumlah barang yang kita perlu itu apa aja. Kaya misalkan, baju itu bisa dikelompokkan jadi baju rumah, baju pergi, atau baju acara. Perlunya segini. Kalau ada yang mau ditambah, yang lama ini mau diapain. Sadari. Mikirnya mulai dibalik, bukan lemarinya yang kecil, bajunya aja yang kebanyakan.


Secara gak langsung, ini juga memperbaiki gimana aku mengelola uang sih, dan gimana memandang hidup juga, jadi gak melulu punya keinginan punya banyak. Gak ambisi dengan kuantitas, tapi lebih ke kualitas. Hidup yang berkualitas itu ternyata bukan karena punya barang ini itu, tapi yang seimbang. Hidup yang mengisi berbagai lapisan, yang bisa memenuhi diri (ini bukan hanya tentang 'materi') ,yang tenang bersama orang lain, yang berdampingan dengan makhluk lain, yang diisi dengan konsumsi yang baik.


Juga mudah-mudahan jadi bijak bersosmed juga, untuk bisa hidup secara nyata di saat ini. Biar otak gak melulu kebanjiran sama hormon yang instant, biar mata gak melulu lihat yang digital, biar kulit gak cuma bersentuhan sama benda bikinan. Alam itu kaya, sangat kaya. Dinikmati lah.


Lagipula, aku orangnya gampang ke trigger sama yang diposting orang, bisa bikin overthinking. Eh si ini hidupnya udah kaya gini aja, eh si itu kok gtu ya sekarang. Bisa kepikiran aja tuh, gak penting emang! Jadi mulai membatasi juga secukupnya. Dan ya, emang yan diposting tentu hanya yang indah gak, bukan berarti keseluruhan hidup orang itu indah.


Sedikit berjarak dengan sosmed, punya nilai-nilai tadi itu, bikin aku merasa gak lagi 'kosong', bikin aku lebih menikmati peranku, lebih fokus sama apa yang aku kerjakan, gak gampang terpengaruh, dan yang jelas bikin aku lebih enjoy lebih happy.

Dari segala hal inilah aku pikir hal yang paling perlu kita punya itu ya untuk #HidupCukup yang mana ini (menurutku) meningkatkan kualitas hidupku juga.

Aku nulis ini, mostly sebagai reminder di aku juga sih. Dan jadi bahan buat bersyukur juga, kalau aku sudah melewati banyak hal dan berjalan sejauh ini. Hal yang mungkin gak akan aku dapatkan kalau aku nggak di kondisi saat ini.

Emang ya.. Allah itu sebaik-baik perencana.


Salam, Nasha.

Kalau gigi tentu saja bermula karena keluhan rasa sakit gigi yang udah mengganggu. Sakit aja baru ke dokter gigi :’) Perjalanan perawatan gigi ini mencakup odontektomi (pencabutan gigi bungsu), perawatan saluran akar (PSA), pembuatan gigi tiruan lepasan, dan pembuatan gigi tiruan cekat, dengan lebih dari sepuluh kali kunjungan dan biaya yang juga lebih dari sepuluh :')


Ceritanya gini.. inget kan, kalau referensi kesehatanku sudah ke rumah sakit yang itu.. Jadi pas udah diniatkan ke dokter gigi langsung cek dokter available disana. Daftar, datang deh.

Dokter Gigi Umum di Rumah Sakit 'yang itu'

Ke dokter gigi umum dulu. Konsul, terus diperiksa, katanya ada gigi bungsu (gigi geraham paling belakang yang tumbuh terakhir biasanya sat kita udah lebih dari 17 tahun), yg tumbuhnya miring jd ganggu geraham disampingnya. Nah untuk tindakan pencabutan itu harus sama dokter gigi spesialis bedah mulut yang gelarnya gini drg.,Sp.BM.

Terus dokternya juga nyaranin untk rontgen panoramic dulu biar tar k drg.,Sp.BM nya udah bawa bahan. Jadi ini tuh rontgen untuk lihat keseluruhan gigi kita, pelayanannya di bagian radiologi terus disuruh berdiri aja gitu gigitin alat nah si 'kamera'nya ini yang bakal muter buat 'foto' gigi kita itu. Jadi makin jelas terlihatlah susunan gigi ku yang sudah tidak lengkap lagi itu. Keliatan juga tuh si gigi bungsu yang miringnya.

rontgen gigi

Kunjungan Pertama ke Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut 

Sampailah hari dimana aku ketemu sama drg.,Sp.BM. Konsul kan, bawa hasil rontgen itu juga. Bener nih ternyata gigi bungsu bawahnya miring keduanya. Nah, yang atas udah gak ada nih, dimana aku baru tau kalau dulu pas behelen masa remaja itu yang dicabut gigi bungsu atas ternyata. Dari keluhan dan pemeriksaan aku itu, dokternya saranin untuk cabut gigi bungsunya sekalian cabut gigi geraham yang sakit itu aja. Kira-kira dokternya bilang, udahlah bermasalah daripada gimana-gimana gitu cabut aja. Dah, aku mah apa iya-iya aja. Belum tau aja kalau cabut gigi dan mau tetep makan kan giginya mesti diganti. Eh tapi ternyata gak bisa tindakan langsung hari itu, karena kebijakan RS harus swab dulu sebelum tindakan bedah. Terus dikasih obat juga untuk diminum sebelum tindakan. Bikin janji lagi deh lusanya.

Keluar dari ruangan dokter itu, aku langsung memanfaatkan kenalanku untuk konsul cuma-cuma (the perks of having dentist friend B-)) Kalau menurut dia setelah aku kirimin foto hasil rontgennya, mending dipertahanin aja sayang kalau langsung cabut padahal giginya juga masih ada. 

Sambil nunggu obat, mulailah aku googling ya.. karena gak pingin terlihat jompo yang mesti bongkar pasang gigi, carinya tentang gigi palsu permanen alias gigi tiruan cekat.. implan gigi..

Eh..
shock biaya gigi 

Biayanya tuh segini??!!
menangis perawatan gigi


Aku langsung takbiran. Baru deh sadar. Abis itu mulai ambil obat sambil merenung, jalan di selasar dengan gontai, terus duduk dulu di lobby sambil menahan derai air mata..  

Belum the end nih ceritanya, masih ada sisa-sisa semangat yang ntah darimana. Ya darimana lagi kalau bukan dari rasa sakit.

Tindakan Odontektomi oleh drg. Sp.BM

Akhirnya Hari-H tindakan tiba, cabut deh tu gigi bungsunya, yang kanan. Minum obat terus swab antigen dulu sik. Dokternya masih nanyain nih, mau cabut gigi bungsu doang apa gigi geraham yang sakit ini biar sekalian. Aku yang udah tau biaya implan gigi tentu aja jawab cabut gigi bungsu doang. Buset. 
Nah, proses cabutnya dengan bahasa awam yang sanagt disederhanakan tu kira-kira gini, gusi sedikit dibelah trus diambil giginya terus dijahit deh tu gusi yang tadi. Pasca tindakan sih kemungkinan besar bakal sariawan ya, katanya olesin madu aja, tp kalau pingin lebih cepet pake Minosep (rekomendasi temenku) 

Kirain cabut gigi ini tuh kaya yg sebelum-sebelumnyanya jg kan (sudah beberapa kali aku mah, gigi bungsu atas juga kan) tp kagetnya pas bayar :’)
Mau nangis jg gak bisa balikin duit aku.

Baru deh mulai baca-baca soal cabut geraham bungsu ini atau istilahnya odontektomi. Oh range harganya emang bikin sesak napas. Tp dulu aku cabut kedua geraham bungsu atas kok gak sampe nangis ya, apa karena dulu yang bayar bukan aku melainkan orang tuaku? Sudahlah. 

Kunjungan Rujukan ke Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi (drg.,Sp.KG)

Buat geraham yang sakit tadi aku dirujuk lagi ke spesialis lain, baru tau nih banyak macam spesialis dokter gigi. Kali ini, untuk perawatan gigi dirujuk ke spesialis konservasi gigi atau nulisnya drg.,Sp.KG. Masih di RS yang sama dong, seminggu kemudian aku bertemu dengan dokternya. Eh, disana dikasih opsi cabut juga masa. Loh, bukannya harusnya dokternya optimis dengan perawatan ya, karena spesialisasinya itu? Aku mah kalau tidak tau harga jg yaudah hilangkan saja dok daripada menyakiti begini. Tapi kan kalau dicabut trus mesti bikin gigi, yang bukan hanya menyakiti dompetku tapi juga menghilangkannya sekalian. Trus dokternya jelasin tentang kemungkinan perawatan saluran akar (PSA), dimana aku mesti bolak balik perawatan dengan kisaran harga tertentu. Yaudah aku udah ok, karena emang tau perawatn gigi gak bisa sekali langsung sembuh kan.

Baru deh dokternya coba cek, oh kalau gini coba kita tambal dulu aja ya. Tambal sementara, terus kalau gak ada keluhan seminggu kemudian ditambal permanen. Aku mah manut aja kan meski rada bingung gak jadi PSA tapi yaudahlah good news ya ini aku anggap. Jadi, sudahlah aku pikir kelar dengan ditambal ini (dua kali kunjungan untuk tambal sementara dan tambal permanen)

Eh gak sampe sebulan tambal udah sakit lagi dong.

Ganti Pusat Pengobatan (RS to Klinik Gigi)

Disini aku memutuskan, mending cari pihak ketiga. Lelah aku mah bolak balik RS gini terus, kejadian ini bikin nambah list kekecewaan aku aja, mending cari tempat pengobatan lain. Sebelumnya juga pernah aku ke dokter lain ya yang konsulnya gak sampe durasi 1 lagu. Dulu aku pikir di RS ini semuaa dokternya akan memuaskan aku. Ternyata nggak. Apalagi yang gigi ini. Pertimbangan medisnya pasti ada ya, tapi sebagai pasien aku nangkepnya kan gini, kalau aku mesti perawatan gigi itu, berarti penambalan kemarin sia-sia aja dong, gak sampe sebulan loh melayang sudah rupiah yang kubayarkan itu. Dan agak aneh aja dengan opsi cabut kalau giginya masih kelihatan baik, bisa dirawat, tapi dikasih opsi cabut. 
Yaudah itu kan pendapat aku, jadinya aku carilah pihak ketiga.

Darimana? Googling dong.

Ketemulah klinik gigi yang reviewnya bintang 5, komennya luar biasa, dan gak jauh dari rumahku. Waw. Perfect ya. Eh satu lagi yang aku suka, karena reservasinya per jam gitu, jadi bukan nungguan nomer antrian kaya RS. Jadi gak bakal rame-ramean antri gitu kan, dan gak perlu luangin terlalu banyak waktu juga tanpa bayangan kelarnya kapan.

Coba deh aku kesana.

Kunjungan Pertama ke Klinik Gigi - Cetak Gigi Tiruan Lepasan

Aku konsul pertama kali sekitar setengah jam. Gak ada tindakan apa-apa loh itu, cuma konsul masalah gigiku yang buanyak itu. Dokternya jawabin pertanyaan-pertanyaanku dengan sabar, telaten, dan gampang dimengerti. Jadi penjabaranya gini, geraham yang sakit mesti PSA (yang dirujuk ke dokter lain di klinik itu), lalu geraham depannya harus diganti (disarankan yang permanen supaya kuat), dan gigi atas ku yang sudah tiada ntah dari kapan itu bisa diisi dengan gigi tiruan lepasan aja, terakhir ya cabut geraham bungsu yang kiri.

Nah, yang bisa diangsur kerjain saat itu, dengan dokter itu, adalah bikin cetakan gigi tiruan lepasan geraham atas. Dengan penjabaran yang jelas gitu, aku mah hayuk aja. Bismillah.

Terus, minggu depannya aku balik lagi buat PSA yang geraham belakang sekalian pasang si gigi tiruan lepasan yang dicetak tadi. Pemasangan gigi tiruan ini juga gampang kok, ya meskipun awal-awal ada perasaan, eh udah jompo aja nih pake gigi palsu, tapi yaudahlah ya yang penting sehat. Terus mungkin dokternya akan mengurangi sedikit-sedikit kalau dirasa terlalu 'ketat'. Awal-awal pake emang gak nyaman banget, mana gusi ku juga sempat lecet. Tapi ya aku kan tidak menyerah. Lama-lama ya bisa dipake makan pelan-pelan yang lembut-lembut, eh sekarang mah hajar bae makan kerupuk juga lanjut meskipun yhaa namanya juga gigi tiruan.

Untuk perawatan lanjutannya sih, cuma dilepas lalu dibersihkan setiap malam sama sabun (bukan pasta gigi ya!), dan direndam dengan air minum.

PSA (Perawatan Saluran Akar)

Diartikan sebagai prosedur yang bertujuan untuk mengatasi kerusakan pada rongga gigi, serta mengobati infeksi dan pembusukan pada daerah tersebut. (sumber: disini)

Aku juga baru tau tentang PSA ini ya, padahal kalau dari rontgen panoramic ku, gigi atas sebelumnya juga udah pernah PSA loh. Gak tau ini kapan, gimana, dan biayanya berapa (bukan aku yg bayar berarti ;D)

Total untuk aku menyelesaikan PSA ini adalah tiga kali. Kalau yang aku tangkep sih, prosesnya itu pembersihan saluran akar dari segala kotoran dan bakteri, pengobatan, pengisian, terus tutup dengan tambal deh. Nah, karena gigi geraham di depannya ini juga udah gak ada, dokternya menyarankan untuk bikin bridge aja. Jadi, aku skip bagian penambalan ini.

Dental Bridge

Adalah perawatan medis yang mengisi ruang atau celah di antara gigi atau mengisi gigi yang hilang.
Tenang, aku juga baru tau kalau ada yang namanya dental bridge ini kok ;) intinya mah, ini salah satu opsi gigi tiruan cekat (permanen) selain implan ya.

Waktu proses PSA lalu, dokternya udah menyarankan untuk mengganti gigi geraham disamping yang di PSA ini. Karena akan rentan buat si geraham kalau cuma berdiri sendiri. Secara umu, opsi gigi tiruan itu ada dua, yaitu gigi tiruan lepasan dan gigi tiruan cekat. Untuk yang cekat sendiri, ada dua pilihan yaitu dental bridge dan dental implan.

Untuk case aku ini, dokternya menyarankan untuk yang permanen supaya kuat sebagai geraham dan pake yg dental bridge aja supaya sekalian bisa 'menutup' geraham di sampingnya. Prosesnya lebih singkat, dan harganya juga lebih terjangkau daripada implan. Aku mah harga gak masalah, asalkan murah ;)

Akhirnya aku ke klinik untuk penyelesaian perawatan gigi geraham ini. Jadi ya kalau pasien lain akan ditambal, aku bikin cetakan untuk dental bridge ini.

Setelah cetak, tinggal tunggu dikabarin jadinya deh, sekitar 2 minggu. Pemasangan (insersi) bridge ini juga gak ribet dan gak sakit kok. Setelah insersi, ada kontrol pemakaian seminggu kemudian. Awal-awal itu rasanya emang kurang nyaman dan gampang ngilu apalagi kalau kena makanan terlalu panas/dingin, terus juga rada nyeri dipake makan yang keras/alot, tapi lama kelamaan ya biasa aja. Udah adaptasi.

Nah, untuk perawatan lanjutannya, disarankan untuk cek gigi berkala minimal enam bulan sekali ya, sikat gigi dua kali sehari, dan pakai dental floss pick untuk membersihkan area-area yang gak terjangkau sama sikat gigi. Aku pake udah sekitar satu bulan nih dan gak ada keluhan, mudah-mudahan gak ada keluhan juga untuk dekade mendatang ya (iya, aku mah optimis ;))

Oh ya, untuk perbandingan antara gigi tiruan cekat (bridge) dan lepasan yang aku pake ini, tentu lebih nyaman yang dental bridge ya. Gak berasa ganjel apa gimana, bahkan kadang lupa kalau ini cuma gigi tiruan. Ya kembali lagi, ada harga ada rupa :')

  • Odontektomi (lagi)
Setelah merasa nyaman dengan dental bridge (deretan kanan) aku memutuskan untuk reservasi odontektomi untuk gigi bungsu yang kiri. Karena setelah odontektomi biasanya akan susah makan gara-gara sariawan di bagian yang dicabut atau ya awal-awal susah aja gitu mulutnya dibuka :')

Nah, kondisi gigi geraham bungsu yang ini tu tumbuh miring juga tapi hilang tenggelam di gusi, jadi gak keliahatan. Maka, prosesinya jadi lebih susah ya (kayanya).

Ternyata bener! Pengerjaan untuk kasusku ini sekitar 2 jam. Waw! Tapi ya bukan berarti juga buka mulut terus dua jam, tetap ada break lah berapa menit sekali. Prosedurnya sih hampir sama kaya sebelumnya, dibius lokal dulu terus gusinya dibuka lalu giginya diambil. Cuma karena ini case spesial, jadi pengambilan giginya yang rumit. Dibagi jadi empat dulu tuh gigi sampai akhirnya clear.

Pulang-pulang aku dioleh-olehin sekantong obat, ada antibiotik juga, dan jadi mingkem mulu nih. Mudah-mudahan gak sariawan ya! Semingguan lagi, jadwal kontrol mudah-mudahan gak ada masalah!
*Sejauh ini gak sariawan ya, tp ternyata gigi bengkak! Duh, doanya kurang lengkap ;D

Cabut Gigi Bungsu Toilet Selfie Before-After, because why-not Cabut Gigi Bungsu

 
Disudahi dulu perjalanan perawatan gigi-ku ini. Mudah-mudahan gak ada lanjutannya ya, selain kontrol berkala doang. Sekarang kalau mau panoramic bakal kelihatan kali ya gigi ku udah lengkap semua (tanpa gigi bungsu) Wow! Makasih Ya Allah. Sujud syukur :")

Oh ya, kalau ada yang mau ditanya-tanya, boleh lo ;)

Salam, Nasha.





Kenapa 2021 dibikin tentang LOVE? Ada triggernya pasti.

Perihal pertama itu gini ceritanya..


Jd di awal tahun lalu itu, aku udah keseringan sakit punggung dan sakit pinggang. Udah beraniin pijit pas balik kampung, tapi ya teteap aja balik gitu lagi. Sampai akhirnya gak tertahankan, aku coba konsul ajalah udah ke dokter. Ini tuh kenapa?Eh tapi, ke dokter apa ya? Gak mau ke dokter umum, karena parnoan gara-gara pandemi. Akhirnya ke dokter saraf.


Nah, selama di Jogja kan aku punya preferensi Rumah Sakit, jadilah cari dokter saraf yang available di waktu yang aling dekat disana. 


Konsul lah tuh kan. Walhamdulillah pas di cek sarafnya mah baik-baik aja. Terus, eh tapi kok pas disuruh telentang kaya punggungnya gak rata gitu ya. Kok aku berdiri tapi bahunya gak lurus nih. Akhirnya disuruh rontgen lah saat itu juga, dan bawa hasilnya balik lagi ke dokter itu.
Nah, disinilah aku dapat kejutan, fakta yg mengatakan kalau aku skoliosis.



Yg kebayang cuma gambar di buku ipa (ipa banget gak tuh bahasanya) pas SD kalau skoliosis itu yg tulangnya bengkok-bengkok kaya huruf S itu doang. Dan itu rasanya gak nyata aja, cuma di buku doang, jaauuhh bnget dari aku. Aku nih derajatnya udah 20an loh, dokternya aja kaget emang aku gak ngerasa apa gak ngeliatin gimana. Ya maaf dok saya jarang ngaca :’)


Selanjutnya ya dokternya kasih obat nyeri dan disuruh fisioterapi teruuuss sampai yang aku inget udah kaya kegiatan weekend aja itu terapi. Dipasangin alat-alat gitu, ada dua apa tiga alat ya, terus diajarin gerakan-gerakan tertentu unutk meredakan sakitnya, buat latihan ahrian juga dirumah. Mostly gerakannya untuk memperkuat punggung dan pinggang sih, kaya cat-camel stretch, hip thrusts, opposite leg arm lifts, dsb. Awal-awalnya sih sok nikmatin, apalagi dengan fasilitas RS yang mayan ya gak berasa RS amat, tapi lama kelamaan ya lelah juga. Berasa penyakitan aja gitu, padahal mah kan nggak yg gimana-gimana juga. Di google juga scoliosis ini kategorinya very common kok, apalagi perempuan. Bahkan public figure juga ada yang terang-terangan state kalau mereka skoliosis dan baik-baik aja kan (kelihatannya). Tapi ya gitulah mental, kadang cem baja kadang cem kerupuk.

Teruuss.. yaudah gitu aja. Keluhan nyerinya udah berkurang, dan aku cuma lanjut exercise yang diajarin itu sesempetnya (iya, sok sibuk!)

Gak lama setelah itu, aku pindah kota, eh ada nih cabang RS itu disini. Jadi ada preferensi ya kalau mau berobat.

Eh bener, abis itu sakit pinggangnya kumat lg gara-gara salah posisi pas ngapain ya lupa. Terus pas aku searching, eh kayanya yang bener itu ke spesialis rehab medik ya. Yaudah, aku ke dokter rehab medik deh, dikasih obat nyeri buat minum dan obat oles dibagian yang nyeri, hm dan tentu saja terapi lagi yaa. Berapa kali ya itu, sampai keluhan nyerinya lumayan berkurang.

Nah sebenernya setelah terapi-terapi itu disuruh balik lagi ke dokternya buat latihan workout untk meringankan gejala dan bisa menahan pertambahan derajat nya kayanya ya. Tp selaluuu aja ada kendala, jadi masih belum nih sampe sekarang. Ditambah aku punya trauma juga sama RS nya, bikin makin-makin mager kan.

Dan terus tiba-tiba sakit gigi ðŸ¦· yaudah obatin dulu lah sakit giginya. Eh, ternyata perjalanan gigi ini panjang banget ternyata. 

Selesai gigi, udah bertekad bakal balik perawatan tulang. Semangat!

Meskipun sebenarnya keluhan sakit punggung dan pinggangnya bisa teratasi sih kalau gak males workout, asal tiap hari senam aja cukup. Meskipun kadang kan ada aja tuh malesnya. Tapi, sekarang udah fase tobat kok, udah mulai nerima lah dengan kondisi pertulangan ini, gak lagi merenung dan bertanya, kenapa aku Tuhan sambil mewek-mewek padahal mah emang dari dulu suka ngasal ngapa-ngapain gak merhatiin postur. Bedanya dengan orang normal ya sangat rentan aja dengan sakit punggung dan pinggang ini, apalagi aku kalau hari haid awal-awal berasa pingin rebahaan aja sambil body spa. Tapi ekspektasi sama realita kan gak selalu sejalan ya.

Sekarang pun aku gak ngerasa beban yang gimana juga sih buat workout ini, malah jadi trigger buat aku supaya rutin olahraga karena gimanapun kita mah emang harus olahraga kan. Nah, kaum rumahan kaya aku sih rutin workout aja, senam, stretching, aku rutinnya pake apps "Workout for Women" yang mana simple banget gak kebanyakan ngomong kaya video youtube gt kan. Workout nya dikategorikan juga dan singkat-singkat. Terus gambarnya juga kaya kartun gitu. Interface nya ok lah, dan gampang banget dipakenya. Siapa tau ada yang nyari referensi untuk workout dirumah juga. Sehat-sehat dan jangan mager ya kita semua! ;D

Salam, Nasha.

Mengawali tahun 2022 dengan menatap sedih halaman blog ini, karena ternyata tidak ada postingan sama sekali di tahun 2021 :'


But, how's life recently?


Great!


Saya merasa bertumbuh dan berkembang (udah kaya bocah aja istilahnya) jauh di 2021 lalu. If someone ask me, how's 2021 mostly about? I'm gonna answer LOVE!

It's all about Love!


Di 2021 saya belajar untuk mulai menerima, menerima diri sendiri apa adanya, kurangnya, lebihnya, lukanya, kenangannya. sakitnya, pelajarannya, semuanya dipeluk, diterima. Berdamai dengan segala kondisi, semua perkara. Belum seluruhnya, namun perlahan-lahan. Satu persatu.

Mulai dari diri sendiri.

Lalu mulai memperbaiki. merawat, mempedulikan, menyayangi, menjadikannya utama. Karena prinsipnya, dengan diri yg dicinta yang mampu memberi cinta, mengekspresikan juga pada mereka (eh, seru juga nih tar dibahas lg! ;D)


Seiring berjalan dengan itu, saya mulai sedikit demi sedikit memahami bagaimana kita seharusnya menjadi bagian dari kehidupan ini. Seperti yang telah disebutkan dalam QS 28.77 bahwa kita seharusnya menebar kebaikan dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Makin ke sini, makin banyak warning tentang kerusakan bumi yang kita bikin selama bergenarasi, dan sampai sekarang gak jelas titik stop atau penurunannya. Memprihatinkan, gimana makhluk bumi lain harus mengalah karena keserakahan kita untuk eksploitasi sumber daya. Hutan yang dibabat, mereka yang kekurangan makanan, tergusur tempat pindahnya. Suhu yang meningkat, mereka juga yang kesusahan beradaptasi. Sedangkan kita, masih sibuk dengan penumpukan nominal angka.


Kalau saya coba pahami sih, sebenarnya ini berakar dari kita yang gak pernah merasa cukup. Ikan di laut itu juga dimakanin kok sama ikan lebih besar (langsung ambil contoh paus deh), tapi ya secukupnya kebutuhan si paus itu kan. Sedangkan kita cenderung takut kekurangan, sehingga ambil sebanyak-banyaknya. Apalagi kalau harga murah, ambil lebih banyak dari yang dibutuhkan, lalu kadang kekenyangan atau bahkan terbuang sia-sia, mubadzir..

Pola ini dilakukan oleh milyaran orang secara berulang..

Gimana gak habis itu sumber daya.


Gak ada yang salah dengan proses distribusi makanan atau barang kita, karena kita bukan paus yang tiap makan harus berburu dulu. Kita mencari makan dengan uang, dengan bertukar manfaat. Tapi, yang perlu kita mulai sadari adalah berlaku cukup.


Hidup Cukup. Cukup dengan apa yang dipunya. Cukup dengan bagaimana yang dibutuhkan. 


Mampu bukan berarti harus. Murah bukan berari diborong. Gratis bukan berarti bisa disia-siakan.


Mulai deh pikirin barang yang sampai di kita itu punya proses yang panjang untuk bisa kita pakai. Dari nasi yang kita makan sehari-hari aja deh, perlu bulanan untuk ditanam, dipanen, diolah, dan dimasak kan. Dan bukan hanya itu loh, butuh banyak lahan hutan yang dialih fungsikan menjadi sawah, gak tau deh berapa banyak hewan yang tergusur atau kehilangan sumber makanan dan beradaptasi lagi. Jadi, sebenarnya gak ada barang yang benar-benar murah. Menurut saya, harga suatu barang itu gak mencerminkan nilainya. Baran yang kita anggap cuma itu, butuh pengorbanan banyak yang gak bisa kita ganti. Jadi, jangan mentang-mentang kita mampu beli dengan harga barang itu, kita jadi merasa memiliki barang itu dan memperlakukan semena-mena. Beli beras, ditumpuk karena mampu, dimasak, lalu dibuang-buang (Hey, aku!)


Itu baru beras loh ya. Belum lagi barang yang gak hilang setelah dibuang. Mention it, plastic! Semua barang sih sebenarnya. Kita buang bukan berarti hilang kan. Jadi limbah, makan tempat lagi, mengotori alam lagi, ntah darat, sungai, laut, bahkan udara! Mikirin gini nih bikin pingin sungkem sama segala makhluk yang kena imbas kelakukan kita :" Astgahfirullah..


Telat sih, tapi better than not at all. Mulai deh (iya, aku!) tolong perpanjang umur barang, pakai sampai habis, pakai sampai rusak. Perpanjang umur barangnya, dirawat, biar bisa dipakai lama atau dimanfaatkan sm orang lain. Terus, kurangi deh pakai barang yang makenya bentar trus lama nyampahnya (again, plastic). Kontrol deh keimpulsifan buat belanja, cek dulu ini barang udah ada apa belum, beda modelan doang apa fungsinya juga beda, belinya karena perlu apa buat lucu-lucuan aja.


#HidupCukup


Bakal sering pake tagar #HidupCukup ini, untuk self reminder juga kalau apa yang ada di aku sekarang ya itu yg aku butuh. Secure dengan itu, jadi gak minder lihat orang yang rumahnya berkapling-kapling karena dengan rumah 100an ini aja udah cukup dengan kebutuhanku. Gak tersinggung juga kalau ada orang yang komen, kok barangnya masih yang itu, karena aku sadar ada nilai lebih penting yang aku jaga daripada sekedar menjawab komenan orang. 

Bahkan Rasulullah udah menyampaikan lama loh, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. kalau mau diperluas mungkin bukan hanya tentang makan, tentang kita yg gak perlu berlebihan dalam konsumsi apapun. Seperlunya, secukupnya.

Jadi, kalau mau mengambil menggunakan, membeli barang yang diingat ya prinsip itu. Butuhnya apa, berapa, yang bagaimana cukupnya. Bukan semata faktor ekonomi, harganya murah terus beli banyak, yang ujung-ujungnya konsumsi berlebihan ataupun mubadzir. 


Btw, this series from Netflix (dan juga ada di youtube resminya) is a must-watch series for all humankind on earth!!!

https://www.youtube.com/watch?v=GfO-3Oir-qM


Salam, Nasha.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Juni 2026 (1)
      • Menerapkan Unbothered Energy dalam Kehidupan Sehar...
    • ►  Mei 2026 (1)
    • ►  April 2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes