• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Seperti sinopsis yang ditampilkan di laman netflix, drama ini mengisahkan tentang kehidupan orang-orang di Pulau Jeju, yang ternyata bisa membawa kehangatan dan banyak sekali pelajaran :')

Kehidupan orang-orang 'biasa' apa adanya bukan yang mewah seperti banyak ditampilkan dalam drama, tapi seperti semua kisah ada pahit manisnya, dan kita mengarungi kehidupan orang-orang itu lengkap dengan naik turun segala perasaannya. Drama yang terdiri dari 20 eps ini dibagi dalam beberapa episode untuk masing-masing kisah para tokoh.


Mimpi dan Uang

Episode pertama dan kedua menceritakan tentang Han-Su dan Eun-Hui, mantan teman sekolah, yang bertemu kembali di Pulau Jeju. Tapi menariknya cerita gak berpusat di konflik hubungan mereka aja, tapi ada isu-isu lain yang disinggung seperti kondisi keluarga, perihal keuangan, mimpi, dan juga hubungan orang tua-anak. Han Su dengan status sebagai kepala cabang ank, tentu harusnya memiliki kehidupan yang lebih dari cukup, tapi nyatanya dia punya hutang cukup besar. Hutang itu untuk membiayai pelatihan golf anaknya di Amerika. Hidup pas-pas an demi memenuhi mimpi anak, hal yang tidak bisa ia capai saat menjadi anak-anak. Ini bisa bikin topik diskusi baru khususnya bagi orang tua, sampai sejauh mana sih kita akan mendukung mimpi anak? Apa sampai hidup pas-pasan, terpisah jarak, dan terlibat hutang? Ini juga bikin aku sadar sih, tentang arti privilage, tentang apapun emang perlu uang, bahkan untuk menggapai mimpi yang akan lebih mudah dilakukan dengan banyak pintu yang terbuka dengan uang.


Menariknya, ini gak dibahas hanya dari sisi orang tua, tapi gimana kita sebagai anak 'mencukupkan' diri dengan apa yang kita inginkan, untuk sadar kalau kadang hidup emang gitu, dan gak mendapatkan apa yang kita mau bukan berarti gak bahagia. Kita bisa aja hidup lebih bahagia, dengan 'berbelok' dari apa yang sebelumnya kita mau, dengan kehidupan yang lebih hangat, lebih tenang. Kisah pertama ini aja cukup membuka pikiran buatku.


Down Syndrome

Selanjutnya, ada kisah asmara antara Yeong Ok dan Jeong Jun, yang sepertinya ringan dan kurang 'ngena' karena ya gitu aja kayanya, gak tau awal mula ketertarikan, gak paham kenapa bisa mereka akhrinya jadian, tapi ternyata punya isu tersendiri yang dibawa, yaitu down syndrome. Cerita ini bikin kita mikir ulang, meluaskan pandangan juga gimana melihat mereka yang down syndrome. Atau memunculkan pertanyaan, eh gimana ya kita menghadapi mereka yang down syndrome, gimana jika kita bertemu dengan orang yang merawatnya, dan gimana berdamai dengan kondisi yang 'terlihat' meyusahkan itu. Menurutku mengangkat isu ini dengan membawa langsung aktris down syndrome pertama di Korea sebagai Yeong Hui adalah perkembangan yang baik, karena gak semua orang akan kepikiran dan berani melakukan itu ya. Ini juga jadi semacam pintu terbuka bagi mereka, dan menjadikan lingkungan kita menjadi lebih ramah terhadap orang yang istimewa ini.


Kehamilan Remaja

Dari topik itu, beralih ke topik lain yang udah cukup sering dibahas, kehamilan remaja. Hal yang mungkin gak asing lagi, tapi tetap gak bisa dibenarkan. Buatku, cerita ini cukup bikin baper karena penggambarannya banyak dari sisi perempuannya, apa yang terjadi, bagaimana Yeong Ju menghadapinya, reaksi tubuhnya, perasaan penolakan yang dia miliki, mimpi yang terasa semakin jauh, omongan negatif orang, dan hal-hal gak mengenakkan lainnya. Penyesuaian yang mau gak mau arus dihadapi. Karena pernah hamil dan tau rasanya gimana punya anak, aku jadi lebih relate dengan apa yang dia rasakan. Belum lagi Yeong Ju dan hyeong, keduanya adalah murid teladan di sekolah, punya mimpi lanjut kuliah ke Seoul, di lingkungan gak pernah bikin onar, kelakuan selalu dinilai baik.


Penceritaan juga dibikin dari sisi orang tuanya, gimana perasaan mereka, gimana kecewanya, bingungnya, kesalnya, tapi juga ada perasaan bersalah, kasihan, dan sama bingungnya. Apalagi sebagai single parent, jadi bertubi-tubi deh ledakan perasaannya. Nah, lonjakan perasaan kaya gini, ternyata bisa jadi pintu pembuka dari permasalahan di masa lalu antara para ayah single ini, In Gwon dan Du Sik, tentang kesalahpahaman, tentang luka yang gak selesai, tentang hubungan yang bisa diperbaiki, dan tentunya tentang hubungan anak dan ayahnya. Mengandung bawang juga nih.


Kesehatan Mental

Apa lagi ya isu yang cukup ramai?  Kesehatan mental, juga diceritakan disini. Makin bikin kita ngeh, kalau penyakit mental itu ya ada, bisa jadi disekitar kita karena orang yang terlihat baik-baik aja belum tentu nyatanya begitu. Seon A adalah buktinya. Secara fisik dia gak berbeda, lengkap sempurna semua tubuhnya, bisa berbaur, dan sama aja kaya kita semua. Tapi ternyata ada hari-hari dimana dia gak bisa melakukan apa-apa, gak punya tenaga untuk beraktifitas, nah ini udah red flag ya. Kalau ada kondisi di badan kita yang mengganggu aktifitas kita, itu artinya perlu penanganan khusus. Dan sakit mental bukan perkara sepele dengan yaudah sih gak usah stress atau yaudah sih bangun trus kerjain aja gak usah dipikirin. Aku pernah baca, kalau kalimat kaya gini sama aja kaya kita ngomong, yaudah sih nafas aja banyak udara gini, ke orang yang asma. 


Mereka yang udah sakit, gak bisa menyembuhkan diri sendiri. Mereka paling perlu didampingi, dibantu, diberi kesempatan untuk memperbaiki. Ini juga membuka ruang diskusi, gimana ya kalau kita punya pasangan yang sakit mental? Apa yang perlu kita lakukan? Sejauh mana kita bisa membantu? Bukan hanya pasangan sih, tapi kerabat kita pada umumnya. Paling dasar dulu deh, gimana kita harusnya melihat, memahami, sakit mental itu sendiri dan penderitanya. Pelajari dan pahami betul kalau sakit mental itu ya sama kaya sakit fisik, mengganggu dan gak diinginkan. Sama aja perlu upaya untuk penyembuhannya. Kalau ada penderita, jangan disepelekan, gak perlu dianggap aneh, kalau gak tau mau ngapain yaudah diam aja.


Friendship

Gak cukup di isu yang ramai, ada juga isu yang terlihat 'biasa aja' tapi cukup berbekas juga. Tentang hubungan pertemanan, tentang persahabatan antara dua manusia. Indah ya kayanya bisa punya sahabat dekat, yang bisa berbagi segalanya, yang tau semua hal, yang siap siaga untuk membantu untuk mendukung. Hubungan awet dan telah berumur panjang semacam itu bisa berantakan hanya dengan satu kesalahpahaman. 


Namun, sama seperti semua hal lainnya, hubungan pertemanan juga patut diperjuangkan, perlu dirawat. Kita terus bertumbuh, kita berproses, lagi-lagi komunikasi terbuka adalah kunci. Kalau emang peduli harusnya bisa jujur ungkapkan isi hati, kasih tau salahnya apa, yang bikin gak nyamannya mana, ingatkan batasannya dimana, yang bisa diperbaiki apa. Membiarkan dan 'sok keren' memendam luka sendiri malah bisa jadi ledakan di suatu hari nanti. Karena luka mungkin bisa sembuh seiring waktu berjalan, tapi bekasnya akan tetap ada dan semakin dalam malah semakin sulit untuk kita lupa. 


Harapan

Kayanya semua hubungan udah ya, eh belum ding, ada yang jarang banget disinggung nih, hubungan nenek dan cucu yang diceritakan. Menariknya, kalau biasanya nenek adalah tokoh yang digambarkan lemah lembut ke cucu, gak bisa larang jika cucu berkehendak, namun nenek Chun Hui buatku adalah nenek yang galak, yang skeptis apalagi berhadapan dengan anak-anak yang lugu. Padahal cucunya cuma sementara tinggal sama dia, dan cucunya juga baik-baik aja.


Kalau disini yang aku pahami adalah gimana nenek Chun Hui ini akhirnya bisa kembali berharap, bisa percaya sama takdir yang baik. Emang ya gak semua yang terlihat kuat itu nyatanya baik-baik aja.


Orang Tua

Terakhir, drama ini ditutup dengan konflik orang tua-anak yang dari awal udah diperlihatkan yaitu antara nenek Ok Dong dan Deong Sok. Dari awal yang dilihatin gimana Deong Sok ini bawaannya marah dan ngamuk terus kalau bersinggungan sama ibunya, Ok Dong, padahal ibunya  terlihat diam gak berdaya khas orang sepuh gitu ya. Tapi pas tau sedikit-sedikit ceritanya Dong Seok tentang ibunya ini, aku sih kebawa kesel juga ya. Sampai akhir juga gak ada pembelaan apa-apa atas kelakuakan ibunya ini, tapi somehow aku ngerasa sedih dan lebih ngerti aja. Bukan membenarkan, tapi lebih memahami apa yang dilakukan ibu Ok Dong ini ke Deong Sok dulu, dan memahami juga kenapa Deong Sok ini bisa memperlakukan ibunya kaya gitu. Sedih aja atas apa yang dilalui dua orang ini sehingga mereka jadi menderita dan melampiaskannya dengan tidak tepat, yaitu menyakiti.


Aku jadi inget pernah baca kalau orang yang terluka itu bisa kejam untuk melukai juga. Jadi sekarang kalau lihat orang dengan kelakuan 'buruk' aku jadi pingin tau luka apa ya yang bikin dia bisa segitu kejamnya? Apa ya yang berusaha dia tutupi dengan melampiaskan ke menyakiti orang gitu? Jadinya aku bukannya marah, malah kasihan. Sedih juga kalau orang itu harus melalui hal berat sampai dia jadi begitu. Aku percaya setiap kita adalah orang baik, Allah ciptakan kita dengan baik dengan kondisi masing-masing. Dalam kondisi itu, kita tetap punya pilihan untuk tetap baik, tapi kadang luka tertentu, pengalaman, latar belakang, lingkungan, gak tau, yang bikin pilihan jadi baik malah jadi pilihan terakhir yang paling sulit.


Drama ini (dengan perjalanan panjang dan kisah orang-orang didalamnya) bikin aku makin sadar kalau kita gak akan bisa menilai keseluruhan orang lain. Sama aja semua orang tuh, gak usah berlaku eksklusif dan gak perlu membeda-bedakan juga. Setiap orang punya luka dan masa lalu yang pernah membentuk dia. Punya masa sekarang yang terlihat secuil sama kita, dan punya masa depan yang kita gak pernah tau akan gimana nantinya. Manusia dengan hakikatnya sebagai makhluk sosial, butuh orang lain untuk bisa berfungsi optimal, sadari kalau kita emang butuh orang lain dan orang lain mungkin butuh kita, that's why we need to work on a relationship ntah hubungan apapun perlu diperjuangkan dan itu juga kenapa kita perlu jadi orang yang baik. Baik bagi diri kita sendiri, baik ke orang terdekat, baik lalu semakin luar bahkan sampai ke orang asing yang cuma papasan di jalanan. Saling menghargai, saling mengasihi <3


Salam, Nasha

Cerita penyapihan anak kedua dan anak pertama itu beda ya ternyata. Waktu menyusui dan menyapih anak pertama aku gak ada galau-galaunya, muluuus sekali jalannya, no drama. Tapi beda cerita dengan anak kedua, lebih galau, ada dramanya, ada ceritanya, dan memang lebih melelahkan ya :')

menyapih anak kedua

Perjalanan Menyusui

Kalau dulu santai aja menyimpulkan menyusui itu gampang kok, tapi sekarang, eh perjuangan banget ya menyusui itu. ingin bertukar peran aja sekali-sekali :')

Saba ini, dari awal-awal menyusui kan udah ada ya dramanya, baca disini. Nursing strike itu kali ya yang bikin aku bener-bener all out buat menyusui Saba. Dengan segala posisi, dengan waktu yang gak menentu, pokoknya terserah yang penting mau nyusu. Jadinya keterusan sampai sekarang. Setelah umur setahun pun dia masih bangun tengah malam buat nen. Aku waktu itu sih gak masalah, karena mikir yaudahlah daripada gak mau, ya mendinglah buat bantu boost bb nya. Tapi kenyataannya itu gak sehat juga. BB nya juga segitu-gitu aja. Dia nyusu juga bukan karena butuh, tapi lebih ke kebiasaan aja. Hal ini juga gak baik kan buat waktu istriahatnya, kwalitas tidurnya, yang jadi terganggu, harusnya bisa tidur lelap lama jadi kepotong-potong. Sistem pencernaannya juga, harusnya malam itu ya istirahat eh malah diajak kerja lagi. Efeknya juga 'sepertinya' ke perilaku anak, yang somehow jadi moody-an. Masuk akal sih ini jadi salah satu faktor pengaruh ke perilakunya, kita aja yang tidurnya keganggu-ganggu pas bangunnya bisa moody ngerasa kaya gak puas gitu kan, apalagi anak-anak gak ngerti apa-apa gitu.

Nah, aku baru galau dengan pola nyusu Saba ini di umur dia 20 bulanan. Dia yang dikit-dikit nen, ngerengek nen, digangguin nen, ngantuk nen, jadi bikin aku nyadar eh ini dia nen bukan karena butuh ya. Dia nen mah karena gak tau aja harus apa. Which is ini bukan hal baik ya menurutku, harusnya di umur dia itu, dia udah mulai paham bedanya kondisi badannya. Kalau ngantuk ya tidur, kalau lapar ya makan, kalau haus ya minum, kalau gak nyaman ya ngomong atau coba cari cara lain peluk misalkan. 

Pingin nyapih, tapi takut gagal :")

Belum apa-apa udah nyerah duluan. Jadilah aku nangis-nangis berdoa, berkeluh kesah ke Allah. Ada hari-hari aku menyusui dia dengan air mata loh. Ada malam-malam aku sholat dengan derai air mata. Sungguh. Aku minta dikuatkan, minta dimudahkan, atau ya berkeluh kesah aja cape banget nyusuin ini Ya Allah :')



Menyapih Tiba-tiba Dimulai

Setelah mulai bertekad untuk ngurangi atau menghilangkan nen siangnya (yang tentu saja gagal maning), suatu malam mendekati umur dia 2 tahun, Saba ngikutin Gesang mau minum susu kotak. Terus, aku nyeletuk aja bilang, kalau minum susu itu gak nen lagi ya. Ia pun mengiyakan. Baik, coba kita lihat, apakah aku sanggup..

Tentu aja ya, karena udah kebiasaan dia abis minum susu kotak gitu perlahan ngantuk dan minta nen. Terjadilah itu, aku nolak, pelan-pelan, loh kan tadi katanya kalau udah minum susu kotak gak nen lagi. Dia masih senyum-senyum aja tuh. Beberapa kali kaya gitu, sampai dia udah ngantuk berat dan mulai rewel, akhirnya aku nyanyiin sholawatin sambil digendong ayun-ayun. Terima kasih duhai pinggang. Akhirnya dia tidur sekitar jam setengah sebelas, lumayan ya telat dua ja setengah dari jadwal biasa, dan sekitar dua jam dia rungsing karena gak tau mau ngapain buat tidur.

Apakah sudah berakhir cerita malam pertama itu? Tentu belum, bestie. Tengah malam sesuai kebiasaan, dia bangun. Karena gak bisa nen (udah terlanjur aku ih) dia nangis, kasian, nangisnya nangis pelan sedih gitu bukan nangis teriak meronta-ronta gitu loh, terpotek hati ibu. Pingin aku kasih aja, tapi udah terlanjur tapi gimana ya tapii.. di tengah kegalauan aku mutusin ngasih apa nggak itu, dia udah ketiduran duluan.

Paginya, dia bangun dengan ceria. 

Aku pikir dia bakal bad mood, gloomy gitu, alhamdulillah nggak.

Tidur siang ini rasanya lebih gampang sih, karena dia cape juga kali ya, ngantuk juga, dan udah kebiasaan juga. Jadi ya sesuai jadwal biasanya aku ajakin ke kamar, aku alihkan perhatiannya dengan aktivitas di kasur kaya baca atau ngobrol-ngobrol atau nyanyiin aja. Terus pas dia ngantuk tapi masih belum dapat posisi dia minta gendong. Karena pinggangku udah gak memungkinkan lagi, aku ajak pangku peluk gitu, dia mau, gak lama akhirnya dia tidur. Meski lebih telat dari jam biasanya, gapapa.

Nah, di siang ini payudaraku mulai membengkak. Gak nyaman sama sekali. Pakai bra aja sakit, tapi kalau gak pake luberan asinya jadi ke baju :')

Gini amat ya menyusui tu ternyata.

Malam Kedua dan Seterusnya

Dengan payudara bengkak dan nyeri banget itu, Saba cuma mau digendong sama ibu. Dan dengan kondisi pinggang yang demikian, jadilah aku peluk pangku sambil diayun-ayun dinyanyiin. Lama-lama ketiduran juga nih anak. Syukur kakaknya gak rewel juga nih :')
Malam kedua ini lumayan sih daripada malam pertama, tidurnya sekitar setengah 10. Ibu jadi pingin party merayakan proses penyapihan ini. Tapi sayangnya anaknya keburu bangun di tengah malam, berualng lagi proses peniduran itu, ajaibnya dia ditawarin nen udah gak mau loh. Akahirnya ketiduran lagi di pangkuan ibu.
Begitu berulang di siang dan malam hari-hari selanjutnya. Tidurnya jadi lebih molor daripada biasa dan prosesnya jadi lebih panjang. Kadang bisa ketiduran aja langsung, kadang mesti digendong pangku gitu, sesanggupnya aku aja. Karena aku gak mungkin lagi gendong dia sambil berdiri gitu, jadi ya nikmati aja udah dia nangis gitu. Aku paham sih, dia gak mungkin instant dapetin cara untuk tidur sendiri, karena biasanya dia bergantng sama nen. Aku cuma bisa bantuin dia untuk menemukan lagi kenyamanan sebelum tidur itu.

tips menyapih mudah

Kesimpulan Menyusui

Dengan selesainya masa menyusui kedua anak ini, satu hal yang perlu selalu diingat oleh siapapun (baik menyusui atau nggak) adalah bahwa

  • Menyusui itu Perjuangan.
Gak mudah. Prosesnya panjang, butuh komitmen, butuh persiapan jiwa, raga, biaya, dan banyak hal yang jadinya digeser prioritasnya.
You named it. Paling perlu ini:
  • Komitmen

Bagaimana pun kondisinya, halangannya, prioritasnya agar tetap bisa menyusui. Ada masalah, ada rintangan, langsung konsul sama yang lebih ahli, jangan asal putusin sendiri. Ada konselor, ada dokter, ada buku, ada bergaam banget pilihan sekarang.
Meski harus dipompa, meski berjauhan, meski.. meski... tantangan di tiap ibu yang ada aja. Apapun peran ibunya. Ntah pikiran yang meronta-ronta karena gak bisa apa-apa, merasa terikat dengan menyusui, hadapi. Mulai dari pola pikir, pahami kalau menyusui juga adalah aktifitas meski terlihat cuma sodorin payudara sambil rebahan. Aktifitas memberi nutrisi pada bayi, memberi dia kenyamanan, melekatkan hubungan, bisa disambil dengan mendoakan, atau nasehat ringan. 
Perlahan kalau pola pikir menyadari betapa berharganya aktifitas menyusui, hal-hal lain akan 'terlihat' lebih ringan. Meski pinggang ya tetep aja pegel ya. Leher juga bisa kaku juga. Tapi seenggaknya, gak ditambah dengan keluhan pikiran yang ngadi-ngadi.

  • Siapkan tubuh ibu sendiri

Selesaikan dulu urusan dasar, kaya sholat dan makan. Belum sholat tu kan bikin gak tenang ya, karena takut tar waktunya kelewat lah, ketiduran lah, dst. Pas adzan meski anak udah minta nen, sholat aja dulu. Begitu juga makan, kalau udah jadwalnya makan, walaupun belum lapar-lapar amat ya makan aja. Kalau laparnya barengan sama anak minta nen ya makan dulu. Seenggaknya kalau kenyang, pikiran lebih tenang. Gak usah berlagak berkorban mendahulukan anak, tar nya malah gak optimal. Isi dulu diri sendiri, baru bisa memberi.

  • Support dari orang sekitar

Ini antara bisa dan nggak dikontrol ya, tapi seengaknya bisa kita usahakan, dengan ngobrol, ngobrol, edukasi, edukasi, sumber informasi banyak banget, pilih yang terpercaya. Paling penting tentu ayahnya anak, lalu merembet ke orang tua/ mertua, karena biasanya mereka yang cukup pengaruh dengan kalimat, kamu dulu jg gitu sehat-sehat aja kan.
Ajak ke dokter anak, ajak ke konselor laktasi, share link dari dokter/konselor itu, share link artikel, ngobrol lagi, belajar cara ngomong (dengan I sentence misalkan).
Pinginnya sih yang orang-orang ini udah ngerti dari sananya ya, tapi kalau kenyataannya nggak, ya mudah-mudahan perjuangan kita buat kuat minta support dan ngasih tau ini dianggap sebagai amal mengASIhi juga ya :')

Ending Menyusui - Tips Menyapih

Kayanya di minggu kedua, Saba udah mulai dapet nyamannya tidur sendiri. Dia bisa guling-guling cari posisi, atau ketiduran pas lagi dibacaim, atau kadang minta dipeluk terus ketiduran juga. Gak kebangun lagi di tengah malam ataupun di tidur siangnya. Ditawarin nen udah gak mau. Jadi, aku benar-benar mengehentikan kebiasaan menyusui sampai tertidur ini, bukan dengan mengalihkan ke botol dot misalkan. Bahkan dia gak mesti minum susu, seperlunya aja. 

Just like any other experiences, kuncinya ada di sounding-sounding-sounding dan doa-doa-doa-doa-doa.Dari umur dua puluh bulanan itu, aku udah berkali-kali ngomong ke Saba, nyusunya cuma sampai umur dua tahun ya. Tar gak nyusu lagi ya, kalau lapar-makan, kalau haus-minum ya, kalau ngantuk-tidur ya. Begitu terus diulang-ulang. Anak-anak ini ngerti kok. Mungkin itu kenapa waktu pertama dia sapih, dia gak nangis meronta-ronta minta, tapi nangis sedih perpisahan :"

Tips selanjutnya, jangan tarik ulur. Kalau udah maju lanjutkan, jangan sampai mundur. Aku aja yang gak rencana gitu, maju terus kepalang tanggung sampe tiba-tiba udahan aja.

Minta support. Dari awal rencana aku nyapih, udah sounding ke suami nih, tar Saba tidurnya digendong ayah ya. Eh taunya, anaknya gak mau. Maunya cuma sama ibu, padahal dia anak ayah banget. Akhirnya aku semacam paham, oh ini hubungan antara ibu-anak yang harus juga diakhiri oleh ibu-anak dengan baik. Aku mulai menyusui ini dengan niat yang baik, jadi harus diakhiri dengan baik juga, oleh aku dan anakku.  Apakah itu artinya gak ada yang bisa dilakukan buat mendukung? Ya tentu ada, dukung ibunya. Pijit, kasih hadiah, dengarkan keluhannya, semangatin, bilang terima kasih, bawain makanan, hadir, temani, be there, and those things that you need in your love language. 

Lakukan bertahap. Ini step yang aku skip di Saba, tapi aku lakukan (tanpa niat, karena ikutin maunya dia aja) di Gesang. Di Gesang, sebelum dia totally sapih, dia udah gak nyusu lagi di siang hari, udah gak kebangun lagi di tengah malam, terus makin lama (sejak umur setahunan) menyusunya makin sebentar. Jadi aku cma stop yang 1x sehari itu, yang sebelum tidur malam itu doang. Bahkan payudaraku gak bengkak saat nyapih Gesang, karena udah berkurang-kurang juga frekuensi dan kuantitasnya ya.
Pada akhirnya, menyusui memang perwujudan peran utama antara ibu dan anak. Tapi layaknya dalam setiap cerita, peran pendukung juga sangat penting. Pendukung utama jelas ayah, penanggung jawab utama nafkah keluarga. Asi adalah nafkah untuk anak kan. Lalu, orang tua dari orang tau alias kakek-nenek. Karena setelah jadi orang tua pun, kita gak berhenti jadi anak, sehingga doa dan dukungan orang tua tetap penting. Komunikasikan dengan baik, minta doa. Para ahli. Semua ilmu itu datang dari Allah, dan ada orang-orang yang memang belajar lebih banyak di subjek ini. Percayakan ke mereka. Emang ini anak kita, tapi ilmu kita gak sampe segitunya. Pengalaman kita belum seberapa. Dengarkan dan lihat dengan lebih luas.
Orang lain? Peran pendukung lain-lain, yang kadang bisa mendukung, kadang juga nggak. Pilih sebijaknya. Karena ini perwujudan peran kita sebagai ibu, memang kita yang harus paling kuat, paling bertekad, paling berjuang. Hanya harapan yang bisa kita tiupkan agar perjuangan kita ini cukup dan dinilai baik oleh Allah.
aamiin. aamiin. aamiin.




Salam, Nasha.



 Yeom Mi Jeong, Yeom Chang Hee, dan Yeom Gi Jeong adalah bertiga bersaudara yang kemudian memiliki tetangga, seseorang yang juga bekerja untuk ayah mereka, Gu Ja Gyeong. Keempat orang ini digambarkan tidak puas dengan kehidupan mereka masing-masing.



Cerita dibuka dengan permasalahan utama ketiga bersaudara ini yaitu letak rumah yang terlalu jauh, sehingga mewajibkan mereka untuk mengurangi kegiatan sosial sepulang kantor agar bisa pulang ke rumah tidak terlalu larut. Mereka bahkan juga patungan ongkos untuk pulang ke rumah.


Episode-episode awal serial ini berjalan pelan mengisahkan permasalahan-permasalahan lain yang mereka hadapi, yang menakjubkannya (untukku) terasa sangat dekat. Seperti kita pernah berada di posisi tersebut. Relatable. Dialog-dialog yang dibangun juga seperti ungkapan perasaaan dari apa yang pernah aku alami, juga (katanya) sebagian besar penonton. Mungkin ini alasan utama kenapa drama ini terus masuk top 10 Netflix selama tayang.


Dalam perasaan terkungkung kehidupan itu, Yeom Gi Jeong, si anak bungsu, yang paling pendiam diantara saudaranya, mencoba menuangkannya dalam tulisan berjudul "My Liberation Notes" atau Catatan Pembebasanku. Meski awalnya ia juga tidak tau ingin terbebas dari apa, ingin bagaimana, ia hanya merasa tidak bahagia, meski juga bukan tidak bahagia. Sampai ia dan kedua rekan kantor lainnya membuat Klub Pembebasan. Mungkin kesamaan awalnya, mereka hanya orang-orang yang ingin terbebas dari kewajiban bersosialisasi dalam klub kantor. Berpura-pura menikmati, padahal tidak. Menambah kegiatan bertemu orang lain, padahal sudah lelah. Akhirnya mereka membuat klub sendiri.

Dari klub itu, aku belajar bahwa perasaan, masa lalu, pengalaman, itu perlu dibicarakan atau dituliskan. Dengan mengungkapkan, kita jadi sedikit lebih paham tentang diri kita sendiri. Kita sedikit mengerti. 


Beda lagi dengan Yeom Chang Hee, yang meskipun terus mengeluh dengan pekerjaannya namun ia tetap berusaha melakukan yang terbaik, bahkan kadang hal-hal diluar kewajiban kerjanya. Ia terus bertahan. Tokoh Yeom Chang Hee ini mengingatkan kita untuk yakin, percaya pada takdir. Meski kadang terlihat tidak masuk akal, percaya dan jalani. Kita tidak akan pernah benar-benar tau jalan terbaik mana yang sudah Tuhan siapkan.


Selain itu, scene-scene Yeom Chang Hee ini betul-betul diluar dugaan. Meski kadang ia bisa menjadi penengah yang sangat baik dari berbagai konflik keluarga ataupun teman-temannya, ia juga mampu menghibur, sangat menghibur, dengan pilihan tindakannya. Bahkan adegan paling memorable buatku salah satunya adalah adegan konyol Yeom Chang Hee ini.


Kalau si kakak tertua, Yeom Gi Jeong, permasalahan utamanya adalah asmara. Bahkan dia sampai bertekad akan menyukai sembarang orang sebelum musim dingin. Eh, taunya dapet yang beneran dia suka. Ya, tokohnya ini emang digambarin agak nyebelin sih, aku bahkan sampai ending gak terlalu suka sama Gi Jeong ini. Tapi ya tetep ada pelajaran yang bisa diambil dari dia. Gimana dia berani mengungkapkan apa yang dia rasa, aku ingat dialognya yang bikin aku mikir, kira-kira gini, kita kan ngomong suka, bilang sayang, bukan bulang benci, bukan ngajak berantem, kok malu? Loh iya ya, kok kita malu sama hal baik sih? Trus, Gi Jeong ini berubah banget sejak punya pacar, yang membuktikan kalau emang kita saat mencintai, saat diri kita penuhi dengan cinta, kita bisa menjadi orang yang lebih baik.




Kehidupan ketiga saudara ini ya gitu-gitu aja. Pergi pagi, kerjaaa, pulang, kelelahan. Sampai seseorang bernama Gu Ja Gyeong masuk ke kehidupan mereka. Pekerja dan pemabuk berat, yang tidak diketahui asal-usulnya. Cara mereka memulai interaksipun sangat unik. Lebih tepatnya, Mi Jeong yang memulai. Dia tiba-tiba minta tolong sama orang yang gak dia kenal ini, lalu mengajak supaya mereka saling 'memuja'. Dari hal yang gak terduga sama sekali itu, mereka akhirnya sama-sama mencoba mengisi hari dengan hal yang baik, ibaratnya menunjukkan rasa sayang kan, bukan kebencian, bersikap baik. Secara gak sadar, dari hal yang gak disengaja kaya gitu aja, mereka jadi terbawa untuk mengisi diri mereka sendiri dengan cinta. Coba deh, saat kita kasih perhatian, menunjukkan kasih, ketulusan sama orang lain, kita bakal lebih bahagia. Bukan hanya tentang pasangan ya, tapi secara umum. Kita menolong orang lain, membukakan pintu, tersenyum, hal-hal kecil yang bikin beberapa detik kita lebih menyenangkan. Kumpulan moment-moment itu bikin kita lebih ringan menjalani hidup. Spread love.

Yeom Mi Jeong ini digambarkan sebagai orang yang diam, penurut, gak banyak tingkah, tapi ternyata punya banyak hal yang dia pendam sendiri. Kalimat-kalimat dia, pemikiran yang dia sampaikan, bikin kita mangut-mangut, atau kebingungan, atau justru bertanya-tanya. Bikin kita merenungkan ulang tentang hidup secara keseluruhan. Ingin kita isi dengan kebencian atau kasih sayang, kita yang tentukan. Only hold things that matter. Bersyukur dan ikhlas kali ya bahasa lebih tingginya.

Bahkan di pekerjaan pun, karena kita yang jalani ya kita yang tentukan, mau ngerjain apa. Mau lepaskan karena sudah terlalu menyiksa, ya lepaskan. Mau istirahat dulu? Ya silahkan. Its your life, you the one who responsible of it. Pekerjaan juga bukan hanya berarti sesuatu yang kita sangat suka, yang kita passion, tapi kalau kita jadinya gak enjoy, ya let go. Cari hal yang kita enjoy jadikan pekerjaan. Hobi atau kesukaan bisa hal yang berbeda, gapapa.

Karena kemaren nontonnya sepotong-sepotong (per episode) aku jadi gak terlalu paham nilai apa yang mau disampaikan penulis. Meski setelah tamat pun, aku gak yakin juga apa persepsiku sama penulisnya sama, tapi ini yang aku dapat (dan ingat). Aku jadi pingin nonton ulang dan bisa diskusikan topik-topik apa aja yang bisa diobrolin. Seru deh kayanya!


Salam, Nasha.

Secara umum mungkin aku sama aja kaya banyak anak lain yang puluhan tahun tinggal dengan orang tua, punya keinginan kuat buat merantau, belum sadar 'enaknya' tinggal dengan orang tua. Tulisan ini mungkin kelak bisa jadi pengingat buatku, tentang kehangatan yang aku dambakan tapi tidak ingin aku usahakan. Tentang keluarga, sekeliling orang yang (syukurlah) sudah membentuk aku.



Jadi bisa dibilang, aku menikmati tinggal di kelilingi keluarga, tapi masih penasaran pingin jauh, pingin mandiri. Belum paham lah apa sih perks of living around family. mana paham anak usia belasan atau awal dua puluhan betapa berharganya hidup dekat dengan keluarga. Kita emang perlu ngerasain jauh dulu baru tau berharganya kedekatan.


Akhirnya setelah lulus kuliah aku bisa 'melepaskan' diri dengan bekerja di ibu kota. Akhirnya aku 'lepas' dari orang tua ke kota impian tujuan utama untuk perantauan, meski belakangan baru aku sadari bukan kota impian (buatku).

Lalu, aku berpindah dari satu kota ke kota lainnya, yang bukan ibu kota, dengan judul membangun kehidupan bersama suami dan anak-anak. Pandemi membuat kita semakin berjarak, kampung terasa lebih jauh. dengan dua bocah ini, kerepotan bepergian tentu lebih terasa, apalagi jika harus transit pesawat, belum pengkali-lipatan biayanya. Fiuuh.


Nah, tahun ini kami bertekad pulang. Dan, Alhamdulillah dimudahkan semua urusan, keinginan kami terwujud. Aku pulang dengan dua anak. Wah beda ya rasanya.


Dengan kondisi ku sekarang, dengan fokus yang aku pilih, apa-apa yang aku pelajari, pandanganku terhadap banyak hal juga jadi berubah. Karena dalam proses aku mendidik anak-anak, aku pun juga belajar, banyak tentang hubungan manusia. Ini yang kayanya sedikit banyak mengubah pandangan aku ke keluargaku. Bertemu dengan mereka satu persatu, bukan hanya orang tua ku ya tapi seluruh keluarga besar, nenek kakek, om tante, saudara-sadara semua di tempat kami tumbuh bersama.


Aku melihat mereka dengan cara yang berbeda, bukan hanya melihat tapi juga gimana aku menerima mereka, gimana aku mengartikan love language mereka, aku pelan-pelan melihat dengan lebih luas dan lebih dalam. oh, ternyata ini keluarga yang membentuk aku, ini orang-orang yang dulu membesarkan aku. Aku gak tinggal hanya dengan kedua orang tua ya, aku tinggal dengan seluruh keluarga besar, pernah dalam satu rumah. Hal yang dulu aku gak suka. tapi sekarang bisa aku terima dan lihat dengan perspektif berbeda. Lebih melegakan rasanya.


Apa yang orang istilahkan dengan inner child, aku berusaha menerima, berdamai dengan itu. Aku pernah menjadi anak-anak, anggota keluarga ku itu pernah lebih muda, lebih tidak bijaksana, lebih sedikit taunya. Kami semua berproses. Tolong jangan bayangkan aku kenapa-kenapa dengan masa anak-anakku, karena sungguh bukan apa-apa, kita semua punya masa lalu dan kita semua berproses. Sama halnya dengan setiap proses, ada yang nyaman dan ada yang tidak. Kita hanya perlu mengakui dan menerima itu sebagai bagian dari diri kita, bagian yang tidak terpisah dari diri kita tapi juga terpisah dengan keadaan kita sekarang. Melihat proses itu, perjalanan kami semua, oh ternyata kita sudah berproses banyak ya, sudah berjalan jauh ya.


Hal lain yang aku juga mulai pahami bahwa perbedaan-perbedaan antara aku dengan mereka juga berdasar dari latar belakang, kondisi, dan pemahaman yang berbeda, dan itu gapapa. Karena kita kan gak pernah tau mana yang lebih baik, kita hanya memilih yang lebih sesuai dengan kita, pilihan yang lebih kita sukai, kita yang memilih. Aku yang kemudian juga memilih hal-hal apa yang bisa aku teruskan dan hal-hal mana yang aku terima aja sebagai bagian dari keluargaku.


Dari kunjungan kemarin juga aku menyadari kalau keluarga memanglah rumah paling aman, meski kamu tidak lagi seperti dulu, meski kamu sempat meninggalkan luka tanpa mengucapkan maaf, mereka akan tetap menerima. Kamu tidak perlu menjadi siapa-siapa. Hanya menjadi dirimu apa adanya. Ada yang berubah menjadi lebih baik, yang berproses menjadi lebih bijaksana, yang tumbuh dewasa, atau yang sama saja, tidak apa. Kita tetap keluarga. Your existence matters.


Pikiranku juga sempat jauh membayangkan sampai ke masa tua. Meski sempat kewalahan dengan pikiran sendiri, aku sampai pada pemikiran ntah bagaimana jadinya masa tua kita nanti, tapi mempersiapkannya dengan merawat diri dari kini adalah hal yang harus kita upayakan. Merawat raga, merawat pikiran, serta merawat hubungan. 


Akhirnya, aku berterima kasih pada jarak, jarak yang memberikan jawaban, menghadiahi pelajaran, jarak yang menggeser pandangan, yang membuatku menyadari banyak hal. Tentang rasa sayang yang aku miliki dan aku terima, tentang hal-hal menyenangkan yang aku punya, tapi dulu aku abaikan, tidak aku sadari, tentang pelajaran-pelajaran kebijaksaan sebagai bekal untukku melanjutkan kehidupan.

Jarak yang melahirkan rindu sehingga waktu bertemu sangat aku tunggu-tunggu.

Dengan menurunnya grafik kasus covid19 mungkin sebagian orang udah mulai berani gak maskeran lagi yaa. Aku sih, meski mulai sedikit santai, tapi tentu masih parnoan. Dan yaudahlah maskeran juga gak semenyusahkan itu.


Berhubung aku pingin maskeran tapi tetap kelihatan ok, aku paling suka model masker yang KF94 ini. Apalagi ni diklaim lebih efektif daripada masker medis biasa atau masker kain ya. Biasanya masker KF94 ini disandingkan dengan masker KN95. Untuk modelnya aku prefer si KF94 ini sih.

Sebelumnya, KF94 ini artinya Korean Filter, yang artinya masker ini dibuat dengan standar Korea dengan tingkat filtrasi atau penyaringan masker hingga 94%.

Semakin beragamnya jenis masker yang beredar, semakin bingung kan mau pilih masker yang merk apa. Buatku pertimbangannya antara lain:

- Termasuk masker medis atau tidak karena aku tetap prefer masker KF94 yang medis atau surgical mask

- Ada tidaknya izin edar, ini wajib ya supaya aman dipake.

- Merknya baru-baru ada ini atau udah lama, terus review-reviewnya gimana

- Harga, masuk akal apa nggak. Kalau yang terlalu murah juga kan bikin curiga kok bisa murah banget gitu, aman gak ya. Tapi yang mahal juga jadi bikin penasaran, eh kok berani sih naro harga setinggi itu emang kelebihannya apa banget?

Baru deh setelah dicoba ketahuan nyaman nggaknya, cukup lembut gak, ketebalannya pas gak, diwajah pas gak, pas nafas bikin sesak gak. Loh, kok jadi banyak.

Nah, dengan beragam peritmbangan diatas, ini beberapa rekomendasi masker medis KF94 yang aku golongkan sebagai masker kelas menengah dengan harga satuannya dibawah lima ribu!



Onemed

Ini masker medis KF94 pertama yang aku beli. Harga box nya sekitar 50rb, dengan variasi warna hitam, putih, abu-abu, hijau tua, pink, biru muda, dan cream. Ini merk dagang yang somehow cukup familiar di aku, ternyata emang bikinan pabrik alat-alat kesehatan dari Surbaya sejak 2002.

Masker ini tergolong terjangkau ya, karena jadinya cuma2rb per item dengan warna yang variatif. Maskernya gak terlalu tebal juga gak terlalu tipis, terus cukup lembut juga, dan dipake lumayan nyaman. Aku kurang sreg nya cuma dibagian pinggirannya kalau kelamaan pake.

Softies

Masker ini keluaran merk besar Softex, yang udah ada sejak 50 tahunan yang lalu, meskipun bikin masker ini kayanya mulai pas pandemi. Terus pas aku cek range harganya juga masuk akal, akhirnya aku memutuskan coba juga.

Dan emang bener, maskernya lumayan banget, dengan harga sekitar 60rb per box isi 20pcs. Bahannya lebih lembut dari OneMed, ketebalannya sih sama ya. Tapi variasi warnanya gak sebanyak OneMed, cuma ada warna putih, hitam, pink, biru muda (edisi Japanese), dan hijau (edisi Ramadhan)

BAGUS

Pertama kali tau ada masker merk Bagus ini karena dikasih, waktu itu yang masker medis biasa. Dan itu nyaman banget,lembut  dengan tali karet yang lebih lebar jadi gak nyakitin telinga. Lalu, pas mulai banyak yang produksi modelan KF94 ini, aku jadi cobain juga deh. 

Aku beli 1 box isi 20pcs dengan harga sekitar 60rb. Sayang pilihan warnanya cuma hitam, putih, pink.. Seller yang sedia merk ini juga gak sebanyak merk-merk sebelumnya, gak tau kenapa. Untuk dipake, maskernya juga nyaman, lembut, karet telinganya lebih besar dibanding masker merk lain, jadi emang lebih nyaman di telinga. Tapi, maskernya sendiri lebih lembut Softies ya menurutku. 

Fivecare

Aku tergoda beli ini pure karena variasi warnanya dan harga yang terjangkau. Gak tau merknya, dan gak tau juga ini perusahaan apa, karena aku cari infonya kok susah ketemu ya. Tapi tenang, masker ini udah ada ijin edar kok. Aman ya.

Kayanya ini yang paling mahal diantara yang lain, harganya sekitar 70rb per box dengan variasi warna terbanyak yaitu 14! Waw! Ada hitam, putih, merah, lilac, abu-abu, kuning, pink, coklat, orange, biru muda, cream, hijau, mint, tosca. Kalau dari tampilannya sih, masker ini somehow lebih tegap gitu ya, Lah dikata baris berbaris. Bahannya juga pas dipegang lebih terasa tebal, jadi lebih yakin safe aja gitu, tapi gak sesak kok, tetap nyaman. Dan gak bikin gatel juga pinggirannya.

Kalau prefensi aku sih ke Softies ya, meskipun beda-beda tipis sama yang lain, tapi ini yang paling lembut. Nah, suamiku sih lebih suka Fivecare. Aku bisa tergoda juga sih, dengan lucu-lucunya warna yang ditawarkan itu. Jadi semua kembali ke selera masing-masing ya. Yang penting jangan lupakan yang penting, keamanan.

Selain masker 'menengah' diatas, aku juga penasaran nih sama masker-masker muahal. Setau aku masker beredar yang paling mahal itu merk 3M ya. Tapi belum pernah beli, karena selain mahal aku gak merasa pantas pake itu. Bukan nakes, bukan garda terdepan, siapalah aku pake 3M sagala. 

Tapi ada satu nih yang mencuri perhatian aku dengan harganya yang mayan bikin terkejut tapi peruntukannya umum. Apalagi variasi warnanya banyak buanget. Gemes!



Pokana

Aku tau merknya ini dari popok bocah ya. Cuma tau kalau popoknya ada yang reguler (harga masuk akal) dan ada yang premium (masuk ke top list popok termahal). Nah, kemaren setelah memberanikan diri ikut acara nikahan, aku kepingin cobain masker Pokana ini. Ada yang sachetan isi 2pcs dan yang box isi 12pcs. Kalau dihitung satuannya bisa lebih dari 10ribu.

Warnanya ada buanyak banget ternyata. Dan lucu semua, aku gemash! Karena arah warna bajuku ke gold dan light brown gitu aku belinya warna nude brown. Lucu deh. Dan emang ya ada harga ada rupa. Aku pake seharian tuh nyaman banget, gak masalah, gak sesak sama sekali. Berdesakan dengan kerumunan juga tetap ok. Bahannya lembut, ketebalannya pas, diwajah pas, dan nyaman banget! Pingin nyoba yang special edition warna gradasi itu, tapi belum menemukan alasan penguatnya selain karena lucu doang, jadi ya ntar-ntar deh! ;D


Salam, Nasha.


Gak bisa move on kalau cuma bahas bukunya doang. Jadi ini satu postingan tentang kebudayaan mereka yang aku tangkep, dari buku Bringing Up Bebe, dan gara-gara barengan sama nonton serial Emily in Paris. Jadi aku (merasa) makin nyambung sama kebiasaan dan kebudayaan Prancis ini. Coba kita lihat ada apa aja ya.

bringing up bebe

Pertama, mereka sepertinya gak terlalu meromantisasikan hubungan pernikahan (pun peran menjadi ibu). Karena itu hanya satu bagian dari diri kita, salah satu peran, it's not define who you are. Seorang istri, seorang ibu, ya sama aja perlakuannya dengan wanita pada umumnya. Inget kan, Sylvie boss-nya Savouir yang terlihat indepeden kemana-mana itu ternyata juga adalah seorang istri! Mau dia istri apa bukan, itu gak ada hubungannya sama kerjaannya kan.


Kedua, menjadi istri, ataupun ibu, gak bikin perempuan Prancis jadi kehilangan diri mereka sendiri. Makanya abis lahiran mereka akan buru-buru me'normal'kan kembali bentuk badan mereka. Bahkan perempuan Prancis tidak akan terlihat hamil jika dilihat dari belakang.


Ketiga, termupeng, perempuan Prancis berhak atas waktunya (dan didukung untuk itu). Mau balik kerja, silahkan. Mau santai-santai liburan saat weekend silahkan. Mau having adult time, party, juga silahkan. Semua sudah sepaham dengan kebutuhan itu, dan mendukungnya. Bye nyinyiran tetangga! Mulai dari pemerintah dengan menyediakan tenaga pengasuh ataupun tempat penitipan anak yang bersubsidi dan bisa diandalkan. Fasilitas kesehatan yang memadai untuk lahiran dengan aman selamat, bukan ideal seperti yang kebanyakan kita pahami sebagai normal-sakit ya. Lalu kunjungan setelah lahiran, bahkan juga dari psikolog, yang menandakan aware-nya mereka dengan kesehatan mental ibu pasca lahiran. Juga masa cuti yang lebih lama dan juga ada cuti berbayar.

Re-edukasi after birth nya, yang tidak hanya fokus ke bayi namun juga ke ibu dan ayah. Jadi pembahasannya bukan hanya tentang bagaimana merawat bayi ya, tapi juga bagaimana mengembalikan tubuh ibu dan bagaimana mengembalikan keseimbangan hubungan suami-istri antara ibu dan ayah. Keren ya! Hal yang sangat penting namun sering kita lewatkan. Ya gimana mau ngasuh anak kalau ayah dan ibu gak 'terisi' satu sama lain?!


buku parenting terbaik


Keempat. Walaupun mereka terlihat 'acuh' dengan peran ibu atau istri ini, tapi mereka memahami apa yang benar-benar penting. Bagi orang Prancis, priotitasnya adalah diri sendiri, pasangan, lalu anak. Mereka tidak akan 'sok-sok' mengorbankan waktu sendiri, waktu pasangan, dengan dalih 'demi anak' padahal yang anak dapat kemudian hanyalah orang tua yang stres, banyak mengeluh, dan mudah marah. Mereka paham, untuk mendapatkan ketenangan saat menghadapi anak, mereka harus mengisi dulu  kebutuhan diri sendiri (call it me-time, couple-time, social-time) Hal yang di kita kayanya masih tabu ya, coba ngacung dulu yang jalan sendiri atau berdua suami tapi malah kepikiran anak dan merasa bersalah? Padahal beberapa jam tanpa anak itu akan mengisi energi positif kita untuk bersama anak setelahnya loh. Coba!


Kelima. Suami-istri bekerja sama dalam pengasuhan, bukan sekedar retorika. Perempuan Prancis lebih tenang karena mereka memahami ini dengan sedikit berbeda. Bekerja sama gak berarti apa yang bisa dilakukan ibu juga bisa dilakukan ayah. Kadang mereka menertawakan 'ketidakmampuan' suami, tanpa mengeluhkan, namun menyadari bahwa beberapa pekerjaan memang lebih baik saat dilakukan oleh istri. Mereka mengakui kehebatan diri mereka sendiri. Namun, di sisi lain mereka juga tidak lupa mengapresiasi, mereka 'saling' mengapresiasi, saling berterima kasih. Fokus atas usaha apa yang telah dilakukan, bukan pada kekurangan atas hasilnya.


Keenam. Secara umum, Prancis mengajarkan anak dengan terbuka, apa adanya. Mereka jujur mengatakan kalau mereka tidak mungkin mengasuh, melayani anak terus menerus, maka anak juga diasuh orang lain. Mereka butuh adult time, sehingga anak punya jam tidur lebih dulu daripada orang tua. Orang tua tidak melulu melayani anak, sehingga anak punya aturan, punya batasan. Dan anak diminta berperilaku sesuai di masyarakat, sebagai anggota masyarakat, sehingga yang paling awal mereka diajarkan untuk memberi salam.

Di Prancis, kisah-kisah juga apa adanya. Tidak melulu, tentang yang baik akan beruntung dan yang jahat akan celaka, lalu happy ending untuk semua. Mereka menggambarkan realita. Karena hidup ya emang gitu. Dalam hidup, si baik dan si jahat gak jelas, kita semua pernah melakukan hal baik, tapi kadang juga nggak baik. Dan itu gak serta merta bikin kita jadi si baik lalu mendapat keuntungan kan. Kadang malah setelah berbuat baik, kita dapat celaka, atau setelah berbuat tidak baik malah kita dapat untung. Dan gak semua perbuatan bisa dikategorikan baik dan tidak baik. Kontekstual. Ada cerita tentang kisah anak dari buku ini, yang juga nyambung dengan adegan Emily nonton film Prancis bareng Luc.


Ketujuh. Gimana Prancis memperlakukan manusia pekerja dengan lebih 'manusia'. Di Prancis, seperti yang dijelaskan di buku, waktu libur Prancis lebih lama daripada Amerika, dan mereka juga punya cuti hamil yang dibayar. Jadi emang lebih memungkinkan bagi ibu untuk kembali bekerja di Prancis dengan tenang.

Di Emily, juga digambarkan gimana orang Prancis hidup, yang benar-benar hidup bukan sekedar hidup untuk bekerja. Mereka menghargai hubungan diatas keuangan, dilarang bekerja saat weekend, tidak membicarakan bisnis saat pesta. Jadi gak ada ceritanya tuh cuti tapi masih ngecek kerjaan.



Jadi, itu beberapa hal yang bisa diambil dari kebiasaan orang Prancis yang bisa kita pelajari ya. Meskipun tetap aja Prancis gak terlepas dari banyak kekurangan. Namun, hal-hal diatas rasanya perlu kita catat daripada melulu belajar ke Amiriki. Ups! Ingat, ambil yang baik buang yang buruk. Semangat belajar!


Salam, Nasha.

Aku punya buku ini tuh udah mayan lama (abis beli si Danish Way ini), tapi gak tau ya awal-awalnya itu susah banget bacanya. Ntah emang minat bacaku aja yang merosot apa bukunya kurang menarik aja buatku. Tapi, karena udah bertekad gak bakal beli buku sebelum buku yang ada dibacain, termasuk ini, jadi 'terpaksa' dibaca. Lama-lama dibaca, eh, menarik ya! Berasa dibawa jalan-jalan ke Prancis!


rekomendasi buku parenting


Penulis buku ini adalah orang Amerika yang tinggal di Prancis. Bukunya tentang gimana dia hidup di Prancis sebagai warga negara Amerika, mostly tentang pengasuhan. Karena penulis ini dari hamil udah tinggal di sana. Dan dari buku ini aku berkesimpulan kalau kecenderungan kita tuh ke Amerika ya, jadi tiap penulisnya bandingin antara gimana Amerika dan Prancis aku bisa relate. Yok kita telaah step by step nya.

Hamil

Di Prancis ibu hamil tidak dicecoki dengan berbagai informasi ilmiah yang tidak terlalu perlu, karena menurut mereka yang diperlukan ibu hamil adalah ketnangan. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh perempuan hamil untuk diri mereka sendiri. Selain itu, di Prancis hamil gak menjadikan perempuan bebas semaunya makan tanpa merasa bersalah dengan alasan demi bayi. Bahkan menurut mereka, ngidam adalah dorongan yang harus dikalahkan.

Melahirkan

Gak bisa dipungkiri, kalau kita masih menganggap lahiran 'normal' adalah metode yang paling didambakan. Bahkan kita repot-repot untuk tau si A lahiran normal apa cesar.

Di Prancis, mereka gak pernah mempermasalahkan melahirkan dengan cara apa, yang penting sehat selamat. Bahkan mereka pingin yang praktis aja kalau bisa tanpa rasa sakit, tanpa mempedulikan embel-embel merasakan sakit untuk menjadi ibu seutuhnya.

Setelah melahirkan

Di Prancis, standar perawatan di RS pasca melahirkan adalah enam hari, beda dengan kita yang hanya 3 hari, bahkan ada yang hanya 1 hari. Lalu, mereka akan merawat anak sama seperti yang kita lakukan. Kayanya cuma beda di fasilitas dari pemerintah nya aja ;))

Namun, Prancis mendukung ibu untuk kembali ke dunia mereka. Perempuan Prancis akan kembali memiliki badan ideal tidak lama setelah melahirkan. Mereka juga bisa kembali mendapat waktunya sendiri, waktu pasangan, ataupun waktu berkegiatan di luar dunia anak. Dukungan itu ada dari berbagai pihak, dari tetangga, dari orang tua, dan tentunya dari pemerintah. Hal yang lumrah di Prancis untuk meninggalkan anak saat weekend kepada kakek-nenek nya agar orang tua bisa punya adult time berkualitas. Atau penitipan anak bersubsidi yang bakal jadi rebutan, dan gak akan ada komentar negatif yang men-judge hal ini.

Selain itu, mereka juga paham pentingnya mengembalikan couple time antara ibu dan ayah yang berkurang saat punya bayi. Bagi mereka pasangan adalah prioritas. Karena memang benar, pasangan adalah orang yang kita pilih, yang akan kita habiskan waktu dengannya, jadi pinginnya ya rukun kan. Pemahaman ini bukan sekedar pemikiran, tapi jelas dukungan nyata nya. Bahkan treatment klinis pasca lahiran untuk perineum atau menghilangkan tonjolan perut aja disubsidi loh oleh pemerintah. 


review buku parenting


Pola Pengasuhan

- Tidur Malam

Hal paling utama yang 'dikejar' oleh orang tua Prancis untuk mengembalikan hidup mereka adalah menerapkan waktu tidur untuk anak. Mungkin kita paham ya, kalau punya bayi berarti begadang. Orang Prancis juga paham ini, tapi mereka juga paham kalau mereka butuh waktu tidur berkualitas tanpa diganggu, tanpa begadang, untuk menjalani peran mereka sebagai orang tua keeseokan harinya.

Biasanya, sleep training udah dimulai dari bayi 6 minggu! Wow! *aku melirik ke bocah 1 tahunan yang masih suka kebangun malam*

Gimana tuh caranya? Mereka sounding dari awal. Mereka membiarkan anak tertidur dan terbangun menangis beberapa saat, lalu menghampiri hanya satu kali. Lalu, biarkan mereka tidur sampai pagi. Terdengar mudah bukan?

Tapi gimana caranya orang tua tega anak nangis-nangis tengah malam? Bahkan si penulis saat pertama kali nyoba, mmbiarkan anaknya menangis sekitar 12 menit, tentu juga sambil menangis di kamarnya.

Padahal bukan hanya kita, anak juga butuh tidur nyenyak sepanjang malam loh. Mereka perlu istirahat yang tenang, mereka perlu belajar waktu malam adalah waktu tidur, bukan setiap saat dengan susu. Pencernaan mereka juga butuh istirahat.


- Menu Makanan

Di Prancis jarang restoran menyediakan kids menu, apalagi yang isinya cuma kentang goreng dan beberapa potong nugget. Anak-anak diharapkan bisa makan makanan yang sama dengan orang dewasa. Apa yang terhidang di meja itulah yang perlu mereka cicipi. Iya, cicipi dulu. Anak-anak Prancis diajarkan untuk menghormati makanan, dengan mencicipi semuanya. Gapapa gak habis, yang penting cobain dulu. Semuanya. Ini juga mengurangi resiko mereka tumbuh jadi picky eater nantinya.

Selain itu, mereka juga punya waktu makan yang teratur, dan gak boleh makan diluar jam itu. Sarapan, makan siang, cemilan, makan malam. Karena udah terbiasa, gak ada ceritanya makan sambil main di jam bebas, bahkan meskipun cuma chips. Makan ya berarti duduk bersama di meja makan, cicipi makanannya, tanpa melakukan hal lain. Sehingga, apa yang masuk ke badan anak juga jadi lebih terukur, dan lebih bisa dikontrol oleh orang tua atau pengasuhnya. Ya tentu usahakan yang sehat terus ya!


- Membangun Batasan

Istilah Prancisnya cadre atau bingkai. Ada hal-hal yang gak boleh dilanggar, tapi didalamnya ada kebebasan. Seperti batasan harus masuk kamar pada jam tertentu, tapi ada kebebasan boleh melakukan apapun sampai mengantuk dan tidur dengan sendirinya.

Di Prancis, orang tau dituntut untuk menjadi percaya diri dengan otoritas yang dimiliki. Bukan kita yang patuh pada permintaan anak, tapi anak yang patuh dengan aturan yang kita buat, kita sepakati. Dan memang hidup kaya gitu kan, selalu ada aturan, selalu ada batasan, bukan hanya tentang baik buruk tapi ya emang harus berjalan kaya gitu aja.

Menurut mereka, anak-anak perlu diberi batasan agar mereka juga belajar mengontrol diri mereka sendiri, mengendalikan keinginannya. Lagi pula dengan batasan yang jelas anak cenderung lebih tenang, karena tidak kewalahan dengan banyaknya opsi, mereka tidak kebingungan dengan adanya gambaran apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.

Praktiknya, tiap rumah punya aturan dasar sendiri. Dan harus disounding berulang-ulang agar anak paham. Ingatkan mereka terus apa yang tidak boleh dan apa yang boleh. Kenapa tidak boleh. Sebagai orang tua kita perlu seimbang antara 'tegas' bersikap dan 'merespon' tindakan anak.


- Ajari anak menunggu

Hampir sama dengan prinsip tidak melulu melayani anak. Di Prancis, anak secara tidak langsung diberi tau bahwa orang tua memiliki dunia mereka sendiri, terlepas dari anak. Begitupun sebaliknya. Anak juga memiliki hidupnya sendiri. Sehingga keputusan-keputusan pengasuhan akan mengacu ke hal itu. Salah satunya adalah mengajari anak menunggu.

Anak tidak harus segera mendapat apa yang ia inginkan. Anak tidak harus langsung diberi perhatian saat ia meminta. Kalimat seperti, tunggu ibu sedang berbicara dengan ayah. Tunggu, ibu selesaikan ini dulu baru membantumu. 

Karena anak-anak perlu belajar, menjadi manusia, menjadi bagian dari masyarakat, mereka gak akan selalu mendapat yang mereka inginkan saat itu juga. Serta tidak semua perhatian harus ditujukan untuk mereka.

Mungkin ini terdengar tega, tapi ingat, kalau Prancis memperlakukan anak dengan lebih bijaksana dan dewasa. Mereka menghargai anak-anak dengan menganggap bahwa anak memiliki kemampuan, kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk mengerti, kemampuan untuk 'bergabung'.


- Menghargai Anak

Sejalan dengan mengajari anak menunggu, begitulah cara orang Prancis menghargai anak. Mereka menganggap anak adalah bagian dari masyarakat. Semua dimulai dengan kewajiban menyapa. Datang ke rumah orang lain, anak harus menyapa. Meninggalkan rumah orang, anak harus pamit. Begitu juga kalau ada yang bertamu, anak harus menyambut. Agar mereka memahami 'kehadiran' diri mereka sendiri, dan menghargai kehadiran orang lain.

Satu hal lagi yang diingatkan dari buku ini adalah gimana anak perlu punya wilayahnya sendiri, dunia sendiri, gak perlu direcoki dengan berbagai mainan, jangan tiba-tiba datang saat anak lagi asyik main sendiri, dan biarkan mereka mencoba, melakukan sendiri. Respon dengan apa adanya, puji secukupnya. Ilmiahnya, anak akan merasa bahagia saat merasa mampu melakukan sesuatu sendiri.


Mungkin keseluruhan pola pengasuhan Prancis ini mengacu pada pemahaman bahwa mereka menganggap anak-anak bukan sekedar anak-anak. Anak-anak juga adalah bagian dari masyarakat, yang perlu memahami tentang pusat perhatian bukan di diri mereka sendiri, tentang kehadiran orang lain yang perlu di'notice' dengan sapaan, tentang batasan dan aturan yang berlaku secara umum dalam hidup, tentang kerja keras yang tidak selalu perlu dihadiahi pujian, tentang apa yang dilakukan kadang tidak cukup membuat orang lain bangga dan itu hal biasa, tentang wilayah masing-masing pribadi yang perlu dihargai.


Salam, Nasha.

Akhirnya jadi bagian aktif dari pandemi :')


Mau ceritain dengan detail juga ya hampir sama lah dengan yang dirasakan jutaan orang lainnya yang kena omicron ini ya. Gejalanya mirip banget sama flu biasa. Di aku ya seputar demam, perut gak enak, nafsu makan tentu aja berkurang, badan menggigil. batuk, tenggorokan gatel, ada ingusnya kadang-kadang, terus badan lemes. (Loh, pas ditulis kok jadi banyak). Kalau dihitung hampir seminggu deh aku kaya gitu, gak sekaligus loh ya. Gantian gitu keluhannya.


Gimana pun orang bilang ini gejala ringan ya namanya sakit tetep ajalah gak nyaman. Apalagi yang sakit serumah dan ada anak-anak. Pegang badan anak yang rada anget gitu aja langsung auto stress, belum ditambah sama gak nafsu makan. Kombo.


Tapi pada akhirnya pas gejala awal yang kaya flu doang itu dan aku memilih buat udahlah swab aja biar jelas, aku jadi tau kalau aku emang tenang dengan kejelasan. Ada satu hal nih yang masih ganjel di aku, kemaren sebelum aku bergejala kan aku kunjungan ke rumah orang tua. Nah, disitu baru tau kalau mereka ada keluhan 'masuk angin' dimana keluhannya ya sama aja kaya aku ternyata, jadi ya step awalnya kita ke dokter dulu dong. Cuma dari dokter itu diagnosisnya radang tenggorokan aja sama asam lambung. Udah, dikasih obat gitu. Jadi aku bener-bener gak mikir ke si covid ini.

Udahlah kan berobat. Aku balik ke rumah dengan harapan orang tua sembuh.


Baru deh besoknya loh kok aku mulai mengigil, kok kerongkonganku gak enak. Masih belum curiga nih, oh emang kecapean aja karena kebetulan juga aku kurang tidur banget beberapa hari belakangan. Tapi karena aku jarang banget 'masuk angin' gini jadi aku beneran lemes dan gak nyaman lah sama badanku sendiri. Dingin, kerongkongan gatel, idung rada-rada, badan bawaan pingin tidur, pegel, mana ternyata haid juga. Sudalah.


Lalu, kok ya 2 hari masih gini-gini aja, sampelah anak-anak ikutan demam. Waduh! Nah, suamiku mulai curiga jangan-jangan covid nih. Awalnya dia yang semangat pingin swab biar jelas, tapi lalu ragu gak paham juga kenapa ^^"

Trus ya aku mulai kepikiran kan, karena awalnya gak kepikiran ke sana sama sekali, langsung aku bersikeras hari itu juga mau swab sesuai rencana awal. Sampe mikir, kalau dia gak mau aku aja udah mau pake taxi apa gimana pokoknya aku mau swab biar jelas. Pokoknya aku mau kejelasan. Aku harus tau dengan jelas dengan buktinya, baru bhisa menyimpulkan, baru bisa mujur step-step apa yang akan aku lakukan. Pokoknya aku mau swab hari itu! Tsah gaya. Tapi tanpa aku perlu sok-sok an menjelaskan gitu, suamiku langsung tercerahkan dengan sendirinya. Swab ajalah yuk katanya. Lah..


Langsung lah kita berangkat ke RS yang ada drive thru test nya dan keluar hasil same day, terjelaskanlah kalau kami berdua positif. Langsung lapor sana-sini. Tapi sayangnya gak berbuah perhatian dari KemKes :') 

Mungkin usaha ku masih kurang, yasudahlah, mandiri aja semua semoga ada terus rejekinya aamiin


Kalau step singkat yang perlu dilakukan menurutku antara lain:

- Gejala ringan kaya gimana pun, misalkan demam batuk flu atas nama gak sehat silahkan langsung menjauh dari khalayak ramai. We never know.

- Harusnya step awal itu ya ke dokter, tapi kalau berasa miriip banget gejalanya dengan varian Covid bisa ditambahkan untuk swab ya. Ini bisa gratis kalau dilakukan melalui Puskesmas (tapi biasanya ada antrian yang mana wajar mengingat quota gratisan itu)

- Setelah tau hasilnya gimana, tetap isolasi aja sih, mau Covid ataupun nggak (cuma flu batuk demam biasa) jangan sampai menularkan ke orang lain kan

- Kalau emang positif Covid, ya karena ini pandemi dan ada ketentuannya jadi ikutin aja, gak sesusah nakes yang mesti APD-an ribet setiap hari itu kok

- Lapor ke lingkungan, lapor ke Puskesmas terdekat, hubungi Satgas Covid-KemKes bisa via WA 081110500567 (yang aku gak direspon) atau gercep telfon ke 1500567 *yang nggak aku lakukan)

- Kalau akhirnya ngurus mandiri, ya aku sih minum multivitamin (disarankan dengan kandungan Vitamin C, Vitamin B, Vitamin D, Vitamin E, Zinc), terus obat-obatan sesuai keluhan aja.

- Tingkatkan, lipat gandakan makanan penuh gizi karena harus support badan yang lagi berjuang lawan si virus-virus ini.

- Ya apalagi yang melengkapi semua step yang bisa kita lakukan kalau bukan doa, berserah, bersilaturahmi minta doa, dsb :')

Sekarang di apps PeduliLindungi statusku udah Green, yang berarti boleh ke temat umum yeay tapi ya mau ke mana juga..


Karena ternyata setelah positif gini pun, aku tetap pakai masker, tetap keluar cuma seperlunya, tetap kalau habis dari luar langsung bersih-bersih, gak ada yang berubah. Satu hal yang aku sadari juga, aku beradaptasi kaya gitu bukan cuma supaya gak positif, tapi mostly karena aku tenangnya dengan begitu. 


Ada circle dekat ku yang lumayan bodo amat dengan prokes, aku kadang merasa (mudah-mudahan ke insecure an ku doang) dicibir malah karena duh lebay ya. Si itu gak prokes aman-aman aja. Alah itu virus mah gak ada.


Aku paham ada segala macam teori tentang virus ini, yang mana gak bisa juga 100% aku sangkal. Tapi, pada hal ini aku percaya dengan ketentuan umum tentang langkah-langkah apa yang harus aku lakukan dengan situasi ini (yang mana juga tidak merugikan aku sama sekali), dan kalau aku gak melakukannya dengan sengaja atau lalai aja, aku jadi gelisah. Pikiranku bisa kemana-mana. Makanya yaudah aku melakukan itu untuk ketenangan diriku sendiri.

Sehat-sehat ajalah ya kita semua dan semoga segera berlalu pandemi ini yaa.


Salam, Nasha.

Karena dua kejadian itulah, maka 2021 aku nobatkan sebagai "Year of Love".


Di tahun itu aku sadar kalau selama ini udah kurang sayang sama diri sendiri, gak pehatiin badan gimana, gak gubris pas ada keluhan, maksain badan melakukan apa yang aku mau terus, boro-boro perhatiin apa yang masuk ke badan, ya intinya gak peduli lah sama tubuh sendiri. Emang ya kita itu butuh trigger dulu baru sadar.


Sekarang sejak tobat gini, mau workout gak beban karena ngerasa penyakitan, tapi dinikmati aja karena sejatinya emang badan kita perlu olahraga perlu gerak. Mulai menyudahi makan tengah malam karena pencernaan juga butuh istirahat. Makan apa-apa tuh ya lebih sadar aja mana yang tepat buat badanku dan mana yang enak buat lidahku doang. Mulai skincare-an juga (di umur segini!) dan ternyata seru ya. Aku gak ngerasa repot sama sekali punya rutinitas pagi dan malam dengan diriku sendiri gini. Girang malah!


Sejalan dengan sayang sama diri sendiri, aku juga melihat makin luas ke luar. Ke orang-orang yang aku sayang, yang sayang sama aku. Oh ternyata aku diberkahi ya dengan dikelilingi orang-orang ini. Aku juga belajar untuk bilang i love you, or simply buat mereka tau your existance matters, dan berterima kasih untuk hal-hal sederhana, yang dulu aku jarang banget untuk ungkapkan.

Foto Pemandangan

Lebih luas lagi, aku juga mulai melihat posisi kita sebagai manusia di bumi ini gimana. Salah satu efek keseringan nonton Our Planet juga kali ya.


Ini tuh berkesinambungan banget lah untuk membentuk aku sekarang, antara mulai sadar dengan self love, mulai melihat/ peduli ke luar, jadinya sedikit banyak mempengaruhi nilai-nilai penting yang aku percayai dan yang kemudian aku ingin bagikan, tanamkan (khusunya ke anak-anakku)


Sampai akhirnya sedih dan miris juga sebenarnya sama ke'serakah'an kita sebagai manusia. Efeknya tuh udah nyata banget sekarang, beda dengan campaign yang aku ikut-ikutan sepuluh tahun lalu, yang sebatas kurangi kertas, kurangi listrik, kurangi plastik. Sekarang geraknya harus lebih besar, tuntutannya ya emang ke pemerintah, atau ke kita semua secara bersama-sama. Udah gak bisa ditunda lagi untuk kita gerak bareng, mulai dari apapun yang bisa sekarang. Gak belanja pake plastik, kurangi sampah (makanan sisa, pembalut, popok sekali pakai, apapun yang sekali pakai), tanam pohon, hemat listrik, hemat air, kurangi limbah rumah tangga juga, pakai barang ramah lingkungan, dst. Kalau kita lihat secara keseluruhan, melestarikan alam itu untuk kepentingan kita juga loh sebagai penghuninya untuk jangka waktu yang lama.

Bunga Warna Warni

Bumi ini sangat luas kok, bisa banget untuk kita pakai bersama makhluk lain tanpa mengganggu tanpa merusak hidup mereka, asal kita merasa cukup #HidupCukup


Indah kan kalau kita semua bisa hidup berdampingan dalam damai :')


Dulu aku mah liat binatang bawaannya pingin dimatiin diusir aja cepet, sekarang jadi sadar kalau mereka tuh sama kaya kita, sama-sama hidup, sama-sama butuh makan, sama-sama butuh tempat tinggal. Kita aja yang serakah, perlu rumah yang guede, perlu rumah kadang gak cuma satu, makenya cuma kadang-kadang, tebangin lahan untuk ini itu berbagai keperluan, padahal lahan itu dulunya rumah binatang dan tumbuhan itu loh. Semuanya dijadiin bangunan, trus gak kepikiran kan mereka tinggal dimana. Boleh sih alih fungsi lahan gitu untuk kebutuhan kita, tapi ya secukupnya dan sadar juga tentang hal ini jadi kita jangan semena-mena.


Akhirnya sekarang tuh lihat binatang bawaannya gak kesal lagi, kadang kasihan malah, kalaupun mereka ada gak buru-buru diusir apalagi dibunuh, tapi yaudah berusaha aja biar bisa hidup berdampingan. Ya misalkan kalau tikus mau makan ya gak dendam lagi, makan aja yang di tempat sampah di luar, jangan yang di meja makan. Gak buru-buru langsung cari racun tikus juga, tapi ya tetep tutup segala lubang yang bikin dia masuk rumah. Lebah kalau mau di pohon juga gapapa, asal jangan bikin sarang di bawah meja juga. Ada lalat di dalam juga ya diusir ajalah gak usah langsung dimatiin juga. Iya, mau berdampingan tetep aja ada syaratnya, dasar aku :')



Terus juga jadi memperbaiki pola konsumtif aku, ke-impulsif-an sama hal-hal yang gak terlalu penting, kaya aku dulu terganggu banget sama yang gak seragam, sama yang udah butek, dan gampang tergiur aja sama tren, yang estetik-estetik gitu. Sekarang mah lebih woles, lebih sadar, kalau barang yang aku dapet ini punya perjalanan panjang, dan kalau dibuang juga lebih panjang lagi perjalanannya. Perlahan sadar diri kalau apa-apa gak mesti estetik, apalagi dengan motivasi cuma supaya kelihatan cakep di sosmed. Bukan berarti gak peduli penampilan, kerapian ya, tapi sadar aja gak semua harus diikutin, gak semua harus dibeli. Dan gak terganggu juga dengan ke tidak estetik an menurut standar sosial itu.

Selain itu juga, karena kita yang punya dan pake barang, kita juga yang tau kategori dan jumlah barang yang kita perlu itu apa aja. Kaya misalkan, baju itu bisa dikelompokkan jadi baju rumah, baju pergi, atau baju acara. Perlunya segini. Kalau ada yang mau ditambah, yang lama ini mau diapain. Sadari. Mikirnya mulai dibalik, bukan lemarinya yang kecil, bajunya aja yang kebanyakan.


Secara gak langsung, ini juga memperbaiki gimana aku mengelola uang sih, dan gimana memandang hidup juga, jadi gak melulu punya keinginan punya banyak. Gak ambisi dengan kuantitas, tapi lebih ke kualitas. Hidup yang berkualitas itu ternyata bukan karena punya barang ini itu, tapi yang seimbang. Hidup yang mengisi berbagai lapisan, yang bisa memenuhi diri (ini bukan hanya tentang 'materi') ,yang tenang bersama orang lain, yang berdampingan dengan makhluk lain, yang diisi dengan konsumsi yang baik.


Juga mudah-mudahan jadi bijak bersosmed juga, untuk bisa hidup secara nyata di saat ini. Biar otak gak melulu kebanjiran sama hormon yang instant, biar mata gak melulu lihat yang digital, biar kulit gak cuma bersentuhan sama benda bikinan. Alam itu kaya, sangat kaya. Dinikmati lah.


Lagipula, aku orangnya gampang ke trigger sama yang diposting orang, bisa bikin overthinking. Eh si ini hidupnya udah kaya gini aja, eh si itu kok gtu ya sekarang. Bisa kepikiran aja tuh, gak penting emang! Jadi mulai membatasi juga secukupnya. Dan ya, emang yan diposting tentu hanya yang indah gak, bukan berarti keseluruhan hidup orang itu indah.


Sedikit berjarak dengan sosmed, punya nilai-nilai tadi itu, bikin aku merasa gak lagi 'kosong', bikin aku lebih menikmati peranku, lebih fokus sama apa yang aku kerjakan, gak gampang terpengaruh, dan yang jelas bikin aku lebih enjoy lebih happy.

Dari segala hal inilah aku pikir hal yang paling perlu kita punya itu ya untuk #HidupCukup yang mana ini (menurutku) meningkatkan kualitas hidupku juga.

Aku nulis ini, mostly sebagai reminder di aku juga sih. Dan jadi bahan buat bersyukur juga, kalau aku sudah melewati banyak hal dan berjalan sejauh ini. Hal yang mungkin gak akan aku dapatkan kalau aku nggak di kondisi saat ini.

Emang ya.. Allah itu sebaik-baik perencana.


Salam, Nasha.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Rekomendasi Tas Sekolah Anak Minim Plastik, Pilihan Murah yang Tidak Murahan

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Juni 2026 (1)
      • Menerapkan Unbothered Energy dalam Kehidupan Sehar...
    • ►  Mei 2026 (1)
    • ►  April 2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Rekomendasi Tas Sekolah Anak Minim Plastik, Pilihan Murah yang Tidak Murahan

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes