• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Kebiasaan yang sering kita lakukan pada momen hari raya begini adalah berkunjung ke rumah kerabat juga sanak saudara. Sekali dalam setahun, kita seperti memiliki waktu khusus untuk menjalin silaturahmi, bertukar kabar, bersuka cita dengan saling berbagi. Kadang kelelahan, tapi hati kita terisi penuh, tidak peduli kita tergolong ekstrover ataupun intorover. Ternyata, menjaga silaturahmi begini penting untuk hidup kita, sama pentingnya dengan kita menjaga diri sendiri. Kita coba bahas bagaimana pentingnya menjaga diri dan silaturahmi ini dalam kehidupan kita sebagai manusia, makhluk sosial. 


Silaturahmi

Mulai dari bulan ramadhan hingga lebaran ini, sepertinya kita perlu mengosongkan jadwal untuk menghadiri pertemuan-pertemuan yang berhimpitan. Ada yang dengan teman sekolah, teman kantor, sahabat, teman seperntauan, dst dalam bingkai buka bersama atau halalbihalal. Seolah berkumpul hanya bisa dilakukan dalam momen itu saja. Tidak jarang, ada orang-orang yang memang hanya kita temui dalam kedua agenda itu saja. 

Berbeda dengan tradisi buka bersama, tradisi halal bihalal ternyata hanya ditemuakn di negara kita saja. Ada banyak dugaan tentang asal usulnya, namun secara terminologi, halal bihalal (halla al-habl) bisa didefinisikan sebagai mengurai kembali benang yang kusut atau kita artikan untuk memperbaiki hubungan, mempererat tali persaudaraan, merawat kekerabatan. Meskipun tradisinya hanya ditemukan disini, namun anjuran untuk silaturahmi sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan Rasulullah telah memberi teladan dengan beberapa hadits tentang keutamaan bersilaturahmi. Selain sebagai bentuk kesetiaan kita pada apa yang dilakukan Rasulullah, yang membuahkan ridha Allah, menyambung silaturahmi juga punya banyak manfaat lain, seperti memperluas rezeki, menambah berkah usia, menjadikan pelajaran hidup, serta menyehatkan jiwa juga raga. Ajaran tentang silaturahmi seakan menyatu dengan budaya ketimuran kita yang kolektif, melahirkan tradisi-tradisi istimewa dimomen ramadhan dan lebaran. 

Agenda-agenda silaturahmi tersebut bisa jadi saat yang tepat bagi kita merefleksikan hubungan yang kita punya. Dengan keluarga dekat, dengan keluarga besar, dengan tetangga, dengan sahabat, teman, juga kerabat lainnya. Apakah hubungan itu cukup untuk membuat kita terdorong menjadi lebih baik atau lebih buruk. Apakah hubungan itu menjadi hal yang  melegakan atau malah menjadi beban. Apakah hubungan itu bisa membuat kita terbuka apa adanya atau malah sibuk berpura-pura. Tidak harus memilih, karena bisa jadi kita punya semuanya dalam hidup ini. Bisa jadi dengan seorang teman kita bisa apa adanya, tapi dengan keluarga besar kita berpura-pura. Bisa jadi juga ada teman yang memotivasi kita untuk bekerja lebih jujur tapi ada juga yang membuat kita memikirkan untuk berbuat curang saja.

Menyadari sedang ada difase mana hubungan kita dengan seseorang, membantu kita untuk lebih bijak menyikapi hubungan dan bagaimana merespon interaksi yang hadir diantaranya. Jika memang berharga dan baik untuk diri, bisa kita perjuangkan. Sebaliknya, jika sekedar kerabat yang banyak sungkannya, bisa kita abaikan. Ini juga akan membantu kita menghadapi kalimat-kalimat yang sering berujung menyakitkan hati, mana yang perlu kita tanggapi, mana yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri. 

Fenomena silaturahmi yang cukup menjadi bahan tak habis pikir untuk saya belakangan ini datang dari bersiliwerannya penawaran sewa iphone dan lanyard BUMN, serta fakta bahwa usaha mereka laku alias banyak yang menyewa. Alasannya beragam, ada yang untuk dokumentasi karena kualitas kamera iphone lebih mumpuni, tapi tak jarang juga yang karena gengsi. Rentang usia penyewa juga beragam, ada yang masih remaja, ada juga yang sudah tergolong dewasa. Mengherankan memang, namun ditengah era sosial media yang memperlihatkan sisi baiknya hidup saja, rasanya hal ini semakin mudah dimaklumi. 

Jadi, silaturahmi memang memiliki segudang manfaat dan sangat dianjurkan baik yang tertuang langsung dalam Al Quran maupun dalam hadits Rasulullah. Tapi bagaimana kita menjalani hidup dan menyikapi hubungan ternyata cukup membuat silaturahmi menjadi perkara yang perlu diberi catatan. Sejauh mana silaturahmi perlu dijalin, sampai batas mana kita menghadapi, dan apa saja hal-hal yang patut dan tidak patut didalamnya. 


Jaga Diri dan Silaturahmi

Dulu, mungkin kita hanya tahu dengan fenomena orang yang memaksakan pulang terlihat gemerlapan, bisa dengan mengendarai mobil baru, mengenakan perhiasan berlebihan, yang ingin menunjukkan betapa suksesnya diri ini. Sebenarnya sekarang fenomenanya tak jauh dari sana, hanya menyesuaikan dengan kondisi, seperti menggunakan ponsel terbaru, aksesoris perusahaan besar, pakaian merk terkenal, dsb. Jika kita lihat dari jauh, rasanya perilaku semacam ini sama sekali tidak sehat, dengan heran mempertanyakan, untuk apa menjalin hubungan yang tidak apa-adanya?

Bisa jadi tidak sama sekali, tapi bisa jadi juga kita melakukannya. Membeli barang yang terlihat merk-nya agar dianggap mampu mengikuti tren, memaksakan cicilan agar bisa membeli perangkat yang terbaru, menunda membayar yang sebenarnya lebih penting agar bisa membayar yang terlihat lebih penting. Maka, kita perlu mengingat dan saling mengingatkan tentang beberapa hal yang bisa kita jadikan catatan berkaitan dengan acara kumpul-kumpul yang kita lakukan. 

  • Menjaga Batasan

Kita memang berteman dengan siapa saja tapi kita perlu menentukan sendiri lingkaran mana yang kita inginkan dalam hidup. Sehingga, tidak apa jika kita ingin mengklasifikasikan kenalan, ada yang bersahabat dekat, ada yang teman satu lingkungan, ada yang pernah berteman, ada yang sekedar kenal, ada yang sebatas tahu saja. Dari sana, kita bisa memilah mana yang perlu rutin ditemui, mana yang berjumpa saat reuni, mana yang sebatas berpapasan tidak sengaja saja. Menjaga semua hubungan juga tidak memungkinkan mengingat waktu dan tenaga kita yang terbatas. 

Batasan ini juga termasuk pada menentukan mana yang omongannya perlu disimak, mana yanng perlu didengar, mana yang sambil lewat saja. Jika mereka bukanlah orang dekat, tahu sedikit sekali tentang kita, lalu mengomentari hidup kita, sudah tahu kan harusnya tidak kita ambil hati? Jangan malah terbalik-balik, omongan keluarga dekat dibantah, omongan kerabat jauh dipikirkan siang malam. 

Mungkin ada saatnya kita ingin berpura-pura, menampakkan hidup yang baik-baik saja, sehingga mengusahakan aksesoris sewaan agar apa yang kita ceritakan terlihat semakin nyata, tapi jika hubungan yang dipunya sudah tidak jujur sedari awal, apa masih layak dipertahankan? Jika menjadi diri sendiri saja kita tidak bisa, apa benar begitu hubungan yang kita inginkan?

 

  • Hubungan Memang Merepotkan

Hubungan sesama kita itu transaksional, sekeras apapun kita berusaha menampiknya. Tidak usah repot menyangkal bahwa semua berbekal ketulusan. Kita berteman karena mendapat kesenangan, karena bisa mengobati kesepian, karena memiliki kesukaan yang sama, karena bisa mengharap bantuan. Memang begitu adanya. Jadi, terima saja kalau hubungan itu merepotkan, membutuhkan waktu dan tenaga, butuh perhatian, butuh pertemuan, butuh telinga yang siap mendengarkan, butuh ucapan, butuh bingkisan. 

Sebenarnya, hanya kita masing-masing yang tahu hubungan yang kita punya membutuhkan apa saja. Jika sekarang sedang marak berkirim hampers, kita yang tahu teman mana saja yang butuh dan mana yang tidak. Jika sekarang apa-apa ada update-an di media sosial maka hanya kita yang tahu mana yang perlu di-update dan mana yang tidak. Begitu juga, ikita yang paling paham mana teman yang butuh bantuan mana yang tidak dan bantuan seperti apa yang mereka butuhkan. Kadang kita yang memberi, kadang kita menerima, sama-sama merepotkan, tidak apa. 

  • Berlapang Dada

Kita tidak bisa mengontrol orang lain, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka katakan, jadi berlapang dada saja menerima bahwa kadang ada orang yang bertingkah menyebalkan, ada teman yang sedang kelelahan, ada sahabat yang punya prioritas lain, tidak apa-apa. Kita juga kadang bisa berlaku demikian, menyebalkan bagi orang lain, tidak sesuai dengan harapan teman, tidak bisa membantu sahabat, tidak bisa hadir saat benar-benar dibutuhkan. 

Dalam banyak hal, mungkin hampir semuanya, berlapang dada ini adalah kunci. Bentuk pengakuan bahwa memang tidak semua hal bisa kita kendalikan, bahkan tidak ada yang benar-benar bisa kita kendalikan. Lakukan apa yang bisa ita lakukan, bertegur sapa, menjawab sopan ketika ditanya, membatasi diri dari interaksi, berusaha memperbaiki hubungan, dst. Hasilnya akan bagaimana, tinggal serahkan. Maka, ingat saja bahwa kehidupan tenang dan damai itu kita sendiri yang tentukan ukurannya, kita yang usahakan, dan Tuhan yang berikan. 



Salam, Nasha

Sudah seperti budaya, yang semakin kuat setelah pandemi melanda, setiap lebaran kita bertukar bingkisan. Jika dulu sekedar parcel berisi makanan kemasan, sekarang lebih banyak varian, apa saja bisa dikirimkan. Namun, tetap harus berdasar pada prinsip kemampuan dan kegunaan. Jangan sampai memberatkan yang memberi, jangan sampai pula sia-sia ditangan yang menerima. Nah, berikut ini rangkuman paketan produk ataupun hampers yang bisa dikirimkan kepada kerabat dalam momen ramadhan dan lebaran, dengan tambahan pertimbangan lebih sehat untuk diri kita dan bumi.



 

Pertimbangan Take and Give

Sepertinya kita memang masih banyak menganggap bahwa memberi adalah wujud jalinan hubungan, dan pemberian harus dalam wujud benda yang bisa dilihat dan disentuh. Sehingga memberi bingkisan adalah bentuk dari menjaga hubungan. Tidak heran jika bepergian kita masih direpotkan dengan oleh-oleh dan hari besar kita masih disibukkan memilih bingkisan. Padahal, hubungan bisa jadi lebih sederhana sekaligus lebih dalam dari sekedar memberi dan menerima bingkisan.

Namun, jika kita masih ingin memberi, tidak ada salahnya juga. Satu dari lima bahasa cinta juga adalah gift, yang artinya memang ada orang mewujudkan kasih sayangnya dalam bentuk hadiah. Sebelum itu, ada beberapa hal yang perlu kita jadikan catatan dalam soal take and gift present ini, antara lain: 

  • Menerima tidak terikat dengan memberi

Mungkin ini perasaan yang tidak asing, merasa berhutang saat diberi dan segera ingin membalas memberi. Sebaliknya, rasanya mengganjal sudah memberi tapi tidak dibalas oleh orang yang menerima. Padahal, memberi ya sudah memberi saja. Begitu pula dengan menerima, ya sudah terima saja, beri orang lain kesempatan untuk berbagi, beri karena memang ingin memberi dan sesuai dengan si penerima. Tanpa merasa lebih rendah, tanpa merasa lebih tinggi. 

  • Sesuaikan dengan kemampuan dan kegunaan

Jelas ini kita semua pahami, tapi kadang kita berusaha mengabaikannya. Padahal tidak mampu untuk memberi bingkisan pada banyak orang, padahal diluar anggaran untuk membelikan barang tersebut, tapi tetap dilakukan. Kadang memang tulus ingin memberi, sayangnya kadang juga karena butuh pengakuan. Maka sebelum memberi, saring dulu dengan pertimbangan tersebut, mengapa ingin memberi dan mengapa memilih benda tersebut?

Ingat, dalam pemberian yang menjadi landasan adalah preferensi si penerima bukan selera kita sebagai pemberi. Berdasarkan kebutuhan dan keinginan mereka, bukan berdasarkan keinginan kita. Maka wajarkan untuk bertanya sebelum memberi, memastikan kembali agar tidak salah beli. Lumrahkan saja bingkisan tidak melulu menjadi kejutan. Supaya niat tulus memberi terbalas dengan hadirnya benda yang memang berarti. 

  • Alternatif pilihan yang lebih baik, lebih sehat juga ramah lingkungan

Kadang kita memiliki hubungan yang cukup terikat dengan memberi dan menerima. Perlu menerima meski tidak suka barangnya, perlu memberi meski tidak terlalu akrab dengan orangnya. Sehingga kita buta harus memberi apa. Apa lagi yang bisa kita lakukan kalau bukan mengira-ngira dan memilih barang yang cukup umum, yang besar kemungkinanan akan digunakan. Selain itu, coba pilih barang dari penjual yang tidak begitu jauh sehingga bisa lebih hemat energi transportasi, dari produsen yang punya perhatian pada pekerjanya juga lingkungan, serta dengan bungkusan yang tidak berlebihan dan dari bahan yang lebih ramah lingkungan.

Sekarang pilihan barang tidak terhitung jumlahnya, bisa didatangkan darimana saja sesuai kehendak jari. Saringannya yang kita tentukan, seperti tidak mendukung genosida misalkan seperti yang belakangan marak dilakukan. Selain itu, tambahkan dengan pilihan yang lebih sehat, seperti makanan tanpa zat aditif berbahaya atau produk perawatan kulit dari bahan yang lebih alami. Apa yang baik kita beri ke orang lain, mudah-mudahan menjadi yang baik juga untuk kita. 

Sebenarnya, apa yang menyentuh dari pemberian menurut saya adalah bagaimana orang yang memberi meluangkan waktunya untuk memikirkan kita, kira-kira dia cocok tidak ya dengan ini, dia suka tidak ya. Jika dilakukan rasanya memang agak merepotkan ya, tapi begitulah bahasa kasih sayang. 

 

Rekomendasi Hampers

Makanan dan Minuman

Opsi pertama yang mungkin muncul dimayoritas pikiran kita, dengan alasan bahwa semua orang perlu makan, kegiatan makan sering dilakukan, serta ada banyak pilihan makanan yang bisa tahan lama dikemas dengan cantik pula. 

  • Madu
Madu Manuka + Clover Hillary Farm

  • Cemilan Gluten Free
Cemilan Ladang Lima

  • Teh Asli
Hampers Idul Fitri Addictea

  • Kopi
    Kopi Kemasan Anomali

    • Minuman Lebih Sehat
      Minuman Kedelai dan Matcha Beorganik


      Pengharum Tubuh dan Ruangan

      Lebaran tidak lengkap rasanya tanpa kegiatan kunjung-mengunjungi. Maka, perlu dipersiapkan rumah yang bukan hanya bersih namun juga wangi. Rekomendasi berikut bisa digunakan untuk menambah kesan rumah yang lebih menyenangkan dengan wangi yang lebih natural diruangan, tanpa lupa perlengkapan wewangian untuk tubuh juga. 

      Perawatan Tubuh Bathaholic

      Perawatan Tubuh Maharati

      Pewangi Ruangan Plumeria

      Pewangi Ruangan Rumah Atsiri

      Perawatan Tubuh Nutropics


      Perlengkapan Ibadah

      Di hari raya ini, kita juga mengusahakan penampilan terbaik untuk beribadah dan bersilaturahmi, maka bingkisan kita bisa berisi peralatan untuk menunjang penampilan tersebut. Bukan hanya untuk estetika saja tapi fungsinya juga. Bisa sajadah, sarung, mukenah, hingga jilbab. Kadang ada produsen yang melengkapi dengan aksesorisnya juga seperti pengharum. Menyenangkan sekali!

      Aneka Perlengkapan Ibadah Dyah Suminar

      Jilbab dan Aksesoris Authentism

      Sajadah Howel & Co.

       Perlengkapan Ibadah Sarung Tazbiya

      Sebelum memutuskan membeli, ingat kembali ketiga point diatas bahwa memberi itu tulus karena niat ingin memberi, menyambung silaturahmi, yang berdasarkan pada prinsip kegunaan dan kesanggupan. Mungkin kita bisa beranggapan bahwa bulan ini memang ada untuk kita merayakan, hubungan kita dengan Tuhan juga sesama manusia, salah satunya dengan berkirim bingkisan. Nah, semoga menjadi amal kebaikan dan rezekinya berkah, ya!



      Salam, Nasha

      Dapat dikatakan bahwa Solo kini menjadi salah satu kota destinasi wisata. Banyak orang yang datang berkunjung ke Solo, untuk menikmati kulinernya, menjelajahi tempat-tempat wisata disekitarnya, atau sekedar menikmati lingkungan Solo yang nyaman ditinggali. Dengan banyaknya pilihan transportasi untuk sampai ke Solo mulai dari pesawat, kereta, mobil dengan akses tol, hingga krl dari Jogja; kini yang perlu dipastikan adalah apa saja sih yang bisa dilakukan di Kota Bengawan ini. Simak itinerary liburan di Solo berikut ini untuk mewujudkan weekend getaway di Solo!


      Sekilas Solo

      Sebagai seorang pendatang yang menghuni Solo beberapa tahun terakhir, saya cukup mengagumi kota ini. Dengan fasilitas pembangunan yang cukup lengkap, keetersediaan sarana dan prasarana, lalu jenis masakannya, biaya yang dikenakan, dan yang tak kalah penting adalah keramahan orang-orangnya. Untuk wisata, perlu diingat bahwa Solo ini tidak terletak dipesisir juga bukan di perbukitan, sehingga untuk berwisata ke area bukit kita akan diarahkan ke Tawangmangu sekitar dua jam perjalanan dari Solo. Kalau mau wisata pantai, adanya di Yogya atau Semarang sekalian. Lalu apa ya daya tarik Solo ini?

      Hanya mengelilingi kotanya dan bersantai sejenak menjauh dari hiruk pikuk. Meskipun sudah mulai ramai, tapi Solo tidak berdesakan. Dengan jalan yang dibangun sudah lebar-lebar, kemacetan pun jarang terjadi. Berwisata disini, untuk saya, akan berputar di kuliner, wisata kebudayaan, batik, dan sesekali ke taman yang disediakan. Maka saya tidak menyarankan untuk terlalu lama berlibur di Solo, karena tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Cocoknya sekitar dua atau tiga hari saja, sesuai dengan judulnya weekend getaway.  Tapi kalau memang ingin bersantai, menikmati kuliner-kulinernya, lalu menjelajah hingga kabupaten-kabupaten di sekitarnya juga bisa berlibur disini hingga seminggu lamanya. 

      Nah, berikut rekomendasi itinerary untuk liburan di Solo selama dua hari!


      WaktuKegiatanLokasiEst.   BiayaKeterangan
      03.50 Stasiun Balapan  
      04.25SubuhMasjid Syekh Zayed Buka pagi 04.00-08.00
      06.00SarapanSoto TrisaktiRp25.000 
      08.00WisataMuseum Radya Pustaka  
      11.00WisataMuseum TumurunRp25.000 
      12.30Makan   SiangKusuma Sari RestoRp50.000 
      14.00Check in Hotel Rp300.000Penginapan tanpa sarapan
      16.00WisataWaduk Cengklik  
       Makan   MalamCafe di area Waduk CengklikRp30.000 
      19.30WisataPs. Malam Ngarsopuro  
        Angkringan Tiga TjeretRp30.000 
      21.00Istirahat   
           
      06.30Check   Out Hotel   
      07.00SarapanSelat Solo Tenda BiruRp30.000 
       08.00KulinerPasar Gedhe Dimsum, TFP, Dawet, Oleh-oleh      
      WisataAlun-alun Surakarta
       09.30BelanjaMandarijn Orion  
      10.00WisataMangkunegaran  
       12.00Makan   SiangSate Kambing Pak MantoRp75.000Coba menu gule goreng      
       13.00KulinerSoerabi Notosuman
      14.00BelanjaKampung Batik Laweyan
      18.00Makan   MalamTimlo Kwali MangkunegaranRp25.000 
      19.30 Stasiun   Balapan  


      Sebagai catatan, itinerary tersebut dibuat dengan cukup padat, dengan hanya beristirahat satu malam saja. kegiatan juga dimulai dari pagi hingga malam hari. Untuk tempat yang dikunjungi, disesuaikan dengan rekomendasi bukan preferensi perorangan. Mungkin ada yang lebih tertarik ke toko batik saja tidak perlu ke museum. Bisa menyesuaikan. Biaya tersebut juga belum termasuk transportasi. Selanjutnya, saya akan membahas lebih rinci tentang masing-masing tempat tersebut, tapi ingat, ini hanya pendapat pribadi berdasarkan prefensi dan keterbatasan informasi saya.

      Pertama, Masjid Syekh Zayed. Masjid ini memang patut dikunjungi dengan kemegahan bangunannya, tapi karena masih proses pembangunan jadi parkirannya belum begitu teratur dengan pengelolaan dari warga setempat. Biaya parkir per mobil biasanya sepuluh ribu. Pengelolaan didalamnya masih tergolong baik, dengan satu pintu masuk yang dilengkapi dua mesin x-ray, kita perlu antre sejenak jika pengunjung sedang ramai. Didalamnya, petugas siaga untuk membantu pengunjung. Seingat saya, masjid ini buka pukul 04.00-08.00 lalu pukul 11.00-16.00 dan 17.00-20.00.

      Saya sebagai orang awam yang tidak terlalu memahami kebudayaan, kurang menikmati museum radya pustaka. Sekedar menjawab penasaran karena itu museum tertua di Indonesia. Tempatnya cukup nyaman, tidak terlalu luas, dengan koleksi berupa keris, wayang, hingga kartu pos yang tidak terlalu banyak. Mengelilinginya mungkin hanya perlu waktu sekitar setengah jam. Sedangkan museum tumurun adalah museum modern yang memiliki tema berbeda dalam setiap periode waktu, bisa cek di https://www.instagram.com/tumurunmuseum/

      Lalu, waduk cengklik itu paling bagus dikunjungi sore agar bisa menikmati pemandangan matahari terbenam. Ada banyak sekali tempat makan di derah sana, karena hanya berkunjung ke satu tempat, saya tidak bisa memberi rekomendasi. Terakhir, ada kampung batik. Di Solo ada dua kampung batik yaitu Kauman dan Laweyan. Jika saya bisa membedakan, Laweyan itu lebih baik untuk belanja sedangkan Kauman lebih untuk berwisata foto-foto. 

      Pada kegiatan kuliner, rekomendasi restorannya mulai dari kusuma sari sebagai restoran tua di Kota Solod engan menu yang beragam dan harga terjangkau; lalu angkringan yang berada tidak jauh dari ngarsopuro yang bisa dinikmati dengan live music pada waktu tertentu; selat solo tenda biru menyediakan selat dan berbagai macam sop khas solo seperti sop matahari, sop galantin, dsb; mandarin orion ini adalah toko roti yang spesialnya menyediakan kue lapis surabaya dan juga berbagai olahan kue, roti, dan cemilan lainnya; di Pak Manto ada berbagai menu olahan kambing seperti sate, gule, tongseng, hingga nasi goreng; dan terakhir ada timlo yang hanya buka pada malam hari. Rekomendasi yang saya dapatkan dari warga asli Solo, meskipun ada yang lebih terkenal, namun menurut saya yang ini justru lebih enak.  

      Biaya yang dikeluarkan untuk wisata bisa dihitung dari tabel diatas, namun untuk transportasi disesuaikan dengan pilihan kita masing-masing. Solo bisa dijangkau dengan pesawat, kereta, bus, travel, juga kendaraan pribadi. Transportasi umum di Solo juga ada dan tergolong nyaman. Jika dihitung kasarnya, ongkos dari Jakarta dengan kereta sekitar satu juta, penginapan sekitar 300ribu, untuk makan dan wisata tanpa belanja bisa 200ribu. Bisalah dirangkum dengan estimasi biasa sekitar 1,5juta hingga 2juta.

      Nah, itulah rekomendasi itinerary untuk liburan singkat di Solo. Bagi yang menginginkan info lebih rinci dan rekomendasi lainnya, bisa langsung komen dibawah ya. Terima kasih!



      Salam, Nasha

      Bisa dikatakan bahwa marah adalah emosi yang paling sulit. Kita sering memaksa emosi tersebut untuk hilang saja, namun kenyataannya kita tetap merasa marah. Begitu juga dengan anak, marah tidak bisa dihindari, karena ia adalah salah satu emosi. Bagaimanapun kita tidak menginginkannya, akan ada saatnya anak merasa marah. Disinilah kita berperan, mendampingi mereka menghadapi emosi tidak mengenakkan itu, juga mengajari mereka bagaimana menyalurkan emosi marah dengan tepat tanpa menyakiti diri sendiri juga orang lain.



      Perkembangan Emosi Anak

      Sebelum mengajari anak, kita perlu memperhatikan dulu tentang perkembangan mereka. Bagaimana kondisi anak, sudah sejauh mana mereka bertumbuh, ditahap mana perkembangan mereka berada, tidak lupa pada kondisi emosi mereka. Biasanya ada indikator perkembangan anak sesuai usia, meskipun setiap anak itu unik dan bisa saja mengalami perbedaan dari anak-anak lainnya. Karena memiliki anak dengan jarak usia tidak begitu berjauhan, saya akan mengkhususkan pembahasan pada anak usia sekitar lima tahun. 

      Marah sendiri merupakan salah satu bentuk emosi yang memang istimewa ada pada kita semua. Baik itu manusia dewasa maupun pada anak-anak. Bedanya, kita sudah memiliki lebih banyak pengalaman dan juga pelajaran dari masa lalu, sedangkan anak-anak ini belum. Logikanya, kita harusnya bisa lebih tenang dan bijaksana dibanding mereka.

      Pada usia lima tahun, bisa dimulai juga disekitar empat, anak sudah memiliki keinginan untuk melepaskan diri sedikit demi sedikit dari orang tuanya. Ia ingin mencoba banyak hal sendiri, tapi disisi lain ia diiringi perasaan bersalah karena meerasa meninggalkan orang tuanya, ditambah pula dengan kemampuan yang masih sedikit yang ia miliki. Sehingga sering kali mereka merasa kewalahan dengan emosi yang dirasakan, akibatnya berbagai perilaku yang tidak mengenakkan muncul. Ia menjadi mudah marah. Melampiaskan energi yang begitu banyak mereka miliki dengan teriakan atau juga pukulan. 

      Ini juga mempengaruhi bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain, karena pada usia ini anak sudah mulai berinteraksi dengan orang selain keluarga dekatnya. Mereka bisa saja memiliki teman dekat, tingkah laku mereka mengalami perkembangan seiring dengan meningkatnya kemampuan mereka merasakan juga memahami orang lain dan lingkungan. Ini menjadi sarana yang baik bagi anak dalam mengasah kecerdasan emosional mereka. Jika anak bisa belajar dengan baik dari tahap ini, mereka akan dapat menunjukkan rasa empati, kasih sayang, juga memiliki tata krama yang baik nantinya. 

      Bukan hal yang mudah memang membiarkan anak melalui proses gejolak emosinya. Tidak tega rasanya melihat mereka bersedih, kecewa, sakit hati, juga marah. Tapi kembali lagi, itu adalah proses yang perlu kita semua lalui. Media pembeajaran anak untuk bekal ia nantinya. Sebagai orang tua, tugas kita untuk mendampingi mereka dalam berbagai proses tersebut, mengarahkannya pada cara yang tepat berdasarkan kondisi anak masing-masing.

      Praktiknya tentu tidak akan semudah perkataan para ahli. Apalagi untuk emosi marah. Akan ada harinya kita kesulitan untuk menerima emosi mereka, tidak memahami kenapa mereka merasa marah, atau bahkan merasa lebih marah daripada anak-anak ini. Kadang kita bisa tenang dan menemani mereka memproses emosi tersebut, kadang kita kelelahan juga kewalahan dengan teriakan mereka itu. Tidak membenarkan, tapi saya coba memaklumi bahwa kita juga memiliki emosi. Tidak apa, akan ada hari esok untuk memperbaiki. Selagi kita berusaha mengevaluasi, memperbaiki, dan berniat terus mendampingi, semoga senantiasa Allah mudahkan. 


      Mengajari Marah kepada Anak 

      Mungkin kita tumbuh dalam pengajaran, jangan marah, atau dengan kalimat, gitu aja kok marah. Lalu belakangan, kita mendengar bahwa marah itu tidak apa-apa. Apakah artinya ada perbedaan teori tentang marah saat dulu dengan sekarang?

      Menurut saya, inti ajarannya tetap sama, hanya berbeda ditingkat pemahaman dan cara pengajaran kita. Dan perubahan juga perkembangan itu adalah hal baik, yang menandakan bahwa kemampuan kita berpikir juga bertumbuh. Sebenarnya, marah adalah bentuk emosi yang Tuhan berikan pada kita, yang justru akan memudahkan kita dalam menjalin hubungan dengan orang lain, serta tidak seenaknya sendiri. Hanya saja, yang menjadi catatan adalah bagaimana marah yang tepat. Singkatnya, merasa marah itu boleh saja, persoalannya adalah bagaimana kita mengekspresikan marah tersebut.

      Wajar jika kita merasa marah saat ada hal-hal yang mengganggu kita, ada hal-hal yang tidak kita suka atau duga terjadi. Tapi ada orang yang bisa berlapang hati menerima bahwa setiap orang mungkin melakukan kesalahan, bahwa tidak mungkin semua yang terjadi akan sesuai dengan yang kita harapkan, bahwa berlarut-larut dalam marah akan merugikan, sehingga ia lebih memilih diam sembari perlahan melepaskan dalam tiap hembusan nafas. Meski, ada pula orang yang memilih untuk mengeluarkan emosinya dengan kalimat kasar, teriakan, gerakan tangan yang ujungnya menyakitkan. Pertanyaannya adalah pilihan mana yng kita harapkan pada anak?

      Beberapa catatan tentang bagaimana mengajari anak untuk mengekspresikan marah dengan sehat antara lain:

      • Menjadi Teladan
      Setiap pengajaran harus diiringi dengan contoh langsung, apalagi bagi anak. Mereka kadang memang tidak mendengar, tapi akan selalu melihat. Perlihatkan bagaimana kita mengekspresikan marah dengan sehat. Jelaskan dalam kalimat sederhana dan langsung.
      Ibu sedang merasa marah, ibu akan coba menenangkan diri dulu.

      Biasanya saya akan masuk ke kamar untuk menarik nafas atau menjauh dulu dari keributan anak-anak. Sampai sekarang, saya masih mencoba untuk tidak langsung bereaksi atas apapun yang mereka lakukan. Daripada kalimat omelan yang dikeluarkan menjadi tidak karuan, setidaknya saya akan diam. Lalu mencari waktu lain setelahnya untuk membicarakan. Karena omelan yang keluar saat sedang marah itu seringnya bukan untuk menasihati tapi hanya melampiaskan emosi.

      Dari situ anak akan melihat dan mencontoh, bagaimana kita mengelola emosi. Bagaimana ibu ataupun ayah ketika marah, apakah langsung bereaksi atau mencoba menenangkan diri? Apakah ibu dan ayah mudah marah pada hal-hal sepele yang sebenarnya bisa dicari saja solusi lainnya? Ini salah satu bagian tersulit untuk saya menjadi cerminan bagi anak.

      • Validasai Perasaannya

      Apapun yang anak rasakan itu valid. Tidak peduli sesepele apaun kelihatannya itu bagi kita. Kadang memang keluar kalimat seperti, kok gitu aja marah sih? Tapi itu tanggapan yang tidak tepat, karena kita menggunakan ukurna kita pada kejadian yang menimpa anak. Kita mengerdilkan apa yang mereka rasa. Daripada menanggapi begitu, coba untuk menarik napas dan berempati pada perasaan anak. 

      Namai apa yang anak rasakan dengan, oh kamu sedang merasa kesal sekarang. Tarik napas lagi dengan tatapan lembut mencoba memahami, ibu di sini kalau kamu mau bicara atau butuh bantuan. Lalu, tunggui dia. Tunggui bukan acuhkan. Ini juga bagian yang sulit, karena biasanya saat kita berbicara seperti itu, anak kadang akan semakin histeris, kadang juga ditambah dengan kalimat-kalimat penolakan yang kurang baik. Ingin rasanya meninggalkan saja, tapi ingat kitia sedang mengajari mereka. Jika tidak sanggup terlalu dekat, setidaknya ada dalam jangkauan penglihatan anak. Biar anak tahu bahwa kita sedang menunggui mreka dan berempati atas apa yang mereka rasakan.

      • Beri Anak Kesempatan

      Sebagian orang tua, mungkin kadang termasuk kita juga, sulit melihat anak mengalami emosi marah. Cepat-cepat kita alihkan perhatian dan perasaan mereka pada hal lain yang menyenangkan. Padahal, tidak mungkin seumur hidup mereka tidak merasa marah atau terus mendapatkan yang mereka inginkan. Justru lebih baik mereka merasakannya saat ini bersama kita, daripada nanti-nanti dengan orang lain. Entah bagaimana mereka akan melalui emosi marah yang sulit ini.

      Kenyataannya, ini kembali lagi pada energi dan kondisi kita masing-masing, tapi ingat selalu saja bahwa anak perlu mengalami emosi marah tersebut. Kita perlu memberi mereka kesempatan, lalu ruang untuk memprosesnya sendiri. Jika mereka butuh waktu, biarkan. Jika mereka butu penyaluran energi, berikan ruang yang aman. Jangan mendesak anak untuk segera melalui amarah tersebut. Kita saja butuh beberapa waktu untuk berdamai dengan keadaan kan? Ingat, anak yang diberi kesempatan berlatih mengelola emosinya, cenderung akan tumbuh dengan kecerdasan emosional yang lebih baik. 


      • Ajarkan Anak Menyelesaikan Masalah

      Menghindari amarah seringnya memang lebih mudah dibanding menghadapinya. Mengalihkan perhatian juga seringnya lebih mudah daripada mengatasi apa akar permasalahan. Tapi itu berdampak tidak baik pada perkembangan anak, sedangkan kita sedang menyiapkan bekal terbaik bagi mereka kelak. 

      Coba kalimat seperti, kamu kesal karena kalah dalam permainan ini ya, coba kita pikirkan ya apa yang bisa kita lakukan kalau dapat hasil tidak sesuai yang kita mau. Tidak akan mulus anak menanggapi dengan tenang menjawab iya, tapi setidaknya kita sedang berusaha mencoba. Sedang memberi mereka teladan juga. Saya biasanya juga mempraktikkan semua sekaligus, sembari berbicara sembari menunggu juga, dan yang terpenting sembari mengatur emosi kita sendiri. Bagian tersulit justru adalah tetap tenang ditengah gejolak emosi marah anak.

      Intinya adalah merasa marah itu tidak apa, tapi apa yang kita lakukan itu ada batasnya. Jangan sampai karena marah lalu jadi menyakiti diri sendiri atupun orang lain. Tambahan batasan lainnya bisa disesuaikan, misal tidak boleh melempar barang. Namun, pahami bahwa marah itu juga adalah energi yang perlu disalurkan, jika anak tidak boleh melempar barang, beri alternatif yang lebih aman bagi energi mereka untuk dikeluarkan. 


      Pada akhirnya, ketahui bahwa setiap anak lahir dengan karakter masing-masing, ada yang mudah diarahkan ada yang lebih menantang. Mungkin cara penerimaan mereka berbeda, mungkin metode belajarnya berbeda, dan tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Semua sama, hanya kita yang harus lebih memahami dan mencoba. Meski satu ayah dan satu ibu, saudara kandung tetap adalah individu berbeda dengan karakter masing-masing. Kita hanya bisa mengarahkan, mengajarkan sebaik yang kita bisa lalu tergantung izin Tuhan anak akan menerima sesuai yang kita inginkan atau tidak. Jadi, jangan lupa terus berdoa saat membersamai anak, minta petunjuk pada Sang Pencipta dan Pemilik Segala. Mudah bagiNya membolak-balikkan hati manusia, termasuk anak-anak kita. 



      Salam, Nasha

      chi

      Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

      Kenalan Dulu, yuk!

      Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
      PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

      Follow @salamnasha

      POPULAR POSTS

      • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
      • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
      • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
      • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
      • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

      Hubungi Aku di sini

      Nama

      Email *

      Pesan *

      Advertisement

      Label

      family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

      Daftar Tulisan

      • ▼  2026 (6)
        • ▼  Juni 2026 (1)
          • Menerapkan Unbothered Energy dalam Kehidupan Sehar...
        • ►  Mei 2026 (1)
        • ►  April 2026 (1)
        • ►  Maret 2026 (1)
        • ►  Februari 2026 (1)
        • ►  Januari 2026 (1)
      • ►  2025 (30)
        • ►  Desember 2025 (1)
        • ►  November 2025 (1)
        • ►  Oktober 2025 (1)
        • ►  September 2025 (1)
        • ►  Agustus 2025 (1)
        • ►  Juni 2025 (1)
        • ►  Mei 2025 (5)
        • ►  April 2025 (5)
        • ►  Maret 2025 (4)
        • ►  Februari 2025 (5)
        • ►  Januari 2025 (5)
      • ►  2024 (41)
        • ►  Oktober 2024 (4)
        • ►  September 2024 (8)
        • ►  Agustus 2024 (5)
        • ►  Juli 2024 (5)
        • ►  Mei 2024 (5)
        • ►  April 2024 (3)
        • ►  Maret 2024 (5)
        • ►  Februari 2024 (3)
        • ►  Januari 2024 (3)
      • ►  2023 (117)
        • ►  Desember 2023 (10)
        • ►  November 2023 (10)
        • ►  Oktober 2023 (10)
        • ►  September 2023 (10)
        • ►  Agustus 2023 (10)
        • ►  Juli 2023 (10)
        • ►  Juni 2023 (11)
        • ►  Mei 2023 (12)
        • ►  April 2023 (8)
        • ►  Maret 2023 (10)
        • ►  Februari 2023 (8)
        • ►  Januari 2023 (8)
      • ►  2022 (31)
        • ►  Desember 2022 (6)
        • ►  November 2022 (3)
        • ►  Oktober 2022 (4)
        • ►  September 2022 (3)
        • ►  Agustus 2022 (1)
        • ►  Juli 2022 (2)
        • ►  Juni 2022 (3)
        • ►  Mei 2022 (1)
        • ►  April 2022 (2)
        • ►  Maret 2022 (1)
        • ►  Februari 2022 (3)
        • ►  Januari 2022 (2)
      • ►  2020 (13)
        • ►  Desember 2020 (1)
        • ►  November 2020 (1)
        • ►  Oktober 2020 (1)
        • ►  Agustus 2020 (1)
        • ►  Juli 2020 (1)
        • ►  Juni 2020 (1)
        • ►  Mei 2020 (1)
        • ►  April 2020 (1)
        • ►  Maret 2020 (2)
        • ►  Februari 2020 (2)
        • ►  Januari 2020 (1)
      • ►  2019 (6)
        • ►  September 2019 (1)
        • ►  April 2019 (1)
        • ►  Maret 2019 (1)
        • ►  Januari 2019 (3)
      • ►  2018 (5)
        • ►  Desember 2018 (1)
        • ►  November 2018 (4)

      BloggerHub Indonesia

      Tulisanku Lainnya

      Kompasiana Kumparan

      Popular Posts

      • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
      • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
      • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
      • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
      • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

      Trending Articles

      • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
      • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
      • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
      • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
      • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

      Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes