• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Tahun ajaran baru sudah didepan mata, bahkan beberapa sekolah sudah memulai aktivitas belajar mengajar pada awal Juli ini. Ada orang tua yang baru pertama kali mendampingi anak sekolah, ada pula yang kembali setelah liburan panjang. Semuanya sama, butuh penyesuaian dan persiapan, apalagi bagi kita para orang tua. Sebab tidak ada anak yang siap tanpa orang tua yang lebih dahulu siap dan mendukung persiapan mereka. 



Persiapan Sebelum Sekolah

  • Anak dan Orang Tua yang Siap

Sebelum anak mulai bersekolah, pastikan dulu beberapa aspek kesiapan dari orang tua dan anak, antara lain seperti kondisi mental orang tua dan anak, finansial, kondisi keluarga, dan lingkungan yang mendukung. 

Ada kalanya anak sudah siap untuk memiliki rutinitas di luar rumah, namun orang tua yang belum siap melepaskannya. Sebaliknya, ada orang tua yang sudah ingin menyekolahkan anak, tapi anak masih belm mantap berinteraksi rutin di luar rumah. In hal pertama yang harus dipastikan terlebih dahulu, jangan sampai orang tua memaksakan kehendak pada anak, jangan sampai pula orang tua menghalangi perkembangan anak. Kita sebagai orang tua lah yang perlu lebih banyak menyesuaikan diri. Serta ingat, kesiapan mental setiap anak itu berbeda. Tidak masalah jika anak tetangga sudah bisa bersekolah diusia tiga, sedangkan anak kita yang sudah empat masih mau di rumah saja. 

Aspek selanjutnya adalah kondisi keluarga termasuk finansial didalamnya. Tidak dapat dipungkiri, biaya pendidikan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, berkisar antara 5-10% bahkan sekolah tertentu bisa mematok angka lebih tinggi lagi. Biasanya ada harga ada rupa. Sekolah dengan biaya selangit juga menawarkan fasilitas yang tidak main-main. Kembali lagi pada keluarga kita masing-masing, sekolah seperti apa yang diinginkan yang paling sesuai dengan kondisi keluarga. Bagus menurut mereka tidak serta merta bagus juga untuk kita.

Menyekolahkan anak juga berarti ada tambahan rutinitas baru, baik bagi anak maupun orang-orang di rumah. Pastikan kita semua siap untuk itu. Siap untuk mengantar jemput anak sesuai dengan jadwalnya, siap memenuhi perlengkapan yang kadang diminta oleh sekolah, siap untuk hadir dalam berbagai aktivitas sekolah anak, juga siap untuk berinteraksi dalam lingkaran sekolah anak. Dibandingkan saat kita bersekolah dulu, kegiatan sekolah anak sekarang jauh lebih beragam, yang artinya keterlibatan orang tua juga lebih banyak dibutuhkan. Bagi tugas antara ibu dan ayah, atau anggota keluarga lain, jika ada, dalam memenuhi agenda tersebut. Mungkin anak tidak selalu mengenang saat kita hadir, namun ia akan terus teringat kapan kita tidak hadir.

Ketika anak, juga orang tua, memang sudah siap untuk bersekolah, biasanya anak cenderung menjalaninya dengan lebih sedikit drama. Proses belajar mengajar di sekolah akan dijalani dengan lebih mulus. Anak berangkat sekolah lebih sering dalam keadaan siap bersemangat tanpa dipaksa. Ia bangun dalam kondisi tahu akan berangkat sekolah. Jika memang keadaan itu yang kita inginkan, maka pastikan kesiapan anak, dan kita, untuk mulai bersekolah. 


  • Pemilihan Sekolah 

Jika sudah benar-benar siap untuk memulai tahapan bersekolah, kita bisa lanjut dengan memilih sekolah yang tepat bagi masing-masing anak. Sekali lagi, ini akan berbeda pada tiap anak. Untuk itu ada beberapa pertimbangan penting dalam memilih sekolah yang sesuai dengan anak. Pertama, nilai apa yang keluarga kita inginkan dalam pendidikan anak. Ada sekolah yang mengutamakan pendidikan agama, karakter, akademis, minat bakat, kompetensi, ragam fasilitas; bahkan ini bisa terlihat sejak jenjang TK. Hal ini bisa kita lihat dari profil sekolah yang ada pada laman virtual masing-masing sekolah atau bisa langsung kunjungi ke sekolah tersebut. Pilih yang paling penting dan sesuai bagi keluarga kita masing-masing. 

Setelah kita menyaring pilihan sekolah yang sesuai untuk kebutuhan keluarga, selanjutnya libatkan anak dalam pemilihan sekolah tersebut. Survei sekolah bersama dengan anak. Ajak ia berinteraksi dengan guru. dengan sesama calon murid atau murid yang ada, biarkan ia bermain dan melihat-lihat lingkungan sekolah yang akan menjadi tempat mereka berakivitas nantinya. Jawab pertanyaan anak dengan jelas. Tanggapi kekhawatiran mereka dengan tenang dan solutif, tidak peduli seremeh apapun kedengarannya kekhawatiran mereka tersebut. Hargai pendapat anak, karena mereka lah yang nantinya akan bersekolah. Dengan begini, kita memperbesar kemungkinan anak berangkat sekolah dengan kesadaran dan lebih bertanggung jawab.


  • Komunikasi dengan Anak

Proses mendampingi anak bersekolah berikutnya adalah dengan perlahan melepaskan anak, belajar percaya bahwa mereka bisa. Hal ini tentu tidak serta merta terjadi tanpa bekal yang dipersiapkan sebelumnya. Ajari anak bagaimana melindungi dirinya, apa saja hal berbahaya yang harusnya ia hindari, kepada siapa anak melaporkan perbuatan tidak menyenangkan yang ia terima di sekolah, bagaimana ia harusnya bersikap pada teman, dst. 

Pengajaran ini bisa dimulai dari membiasakan anak membersihkan diri sendiri ketika selesai buang air; membiasakan ia makan sendiri sehingga tidak canggung ketika makan bersama di sekolah; mengajari anak tentang aurat termasuk bagian boleh disentuh dan tidak boleh; bagaimana melampiaskan marah yang tidak menyakiti dan tidak merusak; bagaimana cara bermain bersama termasuk cara meminjam atau cara menolak ketika sedang tidak ingin meminjamkan; bagaimana mengkomunikasikan apa yang ia rasakan dan pikirkan tentang sesuatu  termasuk juga terbuka pada orang tua serta guru tentang apa yang terjadi selama di sekolah.

Maka jauh sebelum melepas anak bersekolah, kita harus sudah memiliki koneksi yang baik dengan anak, menjadi pendengar yang dapat ia percaya, menjadi tempat yang aman baginya bercerita. Sebab, anak yang mau berbicara adalah anak yang merasa didengarkan, merasa bahwa apa yang ia alami sehari-hari adalah kisah yang kita tunggu setiap hari, bahwa apa yang ia rasa dan pikirkan begitu penting untuk kita ketahui. Lagipula, dengan begitu kita juga lebih mudah bekerja sama dengan anak, mereka lebih mau mendengarkan nasihat juga instruksi batasan yang kita buat. 

Terakhir, jangan lupa apresiasi perjuangan anak dalam proses sekolahnya tersebut. Ketika ia memulai sekolah dengan ceria, ketika ia bersedia untuk diantar jemput tanpa ditunggui, ketika ia memiliki teman pertama, ketika ia mau berbagi dengan teman sekelasnya, ketika ia berbaikan dengan teman, ketika hari ini ia berhasil melewati kesulitan yang ia ceritakan kemarin, ketika ia perlahan mampu beradaptasi di lingkungan yang baru. Langkah-langkah yang kita lihat itu adalah lompatan besar yang telah mereka usahakan, hargai.


  • Bangun Disiplin Anak dengan Rutinitas

Tidak ada usia terlalu dini untuk memulai rutinitas dengan disiplin. Jika kita menginginkan anak yang bersekolah dengan kesadarannya sendiri, maka bangunlah kebiasaan dari sebelum mereka mulai bersekolah. Jika ini sekolah pertama, setidaknya bangun kebiasaan berbulan sebelumnya. Jika anak masuk sekolah kembali setelah liburan, setidaknya sediakan waktu satu minggu sebelum sekolah dimulai.

Awali dengan bangun pagi sesuai jam yang kita inginkan agar anak bisa bersekolah dengan tepat waktu. Lalu, rutinkan dengan mandi dan sarapan setelahnya. Kita sendiri juga perlu membiasakan ini, karena ada tambahan aktivitas di pagi hari, jangan sampai justru kitalah yang merusak ritme aktivitas sekolah anak. Jika anak mengalami pergeseran waktu istirahat selama liburan, maka geser kembali agar ia tidak kekurangan waktu tidur karena harus bangun lebih pagi. 

Selain rutinitas yang berkaitan dengan sekolah, sebenarnya kita juga perlu punya rutinitas di rumah. Misalkan dengan bangun untuk sholat subuh, lalu mandi dan sarapan sebelum keluar rumah, tidur setelah isya, dll. Rutinitas ini perlu diberlakukan secara berkelanjutan sehingga akan terbentuk sebagai kebiasaan bagi anak. Meskipun kebanyakan sekolah kini tidak lagi membebankan pekerjaan rumah pada anak, namun kebiasaan belajar di rumah juga perlu untuk diterapkan. Tanpa memaksa anak, tapi bangun kesadaran mereka dengan bertahap. Ajak mereka untuk mengulang kembali apa yang dipelajari di sekolah, apa yang perlu dipersiapkan untuk esok harinya. Jaga semangat anak bahwa bersekolah itu seperti mengisi hari dengan kegiatan seru yang menambah pengetahuan dan pengalaman. Setiap hari bertambah apa yang ia tahu, setiap hari bertambah banyak apa yang ia lakukan. 



Salam, Nasha

Berbeda dengan dahulu, pernikahan kini bukanlah hal yang menjadi target utama, khususnya bagi perempuan. Isu yang terus bergaung seputar kehidupan dan pernikahan membuat kekhawatiran kian bertambah, hingga semakin banyak pertimbangan yang dimiliki sebelum memutuskan untuk menikah. Apalagi, budaya patriarki yang masih melekat erat di Indonesia membuat perempuan semakin enggan terlibat dalam urusan rumah tangga.  Seperti isu lain, fenomena ini juga mengundang pro kontra yang menarik untuk kita bahas. 


Tentang Waithood

Waithood pertama kali disebut dalam jurnal yang ditulis oleh Diane Singerman pada tahun 2007 silam yang menyoroti soal penundaan pernikahan pada pemuda di wilayah Timur Tengah. Keyakinan dan kebudayaan yang berkembang disana sebenarnya berpengaruh besar dalam keputusan seorang pemuda untuk menikah pada usia tertentu. Namun, dekade belakangan alasan itu seperti tidak lagi berlaku. Jika dilihat datanya, yang mendorong terjadinya penelitian ini, angka mortalitas yang terus menurun sedangkan angka harapan hidup cenderung meningkat. Dalam pernikahan yang terjadi, umur pengantin cenderung lebih tua dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Belakangan, pemuda disana umumnya menikah pada akhir 20an atau 30an. Beberapa alasan yang ia kemukakan antara lain karena transisi demografis, meningkatnya partisipasi perempuan dalam pendidikan dan sebagai tenaga kerja, pergeseran norma gender, globalisasi, hingga finansial. 

Bisa dikatakan bahwa apa yang terjadi di wilayah Timur Tengah itu tidak khusus terjadi di sana. Fenomena itu sudah meluas dan ada diberbagai negara. Bahkan disebut pula sebagai sebuah tren global yang terjadi pada abad 21. Salah satunya dari jurnal yang diterbitkan Yale pada 2020 lalu yang meneliti secara lebih luas bukan hanya di wilayah Timur Tengah namun juga di Afrika, Asia, Eropa, juga Amerika. Dalam kesimpulannya, diterangkan bahwa fenomena waithood ini, baik dilakukan secara sengaja ataupun tidak, akan mendorong pada pergerseran peran gender dan keluarga.   

Di Indonesia sendiri, istilah waithood baru populer belakangan meskipun fenomenanya sudah terjadi ditahun-tahun sebelumnya. Mulai banyak para pemerhati dan ahli yang membahas fenomena ini dari berbagai perspektif yang mereka kuasai. Dalam masyarakat sendiri, ada perbedaan pandangan mengenai pernikahan pada pemuda. Ada yang menganggap bahwa pernikahan dibutuhkan untuk meningkatkan strata sosialnya, sedangkan sebagian lagi menganggap bahwa ia perlu untuk meningkatkan kualitas hidup dahulu sebelum memutuskan untuk menikah. Belakangan, pendapat kelompok kedua inilah yang mayoritas dimiliki oleh pemuda-pemudi di Indonesia, sesuai dengan data BPS yang menyimpulkan pergerseran usia menikah dan penurunan jumlah anak yang dimiliki tiap pasangan menikah. 


Waithood pada Perempuan Indonesia

Paradigma tentang pernikahan yang semakin bergeser ini tidak terlepas dari pandangan bahwa menikah adalah penambahan peran baru yang bisa mempengaruhi kualitas hidup seseorang didalamnya. Semakin padatnya manusia di bumi seiring dengan tingkat persaingan yang juga meningkat, membuat kekhawatiran akan hidup dimasa datang juga semakin tinggi. Ada banyak aspek lain yang diprioritaskan selain pernikahan dan tanggung jawab akan orang lain.

Generasi saat ini memikirkan tentang pendidikan dan karir, yang dianggap sebagai pintu untuk membuka gerbang kehidupan yang lebih baik. Sehingga mereka lebih mengutamakan mengenyam pendidikan lebih tinggi dan memiliki karir yang stabil sebelum mempertimbangkan untuk menikah. Lalu, tidak sedikit mereka merupakan sandwich generation yang tidak hanya memikirkan biaya untuk menghidupi diri sendiri namun juga keluarga seperti orang tua dan saudara. Ini membuat mereka lebih berat untuk membangun keluarga sendiri. 

Dalam kacamata perempuan sendiri, angka perceraian dan kdrt yang juga meningkat, disinyalir sebagai faktor yang mendorong waithood ini. Penggugat pada kasus perceraian sebagain besar adalah perempuan. Pada kasus kdrt, mayoritas korban juga adalah perempuan. Ketidak puasan perempuan pada pernikahan hingga trauma sebagai korban kdrt tentu memberatkan langkah perempuan untuk menikah. Apalagi di zaman saat berita mudah didapat, informasi tersebar dengan luasnya, menambah banyak beban yang ditanggung pikiran perempuan pada umumnya. Wajar jika pernikahan kemudian dianggap sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan bahkan menakutkan. 


Pandangan dari Berbagai Perspektif

Jika dilihat dari konstruksi sosial, waithood juga bisa disebabkan oleh perkmebangan perempuan menjadi sosok yang lebih mandiri, percaya diri, juga lebih erat memegang nilai yang diyakini. Sehingga mencari pasangan juga yang bisa sesuai dengan dirinya tersebut.  Perubahan sosial juga besar dipengaruhi oleh pesatnya media sosial, yang memungkinkan setiap kita mengakses informasi dari belahan dunia manapun, membuat kita mudah membandingkan kehidupan di luar sana, meski kadang tidak umum di negara kita. 

Maraknya gerakan feminisme juga dianggap turut mempengaruhi fenomena waithood ini. Sebelumnya, budaya patriarki membatasi usia pernikahan ideal perempuan dengan alasan kesehatan reproduksi, namun alasan lain juga karena menganggap bahwa wanita berdaya dari rumah saja mengurus keluarga. Sehingga, gerakan feminisme yang mendorong perempuan untuk berdaya secara mandiri akan membuat perempuan memantapkan terlebih dahulu pijakannya sendiri sebelum nanti menikah. 

Isu kesehatan mental yang semakin santer dibicarakan juga menambah pertimbangan seorang perempuan sebelum menikah. Istilah, selesai dulu dengan diri sendiri, menjadi populer agar seseorang tidak membawa luka masa lalunya dalam pernikahan. Sebagian menunda pernikahan karena masih menganggap bahwa ia belum siap untuk berbagi luka dengan orang lain, belum mampu untuk menghadapi ketidak dewasaan seseorang, tidak punya energi jika harus menunggu pasangan stabil secara emosional. Maka untuk menghindari drama-drama yang menguras tenaga, lebih baik menunda menikah saja.  

Ada juga urusan pengasuhan yang diilai lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Tantangan generasi mendatang yang semakin berkali lipat, kesadaran akan pentingnya menjadi orang tua yang siap, dan kehidupan yang semakin sibuk membuat orang berpikir ulang untuk menikah dan memiliki anak. Belum lagi jika ditambah dengan kerisauan soal biaya yang semakin menjadi-jadi. Bahkan alasan lingkungan juga pernah dikemukakan.

Jika semua alasan itu dikumpulkan dan kita mau melihat secara lebih luas, bukan hal yang ganjil jika waithood ini menjadi fenomena. Apa yang terjadi saat ini jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Hidup, entah bagaimana, menjadi semakin kompleks. Pernikahan yang dulu hanya terjadi antara suami istri dan keluarga yang kenal baik kini terjadi dengan lebih banyak pertimbangan, lebih banyak pertanyaan, lebih banyak kekhawatiran. Setelah melihat alasan-alasan yang mungkin menjadi penyebabnya, setidaknya kita bisa lebih memahami apa yang terjadi belakangan ini. Tidak bisa kita menghakimi ini fenomena yang baik atau buruk. Karena setiap ornag memiliki kondisi dan pendapat yang berbeda-beda.

Sebagai perempuan yang sudah menikah, saya juga sering ditanya oleh teman tentang keputusan menikah dahulu, dimana saya tidak bisa menjawab banyak selain dengan kata takdir. Karena pikiran saya dulu saat memutuskan menikah dengan saat ini, sudah jauh berbeda. Beberapa tahun lalu, saya tidak memiliki banyak pertimbangan, berpikir dengan pola sederhana, dan banyak mengandalkan intuisi. Sebaliknya sekarang, saya melihat lebih banyak hal, tahu lebih banyak, pikiran menanggung banyak bayangan negatif. Mungkin benar bahwa seiring dengan bertambahnya usia, kita menjadi semakin mudah khawatir sedangkan hal yang dipikirkan juga bertambah banyak. 

Maka apa yang bisa saya sampaikan dari fenomena ini adalah bahwa pernikahan memang harusnya didasari dengan banyak pertimbangan. Tanpa dengan sengaja menunda-nunda, namun perlu kesiapan diri sendiri dan dilakukan bersama pasangan yang serupa, yang memiliki visi yang sama. Sebab, pernikahan sejatinya adalah pekerjaan yang paling panjang, tidak ada usainya, maka pilihlah untuk bekerja sama dengan orang yang memudahkan, yang mampu membuat lebih nyaman, yang mau bersama-sama mencari jalan tengah. Tidak ada pernikahan yang mudah, hanya ada dua orang yang mau sama-sama berjuang.



Salam, Nasha

Sekali lagi, Korea membuktikan kelasnya dengan menghadirkan drama yang tidak hanya menghibur, tapi juga menyinggung kondisi sosial sekaligus memberi kita pelajaran. Seolah belum cukup dengan visual yang memanjakan mata, drama ini juga dilengkapi dengan bumbu komedi tanpa adegan yang terlalu 'ngilu' disaksikan. Delapan orang dalam delapan lantai yang dipertontokan selama delapan episode, The 8 Show hadir dalam genre psychology thriller, dark comedy dengan plot survival. Singkatnya, ini termasuk salah satu drama yang cukup memuaskan dan akan saya rekomendasikan.


Sinopsis

Hampir semua dengan unsur delapan, drama ini menceritakan tentang delapan orang yang bertahan hidup di suatu gedung berlantai delapan. Selama delapan episode kita dijadikan penonton yang menebak-nebak kemana arah cerita ini akan dibawa. Sedangkan para pemain, yang memang adalah orang-orang yang membutuhkan uang tersebut, akan dibayar per menitnya. Jadi uang mereka akan terus berambah seiring dengan banyaknya waktu yang mereka habiskan disana.

Konflik mulai terjadi ketika para pemain saling bertemu dan mengunjungi kamar masing-masing. Dari sanalah mereka mengetahui perbedaan kondisi kamar sesuai dengan lantai yang secara acak mereka pilih. Kamar lantai satu adalah yang paling kecil dengan upah yang paling rendah. Sebaliknya, kamar lantai delapan yang paling luas sekaligus upah yang paling tinggi. Perhitungan upahnya menggunakan teori fibonacci yang menjumlahkan dua lantai sebelumnya. 

Hal yang membuat cerita ini menarik adalah kepribadian dan tingkah para tokohnya. Lantai delapan yang suka menghamburkan uang, lantai tujuh yang paling pintar, lantai enam yang suka berkelahi, lantai lima yang paling tidak tegaan, lantai empat yang cerewet, lantai tiga yang paling biasa, lantai dua yang terlihat kasar namun baik hati, serta lantai satu disabled yang baik hati. Saya menggambarkan lantai tiga (Ryu Jun Yeol) sebagai yang paling biasa sesuai dengan bakat yang ia tunjukkan dan tidak adanya hal menonjol yang ia miliki. Tokoh lantai tiga ini seolah mewakilkan mayoritas orang, tanpa bakat istimewa, tidak ada sifat yang menonjol, namun kadang bisa diandalkan juga. 

Untuk mengumpulkan uang, mereka bekerja sama menambah waktu. Sejak awal tidak tahu apa-apa mengenai caranya, lalu menebak dengan berlari menaiki tangga, hingga tahu bahwa pertunjukan menariklah yang akan menambah waktu mereka. Seolah para penoton yang puas dengan apa yang mereka tunjukkan akan menambah waktu mereka. Konflik delapan orang dengan latar belakang yang berbeda ditambah dengan usaha mereka menambah waktu sekaligus mengumpulkan uang yang dilengkapi dengan bumbu komedi membuat drama ini sangat layak disaksikan.

Sedangkan saya merasa paling attached dengan drama ini karena penokohan dan lokasi lantai yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat kita. Mereka yang dilantai atas, memiliki lebih banyak uang, lebih berkuasa, meskipun yang rajin bekerja adalah yang lantai bawah. Bahkan ada masanya mereka yang dilantai bawah saja yang bekerja, dan lantai atas hanya menikmati hasil yang jauh lebih banyak. Terasa tidak asing kan?


Pelajaran

Penokohan yang sesuai dengan lantai itu yang menjadikan drama in semakin layak disaksikan sekaligus membuat saya semakin sebal. Seperti tertampar kenyataan. Drama in menjadikan kita sebagai penonton yang haus pertunjukan, menantikan konflik, menunggu adegan dramatis. Dengan begitu kita akan terus menonton, dengan begitu waktu mereka akan ditambah seiring dengan upah mereka yang juga bertambah. 

Adanya jalur distribusi dari atas ke bawah juga menambah persoalan dalam kisah ini. Lantai delapan sebagai titik awal distribusi makanan bisa saja tiba-tiba menghentikan distribusi tersebut. Lantai selanjutnya juga bisa saja mengambil apa yang ada tanpa menyisakan apapun untuk lantai dibawahnya. Lantai satu hanya bisa menerima apa yang diberi oleh lantai diatasnya. 

Ini hampir sama dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Ada hal-hal yang memang sudah digariskan, tidak peduli sekeras apapun kita berusaha mengubahnya. Ingat, bagian dimana kamar satu ingin mengganti kamar? Mereka yang diatas, paling berkuasa, memiliki paling banyak uang, meskipun tidak memiliki keistimewaan dan bekerja paling sedikit. Orang yang paling pintar (lantai tujuh) dan mereka yang paling kuat (lantai enam juga lantai dua) juga tidak bisa berkutik pada kekuasaan lantai delapan. Apalagi yang tidak memiliki apa-apa seperti lantai tiga. Namun ditengah itu, ada orang seperti lantai 4 yang bisa cepat berubah untuk ikut kemana ia akan merasa diuntungkan. 

Pada akhirnya, drama ini ditutup dengan cukup memuaskan, setidaknya bagi saya. Semua mendapat akhir yang cukup sesuai. Seperti lantai delapan yang tidak bisa menghargai apapun, baik itu uang atau kerja keras, yang berujung pada kejadian tidak menguntungkan. Lantai enam yang pulang dalam kondisi nahas. Lantai-lantai bawah yang berusaha tetap baik juga mendapatkan akhir yang sepadan. 

Mungkin apa yang bisa saya ingatkan pada diri sendiri adalah untuk tidak perlu membandingkan apa yang kita dapat dengan apa yang orang lain miliki. Karena memang begitulah garisnya, tidak peduli setidak adil apapun itu kelihatannya. Memang begitulah yang terjadi, dan kita hanya bisa memaksa diri untuk berpuas dengan apa yang kita miliki. 



Salam, Nasha

Ramai pembicaraan tentang BPJS belakangan, membuat saya ingin berbagi pengalaman tentang pengobatan yang saya lakukan menggunakan fasilitas BPJS beberapa waktu lalu. Mulai dari pemeriksaan di faskes awal hingga tindakannya di faskes lanjutan, sesuai dengan domisili saat ini yakni di Kota  Solo, dengan harapan pengalaman ini bisa menjadi informasi bagi yang ingin memanfaatkan BPJS juga.

Sejak mulai berlakunya BPJS Kesehatan sekitar sepuluh tahun yang lalu, ada banyak sekali cerita tentang layanan BPJS ini. Ada yang bersyukur karena tertolong dengan pengobatannya, ada juga yang mengeluh karena menganggap pelaksanaannya merepotkan atau pelayanannya tidak memuaskan. Memang, jika kita bandingkan dengan Askes dulu dimana pengobatan akan ditanggung di faskes manapun tanpa perlu alur tertentu, pelayanan BPJS yang memerlukan rujukan bertingkat tentu dirasa merepotkan. Namun, dengan meluasnya manfaat untuk tidak hanya bagi PNS tapi bisa seluruh warga Indonesia, hal ini bisa kita anggap sebagai kemajuan. 

Kasus yang banyak terdengar, mulai dari pelayanan yang tidak merata, fasilitas ala kadarnya, ataupun penanganan nakes yang tidak sesuai harapan; sebagian justru terjadi karena salah paham antara pihak-pihak terlibat. Ada yang tidak benar-benar memahami alur ketentuan yang telah ditetapkan BPJS lalu menyalahkan nakes yang bertugas. Ada nakes yang kurang komunikatif menjelaskan, lalu BPJS yang disalahkan. Meskipun tidak bisa diabaikan, masih ada pengelolaan yang kurang memadai dari lembaga BPJS itu sendiri. 

Saya sendiri pengguna Askes yang didapat sebagai fasilitas orang tua yang merupakan PNS. Tidak terlalu paham mengenai pembiayaan pengobatan dulu, tapi memang bia ditanggung Askes, khususnya yang rawat inap di rumah sakit. Sekarang, terdaftar juga sebagai peserta BPJS mengikuti suami, dan bisa mendapat manfaat juga dengan mengurusnya sesuai ketentuan berlaku.


Pengalaman Fasilitas BPJS

Sebelum menceritakan pengalaman saya menggunakan layanan BPJS di Solo, saya sudah pernah menggunakan sebelumnya untuk melahirkan. Tanpa direncakan sebelumnya, karena saya ingin melahirkan di RS sedangkan kondisi kehamilan normal, saya pun sudah pasrah jika harus membayar mandiri biaya persalinan. Lalu, hari ketika kontraksi muncul dan saya memutuskan ke rumah sakit, kondisi kehamilan dikategorikan darurat sehingga tindakan lahiran tersebut bisa ditanggung oleh BPJS. Memiliki pengalaman yang cukup positif dengan pelayanan BPJS begitu, membuat saya optimis menggunakan BPJS kembali untuk pembiayaan pengobatan saya berikutnya. 

Ketika melakukan pemeriksaan rutin secara mandiri sekitar tahun lalu, ada hal tidak normal yang saya ketahui, dan menurut dokter yang bersangkutan diperlukan tindakan medis untuk menanganinya. Dengan biaya yang tidak sedikit, tentu saya berpikir untuk memanfaatkan layanan BPJS. Berikut langkah-langkah yang saya lakukan:


  • Men-download aplikasi Mobile JKN

Diluar dugaan, ternyata apps ini cukup lengkap dan membantu. Kita bisa mengambil antrean melalui apps dan status pengobatan kita pun terlihat jelas disana. Selain itu, data anggota keluarga juga ada lengkap, serta juga bisa melakukan perubahan data dari aplikasi saja. Sangat membantu.

  • Mendaftar ke Faskes 1

Awalnya saya cukup skeptis apa benar nomor antrian bisa berjalan sesuai dengan aplikasi, ternyata benar. Saya datang ke Klinik Pratama Ananda, sesuai dengan data saya, pada jam perkiraan layanannya, lalu tidak perlu menunggu lama hingga saya masuk sesuai antrian yang saya dapat dari apps. Berbekal hasil lab dan surat rekam medis yang saya bawa, saya langsung mendapat rujukan ke Rumah Sakit tipe C. 

  • Mendatangi Faskes 2
Fasilitas Kesehatan 2 yang dimaksud disini adalah Rumah Sakit Tipe C yang ada di Solo, diantaranya adalah RS Panti Waluyi, RS Mata Solo, RS Kustati, RS Slamet Riyadi (DKT), RS Triharsi, RS Hermina, RS Braya Minulya, RS Kota Surakarta, RSUP Kota Surakarta, RS Bung Karno, RS Pku Sampangan. Saat itu, dokter yang bertugas meminta saya untuk memilih RS mana yang saya inginkan, bahkan diberi waktu dulu untuk mengobservasi.

Setelah memilih RS Hermina, mendaftar ke dokter spesialis yang ada di sana secara online, dan keesokan harinya ikut antri dengan pasien-pasien lainnya, saya akhirnya dirujuk lagi dengan alasan rumah sakit tersebut tidak menyediakan alat yang dibutuhkan untuk tindakan pada kondisi saya. Saya pun menyetujui, karena qadarullah, dokter pertama saya adalah dokter yang bertugas di RS Tipe B. Maka saya pun meminta RS tersebut sebagai rujukan selanjutnya.

  • Berobat di Faskes 3

Di Solo, pilihan RS Tipe B adalah RS Kasih Ibu, RS dr. Oen, dan RS Pku Muhammadiyah. Sedangkan, RS Tipe A adalah RS Moewardi dan RS Soeharso. Sesuai dengan niat saya untuk berobat dengan dokter yang melakukan pemeriksaan saya pertama, saya pun mendaftar sebagai pasien BPJS di RS dr. Oen Kandang Sapi. Setelah konsultasi, pengurusan berkas, dan penyetujuan layanan dari BPJS, maka disepakatilah tanggal tindakan.

Proses tersebut berjalan lancar, saya dilayani dengan baik, ditempatkan di kamar sesuai dengan kelas saya, dan mendapat apa yang menjadi hak saya sebagai pasien. Setelahnya, saya diminta untuk melakukan kontrol pasca tindakan yang juga ditanggung BPJS sebanyak satu kali konsultasi.


Nah, demikian cerita pengalaman saya menggunakan layanan BPJS Kesehatan. Sejauh ini, saya cukup puas dengan pelayanan yang diberikan, meskipun harus sabar dengan alur rujukannya. Maka dari itu, saya berobat mandiri dahulu, jika ada yang perlu ditindak lanjuti barulah saya mengurus penggunaan BPJS. Saya percaya, bahwa ketentuan itu awalnya dibuat dengan maksud yang baik, seperti subsidi silang dari yang lebih mampu ke kurang mampu, juga pemanfaatan seluruh faskes bukan hanya RS terkenal saja. Memang menjadi PR juga bagi BPJS bagaimana pengelolannya agar layanan BPJS bisa optimal sampai ke masyarakat luas. 



Salam, Nasha


Kota Padang dikenal sebagai surganya kuliner, bukan hanya di kancah nasional tapi juga internasional. Rendangnya yang melegenda sering kali dinobatkan sebagai makanan nomor satu di dunia. Tapi, rendang bukanlah satu-satunya makanan sedap di Kota Padang. Ada masakan lain yang juga wajib dicoba. Dengan racikan bumbu yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain, deretan kuliner berikut tidak akan saya lewatkan ketika mudik ke Kota Padang dan bisa jadi panduan untuk wisata kuliner kamu yang berlibur ke Padang!


  • Lontong Gulai

Selama tinggal di Jawa saya tidak lagi mengenal lontong gulai karena namanya adalah ketupat sayur. Ini masakan yang sama, karena di Padang, lontong yang dimaksud itu adalah ketupat, olahan beras yang dimasak menggunakan anyaman daun kelapa. Ada sebagia yang menyebutnya dengan katupek, tapi tidak jarang yang menyebutnya tetap lontong. Lontong gulai khas padang berisi ketupat, gulai sayuran (gulai cubadak/ nangka, gulai tauco, gulai paku/ pakis),  kerupuk merah muda, keripik balado, gorengan, juga telur bahkan mi goreng. 

Pilihan yang paling umum dan hampir pasti ada adalah gulai cubadak atau nangka muda. Biasanya disajikan dengan sedikit campuran kuah pical, semacam kuah kacang yang agak encer. Jangan lupa tambahkan bakwan atau yang paling nikmat adalah sala lauak, gorengan berbentuk bulat asal pariaman yang terbuat dari tepung beras, ikan teri, dan rempah-rempah lainnya. Sangat mudah menemukan penjual lontong gulai di Padang dengan rasa yang hampir sama enaknya, bahkan saya sulit menentukan mana yang paling recomended.


  • Soto Padang

Sebagai warga yang hanya paham masakan itu enak dan tidak, saya agak culture shock ketika orang Jawa makan soto dengan komentar "segar". Ternyata, karena soto yangs aya kenal dari Padang jauh berbeda dengan aneka soto di Jawa. Soto Padang sangat berbumbu, bahkan kuahnya berwarna cenderung gelap dibandingkan dengan soto di Jawa yang kuahnya cenderung bening. Di Padang, soto yang disajikan pada umumnya adalah soto daging sapi yang diiris tipis dan digoreng kering. Daging sapi tersebut, dipadukan dengan lasa (sohun), perkedel kentang, dan kerupuk merah. 

Ada beberapa restoran yang menjual soto padang, namun saya paling suka Soto Garuda. Dengan beberapa cabang yang tersebar di Kota Padang, soto ini mewakili rasa soto yang khas padang dengan rempah kuat dan rasanya yang nikmat. Jangan lupa nikmati bersama kerupuk jangek/ kerupuk kulit.


  • Sup Daging

Berbeda dengan soto yang berkuah gelap, sup biasanya memiliki kuah yang lebih bening meskipun tidak sebening soto atau sop seger yang ada di Jawa. Sup padang  berisi daging sapi yang dipotong kotak-kotak, kentang, wortel, juga daun seledri dan bawang goreng. Aneka rempah dipadukan untuk menghasilkan hidangan sup yang menggugah selera. 

Ada lebih banyak restoran yang menyajikan sup daripada soto, tapi yang cukup mewakili bagi saya adalah Sup Rajawali. Tempat makan yang disebut bopet ini sangat ramai dikunjungi sejak pagi hari, di jam bukanya pukul 06.00. Sama dengan soto, jangan tekejut dengan harga sup di Padang yang bisa melebihi harga nasi bungkusnya. Mungkin porsi dagingnya yang tidak pelit, bahan masakannya yang beraneka macam, juga prosesnya yang kompleks. 


  • Martabak Kubang

Juga dikenal sebagai martabak mesir, adalah makanan yang sekilas mirip dengan martabak telur. Tetapi jika dilihat lebih dekat, martabak kubang/ mesir lebih tebal dengan isian daging dan disaikan dengan kuah. Kubang  sendiri adalah nama daerah di wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sedangkan banyak sumber menyebut, bahwa penamaan martabak mesir karena awalnya makanan ini dikenalkan oleh orang Timur Tengah atau India, namun disebut warga setempat dengan orang Mesir, yang datang ke ranah minang. Makanan tersebut kemudian dimodifikasi dengan cita rasa lokal seperti yang kita kenal sekarang. 

Martabak ini terbuat dari adonan tepung yang biasanya sudah disiapkan berbentuk bulat-bulat, lalu akan disiapkan sedemikian rupa dengan adonan telur agar bisa diisi dengan potongan daging sapi berbumbu dan daun bawang. Setelah dibentuk menyerupai persegi panjang, martabak akan dipanggang di wajan bulat pipih. Disajikan hangat dengan kuah cuka dan potongan cabe, satu gigitan saja sudah bisa dibedakan dengan martabak telur yang kita kenal biasa. Restoran yang paling terkenal untuk sajian martabaknya adalah Bopet Kubang Hayuda dan Bopet Malabar. 


  • RM Padang

Tidak perlu sulit mencari, karena semua rumah makan akan menyediakan nasi padang. Sebenarnya apa yang membedakan nasi padang dengan nasi lauk lainnya adalah cita rasa dari lauk-lauknya itu sendiri. Gulai di Padang sangat kental dan kaya rasa. Tidak banyak pilihan sayuran. Biasanya ditambahkan dengan sambalado (cabe goreng) juga karupuak balado (kerupuk cabe). Di Rumah Makan Padang, lauk yang menjadi andalan bukanlah ayam goreng seperti rumah makan pada umumnya, namun adalah dendeng balado, rendang, gulai cancang, tunjang, juga ayam pop. Sayurannya tidak banyak variasi seperti di rumah makan Jawa, hanya gulai pucuak ubi (daun singkong), kubis, atau kacang panjang. 

Hampir semua rumah makan di Padang menawarkan rasa yang serupa, silahkan dipilih berdasar lauk yang direkomendasikan. Saya akan merekomendasikan RM Lamun Ombak untuk aneka lauk yang terjaga rasanya sejak pagi, lalu RM Simpang Raya untuk ayam pop, RM VII Koto Talago untuk gulai tunjang, RM Uni Devi atau Fuja untuk pilihan seafood, RM Mutiara Malam atau RM Singgalang untuk masakan malam hari.

  • Nasi Goreng

Tidak sulit menemukan nasi goreng yang lezat di Padang, tentu dengan bumbu yang cukup kuat juga. Cita rasanya dibangun dengan campuran bawang dan cabai keriting, bukan dengan cabai rawit dan kecap. Sehingga akan berwarna cenedrung merah bukan coklat, dan dominan rasa pedas asin bukan manis. Sebagian lagi juga menambahkan bumbu kari untuk memperkuat rasa rempahnya. Hampir semua nasi goreng di Padang menawarkan cita rasa demikian, jadi cari saja kedai nasi goreng yang rata-rata buka di sore hingga malam hari.

Namun, jika ingin benar-benar khas minang, siahkan coba nasi goreng patai atau nasi goreng yang dicampur dengan tambahan petai. Karena saya kurang suka petai, jadi hanya bisa merekomendasikan satu tempat makan yang paling terkenal yaitu Nasi Goreng Patai Thamrin. Lokasiny juga cukup strategis. Tidak jauh dari sana ada area pecinan yang juga menjual aneka nasi goreng. 

  • Menu Cemilan

Selain makanan 'berat' diatas, Padnag juga memiliki aneka masakan lain yang bisa disantap diantara waktu makan. Saya merekomendasikan olahan martabak manis (kadang juga disebut roti prata juga planta atau roti canai), lalu ada kerupuk kuah yang semakin sedap dinikmati di pinggir pantai, sala lauak yang juga banyak dijual di pinggir pantai. Tak lupa, ada minuman khas teh talua yang wajib dicoba, karena akan suli dijumpai di wilayah lain. Penikmat durian juga tidak boleh melewatkan es durian yang rasanya tentu berbeda dengan es durian yang ada di kota lain, karena durian dari Sumatera Barat ini wangi, manis, meskipun tidak terlalu besar. 


Nah, itu sediki rekomendasi makanan yang harus dicoba ketika berkunjung ke Kota Padang. Ada banyak makanan lain yang tidak kalah lezatnya, tapi terletak di luar Kota Padang, meskipun masih sama-sama di Sumatera Barat, seperti di Kabupaten Pariaman, Bukittinggi, juga Payakumbuh. Selamat mencoba!



Salam, Nasha

Beberapa hari terakhir, sepertinya media sosial kita cukup dihebohkan dengan berakhirnya Serial Korea berjudul Queen of Tears. Tayang setiap Sabtu Minggu di Netflix, drama ini berhasil menduduki peringkat teratas drama TvN dengan rating penutup hampir 25%. Angka itu menunjukkan banyaknya penikmat drakor yang menyaksikan drama ini. Ditambah dengan berbagai cuplikan dan pembicaraan setelahnya, membuat siapa yang belum menyaksikan seakan ketinggalan. Namun, tidak perlu risau, karena ada beberapa alasan yang menguatkan bahwa tidak apa tidak menyaksikan, tidak apa tidak mengikuti keseluruhan ceritanya.


Sejak munculnya pemberitaan tentang kerja sama antara Kim Soo Hyun dan Kim ji Won dalam satu serial drama ditahun lalu, saya sudah mencatat bahwa saya akan menonton drama mereka, tidak peduli ceritanya tentang apa. Kemudian, disebutkan pula bahwa genrenya adalah komedi romantis, salah satu genre favorit saya. Tentu semakin bersemangat menunggu tayangnya drama ini di Maret lalu.

Episode-episode awal berisi semacam perkenalan antara kedua tokoh utama, lengkap dengan latar belakang mereka masing-masing. Hong Hae In (Kim Ji Won) sebagai direktur utama pasaraya sekaligus keluarga pemilik sedangkan Baek Hyun Woo (Kim Soo Hyun) dari keluarga sederhana di pinggiran kota yang kemudian menjabat sebagai direktur hukum. Dengan alur maju mundur, kita paham bahwa kedua orang ini pernah begitu saling menyayangi hingga memutuskan menikah. Sayangnya, hubungan romantis itu tidak berlangsung lama karena beberapa tahun kemuudian hubungan mereka memburuk. Berbagai masalah pernikahan menghantui, komunikasi mereka memburuk, tidak ada lagi waktu dan tenaga yang disisihkan untuk satu sama lain, seolah kasih yang dulu bersemi sudah berguguran semua.

Ditengah perbedaan kondisi mereka yang semakin kentara dan istri yang semakin dingin, Hyun Woo berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri melalui perpisahan. Ia ingin keluar dari keluarga chaebol yang tidak cocok dengannya tersebut. Diam-diam Hyun Woo memantapkan hati dan menyiapkan berkas perceraian. Namun disaat yang bersamaan, Hae In memberitahunya bahwa usianya tidak lama lagi akibat penyakit langka yang ia derita. Dari sinilah, kisah cinta lama bersemi kembali antara pasangan ini dimulai. Dan disini jugalah, sulit untuk menemukan adegan romcom sesuai yang disebutkan pada genre drama ini. 

Saya sendiri tidak bisa menganggap lucu potongan adegan komedi apa yang ditampilkan karena tokoh utamanya saja sudah begitu memprihatinkan kondisinya. Hae In yang sejak awal digambarkan dingin tapi sebenarnya lembut hati ditimpa berbagai masalah. Ia anak sulung yang terlahir dari keluarga konglomerat yang dikepalai oleh sang kakek, jadi tipikal cerita serupa akan ada perebutan hak waris yang membuat ia bekerja sangat keras. Ditambah dengan ia dituduh sebagai penyebab meninggal kakaknya oleh ibu kandungnya sendiri. Ia tidak akrab dengan keluarganya sendiri. Sekarang ditambah dengan penyakit langka itu. Belum lagi tambahan tingkah para tokoh antagonis dari pihak luar yang terus menyusahkan. 

Adegan-adegan terus disajikan untuk membangun empati kita pada para tokoh terutama tokoh utama. Bagaimana Hae In yang terlihat sangat mandiri ternyata begitu kesepian dan butuh kasih sayang. Ia dipertemukan dengan Hyun Woo yang tumbuh dalam keluarga hangat, tumbuh sebagai pria yang percaya diri juga kompeten. Hampir setiap tokoh diceritakan dengan lukanya masing-masing yang bis amembuat kita tersentuh dan berempati dengan kisah mereka. Bahkan, Eun Song (Park Sung Hoon) yang menjadi dalang dari banyaknya masalah, diceritakan juga memiliki luka sendiri sehingga sebagian kita sulit untuk benar-benar membencinya. Keterikatan emosional yang dibangun, acting para pemain, juga visual yang memanjakan mata inilah yang membuat penonton terus melanjutkan ke episode-episode berikutnya.

Setelah menyelesaikan keenam belas episodenya, sebenarnya saya cukup lega saja dengan keseluruhan ceritanya, terlepas dari hal-hal dramatis dan konflik-konflik yang sebenarnya tidak perlu ada. Setidaknya, akhirnya memang sesuai dengan yang diinginkan penonton, happy ending. Buah kerja keras dari seluruh tim yang mengerjakan proyek drama ini menghasilkan rating yang sangat memuaskan. Mungkin apa yang ditawarkan sesuai dengan selera mayoritas pasar. Mungkin memang cerita fiksi dramatis begini yang diinginkan. Mungkin banyak dari kita yang ingin sejenak bisa lupa dengan masalah sendiri dengan menyaksikan masalah kompleks orang lain, dalam hal ini tokoh fiksi dilayar sana. Mungkin kita hanya penasaran dengan potongan selanjutnya karena terlanjur teraduk emosi dengan potongan adegan sebelumnya. Mungkin memang naik turun emosi itu yang kita cari. Mungkin memang subgenre makjang ini yang banyak diminati.

Dari drama ini saya tahu tentang subgenre drama makjang, dimana ceritanya akan penuh dengan plot twist yang dilengkapi dengan bumbu-bumbu dramatis. Tokoh protagonis akan ditampilkan memiliki sisi yang mengharukan, sebaliknya tokoh antagonis akan menjadi sangat kejam dan mengundang kebencian. Plot twist yang mengejutkan dan tidak masuk akal. Banyak adegan yang bisa mencengangkan, dan terus ditampilkan, bahkan dalam durasi yang cukup panjang, dalam serial ini per episodenya sekitar satu setengah jam. Padahal tanpa adegan tidak perlu, drama ini bisa diselesaikan saja menjadi 12 episode dengan durasi 1 jam per episode. 

Singkatnya, jika ingin menyaksikan apa yang menjadi perbincangan belakangan ya silahkan. Jika tidak, ya tidak apa karena tidak akan ketinggalan apa-apa juga. Ada bagian-bagian yang disajikan cukup rapi seperti karakter dari masing-masing tokoh serta perkembangan mereka. Mulai dari tokoh Hae In yang digambarkan dingin namun juga memiliki sisi lembut dan cute. Tokoh Soo Cheol (adik Hae In) yang tidak kompeten namun ternyata bersifat sangat kebapakan. Keluarga Hyun Woo khususnya sang ibu yang sangat bijaksana, serta ayah Hae In yang tidak ambisius sama sekali dengan karir menterengnya.  Ada pula adegan-adegan yang cukup mengena dihati, bahkan bisa membuat kita menitikkan air mata, dan masih saya kenang hingga sekarang. Ditambah dengan deretan soundtrack yang terus terngiang di telinga. 

Mungkin ini memang bukan jenis drama favorit saya, karena tidak bisa dikatakan menghibur, tidak bisa juga dikatakan mencerahkan dengan pelajaran-pelajaran kehidupan, juga tidak pula menambah pengalaman dengan merasakan apa yang dirasakan tokoh. Ceritanya terjahit dalam adegan-adegan yang kadang sulit diterima logika, dengan alur yang agak mengada-ada dan adegan yang terlalu dramatis. 

Jadi, ini cukup sekedar sebagai tontonan yang berpotensi membuat kita mengalami naik turun emosi. Sekian ulasan dari saya, yang tidak merasa rugi telah menyaksikannya namun sayangnya juga tidak akan merekomendasikannya.



Salam, Nasha

Sebagian kita mungkin pernah sulit atau malah banyak tidur, tidak mampu mengontrol makan, berbicara dengan nada tinggi, sangat mudah tersinggung; ataupun menghadapi gejala sakit kepala, sakit perut, jantung berdetak cepat. Kadang kita mencari tahu apa yang memicu keluhan tersebut, kadang juga tidak. Padahal penting untuk mencari tahu akar permasalahan agar bisa ditangani dengan tepat. Seperti keluhan diatas yang erat kaitannya dengan kondisi stres tubuh, jika hanya diobati permukaannya saja tanpa mengatasi stres sebagai penyebabnya, maka keluhan itu akan terus berulang. Beberapa studi bahkan sudah mengklasifikasikan kecenderungan tubuh kita dalam menunjukkan stress dalam teori stress language. 


Stress Language

Sebelum stress language, mungkin kita sudah lebih dulu kenal dengan love language atau bahasa cinta. Lima cara umum yang ditunjukkan seseorang saat mengekspresikan kasih sayangnya pada orang lain. Serupa dengan itu, stress language adalah cara yang ditunjukkan seseorang ketika sedang merasa tertekan atau stress. 

Teori yang paling dikenal adalah milik Chantal Donnelly sebagai cara untuk memahami kecenderungan pola perilaku seseorang ketika ia sedang kewalahan atau kesulitan. Kita bisa memperhatikan sendiri kecenderungan respon kita terhadap stres tersebut, termasuk kategori yang mana, dan bagaimana saran menghadapinya. Secara umum, bahasa stres ini bisa kita gunakan sebagai sinyal untuk kembali memperhatikan diri dan sebagai sinyal juga untuk lebih bijak juga ketika berhubungan dengan orang lain. Mungkin dengan mengambil jarak dulu, mungkin engan mengkomunikasikannya, atau mungkin ketika kita tahu saat orang lain sedang stres justru kita yang berinisiatif membantunya.  

Sama dengan bahasa cinta, kita juga bisa memiliki lebih dari satu bahasa stres atau bisa jadi juga kita menggunakan bahasa yang berbeda dengan orang yang berbeda. Itu hal yang normal. Kelima bahasa stres tersebut antara lain:

  • The Exploder

Mungkin kita mengenal orang dengan tipe ini sebagai mereka yang mudah marah atau meledak, bahkan untuk hal-hal sepele. Padahal, itu cara yang biasa mereka tunjukkan ketika sedang stres. Maka, harusnya bukan jangan marah yang menjadi jalan keluarnya namun dengan mengelola stres tersebut. Karena sesuai penjelasannya, tipe exploder ini adalah mereka dengan perilaku yang terlihat seperti kesal, frustasi, agresi, bahkan juga menuding orang lain atas kesusahan mereka. Mereka akan merespon solah-ola ada krisis dan akan menjadi marah, paranoid, atau tiba-tiba terdorong secara biologis untuk menyerang.

  • The Imploder

Sedangkan orang dengan tipe ini, biasana menginternalisasi stres yang mereka miliki. Mereka bisa merasa putus asa, tidak berdaya, dan cenderung menyalahkan diri sendiri dengan bahasa-bahasa yang penuh tekanan. Dijelaskan pula, tipe ini juga enggan atau kesulitan mengekspresikan yang mereka rasakan, melakukan kontak mata, sehingga apa yang mereka raskan akan teredam jauh. Tipe ini akan bersembunyi dari dunia luar ketika stres yang sayangnya sering disala pahami sebagai pengabaian. 

  • The Fixer

Tipe ini terlihat baik pada awalnya karena seolah membantu dengan segera mengerjakan dan memperbaiki banyak hal, sayangnya batasan semakin kabur bagi mereka. Ketika stres seorang dengan tipe fixer ini akan melakukan hal-hal yang tidak diperlukan, tidak percaya pada orang lain, repot sendiri, juga melewati batas, akibatnya ia sendiri bisa kewalahan mengerjakannya sambil mengeluh dalam omelan yang panjang. Mungkin mereka percaya dan terbiasa bahwa masalah itu harus diselesaikan segera, padahal kadang kita perlu mundur untuk bisa menyelesaikannya dengan lebih bijak. 

  • The Denier

Mereka yang masuk dalam kategori ini, biasanya adalah mereka yang meyakini bahwa menunjukan tanda stres adalah tanda kelemahan, sehingga mereka menyangkal kondisi bahwa mereka sebenarnya stres atau tertekan dengan keadaan. Mereka terus meyakinkan diri dan orang sekitar bahwa semua baik-baik saja, padahal jauh didalam diri mereka tahu tidak demikian sebenarnya. Kita bisa melihat mereka seperti mengabaikan kenyataan dan mencoba untuk optimis, sering kita sebut dengan toxic positivity.  Mengabaikan perasaan begini tidak bisa dibenarkan karena bisa berakibat pada emosi yang sering berubah dan meledak-ledak.

  • The Numb-er

Terakhir, tipe ini biasanya akan melarikan diri dari kondisi stres yang harusnya mereka hadapi dengan melakukan sesuatu secara berlebihan. Mereka bisa mengonsumsi alkohol juga obat-obatan terlarang. Kadang mereka juga beralih pada perjudian ataupun game online. Hal yang tidak negatif pun juga bisa menjadi pelampiasan mereka, seperti belanja, menelusuri media sosial, bahkan tidur secara berlebihan. Ada pula yang melakukannya engan berolahraga ataupun bekerja terus-terusan, hal yang bisa menjadi distraksi dan membantu melupakan apa yang terjadi tidak peduli jika  itu malah menyakiti diri. 


Pentingnya Mengetahui Tanda Stres Pribadi

Dalam teori-teori yang diungkapkan tentang stres itu, beberapa point penting kenapa kita perlu mengetahui stres language kita adalah:

- Sebagai sinyal pribadi untuk lebih memperhatikan diri
- Dasar komunikasi dengan orang sekitar untuk bisa lebih saling memahami
- Sebagai bahan pertimbangan agar lebih bijaksana bersikap 

Sebenarnya apa yang lebih penting dari mengategorikan diri sesuai dalam lima kelompok tersebut adalah untuk menyadari kondisi kita sedang stres atau tidak. Karena seringkali tekanan yang kita rasakan tersebut mempengaruhi bagaimana kita bersikap atas hal lainnya. Mengenal jenis bahasa stres ini membuat mata kita lebih terbuka, oh saya begini karena sedang ada tekanan dari arah sana, oh dia bersikap menyebalkan begitu karena sedang stres. Dengan begitu kita bisa lebih lapang memahami dan lebih bijak juga memisahkan mana yang perlu kena efek mana yang tidak. Kita juga lebih mudah untuk meminta dukungan ataupun mendukung orang dalam kondisi yang sama. 

Saya menyadari bahwa ketika ada banyak tekanan saja, saya menjadi sngat tidak sabar dan jadi lebih mudah marah pada apapun, bahkan pada anak-anak yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tekanan yang saya hadapi. Saya mengenal bahwa kadang yang membuat saya meledak bukanlah apa yang terjadi tapi lebih pada bagaimana kondisi diri. Perilaku anak yang sama misalkan, bisa saya respon dengan cara yang berbeda. Ketika sedang dalam kondisi prima, tingkah mereka bisa ditorerir dengan bercanda atau bisa dinasihati dengan nada rendah dan senyuman juga. Sebaliknya, ketika dalam kondisi stres, panggilan mereka saja bisa dibalas dengan sentakan yang menakutkan.

Membayangkan kondisi orang tua tidak stabil yang harus mereka hadapi inilah yang mendorong saya untuk belajar lebih banyak mengenali kondisi diri. Ketika tahu bahwa saya sedang stres misalkan, saya akan lebih banyak menghela nafas dan menggumam bahwa itu urusan lain, bahkan sering juga saya tulis. Menjelaskan dalam catatan bagaimana kondisinya, apa yang saya khawatirkan, dan apa yang bisa saya lakukan. Ketika merasa kewalahan atau tertekan lagi, saya tingga membuka buku catatatn tersebut dan menenangkan diri, yah setidaknya saya sudah melakukan apa yang saya bisa.  Mungkin stresnya masih tetap ada, tapi sudah mulai bisa ditempatkan dengan lebih tepat, tidak asal diledakkan kesembarang orang. 

Begitu juga dengan mengenali bahasa stres yang dimiliki oleh orang sekitar. Melihat gelagat mereka, membaca tanda bahwa ada hal yang mengganggu yang membuat mereka stres hingga melampiaskannya pada kita, bisa memberikan saya sedikit ruang lebih memahami mereka. Ketika seseorang menjadi mudah tersinggung dan meledak pada hal-hal sepele, daripada sekedar melabeli mereka dengan sifat pemarah, lebih melegakan jika kita mau melihat lebih dalam dan mengetahui yang sebenarnya. Seringkali mereka sedang tertekan atau bahkan terluka, sehingga ada bagian dalam diri mereka tersebut yang minta diperhatikan.

Kadang ada orang yang mau menyadari ini, banyak juga yang tidak. Kita memang tidak bisa serta merta memiliki hati yang lapang dan ikhlas menerima keadaan, ikhlas ketika orang terdekat sedang stres dan membahasakannya dengan cara yang tidak nyaman bagi kita, namun mengenali bahasa tersebut, memahami bahwa ada hal diluar kendali yang menekan mereka, dapat memberi kita bekal untuk bisa lebih banyak menghela napas. Untuk melihat lebih luas, dan membantu juga mendukung dengan cara yang lebih baik.


Salam, Nasha

Vaksin HPV belakangan menjadi semakin sering dibicarakan dalam rangka mencegah kanker serviks, penyakit yang memiliki angka mortalitas yang sangat tinggi. Karena hasil berbagai penelitian menunjukkan efektifitasnya yang tinggi dalam mencegah kanker leher rahim, maka sejak 2023, vaksin ini sudah disediakan dalam program sekolah untuk anak usia sekitar 10 tahun. Sedangkan kita yang berusia lebih dari itu, harus melakukannya secara mandiri dan memiliki prosedur tambahan bagi yang sudah menikah atau aktif secara seksual. Nah, berikut pengalaman saya sebagai perempuan menikah mulai dari pemeriksaan hingga vaksin HPV.


Vaksin HPV

Sebelum membahas tentang vaksin HPV, kita kenali dulu apa itu HPV atau Human Papiloma Virus. Sama seperti virus pada umumnya, virus ini juga ada di sekitar kita dan dapat merusak hingga mengakibatkan berbagai keluhan penyakit jika bersarang dalam tubuh. Virus ini tidak bisa disembuhkan tapi dapat hilang dengan sendirinya, bisa dicegah, dan bisa dilakukan tindakan tertentu seperti pengangkatan jaringan yang terinfeksi, sesuai dengan jenis virus dan kerusakan pada tubuh kita. Hingga kini setidaknya ada lebih dari 100 tipe virus ini, yang secara garis besar dapat dibedakan atas dua jenis yaitu high risk  dan low risk. High risk merupakan tipe yang menyebabkan penyakit kanker serviks seperti tipe 16 juga 18, sedangkan jenis low risk dapat menyebabkan penyakit kutil kelamin seperti tipe 6,11,40,42,44, dsb. 

Salah satu penyakit yang paling diwaspadai akibat dari virus HPV ini adalah kanker serviks. Artinya ada pertumbuhan abnormal dari sel-sel disekitar leher rahim dan dapat terbentuk menjadi tumor ganas. Biasanya pertumbuhan tidak wajar sel ini tidak disertai dengan gejala yang bisa kita sadari, kecuali saat sudah memasuki stadium lanjut. Jika terus dibiarkan sel ini akan terus meluas ke area tubuh lainnya dan semakin sulit diobati. Itulah kenapa pemeriksaan dini untuk mendeteksi adanya virus tersebut menjadi sangat penting.

Kita tidak bisa benar-benar mencegah virus ini, ukurannya sangat kecil dan sulit diketahui, namun perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan tubuh untuk memberi perlawanan yang lebih baik dalam melawan virus tersebut yakni melalui vaksin. Metode deteksi dini juga semakin berkembang dengan pilihan pemeriksaan  mulai dari IVA, Pap Smear, hingga HPV DNA. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Test IVA berbiaya sekitar 25ribu dan hasilnya dapat diketahui sekitar 15 menit, namun melansir dari jurnal PubMed, tingkat sensitivitasnya hanya sekitar 31.6% dan tingkat spesifikasi 87.5%. Pemeriksaan PapSmear ada dikisaran 500ribu dengan hasil diketahui setidaknya setelah satu minggu, namun dengan tingkat sensitivitas lebih tinggi yaitu 78%. Terakhir, HPV DNA yang lebih rinci dapat mendeteksi infeksi HPV sebelum terjadi perubahan sel, dikenakan biaya lebih dari 1juta dengan hasilnya keluar setelah 2 minggu, namun tingkat sensitivitasnya mencapai 100%.

Karena kita tidak benar-benar paham bagaimana penularannya, seperti apa perkembangannya, dan ukurannya yang sangat kecil sehingga sulit dideteksi dan tidak terlihat; maka apa yang bisa kita lakukan adalah mengupayakan semaksimal mungkin yang kita bisa mulai dari tidak berzina atau mempraktikkan gaya sex bebas, menerapkan pola hidup sehat, menjaga kebersihan, hingga melakukan vaksin lengkap HPV.


Tata Cara Vaksin HPV Perempuan Menikah

Tidak ada syarat khusus sebenarnya untuk vaksin HPV ini, hanya saja saat seseorang sudah aktif secara seksual kemungkinan ia terpapar virus HPV menjadi semakin tinggi, sehingga, akan lebih baik untuk mengetahui apakah ia sudah terpapar atau belum melalui berbagai metode pemeriksaan seperti yang disebutkan diatas. Jika sudah, tindakan selanjutnya adalah melakukan penanganan medis atas virs tersebut baru kemudian melakukan vaksin.

Setelah menikah lalu memiliki anak, saya baru muali memiliki kesadaran pada organ reproduksi, tapi baru benar-benar melaksanakannya setelah selesai menyusui. Maju mundur ingin melakukan pemeriksaan dan vaksin, akhirnya saya berkonsultasi pada dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.Og).

Tes pendeteksian tersebut sebaiknya dilakukan setelah masa haid dan tidak berhubungan seksual setidaknya tiga hari sebelum hari pemeriksaan agar hasil yang didapat lebih akurat. Sampel akan diambil dari leher rahim dan dibawa ke laboratorium. Ketika itu, saya ditawari untuk test HPV DNA sekalian dengan alasan lebih akurat dibanding Pap Smear saja, karena kedua pemeriksaan ini mendeteksi hal yang berbeda. HPV DNA mendeteksi keberadaan virus yang ada di leher rahim sedangkan pap semar memberu gambaran perubahan sel servix. Jadi, dalam satu waktu yang sama, sampel yang diambil dokter tersebut digunakan untuk tes pap smear dan hpv dna. Hasilnya keluar sekitar dua minggu setelahnya. 

Setelah dinyatakan aman, barulah kita melakukan vaksin. Sejauh ini, vaksin HPV tersedia dengan nama cervarix dan gardasil. Vaksin cervarix ini termasuk vaksin bivalen yang dapat melindungi dari dua tipe virus HPV yakni tipe 16 dan 18. Sedangkan vaksin gardasil terdiri dari dua jenis, yaitu gardasil-4 dan gardasil-9 yang angka dibelakangnya berarti banyak tipe virus yang dapat dicegah. Vaksin Gardasil-4 (kadang masih disebut gardasil saja), dapat melindungi kita dari virus HPV tipe 6,11,16, dan 18. Lebih baru, ada vaksin gardasil 9 dengan cakupan perlindungan lebih luas, yaitu terhadap virus HPV tipe 6,11,16,18, 31, 33, 45, 52, juga 58. 

Diantara ketiga tersebut, tentu yang perlindungannya lebih luas yang paling direkomendasikan. Sejalan dengan itu, harga vaksin gardasil-9 juga yang paling tinggi dibanding yang lainnya. Setelah mencari-cari perbandingan harga diberbagai klinik dan rumah sakit, akhirnya saya dipertemukan dengan rumah vaksin. Klinik yang menyediakan vaksin untuk berbagai keperluan ini hanya mengenakan elemen biaya untuk vaksin dan jasa sebesar 50ribu saja. Berbeda dengan rumah sakit, yang juga mematok harga untuk admin rumah sakit, biaya rawat jalan, juga biaya konsultasi. Itulah kenapa, biaya di rumah vaksin bisa lebih rendah. Untuk ketersediannya sendiri, kita bisa menghubungi kontak rumah vaksin yang ada dikota masing-masing. 

Vaksin HPV yang paling umum disediakan adalah jenis gardasil, kadang untuk gardasil-9 harus dipesan terlebih dahulu. Ketika itu, saya menunggu beberapa hari untuk kedatangan vaksin Gardasil-9. Melakukan vaksinnya pun bisa kapan saja, dengan prosedur penyuntikan di area lengan, yang syukurnya, tidak ada keluhan bagi saya setelahnya. Namun, ada juga yang merasa pegal, atau kesemutan, setelah divaksin. Jika setelah 24jam ada keluhan terkait dengan vaksin tersebut, sebaiknya dikonsultasikan kembali ya. Vaksin HPV harus dilakukan sebanyak tiga kali dan harus diselesaikan dalam waktu enam bulan paling lama satu tahun, dimana suntikan pertemadan kedua berjarak satu sampai dua bulan, dan vaksin ketiga dilakukan  empat bulan setelahnya.

Untuk biayanya, bisa dilihat di klinik atau rumah sakit terdekat, atau seperti saya bisa cek di media sosial rumah vaksin. Sebagai perbandingan, vaksin cervarix dipatok Rp800ribu, gardasil-4 sebesar Rp1juta, dan gardasil-9 sebesar Rp2.200.000 untuk satu kali suntik diluar biaya admin atau jasa dokter, yang saat saya dikenakan sebesar 50ribu. Namun, rumah vaksin cukup sering mengadakan berbagai promo potongan harga untuk vaksin-vaksin tersebut. Mengingat semakin urgennya pencegahan penyakit ini, tidak ada salahnya untuk kita mulai mengalokasikan dana demi kesehatan diri kita sendiri. 

Sepertinya hanya itu yang bisa saya ceritakan terkait dengan pengalaman saya untuk pemeriksaan pap smear, hpv dna, juga vaksin hpv. Jika ada pertanyaan lanjutan, boleh tulis dikolom komentar ya. Terima kasih.



Salam, Nasha

Kebiasaan yang sering kita lakukan pada momen hari raya begini adalah berkunjung ke rumah kerabat juga sanak saudara. Sekali dalam setahun, kita seperti memiliki waktu khusus untuk menjalin silaturahmi, bertukar kabar, bersuka cita dengan saling berbagi. Kadang kelelahan, tapi hati kita terisi penuh, tidak peduli kita tergolong ekstrover ataupun intorover. Ternyata, menjaga silaturahmi begini penting untuk hidup kita, sama pentingnya dengan kita menjaga diri sendiri. Kita coba bahas bagaimana pentingnya menjaga diri dan silaturahmi ini dalam kehidupan kita sebagai manusia, makhluk sosial. 


Silaturahmi

Mulai dari bulan ramadhan hingga lebaran ini, sepertinya kita perlu mengosongkan jadwal untuk menghadiri pertemuan-pertemuan yang berhimpitan. Ada yang dengan teman sekolah, teman kantor, sahabat, teman seperntauan, dst dalam bingkai buka bersama atau halalbihalal. Seolah berkumpul hanya bisa dilakukan dalam momen itu saja. Tidak jarang, ada orang-orang yang memang hanya kita temui dalam kedua agenda itu saja. 

Berbeda dengan tradisi buka bersama, tradisi halal bihalal ternyata hanya ditemuakn di negara kita saja. Ada banyak dugaan tentang asal usulnya, namun secara terminologi, halal bihalal (halla al-habl) bisa didefinisikan sebagai mengurai kembali benang yang kusut atau kita artikan untuk memperbaiki hubungan, mempererat tali persaudaraan, merawat kekerabatan. Meskipun tradisinya hanya ditemukan disini, namun anjuran untuk silaturahmi sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan Rasulullah telah memberi teladan dengan beberapa hadits tentang keutamaan bersilaturahmi. Selain sebagai bentuk kesetiaan kita pada apa yang dilakukan Rasulullah, yang membuahkan ridha Allah, menyambung silaturahmi juga punya banyak manfaat lain, seperti memperluas rezeki, menambah berkah usia, menjadikan pelajaran hidup, serta menyehatkan jiwa juga raga. Ajaran tentang silaturahmi seakan menyatu dengan budaya ketimuran kita yang kolektif, melahirkan tradisi-tradisi istimewa dimomen ramadhan dan lebaran. 

Agenda-agenda silaturahmi tersebut bisa jadi saat yang tepat bagi kita merefleksikan hubungan yang kita punya. Dengan keluarga dekat, dengan keluarga besar, dengan tetangga, dengan sahabat, teman, juga kerabat lainnya. Apakah hubungan itu cukup untuk membuat kita terdorong menjadi lebih baik atau lebih buruk. Apakah hubungan itu menjadi hal yang  melegakan atau malah menjadi beban. Apakah hubungan itu bisa membuat kita terbuka apa adanya atau malah sibuk berpura-pura. Tidak harus memilih, karena bisa jadi kita punya semuanya dalam hidup ini. Bisa jadi dengan seorang teman kita bisa apa adanya, tapi dengan keluarga besar kita berpura-pura. Bisa jadi juga ada teman yang memotivasi kita untuk bekerja lebih jujur tapi ada juga yang membuat kita memikirkan untuk berbuat curang saja.

Menyadari sedang ada difase mana hubungan kita dengan seseorang, membantu kita untuk lebih bijak menyikapi hubungan dan bagaimana merespon interaksi yang hadir diantaranya. Jika memang berharga dan baik untuk diri, bisa kita perjuangkan. Sebaliknya, jika sekedar kerabat yang banyak sungkannya, bisa kita abaikan. Ini juga akan membantu kita menghadapi kalimat-kalimat yang sering berujung menyakitkan hati, mana yang perlu kita tanggapi, mana yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri. 

Fenomena silaturahmi yang cukup menjadi bahan tak habis pikir untuk saya belakangan ini datang dari bersiliwerannya penawaran sewa iphone dan lanyard BUMN, serta fakta bahwa usaha mereka laku alias banyak yang menyewa. Alasannya beragam, ada yang untuk dokumentasi karena kualitas kamera iphone lebih mumpuni, tapi tak jarang juga yang karena gengsi. Rentang usia penyewa juga beragam, ada yang masih remaja, ada juga yang sudah tergolong dewasa. Mengherankan memang, namun ditengah era sosial media yang memperlihatkan sisi baiknya hidup saja, rasanya hal ini semakin mudah dimaklumi. 

Jadi, silaturahmi memang memiliki segudang manfaat dan sangat dianjurkan baik yang tertuang langsung dalam Al Quran maupun dalam hadits Rasulullah. Tapi bagaimana kita menjalani hidup dan menyikapi hubungan ternyata cukup membuat silaturahmi menjadi perkara yang perlu diberi catatan. Sejauh mana silaturahmi perlu dijalin, sampai batas mana kita menghadapi, dan apa saja hal-hal yang patut dan tidak patut didalamnya. 


Jaga Diri dan Silaturahmi

Dulu, mungkin kita hanya tahu dengan fenomena orang yang memaksakan pulang terlihat gemerlapan, bisa dengan mengendarai mobil baru, mengenakan perhiasan berlebihan, yang ingin menunjukkan betapa suksesnya diri ini. Sebenarnya sekarang fenomenanya tak jauh dari sana, hanya menyesuaikan dengan kondisi, seperti menggunakan ponsel terbaru, aksesoris perusahaan besar, pakaian merk terkenal, dsb. Jika kita lihat dari jauh, rasanya perilaku semacam ini sama sekali tidak sehat, dengan heran mempertanyakan, untuk apa menjalin hubungan yang tidak apa-adanya?

Bisa jadi tidak sama sekali, tapi bisa jadi juga kita melakukannya. Membeli barang yang terlihat merk-nya agar dianggap mampu mengikuti tren, memaksakan cicilan agar bisa membeli perangkat yang terbaru, menunda membayar yang sebenarnya lebih penting agar bisa membayar yang terlihat lebih penting. Maka, kita perlu mengingat dan saling mengingatkan tentang beberapa hal yang bisa kita jadikan catatan berkaitan dengan acara kumpul-kumpul yang kita lakukan. 

  • Menjaga Batasan

Kita memang berteman dengan siapa saja tapi kita perlu menentukan sendiri lingkaran mana yang kita inginkan dalam hidup. Sehingga, tidak apa jika kita ingin mengklasifikasikan kenalan, ada yang bersahabat dekat, ada yang teman satu lingkungan, ada yang pernah berteman, ada yang sekedar kenal, ada yang sebatas tahu saja. Dari sana, kita bisa memilah mana yang perlu rutin ditemui, mana yang berjumpa saat reuni, mana yang sebatas berpapasan tidak sengaja saja. Menjaga semua hubungan juga tidak memungkinkan mengingat waktu dan tenaga kita yang terbatas. 

Batasan ini juga termasuk pada menentukan mana yang omongannya perlu disimak, mana yanng perlu didengar, mana yang sambil lewat saja. Jika mereka bukanlah orang dekat, tahu sedikit sekali tentang kita, lalu mengomentari hidup kita, sudah tahu kan harusnya tidak kita ambil hati? Jangan malah terbalik-balik, omongan keluarga dekat dibantah, omongan kerabat jauh dipikirkan siang malam. 

Mungkin ada saatnya kita ingin berpura-pura, menampakkan hidup yang baik-baik saja, sehingga mengusahakan aksesoris sewaan agar apa yang kita ceritakan terlihat semakin nyata, tapi jika hubungan yang dipunya sudah tidak jujur sedari awal, apa masih layak dipertahankan? Jika menjadi diri sendiri saja kita tidak bisa, apa benar begitu hubungan yang kita inginkan?

 

  • Hubungan Memang Merepotkan

Hubungan sesama kita itu transaksional, sekeras apapun kita berusaha menampiknya. Tidak usah repot menyangkal bahwa semua berbekal ketulusan. Kita berteman karena mendapat kesenangan, karena bisa mengobati kesepian, karena memiliki kesukaan yang sama, karena bisa mengharap bantuan. Memang begitu adanya. Jadi, terima saja kalau hubungan itu merepotkan, membutuhkan waktu dan tenaga, butuh perhatian, butuh pertemuan, butuh telinga yang siap mendengarkan, butuh ucapan, butuh bingkisan. 

Sebenarnya, hanya kita masing-masing yang tahu hubungan yang kita punya membutuhkan apa saja. Jika sekarang sedang marak berkirim hampers, kita yang tahu teman mana saja yang butuh dan mana yang tidak. Jika sekarang apa-apa ada update-an di media sosial maka hanya kita yang tahu mana yang perlu di-update dan mana yang tidak. Begitu juga, ikita yang paling paham mana teman yang butuh bantuan mana yang tidak dan bantuan seperti apa yang mereka butuhkan. Kadang kita yang memberi, kadang kita menerima, sama-sama merepotkan, tidak apa. 

  • Berlapang Dada

Kita tidak bisa mengontrol orang lain, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka katakan, jadi berlapang dada saja menerima bahwa kadang ada orang yang bertingkah menyebalkan, ada teman yang sedang kelelahan, ada sahabat yang punya prioritas lain, tidak apa-apa. Kita juga kadang bisa berlaku demikian, menyebalkan bagi orang lain, tidak sesuai dengan harapan teman, tidak bisa membantu sahabat, tidak bisa hadir saat benar-benar dibutuhkan. 

Dalam banyak hal, mungkin hampir semuanya, berlapang dada ini adalah kunci. Bentuk pengakuan bahwa memang tidak semua hal bisa kita kendalikan, bahkan tidak ada yang benar-benar bisa kita kendalikan. Lakukan apa yang bisa ita lakukan, bertegur sapa, menjawab sopan ketika ditanya, membatasi diri dari interaksi, berusaha memperbaiki hubungan, dst. Hasilnya akan bagaimana, tinggal serahkan. Maka, ingat saja bahwa kehidupan tenang dan damai itu kita sendiri yang tentukan ukurannya, kita yang usahakan, dan Tuhan yang berikan. 



Salam, Nasha

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Rekomendasi Tas Sekolah Anak Minim Plastik, Pilihan Murah yang Tidak Murahan

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Juni 2026 (1)
      • Menerapkan Unbothered Energy dalam Kehidupan Sehar...
    • ►  Mei 2026 (1)
    • ►  April 2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Rekomendasi Tas Sekolah Anak Minim Plastik, Pilihan Murah yang Tidak Murahan

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes