• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Drama Korea atau biasa disingkat drakor jumlahnya kini semakin bertambah, seiring dengan semakin banyaknya penonton yang menjadikan drakor sebagai alternatif hiburan. Melampaui serial dari negara sendiri ataupun negara lain. Globalisasi membuat manusia dari belahan dunia manapun bisa turut menikmati karya buatan Korea Selatan ini, bahkan pada hari yang sama. Pertukaran informasi tanpa batas di sosial media juga turut menjadi alat yang ampuh dalam meningkatkan popularitasnya. 


Photo by KoolShooters in Pexels Edited by Canva

Sejarah Singkat Drakor

Drakor sendiri punya sejarah cukup panjang di negara asalnya. Hampir sama dengan seluruh bentuk hiburan video di berbagai negara, Korea juga memulai karya seni peran sejak tahun 1950-an dan terus berkembang dari dekade ke dekade. Pada masa awal tersebut, tayangan televisi banyak menyiratkan pesan-pesan anti komunis. Perkembangan teknologi televisi dari hitam putih menjadi berwarna juga meningkatkan minat masyarakat dalam menyaksikan drama. Apalagi semakin hari, televisi bukan lagi barang mewah yang hanya dimiliki kalangan tertentu. Semakin banyak keluarg yang memiliki televisi, tayangan di televisi menjadi hiburan keluarga. Ceritanya pun dibuat lebih dekat kepada masyarakat. 

Meskipun sempat ada pengetatan aturan dari pemerintah agar lebih banyak tayangan pendidikan, namun kreativitas seni pembuat drama tidak berhenti. Mereka tetap berkreasi, dengan lebih banyak drama tentang kehidupan masyarakat sehari-hari juga drama-drama sejarah sebagai pengetahuan dan untuk mengenag kehidupan leluhur mereka terdahulu.  

Maka setelah berhasil meraih penonton di negara sendiri, drama Korea mulai dinikmati oleh negara tetangga. Ada saling pengaruh antar sesama negara Asia Timur, yakni Jepang dalam karya-karya mereka. Dari berbagai sumber juga disebutkan bahwa Jepang dan Tiongkok adalah penikmat internasional pertama drama-drama Korea yang dimulai sejak awal tahun 2000-an. Barulah dengan tersedianya berbagai platform video online, drama korea bisa mencapai seluruh Asia Timur yang meluas hingga seluruh Asia dan seterusnya ke seluruh dunia.

       

Pesan Kesan Tersirat

Dalam berbagai adegan yang disuguhkan, mungkin kita sering mendapati adegan-adegan keseharian yang sama dari satu judul drama ke judul drama lainnya. Kita jadi tahu lebih banyak tentang kebiasaan hidup warga negara Korea, serta bagaimana mereka menjalani hidup. Kualitas drama yang semakin membaik juga tidak terlepas dari isu-isu yang diangkat berrdasarkan dari kehidupan warga korea secara khusus atau kita semua secara umum. Memang, karya yang baik seharusnya berisi pesan kebaikan pula. Nah beberapa pesan kesan tersebut antara lain:

  • Peduli Lingkungan

Ada cukup banyaka degan tentang buang sampah baik itu dalam film ataupun drama buatan Korea. Ada yang mencari kantong sampah ke kantor administratif setempat, ada pula adegan memisahkan sampah, hingga mendaur ulang sampah secara mandiri. Diketahui di Korea Selatan, memang ada aturan khusus dalam pembuangan sampah rumah tangga, dimana sampah tersebut harus dibungkus dalam kantong sampah yang disediakan pemerintah daerah. Ada beragam ukuran dan warna sesuai dengan sampah yang akan dibuang. Ini membuat warga lebih sadar akan volume sampah yang mereka hasilkan. Begitu juga dengan kebijakan pemisahan sampah berdasarkan kategorinya yakni makanan; bahan dapat didaur ulang seperti kaca, plastik, ataupun plastik;  pakaian; sampah besar seperti perabotan yang memiliki hari khusus dalam pembuangannya, serta sampah lain-lain. Ini sesuai dengan data bahwa Korea menempati negara ketiga dengan tingkat daur ulang tertinggi pada 2018 lalu. 

Ilustrated Picture


  • Kebiasaan Olahraga

Sering kali adegan dalam drakor dimana pemainnya melakukan olahraga, tidak yang susah, cukup dengan lari pagi. Kadang juga senam, bersepeda, renang, hingga golf. Mereka juga biasa berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain, meskipun kadang ada banyak tangga yang pelru dilalui menuju ke suatu rumah. Semua bisa dijangkau dengan transportasi umum ditambah dengan jalan kaki. Kenyataannya, oraang Korea memang menjaga keseimbangan tubuhnya dengan gerak aktif. Berjalan kaki dianggap sebagai pilihan yang paling mudah. Hal ini juga didukung dengan tersedianya trasnportasi dan jalur pejalan kaki yang memadai. Jika kita lihat diseluruh area lalu lintas yang ditampilkan, akan selalu ada jalur pejalan kaki di kiri kanan, yang memang digunakan orang untuk berjalan kaki bukan jalur lintas kendaraan roda dua apalagi untuk orang berjualan. 


  • Menggunakan Produk dalam Negeri

Masa-masa awal kemunculannya, sangat jarang menyaksikan pemain menggunakan produk buatan luar Korea. Se-simple handphone. Mereka akan menggunakan produk asal Korea seperti Samsung. Bukan hanya samrtphone, produk lain seperti barang elektronik hingga mobil juga buatan dalam negeri.Bahkan tidak sulit menemukan adegan dimana pemain mengagum teknologi buatan negeri mereka sendiri, seperti bisa menyalakan AC dari dalam mobil yang dikendarai. Banyak yang menyebutkan bahwa kecintaan pada produk sendiri dan bagaimana mereka bangga menggunakannya ini, cukup mendorong pertumbuhan ekonomi di Korea. Bahkan kita sebagai penonton yang sering terpapar dengan produk mereka jadi ikut terpengaruh untuk ikut menggunakannya juga, kan.


  • Pendidikan

Jika ada pemeran anak sekolah, maka tidak jarang kita menemukan adegan mereka pulang malam atau melanjutkan kursus sepulang sekolah. Ini memang hal yang biasa di sana. Tercatat bahwa durasi belajar di Korea sebagai peringkat dua dunia, setelah Tiongkok dan diikuti oleh Jepang, yakni selama delapan jam selama weekday dan setengah hari pada Sabtu. Ini baru kelas reguler, belum jika ada tambahan jam pelajaran serta kursus di akademi. Hari bersekolah juga cukup banyak dibanding negara lain yaitu selama 220 hari. Ini cukup menggambarkan kerja keras warga Korea yang dimulai sejak mereka masih anak-anak. Bagaimana mereka memandang kehidupan, kesuksesan, serta pentingnya pendidikan berbuah cukup manis dengan diakuinya Korea dalam jajaran negara dengan pendidikan terbaik di dunia, di pringkat 7 dalam rata-rata perihan skor PISA. Perkembangan yang sangat cepat, mengingat perkembangan pendidikan negara ini baru dilakukan seabad belakangan.   

Kerja keras tersebut terbukti berahasil dari berbagai parameter nilai, namun kita juga tidak bisa menutup mata dengan tingginya angka depresi pada murid sekolah di sana. Bahkan BBC menyebutkan bahwa Korea Selatan adalah negara dengan kasus bunuh diri tertinggi diantara negara OECD lainnya. Bunuh diri adalah penyebab utama kematian remaja (usia 10-19 tahun) dengan persentase 43.5%. Ini angka yang sangat memprihatinkan, bersebelahan dengn kesuksesan korea dalam menguasai ekonomi sejak setengah abad terakhir, masyarakatnya menjadi sangat kompetitif dan fokus pada kesuksesan materiil sehingga mengalami banyak masalah psikologis. Ini juga yang menjadi concern para pelaku seni, membuat berbagai karya dalam hal ini drama, yang bertemakan pendidikan. Baik itu tuntutan lingkungan ataupun ambisi dari orang tua sendiri. 

Ilustrated Photo

  • Kesehatan Mental

Sejalan dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental begitu juga dengan isu yang diangkat dalam drama korea. Ada cukup banyak drama yang mengisahkan tentag orang dengan penyakit mental. Bukan hanya sebagai kisah utama dan segala lika liku hidupnya, namun kadang juga sebagai pemeran pendukung. Dikisahkan bahwa mereka tetap bisa berinteraksi seperti orang-orang sehat pada umumnya. Perlakuannya pun sama. Kadang bisa kambuh, lebih banyak sembuhnya. Hampir sama dengan orang dengan penyakit lain, maag atau gerd misalkan. Tetap bisa berkarya, berfungsi dalam sosial, hanya ada waktu-waktu atau penyebab-penyebab yang membuat penyakit tersebut kumat. Ini cukup membantu dalam mengedukasi masyarakat bagaimana kita semua melihat penyakit mental secara umum, bagaimana seharusnya bertindak, dan bahwa penyakit mental adalah hal yang biasa sama dengan penyakit lainnya. 


  • Teknologi Kedokteran

Keseriusan para pembuat drakor ini dalam mengarap karyanya, membuat drakor bisa dijadikan media pembelajaran bidang-bidang tertentu. Kedokteran misalnya. Ada cukup banyak drama korea yang bertemakan kehidupan dokter, lingkungan rumah sakit, dsb. Jika pun bukan bertema kedokteran, topik kesehatan atau berobat adalah hal yang cukup sering dibahas. Tentang keluarga yang harus menjalani pengobatan, bahkan operasi besar. Orang tua yang tetap semangat diobati. Sedikit banyak ini memberi kita pengaruh bahwa beroat, dokter, ataupun rumah sakit bukanlah hal yang menyeramkan dan perlu dihindari. Kita tumbuh dengan anggapan bahwa obat, dokter, dan rumah sakit adalah hal yang perlu dihindarii. Memang, harapannya kita bisa terus sehat sehingga tidak perlu berobat. Namun, kalaupun akhirnya sakit ya berobat juga tidak masalah. Rutin mengkonsumsi obat, berkunjung ke dokter, bahkan harus menjalani rawat inap di rumah sakit tidak perlu dianggap masalah besar yang ditakutkan. Itu hanya langkah yang perlu dilakukan agar kembali sehat. 


  • Ketertiban dan Keselamatan 

Ada satu adegan yang sangat sering diulang dalam berbagai drama korea yaitu memanggil supir pengganti. Kebiasaan mereka dalam mengkonsumsi minuman beralkohol, membuat adegan menunggu supir untuk mengantarkan pulang ini jadi cukup mudah ditemukan. Ini menjadi penegas bahwa mekipun minum minuman beralkohol, mereka tetap harus bertanggung jawab dengan tidak berkendara sendiri. Tidak jarang juga ada adegan yang saling mengingatkan agar tidak menyetir, atau adegan yang menolak minuman alkohol dengan dalih akan berkendara sendiri. Setelah adegan minum alkohol bersama pun, jika ada yang berkendara sendiri, maka akan ada dialog bahwa ia tadi tidak minum. Ini bentuk tanggung jawab mereka pada keselamatan orang lain atas kebiasaan mereka minum minuman beralkohol. 

Selain itu, adegan teguran lain juga ada. Seperti menggunakan handphone ketika berkendara. Jika diceritakan seorang pemain melakukannya, maka ada adegan lanjutan berupa teguran yang mengisyaratkan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan. Ketertiban berlalu lintas juga nampak apda adegan menyeberang jalan di JPO dengan memperhatikan rambu-rambu yang ada, juga tertib dalam naik turun transportasi umum. Ketertiban di rumah juga sering dinampakkan,dalam hal makan bersama misalkan. Bagaimana menghormati yang lebih tua, dan bagaimana mereka menghargai makanan yang tersedia di meja. Hal-hal rinci seperti ini cukup menambah daya tarik saat menyaksikan kehidupan fiksi drama korea. 

Ilustrated Photo

Dari pesan kesan diatas, jangan lupa bahwa ada kesan pesan yang harus disadariu bukanlah kebiasaan yang sesuai dengan kehidupan kita.Melihat adegan ini berulang-ulang bisa menjadi pesan pada pikiran bahwa ini hal biasa, padahal potongan-potongan kejadian berikut tidak bisa kita biasakan. Kita harus menyadari, bahwa ini hal yang keliru sehingga tetap bisa menyaksikan tanpa terus terbawa ke alam pikiran. Hal-hal tersebut antara lain:

- Kebiasaan Minum Beralkohol

Perlu diketahui bahwa Korea merupakan negara dengan tingkat konsumsi alkohol tertinggi di Asia. Tercatat pada warga diatas 15 tahun bisa meminum alkohol hingga lebih dari 10 liter per tahun. Menilik sejarahnya, minum alkohol bukan hanya sebagai pelepas penat yang biasa kita pikir, tetapi merupakan bagian dari tradisi sosial yang sudah dimulai sejak dinasti Joseon. Melihat adegan itu terus menerus, jangan sampai kita jadi mewajarkan minum alkohol, karena bukan saja tidak sesuai dengan nilai yang diyakini, minuman berlakohol juga tidak baik untuk kesehatan.

- Kekerasan dalam Keluarga

Bukan rahasia bahwa negara-negara di kawasan Asia Timur mendidik anak mereka dengan cukup keras. Ambisi untuk sukses sudah mendarah daging, hingga kini mereka sudah menguasai banyak aspek secara global. Adegan yang cukup sering adalah orang tua yang menepuk punggung hingga kepala anak. Bentuk hukuman fisik pun bukan hal asing jika melakukan kesalahan. Kenyataannya, cara ini sangat riskan. Bisa berhasil baik namun juga bisa merusak. Faktanya, ada banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mendorong anak menuju keberhasilan atau dalam memberi konsekuensi atas kesalahan seseorang. 

- Sex Bebas

Banyak drama romantis yang ditampilkan lengkap dengan adegan sex diluar nikah. Pergaulan bebas memang hal lumrah yang terjadi di Korea, meskipun cukup jauh dari budaya timur yang menjungjung nilai-nilai asusila namun begitulah kenyataannya di Korea. Mereka menganggap kontak fisik mulai dari pelukan, ciuman, hubungan sex, hingga hidup bersama adalah hal biasa sebelum pernikahan. Sering menyaksikan hal tersebut jangan sampai membuat kita terpengaruh dan mengikutinya ya. Karena kita punya nilai sendiri yang harus dipegang teguh dan memahami konsekuensi yang mengikutinya. 

- Visual Memukau

Menyenangkan memang melihat hal-hal yang indah, melihat keelokan paras para pemain dalam drama korea. Bukan hanya soal wajah, drama korea menampilkan visual yang apik dalam tiap aspeknya. Barang yang digunakan pemain, rancangan kamar tidur, rumah, perkantoran, semuanya memanjakan mata. Selain karena negerinya sendiri memang cukup indah dan tertata rapi, perlu diingat bahwa drama memang diciptakan dengan kondisi terbaik. Bisa jadi itu realita, namun perlu disadari bahwa tetap ada polesan yang membuatnya lebih sedap dipandang mata. Sehingga tidak perlu membandingkan tampilan yang ada di drama dengan di dunia nyata. Mencontoh semampunya, sadari realita kita. 


Itulah sederet kesan pesan tentang kehidupan di Korea Selatan yang bisa kita ambil dari menonton drakor. Meneruskan ungkapan you are what you eat, kita juga perlu memilah apa yang kita konsumsi, apa yang kita lihat, apa yang kita tonton, karena itu akan membentuk diri kita. Sadari, bahwa ada hal baik yang bisa ditiru, ada juga hal keliru yang tidak perlu kita teruskan. Sejauh ini, drama korea memang memiliki kualitas yang sangat baik sebagai hiburan bahkan media pembelajaran. Kualitas para pelaku seninya, teknologi yang digunakan, tema yang dibahas, visual yang memanjakan mata, dan totalitas dalam penciptaan karyanya, memang membuat drama korea patut dicungi jempol. Bahasan kesan pesan ini hanyalah sebagai pengingat bahwa kita perlu tetap berkesadaran penuh dalam menikmati hal sebaik apapun itu. 



Salam, Nasha

Ada begitu banyak cara dalam menyampaikan pesan dan masing-masing kita punya preferensi yang berbeda dalam penerimaan makna. Ada yang datang dari hal-hal nyata yang diungkapkan secara langsung, ada pula yang melalui kisah-kisah fiksi dengan nilai yang tersirat. Karya seni yang diciptakan demikian apik, bisa membuat kita bergidik. Memberi pesan lebih dari apa yang bisa kita bayangkan.  Buatku, salah satunya adalah melalui tontonan. Drama The Good Bad Mother ini misalkan. Makna tentang kasih ibu bisa menjadi sedalam itu.

Ilustrated Photo by RDNE Stock project in Pexels Edited by Canva

The Good Bad Mother menceritakan tentang seorang ibu peternak babi yang menjadi single mother setelah suaminya meninggal saat bayi mereka masih dalam kandungan, bernama Young Son. Dari awal diberikan adegan yang menyiratkan bahwa Young Soon ini adalah orang yang ramah dan disukai oleh banyak orang. Ia menjalani hidupnya dengan cara menyenangkan, ia bahagia dengan apa yang ia miliki. Hingga ia menikah dan memiliki anak, namun kematian suaminya yang mendadak dan ia percaya dengan tidak adil, membuatnya menjalani hidup dengan cara berbeda.

Dalam keadaan tertekan harus mengurus anak dan peternakan babi sekaligus, ia menjadi perempuan paling bekerja keras. Tetap berusaha menjalani peran sebagai tetangga yang baik, mengupayakan semaksimal mungkin untuk membesarkan peternakannya, hingga tekad kuat dalam mendidik anak satu-satunya. Inilah yang menjadi pusat cerita serial ini. 

 

Adegan demi adegan silih berganti memberi kesan bagaimana Young Soon mendidik anaknya, Choi Kang Ho, dengan sangat keras dan mengekang. Anaknya tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya. Ia tidak berangkat piknik. Ia hanya belajar. Waktu istirahat untuk bermain bersama teman juga ia gunakan untuk belajar. Ia bahkan tidak diperbolehkan makan sampai kenyang karena bisa mengantuk sehingga mengurangi waktu belajar. Bukan hanya soal belajar, Kang Ho juga dididik untuk tetap sopan. Saat terlibat masalah dengan teman di sekolah, ibunya tidak akan datang untuk membela Kang Ho namun untuk menegurnya. Menghukumnya dengan keras. Miris sih melihat perlakuan ibunya pada Kang Ho, seperti tanpa belas kasih. 

Young Soon memperlakukan Kang Ho seolah tutup mata pada semua hal, dan hanya punya satu tujuan. Agar ia bisa menjadi penegak hukum yang bisa memberi keadilan pada orang-orang tanpa kuasa seperti yang ia dan suaminya alami dulu. Akhirnya Kang Ho tumbuh sesuai dengan yang Young Soon harapkan. Ia menjadi siswa paling berprestasi dengan nilai akademis paling tinggi. Cerita ini mungkin terasa relate bagi kita warga Asia karena sedikit banyak memang begitulah kita dibesarkan. Latar belakang kehidupan ekonomi dan sosial, serta keyakinan bahwa kehidupan akan berubah jadi jauh lebih baik saat kita meraih kesuksesan. Kesuksesan adalah mendapat pekerjaan yang bonafide yang dimulai dengan nilai akademis di sekolah. Didikan yang mengarah pada keberhasilan karir, sounds familiar, right?

Hal yang cukup menarik adalah Young Soon tidak hanya memaksa Kang Ho untuk belajar begitu keras, namun ia juga memaksa dirinya sendiri bekerja dengan sangat keras agar Kang Ho memiliki harapan hidup lebih baik dari yang ia jalani. Ia mencari tahu berbagai makanan untuk meningkatkan kecerdasan, ia mencatat segala informasi yang diperlukan dalam menunjang pelajaran anaknya. Ia bekerja tak kenal lelah di peternakan, ia juga memastikan orang-orang sekitar tidak terganggu. Catatatan bahan makanan yang ia tempel di dapur adalah wujud cinta dan kerja keras seorang ibu. 

Ilustrated Picture by cottonbro studio in Pexels Edited by Canva

Kesempatan kedua yang datang dari kecelakaan membuat ibu dan anak ini merefleksikan kembali hubungan mereka berdua. Penilaian dan kesimpulan pendek yang kita ambil selama episode-episode awal mulai terkuak perlahan di akhir-akhir cerita. Ini yang membuat drama ini sedikit berbeda, kebenaran-kebenaran yang terungkap dari hubungan ibu-anak ini sangat menghangatkan hati.

Kita jadi tahu bahwa seorang ibu akan sangat menyayangi anaknya. Apa yang ia lakukan hanyalah wujud dari apa yang terbaik yang bisa ia pikirkan. Mungkin kita punya banyak sanggahan dari bagaimana mereka memperlakukan, tapi dalam keterbatasan pikiran harusnya ada pemakluman. Young Soon dalam keadaan mendapat ketidakadilan hanya bisa berpikir bahwa anaknya tidak boleh mendapat perlakuan sama nantinya. Maka ia bekerja begitu kerasnya agar anaknya mendapat peluang. Ia kesampingkan perasaaannya sendiri untuk memanjakan, untuk berlemah lembut pada anaknya, demi masa depan anak. Apa yang ia tahu, hanyalah pendidikan bisa menjadi jalan yang mengubah kehidupan. Ia akan lakukan apapun agar pendidikan anaknya berhasil. Sudut pandang ini cukup menyegarkan, membuat kita melihat lebih luas dari apa yang kita dapat sebagai anak dan juga dari bagaimana kita melihat seorang ibu secara lebih luas. 

Cara ini memang beresiko. Sangat beresiko. Mental anak, hubungannya dengan ibu sendiri juga orang lain, hingga ke bagaimana ia memandang dirinya sendiri. Semua dipertaruhkan. Ia harus rela menjalani hidup yang sulit, menjadi ibu yang kejam bagi anak sendiri. Merelakan dirinya dibenci oleh anak yang sangat ia cintai. 

Syukurnya kisah Kang Ho ini berakhir bahagia untuk semuanya. Rencana balas dendam harus ditunda. Kecelakaan memberi mereka kesempatan untuk mengulang berkasih sayang dengan cara yang berbeda. Unsur politik dan kekuasaan hanya menjadi bumbu tambahan dalam cerita sehingga sangat bisa dinikmati. Bagaimana kehidupan orang-orang di desa juga bagaimana kita bertetangga. Sayangnya, kehidupan kita kan tidak seperti drama. Ada luka masa lalu, ada harapan yang terpaksa pupus, ada perandaian yang terus menerus berbisik.

Photo by Josh Willink in Pexels

Sebagai anak aku mulai memahami bahwa pada dasarnya ibu itu mencintai anaknya. Bagaimana mereka memperlakukan itu adalah hal yang berbeda, karena sudah dipengaruhi oleh keadaan, jalan pikiran, serta keterbatasan. Sehingga daripada fokus pada apa-apa yang tidak seharusnya kita dapatkan, lebih baik fokus pada hal-hal baik yang sudah kita terima. Pahami mungkin itu hal terbaik yang bisa mereka usahakan saat itu. 

Dari sini aku jadi berkaca pada peranku sendiri. Sebagai ibu pada saat sekarang, dengan pesatnya kemajuan teknologi, kita memang lebih mudah terpapar informasi dari berbagai sumber. Berbagai teori dan metode begitu mudahnya kita akses. Kadang sampai membuat kita kewalahan, mempertanyakan apa yang paling baik yang bisa kita lakukan. Tenang, pada akhirnya apa yang bersumber dari hati juga akan sampai ke hati. Karena kita adalah individu terbaik yang dipilih Tuhan untuk anak-anak kita masing-masing. Kita yang paling tahu, kita juga yang menjalani. Upaya terbaik yang kita kerjakan, dengan landasan cinta, insyaAllah akan sampai ke jiwa mereka. Membentuk mereka menjadi pribadi yang berharga karena tau ada cinta ibu yang membersamai setiap langkah mereka. 



Salam, Nasha

Tanpa perlu melihat definisinya, kita semua paham kurikulum merupakan rangkaian program pengajaran yang diberikan pada peserta didik. Kurikulum itulah yang menjadi acuan apa saja pelajaran yang diterima anak, bagaimana meotdenya, serta bagaimana hasilnya nanti. Itulah kenapa kita sebagai orang tua murid cukup concern dengan kurikulum tersebut. Beuntungnya pada dekade belakangan, bukan hanya kurikulum yang mengikut pada Kemdikbud yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia, berbagai kurikulum punya negara lain juga bisa kita nikmati tanpa perlu terbang jauh ke negara asalnya. Jumlah sekolah dengan kurikulum internasional melesat begitu cepat seiring dengan peningkatan jumlah peminatnya.

Ilustrated Picture by Pexels Edited by Canva

Kurikulum internasional bisa menjadi jawaban untuk mereka yang menginginkan lebih dari apa yang bisa kurikulum nasional tawarkan. Pengantar bahasa asing misalnya. Bisa juga pengakuan internasional yang bisa meningkatkan daya saing global nantinya. Lengkap dengan lingkungan yang lebih menunjang, fasilitas sekolah yan lengkap, dan tenaga pendidikan yang berkualitas. Setidaknya ada lima kurikulum internasional yang mendominasi sekolah-sekolah di Indonesia, antara lain Cambridge International, International Baccalaureate (IB), Montessori, International Primary Curriculum (IPC), dan Singaporean Primary School Curriculum (SPC). Berikut penjelasan mengenai masing-masing kurikulum tersebut dan contoh sekolah dasar yang menggunakannya khusus wilayah Yogya!


1. Cambridge Curriculum

Bisa dibilang kurikulum Cambridge ini yang paling populer diaplikasikan dalam sekolah di Indonesia, juga yang berusia sudah cukup lama. Kurikulum yang disupervisi langsung oleh lembaga dibawah naungan Cambridge University, Inggris, ini telah dipakai oleh sekolah-sekolah di lebih dari 160 negara, dengan lima jenjang pendidikan yang diperuntukkan bagi anak usia lima hingga sembilan belas tahun. Mulai dari cambridge primary untuk siswa usia 5-11 tahun, lalu cambridge lower secondary untuk usia 11-14 tahun, lanjut ke cambridge advance bagi siswa usia 14-16 tahun, hingga berakhir pada jenjang cambridge advance untuk usia 16-19 tahun. Semua ini disebut sebagai cambridge pathway yang dapat diaplikasikan di Indonesia untuk sekolah TK hingga SMA.

Program pendidikan dirancang berdasarkan pada ketelitian akademis dan merefleksikan penelitian pendidikan terkini. Kurikulum ini diharapkan mampu mengembangkan lulusan yang percaya diri, bertanggung jawab, reflektif, inovatif, dan aktif dengan harapan berhasl di dunia modern nantinya. Penyusunan pelajaran dimulai dengan pertanyaan apa yang anak perlu pelajari, lalu dibuatlah ujian dan materi sedemikian rupa untuk menjawab tantangan tersebut. Di dalam kelas cambridge, anak bukan hanya memahami apa yang mereka pelajari tapi juga dituntut untuk berpikir kritis, lalu membangun argumen, berani mengungkapkannya, dan mengevaluasi bukti-bukti agar dapat mengaplikasikan ilmu yang dipelajari tersebut. Siswa juga dibiasakan untuk bekerja secara mandiri sekaligus mampu bekerja sama dengan orang lain.

Dari penjelasan tersebut, kurikulum ini cocok untuk anak yang menyukai bahasa inggris sebagai bahasa pengantar utama. Anak yang ingin memiliki kemampuan berkomunikasi secara global karena akan dilatih untuk berpikir kritis, berargumen dengan bukti, serta mempresentasikan hasil pemikiran tersebut. Sistem pendidikannya pun akan terus disesuaikan dengan penelitian terkini yang memperbesar kemungkinan anak dapat melanjutkan sekolah ke universitas terbaik dunia. 

Contoh Sekolah: Olifant School


2. International Baccalaureate

Kurikulum IB ini diciptakan oleh lembaga asal Jenewa, Swiss pada tahun 1960-an dengan mulanya untuk siswa usia 16-19 tahun. Seiring dengan keberhasilan pendidikannya, program terus dikembangkan untuk siswa berbagai usia hingga kini telah mendapat pengakuan global , dan memiliki orientasi agar siswanya mampu bersaing untuk melanjutkan pendidikan di universits top dunia. Asosiasi untuk penerapan kurikulum IB tersebar diseluruh dunia, untuk memudahkan sekolah-sekolah mendapat izin legal dalam menerapkan kurikulum, serta sebagai fasilitas bagi sekolah terutama guru dengan dialog dan pelatihan agar mampu memberi pengajaran yang sesuai standar kurikulum. Sistem pendidikan dalam kurikulum IB dirancang bukan hanya agar siswa mampu berpikir cerdas dan kreatif namun juga agar siswa memiliki kemampuan adaptasi yang baik, mampu berempati, serta memiliki rasa solidaritas dan peduli dengan lingkungan sekitarnya. 

Ada empat jenjang pendidikan yang terangkai dalam kurikulum IB antara lain Primary Years Programme (PYP) untuk anak usia 3-12 tahun, dengan fokusnya untuk membentuk anak yang aktif dan peduli serta suka belajar. Kerangka pengajarannya terdiri atas lima faktor yaitu pengetahuan, konsep, keterampilan, perilaku, dan tindakan; yang dituangkan dalam enam disiplin ilmu  yaitu bahasa, sosial, matematika, seni, sains, serta pendidikan kepribadian, sosial, dan jasmani. Selanjutnya jenjang Middle Years Programme (MYP) untuk anak 11-14 tahun, dimana anak diajak untuk menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari. Ada delapan kelompok mata pelajaran pada tahap ini yaitu bahasa dan sastra, bahasa asing, pribadi dan masyarakat, sains dan matematika, seni, pendidikan jasmani dan kesehatan, serta desain. Terakhir ada Diploma Programme (DP) untuk anak 15-18 tahun, serta Career Related Proramme (CP) untuk usia 15-18 tahun, yang merupakan jalur persiapan anak menuju universitas dan dunia kerja. Untuk itu disiapkan tiga kerangka inti pelajaran yaitu Theory of Knowledge (TOK), Creativity, Action, and Service (CAS), dan esai. Dalam praktiknya, murid diberi kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang diinginkan dalam kelompok pelajaran di masing-masing jenjang.

Kurikulum ini diperuntukkan bagi anak yang mampu mengikuti standar pendidikan IB karena jauh berbeda dengan kurikulum nasional. Jika kurikulum nasional fokus pada pengetahuan, kurikulum IB fokus pada pemahaman konsep anak keseluruhan. Proses dibanding hasil. Tidak ada ujian untuk murid hingga jenjang diploma. Dengan jumlahnya yang belum terlalu banyak, biaya untuk sekolah IB juga lebih tinggi, biasanya juga lebih tinggi daripada sekolah dengan kurikulum Cambridge. Sebaiknya sebelum memulai kurikulum IB, kita perlu memastikan kesiapan dan kemampuan dalam mengikutinya hingga jenjang akhir.

Contoh Sekolah: Yogyakarta International School (YIS)


3. SPC (Singaporean Primary School Curriculum)

Sesuai dengan namanya, kurikulum ini berasal dari Singapura. Fokus pendidikannya pada tiga aspek dasar yaitu subjek pelajaran, wawasan pengetahuan, dan pengembangan karakter. Anak dilatih agar bisa siap dan bersaing secara global khususnya dalam bahasa inggris, teknologi, juga bahasa mandarin. Dengan fleksibilitas pelajaran yang disesuaikan dengan minat bakat anak, diharapkan nantinya mereka mampu mengekspresikan diri sesuai dengan potensi yang mereka miliki. 

Pendidikan dasar di Singapura direkomendasikan untuk anak usia 7-12 tahun. Selama jenjang pendidikan dasar, peserta didik akan mempelajari bahasa inggis, matematika, sains, seni, musik, pendidikan jasmani, pendidikan sosial dan karakter bermasyarakat, serta mother tongue language (MTL). Pada tahap 4 anak akan mengerjakan test yang menentukan materi pilihan untuk dijalani pada Primary 5 dan Primary 6. Bukan hanya ujian, siswa juga perlu aktif belejar dan terlibat dalam project individu dan kelompok.

Dengan keunggulannya tersebut, kurikulum ini diperuntukkan bagi anak yang ingin mengembangkan minat bakatnya untuk bersaing secara internasional. Apalagi dengan tawaran pembelajaran bahasa mandarin yang semakin umum digunakan. Sayangnya pilihan sekolah SPC masih sangat terbatas, sejauh ini hanya ada di Jakarta dan Surabaya. Dengan begitu ditambah fasilitas penunjangnya, otomatis biaya yang ditawarkan pun lebih tinggi. 

Contoh: Singapore International School, Jakarta


4. IPC (International Primary Curriculum)

Kurikulum IPC dikembangkan oleh organisasi kurikulum internasional sekitar tahun 1990-an asal negara Inggris. Hingga saat ini sudah 90 negara yang sudah mengaplikasikan kurikulum IPC dalam pelajaran sekolahnya. Sesuai dengan namanya, kurikulum ini awalnya  fokus pada pendidikan anak usia 5-11 tahun. Perkembangan pada kurikulum ini terus dilakukan hingga kini ada tiga jenjang dalam sistemnya yaitu International Early Years Curriculum (IEYC) untuk anak usia 2-5 tahun, International Primary Curriculum (IPC) untuk usia 5-11 tahun, dan International Middle Years Curriculum (IMYC) untuk anak usia 11-14 tahun.  

Sistem pendidikannya menekankan pada penelitian ilmiah yang dikembangkan secara keseluruhan agar siswa dapat belajar dengan menyenangkan dan menjadi pelajar yang gigih. Rangkaian pendidikan disusun untuk menyiapkan peserta didik yang berkompetensi global, peduli pada sosial, dan memiliki motivasi tinggi untuk berkontribusi pada dunia sekitar. Praktik pengajaran dilakukan dengan bertujuan pada subject goals, yang mencakup pengetahuan tentang language arts, mathematics, science, ICT, technology, history, geography, music, physical education, art, dan society; personal goals, adalah pembelajaran yang fokus pada pembentukan karakter siswa yang sesuai dengan kebutuhan terkini seperti kritis, ketahanan, moralitas, tangguh, mampu beradaptasi dan bekerja sama; serta international goals yang melatih siswa dalam melihat apa yang terjadi di sekitar, bagaimana meresponnya, sehingga membentuk pola pikir global. 

Berdasarkan penjelasan tersebut, kurikulum IPC diperuntukkan bagi anak yang dipersiapkan untuk persaingan dunia global. Bukan hanya pada pengetahuannya saja namun juga pada karakternya. Anak dipacu untuk mencari tahu dalam berbagai aktivitas yang dikembangkan. Metode pelajarannya tematik komprehensif dimana anak akan mempelajari subjek-subjek yang berkaitan dalam satu tema. Beberapa sekolah menerapkan kurikulum ini bersamaan dengan kurikulum internasional lainnya. 

Contoh Sekolah IPC : SD Tumbuh 4, Yogya


5. Montessori Curriculum

Kurikulum ini diciptakan oleh Maria Montessori, seorang pendidik berkebangsaan Italia. Belakangan metode ini sangat populer karena mulai banyak dikembangkan terutama untuk pengasuhan anak usia dini. Kurikulum ini memang menekankan pada anak sebagai pusat utama kegiatan pendidikan, memberikan mereka pilihan untuk mempelajari subjek yang diinginkan, dan pembentukan karakter anak yang berperilaku baik. Karena itulah, penerapan kurikulum montessori cenderung pada pendidikan dasar, setingkat Paud-TK-SD. 

Dalam kegiatannya, sekolah montessori memiliki banyak alat peraga yang dikenal dengan aparatus montessori. Anak diperlakukan sebagai individu tunggal bukan sekedar anak-anak yang tidak punya kuasa. Mereka diberi pilihan, diberi alat, diberi kesempatan, kepercayaan, tanggung jawab. Metode-metode praktikalnya juga terbukti cukup ampuh, salah satunya seperti metode membaca tanpa mengeja. Anak-anak diajakrkan dengan bantuan alat yang konkret bukan dalam bentuk hafalan yang abstrak, fokus pengajarannya adalah pemahaman konsep dan perilaku bijaksana anak. Karena memang penekanannya pada perilaku, maka anak-anak lulusan sekola montessor biasanya memiliki kontrol diri yang lebih baik dan pola pikir yang lebih luas. Dengan begitu anak diharapkan siap untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan memiliki sikap teguh untuk belajar.

Metode ini cocok bagi semua anak-anak, karena pusat kegiatannya adalah anak itu sendiri. Tidak msalah dengan minat bakat yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Cara belajar akan mengikuti anak tersebut, begitupun dengan hal yang ingin dipelajari. Bebas terbatas, kebebasan yang tidak bersinggungan dengan orang lain. Dengan begitu, akan sulit bagi anak montessori untuk berpindah ke kurikulum lain yang mengharuskannya mengikuti ketentuan baku sekolah. Karena dpilihannya masih terbatas dan alat-alat peraga khusus, maka sekolah montessori biasanya dipatok dengan harga cukup tinggi. Hebatnya, kaidah montessori tidak hanya bisa kita dapatkan dari sekolah, namun juga di rumah. Ada banyak filosofi-filosofi montessori yang bisa kita aplikasikan dalam mengasuh anak dan bermai bersama mereka di rumah.

Contoh: Bambini School, Jogja



Ilustrated Picture

Pesatnya teknologi dan arus informasi menuntut kita untuk berpikir lebih luas, dan meningatkan daya saing bukan hanya untuk lingkup dalam negeri namun untuk lingkup internasional. Kesadaran itulah mungkin yang menjadi landasan kita melirik kurikulum internasional sebagai pilihan untuk buah hati tercinta. Agar kedepannya mereka meiliki bekal yang cukup saat terjun ke masyarakat. Sehingga sekolah-sekolah internasional yang semakin menjamur juga memiliki peminat yang semakin meningkat dari hari ke hari. 

Memahami masing-masing keunggulan kurikulum sekolah memang hal penting sebelum kita mendaftarakan anak ke sekolah tersebut, untuk memastikan kesesuaian antara kurikulum yang diterapkan sekolah dengan kebutuhan anak dan keluarga. Kurikulum internasional hingga saat ini memang menjadi jalur alternatif yang dipercaya dapat memuluskan masa depan anak. Lingkungan yang lebih baik, sistem pendidikan yang lebih teruji, fasilitas yang menunjang, kebiasaan-kebiasaan yang diadaptasi dari negara-negara maju, serta hubungan dengan berbagai universitas dan perusahaan dunia, akan menunjang pembentukan pribadi anak anak agar lebih siap bersaing secara global. 

Namun perlu diingat bahwa kurikulum ataupun sekolah bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan mereka. Bahasa Inggris bisa dilatih mandiri. Berpikir kritis dan terbuka bisa dilatih di rumah. Kreativitas bisa diasah dimana saja. Potensi anak, minat dan bakat bisa dikembangkan diluar sekolah. Karakter anak menurut dari apa yang ia lihat, teladan orang tua misalkan. Sehingga tidak perlu berkecil hati jika belum memiliki kemampuan untuk menyekolahkan anak di kurikulum internasional pilihan. Bisa jadi anggarannya belum mencukupi, atau bisa jadi pilihan sekolah belum tersedia di area tempat tinggal, atau memang merasa tidak cocok saja value yang ditawarkan sekolah dengan value yang kita yakini. Masih banyak jalur lain yang bisa diupayakan. Setiap anak itu istimewa, tergantung bagaimana kita melihatnya. 



Salam, Nasha

Pilihan sekolah untuk anak Indonesia semakin beragam dari waktu ke waktu. Ini merupakan kabar baik agar kita bisa lebih menyesuaikan diri dengan alternatif pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, keinginan, juga anggaran. Masing-masing sekolah memiliki keunggulannya sendiri. Mulai dari sekolah nasional baik itu negeri ataupun swasta; sekolah nasional plus yang menggunakan kurikulum nasional dan kurikulum tambahan bisa kurikulum internasional; sekolah internasional dengan beragam pilihan kurikulum; sekolah asrama atau boarding school, sekolah alam dengan konsep belajar di alam terbuka; hingga sekolah rumah atau homeschooling.

Sebagai orang tua yang ingin yang terbaik untuk anak, kira-kira model sekolah mana ya yang paling tepat?

Ilustrated Picture Edited by Canva

Sekolah Umum

Kelompok sekolah umum ini adalah deretan sekolah dalam format yang paling sering kita jumpai, dilaksanakan di gedung sekolah lengkap dengan sarana dan prasarananya, ada guru dan sejumlah murid dalam ruang kelas yang telah ditentukan. Dalam kelompok sekolah inipun ada banyak lagi jenis-jenis sekolah yang bisa kita pilih berdasarkan kriterianya, salah satunya adalah kurikulum yang digunakan. Sekolah yang didirikan pemerintah tentu menggunakan kurikulum nasional yang ditetapkan oleh Kemdikbud (sekarang Kemendikbudristek), sedangkan sekolah yang didirikan oleh pihak selain pemerintah atau sekolah swasta memiliki pilihan kurikulum lain selain kurikulum nasional. Meskipun mengacu pada aturan yang sama dalam satu negara, terdapat beberapa praktik pengelolaan yang akan berbeda.

Berdasarkan kurikulum, setidaknya ada tiga kategori sekolah yang bisa kita bedakan. Sekolah nasional untuk yang murni menggunakan kurikulum sesuai dengan ketentuan pemerintah, baik itu negeri ataupun swasta. Sekolah nasional plus yang mengaplikasikan kurikulum nasional ditambah dengan kurikulum lain seperti kurikulum internasional ataupun agama. Hingga sekolah internasional yang murni menggunakan kurikulum dari luar negeri. 

Berangkat dari kurikulum, akan ada banyak perbedaan lanjutannya antara sekolah-sekolah tersebut seperti subjek pelajaran, metode pengajaran, kualifikasi guru, dan nilai-nilai yang ditanamkan pada peserta didik. Misalkan disekolah nasional plus, selain pelajaran wajib nasional seperti Kewarganegraan, Budaya Lokal, juga Bahasa Indonesia, anak juga akan belajar tambahan subjek sesuai dengan kurikulum yang diadopsi. Pelajaran bahasa mandarin serta science and math untuk kurikulum internasional, ataupun pelajaran bahasa arab, fiqih, tafsir untuk sekolah pesantren. Sekolah nasional plus dapat dijadikan pilihan bagi mereka yang ingin anak mendapat peluang lebih besar dikancah global, tanpa mengurangi rasa lokalnya. Meskipun sekolah nasional plus dipatok dengan harga jauh melebihi sekolah nasional tapi biasanya masih dibawah sekolah internasional.

Ilustrated Picture

Sekolah Alam

Sekolah Alam merupakan alternatif pilihan bentuk pendidikan dengan sistem pembelajaran berbasis alam semesta. Diketahui pelopor sekolah alam ini dalah seorang berkebangsaan Denmark bernama Ella Flatau pada tahun 1950. Sedangkan di Indonesia, sekolah alam pertama didirikan oleh Lendo Novo (alm.) pada tahun 1998, yang berlokasi di Ciganjur, Jakarta Selatan, dengan murid pertama berjumlah delapan orang. Gagasan dasarnya adalah bentuk pendidikan yang tidak monoton dan memberi kebebasan berekspresi bagi peserta didik. Potensi anak bisa dioptimalkan dengan peran pendidikan, bukan dari mahalnya infrastruktur namun dari kualitas tenaga pendidik, metode pengajaran, dan sumber ilmu seperti buku. Menurut pengamatannya, sekolah harusnya bisa memberikan kebebasan bagi setiap anak untuk bisa menunjukkan diri dan pemikirannya yang difasilitasi oleh para guru. 

Seiring perkembangannya, semakin banyak orang yang tertarik dengan konsep sekolah alam, dimana peserta didik mendapatkan kesempatan untuk bisa berinteraksi langsung dengan alam. Sekolah alam dianggap dapat menjadi jalan untuk proses pembelajaran yang lebih menyenangkan dan mampu menempa kecerdasan natural anak. Mengutip laman Detik, ada beberapa karakteristik sekolah alam yang dikemukakan oleh Nggili antara lain memiliki lingkungan alam yang bisa dimanfaatkan untuk proses belajar, memberi kebebasan berkreatifitas pada anak, belajar sambil bermain menyenangkan, pendidikan berperan sebagai fasilitator yang memberi rangsangan pada anak, metode action learning untuk mendorong logika berpikir dan inovasi, dsb.

Sekarang jumlah sekolah alam semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bukan hanya di ibukota, kehadiran sekolah alam juga meluas hingga ke daerah-daerah. Meskipun sebagian sekolah alam hanya menawarkan pendidikan hingga jenjang dasar (Paud, TK, SD), tidak sedikit pula yang menyediakan hingga tinggat menangah (SMA). Apalagi dengan pilihan kurikulum yang juga bertambah, sebagian sekolah kini menawarkan kurikulum internasional untuk menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Dari penjelasan pada konsepnya tersebut, bisa dikatakan bahwa sekolah alam menitik beratkan pada sarana alam sekolah yang lebih luas, media pembelajaran yang memungkinkan anak belajar melalui praktik langsung, serta proses belajar mengajar yang aktif dan kritis. Guru yang mendampingi anak sepatutnya mereka yang benar-benar memperhatikan perkembangan masing-masing anak sehingga biasanya satu guru tidak memegang banyak murik sekaligus. Sekolah ini juga biasanya memiliki kurikulum tambahan untuk mengembangkan karakter peserta didik. 


Ilustrated Picture


Sekolah Rumah

Pada dasarnya sekolah rumah atau lebih dikenal dengan home schooling adalah metode pendidikan yang dilakukan di rumah, baik dengan mendatangkan guru privat atau orang tua sendirilah yang menjadi gurunya. Konsep home schooling ini pertama kali muncul di Amerika sebagai bentuk kritik atas sistem pendidikan formal kala itu. Salah satunya dikemukakan oleh Holt (1964) yang menilai sistem pendidikan yang ada justru mematikan potensi dan kreativitas yang dimiliki anak-anak. Kritik serupa terus berdatangan, semakin banyak orang yang menerapkan sekolah rumah bagi anak-anak mereka, hingga pada 1989 sekolah rumah mendapat pengakuan secara hukum. 

Homeschooling sebenarnya bukan produk baru di Indonesia, mengingat sudah sejak dulu orang tua mendidik anak-anak sendiri dengan fleksibilitas kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan. Jika bicara tokoh, sebut saja Agus Salim juga Ki hajar Dewantara. Pendidik bagi anak-anak mereka. 

Pada masa sekarang, akses untuk home schooling menjadi jauh lebih mudah. Kegiatannya juga mendapat izin dan bisa menerima bantuan dana dari pemerintah. Ada berbagai lembaga yang menawarkan bantuan sesuai kebutuhan dalam mengakomodir proses home schooling ini. Ada yang menyediakan guru-guru privat kompeten, ada juga yang menawarkan paket pendidikan, seperti materi kurikulum yang disesuaikan sesuai serta paket alat peraga sesuai tema pelajaran. Ditambah dengan teknologi daring, pembelajaran juga bisa dilakukan dalam jarak jauh. Lembaga sekolah formal juga memeiliki banyak penawaran yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan siswa, seperti pilihan kurikulum, fasilitas bilingual, serta opsi hybrid (pilihan untuk full online atau mix antara pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran dengan hadir di sekolah).

Dengan begitu, format sekolah rumah cocok bagi mereka yang mengutamakan fleksibilitas dan privasi. Karena sekolah model ini, anak bisa mendapatkan perhatian penuh dari tutornya, baik itu guru yang didatangkan pihak sekolah ataupun orang tua, sesuai dengan bakat dan minatnya. Orang tua dan murid bisa menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan masing-masing, bisa mengatur sendiri waktu dan metode yang diinginkan, pengaruh kurang baik dari lingkungan pun bisa diminimalisir karena terbatasnya interaksi, namun fasilitas di rumah umumnya tentu tidak selengkap dengan sarana yang ada di sekolah. 


Jika kita singkat, sekolah umum, sekolah alam, serta sekolah rumah memiliki kondisi dan peruntukannya masing-masing. Sekolah umum dengan metode yang rata-rata teoritis dan dilakukan di kelas selama berjam-jam bisa diterima untuk anak yang sudah mampu duduk tenang mendengarkan penjelasan guru. Anak yang memang cara belajarnya runut sesuai dengan materi yang sudah disusun. Namun, bagi anak yang cenderung belum bisa duduk tenang, masih bergerak aktif ke sana ke mari, tentu lebih baik ke sekolah alam. Mereka akan difasilitasi sesuai dengan kondisi mereka tersebut, dengan syarat anak mampu fokus mengingat banyaknya distrasksi saat berada di luar ruangan. Ketenangan ini dianggap akan meningkat seiring pertumbuhan anak, mungkin itu sebabnya tidak banyak sekolah alam yang sampai jenjang pendidikan menengah. Berbeda lagi untuk anak yang punya kondisi khusus yang membutuhkan perlakukan khusus pula, sekolah rumah adalah pilihan tepat. Sehingga pengajarnya bisa fokus pada satu anak tersebut, menyesuaikan dengan jadwal hingga metode yang ia paling nyaman.

Pada akhirnya pilihan sekolah paling banyak bergantung pada kondisi masing-masing anak. Faktor lain seperti ketersediaan sekolah di area tempat tinggal juga biaya yang disanggupi juga bisa mempengaruhi. Jumlah terbanyak tentu adalah sekolah umum, tinggal dipilih lagi ingin yang sekolah nasional, sekolah nasional plus, atau sekolah internasional.  Dengan kecanggihan teknologi sekarang, akses pada sekolah rumah pun menajdi lebih mudah meskipun jaraknya berjauhan. Hanya sekolah alam yang butuh langsung didatangi langsung ke sekolahnya yang mungkin saja berjauhan jaraknya dari tempat tinggal. Soal biaya, ini tergantung dengan kebijakan masing-masing sekolah dan keunggulan yang mereka tawarkan. 

Kita memang ingin mendidik anak yang hebat sehingga memilih sekolah yang dianggap paling tepat untuk membentuk itu. Pertimbangannya banyak sehingga perjalanan memilih sekolah ini tidak begitu mudah, namun juga bukan perkara yang sangat sulit. Sekolah bisa memfasilitasi tapi peran keluarga yang sangat penting. Jadi silahkan dirunut apa yang paling penting untuk anak-anak kita ini, lalu saring pilihan yang ada dan pilih sesuai dengan kondisi kita masing-masing. Semangat!



Salam, Nasha

Selalu menarik mengajak anak ikut serta dalam suka cita hari raya, baik itu Idul Fitri maupun idul Adha. Perasaan gembira yang kita punya menjalar hingga ke hati mereka. Kegembiraan ini sayang jika hanya berlalu tanpa makna, maka tugas kitalah untuk mengajarkan kepada mereka bahwa meskipun rasanya lebaran yang lalu tampak lebih heboh, namun sejatinyanya Idul Adha itu lebih besar daripada Idul Fitri. 



Makna Idul Adha untuk Balita

Kita bisa mulai mengenalkan makna idul adha dari cerita tentang nabi dan rasul. Paling mudah dengan menggunakan media buku yang lengkap dengan gambar ilustrasinya. Perkenalkan anak dengan bapaknya para nabi, Nabi Ibrahim AS. Pada perkara ini, cerita bisa dimulai dari masa yang sudah sangat lama beliau menanti seorang putra. Saat akhirnya putranya hadir, Allah memerintahkan beliau untuk meninggalkan putranya yang masih bayi tersebut di gurun pasir brsama ibunya Siti Hajar, begitu hausnya hingga muncullah air zam-zam. 

Tidak sampai disitu, ketaan Nabi Ibrahim kembali diuji melalui perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail, putra yang sangat ia sayangi. Kebimbangan Nabi Ibrahim dihapus oleh keyakinan anaknya untuk melaksanakan apapun perintah Allah, Sang Pemilik Kehidupan. Ketaqwaan mereka dijadikan teladan bagi kita untuk melaksanakan kurban. Merelakan hal-hal yang kita sukai, yang kita cintai di dunia ini, hanya untuk Allah, bentuk ketaatan dan kepasrahan hanya pada kehendak-Nya. Biarpun kadang tidak sampai logika, namun taat pada Allah yang paling utama.

Peristiwa inilah yang mengawali perintah untuk kita berkurban dari masa ke masa. Nabi Ismail yang digantikan oleh seekor kambing dalam penyembelihan tersebut, mengisyaratkan untuk kita bisa menggunakan hewan ternak dalam prosesinya, bisa berupa kambing, domba, sapi, juga unta. Perintah berkurban juga dituliskan dalam Al-Quran salah satunya dalam juz 30 surat Al-Kautsar ayat 2,

"Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)."

Ilustrated Photo

Selain berkurban ada beberapa hal penting terkait Idul Adha yang bisa kita sampaikan pada anak-anak ini, antara lain:

  • Sebagai Bentuk Syukur kepada Allah
Kita sudah banyak sekali menerima rezeki dari Allah, segala kesehatan, kecukupan rezeki, terkabulnya permintaan-permintaan, mampunya membeli hal-hal yang diinginkan, maka dari apa yang sudah banyak didapat itu sudah sepatutnya sebagiannya kita sisihkan untuk dibagikan pada sesama kita. Pada tetangga, pada teman, kerabat, atau saudara-saudara jauh sesama hamba Allah yang belum pernah kita temui sebelumnya. Ajarkan anak untuk bisa ikhlas memberi, rela berbagi, beri ia teladan dan sampaikan terus menerus. 
  • Hubungan Baik Sesama Manusia
Setelah disembelih, hewan kurban itu akan dibagi-bagikan. Supaya semua bisa sama-sama makan daging hewan, bahan makanan yang harganya lebih tinggi dibanding bahan makanan lain. Dengan harga yang lebih tinggi itu, tidak semua orang mampu. Tidak semua orang bisa membeli dihari-hari ketika mereka ingin, maka biarlah hari ini jadi hari istimewa dimana semua orang tidak perlu membeli tapi bisa ikut mencicipi daging. Allah beri kemurahan bagi siapapun untuk bisa merasakan makan daging. 


Kegiatan Seputar Idul Adha

Tidak lengkap rasanya menyampaikan makna idul adha kepada anak-anak tanpa aktivitas yang bisa mereka lakukan. Kegiatan seputar Idul Adha bagi anak bisa disesuaikan dengan usia mereka masing-masing, yang dimulai sejak kita memasuki Bulan Dzulhijjah.

Ilustrated Picture

  • Puasa Sunnah Dzulhijjah

Perihal ini bisa dimulai dari memperkenalkan nama-nama bulan pada tahun Hijriah. Beri tahu anak ada ibadah-ibadah sunnah yang dianjurkan dibulan ini, salah satunya adalah puasa. Puasa yang bisa dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah, tapi jika tidak mampu maka sangat diutamakan pada tanggal 8 dzulhijjah yang dikenal dengan Puasa Tarwiyah dan tanggal 9 Dzulhijjah sebagai puasa Arafah. Ini bertepatan dengan ibadah wukuf di Arafah bagi para jemaah haji. Bukan hanya tentang Idul Adha, cerita juga bisa bersambung ke rukun islam kelima tersebut.

Kesanggupan anak tentu berbeda sesuai usia dan tubuhnya masing-masing, namun berapapun usia anak yang bisa kita lakukan adalah menjadi teladan. Lakukan didepan mereka, ajak mereka berbuka bersama atau juga sahur. Sounding terus ibadah yang kita lakukan, ingatkan tentang ketaatan dan keikhlasan pada Allah. 


  • Shalat Ied di Masjid

Sebelum memutuskan mengajak anak ke masjid, perkenalkan dulu kepada anak apa itu masjid, bagaimana adabnya, serta apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sana. Kesanggupan anak mengikuti batasan tentu berkaitan juga dengan usia dan tingkat kematangan mereka masing-masing. Mustahil rasanya mengharapkan batita untuk bisa mengikuti rangkaian kegiatan di masjid dari awal hingga selesai dengan tenang layaknya orang dewasa. Antisipasi gerak mereka dalam batasan aman dan tidak mengganggu jamaah lain.


  • Berqurban

Aktivitas ini bisa jadi yang paling menarik dan paling diingat oleh anak-anak tentang idul adha. Kita bisa mengajak serta mereka dari menabung, lalu membeli hewan kurban, hingga menyaksikan proses penyembelihannya. Sebelum itu, terus kenalkan anak dengan kisah dibaliknya, mengapa hewan itu disebembelih, apa yang dilakukan setelahnya. Pastikan juga memang anak siap menghadapi proses penyembelihan itu, serta bagaimana mereka menghadapi jika merasa takut. 

  • Mengolah bersama
Daging yang didapat dari hewan kurban itu akan diolah untuk menjadi makanan yang bisa disantap bersama. Kita juga bisa mengajak anak-anak ikut serta dalam proses menyiapkan hidangan tersebut. Anak akan merasa dihargai dan bisa menjadi kesempatan mereka untuk mencoba. Apalagi jika olahan dibuat dalam bentuk sate. Aktivitasnya bisa jadi lebih seru! 
  • Bersilaturahmi
Sama dengan idul fitri, idul adha juga merupakan hari raya yang tidak lengkap rasanya tanpa acara kumpul sanak saudara. Sebelum berkumpul, pastikan kesehatan dan kondisi tubuh anak sesuaikan dengan aktivitas agar mereka tidak kelelahan. Lalu, beri gambaran pada anak tentang situasi yang akan mereka hadapi. Seperti kesibukan yang akan dilakukan, atau akan ada banyak orang yang berkumpul, ingatkan tentang siapa-siapa saja yang sebelumnya sudah mereka kenal ataupun orang-orang lain yang mungkin belum mereka ketahui. Ada anak yang cepat berinteraksi, ada juga yang lambat. Tidak masalah, jangan memaksa. Karena hakikatnya hari raya itu tentang kita semua bersuka cita!


Salam, Nasha

Our Planet 2 on Netflix


Serial Our Planet Season 2 baru saja rilis beberapa hari lalu di layanan streaming berlangganan, Netflix. Melanjutkan season yang pertama, season kedua ini juga menceritakan indahnya kehidupan liar yang mungkin tidak akan pernah kita lihat langsung, karena jauh dari kehidupan hiruk pikuk kita. Pesannya hampir sama, bahwa apa yang kita lakukan jauh dari mereka ini bisa sangat mempengaruhi kehidupan mereka, serta bagaimana perubahan yang kita upayakan bersama bisa memberi kebaikan bagi kehidupan yang ditunjang alam semesta.

Kemunculan serial Our Planet sebagai serial dokumenter pada 2019 lalu menjadi perhatian banyak pihak kala itu. Bukan hanya sebagai serial pertama tentang lingkungan yang digarap Netflix, namun juga karena fokus tayangannya yang bukan sekedar dokumenter alam biasa namun fokus pada bagaimana manusia mempengaruhi lingkungan. Dalam delapan episode yang digarap selama empat tahun itu, digambarkan kehidupan ditiap-tiap habitat seperti hutan, laut pesisir, laut dalam, kutub, dsb. Tidak lupa tampilan adegan yang dikemas ciamik dan dramatis.  


Selain di Netflix, Our Planet I juga bisa disaksikan gratis di Youtube

Hingga saat ini, Our Planet masih menduduki serial favorit kami sekeluarga. Salah satu dari tontonan yang kami sediakan untuk anak-anak, dengan jumlah tontonan masing-masing episode lebih dari sepuluh kali. Dalam allowed time to watch mereka, anak-anak hanya punya beberapa pilihan tontonan yang sudah diunduh, salah satunya adalah serial Our Planet ini. Banyaknya ragam satwa yang ditampilkan, keindahan visualnya, serta cerita yang terkandung didalamnya merupakan paket lengkap untuk bisa dinikmati oleh seluruh keluarga. Sehingga saat Our Planet Season II ini rilis kami sangat bersemangat!

“This series traces extraordinary journeys, in a world  that itself is changing faster than ever. Only now we are we beginning to understand that all life on earth depends on the freedom to move.  

– Sir David Attenborough

Masih ditemani dengan suara naturalis dunia asal Inggris, Sir David, season kedua ini juga diproduksi oleh Silverback, dengan empat episode yaitu World on The Move, Following The Sun, The Next Generation, Freedom to Roam. Berbeda dengan season 1 yang mendokumentasikan kehidupan, season 2 ini fokus pada tema migrasi. Dalam empat episode yang dihadirkan, akan diceritakan tentang perpindahan yang dilakukan hewan-hewan dimuka bumi. Bagaimana itu terjadi secara turun temurun dan perubahannya dari masa ke masa akibat aktivitas kita. 


Diawali dengan fakta bahwa perpindahan adalah hal yang krusial dalam kehidupan kita di bumi ini. Mulai dari bumi yang harus terus bergerak, berputar mengitari matahari sehingga ada perubahan musim. Momen musiman itulah yang dimanfaatkan oleh banyak sekali satwa berpindah untuk bertahan hidup dari generasi ke generasi. Kita dibawa berjalan mengitari bumi dari waktu ke waktu, menyaksikan keajaiban-keajaiban menakjubkan yang dimiliki alam. Miliaran belalang terbang di udara, ribuan hiu makan ratusan ton ikan, albatros yang bertahan di hujan panas menunggu makanan, dan masih banyak lagi. Fenomena-fenomena mencengangkan yang jarang kita ketahui.

Perjalanan selama beberapa jam menyelesaikan perpindahan sepanjang tahun di hampir seluruh wilayah bumi ini, dilakukan dengan sangat rapi. Teknik visuaknya membuat kita seakan menyaksikan sendiri dari sudut pandang hewan tersebut, sembari Sir david menarasikan isi pikiran mereka. Ini hal unik yang belum ada dalam dokumenter sebelumnya. Perpindahan masif itu juga disorot dari kamera jarak jauh sehingga terlihat sangat menakjubkan. Sulit untuk berhenti berdecak kagum menyaksikan pertemuan-pertemuan musiman dalam jumlah sangat besar tersebut.

Our Planet S02E03 The Next Generation

Bukan hanya rasa kagum dari kejadian di semesta yang terus muncul sepanjang menyaksikan dokumenter ini, namun juga perasaan sedih, bersalah, iba, hingga haru. Bagaimana mungkin tidak terenyuh pada kebaikan-kebaikan yang masih tersisa di muka bumi? Semua doa terbaik dan berkah Tuhan dimohon untuk mereka, yang dengan sengaja menyediakan lahan dan pakan untuk burung yang bermigrasi, membiarkan sekawanan gajah menginjak kebun bahkan memakan hasil panen mereka berpindah mencari tempat tinggal baru, dan pemerintah yang membangun fasilitas agar antelop bisa tetap lewat akibat jalur migrasinya sudah diinterupsi oleh aktivitas manusia. Mereka yang membuktikan bahwa kita bisa hidup berdampingan dan saling menghargai masing-masing kepentingan. 

Jika dibandingkan dengan season 1, Our Planet II ini disajikan dengan lebih padat. Perpindahan antara ceritanya tidak bertele-tele. Ini pengalaman menonton yang cukup berbeda dibanding delapan episode sebelumnya, yang memperlihatkan kehidupan fauna secara luas. Migrasi pada setiap makhluk, bagaimana mereka bertahan sepanjang tahun, dan apa tantangan yang mereka hadapi, disusun apik dalam visual yang mengagumkan. Sulit untuk tidak melongo atas tampilan fakta yang disuguhkan.

Tayangan ini sedikit banyak membuat kita jadi lebih paham lagi bahwa tidak hanya kita yang hidup di muka bumi. Bahwa bagaimanapun, apa yang kita lakukan sebagai spesies teratas mempengaruhi makhluk hidup lain, hingga ke tempat terpencil yang belum kita kunjungi sekalipun. Dengan perkembangan pengetahuan yang kita miliki ini, kita bisa membantu mereka mengatasi perubahan pada dunia modern kita. Kita tidak boleh lagi mempersulit aktivitas turun temurun mereka. Karena keindahan luar biasa yang sudah terjadi sejak lama dan keseimbangan itu harus tetap ada, untuk kita semua bisa bertahan di alam semesta. 



Salam, Nasha



Sejak diberlakukannya ketetapan usia masuk sekolah untuk calon peserta didik baru dalam Permendikbud No. 1 Tahun 2021, anak bisa masuk SD harus berusia 7 tahun atau minimal 6 tahun per 1 Juli. Ini cukup berbeda dengan apa yang generasi kita alami, dimana usia rata-rata masuk SD adalah enam tahun, bahkan ada juga yang dibawah lima tahun. Perubahan pada batas usia minimal ini tidak dilakukan sembarangan melainkan dengan banyak pertimbangan khususnya penyesuaian dengan perkembangan anak-anak yang akan menjalani sekolah tersebut. Kemampuan anak yang diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan kegiatan sekolah dinilai rata-rata ada pada anak tujuh tahun. 



Pertimbangan Mulai Sekolah

Mungkin ada sebagian dari kita yang mulai memasukkan anak sekolah dengan alasan lingkungan sekitar, seperti sudah banyaknya anak sebaya anak yang bersekolah hingga anak juga meminta atau karena rasa-rasanya sudah bosan anak dirumah atau perkara agar anak cepat pandai. Segera mengikutsertakan mereka dalam kelompok bermain, lalu terus naik hingga masuk SD. Perlu diketahui, peraturan pemerintah tersebut ditujukan bagi jenjang pendidikan sekolah dasar, dimana ada hak dan kewajiban didalamnya, bukan sekedar kegiatan bersosialisasi. Pertimbangan-pertimbangan tersebut dirangkum dalam Kompas sebagai berikut:

- Segi Psikologis

Untuk bisa mengikuti pelajaran dengan baik di sekolah, dibutuhkan daya konsentrasi yang tinggi dari anak. Kemampuan fokus anak akan membaik seiring pertambahan usianya, dan anak usia tujuh tahun dianggap memiliki konsentrasi yang sesuai dengan kegiatan jenjang SD, sehingga bisa lebih tenang mengikuti pelajaran serta bisa memilah mana hal yang perlu diperhatikan dan mana yang tidak. Mereka juga dinilai memiliki daya juang yang cukup baik dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi di sekolah. 

Pada umumnya, sebelum tujuh tahun anak masih berada di tahap pematangan kemampuan motorik. Bisa jadi ia mampu secara intelejensi, namun kebutuhan motoriknya jadi kurang terpenuhi akibat pembatasan gerak. Mereka yang masih masanya aktif bergerak dituntut untuk lebih tenang dalam berkegiatan di jenjang SD.

- Kemandiran

Dalam kegiatan belajar SD, anak diharapkan sudah lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada orang lain. Menyelesaikan persoalan harian yang dihadapi sendiri, juga paham akan hak dan kewajibannya selama bersekolah. Rata-rata anak memiliki kemampuan untuk bisa mandiri ini pada usia tujuh tahun, mereka bisa bertanggung jawab pada diri sendiri. Dibawah itu, biasanya anak masih membutuhkan dampingan orang tua terus-menerus, yang resikonya justru bisa menghambat proses perkembangan mereka. 

- Kecerdasan

Kegiatan pendidikan di SD tentu berbeda dengan jenjang sebelumnya yaitu TK ataupun PAUD yang utamanya adalah anak bermain. Dalam pelajaran SD, ada lebih banyak materi yang perlu dipelajari oleh anak, apalagi anak juga sudah diharapkan mampu berprestasi. Kemampuan untuk anak bisa memahami materi SD ini rata-rata ada pada anak usia tujuh tahun. Dibawah itu, perlu catatan khusus dari profesional terkait, baik pada anak yang memiliki kecerdasan atau bakat istimewa dan anak yang dinilai siap secara psikis. 

Ilustrated Picture

Aspek-aspek tersebut memang tidak bisa dinilai hanya berdasarkan usia, karena pada dasarnya setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda. Usia tujuh tahun dianggap sebagi usia rata-rata kemampuan anak yang sesuai dengan kondisi pembelajaran di SD. Tahap perkembangan yang dimaksud oleh Psikolog Rose Mini pada Maret 2022 lalu seperti diungkap Detik antara lain:

- Aspek Fisik

Kemampuan motorik kasar dan halus yang sudah matang agar bisa lebih tenang mengikuti kegiatan di SD. Sebelum itu, anak perlu kesempatan untuk bisa mengeksplorasi tubuh dan lingkungannya dalam berbagai aktivitas gerak fisik, untuk menyalurkan energinya, untuk mematangkan kemampuan motorik kasar juga halus. Setelah mencapai kematangan aspek motorik, anak lebih siap untuk belajar dengan tenang di bangku SD.

- Bahasa

Sebelum mulai masuk SD, pastikan anak bisa berkomunikasi dengan baik. Penilaian objektif bahwa anak mampu berbicara dan mendengarkan. Kegiatan tersebut bisa dimulai dari perkenalan diri, menjawab pertanyaan, bercerita, juga bernyanyi. Tidak hanya bagi orang tua atau orang terdekat, anak juga diharapkan mampu berkomunikasi dengan baik pada orang lain.

- Kognitif

Kemampuan anak tidak bisa langsung ditujukan pada calistung, karena ada banyak kemampuan kognisi lainnya yang perlu diasah sebelum sekolah. Seperti pengenalan warna, bentuk, simbol-simbol, juga benda disekitar. Apakah anak sudah mampu membedakan benda-benda, ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam mengingat dan memahami hal-hal lebih kompleks lainnya saat SD nanti.

- Sosial Emosional

Sebagai manusia yang perlahan dilepas untuk bisa menyesuaikan diri dengan tanggung jawab, penting bagi anak untuk memiliki kemampuan sosial emosional yang baik. Apakah anak sudah mampu berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku, dapat interaktif beraktivitas dengan orang lain, menghargai perbedaan, serta membantu orang lain. Dengan kematangan sosial emosional, seseorang harusnya mampu melakukan hal tersebut, dan kemampuan ini menyesuaikan dengan perkembangan tiap anak, yang bisa dinilai juga dari rata-rata usia anak. 

- Kemandirian

Sebelum masuk SD, setidaknya anak perlu melakukan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan dirinya. Mulai dari sadar dengan rutinitas harian yang ia miliki, mampu mulai dari makan sendiri, pakai baju sendiri, ke toilet sendiri, dsb. Karena di SD diharapkan aak tidak lagi butuh pendampingan guru, seperti yang dilakukan oleh guru TK. Guru SD lebih fokus pad apelajaran dan penilaian kemampuan siswa.

Ilustrated Picture

Resiko Usia Tidak Tepat Sekolah

Dari beberapa aspek tersebut dan pemahaman bagaimana kondisi yang akan anak hadapi di SD nanti, kita sebagai orang tua bisa memperkirakan apakah anak sudah mampu atau belum. Jika anak belum siap, kita bisa terus melatih kemampuan mereka dengan stimulasi yang tepat. Tentunya dikemas dalam kegiatan bermain hingga usia anak sudah mencapai usia ideal masuk sekolah. Namun, jika anak yang nyatanya belum siap tetapi malah dipaksakan mengikuti kegiatan yang belum kapasitasnya, ada beberapa resiko yang bisa terjadi seperti

- Anak kesulitan beradaptasi dengan lingkungan juga kegiatannya

- Sulit memahami pelajaran yang diberikan

- Merasa tidak nyaman bersekolah yang bisa mempengaruhi kegiatan anak lainnya


Kesimpulan

Penting untuk kita ketahui bahwa pendidikan jenjang SD adalah tahap awal pendidikan yang serius bagi anak. Setidaknya mereka akan bersekolah selama dua belas tahun. Belum ditambahkan dengan masa kuliah nanti. Mereka punya tanggung jawab dalam menyelesaikan kegiatan tersebut, ada hak dan kewajiban yang mengikutinya, berbeda dengan saat TK. Anak hanya datang lalu melakukan kegiatan bersama yang didampingi oleh guru. Anak juga masih diberi kebebasan tanpa konsekuensi dalam mengikuti kegiatan di TK. Di SD sudah mulai adanya tuntutan tertentu terhadap anak, untuk anak menyelesaikan materi pelajaran bahkan hingga dibawa pulang, kemampuan mereka terus dinilai. Anak dalam tahap ini diharapkan mampu menyesuaikan diri dan melakukan banyak kegiatan, kadang yang menyenangkan kadang juga kurang mereka sukai tapi tetap perlu dilakukan. Sehingga penting untuk menyesuaikan kematangan anak dengan kondisi tersebut.

Kematangan ini tidak serta merta didapakan, namun rata-rata sudah dimiliki oleh anak usia tujuh tahun atau minimal enam tahun. Anak perlu kesempatan, waktu dan ruang bagi mereka menggerakkan tubuh, mengeksplorasi sekitar, mencoba melakukan hal-hal baru. Termasuk kesempatan untuk menentang, mencoba hal yang berkebalikan dengan yang kita katakan, kadang bahkan hal yang menyalahi norma. Hal yang masih bisa dimaklumi dalam usia anak dibawah tujuh tahun yang memang sedang masa uji coba. Stimulasi, arahan, dan pendampingan perlu terus kita lakukan agar anak benar-benar siap memulai pendidikan mereka nantinya. 

Sehingga sangat disayangkan jika anak tidak memiliki kesempatan bertumbuh yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Waktu yang seharusnya anak gunakan untuk mengembangkan diri melalui bermain harus dialihkan pada kegiatan panjang di sekolah. Anak yang belum siap memikul tanggung jawab, dituntut untuk bisa memahami dan menyelesaikan persoalan di sekolah. Efeknya mungkin tidak langsung terlihat, mungkin juga tidak ada dampak yang berarti, namun bukankah kewajiban kita sebagai orang tua untuk memfasilitasi mereka sesuai perkembangan bukan mengejar mereka sesuai timeline kita?



Salam, Nasha

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Rekomendasi Tas Sekolah Anak Minim Plastik, Pilihan Murah yang Tidak Murahan

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Juni 2026 (1)
      • Menerapkan Unbothered Energy dalam Kehidupan Sehar...
    • ►  Mei 2026 (1)
    • ►  April 2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Rekomendasi Tas Sekolah Anak Minim Plastik, Pilihan Murah yang Tidak Murahan

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes