• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Dengan makin berkembangnya ilmu pengasuhan kini, rasanya ada makin banyak pula hal yang perlu kita ajarkan pada anak. Salah satunya adalah delayed gratification, kemampuan menunda kesenangan untuk sesuatu yang lebih besar di masa depan. Mungkin anak tidak begitu paham dengan istilah ataupun definisinya, tapi mereka tetap bisa berlatih jika kita memahami dan membiasakannya pada mereka. Dengan tujuan untuk membentuk karakter anak yang sabar, gigih berjuang, menghargai proses, serta mampu mengendalikan diri; mari kita belajar tentang delayed gratification dan cara menerapkannya. 


Delayed Gratification

Seperti yang tadi disebutkan, delayed gratification berarti menunda kesenangan saat ini untuk sesuatu yang lebih besar di masa depan. Keterampilan ini berhubungan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Walter Mischel pada tahun 1960-an bernama marshmallow test. Saat itu sekelompok anak usia pra-sekolah diberi pilihan untuk memakan marshmallow yang ada di depan mereka saat itu juga atau menunggu 15 menit untuk mendapatkan yang lebih banyak. Hasilnya anak yang berhasil menunggu cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Orang tua menilai bahwa mereka memiliki skor akademik yang lebih baik, kefasihan verbal, lebih mampu fokus, dapat merencanakan dengan baik, serta memiliki kemampuan sosial yang baik pula. Dari percobaan panjang itu disimpulkan bahwa delayed gratification yang mengindikasikan self control seseorang, berpengaruh pada bagaimana ia menjalani hidupnya. 

Bayangkan saja, anak yang meminta mainan di pusat perbelanjaan. Antara anak yang terbiasa mendapatkan langsung mainan yang ia inginkan dan akan tantrum ketika tidak mendapatkannya dengan anak yang bisa diajak berkomunikasi bahwa mainan yang ia inginkan tidak bisa ia dapatkan sekarang. Entah karena memang tidak ada dalam rencana, tidak butuh, belum cukup uangnya, dan seterusnya. Anak yang mau mencoba memahami alasan tersebut tampak lebih bijaksana, kan? Bayangkan mereka tumbuh dewasa dengan bekal mental demikian.

Jika dirinci, manfaat dari menunda kesenangan itu antara lain:

  • Lebih tenang menghadapi situasi yang tidak menyenangkan baginya. Sebab ia paham memang tidak semua keinginannya bisa terwujud apalagi secara instan. Maka ketika ia tumbuh makin besar dan dewasa, ia sudah memahami fakta tersebut sehingga bisa lebih santai menghadapinya.
  • Sebagai sarana latihan kesehatan mental atau kestabilan emosi. Dengan belajar menunda kepuasan, anak juga sudah terbiasa menghadapi situasi di mana ia berhdapan dengan berbagai emosi. Ia sudah berpengalaman dengan emosi seperti kesal, sedih, gregetan, ketika menunggu untuk mendapatkan apa yang ia mau. Maka selanjutnya, ia lebih bisa mengontrol emosi tersebut.
  • Melatih anak untuk gigih, fokus pada tujuan, serta menjadi perencana yang lebih baik. Dengan menunda kepuasan, anak dilatih untuk paham apa yang benar-benar ia inginkan, kapan mendapatkannya, bagaimana caranya, apa yang perlu ia lakukan. Seterusnya anak dapat menjadi pribadi yang bisa menyusun rencana dan fokus menindak lanjutinya. 
  • Lebih bijaksana dalam pengambilan keputusan karena lebih tidak bgitu terpengaruh dengan emosi. Banyak pengambilan keputusan kita yang berdasar pada emosi sesaat atau karena impulsif. Di sinilah fungsi pengendalian diri sehingga anak tidak serta merta mengambil keputusan ceroboh yang bisa ia sesali. Dengan menunda kepuasan, kita jadi mengajak anak berpikir lebih panjang akan apa yang benar-benar ia inginkan. Di masa depan, anak terlatih untuk mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan sesuatu. Hal ini bisa mempengaruhi banyak aspek hidupnya, seperti pola hidup yang sehat, penggunaan uang, hingga komitmen dalam hubungan.
  • Memiliki hubungan yang lebih berkualitas, dengan kematangan emosional. Tentu lebih mudah untuk berhubungan dengan orang yang tenang dibanding mereka yang meledak-ledak, kan? Biasanya, orang dengan kstabilan emosi dapat mengendalikan diri yang tecermin dalam perilaku yang lebih bijaksana. Ia bisa bertutur kata dan bertindak sesuai dengan tempat dan lawan bicaranya sehingga memiliki hubungan yang cenderung lebih baik. 
Tidak hanya pada anak, kemampuan ini juga bisa kita kembalikan pada diri kita sendiri. Bandingkan antara orang yang impulsif harus mendapatkan apa yang ia mau saat itu juga dengan orang yang bisa bersabar dalam mendapatkan apa yang ia inginkan. Di antara dua tipe tersebut, mana yang menurut kita lebih baik? Tipe mana yang kita harapkan ada pada anak kita? Lalu, bawakan ke diri sendiri. Sudah cenderung menjadi orang seperti apa kita sebagai teladan bagi anak-anak ini?


Kiat Menerapkan pada Anak

Dengan memahami berbagai manfaat dari delayed gratification tadi, harusnya tidak ada lagi keraguan untuk menerapkan ajaran ini pada anak-anak kita. Mungkin masih asing istilahnya bagi kita, namun saya yakin ajaran ini sudah ada sejak zaman dulu. Orang tua yang menyuruh kita bersabar, meminta kita untuk menabung sehingga bisa membeli sendiri apa yang kita mau dengan tabungan tersebut, atau nasihat-nasihat bahwa kita tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kita mau, apalagi saat itu juga. 

Maka, berikut beberapa cara yang juga saya coba praktikkan pada anak agar mereka bisa menjadi orang yang menunda kesenangan atau delayed gratification:

  • Menjadi teladan. Ini akan selalu menjadi kiat nomor satu ketika kita memberikan ajaran pada anak-anak. Mereka belajar dengan meniru. Maka jadilah sosok yang pantas ditiru. Perlihatkan pada anak kita yang bersabar dalam mendapatkan yang kita inginkan. Sampaikan terus, sounding ke mereka, ulang-ulang cerita bagaimana kita menunggu dengan sabar.
  • Ingatkan anak tentang proses. Hal ini bisa disampaikan melalui kisah ataupun praktik langsung. Ajak anak memasak, misalkan. Buat mereka paham bahwa makanan yang terhidang di meja tidak serta merta ada, namun butuh proses panjang untuk mendapatkannya. Ajak mereka membuat kerajinan tangan, sehingga mereka melihat langsung mainan yang mereka terima juga butuh waktu dan usaha dalam pembuatannya. Atau belanja daring, sehingga anak tahu butuh waktu beberapa hari dalam pengiriman sehingga apa yang diinginkan sampai di tangan.
  • Biasakan memberi anak jeda saat menginginkan sesuatu. Jika bukan hal yang mendesak seperti makanan ketika lapar, coba buat anak menunggu dulu. Tidak serta merta langsung memberikan apa yang ia mau. Buat keadaan di mana ia harus memenuhi dulu sesuatu sebelum mendapatkan sesuatu. Misalkan membereskan mainan terlebih dahulu sebelum ia diperbolehkan menonton. Atau temani ibu berbelanja dulu sebelum mampir ke toko mainan. Bisa juga dengan membiasakan anak dengan kalimat jika-maka. Jika anak mau hak, maka penuhi dulu kewajiban. 
  • Buat semacam tantangan yang menjadikan aktivitas menunggu atau menunda anak menjadi lebih seru.  Misalkan mengajak ia membuat cemilan kesukaan atau mengajarinya menabung. Permainan jika-maka tadi juga bisa dibuat dengan lebih seru, seperti jika anak mau mainan maka ia perlu menyapu teras rumah selama seminggu. Dengan begitu anak bisa belajar untuk menunda kesenangan sekaligus kerja keras untuk mendapatkan sesuatu. 

  • Apresiasi usaha mereka. Kita tidak ingin anak yang hanya fokus pada hasil yang mereka dapatkan, maka coba untuk mengapresiasi proses yang mereka lalui. Apresiasi ketika mereka mau menunda, semangati mereka, bisa pula temani mereka dalam prosesnya. 

Saya yakin setiap kita menginginkan anak yang memiliki kematangan emosional dengan kemampuan menunda kesenangan, namun kadang praktiknya malah kita lupakan dalam keseharian. Orang tua yang tidak tahan mendengar tangisan anak sehingga memberi saja apa yang ia mau, orang tua yang malu dengan teriakan anak di tempat umum sehingga mengabulkan terus apa yang ia inginkan. Padahal, saat itu adalah waktu yang tepat bagi mereka belajar, sehingga terlatih untuk bisa mengendalikan diri. Biarkan mereka mengekspresikan kekesalan atau kesedihannya, selagi tidak merusak atau menyakiti, beri mereka ruang dan waktu. Pelan-pelan mereka akan belajar dan paham. Maka, inilah yang menjadi catatan paling awal untuk orang tua. Jauh sebelum kita mengajarkan mereka tentang pengendalian diri, kita sendirilah yang harus bisa mengendalikan diri. 



Salam, Nasha

Dampak penggunaan smartphone yang belakangan makin negatif menimbulkan banyak keprihatinan dari berbagai pihak. Bahkan tidak sedikit pemerintah negara yang mengatur secara resmi penggunaan ponsel ataupun media sosial pada anak usia tertentu. Di negeri sendiri, sudah banyak pakar yang menyoroti efeknya berupa kesehatan mental pada dewasa dan gangguan perkembangan pada anak. Kita sebagai penggunalah yang harus mengambil kendali. Di dunia digital tempat kita hidup saat ini, larangan pada anak saja tidak lagi cukup, tapi bagaimana kita sebagai orang tua juga orang dewasa di sekitar anak mengendalikan penggunaan gadget di sekitar mereka.


Screen Time

Secara harfiah, screen time kita artikan sebagai waktu yang digunakan untuk menatap layar perangkat elektronik berupa handphone, tablet, laptop, juga televisi. Hampir semua rumah kini memiliki setidaknya satu dari perangkat tersebut. Tidak sedikit pula yang memiliki semuanya. Bahkan satu orang saja bisa memiliki beberapa perangkat sekaligus. Dekade terakhir penggunaan gawai menjadi sangat masif dan tidak terbatas usia. Lansia diperkenalkan agar bisa terhubung dengan keluarga, anak kecil diperkenalkan sehingga bisa sementara teralihkan. 

Kini lebih mudah menemukan anak yang duduk diam di depan layar dibanding mereka yang berkeliaran aktif sesuai kodratnya. Di tempat umum, bukan hanya orang dewasa namun batita juga menunduk pada gadget mereka. Bahkan ada pula anak yang belum 1 tahun sudah dikenalkan dengan gadget. Seolah apa yang tejadi di dunia sana jauh lebih penting dari apa yang ada saat ini. Tidak bisa dipungkiri, apa yang ada di genggaman terlihat lebih menarik dibanding kenyataan apa adanya di hadapan kita saat ini. Akan tetapi, kebiasaan itu membawa dampak yang merusak, bukan hanya diri kita tapi juga masa depan anak-anak di sekitar kita.

Pengalihan pikiran yang cepat sesuai dengan cepatnya konten di media sosial, kecemasan juga depresi akibat pikiran yang melayang-layang setelah mengonsumsi konten yang menampilkan hal di luar jangkauan, ataupun diri yang kewalahan setelah terlalu lama tenggelam dalam dunia yang tidak nyata. Akibat selanjutnya adalah penurunan kualitas kesehatan mental dan tingkat konsentrasi hingga menurunkan kualitas hidup kita sendiri. Dampak ini menjadi lebih berbahaya bagi anak. Manusia yang masih belum matang dan rentan dengan ketidak siapan mereka menghadapi dunia luar.

Menanggapi fenomena tersebut, Australia belum lama ini menerapkan batasan usia untuk penggunaan media sosial yakni 16 tahun. Sebelumnya, negara-negara yang mayoristas berada di benua Eropa seperti Finlandia, Belgia, Italia, Prancis, dsb juga telah menerapkan aturan serupa. Swedia juga telah mengembalikan penggunaan alat dan perangkat fisik menggantikan perangkat digital yang beberapa tahun ini murid-murid mereka gunakan. Artinya, memang sudah sepatutnya ada ketentuan yang tegas dalam penggunaan gadget atau batasan screen time khususnya pada anak-anak. Dan tidak ada lagi yang bisa melakukannya jika bukan kita, para orang tua, dewasa yang bertanggung jawab di sekitar mereka. 


Menerapkan Batasan Screen Time

Seperti telah sedikit disinggung tentang dampak dari penggunaan gadget dengan tidak tepat di atas, menerapkan batasan screen time diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif tersebut. Tujuannya agar kita bisa mengendalikan teknologi ini untuk memudahkan urusan sesuai dengan niat awalnya, bukan untuk membuat kita terlena pada urusan yang sesungguhnya. Sama seperti negara-negara yang menetapkan aturan pada screen time, tidak ada larangan untuk menggunakan gadget namun harus ada batasannya. Tidak terkecuali pada kita, orang dewasa. Hanya saja, karena sudah dewasa dan dianggap bisa bertanggung jawab pada diri sendiri, kita tidak memerlukan negara untuk melakukan pembatasan tersebut. Kita bisa melakukannya sendiri. Benar, kan?

Jika masih ragu, berikut penjabaran manfaat pembatasan screen time pada orang tua:

  • Dapat memaksimalkan waktu bersama yang dimiliki
  • Lebih mudah dalam mendidik anak karena perhatian yang tertuju pada mereka
  • Lebih mudah untuk mengoreksi perilaku anak dengan koneksi baik yang telah dibangun
  • Membiasakan anak pada pola kebiasaan hidup yang lebih baik dengan tahu mana yang lebih penting di sekitar mereka
  • Mengasuh anak sesuai fitrahnya, bermain aktif, berinteraksi dengan lingkungan, merasa bosan dan penasaran, mencoba hal-hal baru
  • Serta berbagai manfaat positif lainnya

Untuk melakukan pembatasan screen time, berikut beberapa langkah yang bisa kita lakukan

1. Niat

Sebelum memulai apa-apa, biasakan untuk selalu mengembalikan niat ke tempat asalnya. Pada awal mula. Tanyakan pada diri sendiri, apa niat kita saat memegang ponsel di sekitar anak. Memang ada yang ingin dilakukan atau sekedar kebiasaan memegang ponsel dan membuka tutup aplikasi saja? Lalu, tanyakan lagi, apakah itu memang penting dan tidak bisa ditunda? Jika jawabannya ya, maka lakukan dengan menginformasikannya pada anak. Izin sebentar pada mereka, dan tepati janji sesuai waktu yang kita sebutkan. Sebentar ya, lima menit membalas pesan ini. Lalu, lima menit kemudian kembali fokus pada mereka. 

Ini juga berlaku saat kita mulai mengenalkan gadget pada mereka, niatnya apa? Apa yang kita harapkan saat memberikan mereka tontonan, misalkan? Saat mengenalkan aplikasi pemutar video seperti youtube atau bahkan media sosial seperti instagram juga tiktok? Apa yang membuat kita memberikan mereka akses pada hal-hal tidak terbatas di luar sana?


2. Atur Batasannya

Batasan ini berlaku untuk waktu, bisa juga untuk tempat. Kapan orang tua bisa leluasa memegang ponsel, menonton, atau scrolling hal-hal tidak penting? Kapan orang tua harus menjauhkan gadgetnya dari jangkauan? Setiap kita sebenarnya sudah tahu jawabannya, tapi jika masih ragu ada waktu yang sangat terus disebut oleh para ahli. Waktu yang penggunaan gadget sepatutnya dilarang yakni saat makan dan menjelang tidur. Bukan hanya buruk untuk dilihat anak, tapi juga buruk bagi kualitas hidup kita seperti mengganggu fokus pikiran juga mengganggu kualitas tidur. Gunakan kedua waktu terbaik tersebut untuk memberikan perhatian penuh pada tubuh juga pada anak, tanpa gangguan. Luangkan setidaknya 15 menit dalam 24 jam yang kita miliki untuk perhatian penuh pada mereka, yang katanya paling kita cinta.


3. Zona Bebas Gadget

Ini anjuran yang cukup menarik, di mana ada kesepakatan antara anggota keluarga dalam menentukan area di dalam rumah yang tidak boleh diisi dengan gadget. Jika berada pada area tersebut, tidak boleh membawa gadget ikut serta. Tidak harus area yang besar dan tertutup, area ini bisa jadi hanya seluas karpet atau pojok baca atau sekadar meja makan. Miliki setidaknya satu area di dalam rumah tanpa screen time. Kita juga bisa mengakali penggunaan gadget dengan tidak mempermudah colokan. Misalkan dengan tidak memasang colokan berdekatan dengan tempat tidur, meja makan, meja belajar anak, ataupun sofa. Ini untuk memperkecil kemungkinan kita terus terhubung dengan gadget bahkan saat dayanya sudah melemah. 


4. Alternatif Aktivitas

Besar kemungkinan kita terus menuju ponsel karena tidak ada aktivitas lain lagi. Membaca sudah tidak tampak menarik, meski tumpukan buku sudah ada. Bercengkerama kini lebih banyak dilakukan di dunia maya. Maka, coba buat daftar kegiatan lain yang bisa kita lakukan. Kegiatan-kegiatan baru yang memunculkan rasa penasaran atau yang menuntut konsistensi latihan, apapun itu yang tidak melibatkan perangkat elektronik. Bersama keluarga, cari alternatif kegiatan yang bisa dijadikan sebagai rutinitas bersama, bentuk aktivitas yang bisa dikenang anak-anak kita hingga dewasa. Tidak perlu rumit ataupun mahal, sesederhana lari pagi atau bermain sambung kata juga sudah cukup bagi mereka. 


5. Jadilah Teladan

Inilah goal kita pada akhirnya, untuk menjadi teladan yang patut dicontoh oleh anak-anak kita. Tidak bisa kita hanya bicara, melarang-larang mereka sedangkan kita sendiri tidak menerapkan. Maka kita dulu, menjadi pribadi yang kita harapkan pada anak. Kita ingin anak yang mendengarkan dan memperhatikan ketika seseorang berbicara, maka kita dulu yang menyontohkan. Segera letakkan ponsel ketika anak memanggil, tatap wajah ketika mendengar ocehan mereka. Jika ingin anak yang beradab, kita dulu perlu menjaga adab bersama mereka. Anak adalah cermin bagaimana kita bersikap.


Memang tidak mudah menerapkan screen time dengan banyaknya hal yang bisa kita lakukan dengan gadget, tapi kita harus sadar bahwa fenomena ini sangat rentan pada berbagai efek negatif. Kualitas hidup kita menjadi taruhannya, masa depan anak-anak kita yang bisa dalam bahaya. Screen time memang tidak melukai secara langsung, tapi banyak penelitian telah membuktikan korelasinya pada perilaku yang merusak. Ini saat yang tepat untuk kita benar-benar mengambil kendali, memanfaatkan teknologi dengan sadar dan untuk kebaikan.



Salam, Nasha



Bulan Ramadan akan datang menjelang. Banyak kegiatan yang disesuaikan agar kita bisa optimal dalam melaksanakan ibadah ramadan, termasuk kegiatan sekolah anak-anak. Orang tua cenderung memilih agar anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, tidak terlalu aktif bergerak. Hal ini menjadikan pilihan kelas online menjadi banyak diminati. Biasanya kelas diperuntukkan bagi anak usia dini dari 3-6 tahun ataupun 7-10 tahun agar aktivitas ramadannya lebih terarah. Mereka pun bisa memahami ramadan dengan cara menyenangkan. 



Ada cukup banyak pilihan untuk kelas online ramadan bagi anak-anak. Ada yang hanya satu kali pertemuan per minggu, ada yang tiga kali, ada pula yang memberikan aktivitas setiap hari. Meskipun  namanya program sebulan, tapi rata-rata kelas akan berlangsung selama dua atau tiga minggu saja. Tidak satu bulan penuh, mungkin mempertimbangkan hari-hari mendekati lebaran yang kebanyakan sudah disibukkan dengan agenda mudik lebaran. Pilihan materinya juga beragam, ada yang menambah wawasan keagamaan anak, ada pula yang melatih keterampilan seperti mengaji ataupun berbahasa inggri dengan tema islami. Semuanya dikemas menarik agar anak-anak bisa berembira dalam program pembelajaran tersebut. Nah, berikut beberapa referensi kelas online ramadan yang bisa dijadikan pilihan!


1. The Adventure of Ramadan by Tetacil Playclub

Rekomendasi usia: 2-6 tahun

Program untuk mengenalkan ramadan kepada anak, dengan mendukung orang tua untuk berperan aktif dalam pengasuhan, selama 3 minggu dari 28 Februari - 22 Maret 2025. Program ini diawali dengan pembekalan untuk orang tua, lalu berbagai materi dan aktivitas untuk anak yang diakses secara mandiri sesuai dengan waktu peserta masing-masing.

Harga: 159.000 (promo 139.000)

Info Selengkapnya 


2. Edu Ramadan by Edufic

Rekomendasi Usia: 5-12 tahun 

Program dengan lima materi pelajaran seperti teknologi, puasa, sholat malam, zakat, idul fitri. Kelas ini dilengkapi dengan modul ramadan, booklet, project interaktif, ramadan summit festival, serta berbagai kelas parenting. Kelas diadakan melalui zoom meeting sebanyak 6x pertemuan. 

Harga: 500.000

Info Selengkapnya


3. Main Ngabuburit by Planet Sains

Rekomendasi usia: 5-12 tahun

Program eksperimen sains yang akan dipandu melalui zoom oleh instruktur berpengalaman.  Alat dan bahan yang dibutuhkan anak, dikirimkan dari Bandung. Total ada 12 eksperimen dan pertemuan yang dilakukan secara online melalui zoom. Eksperimen tersebut antara lain membuat model DNA, otot, sendi, gigi, hingga boneka kungfu. 

Harga: 300.000 (belum termasuk ongkos kirim kit)

Info Selengkapnya


4. Ramadan Mini Explorer by Rumah Biru Langit

Rekomendasi Usia: 2-5 tahun

Kelas intensif pendampingan melalui grup whatsapp dari tanggal 5-21 Maret 2025. Peserta akan mendapatkan lesson lan selama 13 hari. Serta berbagai kegiatan lain seperti menyimak cerita, kajia doa haria, serta jurnal ramadan. 

Harga: Seikhlasnya (untuk hadiah lebaran anak yatim piatu di Daar El-Khairiyyah, Madura)

Info Selengkapnya


5. Ramadan Challenge Package by Alkinkids

Rekomendasi Usia: 

Paket aktivitas anak selama 30 hari di bulan ramadan yang berisi lembar kegiatan, tanntangan, reward, serta dekorasi ramadan, yang bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan, semangat, pemahaman anak pada islam, juga melatih kreatifitas anak dengan berbagai aktivitasnya. Dilengkapi juga dengan video interakti tentang cerita fiqih untuk anak.

Harga: 69.000

Info Selengkapnya


6. Online Class Maret (Ramadan & Idul Fitri) by Muslim Kids

Rekomendasi Usia Kelas reguler: 3-6 tahun

Rekomendasi Usia Kelas Mengaji dan Tahfidz: 5-12 tahun

Kelas terdiri dari 5 orang per grup dengan total pertemuan sebanyak 7x (2x pertemuan/ minggu) dengan menggunakan zoom berdursi 45-60 menit. Kegiatan berupa materi tauhid/ sirah/ sunnah/ ibadah yang ditambah dengan mengaji, tahfidz, serta aktivitas seru lainnya. 

Harga: 173.000

Info Selengkapnya 


7. Petualangan Ramadan 30 Hari Kreatif dan Edukatif by Play All Day Club

Rekomendasi Usia: 3-10 tahun

Program pembelajaran melalui whatsapp group dari tanggal 27 Februari - 28 Maret 2025 dengan berbagai tantangan seru, kisah inspiratif, serta kreasi dan aktivitas kreatif bersama-sama. 

Harga: Gratis

Info Selengkapnya


8. Kelas by Fudhail Academy

Rekomendasi Usia: 5-12 tahun

Berbagai kelas yang akan dipandu oleh Kak Erlan seperti kelas tahsin, tahfidz, kelas mihrab shalat, kelas karakter dan adab. Rata-rata satu kelas terdiri dari 6x pertemuan dengan 2-3x pertemuan per minggu. Pembelajaran melalui zoom dan group whatsapp serta materi sesuai dengan kelas yang dipilih. 

Harga: 130.000

Info Selengkapnya


9. Ramadan Language Program by bahasainggrisanak

Rekomendasi Usia:

Kelas pembelajaran bahasa inggris dengan dua fokus utama yaitu phonic atau pelafalan serta storytelling atau kreatif bercerita dalam bahasa inggris. Target pembelajarannya berupa percakapan dasar juga vocabulary.

Harga: 300.000 (promo 200.000)

Info Selengkapnya 


10. English for Kids Kampung Inggris

Rekomendasi Usia: 6-13 tahun

Program short course yang berlangsung setiap Senin dan Rabu pada pukul 15.00-16.00 dengan peserta 10 orang dalam setiap kelas. Pertemuan live dilakukan via zoom lalu akan ada tugas dan diskusi yang dilakukan melalui whatsapp. Ada 9 materi yang akan dipelajari anak yang akan ditutup dengan final review pada pertemuan terakhir.

Harga: 250.000

Info Selengkapnya


11. Kelas Ramadan by Sebingkisah

Rekomendasi Usia: > 7 tahun

Lima kelas yang tersedia yakni kelas tahsin, kelas shirah nabi, kelas kaligrafi, kelas bahasa arab, dan kelas tajwid dengan masinh-masing kelas terdiri dari 6 kali pertemuan berdurasi 60 menit. Pertemuan dilakukan melalui zoom dan youtube serta dilengkapi bimbingan 1-2 pekan bersama mentor.

Harga: 25.000 per 2 sesi atau 69.000 per kelas

Info Selengkapnya


Nah, itulah beberapa rekomendasi kelas online yang bisa diikuti oleh anak selama bulan ramadan nanti. Selain itu, ada pilihan kelas online lain yang berjalan reguler tanpa tema khusus ramadan. Pilihannya tergantung anak dan orang tua, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Ingat, kelas ini hanyalah alternatif kegiatan anak hanya jika anak bersedia dan bisa didampingi orang tua tanpa paksaan. Jika tidak ingin mengikuti kelas, anak juga bisa dibekali dengan lembar kerja ramadan yang bisa orang tua cetak mandiri atau gunakan dengan gadget yang dimiliki.

Rekomendasi Ramadan Worksheet Journal untuk Anak

Semoga bermanfaat!



Salam, Nasha

Mungkin dulu kita mengenal worksheet sebagai lembar kerja yang digunakan untuk urusan akuntansi. Namun sekarang, kata worksheet juga umum digunakan untuk lembar belajar anak, bahkan banyak yang diperuntukkan bagi balita! Terlalu dini? Jawabannya tergantung perkembangan anak dan materi yang disediakan. Karena bukan seperti worksheet yang kita kenal dulu, worksheet anak dibuat sebagai media aktivitas yang melatih keterampilan anak salah satunya motorik halus. Lebih lengkap lagi, yuk simak manfaat dan rekomendasi worksheet anak di bawah ini!


Penggunaan Worksheet

Seiring dengan perkembangan zaman, aktivitas anak juga mengalami perubahan. Kita kecil mungkin tidak mengenal worksheet, tapi tidak sedikit dari kita yang diajarkan olehorang tua secara mandiri dengan berbagai aktivitas seperti pada worksheet kini. Dulu kita ataupun mereka, diberi ruang untuk memegang alat tulis, diinstruksikan membuat garis atau bentuk tertentu, serta menggunting dan menempel. Mereka yang bersekolah sekolah dari usia dini, melakukannya di kelas bersama guru. 

Kini, worksheet anak hadir sebagai lembar aktivitas tersebut. Jadi, orang tua, guru, ataupun pengasuh anak tidak lagi repot memikirkan aktivitas apalagi membuatnya. Tinggal menyerahkan lembar kerja itu pada anak lalu mendampingi mereka mengerjakannya. Pada anak usia lebih lanjut, bahkan pengasuh tidak lagi perlu terus menemani. Lebih praktis, kan?

Catatannya adalah anak terlebih dahulu dikenalkan dengan benda nyata/ konkret sebelum membuat mereka berpikir membayangkan benda tersebut. Pikiran anak atau kognisi mereka memang masih berada pada tahap mengenali objek dengan seluruh indra mereka, baik dilihat, diraba, didengar, dicium. Anak perlu melihat binatang secara langsung, mendengar suara mereka, mengenali bau dari hewan, kadang bahkan juga mengelus. Anak-anak juga belajar dengan menghitung langsung hewan yang mereka temui itu. Setelah itu, barulah anak diajari membedakan bentuk dua dimensi di kertas ataupun menghitung gambar yang tertera di sana. Maka, usia rekomendasi untuk anak mulai dikenalkan dengan worksheet setidaknya tiga tahun. Ingat, kita tidak sedang berlomba mengasuh dengan siapa-siapa, perhatikan kesiapan anak.

Jika dirasa anak sudah siap untuk worksheet, maka kita juga perlu memperhatikan lembar aktivitas mana yang sesuai dengan perkembangan anak. Misalkan di tahap awal atau usia 3-4 tahun, anak diajak untuk menarik garis sesuai contoh,  mewarnai, maupun  mengenal bentuk. Untuk tahap selanjutnya, mungkin di atas usia 4 tahun, anak sudah bisa diajak mengenal simbol huruf dan angka, menuliskannya dengan menjiplak (tracing), serta menghitung gambar. Tahap lebih lanjut, yakni setelah 5 tahun, aktivitas anak bisa mencakup hitungan sederhana, serta latihan menulis membaca. Jika ana sudah bisa calistung, worksheet-nya bisa berupa instruksi seperti menjawab pertanyaan dari soal cerita, mencocokkan kata dan keterangan, mengisi huruf yang kosong, hingga teka-teki silang. Pada setiap aktivitas itu memang ada perkiraan usia anak, namun tetap kita kembali pada tahap perkembangan  masing-masing mereka.


Manfaat Worksheet

Jika sudah paham bagaimana menggunakan worksheet yang tepat bagi anak, kita coba merinci apa saja manfaatnya, antara lain:

  • Menjadi media belajar yang menyenangkan bagi anak
  • Perkembangan motorik halus, dengan berbagai aktivitas seperti menggunting, menempel, mewarnai
  • Sebagai alternatif kegiatan anak yang bermanfaat
  • Memberi pesan positif pada anak
  • Menambah perbendaharaan kata anak
  • Melatih fokus, konsentrasi anak, juga daya ingat
  • Meningkatkan kreativitas
  • Menjadi alat untuk quality time antara anak dengan orang tua
  • Menambah pengetahuan dengan informasi singkat di dalamnya
  • Melatih kemandirian anak
  • Melatih keterampilan problem solving anak
  • dll

Sekali lagi, manfaat tersebut bisa anak dapatkan secara optimal jika kita sebagai orang tua benar dalam proses kurasinya, serta tetap mendampingi mereka ketika mereka tidak paham atau kesulitan memahami instruksi.


Rekomendasi Worksheet

Dalam prosesnya, worksheet disusun sesuai dengan tema yang dibutuhkan dan tahap perkembangan anak. Ada yang mengkategorikan berdasarkan usia, tema, juga jenis aktivitasnya. Beberapa rekomendasi worksheet yang saya gunakan untuk anak antara lain:

  • Worksheet usia 3-5 tahun
  • Worksheet Pra-Calistung
  • Calistung Sederhana 
Tahap selanjutnya adalah lembar aktivitas di mana anak akan menulis kata juga menghitung objek benda. Bisa jadi kegiatannya berupa mengisi huruf yang kosong, menentukan bentuk benda, mencocokkan, ataupun menentukan mana yang lebih besar/ kecil.
  • Matematika
Ada banyak aktivitas berhitung yang bisa anak pelajari seperti tambah, kurang, kali, bagi, yang dibuat sesederhana mungkin. Pada worksheet, bentuk latihannya akan berbeda dengan latihan soal yang biasa kita temui pada buku pelajaran. 
  • Ramadan/ Muslim

Pada tahap awal ini, jenis kegiatannya merupakan campuran antara mewarnai, menggunting, menempel, juga mengikuti pola.

Untuk jenis ini, ada aktivitas berupa pengenalan simbol huruf dan angka. Anak juga akan diminta untuk tracing bentuk huruf dan angka tersebut.

Sesuai dengan namanya, worksheet ini bisa digunakan oleh anak untuk belajar menyenangkan tentang agama, bisa pula untuk digunakan saat ramadan. Saat ini banyak worksheet journal yang ditawarkan sebagai lembar harian anak selama berpuasa nanti. Mereka bisa mencatat ibadah harian juga tetap beraktivitas dengan poitif sesuai dengan syariat selama ramadan. Menarik sekali, kan?

Saya sendiri sudah berulang kali menggunakannya untuk anak. Mencetak sendiri buku elektronik yang didapat dari pembelian pada market place. Anak sangat senang dan menanti rutinitas ia mengisi worksheet-nya. Tahun ini, saya coba untuk membuatnya sendiri agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan apa yang ingin saya ajarkan pada anak. Sebab kadang, nasihat yang ia dengar dari saya saja terasa kurang cukup, maka saya selipkan di woksheet tersebut agar dapat ia baca sendiri. 

Tidak hanya untuk anak sendiri, worksheet tersebut saya niatkan untuk anak-anak lain sebagai media belajar selama ramadan nanti. Saya sediakan secara digital untuk dicetak oleh ayah ibu juga om tante sekalian dengan harga sangat terjangkau. Bisa untuk anak dan keponakan, kan? Untuk mendapatkan file-nya silakan klik link di bawah ini, ya!

Ramadan Worksheet Journal untuk Anak





Worksheet Journal tersebut berisi jurnal harian anak yang perlu diisi anak setiao hari untuk mencatat ibadahnya, yang dilengkapi juga dengan asmaul husna dan misi kebaikan harian anak. Jadi setiap hari ada kebaikan yang perlu dilakukan anak, bisa pula ia tambahkan sendiri. Hal ini untuk melatih anak agar senantiasa berbuat baik.

Selain jurnal, buku ini juga dibuat dengan lembar aktivitas berupa mewarnai, mencocokkan kata, mengisi huruf yang kosong, juga teka-teki untuk mereka jawab. Materi yang digunakan adalah pengetahuan keagamaan umum yang mudah dipahami, bahkan juga bisa menjadi bahan pengajaran ataupun diskusi orang tua. Jadi anak yang bisa membaca dapat mengerjakannya secara mandiri sedangkan anak yang belum bisa membaca dapat didampingi oleh orang dewasa. Recommended!

Nah, itulah pembahasan saya tentang worksheet. Ramadhan worksheet journal-nya bisa dinikmati langsung setelah melakukan pembelian, ya! Semoga bermanfaat!



Salam, Nasha

Bagi mereka yang tidak menyukai cerita khayalan atau biasa kita kenal dengan fiksi, namun tetap ingin menonton, maka dokumenter adalah jawabannya. Hebatnya, dokumenter sekarang disajikan sama menariknya dengan serial fiksi, dengan tokoh dan penyampain fakta yang menakjubkan. Berbeda dengan fiksi, setelah menyaksikan tayangan non fiksi, kita bisa melihat dunia dengan cara berbeda, sesuai dengan apa yang dibahas pada tayangan tersebut. Nah, berikut beberapa dokumenter yang cukup ringan tapi bisa memperluas sudut pandang kita.



  • Our Planet

Ini akan jadi dokumenter nomor satu buat saya, karena serial ini yang membuka mata saya tentang keindahan alam semesta. Sebenanrnya ada cukup banyak dokumenter serupa, yang menawarkan kehidupan flora fauna, tapi yang satu ini benar-benar bisa membuat saya terpukau dan menyaksikannya berulang-ulang. Di serial ini, digambarkan kehidupan fauna berdasarkan habitat mereka masing-masing. Jadi cukup lengkap untuk disaksikan, dan harusnya setelah menonton ini kita jadi makin sayang binatang, lalu ikut aktif menjaga lingkungan. Ngomong-ngomong soal lingkungan, Pulau Plastik ataupun Seaspiracy juga bisa masuk daftar tontonan.


  • Buy Now: The Shopping Conspiracy
Dokumenter dengan ide serupa sebenarnya sudah ada beberapa, seperti minimalism, tapi Buy Now disajikan dari sudut pandang yang berbeda. bagaimana perusahaan memang mendorong masyarakat untuk konsumtif. Mereka menciptakan tren, melakukan pemasaran besar-besaran, dan menciptakan ilusi tentang kebenaran barang tersebut. Seolah kita memang membutuhkannya, padahal tidak sama sekali. Film ini cukup membuka mata kita, ternyata selama ini kita dikendalikan oleh tangan-tangan raksasa melalui stimulasi mikro yang terus-terusan ada di depan mata. 

  • The Social Dilemma
Film ini menjadi semacam suara protes dari bagaimana kehidupan digital modern telahmenjauhkan kita dari hakikat asli manusia. Berisi berbagai argumen yang diungkapkan oleh orang-orang dibalik layar raksasa teknologi dunia. Mereka yang merasa bersalah akan apa yang mereka ciptakan. Bagaimana gawai terutama telepon genggam dibuat sudah jauh melampaui niat awalnya, kini telah menjadi semacam monster pencari perhatian yang telah merusak hidup banyak orang. Sebagai pengguna aktif gadget, film ini perlu sekali disaksikan. 


  • Hack Your Health: The Secrets of Your Gut

Sebagian besar kita pasti sudah tahu kalau pencernaan adalah kunci kesehatan. Di sisi informasi tentang bagaimana pencernaan kita bekerja itu disajikan dengan ringan dan mudah dipahami. Dari apa yang kita konsumsi hingga ke mikroba yang ada pada tubuh masing-masing kita, maka benar kalau pola diet masing-masing orang itu berbeda. Film ini bisa menambah wawasan tentang bagaimana gaya hidup dan pola konsumsi kita sebaiknya, yang dapat meningkatkan kualitas hidup kita.


  • Live to 100: Secrets of The Blue Zones

Jika mencari dokumenter tentang hidup secara keseluruhan, maka serial inilah jawabannya. Tontonan yang membuka pikiran dan cukup menyenangkan untuk disaksikan, sebab berisi perjalanan ke desa-desa dengan harapan hidup terpanjang seperti di Jepang, Italia, Yunani. Di sini kita is amelihat bagaimana para tetua itu tetap hidup di usia mereka yang sudah sangat tua. Bagaimana keseharian mereka, apa yang mereka makan, apa saja yang mereka kerjakan, apa kunci hidup sehat mereka. Tayangan yang sangat menyegarkan.


Selain pilihan di atas, ada banyak juga dokumenter informatif lainnya yang bisa kita saksikan, tergantung teman apa yang diinginkan. Selain itu, juga banyak dokumenter tragedi atau bahkan hiburan yang tersedia, seperti biografi tokoh ternama atau seniman yang populer. Bukan hanya membuka mata tentang keseluruhan cerita ataupun menghibur, dokumenter itu juga bisa memberi kita pelajaran seperti kerja keras, kegagalan, kegigihan, dsb. Jadi, pilihan menonton yang bermanfaat seperti apa, tergantung pada apa yang kita tonton dan bagaimana kita memaknainya. Selamat menyaksikan!



Salam, Nasha

Libur panjang tidak hanya minggu ini saja. Ada cukup banyak long weekend yang tercatat di tahun ini. Menyenangkan sih, tapi kadang juga bingung, kalau di rumah saja sebaiknya apa ya yang bisa dilakukan bersama keluarga? Apalagi kalau ada anak-anak yang tampaknya selalu butuh hiburan. Melakukan perjalan juga bukan hal yang bisa sering dilakukan. Jadilah bermain di rumah saja sebagai jawabanan paling masuk akal. Namun, bermain apa ya?




Banyak pertanyaan yang muncul saat memikirkan anak liburan di rumah. Apalagi dengan waktu yang tidak bisa dibilang singkat. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita sadari terlebih dahulu.

Pertama, anak tidak butuh liburan jauh berbiaya tinggi seperti yang kadang kita duga. Mereka hanya butuh waktu dan perhatian penuh kita. Momen berharga dimana mereka bisa benar-benar paham bahwa kita menyayangi mereka, mengutaman mereka melebihi banyak hal di dunia seperti scroll media sosial, game, membalas pesan singkat, ataupun pekerjaan kita. Kita mungkin berpikir, bekerja demi mereka, tapi anak-anak tidak bisa memahami itu dan diri mereka nantinya terbentuk dari kesadaran sejak anak-anak. Menyadari kalau mereka disayangi adalah pondasi untuk mereka menjadi orang yang percaya diri.  

Kedua, anak tidak semanja itu, kok. Mereka bisa bermain sendiri tanpa selalu ditemani. Saya paham tidak seterusnya kita bisa mengawasi mereka, kadang ada pekerjaan yang perlu kita selesaikan. Lagipula, bermain sendiri itu juga penting bagi perkembangan mereka. Jadi, komunikasikan saja. Sampaikan kita ingin melakukan apa, berapa lama, dan tentu saja tepati janji itu. Benar bermain bersama mereka setelah menyelesaikan urusan yang dimaksud. 

Ketiga, di rumah bersama orang tua adalah momen yang berharga bagi anak, meski sering kita sepelekan. Menambah pengalaman dengan bepergian ke tempat yang belum mereka kenal memang menyenangkan, tapi memanfaatkan apa yang ada di rumah saja, juga tidak kalah menggembirakan. Bekerja sama untuk pekerjaan rumah, misalnya. Jadi, coba lakukan saja.

 

Kalau masih bingung, berikut beberapa ide sederhana untuk bermain di rumah bersama anak sebagai kegiatan akhir pekan.

- Memasak Bersama

Memasak lauk mungkin akan terasa membosankan bagi anak, namun belajar memotong dengan alat atau menghias kue berbagai bentuk akan menjadi hal seru dan menantang yang akan mereka coba. 

- Berkebun

Ada banyak hal yang bisa mengisi rasa penasaran mereka di kebun. Sembari mengajak mereka menyirami, juga bermain air, kenalkan anak dengan berbagai tumbuhan dan binatang yang ada. Lengkap dengan bagian tubuh serta keistimewaannya. Kita juga bisa menumbuhkan kecintaan dan kepedulian anak pada lingkungan dari kegiatan ini.

- Belajar melalui science experiment

Untuk melakukan ini, diperlukan beberapa alat dan bahan sederhana. Tapi, dengan banyaknya ide percobaan, pilih saja yang paling mudah dilakukan dengan alat yang memang sudah tersedia di rumah. Ide aktivitas dari detik ini bisa dijadikan acuan untuk bersama anak. Tidak hanya sains, berkreasi juga bisa dilakukan dengan lebih sederhana seperti menggunting dan menempel. Sesuaikan saja dengan usia perkembangan mereka. Namun, ingat! Mereka hanyalah anak-anak yang tingkat pemahamannya masih di bawah kita, jadi sabar!

- Bercerita

Ada banyak ragam kegiatan bercerita yang bisa kita lakukan bersama anak. Mulai dari membaca buku, menceritakan kisah yang kita tahu, juga mengajak anak untuk bercerita. Mereka bisa menceritakan keseharian atau menceritakan kisah yang mereka tahu dengan berperan sebagai tokoh-tokoh dalam cerita itu. Ini bisa menjadi ajang latihan juga bagi anak untuk tampil di depan penonton.

- Beberes Rumah

Iya, beberes. Anak bisa kok diajak beberes. Mulai dari merapikan barang-barang, seperti mainan juga baju yang mereka miliki. Di sini kita juga bisa mengajarkan anak tentang berbagi, memberikan barang yang layak pakai pada orang yang membutuhkan. Anak juga akan senang jika terlibat dalam aktivitas dewasa. Mereka akan bangga karena bisa melakukan apa yang orang dewasa lakukan serta merasa puas karena telah memberi bantuan pada ayah dan ibu.

- Berolahraga

Anak senang sekali bergerak, mulai dari berlari, melompat, bermain sepeda. Maka manfatkan tenaga anak itu dengan berbagai aktivitas kasar yang menyenangkan. Bisa saling mengejar, petak umpet, bermain bola, apa saja yang memungkinkan. Tidak usah membatasi kemungkinan selama itu aman. 

- Memperingati hari besar

Hari libur panjang biasanya adalah hari peringatan baik itu secara nasional ataupun keagamaan. Ajak mereka untuk mengetahui hal itu dengan membaca atau bercerita. Meriahkan hari peringatan dengan tambahan kegiatan seperti menggambar, mewarnai, bercerita, ataupun berkreasi dengan tema hari tersebut. 


Sebenarnya, selama perhatian kita utuh pada anak, mereka tidak akan menuntut banyak. Kadang mereka justru bisa mengeluarkan ide-ide yang tidak terpikirkan oleh kita. Jadi, siapkan saja waktu dan tenaga untuk bermain bersama mereka!



Salam, Nasha


Ada banyak aktivitas yang bisa kita lakukan saat libur panjang akhir pekan, seperti yang cukup sering terjadwal pada tahun ini. Mulai dari liburan, berolahraga, beberes rumah, mengunjungi kerabat, membaca buku, atau maraton menonton. Dengan waktu yang panjang, menamatkan serial tampaknya mungkin untuk dilakukan. Nah, dari sekian banyak drama yang ada, beberapa diantaranya cocok untuk dijadikan hiburan akhir pekan tapi tetap memiliki pesan bagi penontonnya. Bahkan untuk ditonton ulang pun tidak akan rugi. Tetap bisa menghibur dan berkesan.


Di masa liburan beberapa hari ini, memang ada masanya kita ingin membereskan pekerjaan yang terus tertunda, kadang ingin bergerak melakukan hal yang tidak sempat dikerjakan, kadang juga ingin santai saja tanpa membuat otak bekerja keras. Salah satunya dengan menonton. Lebih santai lagi jika tontonannya tidak membutuhkan imajinasi atau pemahaman tinggi, jenis sajian yang bisa ditonton sambil mengerjakan hal lain atau saat kita benar-benar lelah ingin beristirahat. 

Nah, dari yang pernah saya tonton, drama korea berikut ini cocok untuk ditonton bahkan berulang kali untuk mengisi waktu luang dengan bersantai. Tidak menghabiskan banyak energi, tidak membuat overthinking juga. Bukan hanya mampu menghibur, drama ini juga menyiratkan pesan-pesan kehidupan yang membuat kita seolah diingatkan oleh teman. 

  • Reply 1988

Salah satu drama dengan rating tertinggi yang memiliki banyak sekali penggemar. Hampir semua penggemar drakor tahu drama ini. Menurut saya yang menjadi daya tariknya adalah kehidupan sederhana yang diceritakan di sini. Cerita tentang lima anak sebaya yang tinggal di satu gang yang sama. Berlatar tahun 1988, diceritakan bagaimana mereka tumbuh dengan dinamika keluarga masing-masing hingga dewasa. Adegannya menghibur, tapi setiap episode ada pesan yang disampaikan baik tentang hidup maupun keluarga. Meskipun episodeya cukup banyak yakni 20, tapi setiap episode sangat layak untuk disaksikan.


  • Hospital Playlist

Serial yang terbagi atas dua season ini juga tidak kalah tenar dari drama sebelumnya, Ditulis oleh perempuan yang sama, drama tentang kehidupan dokter spesialis ini juga menawarkan hiburan yang sarat makna. Dilengkapi dengan penampilan band seadanya dari para tokoh dokter-dokter ini, kita akan banyak becermin tentang kehidupan dari para dokter dan pasien di sini. Hubungan persahabatan mereka benar-benar membuat iri.  Mau season 1 ataupun 2, keduanya sama-sama layak untuk disaksikan.


  • Because This is My First Life

Ini juga termasuk drakor terbaik bagi saya, tapi entah kenapa tampaknya kurang terkenal. Padahal paket lengkap drakor ini benar-benar membuat kita bisa terus menonton ulang. Bercerita tentang kehidupan di awal usia 30 dengan segala dilema dan masalahnya. Kita diajak menyelami bagian-bagian hidup dari kegagalan keberhasilan, romansa, persahabatan, mimpi, juga pernikahan. Semua disampaikan dalam interaksi dan dialog yang mendalam sekaligus menghibur. Semua tokohnya punya porsi yang tepat dalam menyampaikan kisah dan pesannya masing-masing. Kalau belum tahu, ini sangat recomended!


  • Fight for My Way
Drama ini cukup terkenal dengan berbagai adegan aegyo atau kitia sederhanakan dengan imutnya. Akan tetapi bukan itu point-nya namun pada cerita tentang kegagalan dan perjuangan para tokoh yang berlatar kehidupan orang pada umumnya. Jika kebanyakan drakor mengambil latar kehidupan chaebol atau pewaris kekayaan, drakor ini justru sebaliknya. Perjuangan mereka bersama-sama yang dibalut dengan adegan humoris sangat bisa dijadikan alternatif hiburan untuk mengisi waktu luang.

  • Twenty Five Twenty One

Ada banyak sekali meme yang bertebaran sehubungan dengan ending romansa drama ini. Banyak orang yang menyayangkan hubungan yang tidak berlabuh antara dua tokoh utama atau sad endingnya. Namun, bagi saya, point-nya ada pada realita hubungan yang memang tidak selalu sesuai dengan angan. Ditambah dengan kisah tentang perjuangan mewujudkan mimpi dengan berbagai rintangannya. Hal yang tidak kalah seru adalah interaksi menghibur dari para tokoh, seakan mengajak kita untuk mengenang masa muda yang mengasyikkan.


Itulah lima rekomendasi drakor yang bisa ditonton berulang kali, tidak menguras energi, bisa menghibur, dan membawa pesan yang baik. Sebab, ada pula drakor yang dikisahkan begitu apik tapi cukup menyedot energi untuk disaksikan. Namun, kelima drakor di atas tetap hangat menyenangkan dengan berbagai adegan ups and downs di dalamnya. Beberapa drakor lain yang cukup menyenangkan juga untuk disaksikan adalah Welcome to Samdal-ri, Hometown Cha cha cha, juga Our Blues. Ketiganya berlatar kehidupan di pinggir pantai, bisa jadi latar itu pula yang membuatnya menarik untuk disaksikan. Diantara ketiganya, Our Blues yang paling kompleks dan bisa jadi beberapa bagian terasa sedikit melelahkan. Namun, semuanya layak untuk ditonton! 

Belakangan, ramai di media sosial seruan YONO (You Only Need One) sebagai bentuk perlawanan atas gaya hidup YOLO (You Only Live One) yang mengacu pada konsumerisme. Pro kontra dari keduanya sudah banyak dibahas baik bagi diri sendiri khususnya kesehatan mental dan keuangan, serta bagi lingkungan. Lalu, untuk membuktikan kekeliruan gaya hidup impulsif itu, muncullah No Buy Challenge dengan tujuan mengajak masyarakat khususnya anak muda untuk lebih bijak berkonsumsi sebagai wujud peduli diri sendiri dan juga bumi. Kira-kira bagaimana ya kita bisa memenangkan tantangan agar lebih mindfull dalam aktivitas pembelian ini?


Ganti YOLO dengan YONO

Istilah YONO (You Only Need One) ini memang baru ramai belakangan, dengan makin maraknya penggunaan media sosial, yang memungkinkan gaungnya menjadi makin besar. Tapi ternyata, istilah ini sudah pernah digunakan oleh komunitas gaya hidup minimalis bernama Lyfe with Less pada 2021 silam. Dalam unggahannya, metode ini ditujukan pada mereka yang suka mengoleksi barang cadangan dengan fungsi yang persis sama, padahal hanya butuh satu saja. 

Ramainya pembicaraan soal ini disinyalir karena dampak gaya hidup YOLO sudah mulai banyak dirasakan. YOLO sendiri merupakan akronim dari You Only Live One yang memberi alasan untuk hidup demi hari ini. Orang dengan prinsip ini mengedepankan keinginan hari ini tanpa peduli apakah itu benar penting atau tidak. Mereka melakukan sesuatu secara spontan, baik itu membeli barang ataupun pengalaman. Alasan 'kamu hanya hidup sekali' digunakan untuk membenarkan perilaku tersebut. 

Seperti yang bisa kita duga, perilaku tersebut menimbulkan banyak masalah. Dari sisi keuangan, banyak yang berakhir terlilit pinjaman online.  Kebutuhan diri yang benarpenting jadi tidak terpenuhi karena uangnya sudah tidak ada lagi. Perencanaan masa depan jelas berantakan karena hanya mementingkan hari ini. Masalah finansial tersebut akan merembet ke kondisi mental seperti gangguan kecemasan hingga depresi. Dari sisi kesehatan, membiasakan belanja ternyata dianggap sebagai bentuk pengalihan diri dari perasaan tidak nyaman seperti sedih, marah, ataupun kesepian. Pola ini justru berbahaya bagi kesehatan baik mental juga fisik. Terakhir, dari sisi lingkungan, yang turut menyumbang kesia-siaan energi. Tidak peduli berapa murahnya suatu barang, ia membutuhkan energi untuk tercipta. Ditambah pula dengan tumpukan sampahnya. Jika hanya untuk memuaskan nafsu kita, berapapun harganya jelas tidak akan sepadan. 

Dampak negatif dari gaya hidup tidak sehat inilah yang melahirkan penawarnya, YONO atau You Only Need One. Dengan prinsip ini, diharapkan kita dapat lebih bijaksana dalam mengendalikan keinginan. Gaya hidup ini mendorong ketelitian dalam perencanaan kebutuhan dan keinginan yang disesuaikan dengan anggaran dan fokus pada apa yang benar-benar penting dibutuhkan dengan jumlah secukupnya. Hidup hari ini tanpa mengabaikan hari esok. 

Gaya hidup ini dianggap lebih baik karena kita didorong untuk benar-benar mempertimbangkan sebelum melakukan pembelian. Efeknya seseorang jadi terlatih untuk lebih berkesadaran, bijaksana, hemat anggaran, hingga sehat secara fisik dan mental. 


Tips Ikut Challenge-nya

Karena sudah paham prinsip dasarnya juga dampaknya, sekarang kita bahas bagaimana melakukannya. Beberapa hal penting yang perlu kita ingat dalam menjalankan prinsip YONO ini antara lain:


  • Mengenal diri sendiri

Dari banyaknya aktivitas belanja yang sudah kita lakukan sebelumnya, kita tentu sudah tahu kecenderungan pola konsumsi kita masing-masing. Coba benar-benar selami. Apa hal yang paling penting untukku? Hal yang bisa menambah kebahagiaan? Apakah selama ini berbelanja memang untuk memenuhi kebutuhan, menambah kesejahteraan, atau mengisi ego? Agar bisa tampil 'layak' di depan orang banyak? Menjawab pertanyaan ini juga bisa menjadi refleksi diri kita, seperti apa hidup yang sudah kita jalani sejauh ini. Apakah memang mendekatkan pada tujuan kita atau banyak pengalihan dari lalu lalang banyak orang? 


  • Membuat Perencanaan Keuangan

Seteah mengenal diri sendiri, kita bisa beralih pada perhitungan keuangan yang berdasar pada apa yang menjadi prioritas kita. Ada orang yang mengutamakan kapasitas diri, pengalaman, kesehatan, masa depan, pendidikan, barang. Urutkan sendiri, mana yang paling penting untukmu? Menabung dana pensiun atau pergi liburan? Mengikuti kelas atau mengganti gadget baru? Cek kesehatan rutin atau membeli tas tangan? Semua pilihan kita masing-masing yang tentukan. Dari situ, buat pos pengeluarannya masing-masing. sesuai dengan kondisi.


  • Kritis membedakan kebutuhan dan keinginan

Jika merujuk pada definisi, kebutuhan itu berupa hal dasar untuk keberlangsungan hidup dan kesejahteraan sedangkan keinginan adalah hal tambahan yang tidak mendesak namun bisa meningkatkan kenyamanan ataupun kepuasan. Dari sini bisa kita pisahkan bahwa kebutuhan mengutamakan fungsi, sedangkan keinginan mengedepankan atribut lain seperti model, tren, preferensi, dsb. 

Menurut saya, salah satu cara yang cukup ampuh adalah dengan menunggu. Biasakan untuk tidak langsung membeli ketika menginginkan, tapi tunggu beberapa hari, apakah keinginan itu masih ada atau sudah hilang. Dengan mudahnya aktivitas belanja untuk kita lakukan sekarang, tidak jarang kita justru mengalihkan perasaan negatif dengan berbelanja. Mengalihkan pikiran dengan 'tersesat' dalam aplikasi marketplace lalu puas setelah mendapat barang yang tampaknya bagus, padahal tidak kita butuhkan. Maka, tunggu. Biarkan keinginan menggebu itu teredam dulu, jika benar butuh kita akan kembali mencarinya. 


  • Pilih barang yang berkualitas

Setelah benar memastikan bahwa kita membutuhkan barang tersebut, selanjutnya carilah yang berkualitas. Barang yang dibuat dengan sungguh-sungguh sehingga bisa berfungsi dalam jangka waktu lama. Biasanya kualitas memang sejalan dengan harga, tapi perlu diingat, barang mahal belum tentu berkualitas baik. Disinilah dibutuhkan ketelitian kita dalam memilih. Agar bisa berfungsi lama, jangan lupa untuk tidak memilih berdasarkan tren karena tren akan cepat beralih. Pilih model yang sekiranya dapat bertahan lama dan dapat dipakai dengan berbagai cara. Barang multifungsi dan everlasting model, istilahnya.


  • Decluttering

Merapikan barang baik yang memang tampak dan juga tidak juga termasuk hal yang tidak kalah penting. Biasanya saat melakukan decluttering, kita bisa menemukan barang-barang yang sudah terlupakan. Sebagian barang itu ternyata memang tidak kita butuhkan, sebagian lagi mungkin sudah kita dapatkan penggantinya karena tidak ingat kalau sudah punya. Maka merapi-rapikan ini penting untuk dilakukan secara berkala. Tidak hanya pada barang, tapi juga pada hampir semua aspek kehidupan, bahkan lingkaran sosial. Jika dirasa lingkungan yang ada sekarang tidak mendukung gaya hidup yang kita inginkan, mungkin sudah saatnya dilakukan perombakan. 


Dengan kelima cara diatas, no buy challenge sebenarnya bukan hal mustahil lagi untuk dilakukan. Beberapa tips tambahan untuk menahan pembelian antara lain adalah dengan menyewa, khususnya untuk barang yang hanya dibutuhkan sesekali seperti baju pesta, peralatan bayi, dsb. Ada banyak sekali yang menyediakan jasa tersebut kini. Lalu, bisa juga dengan meminjam punya kenalan entah itu sahabat atau keluarga. Bisa pinjam, juga bisa tukar. Tidak bisa ditampik, ada kalanya kita bosan pada model barang yang kita punya, maka menukar adalah salah satu pilihan yang bisa kita lakukan. Normalisasi aktivitas ini, dalam batas wajar dan tetap bertanggung jawab. Membeli barang bekas (preloved ya bukan thrifting) sebenarnya juga bisa jadi solusi namun harus tetap dengan catatan seperlunya. Jangan hanya karena itu barang bekas, maka kita kurang menghargai dan seenaknya membeli. Terakhir, pakai saja apa yang ada. Pakai berulang kali, pakai di berbagai kesempatan, pakai lagi, perbaiki, pakai lagi. Barang-barang yang kita punya itu memang untuk dipakai berulang kali, normal!


Satu catatan yang paling penting untuk gaya hidup ini adalah kesadaran konsumsi. Untuk apa membeli? Mengapa kita butuh? Sebab, apa yang kita beli, kita gunakan, bukan hanya berpengaruh bagi diri kita sendiri, tapi juga pada lingkungan hari ini dan esok hari nanti. Bukan hanya pada generasi kita saja tapi juga pada generasi mendatang. Tanggung jawab!



Salam, Nasha

Januari biasanya menjadi masa yang dipilih kebanyakan orang untuk memulai kebiasaan baik. Setelah merefleksi perjalanan sebelumnya, ada target-target baru yang dipasang atau setidaknya diniatkan untuk bisa dikerjakan pada tahun ini. Daftar itu tentu saja berbeda pada masing-masing kita, namun ada beberapa catatan penting yang perlu kita ingat agar apa yang rencana-rencana indah itu terwujud. Mari kita bahas!




Setelah berkaca pada tahun lalu serta tahun-tahun sebelumnya, ini beberapa hal penting yang perlu kita ingat dalam menjalani hari sepanjang tahun.


1. Kesehatan yang Paling Utama

Seharusnya sudah tidak perlu lagi ada pembahasan mengenai ini, kan? Namun nyatanya, masih banyak dari kita yang mengabaikannya. Bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Sebenarnya tidak sulit untuk menerapkan pola hidup sehat, hanya saja kita perlu memulainya dengan kesadaran penuh akan kondisi diri sendiri. Tidak bisa asal ikut-ikutan. Untuk mencapai kesehatan itu, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, antara lain asupan nutrisi yang masuk ke tubuh, olahraga, serta kebiasaan sehat.

Contohnya seperti menjaga agar bahan makanan yang dikonsumsi sealami mungkin, ini artinya kita perlu mengurangi makanan dan minuman kemasan. Lalu olahraga secara bertahap dilakukan dengan mengukur kapasitas diri, lalu lakukan perlahan, dari yang ringan hingga yang lebih berat, dari durasi yang pendek ke durasi yang lebih lama, dari intensitas yang sedikit ke intensitas yang lebih banyak. Selain dua hal tadi, ada yang sering kita lupakan yaitu konsumsi air putih serta istirahat yang cukup. Untuk istirahat, bukan hanya masalah durasi tapi juga waktu dan kualitasnya. Tidur di malam hari dengan nyenyak, harus diusahakan, salah satunya dengan menyingkirkan blue light yang dipancarkan dari telepon genggam. Termasuk anjuran hindari pemicu stres, jangan dianggap lalu. 

Mulai dari hal sederhana tadi saja dulu, sebab kesehatan itu memang perlu diperjuangkan. Sebab yang lain bisa saja pergi, tapi tidak dengan tubuh kita sendiri, kan? Dengan semua bagian tubuh itulah kita perlu beraktivitas, baik raga maupun jiwanya. Keduanya saling berkaitan, saling mempengruhi, dan erpengaruh pada kualitas tubuh kita ini. 


2. Menyusun Prioritas

Tampak sederhana tapi tidak semua orang benar-benar melakukannya dalam keseharian mereka. Coba kita uraikan. Jika ditanya, kebanyakan kita akan menjawab memprioritaskan diri sendiri diatas orang lain, mengutamakan keluarga dibanding pekerjaan. Benar, kan? Namun, coba ingat kembali, apa yang sudah kita lakukan untuk diri sendiri hari ini? Sesuatu yang akan membuatnya berterima kasih pada kita di kemudian hari.

Sudahkah kita mengucap syukur saat bangun pagi? Sebab itu memberi kedamaian pada jiwa. Sudahkan kita memperhatikan apa yang dimakan dan menyempatkan diri berolahraga? Sebab itu menyenangkan bagi raga. Sudahkan kita tersenyum pada diri sendiri? Bagus sekali jika sudah melakukannya. Namun, jika belum, apa saja yang sudah kita lakukan? bangun tergesa-gesa untuk menyelesaikan pekerjaan? Menggulir konten di media sosial untuk tahu kehidupan orang? 

Apa yang kita lakukan itulah yang mewakilkan bagaimana prioritas kita. Dari hari ke hari yang membentuk sebagian hingga keseluruhan kita.

Mungkin banyak dari kita yang otomatis saja melakukan apa yang seharusnya, apa yang diperintahkan, tapi ingat ini diri dan hidup kita. Ambil kendali secara penuh. Tinggalkan mode autopilot, dan mulai sadar dengan sungguh. Diri kita sendiri, itulah prioritas paling atas. Lakukan sesuatu setiap hari yang memang untuk diri sendiri, raga maupun jiwa. Hal yang menyenangkan bagi mereka. Selanjutnya, orang-orang yang dikasihi. Jangan hanya karena mereka akan selalu ada, lalu kita jadi merasa aman menomor sekiankan mereka. Mengabaikan ketika mereka butuh perhatian utuh dengan sibuk melihat layar di depan mata. Lalu, bisa kita teruskan dengan hal-hal di luar itu.


3. Membangun Batasan

Teknologi yang canggih kini memang memungkinkan kita untuk melakukan apa saja di mana saja, kapan saja. Akibatnya batasan yang semula ada semakin kabur. Sampai rumah masih mengurus pekerjaan, sudah lewat jam kerja tapi masih melayani permintaan atasan, bahkan sudah tidak asing rasanya saat liburan tetap saja dihubungi. Padahal, dari dulu orang tua kita juga bekerja, mereka juga pegawai negeri dan swasta, pekerjaannya ya hampir sama saja, tapi kenapa berbeda dengan kita? Itu baru urusan pekerjaan, belum urusan lain-lain, semuanya tampak berkelindan seharian berebut perhatian.

Menurutku memang tidak ada cara, selain kita yang membangun sendiri batasan. Mengurus pekerjaan kantor dari jam berapa sampai jam berapa, mengurus rumah kapan, berhubungan dengan orang kapan, memantengi media sosial kapan, dan yang terpenting, mengurus diri sendiri kapan. Jangan lagi pakai prinsip mengalir seperti air jika tidak ingin hanyut terbawa arus. Kalau bukan kita yang mengambil kendali atas hidup sendiri, maka orang lainlah yang akan melakukannya. 

Kita yang paling tahu apa yang kita inginkan dalam hidup ini, mana yang penting dan bagaimana urutannya, kitalah yang membatasi diri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu serta berapa banyak perlu melakukannya. 


4. Jangan Lari, Hadapi Diri Sendiri

Istilah menghadapi diri sendiri mungkin terdengar sedikit asing, sebab tampaknya ini merupakan ilmu baru, padahal tidak juga. Hanya istilah dan gaungnya saja yang berbeda. Sejak dulu, orang tahu pentingnya apa yang diinginkan dalam hidup, ingin menjadi seperti apa, mengikuti perkataan siapa. Bedanya pada gaya hidup kita belakangan saja. Adanya media yang memungkinkan kita untuk bisa lebih banyak menyaksikan kehidupan orang, mendengar perkataan orang, hingga seringnya jadi lupa pada suara dan hidup sendiri. 

Maka, catatan yang tak kalah penting adalah memperhatikan diri kita sendiri. Sediakan waktu untuk hening sehingga tahu apa saja suara yang berlalu lalang dalam kepala, pikiran seperti apa yang menetap di sana, kekhawatiran hingga rencana bagaimana yang terus hadir. Pelan-pelan pahami apa yang memuaskan diri, apa yang benar-benar berarti., apa yang ingin kita capai, apa tujuan hidup kita ini. Demi apa kita melakukan sesuatu dalam jangka panjang juga pendek. Demi apa?


5. Kumpulan Hari yang Menjadi Tahun

Kita jelas tahu bahwa satu tahun itu hitungannya adalah 365 hari. Artinya tahun terbentuk dari kumpulan hari. Apa yang kita lakukan dari hari ke hari yang akan menentukan seperti apa tahun yang kita jalani. Maka, setiap hari itu berarti. 

Tidak bisa kita tiba-tiba memiliki gebrakan di tahun ini tanpa memulainya pada satu hari. Mulai saja hari ini, tidak perlu menunggu senin, tidak perlu menunggu awal bulan, lakukan apa yang kita bisa saat ini. Mulai saja. Jatuh bangkit lagi. Salah perbaiki. Gagal ulang lagi. Ketika tujuannya sudah jelas, maka setiap langkah, tidak peduli sekecil apapun, akan menjadi lebih bermakna. 


Catatan di atas, banyak juga yang saya tujukan pada diri sendiri. Agar tidak takut untuk memulai hal baru, apapun itu. Selama tidak bertentangan dengan nilai yang diyakini, tidak mengganggu orang lain, akan saya coba lakukan. Saya juga akan belajar untuk benar-benar paham tujuan yang ingin dicapai dan apa alasan yang melatar belakanginya. Lngkah-langkah yang diawali dengan, demi apa. Berani memilah diantara banyak yang tampaknya penting semua. Setiap hari, saya mencoba menjadi orang yang lebih berani memperjuangkan 'demi apa' milik saya sendiri, dalam agenda hidup sehat dengan berlatih sadar dan berkelanjutan. 



Salam, Nasha

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  April 2026 (1)
      • Hidup Kita yang Baik-Baik Saja, Buku Refleksi untu...
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes