• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Selanjutnya, pembahasan akan lebih mendetail mengenai bagaimana praktik Montessori, berupa apa saja filosofi Montessori, bagaimana Montessori membagi area belajar anak serta material pada masing-masing area, hingga bagaimana memulai menyekolahkan anak.

Filosofi Montessori

Sebelum merumuskan filosofinya, Montessori menekankan bahwa anak bukanlah kertas kosong yang bisa diisi oleh orang tuanya. Mereka adalah seorang individu yang memiliki kendali atas dirinya. Tugas kita hanya menciptakan lingkungan yang mendukung mereka mencapai keoptimalan diri mereka. Berangkat dari pemahaman itulah, filosofi Montessori antara lain:

- Follow the Child
Perlu disadari bahwa filosofi ini bukan berarti mengikuti semua kehendak anak dan membiarkan ia melakukan apapun yang ia inginkan. Namun, melalui filosofi ini Montessori menekankan agar kita melihat dari sudut pandang anak dan menghargai mereka sebagai individu yang utuh, dengan perasaan dan prmikiran sendiri.
Untuk itu, yang perlu kita lakukan dimulai dengan mengobservasi anak. Apa yang mereka lakukan, mengapa mereka melakukannya, apa yang menarik minat mereka, dst, hingga kita benar-benar memahami anak tersebut, dan mengikutinya. Sampai sejauh mana kita harus mengikuti anak? Tentu saja dengan batasan norma kehidupan, sopan santun, serta aspek keamanan.



- Freedom with Limitation
Filosofi ini berkaitan dengan filosofi sebelumnya, yang bisa diartikan sebagai kebebasan terbatas. Singkatnya, anak dibebaskan untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan selama itu tidak membahayakan dan kegiatannya tidak menentang norma-norma yang berlaku. Karena disini ditekankan bahwa apapun yang anak lakukan adalah pemenuhan kebutuhan dalam masa perkembangannya.
Lalu, apa yang perlu kita lakukan? Singkatnya, kita perlu membuat pagar aturan yang jelas membatasi kebebasan anak. Kemudian, dalam keseharian, anak perlu diberikan pilihan-pilihan agar ia merasa memegang kendali atas dirinya. Dorong ia melakukan sesuatu, dukung ia untuk berkembang sebebasnya. Dan hal yang penting untuk ditanamkan adalah bahwa kebebasan kita yang luas itu dibatasi oleh kebebasan orang lain yang juga sama luasnya.

- Respect the Child
Filosofi ini membuat kita berkaca pada diri kita sendiri. Karena perilaku anak adalah cerminan perilaku yang ia amati. Untuk dapat dihargai, kita perlu menghargai anak. Bagaimana melakukannya? Hal-hal sederhana yang dijabarkan penulis antara lain dengan cara mendengarkan anak dengan seksama, sejajarkan mata kita dengan mata mereka, dengarkan mereka dengan sungguh-sungguh untuk memahami bukan untuk menasehati, ciptakan lingkungan yang ramah anak, serta libatkan ia dalam diskusi sebelum beraktifitas. Hal-hal keseharian inilah yang bisa membantu anak untuk merasa bahwa keberadaannya diakui dan ia dihargai sebagai ‘seseorang’

Dari penjelasan penulis mengenai filosofi-filosofi montessori ini, saya mulai melihat perilaku anak secara berbeda. Saya melihat anak sebagai individu yang memiliki pikiran, perasaan, dan pendapat sendiri, sama seperti saya. Saya juga melihat apa yang ia lakukan adalah pemenuhan kebutuhannya. Ntah itu kebutuhan pemenuhan rasa ingin tau, kebutuhan proses kemampuan motoriknya, kebutuhan penyaluran energinya yang berlimpah, dsb. Sehingga, saat anak mulai membuat saya merasa kesal, saya mencoba menghela nafas dan mencoba memahami alasan dibalik perilakunya. Dengan demikian, saya bisa menjadi lebih tenang dan berpikiran jernih merespon tindakan anak. Dan, kalaupun mereka melakukan kesalahan, kecerobohan yang tidak disengaja, well, bukankah kita juga demikian?



Area Pengajaran Montessori

Pada bab ini, penulis akan lebih detail menjelaskan tentang material-material montessori pada masing-masing area. Tentang bagaimana konsep pengajaran dan pemahaman yang diharapkan, prosesnya, serta cara penggunaan material tertentu dalam area tersebut.

- Area Praktik Kehidupan Sehari-hari
Kegiatan-kegiatan pada area ini antara lain seperti menyendok, menuang, meronce, menjepit, mengulek, dsb. Kegiatan-kegiatan rumahan yang paling familiar dengan anak ini, tentunya yang paling menarik minat anak pada awalnya. Kegiatan yang sepertinya sepele namun ternyata memiliki banyak manfaat, antara lain memperpanjang rentang konsentrasi anak, melatih otot-ototnya terutama jari tangan, melatih sikap teratur, rapi, mandiri, bertanggung jawab, dll.
Kegiatan-kegiatan ini mungkin tampak sepele bagi kita karena kita sudah bisa dan terbiasa. Namun, jika kita lihat dari sisi anak. kegiatan-kegiatan ini adalah hal baru yang belum mereka kuasai. Tentu tugas kita adalah memberi mereka ruang untuk berproses dari belum bisa menjadi bisa kan?

- Area Sensoris
Pembelajaran pada area ini akan menstimulasi kelima indera anak, bukan sebatas indera penglihatan dan pendengaran yang kebanyakan diperhatikan. Disini, anak akan dilatih untuk meraba mempelajari tekstur, kemudian menciumi bau dengan mata tertutup untuk benar-benar melatih indera penciumannya, mempelajri suhu benda, bentuk benda. Dengan tujuan utama adalah untuk melatih indera anak secara keseluruhan dan menghidupkan kepekaannya. 

- Area Budaya dan Ilmu Pengetahuan
Pada area ini anak belajar mengenai hal-hal nyata yang berada di sekitar anak secara konkret. Topik-topik tersebut antara lain pengenalan bumi dengan globe, anatomi tubuh, alur hidup hewan dan tumbuhan, dsb. Waw, terdengar berat ya untuk anak usia dini? Namun, di sini saya memahami penjelasan penulis mengenai alasan pembelajaran topik tersebut. Anak perlu belajar tentang hal konkret di sekitar mereka daripada hal-hal fantasi yang jelas tidak nyata. Pembelajaran pada area ini bertujuan agar anak dapat lebih peka terhadap lingkungan mereka, lebih peduli kepada alam, dan lebih memahami bahwa ia memiliki peran dalam semesta ini.

- Area Matematika
Perlu dipahami bahwa angka adalah simbol, dan matematika adalah kuantitas yang diwakili oleh simbol. Penulis menjelaskan bagaimana Montessori menjabarkan konsep perhitungan itu dengan material-materialnya yang mengikuti cara belajar dan kebutuhan anak. Diawali dengan sesuatu yang konkret dan diakhiri dengan sesuatu yang abstrak. Sehingga saat anak melihat simbol angka 2, mereka memahami bahwa angka 2 tersebut mewakili benda yang berjumlah dua, bukan sekedar simbol.

- Area Bahasa dan Literasi
Tujuan akhir pembelajaran pada area ini adalah kemampuan anak membaca juga menulis. Namun, yang menarik bagi saya adalah bagaimana Montessori tidak serta merta mengenalkan huruf pada anak dan mengajari anak mengeja membentuk kata. Pembelajaran untuk membaca melalui beberapa tahap antara lain pembelajaran komunikasi anak, ntah itu dengan berbicara, mendengarkan, ataupun bercerita. Karena poin awalnya adalah anak memahami makna kata. Untuk itu, hal ‘spele’ yang dapat kita lakukan adalah berkomunikasi dengan anak sesering mungkin, mengajak anak mengobservasi sekitarnya dengan kalimat yang detail. Setelah itu, baru anak dikenalkan dengan bentuk huruf.

Mempelajari area-area yang dikelompokkan oleh Montessori, kita menjadi sadar bahwa metode ini memang berbeda dengan metode konvensional. Hal-hal yang anak-anak pelajari disini tidak kita temui pada metode lain. Ntah kelihatannya secara umum pembelajarannya terlalu sederhana seperti pada area kehidupan sehari-hari atau terlalu rumit seperti pada area budaya dan ilmu pengetahuan. 

Dalam penutupnya, penulis mengingatkan kita untuk menjadi sebaik-baiknya teladan bagi anak. Karena anak adalah cerminan apa yang ia lihat. Ia juga menambahkan, bahwa hal yang tidak kalah penting adalah menanamkan batasan baik dan buruk pada anak. Serta, agar kita perlu menahan diri untuk terus menginterupsi proses belajar anak. Terakhir, penulis juga memberi beberapa tips dalam memilih sekolah usia dini, dan bagaimana mengawali sekolah pertama anak.



Saya juga bukan penganut metode montessori secara utuh, namun mempelajari metode ini, dan melihat bagaimana Montessori mencoba memahami anak, membuat saya belajar banyak. Mulai dari diri saya sendiri, bagaimana saya berperan sebagai orang tua, sebagai teladan yang akan dicontoh oleh anak, bagaimana anak merespon saya, bagaimana saya ingin diperlakukan, dan seterusnya. Saya pun melihat perilaku anak dengan pemahaman yang berbeda. Kegiatan membersamai anak menjadi kegiatan yang berbeda. Kegiatan yang sepertinya hanya ‘main-main’ bagi kita orang dewasa ternyata merupakan proses pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak yang akan membentuk individu anak nantinya.

Sebagai orang tua, mendidik anak bukanlah perkara yang mudah. Hal yang perlu kita pahami adalah apa yang kita ajarkan sekarang, ntah secara sengaja ataupun tidak sengaja, akan menentukan arah tumbuh dan membentuk kepribadian anak. Mempelajari beragam metode dari berbagai sumber adalah salah satu cara, bagi saya, untuk dapat memahami bagaimana cara terbaik untuk menghadapi anak. 

Salam, Nasha


Sebenarnya saya mengetahui tentang Montessori ini sudah cukup lama (bahkan sebelum memiliki anak), sejak hype sebagai dasar pembelajaran bagi anak-anak, namun belum terlalu memahami apa itu Montessori dan bagaimana ia tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan para pendidik, pun orang tua. Mengagumkan, karena sejak munculnya Metode Montessori ini khususnya di Indonesia, banyak orang yang mulai menaruh perhatian lebih pada pola pendidikan, pola pengasuhan anak. Mulai dari pola di rumah atau kerennya parenting style hingga pemilihan sekolah dan output yang ditargetkan. Setuju atau tidak dengan metode ini, namun kehadirannya saya pikir cukup membawa perbaikan ke pola pikir kita sebagai manusia pada umumnya ataupun sebagai orang tua pada khususnya.



Nah, buku Jatuh Hati pada Montessori karya Vidya Dwina Paramita ini menjelaskan dengan cukup rinci mengenai Montessori namun dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Ntah memang untuk praktisi pendidikan anak, untuk orang tua yang ingin menerapkan konsep montessori, atau untuk mereka yang sekedar ingin tau dan menambah wawasan.

Siapa itu Maria Montessori?

Buku ini diawali dengan pengenalan tentang siapa itu Montessori, yang adalah seorang dokter perempuan pertama di Italia kelahiran 1870 dan meninggal pada 1952. Waw! Sudah setua itu ternyata. Pengalamannya dengan anak-anak dimulai saat ia ditugaskan untuk 'mendampingi' anak-anak di area pabrik bernama Cassa de Bambini. Karena mayoritas orang tua mereka adalah buruh pabrik, anak-anak ini tumbuh dengan sendirinya, yang kemudian dilabeli menjadi anak yang 'sulit diatur' . Di sini, Montessori mulai mengobservasi perilaku anak-anak dan mempelajari sebab serta bagaimana mereka bertingkah sehari-hari. Hal dasar yang ia pahami adalah anak-anak ini membutuhkan kegiatan yang tidak hanya sekedar menyalurkan energi mereka, namun juga bermanfaat, sehingga mereka merasa berharga. Dari sana, Montessori mendapat banyak sekali pemahaman yang kemudian melahirkan beragam konsep pendidikan anak yang kini kita kenal dengan Metode Montessori.

Dari latar belakang tersebut, sebenarnya kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa Metode Montessori bukan tentang akademis. Ia lebih mengarah pada pemahaman kebutuhan anak-anak dan perilaku mereka sehari-hari. Dan bagaimana Montessori melihat anak-anak sebagai individu yang ia coba pahami, ia selami pemikirannya, ia tidak sekedar melabeli dan memberi tau sebagai orang dewasa. Ia mencoba memahami, hal yang terkadang sering kita lupakan.

6 Tahun Pertama Kehidupan

Pembahasan selanjutnya yang dibahas penulis mengenai Montessori adalah mengenai pentingnya enam tahun pertama kehidupan anak, sebagai pondasi di kehidupan masa mendatang, dimana mereka menyerap begitu banyak hal di sekitar mereka dengan menggunakan seluruh indera yang mereka miliki. Dan justru masa-masa ini yang terkadang sering terabaikan.

Anak-anak pada masa ini memiliki keingintahuan dan kepekaan yang sangat tinggi terhadap sekitar mereka, sehingga penting bagi kita untuk memberi mereka ruang yang aman untuk mengobservasi, bereksplorasi, dan menjadi teladan yang baik untuk ditiru. Karena mereka akan senang memperhatikan apa yang ada di sekitar mereka, mencari tau apa yang bisa mereka lakukan, serta meniru apa yang tampak bagi mereka dari kita. Sama seperti kita yang mendatangi suatu wilayah baru, bukankah kita ingin berkeliling memeriksa ada apa saja di sana?

Di samping itu, sebagai 'manusia baru' anak-anak juga membutuhkan rutinitas dan komunikasi yang jelas agar tidak merasa kebingungan atas apa yang terjadi dalam keseharian mereka. Mereka akan cenderung merasa aman saat merasa bisa memprediksi apa yang terjadi selanjutnya. Anak-anak pun akan merasa lebih dihargai saat mereka diajak berkomunikasi dan diberi kesempatan untuk memilih. Perasaan dihargai ini nantinya akan membawa citra positif dalam diri anak-anak.

Penemuan di Cassa de Bambini



Penulis juga membahas Montessori berdasarkan pengalamannya membersamai anak-anak di sekolah. Mulai dari membebaskan anak memilih material yang ia ingin mainkan, memiliki area sendiri, bersikap sopan dan menghargai hak anak lain, membereskan material yang telah selesai digunakan, dst. Apa yang dapat saya pelajari di sini antara lain mengenai bagaimana kegiatan yang berulang dan material yang disediakan membantu anak untuk belajar mengobservasi serta memahami bagaimana cara kerja suatu benda, bagaimana suasana yang tenang akan membantu anak berkonsentrasi yang akan membantu mereka menyelesaikan sesuatu sehingga menimbulkan citra diri positif, serta bagaimana anak sepatutnya sadar akan kebutuhan dirinya yang memunculkan kemandirian, kepedulian, dan disiplin diri.

Dari contoh-contoh kecil yang penulis jabarkan, saya belajar bahwa sebenarnya membersamai anak bukanlah hal yang rumit, namun juga tidak bisa disepelekan. Membaca buku ini membuat kita berguman, oh iya, benar juga ya. Bahkan penulis juga sedikit menyinggung perihal memberi pujian yang seperlunya. Pujian yang spesifik dan tidak bertele-tele. Serta bagaimana memberi hukuman, sebatas akibat logis dari hal 'tidak tepat' yang dilakukan anak.

Sejauh ini, apa yang berusaha penulis sampaikan adalah bagaimana kita seharusnya membersamai anak dengan pola pikir anak sebagai pusatnya. Kita harus sadar bahwa tujuan kita adalah si anak.  Kita tidak bisa melihat hanya dari sisi kita, seperti yang montessori lakukan, ia memahami dengan mencoba melihat dari sisi si anak. Jika kita telah memiliki dasar pemahaman demikian, apa yang akan kita lakukan kemudian akan berubah dan mudah-mudahan menjadi lebih baik.

Salam, Nasha
Waw! Masa iya?! KDrama lebih bagus daripada seri netflix?!

Memang series ini mengingatkan saya tentang drama di netflix yg cukup heboh, Marriage Story. Meskipun lebih dulu release, tapi saya justru menonton Go Back Couple belakangan. Kedua cerita ini diawali dengan adegan perceraian sepasang suami istri yang telah dikaruniai seorang anak. Namun, kenapa saya bisa mengklaim Go Back Couple lebih baik?

 

Go Back Couple memang tipikal drama korea, dengan beberapa adegan yang ‘terlalu kebetulan’. Tapi, saya masih menikmati, karena dikemas dengan manis. Dan cukup membuat penonton senyum-senyum sendiri. Sedangkan, Marriage Story disajikan dengan cerita dan adegan keseharian yang nyata dan didukung pemain dengan kemampuan acting luar biasa.

Namun, perjalanan menonton Go Back Couple membuat saya memetik banyak sekali pelajaran, ntah tentang kehidupan secara luas ataupun tentang pernikahan secara khusus. Kesan yang ditinggalkan setelah menonton Go Back Couple ini jauh lebih membekas bagi saya, dan membuat saya berpikir lebih dalam dari sisi lain mengenai apa yang saya lihat di kehidupan nyata.

Pasangan Ma Jin Joo dan Choi Ban Do bertemu pertama kali pada kencan buta saat mereka sama-sama menjadi mahasiswa baru. Mereka saling tertarik dan sangat jatuh cinta pada awalnya hingga memutuskan untuk menikah. Cara mereka memperlakukan satu sama lain benar-benar menunjukkan rasa cinta mereka, yang khas anak muda apa adanya. Bahkan saya ingat adegan saat Ban Do yang masih mahasiswa ditanyai oleh ayah Jin Joo tentang apa yang ia sukai. Ia dengan polos menjawab Jin Joo. Pertanyaan tentang cita-cita pun ia dengan semangat menjawab, membahagiakan Jin Joo. Kedengaran sedikit tidak masuk akal ya? Tapi menonton adegan orang yang sedang mabuk cinta begitu, saya bisa melihat ketulusan cinta seorang mahasiswa yang benar-benar menyukai gadis impiannya.

Tapi apakah cinta yang demikian memabukkan itu cukup untuk mempertahankan pernikahan? Ternyata tidak. Karena toh, pasangan ini akhirnya justru memutuskan untuk bercerai.

Setelah sidang perceraian terakhir mereka, karena saling merasa tidak bahagia dan berharap untuk tidak mengulang waktu agar tak perlu bertemu, masing-masing membuang cincin pernikahan. Dari sinilah semua berawal. Keinginan mereka terwujud. Mereka kembali menjadi mahasiswa baru yang belum mengenal satu sama lain. Layaknya orang yang berpisah karena merasa tidak bahagia, mereka tentu saja pada awalnya menghindar satu sama lain. Bahkan saling membenci.


Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa keduanya masih tetap saling peduli. Memang, perasaan tidak semudah itu untuk dihilangkan. Kebiasaan tidak semudah itu untuk tergantikan. Dari perjalanan mengulang waktu tersebut, mereka akhirnya sama-sama belajar. Kita pun sebagai penonton memahami, memang yang paling utama dari segala hubungan adalah komunikasi.

Masalah dimunculkan bukan hanya dari Ban Do dan Jin Joo sebagai mantan suami istri, namun juga hubungan orang tua-anak, hubungan persahabatan, dan diri mereka sendiri. Betapa banyak yang akhirnya terlewatkan hanya karena kesalahpahaman. Betapa sering kita menyimpulkan tanpa tau kejadian keseluruhan. Betapa mudah kita memutuskan tanpa benar-benar mempertimbangkan.

Konflik semakin diperdalam saat Jin Joo harus kehilangan ibunya. Ia sangat sedih dan kecewa tidak bisa bertemu sang ibu untuk terakhir kalinya karena Ban Doo harus berurusan dengan polisi. Ia begitu larut dalam kesedihannya sendiri. Lupa bahwa Ban Doo juga berduka. Ban Doo pun serba salah menempatkan diri, mencoba berpura-pura ceria menghibur sang istri, yang kemudian disimpulkan dengan ketidakpekaan. Di lain sisi, Jin Joo mulai jarang mengunjungi rumah orang tua nya, takut menghadapi bahwa di sana tak lagi ada ibu yang menyapa, namun ia lupa ada ayah seorang diri yang juga ditinggal pergi.

Tentang kesedihan dari kehilangan yang tidak pernah mudah bagi siapa saja. Saya belajar bahwa berkomunikasi dan saling menguatkan yang seharusnya kita lakukan. Dalam hatinya, Jin Joo ingin ditemani saat menangis agar tidak merasa bersedih sendiri, di sisi lain Ban Doo tidak tega melihat air mata dan berpikir bahwa Jin Joo butuh dihibur agar bisa melupakan kesedihannya. Kita tidak bisa hanya fokus pada luka kita sendiri sehingga lupa bahwa orang lain juga terluka. Kita tidak pernah tau bagaimana cara terbaik menghadapi kesedihan orang lain, selain dengan bertanya memastikan. Kita tidak bisa membuat rasa bahagia bertahan selamanya, tanpa menghadapi rasa lain seperti kesedihan,

Selain itu, secara garis besar saya belajar banyak agar kita sebagai manusia lebih banyak mendengar daripada langsung menyimpulkan. Lebih banyak memperhatikan daripada langsung menghakimi. Karena jika kita mau sedikit saja untuk melihat lebih jauh, lebih luas, dan lebih detail akan sangat banyak yang bisa kita dapatkan. Pahamilah bahwa setiap manusia memiliki cara menerima dan cara mengungkapkan rasa yang berbeda-beda.



Pernikahan kemudian sedikit lebih saya pahami, bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya tentang rasa. Lebih dari itu, pernikahan adalah tentang berjuang bersama. Bukankah sangat banyak yang akhirnya berpisah meski masih saling cinta? Perjuangan pernikahan juga bukan hanya tentang meredam ego masing-masing seperti hubungan biasa, namun memprioritaskan bahagia bersama saat beragam tekanan dan tuntutan hidup datang menerpa. Bagaimana jika keinginan menggebu harus ditekan karena isi dompet tidak memungkinkan? Bagaimana menutup telinga jika selalu saja ada pihak yang datang berkomentar?

Pada akhirnya, saya pikir kita harus rehat sejenak untuk sama-sama merefleksikan bahwa menjadi sesungguhnya manusia ditengah segala kerumitan hidup tidaklah mudah. Berbagi kehidupan dengan jembatan komunikasi membuatnya semakin menantang. Tetapi, siapa yang sanggup bilang bahwa bahagianya tidak sepadan?!

Mungkin, Tuhan menghendaki rehat
Atas segala hiruk pikuk duniawi yang kita buat
Mungkin Tuhan ingin memberi kita napas
Agar tak terus berlarian mengejar yg kita sadari kini ternyata tidak impas
Mungkin Tuhan sedang memberi kita jeda
Untuk sejenak menjadi seutuhnya manusia
Kembali ke hakikat awal terciptanya kita




Untuk bangun lebih dahulu mengucap syukur
Menyempatkan diri menyapa mentari
Tanpa perlu terburu-buru berlari

Untuk memulai hari dengan helaan senyuman
Bukan lirikan tajam ke jam tangan
Kemudian beralih mengagumi ciptaan lain Tuhan
Dengan sekedar menatap indahnya tanaman
Atau melempar obrolan pada binatang peliharaan


























Untuk kemudian mengasah kembali empati
Dengan mulai peduli dan saling berbagi
Tidak melulu mengenai diri sendiri

Untuk menjadi sedikit lebih ‘lamban’
Tidak lagi hilir mudik berlarian
Namun berjalan perlahan,
sambil menikmati sesungguhnya kehidupan

Karena di hari yang demikian kita baru memahami
Bahwa apa yang dikejar selama ini,
yang disangka tak bisa menanti
Ternyata sungguh bisa berhenti
Setelah kemarin bahas alternatif relaksasi dengan me time di salon, sekarang yuk bahas alternatif relaksasi bareng keluarga! Yuhuu!


Sebenarnya untuk wilayah Jogja, pilihan tempat dan aktifitas saat weekend itu ada banyaak, nah salah satunya yang bisa dikunjungi mulai dari anak batita adalah Kebun Binatan Gembira Loka! Lokasinya juga masih di dalam Kota Jogja, tepatnya di Kecamatan Kotagede. Jadi gak perlu spare waktu yang lama untuk perjalanannya. Ada apa aja sih di sana?

Saya sekeluarga memulai perjalanan di Gembira Loka dengan bayar tiket masuk sebesar 35000 per orang dimana untuk anak dengan tinggi dibawah 80cm gak dikenakan biaya, dari pintu masuk timur. Nah, karena ini weekend jadi pengunjungnya lumayan rame. Banyak juga dari sekolah-sekolah yang adain kegiatan outing di sini. Tapi tenaaang, rame-rame gitu pun gak bakal berasa sesak kok. Karena Gembira Loka ini luaaass banget. Siap-siap ya tenaga untuk jalannya. Jangan lupa juga diapin bekal yang bakal enak banget disantap di dalam.

Perjalanan dari pintu timur, kita langsung ditantang untuk jalan menyisiri area pepohonan yang rindang, sampai di zona gajah. Sukanya di sini tuh, karena area nya luas dan sangaat asri, tapi tetap bersiih. Ada aja tuh petugas yang nyapu-nyapu atau buang sampah. Tempat sampah pun bertebaran di mana-mana. Jadi gak ada alasan ya buat buang sampah sembarangan.


Lanjut jalan sedikit, ada danau buatan yang bikin suasana jadi sejuk bangeet. Karena suasana di sini yang rindang dan asri, jadi jalan di siang hari pun gak berasa terlalu panas. Area nya juga ramah kereta (bahkan ada penyewaan stroller juga loh!) jadi aman untuk keluarga yang bawa bayi ataupun batita.

Hewan selanjutnya itu ada orang utan, buaya, area reptil (lengkap banget ini reptilnya mulai dari tokek sampai ular piton yang guede itu), ikan (mulai dari super banget ukurannya sampai yang biasa kita lihat), dst. Di sini juga ada spot-spot foto yang disediakan lengkap sama hewan-hewannya. Ada iguana, ular, juga burung! Ada juga area kura-kura dimana kita bisa berinteraksi langsung sama kura-kuranya. Ngasih makan atau sekedar berfoto. Satu lagi yang saya suka dari Gembira Loka ini adalah penataan hewannya gak serta merta ditaruh di kandang gitu, tapi diusahakan untuk tetap menyerupai habitat aslinya. Kebanyakan juga hewan dan pengunjung cuma dibatas pagar semen rendah yang dikelilingi parit.




Udah capek jalan-jalannya? Tenang, ada banyak rest area kok. Buat sekedar duduk-duduk, jajan cemilan atau mau makan sekalian, bisaa. Udah gak sanggup jalan lagi pun, ada shuttle nya yang akan berhenti di tiap halte. Untuk multi halte bayarnya cukup 25000, per halte 8000.

Satu area yang cukup berkesan buat saya adalah area aves atau burung. Diawali dengan burung elang yang tentunya berada di kandang. Lanjut, ada area dimana kita bisa berinteraksi langsung tanpa dibatasi dengan burung-burungnya, bahkan ada merak juga loh! Jadi masuk ke area itu, langsung disuguhi pemandangan dengan rimbunnya pepohonan, burung-burung beterbangan lengkap dengan kicauan mereka, dan suara air. Waah, semua penat langsung ambyar.


Hewan-hewan lain yang ada di sini antara lain harimau sumatera, unta, kuda nil, pelikan, angsa hitam
Bahkan pinguin pun ada. Tapi sayang, pas lagi ke sini gak ketemu sama singa, jerapah, zebra, mungkin karena masih proses renovasi ya. Baiknya mungkin sebelum ke sini bisa telfon dulu (0274-373861) atau cek website ini, kalau mau memastikan binatang-binatang yang ada. Karena setelah cek websitenya (yang saya lakukan setelah mengunjungi Gembira Loka-nya) ternyata websitenya cukup lengkap dengan informasi yang terus diperbarui. Bahkan ternyata ada atraksi feeding time! Wah karena gak cari info dulu jadi ketinggalan nih saya salah satu keseruan.



Nah, itu pengalaman saya pertama kali ke Gembira Loka, dan bersama toddler. KIta sangat menikmati waktu rekreasi di sini. Pesan saya sih bawa payung aja, meskipun banyak pepohonan tapi akan ada spot-spot tertentu yang terpapar matahari. Pakai sunblock juga boleh banget. Bawa makanan bakal lebih seru karena banyak area untuk bisa makan jadi berasa piknik, jarang-jarang kan bisa makan dikelilingi binatang gitu. Dan satu lagi, untuk toddler saya sih prefer gendongan ya (semisal hipseat) daripada stroller. Selain karena akses kemanapun bisa, pandangan anak juga lebih bebas. Bisa lihat binatang yang meskipun jaraknya jauh dibawah kita seperti buaya. Terakhir, area Gembira Loka ini luas banget! Jadi enjoy dan prepare tenaga ya! <3

Salam, Nasha
Perdebatan antara peran suami-istri dalam rumah tangga ini memang tidak ada habisnya. Dari dulu, sampai sekarang. Dan perdebatan biasanya dimulai dengan pernyataan simpel berupa, jadi istri itu harus bisa masak. Dan biasanya mereka yang memunculkan pernyataan ini bisa laki-laki bisa juga perempuan, ntah memang sudah menikah atau belum. Nah, pernyataan seperti ini, sama dengan pernyataan pada umunya, akan memunculkan gelombang dukungan dan gelombang sanggahan yang beradu argumen.



Saya sendiri ingin memulai argumen dengan berdasar atas pemahaman umum yang kita yakini bersama bahwa suami adalah kepala rumah tangga, yang artinya suami bertanggung jawab atas kelangsungan rumah tangga tersebut. Kemudian beralih pada pemahaman umum bahwa suami berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarga, yang didalamnya ada suami, istri, serta anak-anak. Sampai sini setuju?

Pada dasarnya, kebutuhan pokok dikelompokkan atas tiga kategori yakni kebutuhan sandang yang berkaitan dengan pakaian, pangan yang berkaitan dengan makanan, dan papan yang berkaitan dengan tempat tinggal. 

Dari apa yang saya ketahui sebegai orang awam, masing-masing kebutuhan itupun sebenarnya memiliki dalil sendiri-sendiri. Seperti yang tertuang dalam HR Muslim berikut,

"...dan bagi mereka (istri-istri) wajib bagi kalian memberi rezeki dan pakaian yang baik kepada mereka"

Jika kita lihat Al.Quran pun, dalam Q.S. Al. Baqarah 233 disebutkan kalimat yang artinya:

"Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun, bagi yang ingin menyusu secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. ..."

Selain itu, dalam QS. Attalaq ayat 6, berbunyi:

"...tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu"

Jadi, sepemahaman saya, sesungguhnya dalam Islam sudah diatur bagaimana suami berkewajiban terhadap istri, memenuhi kebutuhan pokok istri. Jika kita setuju mengenai kebutuhan pokok berupa makanan, pakaian, serta tempat tinggal adalah tanggung jawab suami, maka artinya ketersediaan makanan dirumah, pakaian yang bersih, rumah yang layak huni adalah tanggung jawab suami kan? Maka pekerjaan berupa memasak, mencuci pakaian, serta membersihkan rumah adalah tanggung jawab suami, bukan?

Apakah dengan pemahaman tersebut lantas suami yang berkewajiban mengerjakan semuanya? Tentu tidak serta merta demikian. Karena yang menjalankan rumah tangga adalah masing-masing individu yang berbeda, maka rasanya dibolehkan saja untuk mengatur bagaimana pelaksanaan pekerjaan tersebut disepakati oleh kedua belah pihak di masing-masing keluarga selama tidak ada pihak yang merasa terdzalimi, karena sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.

Rasanya, dalam keluarga yang memang saling menyayangi, apa iya istri rela membiarkan suami menanggung semua pekerjaan rumah tangga sementara ia harus mencari rezeki halal lagi di luar sana dengan bekerja? Atau, apa rela suami menyerahkan seluruh pekerjaan rumah tangga kepada istri padahal ia juga turut membantu suami mencari nafkah dengan bekerja juga? Apa iya, seseorang akan tega menyerahkan pekerjaan pada orang yang ia sayangi, yang menjadi pasangan hidupnya, untuk mengerjakan sesuatu yang ia ketahui menjadi beban bagi pasangannya tersebut?

Namun, jika dalam praktiknya, kebanyakan istri yang mengerjakan pekerjaan tersebut, selama sang istri tidak keberatan, apa salahnya? Mungkin ia memang melakukan itu karena hal itu membuatnya bahagia. Toh, insyaAllah itu akan menjadi amalannya. Begitu pula jika dalam satu keluarga hanya sang istri yang bekerja di luar, dan suami yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga, selama suami tersebut rela, kenapa mesti dikomentari? Mungkin memang itu keputusan terbaik agar rumah tangga mereka bahagia.

Saya rasa, ini bukan perkara yang rumit jika saja kita sama-sama kembali ke pemahaman dasar dan mampu untuk berkomunikasi internal didalam rumah tangga. Hal yang paling perlu dikoreksi disini adalah pekerjaan pemenuhan kebutuhan dan keberlangsungan rumah tangga bukanlah tanggung jawab seorang perempuan, bukan tanggung jawab istri.

Jadi, tidaklah tepat menuntut seorang perempuan harus pandai memasak, menyapu, berberes rumah, sedangkan laki-laki tidak mendapat tuntutan yang sama. Hanya karena seorang perempuan tidak mahir melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, lantas nilainya sebagai perempuan akan berkurang apalagi jika menjadi istri. Hanya karena di kehidupan sosial kita, mayoritas perempuan yang mengerjakan semua pekerjaan tersebut, tidak lantas laki-laki bisa serta merta lepas tangan dan tidak dipersiapkan dengan kemampuan itu. Seluruh kemampuan itu, menurut saya, adalah kemampuan dasar bertahan hidup yang perlu dimiliki semua orang, baik itu laki-laki maupun perempuan. 

Pemahaman seperti ini, yang saya pikir sangat perlu untuk kita perbaiki yang kemudian nantinya kita praktikkan, pada lingkungan terkecil di keluarga kita. Bagaimana kita berkompromi antar suami-istri. Bagaimana kita memperlakukan anak laki-laki ataupun perempuan. Bagaimana kita melihat sanak saudara atau kerabat, dan bagaimana kita menanggapi apa yang terjadi dalam lingkungan sosial kita. Wallahualam.

Salam, Nasha.
Kali ini saya mau coba review salon yang belakangan rutin didatangi dan sangat puas atas pelayanannya di Jogja, yakni Rumah Cantik Sehat Muslimah Yogya khususnya yang di Gedongkuning. Salon ini sendiri memiliki cabang di Jalan Kaliurang dan banyak franchise di seluruh Indonesia. Sesuai namanya, salon ini salon khusus wanita ya. Dan karena embel-embelnya muslimah jadi semua pegawainya pakai jilbab.

Lobby Depan (buat nunggu antrian masuk ataupun bayar)

Nah, saya sendiri pertama kali tau salon ini dari hasil pencarian di google. Review nya lumayan, dan rata-rata menyimpulkan kalau pelayanan di salon ini lengkap serta memuaskan. Jadilah saya tertarik untuk mencoba. Saya sendiri suda coba semua perwakilan treatment-nya mulai dari rambut, wajah, dan tubuh. Kuku aja nih yang belum hehe. Dan sejauh ini sama sekali tidak kecewa dengan proses serta hasilnya.

Treatment di salon ini bisa dibilang lengkap untuk kebutuhan seluruh tubuh. Bahkan bisa untuk balita dan ibu hamil juga. Dengan harga yang sangaatt terjangkau. Nah, berikut daftar lengkap treatment apa aja yang tersedia di sini:











Dan yes, hampir sama dengan kebanyakan salon-salon lainnya, ada perbedaan harga antara member dan non member di salon ini dimana harga member mendapat potongan 10% dari harga non member. Lumayan yaa. Pembuatan membernya gak mahal kok, cuma 20ribu atau gratis dengan minimal transaksi 200ribu. Perpanjangannya pun gak mahal, cuma 10ribu.

Salon RCSM ini berada di lantai 2 pada gedung yang beralamat di Jalan Gedongkuning No. 204A. Suasana di dalamnya sangaaat tenang, dengan iringan musik-musik instrumental dan beberapa diffuser yang dipasang di sudut-sudut ruang, mendukung kita untuk makin relaksasi. Produk yang digunakan khusunya untuk wajah adalah produk merk Youfo. Saya sendiri gak tau banyak soal produk ini karena bukan pengguna. Mungkin kalau mau tau lebih detail tentang produknya bisa tanya langsung atau googling yaa hehe.


Suasana di dalam (bilik-bilik untuk treatment tubuh)

Dari lobby, kemudian ini sedikit penampakan bilik-bilik untuk perawatan tubuh seperti lulur, massage, dsb. Untuk masing-masing area treatment dibedakan juga ruangannya, ada area untuk treatment rambut, tubuh, serta wajah. Keseluruhan areanya cukup luas, dengan ruangan yang full AC dan juga dilengkapi mushola.

Saya sendiri cukup amazed dengan servicenya. Karena baru pertama kali facial yang dilengkapi dengan massage tangan, kaki, serta punggung. Biasanya pada sesi maskeran saat facial kita ditinggal begitu saja menunggu olesannya kering. Di salon ini, waktu pengeringan itu dimanfaatkan dengan massage. Wah. Untuk treatment lulur pun, benar-benar di massage seluruh tubuh termasuk wajah, yang diawali dengan perendaman dan penggosokan kaki. Wah lagi. Apalagi mbak-mbak pelayannya juga ramah-ramah. Mau menikmati treatment dengan relax dan diam? Mereka tidak akan banyak bicara. Mau treatment sekalian ngobrol? Silahkan, mereka akan meladeni dengan sopan. Tetapiii, saya sebagai manusia memang akan selu ada ketidakpuasannya yaa hehe. Untuk saya pribadi, saya lebih suka di area treatment tubuh agar lampunya lebih redup dengan warna yang kekuningan, supaya bisa lebih nyenyak aja wkwkwk.

Nah itu dia buibu sedikit review dari saya. Semoga membantu ya! Ingat, me-time itu perlu loh! Supaya kita bisa relax sebentar dan recharged kembali dengan segala aktifitas yang menanti ;D

Saya lupa ntah bagaimana saya sampai ke buku ini, yang jelas melalui penjelajahan di apps online shopping. Alhamdulillah..

Dari dulu saya tertarik pada negara-negara Skandinavian, walaupun belum pernah ke sana. Tapi sepertinya nyaman. Tidak terlalu heboh dan ribut tapi selalu jadi negara yang sejahtera. Negara-negaranya masuk ke deretan teratas negara dengan pendidikan terbaik, negara paling bahagia, negara dengan angka harapan hidup tertinggi. Penasaran ingin ke sana dan melihat langsung bagaimana mereka hidup. Jadi, tentu saja buku tentang parenting ala orang Denmark ini cukup menarik bagi saya hingga akhirnya saya baca, dan yes tidak salah.


Buku ini ditulis dengan proses yang panjang, dengan dilatar belakangi fakta bahwa tingkat stress pada anak-anak semakin tinggi dari waktu ke waktu, dan tingkat usia anak yang mulai terkena stress pun semakin muda. Penulis yang bersuamikan orang Denmark menyadari bahwa ada perbedaan signifikan antara ia sebagai WN Amerika dengan suaminya dalam pola pengasuhan. Dan untuk menjawab rasa penasarannya tersebut, penulis mempelajari banyak hal dari penelitian-penelitian terkait dan konsultasi dengan para pakar kejiwaan. Jadi akan banyak disebut, penelitian-penelitian yang membuktikan teori-teori pengasuhan, anak, remaja, keluarga, dsb. Sehingga, kita tidak merasa digurui oleh penulis, tapi serasa belajar bersama dengan landasan teoritis yang cukup kuat.

Singkatnya, Parenting ala Danish ini dirangkum dengan singkatan PARENT.
P untuk Playing
A untuk Auntheticity
R untuk Reframing
E untuk Emphaty
N untuk No Ultimatum
T untuk Togetherness

P untuk Playing

Di sini, ditekankan bahwa hakikat menjadi anak-anak itu ya bermain. Dan yang kita ketahui bermain pada anak-anak itu sebenarnya bukan 'sekedar' bermain. Mereka belajar banyak dari kegiatan tersebut, seperti mengeksplorasi, berusaha sendiri, fokus, bersosialisasi, menyelesaikan masalah, bertanggung jawab, dsb. Saat bermain dengan bebas, anak juga belajar mandiri memutuskan kegiatannya, mencoba hal yang ia inginkan, menanggung resiko, mengukur sendiri tingkat ketakutannya, dan mengendalikannya. Orang tua disarankan 'hanya' menyediakan lingkungan yang aman mendukung anak untuk bermain, dan membiarkan mereka melakukannya sendiri. Selain itu, para orang tua juga diharapkan untuk tidak terlalu cepat memberi bantuan serta jika ikut bermain maka bermainlah dengan sungguh-sungguh.

A untuk Authenticity

Pada bagian ini, penulis menjabarkan betapa pentingnya otentisitas atau kejujuran. Bahwa kejujuran dimulai dari diri sendiri, mengenal apa yang anak rasakan atas sesuatu tanpa perlu merasa bersalah. Dan melatih anak untuk jujur terhadap diri sendiri, dengan tidak membanding-bandingkan mereka dengan saudara ataupun temannya. Dibahas juga bagaimana orang tua mengatakan kepada anak dengan cara yang jujur, apa adanya, dan terbuka. Tentunya disesuaikan secara sederhana dengan bahasa dan pemahaman si anak. Selain itu, juga ada penjabaran bagaimana memberikan pujian yang seharusnya, yang jelas tujuan dari pujian tersebut, yang disarankan untuk berfokus pada proses ketimbang hasil.

R untuk Reframing



Reframing dimaknai dengan memaknai ulang, yang artinya bagaimana kita melihat sesuatu dengan sudut pandang yang lain. Cara pandang yang penulis tekankan disini adalah cara pandang yang lebih positif atas segala sesuatu di dalam koridor optimisme realistis, dengan mengesampingkan hal-hal negatif dan berfokus pada hal positif atas suatu kejadian. Penulis mengingatkan kita bahwa penggunaan bahasa sangat berpengaruh dalam kehidupan, meskipun kelihatannya sangat sepele. Peran orang tua yang diharapkan ialah agar tetap tenang, menggunakan bahasa yang baik tanpa melabeli perorangan melainkan hanya perilaku. Karena sesungguhnya tidak ada anak yang buruk hanya perilaku tertentu-lah yang buruk.

E untuk Emphaty



Bagian ini menekankan kita sebagai orang tua agar melatih anak-anak untuk merasakan, untuk menjadi manusia seutuhnya, dengan kualitas hubungan sosial yang lebih baik. Kenapa ini penting? Karena ternyata kemampuan ini dibutuhkan agar kita bisa lebih tangguh, mampu bertahan, dan tentunya lebih bahagia. Langkah-langkah yang dijabarkan disini antara lain dengan mengenal dan peduli atas emosi orang lain, apa yang kira-kira yang ia rasakan, dan tidak menghakimi. Berbaur dengan semua kalangan juga membantu anak agar memahami bahwa kita semua memiliki kualitas positif masing-masing dan terdorong untuk saling membantu. Dengan proses yang panjang ini, anak akan mampu bertumbuh untuk saling menghargai.

N untuk No Ultimatum



Faktanya, di Denmark hukuman fisik dinyatakan ilegal sejak 1997. Wow! Pembahasan pada bagian ini adalah saat anak-anak mulai membuat kesabaran kita mulai menipis, amarah memuncak, dan berteriak mengancam adalah hal yang terpikirkan oleh kita. Penulis mengajak kita untuk mencari alternatif lain, dengan pertama-tama tetap bersikap tenang, kemudian jelaskan aturan dengan tegas dan beri penjelasan, coba memahami dari sisi anak, dan temukan solusi. Karena kadang dalam pertengkaran dengan anak, bukannya mencari jalan keluar, kita malah fokus ke bagaimana bisa 'menang'. Dan penulis pun mengingatkan bahwa saat protes dan menyatakan keinginan, anak sebenarnya sedang berada pada tahap kemandirian dengan memiliki pemikirannya sendiri.

T untuk Togetherness



Ada salah satu kebiasaan orang Denmark yang telah menjadi gaya hidup mereka, yakni Hygge (dibaca huga) yang artinya bersantai bersama. Mereka berkumpul bersama seluruh keluarga besar untuk menikmati kebersamaan, ntah itu bernyanyi, saling membantu di pekerjaan rumah, bermain, bercengkerama, atau hanya menghabiskan waktu menikmati hidup bersama. Mereka meninggalkan segala persoalan pribadi dan berfokus untuk bersantai bersama, karena masih banyak hari untuk merasa khawatir atau stres terhadap masalah yang dihadapi. Toh terbukti, untuk menjadi personal yang tangguh di luar dan bahagia, seseorang perlu merasa terhubung, menjadi aman dalam kelompok tertentu, dan mendapatkan dukungan. Tentunya hal demikian, paling baik bersumber dari lingkungan keluarga yang bahagia.



Bagi saya pribadi, membaca buku ini seperti berkelana ke Denmark. Menyaksikan bagaimana mereka  hidup dengan bahagia. Dan sedikit-sedikit mengambil pelajaran atas apa yang mereka lakukan. Mungkin mereka sendiri tidak terlalu menyadari, sama seperti kita, bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita lakukan membentuk bagaimana kita. Bagaimana kita memandang sesuatu, berpikir, bereaksi, mengambil keputusan, serta bertindak.

Namun yang saya sedikit sayangkan dari buku ini adalah penjelasannya yang masih kurang mendalam. Padahal penulisan buku ini sendiri membutuhkan riset yang cukup panjang. Saya akan lebih senang jika pembahasan per topiknya lebih dalam, lebih detail, tidak masalah jika buku ini menjadi sedikit lebih 'berat'. Akan tetapi secara keseluruhan, saya bersyukur dan berterima kasih kepada penulis yang telah merangkum dan menghadirkan buku ini untuk membuka pikiran saya, menambah wawasan saya, dan memberi saya cara pandang baru. Serta tentunya merekomendasikan kepada siapa saja (tidak harus orang tua) untuk membaca buku ini.

Salam, Nasha.

google-site-verification: google1e24e629bc058f50.html

Dan akhirnya saya kembali. Ntah akan dipublish atau tidak ini nantinya, saya mencoba berdamai dengan diri sendiri dan ekpektasi, tidak lagi peduli dengan apa pandangan maupun pendapat orang lain (jika memang ada). Saya sadar bahwa ini harus dimulai dengan sesuatu yang jujur terbuka apa adanya. 




Karena itu saya memperkenalkan diri dengan sebenarnya. Dimulai dengan menyatakan diri menerima status pekerjaan terbaru saya sesuai yang tertera di KTP, pekerjaan yg sejak dulu tidak pernah saya akui, namun lucunya justru ada dalam jenis pekerjaan disini.
Mengurus rumah tangga. See? Bukankah ini lucu? Bagi saya, mengurus  rumah tangga bukan pekerjaan. Hanya bagian dari tugas anggota rumah. Ntah itu tugas suami, istri, ataupun anak. Semuanya bertugas untuk ‘mengurus’ kan? Terlepas diluar sana juga sebagai pengusaha atau pegawai atau pelajar. Tapi toh malah tertulis pada kolom pekerjaan disini.
Tapi ya demikian. Alasan terbaik yang bisa saya utarakan untuk menampik adanya status tersebut.
Dan sekarang, itu menjadi status saya, bukan hanya pekerjaan, tapi juga menyangkut status sosial, kondisi umum yang cukup menggambarkan, dan akhirnya yang sekarang saya akui. Meskipun akan terus saya upayakan agar hilang dalam kolom pekerjaan disini.

Loh memangnya ada apa?
Saya bukan membenci status ibu rumah tangga. Tidak sama sekali. Yang saya tolak hanya ketimpangan bayangan dan realita saya. Kita semua punya gambaran mengenai identitas diri. Dan saya selalu membayangkan diri saya dengan identitas berupa seorang wanita sukses yg sibuk dengan jadwal yg padat mengurus semua hal, pergi ntah kemana dgan pakaian casual yg keren. Menghubungi ntah siapa di telefon. Mengirim email dengan attachment yang berderet. Memberikan instruksi dengan percaya diri dan bahasa lugas. Terlihat cerdas saat berpendapat atau berkonfrontasi. Dan itu yang saya upayakan sejak dulu sekolah, hingga bekerja, dan sebelum menikah.
Berseberangan, gambaran umum ibu rumah tangga tentunya jauh dari itu semua kan? Meskipun tidak ada yang persis tau bagaimana rupa dan aktifitas masing-masing individu meski dengan status yang sama.

Setahunan ini saya berjuang (if I can say that) untuk menerima dan menekan teriakan batin saya yg menyatakan kurang lebih, i’m much more than this. I could do those both. I could take care of everything well. Saya bisa mengurus anak dan pekerjaan sekaligus. Saya bisa mengurus anak dan mengejar mimpi juga. Saya bisa mengurus anak dan berkarya sekalian. Tp toh, sampai hari ini saya belum memiliki karya apapun dan the dream still there.

Pada masa-masa itu (mulai dari kehamilan sendirian di kontrakan, proses melahirkan, hingga mengurusi bayi dengan ilmu yang nol dan tanpa pernah sekalipun memegang bayi sebelumnya), saya berusaha menjadi manusia yang baik, mencintai dengan terbata-bata. Mulai merasa harus bertanggung jawab melakukan sebaik-baiknya, dengan mencari info sebanyak-banyaknya tentang bayi, parenting, atau apapun yg berkaitan. Membaca ntah dari buku, website di google, atau sekedar caption di instagram. Ada yang cocok, ada yang kurang cocok. Trial and error kan istilahnya. Tidak apa-apa yang penting saya berusaha.

Dalam masa-masa itu, saya masih saja mempersulit diri sendiri dengan berlagak sanggup, galau sendiri, sekaligus mencoba mencari bidang-bidang sambilan lain tanpa benar-benar melakukannya.

Tolong hentikan bayangan bahwa saya berada dalam ruangan gelap dengan rambut acak adul dan baju asal pakai itu. Karena saya sungguh terlihat baik saja. Tidak ada yang tau. Bahkan diri saya sendiri. Kecuali deretan kejadian saat saya mengumpat, menangis, membayangkan hal-hal mengerikan, berandai-andai, atau keinginan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Selain itu, semua tampak normal. Suami saya baik meskipun kami terpisah jarak (yes, that LDM thing), bayi saya sehat dan aktif, ASI saya cukup, serta kadang saya berkumpul dan tertawa dengan teman.

Masa-masa kemudian yang saya lelah dengan semua hal, menjadi begitu lemah, moodyan dan tidak sabaran. Masa-masa kehilangan semangat hanya karena sedikit hambatan atau kekurangan penghargaan. Menangis menderita seperti korban hanya karena ada yang salah cara bicara.
Masa-masa enggan keluar, bersosialisasi (mungkin ini normalnya saya), bersembunyi, karena menganggap tidak ada hal yg bisa saya sampaikan, saya banggakan.

Sampai kemudian, proses itu membawa saya sampai ke titik tertentu. Dan disinilah saya, menyampaikan saya menerima bagaimanapun keadaan saya sekarang dengan perlahan berlapang dada. Karena saya hanya perlu bernafas, mengambil oksigen seperlunya, hembuskan, kemudian bernafas lagi. Mengambil jeda untuk benar-benar melihat, mendengar, merasakan, menikmati dengan sepenuh hati. Ternyata tak terhitung karunia yang patut saya syukuri dalam keadaan ini. Sangat banyak yang telah dan bisa akan saya lakukan dengan kondisi ini, yang mustahil saya lakukan jika tidak dalam status ini. 

Ntah akan jadi apa saya esok hari, ntah kejutan apa yang Tuhan miliki, ntah mengejar mimpi itu lagi, atau perlu beberapa revisi. Yang pasti saya menyadari, sebelum mengejar apa yang belum saya miliki, saya harus mengakui dan mensyukuri apa yang ada saat ini. Saya belajar untuk menerima semuanya, sepenuhnya dalam keadaan sehat dan bahagia. Apa lagi? Alhamdulillahirabbilalamiin..

Salam, Nasha
Sebelum bersorak-soreak gembira karena Gesang udah lulus stage 1 makanannya dengan ASI, dan setelah melalui stage 2 makanannya, saya mau flashback dulu ke hari-hari persiapan dan drama galau karena bingung belum tau apa-apa :')

Jadi gini ya rasanya kelabakan bingung apa-apa karena yaa anak pertama. Kita ibunya belum punya ilmu dan pengalaman apa-apa. Mana gak mau cuma manut ikutin yg tua-tua. Jadinya ya, cari tau kesana-kemari, tiap hari browsing, catet-catetin, bikin jadwal, revisi, bikin lagi, dst. Perjuangan juga kekeuh dengan menu yang udah dibikin dan 'melawan' komentar-komentar sekitar wkwkk. Tapi, Alhamdulillah dramanya sangat sedikit dan Gesang lahaaapp. Horee!! Ternyata gini ya rasanya ribet-ribet masak dan anak makan lahap :')

Sebelum bahas menu makanannya apa aja, boleh disimak dulu sedikit penjelasan tentang MPASI yaa. Opsi-opsi cara yang mesti dipilih dan bikin drama :")

Menu Tunggal vs Menu 4 Bintang

Istilah ini mungkin sudah cukup familiar ya di kalangan buibu sekarang. Singkatnya, Menu Tunggal itu adalah menu makanan yang hanya terdiri dari satu jenis bahan makanan. Biasanya dalam penyajian bisa ditambah lemak tambahan seperti EVOO (Extra Virgin Olive Oil) atau UB (Unsalted Butter) dan juga ASIP alias ASI Perah. Sedangkan menu 4 bintang adalah menu makanan yang terdiri dari empat bahan makanan karbohidrat, protein nabati, protein hewani, dan sayuran. Nah, sebenarnya dari panduan WHO gak ada penjelasan tentang menu ini. Karena sederhananya gini, bayi itu diberi MPASI saat telah berusia 6 bulan karena dianggap memiliki pencernaan yang mumpuni untuk mengolah makanan dan karena kandungan nutrisi di ASI sudah tidak lagi mencukupi kebutuhannya, seperti yang tergambar di tabel ini.

Pict Source: https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnut.2016.00041/full
Mau langsung Menu 4 Bintang, supaya gak ada nutrisi yang terlewatkan dalam satu hari, silahkan.
Mau coba Menu Tunggal dulu, supaya tau reaksi anaknya gimana, silahkan.
Kalau Gesang, saya memang kasih Menu Tunggal dulu. Karena pengen tau aja gimana reaksi dari masing-masing bahan makanan itu. Alhamdulillah sih, Gesang gak sembelit, dan memang ada pengaruh bahan makanan ke kotorannya. Seperti, kotoran yang akan berwarna cenderung bata keunguan setelah konsumsi buah naga. Dan dalam penyusunan menu ini, diperhatikan ya buibu bahan-bahan makanannya tinggi atau rendah serat, supaya bisa dikombinasikan.

Disuapin apa Langsung Suap Sendiri

Nah ini kegalauan kedua. Mau disuapin dulu aja apa coba langsung kasih suap sendiri. Bahasa kerennya, mau spoon feeding atau baby led weaning. Metode Baby Led Weaning (BLW) ini dimulai sekitar 15 tahun yang lalu dan semakin populer belakangan ini. Praktiknya biasanya makanan diberi dengan potongan yang sesuai dengan ukuran genggaman tangan bayi. Ini untuk melatih kemandirian dan juga kemampuan motorik anak. Pemberian makanannya pun dibarengi dengan jam makan anggota keluarga lain dirumah. Jadi perlakuan kebiasaan makannya sama. Anak pun belajar lebih cepat megenai kebiasaan makan, kapan ingin makan, kapan berhenti, dan bisa menentukan porsi makannya sendiri. Kekurangan dari BLW ini antara lain resiko bayi tidak mendapakan nutrisi lengkap yang dibutuhkan. banyak makanan yang terbuang, dan meningkatnya resiko tersedak. Sehingga, banyak ahli yang menyarankan untuk memulai BLW pada anak usia 8 bulan saja.

Dengan beragam kegalauan dan pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk memilih metode spoon feeding alias menyuapi dulu Gesang. Karena bentuk makanannya masih berupa pure, dan juga bubur saring. Selain itu, dengan metode ini porsi makan anak jadi lebih 'tampak' dan resiko tersedak dan makanan terbuang juga menurun.

Berapa Banyak dan Makan Apa Aja

Kegalauan yang sulit menemukan obat adalah bagian ini. Karena, kita makan aja susah ngira-ngiranya apalagi bayi keci mungil gitu. Ada yang pakai timbangan, ada yang pakai gelas takar, ada yang ngira-ngira aja. Kalau saya termasuk ke tim yang mengira-ngira. Kebanyakan gapapa deh, selagi dia masih mau dan belum kenyang. Tapi, kalau ada sisa ya saat itu mikirnya, toh kalau gak abis bisa saya yang abisin ^.^"

Karena bentuk makanan awal Gesang adalah pure, maka pemberian makanannya juga lebih mudah dengan menggunakan sendok dan langsung disuapi ke Gesang. Namun, untuk selingan agar ia belajar, saya memberi snack/ biskuit diantara jadwal makannya.

Peralatan 

Kalau ini, yang paling menguras tenaga, pikiran, dan juga kantong wkwkk. Karena, ternyata, banyak bangeeeettt peralatan MPASI ini. Kalau ngobrol masalah ini, sma orang tua dekade sebelumnya, so pasti akan bingung dan ngomel sambil bertnya-tanya, ini apasih, macem-macem aja anak-anak sekarang.

Dari sekian banyak peralatan tersebut, dan yang 'hanya' akan digunakan beberapa bulan (dengan asumsi usia 1 tahun, anak sudah mengkonsumsi makanan keluarga), akhirnya saya memutuskan untuk membeli peralatan-peralatan sebagai berikut:

- High Chair Baby Safe 3 in 1



High Chair ini termasuk barang yang cukup lama masa 'galau'nya. Dari jawab pertanyaan, perlu gak sih high chair, kursi buat makan doang? Kan bisa sambil duduk lesehan aja, atau di baby walker aja, atau di baby hammock nya? Akhirnya dari beragam pertanyaan dan keraguan itu, saya dapat jawaban. Ya, perlu. Supaya Gesang terbiasa memisahkan aktifitas makan dengan aktifitas lainnya seperti bermain. Gesang perlu dibiasakan untuk tertib (jangan kaya emaknya, yang kalau mau makan mesti puterin film yang bagus duluu ><"), jadi mudah-mudahan dengan begini Gesang jadi terbiasa teratur, oh ini lagi makan, oh kalau makan tempatnya disini, tata caranya begini.

Kegalauan selanjutnya adalah memilih high chair yang mana. Karena ada buanyak banget model high chair ini. Jadi mesti pilih mana yang paling sesuai sama kebutuhan dan sama kantong juga wkwk. Akhirnya pilihan saya jatuh ke High Chair Baby Safe HC04 3 in 1 ini. Chair ini bisa berfungsi sebagai high chair, booster seat, dan separable chair yang dipisah gitu meja dan kursinya. Estimasinya sih bisa kepake lamaa. Ada produk-produk lain yang harganya diatas ini, tapi gak bisa dipisah untuk jadi meja kursi, atau gak bisa difungsikan jadi booster seat, jadi kalau mau dibawa kemana-mana ya ribet sendiri. Kalau produk ini, mau dibawa ya tinggal jadiin booster seat terus naikin ke mobil deh. Lebih ringkas. Terus, ada bantalan busa dan tali pengamannya juga. Jadi, untuk manfaat dan biayanya menurut saya ini barang sangat worth! Recommended deh!

- Manual Food Processor Berz 7 in 1





Untuk food processor, kegalauan berikutnya adalah pilih yang manual atau yang otomatis. Kan ada tuh beberapa produk yang bisa langsung fungsi kukus (steamer) serta fungsi melumatkan (blender/ grinder). Simple. Tapi ya, selain harganya mahal, listriknya juga mayan -o-" Dan setelah masa MPASI Gesang, gak tau lagi itu barang mau diapain ^^"


Akhirnya, sampai ke kesimpulan, ya udah coba aja dulu kukus kan bisa pakai panci di kompor, dan blender juga ada yang kecil. Kalau berasa ribet, ya boleh dipertimbangkan buat beli alat itu. Tapii, tetep karena saya pengen pemisahan alat-alat Gesang sama alat-alat dapur lainnya, saya beli processor yang manual. Dan pilihan saya jatuh keeee food processor keluaran Berz ini. Mungkin emang kurang familiar ya. Saya pun cuma nemu di online shop ini barang. Tapi karena review nya banyak yang bagus, dan alat-alatnya udah lengkap dalam satu kemasan (ada saringan, perasan jeruk, grinder, dsb), yasudah beli ini aja.

Daaan, setelah dijalani ya, biasa aja, gak ribet hehe. Jadi, bahan makanan yang perlu dikukus, saya kukus dulu trus baru deh diblender, trus disaring deh pake saringan yang udah termasuk dalam set Berz itu.

- Tupperware Tiwi Todz set



Pilihan alat untuk pnyajian makanan memang banyak, tapi waktu liat Tupperware ini wah bagus juga ya. Trus juga ada cup yang kecil untuk penyimpanan makanannya. Dan rasanya kalau untuk penyimpanan, Tupperware ini gak perlu diragukan lagi ya kualitasnya.

Set ini terdiri dari 1 mangkuk makan, 2 cup kecil untuk penyimpanan, 1 gelas minum yang hard spout, dan 1 sendok. Cukup. Tapi sayang, gak dilengkapi sama tas ^^" jadi kalau mau bawa-bawa ya agak ribet. Saya mesti beli lunch bag lagi buat bawa-bawanya.

Selain peralatan diatas, yang memang dibeli khusus buat Gesang, ada beberapa peralatan tambahan lainnya, antara lain:
- Panci kukus
Ini panci kukus biasa, tapi yang diameternya lebih kecil dan memang karena peruntukan hanya untuk makanan Gesang
- Magic Bullet Blender
Blender biasa tapi dengan desain seperti hand blender. Ada banyak cup baik yang tinggi maupun rendah. Juga ada yang besar dan juicer. Bagian pisau dan cup nya mudah dilepas dan dicuci, beda dengan blender biasa yang rasanya agak 'ribet' nyucinya karena besar. Terus, menggunakan cup yang kecil, diperuntukkan khusus untuk makanan/ jus Gesang. Dengan desain seperti ini, porsi bahan makanan yang sedikitpun bisa diblender dengan baik.
- Set pencuci alat makan manual (spons, sabun, dsb)
Menurut saya, perlengkapan ini adalah hal kecil tapi sering terabaikan, dan rasanya ini memang harus khusus. Supaya kotoran di peralatan makanan lain gak bercampur, contohnya minyak.

Menjelang mulai tahap MPASI, sepertinya itu dulu ya yang perlu diketahui dan dipersiapkan sebelum masuk ke bagian Menyusun Menu yang juga gak kalah ribet, tapi seruuu. Next kita akan bahas tentang menunya. Semoga membantu!

Salam, Nasha.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Rekomendasi Tas Sekolah Anak Minim Plastik, Pilihan Murah yang Tidak Murahan

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  Juni 2026 (1)
      • Menerapkan Unbothered Energy dalam Kehidupan Sehar...
    • ►  Mei 2026 (1)
    • ►  April 2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Rekomendasi Tas Sekolah Anak Minim Plastik, Pilihan Murah yang Tidak Murahan

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes