• Anak & Keluarga
  • Kesehatan Mental
  • Perempuan & Pernikahan
  • Lingkungan
  • Review & Rekomendasi
Salam, Nasha

Jejak Perjalanan dan Catatan Pelajaran

Mendekati tahun ajaran baru, kembali ramai diperbincangkan mengenai wisuda anak sekolah yang dimulai sejak TK. Ada prosesi mengenakan pakaian layaknya wisuda universitas lengkap dengan toganya. Ada berbagai macam pendapat terkait hal ini. 

Jika dilihat lebih luas, diskusi ini bermula dari keluhan orang tua murid yang harus mencari dana tambahan untuk acara wisuda anak, apalagi saat dilihat acaranya tidak dapat dikatakan penting. ternyata banyak orang tua serta murid sekolah yang setuju dengan pendapat tersebut. Serta ada tambahan pendapat, bahwa wisuda jadi tidak sesakral dulu, saat jenjang pendidikan benar-benar telah rampung dilaksanakan. Sebaliknya, banyak yang menyayangkan protes ini dengan alasan sebagai ajang bersenang-senang anak dan bagian dari kenangan mereka kelak. Tidak lupa, ada juga yang mengganggap ini bukan topik penting untuk dibahas. Kita coba telaan satu persatu.

Baca Juga: Info Biaya SD di Solo dengan Akreditasi A, Lengkap dengan Jadwal dan Pilihan Ekskul

 

Makna Filosofis Wisuda

Kata wisuda jika kita lihat di KBBI berarti peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat. Sedangkan toga didefinisikan sebagai baju panjang (jubah) hitam, lengannya lebar sebagai pakaian jabatan bagi guru besar, hakim, sarjana, dan sebagainya yang dipakainya pada saat tertentu. Sejauh ini, definisi kata wisuda sangat luas sehingga tidak masalah digunakan diluar konteks universitas. Hanya saja, pakaian yang dikenakan ternyata diperuntukkan untuk jabatan tertentu. Ditambah dengan adanya makna filosofis dari pakaian tersebut.

Untuk diketahui, melansir amanat, warna hitam dipilih karena melambangkan keagungan. Bentuk persegi empat pada topi melambangkan sudut pandang, agar setelah lulus mahasiswa diharapkan mampu memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang. Lalu, prosesi pemindahan tali toga dari kiri ke kanan melambangkan harapan agar setelah banyak menerima ilmu dari otak kiri mahasiswa mampu memanfaatkannya dengan otak kanan yang bekerja lebih inovatif dalam masyarakat. Jangankan anak TK, para sarjana juga belum tentu semua paham mengenai makna filosofis ini. 

Argumen ksakralan dan makna filosofis ini tidak bisa disamaratakan karena sifatnya subjektif perorangan. Ada yang beranggapan bahwa ini bisa jadi momentum bagi mereka yang tidak berkesempatan menempuh pendidikan hingga sarjana, ada juga yang menyatakan bahwa wisuda harusnya jadi momen berharga karena panjangnya perjalanan sekolah yang harus ditempuh terlebih dahulu. Keduanya bisa benar, bisa juga mengandung kekeliruan. Bagaimana murid menghargai perjuangan itu sifatnya personal. Menjadi sarjana memang melegakan. Dinilai matang siap berdaya untuk masyarakat. Kelulusan sekolah apapun bentuknya juga merupakan pencapaian yang boleh saja dirayakan. Bagaimanapun, prosesi yang melibatkan setidaknya sekolah, orang tua, dan murid ini perlu disadari bersama mulai dari tujuan hingga dampaknya. 


Tambahan Biaya

Ini adalah alasan utama banyaknya protes terkait kegiatan wisuda sekolah. Apalagi bagi orang tua yang memilii anak lebih dari satu, tentu akan lebih memberatkan. Padahal dana tersebut bisa digunakan untuk persiapan masuk sekolah jenjang berikutnya. Tidak mudah juga untuk serta merta tidak ikutan karena terkendala biaya. Ada perasaan janggal saat anak-anak lain riang mengikuti sedangkan anak sendiri tidak bisa ikut. Ini dikembalikan pada masing-masing orang tua dan kesepakatan dengan pihak sekolah.

Salah satu solusi untuk meringankan biaya mungkin dengan mengangsurnya. Kita semua tahu, pengeluaran wali murid akan jauh meningkat memasuki tahun ajaran baru, sehingga jika orang tau dan sekolah sepakat untuk mengadakan acara berikut tambahan biayanya, bisa dipersiapkan jauh-jauh hari mungkin sejak satu semester sebelumnya. Informasi rinci dan tambahan biayanya diinformasikan pihak sekolah pada orang tua lalu tambahan biaya tersebut bisa diangsur pembayarannya setiap bulan, sesuai kesepakatan. Selain itu, menerapkan sistem pembayaran minimal juga bisa dilakukan. Ini memberi kesempatan pada mereka yang memiliki dana lebih untuk mensubsidi mereka yang pas-pasan. Semua murid bisa bersenang-senang bersama. Namun, jika orang tua tetap tidak setuju ya tidak boleh dipaksakan juga. Segala konsekuensi ada di masing-masing pihak berkepentingan.

Ilustrasi Anak Wisuda

Perlu diketahui bahwa apapun bentu tambahan kegiatan akan menimbulkan tambahan biaya. Acara selebrasi apapun namanya kelak, akan membutuhkan tambahan dana dan tenaga untuk menyelenggarakannya. Jika sepakat untuk mengadakannya, maka hal pertama yang perlu dibicarakan adalah skala kegiatannya dan biaya yang disanggupi oleh pemilik dana, kemungkinan besar orang tua. Bentuk kegiatan juga sangat variatif, mungkin mayoritas seputar pementasan seni namun seharusnya ini bisa dibicarakan lebih lanjut, mengusahakan dampak baik yang lebih banyak dan luas. Dengan semakin terasanya krisis iklim, mungkin aksi peduli lingkungan bisa menjadi opsi. Dana dan tenaga disalurkan untuk kegiatan lingkungan, perawatan hewan dan tumbuhanm ataupun kegiatan sosial untuk orang-orang yang membutuhkan. Sepertinya nilai sosial dan lingkungan adalah isu yang semakin urgen belakangan.

Jika dirasa selebrasi atau acara yang disepakati tidak ada manfaatnya, tidak apa juga jika tidak dilakukan. Tidak perlu ada paksaan, tidak perlu juga merasa tidak enakan karena kita masing-masing punya nilai yang kita junjung tinggi. Berpegang pada nilai itu, hal-hal lain bisa dikesampingkan. Perdebatan seperti ini sebenarnya perdebatan yang tidak ada ujung karena semua bisa tegak berdiri pada alasan masing-masing dan tetap tidak salah. Namun, perdebatan ini bisa menjadi jalur diskusi yang sehat bagi kita dalam menentukan langkah terbaik apa yang diinginkan bersama. Supaya kita bisa melihat lebih luas, supaya kita bisa lebih peduli. 



Salam, Nasha


Nak, hari ini kamu menerima lembaran yang mungkin sedikit mendebarkan

Memperkirakan sudah sesuaikah hasilnya dengan yang kamu perkirakan

Membayangkan bagaimana reaksi ayah ibu melihatnya

Entah pujian atau omelan yang kamu terima


Namun, ketahuilah

Kamu yang paling memahami dirimu

Apa yang kamu suka apa yang kamu tidak kuasai

Laporan itu tidak bisa memberi tahu utuh apa yang kamu miliki dan bisa lakukan

Hanya sebagian berupa refleksi dari apa yang dapat dilihat

Sehingga ia tidak akan pernah mendefinisikanmu atau proses pembelajaranmu

Hanya sedikit hubungannya dengan ayah dan ibu

Kamu yang tahu kaitannya denganmu dan dampaknya bagimu kelak

Maka pertanyaannya sudahkah laporan itu memuaskan bagimu?


Salam, Nasha


Ilustrated Picture Edited by Canva

Melanjutkan pembahasan tentang ujian pada anak sekolah, ada laporan penilaian kegiatan mereka selama di sekolah dan hasil ujian yang diberikan dalam bentuk rapor. KBBI mendefinisikan rapor sebagai laporan resmi (bagi yang wajib menerimanya). Ada sekolah yang langsung memberi pada murid, namun lebih banyaknya diterima oleh orang tua pada akhir kegiatan di sekolah, biasanya setai semester. 

Sejak beberapa tahun kebelakang, penilaian pada rapor mengalami perkembangan yang cukup baik. Berbeda dengan zaman kita dulu, rapor sekarang tidak lagi berisi angka yang diwarnai dengan tinta hitam atau tinta merah. Warna merah jika nilai yang didapat berada dibawah standar kelulusan. Lembaran yang hanya berisi kolom nama mata pelajaran, nilai standar yang ditetapkan, dan nilai yang didapatkan. Kadang ada yang menambahkan kolom nilai rata-rata kelas. Tidak lupa, ada peringkat dari jumlah murid dikelas, diurut berdasarkan jumlah nilai yang didapat. Rapor sekarang berisi huruf dan kalimat-kalimat penjelasan. Kurikulum Merdeka bahkan meniadakan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) atau batas nilai paling rendah, setelah sistem rangking yang disebut membuat gap diantara siswa sudah ditiadakan pada kurikulum sebelumnya.

Topik mengenai perkembangan sistem penilaian akan menjadi pembahasan yang cukup panjang. Jika dilihat sekilas sepertinya perubahan ini memiliki niat yang baik. Meskipun namanya perubahan, maka perlu adaptasi yang akan merepotkan dan membingungkan pada awalnya, namun untuk kemajuan maka tidak ada salahnya dicoba. 

Ilustrated Photo

Selain terus mengamati sistem pendidikan yang akan diterima anak-anak, kita sebagai orang tua juga harus terus berperan dalam prosesnya. Dalam hal ini, mendampingi anak pada fase mendapat laporan penilaian. Sama dengan saat ujian, kita juga perlu menggeser sudut pandang kita terlebih dahulu. Jangan samakan memperlakukan anak sekarang dengan bagaimana kita diperlakukan dulu, sedangkan sistem penilaiannya saja sudah berbeda. Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan sabagai orang tua:

- Beradaptasi dengan perspektif yang tepat

Sebenarnya ini perspektif yang harus diterapkan sejak dulu, bukan hanya karena sistem penilaian yang sudah diganti. Sejak dulu harusnya kita paham bahwa rapor tidak menentukan masa depan. Itu hanya berisi evaluasi dari apa yang dapat dilihat guru di sekolah selama periode waktu tertentu, bukan keseluruhan kemampuan anak. penilaian oleh perseorangngan juga beresiko mengandung bias. Tidak bisa menggambarkan utuh mengenai potensi yang dimiliki masing-masing anak. 

Dengan bentuk rapor yang sudah dikembangkan sekarang, sudut pandang kita juga lebih mudah menyesuaikan. Bingung dan repot mempelajarinya diawal tidak masalah. Jika ada yang tidak mengerti, bisa tanya langsung ke pihak sekolah, jangan mengeluh kepada anak.


- Pahami anak

Anak berada disekolah selama beberapa jam, paling lama selama sepertiga harinya. Guru yang memberi penilaian juga berganti-ganti. Sedangkan kita orang tua yang sejak awal mendampingi. Selain anak itu sendiri, orang tua-lah yang paling memahami kondisi masing-masing anak, apa yang ia sukai, apa yang kurang ia nikmati, dimana potensinya, apa yang bisa terus diasah. Ini akan berbeda disetiap anak, kita yang lebih tahu. Sehingga tidak perlu membandingkan anak dengan teman-temannya apalagi menuntut anak untuk cemerlang disemua bidang. 

Bicarakan apa yang penting dari rapor, ini juga bisa bevariasi tergantung masing-masing anak dan keluarga. Tahu tujuan dari sekolah, baru bisa disesuaikan untuk apa rapor tersebut. Mungkin ada yang mementingkan prestasi akademis, ada juga yang fokus pada bakat diluar kegiatan sekolah, atau hanya sebagai kegiatan sosial. Pilihan dan konsekuensi ada pada masing-masing anak dan keluarganya. Hal yang lebih penting adalah membentuk anak yang mau memperjuangkan apa yang ia inginkan dan siap bertanggung jawab atas segala resikonya. 


- Bijak mengapresiasi dan memotivasi

Apa yang sudah anak lalui disekolah, bukanlah hal yang mudah. Dalam rentang waktu itu, anak bisa mengalami banyak hal, bisa menyenangkan juga menyengsarakan untuknya. Sebagai orang yang mengasihi anak, sudah sepatutnya kita mengapresiasi keberhasilan anak melalui hal-hal tersebut. Mungkin lebih mudah untuk kita mengapresiasi saat anak mendapatkan hasil yang baik, memuji-muji hasil mengagumkan. Bagaimana respon kita akan membentuk bagaimana anak melihat dirinya dan apa yang penting untuk mereka, apakah hasil yang cemerlang atau usaha yang jujur maksimal.

Apresiasi segala usahanya, kehadiran dan semangatnya bersekolah, disiplinnya ia menyesuaikan dengan ketentuan sekolah, tugas-tugas yang berhasil ia kumpulkan, tanggung jawabnya pada bentuk kegiatan sekolah, dan kerelaannya melakukan hal yang kadang tidak ia sukai. Apresiasi proses ini membuat anak merasa dihargai dan belajar bahwa bukan hanya hasil yang penting, namun lebih penting lagi adalah proses yang ia jalani. 


- Berdiskusi dengan anak dan guru sekolah

Penting untuk orang tua bisa menjalin komunikasi yang baik dengan guru di sekolah, apa yang tidak kita lihat dan ketahui di rumah, bisa kita ketahui dari guru. Tambahan informasi berupa kegiatan apa yang anak senangi, bidang apa yang anak kuasai, bagaimana anak berinteraksi dengan temannya, bagaimana anak bekerja sama, berkomunikasi, menyampaikan pendapat, hingga kendala apa yang dihadapi anak. 

Ini bisa digunakan orang tua sebagai bahan pembicaraan yang bisa diselaraskan dengan keterangan dari anak. Pembicaraan dengan anak bisa dimulai dari apa yang penting menurutnya dari sekolah, bagaimana ia melihat proses belajar mengajar tersebut, dengarkanlah dengan saksama. Tawarkan bantuan jika anak kesulitan. Bisa jadi anak ingin memahami suatu pelajaran tertentu, tapi kesulitan karena berbagai faktor, kita bisa menawarkan fasilitas kursus. Atau ada kondisi anak tidak menyukai pelajaran tertentu, setidaknya beri anak sedikit kelonggaran, tidak ditekan, dan dampingi anak melaluinya. Sebaliknya mungkin saja anak sangat menikmati bidang tertentu, tapi merasa kurang difasilitasi di sekolah, kita bisa menawarkan tambahan kegiatan ekstra diluar sekolah. 

Ilustrated Photo


Aktivitas komunikasi ini bisa menjadi jembatan yang menghubungkan berbagi pihak, supaya kita bisa saling memahami dan bekerja sama dalam mencapai tujuan penilaian pembelajaran di sekolah. Tidak harus menunggu hingga masa penilaian rapor keluar, tapi bisa dilakukan kapan saja. Karena sejatinya, tugas kita adalah mendampingi anak agar bisa bertumbuh optimal sesuai dengan jalurnya, guru merupakan pihak yang memfasilitasi hal tersebut, dan anaklah sebagai pusat kegiatannya. Jangan lupa untuk selalu mendengarkan dan sering berbicara kepada mereka. 



Salam, Nasha

Nak, hari ini tidak usah kamu takutkan

Tidak perlu sampai membuat jantungmu berdebar tak karuan

atau sakit perutmu karena gugup dengan apa yang ada di depan

Hadapi saja

Sama seperti hari biasanya

Kamu sudah bersekolah berbulan-bulan

Belajar setiap hari dari pagi hingga petang

Hari ini tidak akan mencerminkan apa yang sudah kamu lalui

Maka tenanglah, hadapi dengan lapang hati


Bu, minggu ini tidak menentukan masa depan anakmu

Sehingga tidak perlu deg-degan begitu

Tidak perlu juga begitu menekan mereka

Tunjukkan saja tenang di wajahmu 

Ketenangan yang menjalar itulah yang menjadi sumber penyelesai masalah

Dengan hati yang tenang, pikiran juga lebih bijak memilah

Bagaimana sebuah persoalan akan selesai lebih mudah

Katakan bahwa ia sudah cukup baik

Belajar adalah proses menambah pengetahuannya

Ujian ini hanya sedikit prosedur yqng memastikan sejauh mana ia mengerti

Akan selalu ada kesempatan untuk ia belajar lagi


Yah, antarkan anakmu dengan riang gembira

Hati yang riang akan kuat menghadapi berbagai keadaan

Semangat akan berkali lipat dengan kegembiraan

Mengisi energinya untuk menjalani hari

Jelaskan bahwa apapun yang anak lakukan ia akan tetap memilikimu disisi

Tidak usah risau jika salah, karena engkau pun kadang begitu

Salah lalu hadapi konsekuensinya dan bersiap bangkit coba lagi


Salam, Nasha


Ilustrasi Gambar Ujian dari Pexels

 

Kita semua mengingat cukup baik apa yang sudah kita lalui selama bersekolah, khususnya saat ujian. Beberapa diantaranya mungkin begitu berbekas sehingga rasanya baru kemarin, saat perasaan tertekan, gugup, juga takut bercampur sejak hari-hari sebelumnya. Ada yang bisa masa bodoh dan tetap santai, ada yang belajar sangat tekun menjelang hari ujian, ada juga yang sampai keringat dingin dan sakit perut, juga ada yang begitu mempersiapkan agar bisa menjawab ujian meskipun bukan dengan cara yang dibenarkan. Mungkin sebagian kita menganggap itu wajar dan harus dihadapi. Namun, ada yang tidak tepat pada bagaimana kita melihat ujian. 

Belajar di sekolah seharusnya adalah media bagi anak untuk bertumbuh, menggali ilmu, menambah pengetahuan, mengenal diri, mengembangkan potensi. Menjadi tempat aman bagi mereka menjadi anak-anak, manusia yang sedang dibekali dan melatih diri agar siap berkontribusi untuk masyarakat luas nantinya. Jika sampai sini kita semua setuju, maka ujian tidak memberi jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Apalagi ujian yang menambah beban mental, ujian yang memicu perilaku tercela, ujian yang terlalu diglorifikasi, sehingga lupa hakikat sekolah itu apa. Sekolah bukan hanya tentang nilai ujian. Keberhasilan proses belajar jauh lebih luas dari sekedar terpenuhinya semua lembar jawaban.

Jika terlalu jauh untuk mengubah sistem ujian di sekolah anak, maka kita sebagai orang tua yang bisa memulai mengubah persepsi kita sendiri. Mulai dengan tidak menekan anak yang akan menghadapi ujian sekolah, dampingi mereka dengan tenang dan tulus kasih. Jika nilai ujian adalah hal penting untuk anak, maka dampingi juga mereka dalam mengupayakannya. Namun selalu ingat bahwa nilai bukanlah penentu, sehingga tidak perlu mengandalkan cara rendahan untuk mendapat yang diinginkan. Biarkan, jika saking lumrahnya menyontek dianggap hal biasa, ketidakjujuran tetaplah kesalahan meskipun semua orang melakukannya. Anak akan melihat bagaimana orang sekitarnya, sehingga ketenangan kita akan mempengaruhi mereka. Percaya bahwa mereka mampu, biarkan mereka melakukan sesuai kemampuannya, dan ajak mereka berdoa menyerahkan hasil pada Yang Maha Kuasa. 

"Kamu tidak perlu membuka jalan untukku. Tidak perlu juga menggenggam tanganku. Cukup biarkan aku melakukannya."

Sepotong kalimat yang dilontarkan oleh Cha Jeong Suk pada suaminya Seo In Ho, saat ia memohon agar bisa menjadi residen kembali setelah rehat selama dua puluh tahun. Adegan ini ada dalam serial Doctor Cha yanng resmi selesai pada akhir pekan lalu di Netflix. Premis cerita tentang perubahan karir perempuan dari ibu rumah tangga menjadi dokter, cukup menarik dan menjanjikan. Apalagi dengan semakin meningkatnya angka tenaga kerja perempuan profesional selama sepuluh tahun terakhir. Ini cukup menunjukkan angka keinginan perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga juga semakin menurun. 

Serial ini dimulai dengan kondisi Cha Jeong Suk, yang mengalami gagal lever sehingga harus melakukan transplantasi hati. Kondisi mendekati maut itu membuatnya mempertanyakan apa yang ingin ia lakukan dalam hidup, dari situlah ia tahu keinginannya untuk kembali menjadi dokter setelah dua puluh tahun tidak pernah praktik. Kemudian ia menjadi residen, dan mengalami banyak hal dalam pekerjaannya juga dalam hubungan pernikahannya. Meski topik utama adalah dua hal tersebut, namun kita juga disuguhkan dengan berbagai adegan tentang keluarga hingga pertemanan yang dibalut dengan humor. Meskipun ceritanya tidak bisa dikatakan ringan, penyajian dengan komedi menjadikannya drama bernilai baik yang menghibur. Pilihan hiburan tepat untuk akhir pekan. 

Serial Doctor Cha di Netflix

Mengingat tokoh utamanya adalah ibu rumah tangga, mungkin banyak perempuan khususnya ibu-ibu yang awalnya merasa relate dan tertarik menonton. Padahal, ini juga bisa dan perlu ditonton oleh bapak-bapak ataupun semua kalangan pada umumnya. 


1. Perempuan

Penggambaran tokoh perempuan yang menjadi ibu rumah tangga maupun wanita karir cukup akurat disini. Bagaimana tiada hentinya seorang IRT menunjang kehidupan sukses orang-orang sekitarnya, mulai dari karir cemerlang suami hingga anak-anak yang berprestasi, bahkan juga kehidupan sehat seimbang mertuanya. Tokoh lainnya adalah seorang wanita karir dari keluarga terpandang yang memiliki karir benderang. Ada juga perempuan yang memilih berkarir saja tanpa pusing soal keluarga apalagi anak. Sama, semua punya kurang lebihnya, tidak ada yang lebih mudah.

Memang hingga kini isu kesetaraan masih perlu diperjuangkan, apalagi pada lingkungan tertentu yang tertutup pada perubahan. Perempuan memiliki jalur lebih sulit untuk berkarir diluar rumah, apalagi dengan status ibu. Segala stigma harus diterima dengan lapang dada, bahkan dari mereka yang harusnya memberi dukungan. Namun setidaknya sedikit demi sedikit perjuangan itu mulai tampak buahnya. Harus disadari bahwa kita yang punya kuasa memilih apa yang ingin kita jalani, lengkap dengan segala konsekuensinya. Kesadaran ini pula yang harusnya mendorong kita semua, sesama perempuan, atau yang berhubungan dengan perempuan, untuk saling mendukung, sebisa mungkin saling memudahkan, atas apa yang seseorang sudah putuskan jalani dalam hidupnya. 


2. Pernikahan

Hubungan antara In Ho dan Jeong Suk memang diawali dengan kurang baik, di usia yang cukup muda, sehingga ada banyak penyesuaian yang perlu mereka perjuangkan. Setidaknya pernikahan itu berjalan baik cukup lama. Sayangnya, mereka menjalani hubungan hanya sebagai rutinitas, tanpa benar-benar merawat, sehingga seiring berjalannya waktu ada jarak yang sudah kian lebar diantara keduanya. Apalagi, ada kehadiran orang ketiga, ia yang pernah menjadi cerita dimasa lalu. kehambaran rumah tangga ditambah kilas balik kenangan indah tentu jadi perpaduan yang tepat dalam mengiring pada pengkhianatan. Tapi ini cukup mengherankan sih, kenapa Seung Hi ini pilih kembali ke In Ho, dengan apa yang ia miliki kenapa menjalani pilihan yang menyedihkan yang juga berdampak pada anaknya begitu.

Setelah puluhan tahun bersama, terbiasa satu sama lain, perlahan berjarak hingga istri pergi, barulah In Ho bisa melihat apa yang telah istrinya lakukan selama pernikahan mereka, menyadari bahwa ia butuh kehadiran istrinya tersebut. Terlambat memang. Tapi jika kita mengacu pada kalimat, setiap hari adalah kesempatan baru maka ada berapa ribu kesempatan yang ia lewatkan?

Ini cukup mengingatkan kita lagi-lagi untuk merawat apa yang kita miliki, sebiasa apapun kelihatannya. Hubungan suami istri yang semakin hari semakin biasa, perlu tetap dirawat. Perlu menjalani peran yang bukan hanya sebagai keluarga tapi juga sebagai kekasih. Memang, semua hubungan perlu waktu dan usaha, apalagi pada pasangan, satu-satunya orang yang memilih kita untuk dijadikan keluarga. 


3. Keluarga

Bukan hanya tentang kedokteran ataupun pernikahan, drama ini juga banyak membahas keluarga, khususnya hubungan orang tua dan anak. Bagaimana orang tua sangat berperan dalam membentuk karakter anak dan perkembangan mereka. Anak yang dididik untuk terus bergantung pada orang tuanya, se-brilian apapun terlihat kinerjanya dari luar, akan sulit menghadapi hal-hal tak terduga yang terjadi dalam hidup. Sulit memutuskan, sulit bertanggung jawab, sulit menyelesaikan masalah. Karena seberapa eratpun hubungan kita dengan seseorang, masing-masing kita tetaplah satu pribadi yang memiliki hidup sendiri, yang akan menjalani juga menanggung segala resikonya. Mendikte jalan hidup anak jelas bertentangan dengan fakta ini.

Tidak hanya dari orang tua, anak juga bisa berperan mendukung impian orang tuanya, ini hal yang cukup unik dikisahkan. Bagaimana kedua anak Jeong Suk mengupayakan beradaptasi agar ibunya bisa berkarir kembali menjadi dokter. Jelas bukan hal yang mudah setelah terbiasa diurusi ibu, namun mereka berhasil melakukannya. Hubungan itu memang akan berjalan baik jika tidak timpang hanya disatu pihak, namun butuh dua pihak untuk  'saling.'


4. Waktu

Ada Jeong Suk, ada juga beberapa pasien yang diceritakan ikut menghadapi dekatnya kehidupan dan kematian. Ada yang hidup hingga lebih dari seratus tahun, ada yang masih belia namun sudah habis usianya. Tidak ada yang benar-benar tahu. Merelakan apa yang tidak bisa kita kendalikan sepertinya bisa membawa diri kita lebih tenang. saat Jeong Suk memandangi rumah duka, sambil mensyukuri apa yang ia sudah terima sejauh ini dalam hidupnya, hal-hal baik yang mnyertai perjalanannya, dan kasih sayang yang ia dapatkan, akhirnya kedamaian membuat ia bisa menghadapi kenyataan. 

Di sini, dibuktikan bahwa usia bukan hambatan melakukan sesuatu. Memulai bahkan berada dibawah anak sendiri Bukan masalah. Status orang tua tidak seharusnya menghalangi, karena orang tua adalah salah satu peran bukan keseluruhan kehidupan. Usia juga hanya pertanda angka. Kondisi tubuh prima yang didambakan saat muda juga bisa diupayakan. Kita bisa saja belajar hal sama sekali baru atau meneruskan apa yang dulu perna tertunda. Meski tidak tercatat, meninggalkan dunia profesional tidak berarti kita berhenti berproses. Bisa jadi ada lebih banyak pengetahuan dan kebijaksanaan yang kita peroleh setelah memiliki anak. 

Semua ini menyiratkan bahwa setiap kita memiliki waktu masing-masing. Selain batas usia yang sudah ditetapkan Tuhan, kita juga punya waktu mekarnya masing-masing. Ada yang mekar sejak muda lalu cepat layunya, ada yang harus perlahan hinga mekar dalam waktu lama, ada juga yang mekar sedari dulu hingga tak ada tanda layunya. Tidak masalah, ada banyak faktor lain selain usaha. Meskipun begitu, karena memang perjuangan yang bisa kita kontrol, maka hanya itu yang perlu kita lakukan. Terus berjuang, tidak menyerah, tidak perlu membandingkan, lakukan kebaikan terus menerus, berserah dalam doa tiada putus. 


5. Hiburan

Suatu tontonan bisa saja sarat makna tapi enggan disaksikan karena kurang menghibur.  Inilah yang menjadi daya tarik serial Doctor Cha karena ceritanya disusun dengan tokoh yang bisa sangat menghibur bahkan kadang membuat terbahak. Khususnya tingkah konyol Seo In Ho, ekspresinya, apa yang ia katakan, apa yang ia lakukan, serta interaksinya dengan tokoh lain. Jika diceritakan saja, kita akan menyimpulkan bahwa antagonisnya adalah dia, tapi tingkahnya membuat kita bisa sedikit bersimpati atas apa yang ia alami. Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. 

Pada akhirnya, serial ini bisa menjadi pilihan untuk ditonton sendiri, bersama pasangan, atau ramai-ramai. Bisa sebatas hiburan, bisa juga untuk bahan obrolan., atau reflkesi keseharian. Mengingatkan kita untuk bisa melihat hal-hal sederhana yang kita miliki, untuk bisa berbahagia setiap hari. Tokoh utamanya menjalani hidup dengan baik, inspiratif. Apalagi endingnya juga cukup memuaskan.Worth to watch!



Salam, Nasha 


Langit malam itu indah diterangi bulan bulat penuh, khusus disekitar area Borobudur langit menjadi lebih gemerlapan lagi dengan adanya ribuan lampion yang diterbangkan sebagai simbol penerangan dunia.


Festival Lampion

Beberapa hari lalu perhelatan hari raya waisak telah rampung diselenggarakan. Rangkaian acara yang dilaksanakan selama beberapa hari mulai dari thudong para biksu dari Thailand menuju Borobudur, proses kirab membawa api dari Purwodadi dan air dari Temanggung, berbagai acara dan peribadatan hingga puncaknya pada Minggu (4 Juni) lalu dengan penerbangan lampion.

Agenda kegiatannya sebenanya hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, hanya saja tahun ini kembali diselenggarakan sejak pandemi covid dua tahun belakangan. Tahun ini tema peringatan Waisak-nya adalah aktualisasikan ajaran Buddha Dharma dalam kehidupan sehari-hari dengan subtema adalah momentum waisak memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan perdamaian dunia. Hari Waisak ini diperingati dalam rangka memuliakan hari kelahiran Siddharta Gautama, hari ia menjadi Buddha, dan hari wafatnya. 

Festival lampion sendiri merupakan ritual turun temurun dalam merayakan hari waisak tersebut, yang bermula dari China sejak Dinasti Han Barat (sekitar tahun 206SM). Pada masa pemerintahan Kaisar Ming, festival lampion mulai diadopsi agama Buddha karena saat itu ajarannya sedang berkembang pesat dari India sampai ke China. Akhirnya, lampion mulai dipasang diseluruh area kekaisaran dan kuil sepanjang pelaksanaan festival, hingga menjadi kebiasaan rakyat. Jadi, Buddha memang berasal dari India namun tradisi penerbangan lampion bermula dari China.

Penerbangan lampion dimaknai umat Buddha sebagai pesan tentang kebijaksanaan, pencerahan, dan kebebasan. Lampion sebagai simbol Buddha yang menerangi dunia, dengan satu sumber api bisa menyalakan banyak kegelapan. Penerbangan dilakukan untuk menghormati Sang Buddha, juga untuk mendorong kebijaksanaan dan pencerahan individu. melepaskan hal-hal duniawi yang berlebihan hingga bisa menemukan kedamaian diri. Penyebaran api ini juga bermakna bagaimana kebaikan dan kebahagiaan seharusnya terus dibagikan dalam kehidupan, tidak akan mengurangi namun justru akan memperluas kebahagiaan itu sendiri. 

Thousand of candles can be lighted from a single candle, and the life of single candle will not be shortened. Happiness never decreases by being shared.

 


 


Cerita Festival Lampion di Borobudur

festival lampion 2023 bukan yang pertama kali diadakan di Borobudur, dan bukan satu-satunya lokasi pelaksanaan. Beberapa negara seperti India juga Thailand, turut merayakan hari raya waisak dengan menerbangkan lampion. Di Indonesia, perayaan ini berpusat di candi Buddha terbesar didunia yaitu Candi Borobudur. Dalam pelaksanaanya, penerbangan lampion tidak hanya diperuntukan bagi umat Buddha namun untuk umum. Bahkan tiketnya saja sudah habis terjual pada Mei lalu. Hingga hanya tersedia tiket untuk menonton dari luar arena penerbangan yang dijual on the spot dan online. Pada hari tersebut, ribuan orang memadati kawasan Borobudur dalam balutan busana berwarna putih. 

Sejak sore hari, pengunjung maupun pedagang sudah memenuhi area mulai dari parkiran hingga ke halamn tempat diselenggarakannya festival. Bahkan sejak pagi dan hari sebelumnya, kawasan Borobudur tidak pernah sepi pengunjung. Setelah mendapat tempat parkir, kita bisa masuk melalui pintu-pintu yang sudah disediakan. Dari pendopo masuk, pengunjung diarahkan sesuai dengan tiket yang dimiliki, online ataupun offline. Keduanya mendapat pelayanan sama baik. Pelaksanaan festival pun tidak jauh dari pintu masuk.

Rangkaian acara dimulai dengan kata sambutan panitia penyelenggara serta beberapa pejabat yang hadir. Bersyukur atas langit yang cerah sehingga acara outdoor bisa dilaksanakan sesuai rencana. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan berbagai prosesi yang dipimpin oleh para biksu, lengkap dengan penerjemahnya. Kalimat-kalimat baik dilantunkan dengan lembut dan merdu, menambah kekhidmatan acara. Sebelum menerbangkan lampion, dilakuakn dulu prosesi meditasi yang dipimpin oleh biksu dan doa-doa baik untuk seluruh dunia, dilanutkan dengan menyalakan lilin bersama. Api lilin yang hanya bersumber dari satu api, disini trus ditekankan bahwa cahaya, kebaikan, serta kebahagiaan seharusnya seperti ini. Terus dibagi dan disebarluaskan hingga mampu menerangi seluruh alam.Kemudian kembali dilaksanakan meditasi agar semua peserta bisa lebih memaknai proses pelepasan lampion nantinya, bukan hanya sekedar berharap apa yang diinginkan dapat dikabulkan, namun juga untuk melepas hal-hal duniawi yang berlebihan. Berdoa, memohon ampun, menyucikan diri. Ada iringan memercikkan air juga sebagai simbol kejernihan diri. 

Hingga akhirnya secara berkelompok, yang terdiri dari minimal empat orang, dimulailah pemasangan lampion sesuai intruksi. Karena lampion terbuat dari kertas yang mudah terbakar, para peserta terus diingatkan untuk berhati-hati. Jangan sampai robek ataupun terbakar. Peserta mulai menyalakan sumbu ditengah lampion dengan api yang sudah nyala sebelumnya. Sesuai arahan, peserta perlu menunggu sekitar dua menit hingga lampion cukup panas untuk bisa terbang. Terakhir, panitia mulai menghitung mundur dari dua puluh - sembilan belas - delapan belas ... - tiga- dua - satu ... dan.. terbanglah ribuan lampion itu memenuhi langit dengan cahayanya. 

Semua berjalan lancar, langit malam menjadi gemerlapan, terlihat sangat indah, seperti yang bisa dilihat pada cuplikan ini


Semua terpukau dengan visual lampion yang diterbangkan, mencoba mengabadikan dengan berbagai alat, mayoritas tentu smartphone, termasuk saya. Hingga beberapa lampion tidak berhasil terbang sebagaimana mestinya, beberapa tersangkut di pepohonan tidak jauh dari arena dan membakar daun serta rantingnya. Apa yang terlihat itu kemudian membuat saya bertanya bagaimana ya akhir dari lampion-lampion itu? Pertanyaan yang membuat saya sampai pada pembahasan cukup menarik oleh waste4change.

Dalam artikelnya, mereka berargumen bahwa kemana arah terbang dan berakhirnya lampion berada diluar kendali kita. Mendaratnya lampion bisa dimana saja, entah di darat ataupun di laut. What goes up must come down. Sampah inilah yang dinilai sebagai masalah. Di beberapa negara lampion yang masih menyala menimbulkan insieden kebakaran yang cukup serius. Pendaratan sampah lampion yang tidak terduga juga bisa menjadi ancaman bagi binatang yang tidak sengaja menelannya. Beberapa resiko berbahaya tersebut memicu pelarangan terbang lampion di beberapa negara seperti Austalia, Jerman, New Zealand, Spanyol, dll. Kritik serupa juga disampaikan oleh zerowastenusantara tentang perlunya perhatian khusus pada aktivitas ini. 

Mungkin jika dibahas lebih lanjut, bukan tidak mungkin isu agama akan menjadi sorotan. Cukup sensitif dan perlu kehati-hatian ekstra, namun jika dilihat dengan jernih dan lebih luas dari sejarah dan ulasan yang disampaikan, ini tidak menyinggung sama sekali. Ritual, simbol, dan apa yang kita lakukan dalam meneruskan tradisi, bagaimanapun, tidak akan bisa lepas dari dampaknya pada tempat yang kita huni. Perkembangan pengetahuan dan isu yang semakin urgen tentang lingkungan akan terus dibawa terkait dengan apa saja, apalagi dengan kegiatan yang terbukti memiliki resiko berbahaya. Bisa dipahami, kita ingin tetap melanjutkan apa yang sudah dilakukan turun temurun dari leluhur, ditambah dengan seremonial itu rasanya kita bisa lebih memaknai hidup dan bisa hidup lebih baik. Namun menyadari dampak atas apa yang kita lakukan juga tidak kalah penting. Mungkin ini saatnya kita bepikir alternatif apa yag kita miliki untuk bisa tetap menghormati tanpa membawa resiko tidak baik. Bukankah semua ajaran kita menekankan pada unsur-unsur kebaikan untuk seluruh alam?



Salam, Nasha



Referensi:

https://waste4change.com/blog/bahaya-balon-lampion-terbang/

https://voi.id/bernas/5600/filosofi-buddha-menerangi-dunia-dalam-festival-lampion

https://www.kampussemarang.com/tim-pkm-polines-ciptakan-lampion-unik-dari-limbah-kertas/

https://www.liputan6.com/hot/read/5220023/8-cara-membuat-lampion-dari-botol-bekas-dekorasi-cantik-ramah-lingkungan

Indonesia dikenal sejak lama dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, setidaknya ada ribuan jenis flora dan fauna yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam pemeringktan Global Biodiversity Index 2022, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Brazil, dengan ribuan jenis burung, amfibi, ikan, reptil serta belasan ribu jenis tanaman vaskular. Keanekaragaman makhluk hidup ini berfungsi dalam menyeimbangkan ekosistem. Setiap spesies makhluk hidup memiliki peran kuncinya masing-masing, kehilangan salah satu jenis spesies dapat mengamcam keberlangsungan spesies lain bahkan bisa memusnahkan keseluruhan ekosistem tersebut. Apa yang terjadi sekarang adalah penurunan secara signifikan jauh lebih buruk dibanding periode-periode sebelumnya. Banyak yang membuktikan bahwa memang aktivitas manusialah sebagai faktor utama kerusakan alam yang menurunkan angka keragaman tersebut.  

Setidaknya ada lima ancaman terbesar bagi keanekearagaman hayati yang diungkapkan dalam Living Planet Report yang dirilis oleh WWF pada 2020, diantaranya adalah perubahan penggunaan lahan dan air, eksploitasi berlebihan, invasi oleh spesies dan penyebaran penyakit, polusi, serta perubahan iklim. Kelima faktor ini terjadi terus menerus dengan tingginya aktivitas manusia dan rendahnya kesadaran dalam menjaga lingkungan, mengakibatkan penurunana populasi satwa liar hingga 68% hanya dalam kurun waktu 46 tahun sejak 1970 hingga 2016. 

Aktivitas kita itu juga menghasilkan emisi yang menyebabkan perubahan iklim. Isu paling genting saat ini adalah tentang jejak karbon yang kita tinggalkan dari apa yang kita lakukan. Dampaknya, sangat banyak, pada lingkungan dengan meningkatnya suhu bumi, peningkatan curah hujan, bencana alam; pada kesehatan dengan evolusi penyakit baru, percepatan penularan penyakit, hingga memburuknya sistem pernafasan; juga pada sektor ekonomi yang kita muliakan. Emisi karbon bisa mempengaruhi kegiatan pertanian, perkebunan, juga merusak infrastruktur, dan mengancam keberangsungan populasi. Semua dampak ini akan menambah beban ekonomi dan sosial. 

Puluhan bahkan ratusan tahun berprinsip modern, kita terus menerus menggunakan sumber daya yang disediakan, menggunakan yang dirasa perlu, mengubah yang dirasa merepotkan serta membuang yang dirasa tidak digunakan, tanpa berpikir panjang, tanpa pertimbangan lain selain kemudahan. Kita, terbiasa hidup demi kemudahan, kenyamanan, dan kesenangan sesaat diri sendiri. 

Photo by Sony Feo in Pexels - Edited by Canva


Keseharian Kita dan Masyarakat Adat

Kerusakan lingkungan memang mayoritas disebabkan oleh aktivitas kita, manusia, didalamnya. Apa yang kita lakukan akan menghasilkan emisi buangan. Namun, bukan berarti kita tidak bisa beraktivitas dan memanfaatkan alam. Bahkan dalam kitab suci juga Tuhan sebagai Pemilik Alam Semesta sudah mengizinkan manusia memanfaatkan alam, dengan catatatan tidak merusaknya. Karena selama ini,  bagaimana kita memanfaatkan dan mengelola sumber daya tersebut-lah yang menjadi masalah. Kita tetap bisa menggunakan apa yang ada di alam, hidup mudah dan nyaman, tanpa merusaknya. Untuk hal ini, kita perlu berguru pada masyarakat adat disekitar kita ataupun yang tersebar di seluruh dunia agar bisa #BergerakBersamaBerdaya #UntukmuBumiku

Masyarakat adat bisa diartikan sebagai kelompok manusia yang memiliki sejarah dan asal usul di satu tempat secara turun temurun. Mereka hidup berpegang pada aturan hukum adat di tempat tersebut. Di Indonesia populasi masyarakat adat mencapai sekitar 70 juta jiwa yang tersebar dalam lebih dari seribu suku, dan yang terbesar berada di Kalimantan dengan 772 kelompok adat. 

Banyak kasus yang membuktikan bahwa masyarakat mampu hidup dengan baik berdampingan dengan alam seperti yang terjadi di Equador pada tahun 2008. Pemerintah setempat memutuskan untuk memberikan bayaran pada masyarakat untuk merawat hutan dalam program Socio Bosque, dimana dengan bayaran tersebut masyarakat tidak akan berburu, bertani, serta menebang kayu selama dua puluh tahun di wilayah yang telah disepakati. Hasilnya, tingkat deforestasi sejak program itu berjalan sampai 2016 menurun hingga 80%. Manfaat program ini bukan hanya dari angka penurunan penebangan hutan, namun juga dirasakan oleh masyarakat luas dengan meningkatknya kualitas tata kelola wilayah, akuntabilitas, sehingga juuga mningkatkan partisipasi masyarakat dalam komunitas lokal. 

Di Brazil, pemerintah bekerja sama dengan masyarakat adat dalam berbagi ilmu tentang pengelolaan pembakaran hutan dalam program Prevfogo. Masyarakat sudah beribu tahun menggunakan api tanpa menyebabkan kebakaran hutan. Tata cara inilah yang kemudian diadopsi agar dapat diaplikasikan lebih luas dalam berbagai aktivitas manusia di hutan. Terbukti, program ini berhasil mengurangi kebakaran hutan di tiga wilayah besar hingga lebih dari setengahnya. Kerja sama seperti ini ditambah dengan pengakuan kepemilikan hutan adat pada masyarakat adat juga terbukti mampu menurunkan tingkat deforestasi hutan di Brazil hingga 66%.

Bukan hanya hutan, di Indonesia Kawasan konservasi Laut yang dikelola oleh masyarakat adat memiliki biomassa yang lebih kaya daripada wilayah yang dikelola oleh pemerintah. Laporan yang diterbitkan Institut Lingkungan Stockholm juga mendorong keterlibatan masyarakat adat dalam konservasi lingkungan, mulai dari berbagi pengetahuan, kerja sama dalam praktik pengelolaan lingkungan, serta membatasi ekstraksi sumber daya alam. Sepertinya kita perlu benar-benar menyadari bahwa masyarakat adat ini bisa menjadi kunci dari kelestarian bumi yang kita tinggali. Menggeser paradigma bahwa mereka bukan hanya sebagai kelompok yang rentan, namun juga kelompok yang bisa menjadi solusi. Kelebihan mereka dengan segala pengetahuan, keahlian, dan pengalaman mengelola alam, yang bisa membantu kita semua untuk menata ulang bagaimana seharusnya kegiatan produksi dan konsumsi dijalankan. 



Jika ditarik benang merah bagaimana mereka menjalankan hidup, ada beberapa point penting yang bisa kita ambil pelajarannya, sebagai berikut:

  • Rasa memiliki yang kuat terhadap alam

Kita akan menjaga apa yang kita punya. Begitulah prinsipnya kira-kira. Masyarakat adat melakukan aktivitas dari belajar secara turun-temurun dengan memperhatikan tanda-tanda alam dalam melakukan memenuhi kebutuhan hidup mereka seperti beternak, bertani, juga berburu. 

  • Mampu merasa cukup

Masyarakat adat tidak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya. Mereka tidak sembarangan menggunakan kayu, ada jumlah batas konsumsi agar hutan tidak degradasi. Begitu juga dalam perburuan hewan liar, ada aturan dan pembatasan jumlahnya untuk mencegah kepunahan. Ada pantangan dalam tiap suku seperti Suku Baduy yang melarang panen dua atau tiga kali dalam setahun, Suku Boti melarang tebang pohon kecali mendesak, ataupun Suku Korowai yang tidak merusak dengan memilih tinggal diatas pohon. Mereka tahu batas, tidak berlebihan. Sekarang, coba lihat tempat pembuangan sampah rumah tangga kita, berapa banyak yang terbuang dari apa yang sudah diambil dari alam?

  • Keyakinan atas pertanggung jawaban

Berlandaskan dari keyakinan lokal masyarakat adat tersebut, mereka sering melakukan ritual sebagai bentuk syukur atas apa yang sudah diterima. Mereka juga yakin, pada apa yang mungkin menimpa saat mereka melakukan pengrusakan alam. Prinsip inilah yang membuat mereka terus menjalankan hari-hari sesuai dengan apa yang mereka yakini. Bahwa apa yang diterima akan dipertanggung jawabkan. Bukankan ini sama dengan ajaran agama setiap kita?

  • Kerja sama ekonomi

Kelompok masyarakat adat mengandalkan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Semua bekerja sama dan saling memberi manfaat, yang nyatanya juga bisa dinilai secara ekonomi. Sistem ekonomi yang diterapkan adalah sisteminklusif yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan kelompok dengan berbasis pada sumber daya alam. Hasil alam tersebut bisa dibagi atas nilai langsung seperti padi, cabai, sayuran ataupun tidak langsung seperti tersedianya air juga tanah yang subur. 

  • Aturan yang dijalankan bersama

Masyarakat adat tiap wilayah memiliki ketentuan masing-masing sesuai nilai yang mereka yakini. Namun semuanya untuk kebaikan seluruh makhluk diwilayah yang mereka tinggali. Ada yang membagi wilayah hutan sesuai dengan izin manfaatnya seperti masyarakat Lindu di Sulawesi Tengah yang menbagi hutan atas wilayah yang tidak boleh disentuh, boleh tapi terbatas, hingga boleh sesuai kebutuhan. Bukan hanya hutan, ada juga batasan dalam pemanfaatkan wilayah danau untuk menunjang kehidupan masyarakat. Semua memahami esensi ketentuan ini, dan menyadari dampak yang akan timbul jika melanggarnya. Dijalankan secara kolektif sehingga mampu berdampak positif bagi lingkungan. 


Apa yang Bisa Kita Lakukan

Permasalahan lingkungan dan bumi tempat kita berpijak adalah masalah yang luas dan sulit diselesaikan oleh kelompok kecil. Maka butuh pihak yang memiliki kekuasaan besar untu bisa menggerakkan seluruh pihak agar bekerja sama memprioritaskan kelestarian lingkungan, bukan untuk siapa-siapa, namun untuk diri kita juga. Bukan untuk nanti-nanti, tapi untuk saat ini. 




Hingga saat ini, ada beberapa kebijakan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia menanggapi isu lingkungan ini, seperti adanya target penurunan gas rumah kaca, penetapan UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan RPJMN yang menargetkan tiga adaptasi perubahan iklim, membentuk Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup yang memobilisasi kegiatan restorasi-konservasi-pencegahan, serta  program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan Food Estate. Semua kebijakan ini perlu diawasi dengan ketat agar berjalan sesuai dengan seharusnya dan bukan sebatas penjawab tanya. Selain kebijakan itu, ada beberapa kebijakan #UntukmuBumiku lagi yang berpotensi menyelamatkan lingkungan tempat kita bernaung.

  • Menyediakan sumber daya alternatif ramah lingkungan
Kita tahu benar bahwa eksploitasi terhadap sumber daya alam menyumbang sebagian besar emisi perusak lingkungan. Sayangnya, hingga saat ini sumber daya energi terbesar kita masih berasal dari bahan bakar yang tidak ramah lingkungan. Listrik yang digadang bisa menjadi alternatif pun lebih dari 80%-nya berasal dari bahan bakar fosil. Maka, untuk tetap bisa beraktivitas dan menggunakan energi, kita perlu mengganti sumber energinya. Tidak perlu subsidi barangnya, tapi sediakan arau mudahkan pengurusan untuk sumber energi alternatif yang berkelanjutan. Ada banyak sumber energi alternatif yang tersedia di Indonesia, panas matahari, air, angin, panas bumi. Misalkan dengan mengaplikasikan solar panel mualai dari kantor pemerintah hingga ke rumah penduduk. Gerakan ini perlu diteruskan hingga menekan produksi barang sekali pakai, mengalihkannya pada produksi barang yang sustainable. 

  • Pilah sampah dari rumah
Sampah yang semakin menggunung memiliki dampak negatif secra langsung pada manusia, dengan meningkatnya resiko penyakit. Apalagi sampah tersebut sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Kebijakan untuk memilah sampah dari rumah sangat mendesak dilakukan, terutama pada sampah yang bisa didaur ulang. Kebijakan ini harus sejalan dengan sosialisasi terus menerus pada seluruh masyarakat, tersedianya tempat pembuangan yang layak, dan aparat petugas yang teredukasi dengan seharusnya. Hal ini juga harus sejalan dengan menekan penggunaan barang sekali pakai. Mulai dari instansi pemerintah untuk mengadakan acara yang zero waste, dan terus gaungkan untuk pilah sampah serta bawa wadah dari rumah. 

  • Fasilitas umum yang cukup
Sulit untuk masyarakat beradaptasi tanpa dukungan fasilitas yang memadai. Maka kebijakan yang baik, adalah yang mampu mengundang orang banyak untuk mencoba dan melaksanakan kebijakan baru tersebut, merasakan dampaknya, dan menjadikan hal itu kebiasaan. Bagaimana bisa masyarakat diminta untuk perbanyak jalan kaki jika trotoar tidak disediakan. Jalur sepeda hanya ada di kota besar, itupun sudah didominasi oleh kendaraan bermotor. Transportasi umum memang terdengar menjanjikan, namun sayang masih belum merata hingga ke daerah selain ibukota. Ada banyak PR yang berkaitan dengan fasilitas umum, namun optimis jika memang prioritas akan bisa diwujudkan. 

  • Kerja sama dengan Masyarakat Adat
Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, masyarakat adat sudah terbukti mampu hidup bergandeng dengan alam menjaga keberlanjutan lingkungan. Hidup dengan aman dalam aturan tanpa mengurangi keindahan alam. Kita perlu belajar banyak tentang pengetahuan, keahlian, juga pengaaman tentang apa prinsip hidup yang mereka pegang teguh dan bagaimana mereka mepraktikkanya dalam keseharian. Agar kita bisa hidup bebas dari rasa serakah, bebas dari kekhawatiran kekurangan, juga bebas dari hasrat ingin menang sendiri.
  • Administratif 3R yang tepat hingga pelaksanaan
Menerapkan prinsip Reduce-reuse-Recycle di semua lini. Bisa belajar pada Swedia bagaimana mereka mengelola hutan hingga memiliki industri daur ulang. Kita tidak lagi bisa terus hanya mengandalkan sosialisasi yang memakan banyak biaya dan energi, tapi harus bergerak. Dari kebijakana hingga teladan, bisa dari pemerintah pusat lalu ke pemerintah daerah dan terus mendorong ke swasta hingga penduduk luas. Tidak lupa,  apa yang dirumuskan dalam berbagai bentuk aturan dan kebijakan, yang sudah diformulasikan demikian apik untuk menjaga lingkungan, tidak akan berarti apa-apa jika pelaksanaan di lapangan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Analisis amdal misalkan, sudah ada sejak lama, tapi berapa banyak kasus perusahaan yang mengamabaikan amdal dan masih bisa beroperasi? Perlu pemahaman dari hulu ke hilir tentang urgensinya menomor satukan kelestarian lingkungan agar kita bisa bertahan hidup. Pemahaman bahwa ini bukan lagi tentang kelompok yang rentan saja, namun tentang kita semua. Bukan lagi tentang anak cucu kita di generasi mendatang, namun sudah dirasakan efek buruknya di hari yang kita jelang.

Kita bisa mulai #BersamaBergerakBerdaya dari keseharian, jangan lupa bawa wadah kemanapun pergi, pilah sampah dari rumah, abaikan barang-barang yang hanya buang energi dan menambah tumpukan sampah, berkesadaran tentang apa yang dilakukan dan apa yang dikonsumsi. Apa yang tidak merusak bumi, tidak akan merusak tubuhmu.

“Kalau #BersamaBergerakBerdaya versi kalian apa nih? Boleh dong tulis di kolom komentar ya!”


Salam, Nasha


Referensi
https://aman.or.id/news/read/mengenal-siapa-itu-masyarakat-adat
https://pslh.ugm.ac.id/peranan-masyarakat-adat-dalam-konservasi-lingkungan/
https://greeneration.org/publication/green-info/masyarakat-adat-penyelamat-keanekaragaman-hayati/
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/09/28/melihat-berbagai-upaya-indonesia-dalam-menangani-perubahan-iklim

Batuk dan pilek adalah penyakit yang seringkali menyerang anak-anak apalagi anak dibawah tujuh tahun. Pertahanan tubuh yang belum sempurna, ditambah virus yang mudah berkembang biak di lingkungan kita yang beriklim tropis, menyebabkan anak setidaknya berapa bulan sekali menderita batuk ataupun pilek. Cukup panik dan melelahkan sih, tapi menurut dr. Eka, Sp.A di Hermina, setidaknya anak-anak mengalami batuk pilek 5-7 kali dalam satu tahun dengan durasi 7-10 hari. Jika anak mengalami bapil dalam batas itu, berarti masih tergolong wajar dan kita tidak perlu terlalu khawatir. Jika kurang dari itu, malah lebih baik. Namun jika lebih dari itu, berarti ada hal lain yang menjadi pemicunya, ini yang perlu kita cari tahu. Mungkin anak alergi, mungkin indikasi penyakit lain, mungkin status gizi anak yang kurang baik, dsb. 

Penyakit batuk dan pilek atau biasa kita kenal dengan bapil ini juga punya istilah lain yaitu common cold. Gejalanya ditandai dengan hidung tersumbat, bersin, produksi lendir di hidung, nyeri tenggorokan, dan batuk. Biasanya bapil disebabkan oleh virus yang tersebar disekitar kita, di udara, di benda-benda. Penting untuk kita ketahui bahwa penyakit akibat virus ini belum ada obat untuk menyembuhkannya. Obat yang kita temui digunakan hanya untuk meringankan gejala sehingga anak lebih nyaman, lebih bisa beristirahat dan makan. Dimana makan dan istirahat inilah yang penting bagi tubuh agar kuat melawan virus penyakit tersebut. Jadi, tubuhlah yang akan menyembuhkan diri sendiri. Tubuh yang lebih kuat tentu akan lebih cepat melawan penyakit tersebut. 


Tindakan Pencegahan

Karena bentuknya yang sangat kecil, memang tidak mungkin bagi kita melihat virus yang beterbangan di udara. Tapi, meminimalisir virus untuk menjangkiti tubuh anak bisa kita lakukan, dengan beberapa cara berikut ini:

- Menjaga Kebersihan

Menjaga lingkungan rumah tetap bersih, memastikan area yang anak masuki cukup bersih, menghindari anak dari lingkungan yang terpolusi, oleh asap rokok misalkan. Lingkungan yang kurang bersih memiliki resiko tlebih tinggi menyebabkan penyakit untuk kita orang dewasa, apalagi bagi anak dengan sistem imun yang belum sempurna. Menghindari adalah langkah paling tepat. Selain itu, kita juga perlu mengajarkan anak kebiasaan menjaga kebersihan seperti mencuci tangan setelah beraktivitas di luar atau sebelum makan, menutup mulut dan hidung saat bersin dan batuk sehingg tidak menularkan pada orang lain, menggunakan masker ditempat umum khususnya saat tidak sehat, 

- Tubuh yang Kuat

Kita juga perlu membiasakan kebiasaan sehat pada anak, antara lain dengan makan makanan bergizi seimbang, termasuk mengurangi makanan kemasan maupun makanan cepat saji. Anak perlu paham bahwa ia perlu emperhatikan apa yang masuk ke tubuhnya. Minum air putih yang cukup, sesaikan dengan usia dan berat badan anak. Bila perlu, beri tambahan suplemen vitamin. Atau ramuan sederhana yang kaya nutrisi seperti cuka apel, madu, perasan air lemon. 

- Vaksin 

Lengkapi kebutuhan imunisasi anak juga bisa dilakukan untuk mencegah anak terserang virus penyakit, khususnya vaksin influenza. Vaksin ini bisa diberikan pada anak mulai usia 6 bulan, lalu bisa dilakukan berulang setiap tahun. Anak dibawah lima tahun merupakan kelompok rentan yang beresiko tinggi mengalami komplikasi akibat penyakit flu. Tapi ingat, common cold tidak sama dengan influenza meskipun gejalanya hampir sama. Common cold bisa disebabkan oleh beberapa virus, namun influenza disebabkan oleh virus influenza. Common cold tergolong flu ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya, namun gejala influenza lebih intens biasanya diikuti dengan demam/ menggigil, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, dsb. 


Mengobati Tanpa Obat

Setelah diketahui bahwa sebagian besar batuk pilek disebabkan oleh virus yang hingga kini belum ada obatnya, saat anak-anak bapil kita tidak perlu buru-buru memberikan mereka obat untuk sembuh. Tubuh anak akan sembuh dengan sendirinya. Dengan catatan, tubuh anak punya kekuatan untuk melawan virus penyakit tersebut. Lalu, apa yang perlu kita lakukan saat anak terserang batuk pilek? Melakukan apa yang bisa membuat ia nyaman dan berusaha untuk sembuh. Anak nyaman untuk makan, minum, dan beristirahat. Ada banyak yang bisa kita coba, bisa jadi kehadiran kita, bisa jadi pelukan, isa jadi ketenangan kita yang akan menularkan kenyamanan pada mereka. 

Sumber Gambar

Berdasarkan pengalaman pribadi, berikut beberapa produk yang bisa membantu anak dalam proses melewati batuk pilek mereka. 

- Diffuser dan Essential Oil

Diffuser adalah alat yang mengubah cairan menjadi uap sehingga lebih mudah dihirup. Ada banyak sekali produk diffuser yang beredar di pasaran, begitu juga dengan essential oilnya. Silahkan dipilih berdasarkan preferensi dan kemampuan. Fungsinya sepertinya sama saja, mungkin perbedaannya ada di daya tahan. Untuk batuk pilek, disarankan menggunakan minyak dari lavender, peppermint, rosemary, lemon, eucalyptus, atau yang cukup jarang dan lebih mahal bisa frankincense, ylang-ylang, chamomile. Sekarang juga tersedia dalam bentuk campuran beberapa minyak atsiri sehingga lebih praktis digunakan. Men-difuse essential oil ini bermanfaat untuk memberikan efek menenangkan juga melegakan salran nafas, sehingga anak bisa lebih nyaman. Entah itu merk young living, bathaholic, rumah atsiri, ataupun merk lain di marketplace, sepertinya perbedaan ada pada tingkat konsentrasi minyak. Meskipun juga tidak pasti yang lebih mahal akan lebih tinggi konsentratnya, bisa jadi mahal karena servicenya. Tapi biasanya yang lebih murah, perlu lebih banyak tetesan untuk bisa terasa wanginya.

- Cold & Flu Spray

Essential oil spray merupakan essential oil yang sudah ada campuran carrier-nya sehingga lebih encer dan bisa disemprotkan. Dulu, ada produk Botanina Baby and Kids Cold & Flu Spray yang bisa disemprotkan ke kain seperti baju ataupun bantal. Ini sangat menolong anak saat tidur, mereka jadi lebih nyenyak dan tidak terbangun saat flu. Namun sekarang sepertinya produk tersebut berganti nama atau berganti formula. Ada beberapa produk spray yang ditawarkan dengan isi berupa ramuan beberapa esential oil yang diformulasikan sesuai tujuan yang kita inginkan. 

- VapoRub

Produk ini bisa dikatakan menjadi andalan sejak lama untuk meringankan gejala batuk pilek. Obat gosok yang memberi sensasi dingin ini diformulasikan untuk melegakan tenggorokan dan hidung yang tersumbat. Produknya dikenal banyak, dan mudah didapatkan di apotek bahkan convenience store, harganya juga sangat terjangkau. Namun hati-hati, penggunaan produk ini diperuntukkan bagi anak dua tahun ke atas ya. 

- Essential Oil Oles

Selain VapoRub, obat gosok lainnya yang bisa kita gunakan adalah ramuan essetial oil oles. Pada umumnya, produk ini sudah dibuat sesuai dengan kelompok usia anak yaitu ramuan untuk bayi (0-2 tahun) dan ramuan untuk anak (>2 tahun). Pada produk untuk flu, biasanya perbedaan pada keduanya ada pada kandungan peppermint serta lemongrass, citronella, thyme yang tidak dianjurkan untuk anak dibawah 30 bulan. Meskipun diklaim aman, penggunaan essential oil sebaiknya dimulai saat anak berusia lebih dari tiga bulan.

- Air Hangat

Mandi air hangat dapat mengencerkan lendir yang ada pada hidung dan tenggorokan sehingga lendir tersebut bisa keluar dengan lebih mudah. Dengan mandi ir hangat, tubuh anak juga menjadi lebih rileks dan nyaman. Air hangat juga bisa meredakan rasa nyeri di badan anak, sehingga anak juga bisa lebih nyaman beritirahat dan makan dengan lebih tenang. 

Sumber Gambar

Selain treatment-treatment diatas, saat anak batuk pilek kita juga perlu menghindari hal-hal berikut agar masa pemulihan anak lebih cepat:

- Memberi makanan dan minuman yang tinggi gula, yang bisa menurunkan daya tahan tubuh dan menyebabkan tenggorokan lebih gatal sehingga anak jadi tidak nyaman

- Menghindari makanan berminyak, yang bisa memperparah peradangan di saluran pernapasan

- Meningkatkan porsi aktivitas anak, sehingga anak kelelahan dan tidak punya cukup tenaga untuk memulihkan diri


Bagaimanapun, anak sakit memang membuat kita khawatir dan menyedot energi kita. Sehingga, selain memperhatikan kenyaman anak agar tubuhnya bisa segera pulih kembali, kita juga perlu memperhatikan diri sendiri. Penting untuk kita tenang agar bisa berpikir dan bertindak bijak. Serta, tetap awasi anak, perhatikan keluhan dan gejala yang mereka alami. Misalkan jika anak terlihat sangat lemas, tidak mau makan ataupun minum, serta demam hingga tiga hari, segera konsultasi dengan dokter untuk tindakan lebih lanjut. Apapun yang terjadi, sama seperti kita, saat anak sakit, lebih ingin didampingi daripada diomeli, kan? ;)



Salam, Nasha

Photo Edited by Canva


Kita mengenal lego sebagai  jenis permainan  bongkar pasang yang terdiri dari kepingan/ bongkahan plastik berbagai ukuran dan bentuk, bisa dibentuk apa saja sesuai kreatifitas, dan bisa dimainkan semua usia. Padahal lego asalnya adalah nama perusahaan asal Denmark yang memproduksinya. Sekarang ada banyak sekali perusahaan yang memproduksi permainan serupa, dengan berbagai nama dan merk, tapi tetap saja kita mengenalnya dengan sebutan lego.

Usaha permainan lego ini dimulai dari sebuah perusahaan kayu dan mebel yang melebarkan sayap ke mainan-mainan kayu. Hingga tagun 1934, hadir nama Lego yang diambil dari kata leg godt dalam bahasa Denmark yang berarti bermain dengan baik. Barulah setelah PDII berakhir, Lego mulai diproduksi dalam bentuk plastik, dikembangkan dalam bentuk bata yang bisa ditata menjadi suatu bentuk sistem, dipatenkan dengan tambahan silinder diatasnya, penambahan variasi roda, hingga berkembang seperti yang kita kenal sekarang. Bukan hanya dipermainan, Lego juga merambah ke berbagai ajang perlombaan sampai perfilman. Cukup panjang juga ya sejarahnya. 

Permainan menyusun kepingan yang bisa menyatu satu dengan lainnya ini (interlocking) kemudian diproduksi massal, bahkan oleh berbagai produsen yang menduplikasi rancangan produknya. Permainan ini tergolong open ended toys, jenis permainan yang sangat menyenangkan dan dianggap memiliki banyak manfaat.


Open Ended Toys 

Singkatnya, open ended toys adalah bentuk mainan yang dapat dimainkan dengan berbagai cara.  Disebut open ended karena punya kemungkinan yang tidak terbatas dalam cara bermainnya, tidak ada aturan maupun batasan, serta tidak ada benar dan salah. Kita bisa memberi set open ended toys yang sama pada beberapa anak, dan mereka akan memberi hasil yang berbeda-beda tergantung dari imajinasi, keteratrikan, tahap perkembangan, dan juga kemampuan mereka. Sehingga wajar, jika ada yang mengistilahkan permainan ini dengan 90% kids 10 toys, karena keterlibatan anak yang paling utama, berbeda dengan permainan yang sudah berbentuk apalagi yang menggunakan batery. Ini juga kenapa tidak ada batasan usia dalam open ended toys.

Untuk membedakannya, closed toys diartikan sebagai mainan yang punya tujuan spesifik tertentu dan ada ketentuan benar salahnya. Misalkan maian berbatery yang jika dipencet akan mengeluarkan bunyi, puzzle yang harus disusun sesuai tempatnya, atau mainan yang disusun berdasarkan bentuknya.

Sumber Gambar


Manfaat Open Ended Toys

Jenis permainan apapun sebenarnya bisa bermanfaat, baik itu open ended toys ataupun closed toys. Sebelum memilih permainan untuk anak, pahami dulu kebutuhan anak dan goal apa yang kita ignin capai melalui media mainan tersebut. Misalkan dengan close toys, anak belajar untuk memahami ketentuan, fokus pada tujuan, mengoreksi apa yang ia lakukan, dan memberi pengalaman saat berhasil memenuhi tujuan. Permainan ini juga bisa meningkatkan kemampuan motorik, sensorik, dan kognitif anak. 

Sedangkan, mainan open ended utamanya adalah melatih daya imajinasi anak sehingga ada banyak aspek yang dikembangkan melalui mainan tersebut, diantaranya:

- Meningkatkan kreativitas

Saat mendapatkan mainan open ended anak akan berpikir sendiri untuk melakukan apa dengan mainan tersebut. Dengan imajinasinya, anak bisa menciptakan cerita dalam pikirannya lalu berusaha mewujudkannya. Keseluruhan proses ini membutuhkan kreativitas yang baik untuk perkembangan otak anak dan kemampuan menyelesaikan masalah nantinya. 

- Melatih kemampuan sosial dan emosional

Bermain dengan bebas memberi anak kesempatan untuk mengeksplor dirinya dan sekitarnya. Cerita yang ia bangun dan benda-benda yang ia gunakan, bisa memberi anak waktu berpikir dan merasakan. Inilah yang bisa meningkatkan empati anak dan melatih kemampuan sosial dan emosional mereka.

- Meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan

Bermain mungkin terlihat sepele bagi kita orang dewasa, namun ini adalah proses konkrit bagi anak dan sangat bermanfaat untuk perkembangannya. Anak berlatih mengembangkan kemampuan yang akan ia gunakan hingga dewasa nanti, bagaimana mempertimbangkan berbagai pilihan, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah yang timbul.

- Belajar kerja sama

Bukan hanya saat bermain bersama, bermain sendiri dengan open ended toys juga bisa meningkatkan kemampuan kerja sama anak. Dalam cerita yang ia bangun dan karakter-karakter didalamnya, ada berbagai kisah yang secara tidak langsung mengajarkan anak kebersamaan dan kerja sama.

- Meningkatkan kemampuan kognitif

Kemampuan kognitif berhubungan dengan kecerdasan anak. Dengan open ended toys dan imajinasi anak dilatih dalam kegiatan yang akan meningkatkan kemampuan memori, kepemimpinan, komunikasi, serta regulasi diri. 

Photo


Sama dengan
closed toys, permainan pada open ended toys juga bisa meningkatkan kemampuan motorik khususnya motorik halus. Jika kita khususkan pada lego, memegang mainan ini dan menyusunnya menjadi suatu rangkaian bentuk akan memperkuat jari-jari anak yang bisa dikategorikan sebagai pre-writing skills.

Saat anak diberi mainan lego atau sejenisnya, ia akan mulai berpikir untuk menciptakan sesuatu. Dari kepngan benda berbentuk balok tersebut, ia berlatih untuk membuat keputusan. Dalam proses memenuhi yang ia inginkan, anak akan menghadapi kendala sehingga ia belajar menyelesaikan masalah. Cerita yang ia bangun akan mengasah empati serta kemampuan sosialnya. Kegiatan yang kita anggap sebatas bermain ini, merupakan proses yang perlu dilalui anak untuk menjadi bekalnya tumbuh besar nanti. 


Tidak terbatas pada lego, ada banyak sekali jenis mainan open ended yang tersedia di pasaran, antara lain:

- Magnetic Tiles

sumber gambar

- Wooden Blocks

sumber gambar

- Figurines

sumber gambar

- Playdough


- Benda apa saja yang digunakan anak untuk kegiatan bermainnya termasuk toples, kancing, panci, sendok, bantal, capitan, pasir, dll.


Hakikatnya bermain adalah dunianya anak. Kegiatan yang mengajarkan anak banyak hal. Bukan hanya bermanfaat untuk perkembangan otak, bermain juga meningkatkan kebahagiaan anak. Tugas kita hanyalah memberi ruang yang aman untuk mereka bisa bermain, lalu fasilitasi sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Tidak usah terpatok tren, harga, merk, kuantitas, apalagi estetika. 


Play is our brain's favorites way of learning



Salam, Nasha 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Kenalan Dulu, yuk!

Hai, aku Nasha! Aku diberkahi dengan dua guru hebat dan akan seterusnya belajar. Sedang giat tentang gracefully adulting, mindfull parenting, dan sustainable living. Kadang review tontonan, buku, dan produk yang baik juga. Semoga berguna!
PS, untuk info kerja sama, bisa email aja ya! ;)

Follow @salamnasha

POPULAR POSTS

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Hubungi Aku di sini

Nama

Email *

Pesan *

Advertisement

Label

family REVIEW lifestyle rekomendasi BUMI parenting lingkungan kesehatan mental kesehatan netflix adulting marriage rekomendasi buku

Daftar Tulisan

  • ▼  2026 (5)
    • ▼  Mei 2026 (1)
      • Perempuan dengan Energi Feminine, Bukan Kelemahan ...
    • ►  April 2026 (1)
    • ►  Maret 2026 (1)
    • ►  Februari 2026 (1)
    • ►  Januari 2026 (1)
  • ►  2025 (30)
    • ►  Desember 2025 (1)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  September 2025 (1)
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (5)
    • ►  Maret 2025 (4)
    • ►  Februari 2025 (5)
    • ►  Januari 2025 (5)
  • ►  2024 (41)
    • ►  Oktober 2024 (4)
    • ►  September 2024 (8)
    • ►  Agustus 2024 (5)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Mei 2024 (5)
    • ►  April 2024 (3)
    • ►  Maret 2024 (5)
    • ►  Februari 2024 (3)
    • ►  Januari 2024 (3)
  • ►  2023 (117)
    • ►  Desember 2023 (10)
    • ►  November 2023 (10)
    • ►  Oktober 2023 (10)
    • ►  September 2023 (10)
    • ►  Agustus 2023 (10)
    • ►  Juli 2023 (10)
    • ►  Juni 2023 (11)
    • ►  Mei 2023 (12)
    • ►  April 2023 (8)
    • ►  Maret 2023 (10)
    • ►  Februari 2023 (8)
    • ►  Januari 2023 (8)
  • ►  2022 (31)
    • ►  Desember 2022 (6)
    • ►  November 2022 (3)
    • ►  Oktober 2022 (4)
    • ►  September 2022 (3)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (3)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (3)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (1)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (1)
    • ►  Juli 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
    • ►  Mei 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (2)
    • ►  Februari 2020 (2)
    • ►  Januari 2020 (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember 2018 (1)
    • ►  November 2018 (4)

BloggerHub Indonesia

Tulisanku Lainnya

Kompasiana Kumparan

Popular Posts

  • Review Popok Perekat (Taped Diapers) Premium: Mamy Poko, Fitti, Sweety, Merries
  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak

Trending Articles

  • Biaya yang Dibutuhkan untuk SD Swasta Rekomendasi di Jogja dan Sleman bagian Utara
  • Cara Tepat Makan Lebih Sehat Tanpa Diet Ketat
  • Table Daftar TK di Solo Raya, Lengkap sampai Kontak
  • Menyadari Bahaya Doomscrolling hingga Mencoba Socmed Detox untuk Kesehatan Jiwa Raga
  • Tips Mengurangi hingga Meniadakan Screen Time Anak, Simpel!

Copyright © SALAM, NASHA. Designed by OddThemes