Menyikapi Perbedaan Pola Asuh Ayah dan Ibu, Hindarkan Anak dari Kebingungan

 Meskipun saat ikrar terucap, sepasang laki-laki dan perempuan disahkan menjadi satu kesatuan, mereka tetaplah dua individu yang berbeda. Memiliki latar belakang dan lingkungan yang berbeda, sehingga akan memiliki perilaku yang berbeda pula, termasuk gaya pengasuhan terhadap anak. Banyak ahli menyarankan agar orang tua tampil satu suara, agar anak tidak ikut kebingungan. Lalu, cara siapa yang lebih tepat, jalan mana yang terbaik, bagaimana kita menyikapi perbedaan yang akan terus ada itu?


Berbedanya Ayah dan Ibu

Satu hal yang paling penting kita pahami adalah perbedaan itu pasti ada, tidak peduli semirip apapun kita dengan pasangan, sesama apapun tipe kepribadian kita. Sudah samakan visi misi dan apa tujuan pola pengasuhan pun, tetap akan ada perbedaan-perbedaan pendapat, respon, perilaku yang akan muncul nantinya. Pahami, bahwa ini sangat normal.

Jika perbedaan pola asuh dengan orang tua, lebih mungkin dihindari, tidak begitu dengan perbedaan pola asuh antara ayah dan ibu. Ini sama-sama anak ayah dan ibu, kedua orang tua punya porsi yang sama dalam mengasuh dan mendidik anak. Sehingga, perbedaan antara ibu dan ayah sangat penting untuk disikapi dengan bijak. 

Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, ibu ingin yang terbaik, ayah juga begitu. Namun, perbedaan latar belakang ayah dengan ibu, juga lingkungan yang membesarkan, status ekonomi, kebudayaan, nilai-nilai yang dibawa, skala prioritas, hingga emosi dari orang tua masing-masing akan membentuk bagaimana ayah dan ibu sekarang dalam mengasuh anaknya. Ada yang mengalirkan saja bagaimana pola pengasuhan yang didapat dari orang tua terdahulu, ada yang menentang habis-habisan, ada pula yang memodifikasi. Ada yang mendidik berdasarkan intuisi spontan saja, ada yang mengadaptasi dari berbagai pelajaran pengasuhan. Apapun cara yang dipilih, pastikan kesadaran bahwa sebagai orang tua kita memiliki tanggung jawab dan tugas penuh dalam pengasuhan anak, pembentukan karakter mereka, dan turut andil mengarahkan bagaimana mereka nantinya. Benar, ini menjadi tambahan pekerjaan yang perlu dilakukan dengan serius.

Ada yang yang berpendapat bahwa perbedaan antara ibu dan ayah juga punya sisi positif bagi perkembangan anak, antara lain agar mereka memahami perbedaan tiap individu, bagaimana kita bebas memiliki pendapat masing-masing, dan agar anak belajar memahami nilai-nilai dengan pandangan lebih luas. Gaya pengasuhan yang lebih lembut dari ibu dan gaya yang lebih logis dari ayah merupakan kombinasi yang baik untuk perkembangan perilaku anak.


Namun, perlu digaris bawahi, bahwa perbedaan itu harus ada batasannya, tidak mencolok/ tidak prinsipal, tidak sampai berdebat di depan anak, dan tidak memberi keputusan yang berlawanan atas sesuatu. Perkembangan otak anak, masih sangat jauh dari kata sempurna. Apa yang bisa kita logikakan, tidak serta merta juga bisa masuk dalam penalaran anak. Pemahaman mereka baru akan berkembang seiring pertambahan usia. Maka, buatlah ketentuan dan kesepakatan sesederhana mungkin, lalu konsisten atas ketentuan tersebut sehingga mereka paham, tentang apa yang boleh-tidak boleh, benar-salah, dan baik buruk. Itu kan tujuan pengajaran kita?


Menyikapi Pola Asuh Berbeda

Dari sini, saya sendiri menyadari ada cukup banyak perbedaan antara saya dan suami dalam pengasuhan anak. Ada hal yang menurut saya penting, menurut suami biasa saja. Ada yang diacuhkan oleh suami, menurut saya justru penting. Kadang ingat, bahwa meskipun berbeda, kami sama-sama ingin yang terbaik untuk anak. Kadang juga lupa, sehingga ada perasaan ingin menang sendiri atau menyalahkan, sehingga jalan tengah yang akan selalu perlu dilakukan adalah komunikasi. 

Saya mengerti apa yang diungkapkan dalam messymotherhood, karena pada umumnya memang ibu-lah yang lebih banyak belajar tentang pengasuhan daripada ayah. Membaca buku, berselancar di antara blog, artikel, bahkan jurnal untuk mencari tahu cara terbaik dalam pengasuhan, kadang juga ikut berbagai seminar baik online maupun offline. Sedangkan, lebih sedikit ayah melakukan itu. Kita bisa saja menuntut ayah untuk belajar lebih banyak, namun bukan berarti para ayah ini juga harus melakukan apa yang ibu lakukan. Kita belajar dengan cara yang berbeda, dan itu tidak apa. Karena parenting bukan hanya tentang menambah sebanyak-banyaknya teori dalam kepala, namun juga tentang berlatih langsung pada anak. Melakukan trial and error, lalu menyimpulkan cara terbaik bagi setiap anak kita masing-masing.  

Sehingga, sebelum kita merinci apa yang perlu dilakukan untuk menyikapi perbedaan pola asuh ini, kita perlu berbesar hati untuk menerima perbedaan yang akan terus ada. Selagi, perbedaan itu bukan hal yang mendasar, maka tidak apa memberi anak celah untuk melihat cara-cara yang bervariasi dalam mengatasi sesuatu. Biarkan anak belajar dari cari ibu, dan belajar juga dari cara ayah. Toh, jika kita memang sampai ada dasar dimana kita ingin yang terbaik untuk anak, kita juga akan terus berproses memantaskan diri bersikap lebih baik di depan mereka kan?

Untuk ibu yang biasanya mempelajari lebih banyak, coba untuk beri ayah ruang dan waktu. Beri mereka kesempatan untuk melatih kemampuan parentingnya. Meski kadang ayah melakukan kekeliruan, meskipun kadang cara ayah sudah tidak lagi relevan berdasarkan penelitian terbaru yang kita tahu, meskipun rasanya gregetan sendiri melihat ayah mengasuh dengan cara yang kita paham tidak akan berjalan efektif, tahan diri untuk terus ikut campur. Kesempatan melakukan akan meningkatkan kepercayaan diri, dan orang tua yang percaya diri akan lebih lancar melakukan pengasuhan.


Beberapa kiat yang bisa kita lakukan bersama agar anak tidak bingung ditengah perbedaan kedua orang tuanya adalah:

  • Kenali Karakter Pasangan
Kita tentu tahu bagaimana karakter pasangan, apa hal-hal yang ia suka dan tidak suka, serta nilai-nilai apa yang ia pegang teguh. Jika tidak tahu, tanyakan. Daripada berasumsi sendiri lebih baik jelas-jelas dengan komunikasi. Karena ini menyangkut pada bagaimana nanti kita mendidik anak, menghadapi polah mereka, hingga bagaimana kita dan pasangan menghadapi situasi sulit tidak terduga. Apakah kita dan pasangan mudah terpancing atau bisa tetap santai, cenderung mengikuti arus emosi atau lebih logis cari solusi. Mengenal karakter begini akan menghindarkan kita dari konflik-konflik yang tidak perlu. Sering-sering bertanya, sering memberi tahu, rasanya lebih baik daripada menyimpulkan sendiri bahwa kita sama-sama mengerti. Kita juga bisa mengambil alih situasi, saat tahu ada kondisi dimana pasangan akan kewalahan dengan emosi mereka. Anak jadi belajar tentang proses mendukung satu sama lain, serta bahwa ada kalanya kita perlu menjauh untuk menenangkan diri. 

Bukan hanya pasangan yag mengenal kita, kita juga perlu mengeenali diri sendiri. Seperti situasi apa yang bisa memicu hal buruk dalam diri kita, kekurangan apa yang kita miliki tidak ingin kita turunkan pada anak, dan sebaliknya. Menjadi pasangan yang saling mendukung juga akan membentuk anak.


  • Sepakati Hal Mendasar
Anak belajar tentang benar-salah, baik-buruk, dan tepat-tidak tepat dari orang tua. Jika orang tua tidak bisa sepakat tentang hal ini, tidak mungkin anak bisa paham. 

Orang tua perlu sepakat mulai dari tujuan pengasuhan, akan dibentuk menjadi apa anak ini kelak. Apa nila-nilai yang diutamakan, bagaimana prioritasnya. Mengutamakan anak menjadi pribadi yang santun berakhlak baik,  atau cemerlang akademis, atau berprestasi sesuai dengan minat mereka? Iya, kita ingin semua, tapi akan berbeda urutannya. Ada orang tua yang mengharuskan anak berangkat sekolah setiap hari, ada orang tua yang lebih fleksibel tergantung kondisi anak. Ada orang tua yang mewajibkan anak bersalaman dengan semua orang yang ia temui, ada orang tua yang lebih santai menghargai kepribadian anak. Ada orang tua yang mengharuskan anak menjadi juara, ada orang tua yang mengutamakan anak menikmati prosesnya. Kita yang bagaimana?

Anak akan terbentuk dari perkara-perkara kecil setiap hari yang kita ajarkan, secara sengaja ataupun tidak. Anak akan menganggap apa yang ia lakukan tidak salah, saat kita tidak menegur. Menegur ya, memberi tahu, bukan marah-marah. Anak akan mengulang hal benar yang kita sampaikan. Pada dasarnya anak mengikuti, dengan catatan semua kebutuhannya terpenuhi. Maka sepakati dulu, apa saja hal-hal penting untuk kita dan apa prioritas pengasuhan kita terhadap anak.


  • Rutin Komunikasi dan Diskusi

Bagaimana mungkin menyatukan dua kepala tanpa komunikasi didalamnya? Kita memang dilarang untuk berdebat di depan anak, namun di belakang mereka silahkan berdebat sepuasnya. Cari solusi paling baik untuk menghadapi setiap situasi, bukan tentang cara siapa yang paling tepat namun cara yang bagaimana. Bicarakan saat ada hal yang mengganjal yang dilakukan pasangan. Bicarakan saat ingin mencoba cara lain yang mungkin lebih baik. Bicarakan ide-ide, bicarakan masalah, bicarakan jalan keluar. Dan diskusi ini tidak harus terjadi hanya saat ada masalah, membuat jadwal rutin juga sangat dianjurkan. Karena pekerjaan orang tua adalah pekerjaan bersama. Pekerjaan kantoran saja ada meetingnya, masa pekerjaan jadi orang tua tidak ada.


  • Belajar Parenting Bersama

Ilmu parenting itu berkembang terus seiring perkembangan zaman. orang tua kita membesarkan anak yang sedang beralih dari zaman analog ke digital, sedangkan kita membesarkan anak dalam zaman penuh teknologi. Apa yang dulu orang tua kita tahu sebagai tindakan tepat, ternyata setelah diteliti bukanlah tindakan yang benar. Itulah kenapa kita tidak bisa mentah-mentah menggunakan cara dulu untuk sekarang. Kita adalah sepasang manusia clueless. Lalu dari mana kita tahu? Dari belajar. Baca buku parenting, ikut kelas parenting bersama, saling bertukar informasi dari jurnal, artikel, atau tontonan. Tidak disarankan cuplikan video ya, karena informasinya tidak utuh.


  • Konsultasi ke Ahli
Setiap manusia itu unik, begitu juga setiap anak. Mereka punya karakter bawaan dan kecenderungan masing-masing. Bahkan si kakak dan si adik juga berbeda kan sifatnya? Jika informasi yang tersedia di luar sana dirasa terlalu general, terlalu abstrak, dan ada hal-hal spesifik yang ingin kita ketahui, jangan ragu untuk konsultasi langsung ke ahlinya. Bisa jadi psikolog, bisa jadi therapist, bisa jadi coach, bisa jadi psikiater. Apalagi sekarang, konsultasi bisa dilakukan offline dan online. Tidak perlu tunggu ada masalah besar sampai perlu konsul, ada hal bingung yang ingin ditanyakan juga tidak apa. Lebih baik kita usaha lebih banyak daripada tidak berusaha.


Salam, Nasha

0 Comentarios

Mau nanya atau sharing, bisa disini!